MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Montfort dan Frank Duff

 

 

SEMANGAT JIWA MONTFORT
ADA DALAM HATI DAN PIKIRAN FRANK DUFF

 

 

Pada bagian ini kita akan mengadakan penelusuran halaman demi halaman atas BP yang “hampir seluruhnya merupakan karangannya [Frank Duff]” (BP 5). “Hampir seluruhnya” berarti ada sebagian kecil yang bukan merupakan karangannya, misalnya dari hasil kesepakatan Dewan Concilium baik saat beliau masih hidup maupun setelah meninggal walau tetap dalam kesetiaan kepada semangat asali dan asli Legio Maria.

Tapi tidak disebut secara eksplisit dalam BP, sebagian kecil mana saja yang bukan langsung karangan beliau. Hanya Duff sendiri yang tahu. Namun itu juga kurang terlalu penting, bukan karena hanya merupakan sebagian kecil saja, tapi karena walaupun dicantumkan, sebagian kecil itu sudah merupakan warisan tradisi rohani dan misioner Legio, yang berdasarkan penilaian Dewan Concilum setia kepada semangat pendiri. Maka, cukup sah untuk mengenal spiritualitas Duff dari BP ini, sehingga kalau menyebut BP sama juga dengan menyebut Duff sendiri. Atau kebalikannya, kalau menyebut Duff sama dengan menyebut Legio Maria sendiri . Duff dan Legio itu satu.

Penelusuran atas BP ini penting untuk menemukan sejauh mana Duff dipengaruhi oleh Montfort. Dan itu juga berarti untuk menemukan sejauh mana Legio Maria menimba semangat dari St. Montfort. Sebab berkaitan dengan Montfort, BP mengatakan bahwa “Buku pegangan ini penuh dengan semangat jiwanya. Doa-doa Legio menggemakan kembali kata-katanya” (BP 153). Semangat jiwa dan doa-doa Montfort itu ditemukan dalam tulisan-tulisan Montfort sendiri. Maka kita akan meneliti dalam BP buku-buku apa saja dari Montfort yang dibaca dan dikutip oleh Duff dan yang akhirnya memberi bentuk kepada spiritualitas Legio Maria.

Sebagai informasi pengantar dapat disampaikan bahwa berdasarkan perhitungan manual yang sangat teliti nama Montfort disebut BP, baik dalam sub-judul, dalam sebuah uraian, dalam kutipan dan dalam rujukan kutipan, sebanyak 32 kali , tidak termasuk dalam surat-surat Paus di mana disebut alamat Concilium Legionis: De Montfort House (hlm. 362 dan 365).

Jumlah ini agak proposional untuk sebuah BP yang jumlah halamannya dalam edisi bahasa Indonesia adalah 390. Nama Montfort disebut secara menyebar dari halaman depan sampai akhir. Dan dapat dipastikan bahwa tidak ada tokoh lain dalam BP yang namanya disebut sampai sebanyak itu. Kuantitas yang sangat harafiah ini sesungguhnya sudah cukup untuk kita mengintuisi tingkat pengaruh Montfort dalam spiritualitas Legio Maria sebab adalah berlebihan dan kurang wajar kalau nama seseorang berkali-kali dirujuk tanpa mengharapkan kita menyimpulkan tingginya atau besarnya tingkat pengaruh orang yang bersangkutan.

Berikut ini akan diungkapkan teks-teks Montfort yang ditemukan dalam BP yang menunjukkan pengaruh Montfort dalam BP LM.
A. Paralel yang Bersifat Langsung dalam Tema Uraian
Selain tema peperangan dengan segala dimensinya seperti yang telah diungkapkan di atas, dalam menulis BP ini Duff juga dipengaruhi oleh beberapa tema lain sebagaimana terungkap dalam tema uraian atau pokok uraian yang hendak dikemukakannya dalam BP.
Pertama, judul bab 32 BP (BP 201) ini adalah “Keberatan-keberatan yang Mungkin Diantisipasi”. Di sini beliau mengemukakan aneka argumentasi atau alasan yang barangkali akan disampaikan orang yang menyatakan keberatan dengan kehadiran Legio Maria di paroki atau menyatakan ketidaksetujuannya untuk membentuk praesidium Legio Maria. Mengingat Duff sudah sangat mengenal BS, tampaknya inspirasi untuk menulis tema ini diambilnya dari Montfort yang dalam BS 131-133 yang berbicara tentang “Keberatan-keberatan yang Mungkin Dikemukakan” (hl. 102-103) di mana dikemukakan alasan-alasan yang biasa orang ungkapkan untuk menolak bakti yang sejati kepada Maria.
Kedua, pada bab 39.1 (BP 300-309) kita akan menemukan sebuah uraian teologis yang luar biasa berkoinsidensi dengan Montfort tatkala Duff memaparkan secara detil sebuah argumentasi solid untuk menantang mereka yang mengalami bahwa “kadang-kadang Bunda Maria ditinggalkan oleh mereka yang kurang menghargainya”. Beliau mengatakan dengan lantang bahwa mereka yang bersikap demikian sesungguhnya: “mengajarkan agama kristen tanpa Kristus karena mengabaikan perana Maria dalam penyelamatan umat manusia. Karena Allah sendiri telah mempersiapkan bahwa tidak ada pertanda atau kedatangan atau manifestasi dari Yesus tanpa Maria” (BP 300). Lalu beliau menyampaikan 11 argumentasi untuk memperjelas dan membuktikan kebenaran pernyataannya. Argumentasi-argumentasi ini sangat berada pada jalur yang sama dengan BS bab I dan II (1-89) yang menguraikan “Dasar-dasar Devosi kepada Maria” di mana Montfort menguraikan “Tempat Khusus Maria dalam Rencana Keselamatan Allah dan dalam Kehidupan Gereja” dan “Beberapa Kebenaran Dasar Bakti Sejati kepada Maria”. Pada no. 63 Montfort berkata, “Ah! Seandaianya orang tahu…..”: bahwa “kalau kita menyebarluaskan bakti yang kokoh kepada Perawan tersuci maka kita melakukannya hanya supaya bakti kepada Yesus disebarluaskan dengan lebih sempurna” (BS 62). Tampak juga bahwa Montfort dan Duff berada pada jalur keprihatinan kristosentris yang sama.
Ketiga, BP 51-54 berbicara tentang “Ibadat Ekaristi dalam Persatuan dengan Maria” dan “Ekaristi Harta Kekayaan Kita”. Dapat dipastikan bahwa bagian ini pun diisnpirasikan Montfort dari BS 266-273, yang berbicara tentang “Cara untuk Memberi Bentuk Konkret kepada Bakti ini dalam Komuni Suci”, di mana Montfort menganjurkan kita untuk meminta kepada Bunda Maria agar “meminjamkan hatinya kepadamu agar menerima Puteranya di dalammu dengan sikap hatinya sendiri” (BS 266).
B. Rujukan Langsung kepada Karya-karya Montfort
Selanjutnya, BP merunjuk secara langsung kepada tulisan-tulisan Montfort, khususnya Cinta dari Kebijaksanaan Abadi (CKA) , Bakti Sejati kepada Maria (BS) , Rahasia Maria (RM) , Rahasia Rosario (RR) dan Doa Menggelora (DM) . Rujukan langsung ini memiliki beberapa gradasi.
1. Judul karya disebut tapi tanpa kutipan
a. Bakti Sejati kepada Maria: BP 24, 40, 111, 374, 375, 376.
b. Rahasia Maria: BP 21, 40, 375.
2. Salah satu karya Montfort dikutip dan nomor paragrafnya disebut. Karya yang diperlakukan demikian hanya BS.
Misalnya, BP 48 mengutip BS 140 yang berbicara tentang ketergantungan yang dikehendaki Allah Tritunggal kepada Maria sebagai dasar teologis-spiritual ketergantungan kita kepada Maria; BP 374 mengutip BS 121 tentang penyerahan seluruh diri dan seluruh milik kepada Maria; dan BP 376 mengutip BS 243 tentang peristiwa Penjelmaan (25 Maret) sebagai dasar teologis Pembaktian Diri kepada Maria.
3. Salah satu karya Montfort dikutip dengan disebut bukunya juga, tapi tidak disebut paragraf nomor berapa yang dikutip dari karya itu. Cara merujuk yang seperti ini juga hanya berlaku untuk BS. Berikut ini kami ambil kalimat kutipan bukan dari terjemahan BP tapi dari terjemahan BS.
Pada hlm. 48, ada kutipan yang berasal dari BS. Nomor paragrafnya adalah BS 17:
“Allah Bapa telah membuat Maria mengambil bagian dalam kesuburan-Nya sejauh seorang makhluk murni mampu untuk itu. Ia memberi Maria kemampuan untuk melahirkan Putra-Nya dan semua anggota Tubuh Mistik-Nya”.

Pada hlm. 108, ada kutipan yang berasal dari BS. Nomor paragrafnya adalah BS 171-172:
“Sebuah pertimbangan lain yang mendorong kita untuk menghayati bentuk bakti yang konkret ini adalah amal kasih yang akan diterima oleh sesama kita. Karena dengan bentuk bakti ini kita melaksanakan dengan cara yang sangat baik cinta kasih terhadap sesama. Karena kita memberi melalui tangan Maria segala milik yang sangat bernilai bagi diri kita sendiri, yaitu nilai pelunasan dan nilai pahala dari segala karya amal kita, tanpa mengecualikan pikiran baik yang terkecil dan penderitaan yang paling ringan sekalipun. Kita setuju bahwa segala pelunasan yang telah kita peroleh dan yang masih akan kita peroleh sampai saat kematian kita, akan digunakan menurut kebijaksanaan Perawan suci bagi pertobatan orang berdosa atau bagi penebusan jiwa-jiwa dari api penyucian…….Selain itu perlu diperhatikan bahwa karya amal kita bila disalurkan melalui tangan Maria, akan menjadi lebih murni, dan karenanya juga lebih banyak pahala, yaitu lebih banyak nilai pelunasan dan nilai perolehan. Atas dasar ini, maka karya-karya itu akan lebih mampu meringankan penderitaan jiwa-jiwa di api penyucian dan menobatkan orang-orang berdosa bila disalurkan melalui tangan Maria yang perawan dan murah hati”.
Pada hlm. 114, ada kutipan yang berasal dari BS. Nomor paragrafnya adalah BS 137:
“Selain dari itu, seperti telah saya katakan tadi, tak ada praktik lain yang lebih tepat untuk melepaskan diri dari rasa pemilikan tertentu yang tanpa disadari telah menyusup ke dalam tindakan-tindakan yang paling baik. Inilah suatu rahmat besar yang diberikan oleh Tuhan Yesus yang baik untuk membalas perbuatan yang berani dan tanpa pamrih, yaitu bila orang menyerahkan kepada-Nya melalui tangan Bunda-Nya yang suci seluruh nilai karya amal mereka. Kalau di dunia ini Ia memberikan seratus kali lipat kepada orang yang karena kasih kepada-Nya melepaskan harta miliknya yang lahiriah, yang fana dan yang pasti musnah, bayangkan berapa ratus kali lipat Ia berikan kepada orang yang mempersembahkan kepada-Nya harta batin dan rohani mereka”.
Pada hlm. 153, ada kutipan yang berasal dari BS. Nomor paragrafnya adalah BS 114:
“Saya melihat dengan jelas apa yang akan terjadi: binatang-binatang galak datang mengamuk untuk mencabik dengan giginya yang setani buku sederhana ini beserta dia yang telah digunakan Roh Kudus untuk menulisnya; atau paling tidak untuk menyembunyikannya dalam kegelapan dan kesunyian pada sebuah peti agar membuatnya tetap tak terkenal. Bahkan semua pria dan wanita yang membacanya dan mempraktikkannya, akan diserang dan dianiaya. Tetapi tidak apa-apa! Malah lebih baik! Penglihatan ke depan ini mengobarkan semangat saya dan membuat saya menantikan sukses besar: satu laskar besar prajurit-prajurit yang gagah berani dari Yesus dan Maria, baik pria maupun wanita, yang memerangi dunia, setan dan kodrat yang sudah busuk di dalam masa yang sangat gawat, yang pasti akan datang”.
Pada hlm. 249, ada kutipan yang berasal dari BS. Nomor paragrafnya adalah BS 114:
“satu laskar besar prajurit-prajurit yang gagah berani dari Yesus dan Maria, baik pria maupun wanita, yang memerangi dunia, setan dan kodrat yang sudah busuk di dalam masa yang sangat gawat, yang pasti akan datang”.
4. Ada kutipan yang dikatakan berasal dari Montfort, tapi tidak ditulis dari buku mana, dan nomor paragrafnya berapa? Setelah diteliti ternyata dari dua karya, yaitu BS dan RR, dan inilah nomor-nomornya. Kami ambil dari terjemahan Indonesia dari karya-karya Montfort.

a. Dari Bakti Sejati kepada Maria
Pada hlm. 28, ada kutipan dari Montfort:
“Kesadaran bahwa Maria selalu hadir dalam jiwa kita harus ditingkatkan menjadi penghayatan iman yang hidup sehingga jiwa kita dapat dikatakan menghirup Maria seperti tubuh menghirup udara”.
Ternyata ini kutipan dari Bakti Sejati kepada Maria 217 yang lengkapnya berbunyi:
“Ah! Kapan waktu yang berbahagia itu akan datang bahwa Maria yang dipenuhi Allah ditetapkan sebagai Ratu di dalam hati semua orang agar menaklukkan semua hati itu sepenuhnya kepada kekuasaan Yesus, Putranya yang besar dan tunggal? Kapan jiwa-jiwa akan menghirup Maria sama seperti badan menghirup udara? Bila itu terlaksana maka akan terjadi hal-hal yang mengagumkan di bumi ini”.
Pada hlm. 32, ada kutipan dari Montfort:
“Rahasia rahmat yang tidak dikenal, yang memungkinkan kita dengan upaya sedikit dan cepat mengosongkan diri dari egoisme, dan mengisinya dengan Allah, untuk menjadi sempurna”.
Ternyata ini kutipan dari Bakti Sejati kepada Maria 82 yang lengkapnya berbunyi:
“Kita harus memilih di antara semua devosi Perawan tersuci devosi yang paling mampu mengantar kita untuk mati terhadap diri sendiri; karena devosi itulah yang terbaik dan paling menyucikan.…. Juga di situ terdapat rahasia-rahasia yang dalam waktu singkat dengan luwes dan mudah memungkinkan pelaksanaan kegiatan-kegiatan adikodrati: mengosongkan diri, memenuhi diri dengan Allah dan mencapai kesempurnaan. Nah, praktik yang ingin saya perkenalkan adalah rahasia rahmat seperti itu. Banyak orang Kristiani belum pernah men¬dengar tentang hal itu. Hanya beberapa orang saleh mengetahui keberadaannya dan masih sejumlah yang lebih kecil lagi mempraktikkannya dan menyenanginya”.
Pada hlm. 139, ada kutipan dari Montfort:
“Hanya Maria sendiri yang mengetahui letak kemuliaan terbesar dari Allah yang Mahatinggi”.
Ternyata ini kutipan dari Bakti Sejati kepada Maria 151 yang lengkapnya berbunyi:
“Hal itu terjadi, entah karena orang tidak tahu bagaimanacara memuliakan Allah atau karena tidak mau mengusahakannya. Tetapi Perawan yang teramat suci, yang kepadanya diserahkan nilai dan pahala karya-karya amal, tahu baik sekali bagaimana cara memuliakan Allah. Seluruh cita-cita Maria terarah ke sini”.
Pada hlm. 163, ada kutipan dari Montfort:
“salib di tangan kanan, rosario di tangan kiri, dengan membawa nama kudus Yesus dan Maria di dalam hati mereka dan kerendahan hati serta semangat pengorbanan Yesus Kristus dalam segala perbuatan mereka”.
Ternyata ini kutipan dari Bakti Sejati kepada Maria 59 yang lengkapnya berbunyi:
“Di samping itu mereka bekerja tanpa beban, tanpa pandang bulu dan tanpa segan, tanpa tunduk dan takut terhadap makhluk mana pun, biarpun ia sangat berpengaruh. Mulut mereka menggunakan pedang bermata dua firman Allah. Dengan panji salib yang berdarah di bahu, mereka memegang salib di tangan kanannya dan rosario di tangan kirinya. Hati mereka penuh dengan nama-nama suci Yesus dan Maria dan seluruh sikap mereka adalah pencerminan kesederhanaan dan matiraga Yesus Kristus. Mereka itulah pria dan wanita istimewa yang akan muncul”.
Pada hlm. 214, ada kutipan dari Montfort:
“Nyanyian pujian yang paling sederhana tetapi penuh rasa syukur, mulia dan indah”.
Ternyata ini kutipan dari Bakti Sejati kepada Maria 255 yang lengkapnya berbunyi:
“Dari segala kidung pujian, Magnificat adalah yang paling bersahaja dan penuh rasa terima kasih di satu sisi, dan paling luhur dan mulia di sisi lainnya”.
Pada hlm. 374, ada kutipan dari Montfort:
“Tuhan Yesus, kami adalah milikMu dan segala sesuatu yang kami miliki kami serahkan kepadaMu dengan perantaraan Maria, BundaMu yang kudus”.
Ternyata ini kutipan dari Bakti Sejati kepada Maria 233 yang lengkapnya berbunyi:
“Aku milik-Mu semata-mata dan segala milikku adalah kepunyaan-Mu, ya Yesus yang terkasih, melalui Maria Ibu-Mu yang suci”.
b. Dari Rahasia Rosario
Pada hlm. 379, ada kutipan dari Montfort:
“meditasi adalah jiwa dari rosario”.
Ternyata ini kutipan dari Rahasia Rosario Mawar ke-21 yang lengkapnya berbunyi:
“….karena meditasi ini merupakan jiwa doa ini…..” (Rahasia Rosario, Obor, 2007, hlm. 77)
5. Ada kalimat uraian dalam BP yang mirip atau bahkan amat serupa dengan salah satu karya Montfort, hanya tidak ditulis sebagi kutipan. Dan ini diambilnya dari semua tulisan Montfort yang kami sebut di atas, kecuali Rahasia Rosario.
a. Dari Cinta dari Kebijaksanaan Abadi
Pada hlm. 60, ada kalimat:
“Untuk dengan cara khas menirukan kasih dan ketaatan yang tidak terhingga yang diberikan Kristus sebagai Kepala kepada ibuNya, dan inilah yang harus dilakukan kembali dalam Tubuh Mistik”.
Kalimat yang mirip dari Cinta dari Kebijaksanaan Abadi adalah:
“Ya Perawan yang manis, terimalah persembahan kecil perhambaanku ini untuk menghormati dan meniru ketaatan yang dipilih oleh Kebijaksanaan Abadi terhadap engkau, Ibu-Nya. Untuk menghormati kekuasaan yang kamu berdua miliki atas ulat tak berdaya dan pendosa malang ini; sambil bersyukur atas kasih karunia yang dicurahkan Allah Tritunggal kepadamu ” (CKA 226).

b. Dari Bakti Sejati kepada Maria
Pada hlm. 11, ada kalimat:
“agar serupa dengan Maria, jadi untuk memuliakan Tuhan….”.
Kalimat yang mirip dari Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“yang serupa dengan Maria untuk mengasihi dan memuliakan Yesus Kristus” (BS 217).
Pada hlm. 13, ada kalimat:
“…berusaha meniru kerendahan hatinya yang mendalam, ketaatannya yang sempurna, kelemah-lembutannya bak malaikat, doanya yang terus menerus, mati raga yang menyeluruh, kemurniannya yang tak bercela, kesabarannya yang gagah berani, kebijaksanaannya yang surgawi, cintakasihnya akan Allah yang ditandai oleh keberanian dan pengorbanan diri, dan di atas segalanya imannya, kebajikan itu yang hanya pada dirinya ditemukan tanpa batas dan yang tidak ada duanya”.
Kalimat yang mirip dari Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“…mengikuti keutamaan-keutamaan Perawan tersuci, terutama kerendahan hatinya yang dalam, imannya yang hidup, ketaatannya yang buta, doanya yang terus-menerus, matiraganya yang menyeluruh, kemurniannya yang surgawi, kasihnya yang menyala-nyala, kesabarannya yang gagah berani, kelembutannya yang seperti malaikat dan kebijaksanaannya yang luhur. Inilah sepuluh keutamaan terpenting dari Perawan tersuci” (BS 108).
Pada hlm. 29, ada kalimat: “
Anggota-anggota Legio dengan demikian berkembang menjadi gambar Maria yang hidup”.
Kalimat yang mirip dari Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“Kapan waktu bahagia itu datang, yaitu zaman Maria, di mana banyak orang, yang dipilih olehnya dan yang diterimanya dari Yang Mahakuasa, akan tenggelam sepenuhnya dalam jurang batinnya dan akan menjadi gambaran-gambaran hidup yang serupa dengan Maria untuk mengasihi dan memuliakan Yesus Kristus?” (BS 217).
Pada hlm. 99, ada kalimat:
“Bahwa segala karunia, kebajikan serta rahmatMu dibagikan oleh Maria kepada siapa dia berkenan, bilamana dia berkenan dan menurut jumlah serta cara yang berkenan kepadanya”.
Kalimat yang mirip dari Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“Allah Roh Kudus telah memberi kepada Maria, mempelai-Nya yang setia, anugerah-anugerah yang tak terkatakan. Dia memilih Maria menjadi pembagi segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Oleh karena itu Maria membagi semua anugerah dan rahmat itu kepada siapa dia mau, sebanyak dia mau, seperti dia mau dan apabila dia mau” (BS 25).

c. Dari Rahasia Maria
Pada hlm. 104, ada kalimat:
“Perawan tak bernoda, Pengantara segala rahmat, kepadamu kupersembahkan doa-doa, pekerjaan maupun penderitaanku agar dimanfaatkan menurut keinginanmu”.
Kalimat yang mirip dalam Rahasia Maria adalah:
“Kita harus melakukan segala-galanya untuk Maria. Karena kita adalah hamba Ratu mulia ini kita hanya boleh berkarya untuk dia saja. Tujuan terdekat usaha kita ialah kepentingan dan kehormatan Maria, sementara tujuan terakhir ialah kemuliaan Allah. Lalu dalam segala perbuatan , kita harus menolak cinta diri, karena tanpa disadari, cinta diri hampir selalu menjadi tujuan kita. Karena itu seringkali kita harus mengulangi dari dalam lubuk hati kata-kata ini: “Ratuku yang tercinta, untukmu aku pergi kian ke mari, untukmu aku melakukan ini atau itu, untukmu aku menderita penyakit ini atau penghinaan itu” (RM 49).
d. Dari Doa Menggelora
Pada hlm. 22-23, ada kalimat:
“Karena kita anak-anak Maria sejati, maka, kita harus berkelakuan sepantasnya, dan sungguh-sungguh seperti anak kecil yang tergantung seluruhnya kepadanya. Kita harus datang kepada Maria untuk diberi makan, bimbingan, pengajaran, penyembuhan kita bila sakit, penghiburan kita bila kita sedih, nasihat bila kita bimbang, panggilan bila kita tersesat”.
Kalimat yang mirip dari Doa Menggelora adalah:
“Anak-anak sejati BundaMu Maria yang suci murni, dikandung dan dilahirkan oleh cinta kasihnya, digendong dan dipangkunya, ditimang dan diberi minum dari susunya, dibesarkan oleh usaha pemeliharaannya, dipapah oleh tangannya dan diperkaya oleh rahmat-rahmatnya” (DM 11).
6. Ada persamaan langsung dalam hal ide kalimat-kalimat dalam BP dengan salah satu karya Montfort, khususnya yang ditemukan dalam Bakti Sejati kepada Maria.
Pada hlm. 19 ada kalimat yang berbunyi:
“Maria tetap bukan apa-apa”.
Ide dalam Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“Saya mengaku bersama seluruh Gereja bahwa Maria hanyalah seorang makhluk, yang berasal dari tangan Allah yang Mahatinggi, dan karena itu, dibandingkan dengan keagungan-Nya yang tak berhingga, Maria tidak lebih berarti dari sebutir debu atau lebih tepat, sama sekali tidak berarti” (BS 14).
Pada hlm. 20 ada kalimat yang berbunyi:
“Allah merencanakan semuanya ini, karena pertama-tama Allah mengetahui bahwa dia akan memperoleh tanggapan yang lebih besar dari Maria daripada yang akan diperoleh-Nya dari gabungan semua makhluk suci”.
Ide dalam Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“Ah! Seandainya orang tahu betapa banyak kemuliaan dan kasih yang Engkau terima dari makhluk yang mengagumkan ini, maka orang akan mempunyai perasaan-perasaan yang lain sekali terhadap-Mu dan terhadap Maria daripada yang mereka miliki hingga kini. Perawan tersuci begitu menyatu dengan Engkau, sehingga orang lebih dulu bisa memisahkan terang dari matahari dan panas dari api. Atau lebih tegas lagi: orang bisa lebih dulu menjauhkan semua malaikat dan orang kudus dari-Mu daripada Maria yang dipenuhi Allah; karena dia mencintai-Mu lebih menyala dan memuliakan-Mu lebih sempurna daripada seluruh makhluk-Mu yang lain meskipun secara bersama-sama” (BS 63).
Pada hlm. 48 ada kalimat yang berbunyi:
“Sebab kita adalah anak-anak Allah dan anak-anak Bunda Maria”.
Ide dalam Bakti Sejati kepada Maria adalah:
“Semua anak Allah yang benar, yaitu orang-orang terpilih, mempunyai Allah sebagai Bapa dan Maria sebagai ibu. Barang siapa tidak mempunyai Maria sebagai ibu, dia tidak mempunyai Allah sebagai Bapa” (BS 30).
Kesimpulan:
Data-data di atas tentu masih sangat terbuka untuk ditambah jika ternyata ada yang menemukan lagi teks-teks yang dekat dengan karya-karya Montfort. Tapi data-data yang disodorkan ini sudah cukup untuk menjelaskan kepada kita tiga hal. Pertama, adalah soal cara kerja Duff dalam menulis BP. Beliau sudah atau sedang membaca buku-buku utama Montfort, sekurang-kurangnya yang disebut di atas. Isinya telah meresap, mengendap dalam hatinya, atau bahkan sedang mencerahkan akal budinya. Setelah itu atau saat sedang dalam kondisi demikian beliau lalu menuangkannya dengan bahasanya sendiri – tapi isinya tetap sama – atau dengan mengutip langsung – kalau untuk mengutip, tentu beliau berkonsultasi langsung kepada bukunya – ke dalam Buku Pegangan. Karena itu dapat dikatakan bahwa “semangat jiwa Montfort telah meresap dalam hati dan mencerahkan pikiran Duff”, sehingga setelah itu ia tuangkan semuanya dalam tulisan sehingga “Buku Pegangan Legio penuh dengan semangat jiwa Montfort”. Maka seluruh BP merupakan buah kristalisasi, hasil pengendapan, yang wajarnya melalui proses permenungan yang lama dan terus-menerus. Buah dari pengandapan itu adalah BP.
Maka Wajar kalau Duff berhutang budi kepada Montfort. Dalam perasaan yang sama, maka wajar kalau pada hlm. 375 Duff menganjurkan Legioner untuk membaca dua buku utama tentang devosi yang benar kepada Maria, yaitu BS dan RM, “bukan satu kali tetapi berkali-kali”! Bahkan sedemikian besarnya Duff menganggap Montfort berjasa dalam perkembangan Legio Maria, sehingga dia bukan saja melakukan tindakan yang wajar dan seharusnya yaitu menempatkan Montfort sebagai salah seorang kudus pelindung Legio, tapi juga dalam tindakan yang secara rohani tidak dapat dikategorikan sebagai “sudah seharusnya” atau “wajib”, yaitu dengan memberi nama markas besar Legio Maria, Concilium Legionis, di Dublin – Irlandia, sebagai De Montfort House.
Kedua, buku yang paling banyak ia kutip dan yang idenya menyebar dan meresap dalam seluruh BP adalah BS. BP sungguh merupakan lanjutan yang wajar dari BS. Keduanya merupakan satu kesatuan. Sedemikian eratnya kesatuan itu sehingga kalau kita ingin mengklarifikasi dan mendalami dasar-dasar teologis spiritualitas marial-misioner Legio Maria sebagaimana terdapat dalam BP, kita harus membaca karya-karya Montfort, terutama dalam hal ini Bakti Sejati kepada Maria. Tapi kalau kita ingin menemukan aplikasi konkret-organisasional dari penghayatan Pembaktian Diri yang diajarkan Montfort dalam BS, kita harus membaca BP. Karena itu, BP hlm. 24-25 menyebut BS sebagai “suatu sumber inspirasi kaya bagi Legio”. Maka, BP merupakan lanjutan yang wajar untuk orang yang membaca BS, walau tidak harus masuk LM, misalnya. Sebaliknya, orang yang membaca BP, agar dapat mengerti dengan baik, ya harus membaca tulisan-tulisan Montfort, terutama seperti yang dianjurkan Duff sendiri: BS dan RM “bukan satu kali tetapi berkali-kali”! Karena itu, Legio Maria menjadi Penjelmaan yang solid dan praktis dari spiritualitas Montfort. Ia merupakan titisan raksasa-sistematis manajemen rohani yang Montfort hayati dan ajarkan dalam skala kecil dulu waktu ia masih hidup di kampung-kampung yang dijelajahinya di daerah Perancis Barat. Lewat Legio Maria, ajaran rohaninya kini menjalar ke seluruh dunia! “Datanglah Kerajaan Yesus melalui Maria! Datanglah!”.
Ketiga, tema-tema teologis yang terdapat dalam teks-teks kutipan di atas mencakup segala tema besar spiritualitas Montfort. Tentang Allah Tritunggal yang menghendaki keterlibatan Maria dalam karya penebusan dan Pengudusan, tentang persatuan dan kerjasama antara Roh Kudus dan Maria dalam misteri Penjelmaan dan Pengudusan, tentang kebundaan rohani (dalam Pengudusan) Maria yang memiliki dasar dalam kebundaan ilahi (dalam Penjelmaan), tentang masa Gereja sebagai masa intensifikasi peningkatan kekudusan, tentang keberadaan laskar yang gagah berani yang merupakan pasukan Yesus dan Maria….
Pusat permenungannya adalah misteri Penjelmaan. Pola kerja Allah Tritunggal dalam misteri Penjelmaan dilanjutkanNya kini dalam misteri Gereja. Karena permenungan atas misteri Penjelmaan ini adalah konsentrasi permenungan Mazhab Spiritualitas Perancis, maka bukan hanya Montfort – yang disebut sebagai yang terakhir dari tokoh-tokoh besar aliran hidup rohani ini – , tetapi juga Duff dengan sah dapat digolongkan ke dalam daftar anggota aliran ini yang keanggotaannya tidak pernah ditutup, karena terbuka untuk seluruh Gereja sepanjang masa. Terbukti memang, di samping mengutip banyak Bapa Gereja, Pujangga Gereja, orang kudus dan teolog besar Gereja yang lain, BP juga mengutip sokoguru Mazhab Spiritualitas Perancis ini, yaitu Berulle (BP 142) dan pengikutnya seperti Eudes (BP 60), Boudon (BP 156) dan Guillaume Gibieuf (BP 178). Sungguh, Montfort dan Duff adalah dua bentara kaliber masa kini dari misteri Penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia, karena kehendak Bapa berkat karya Roh Kudus dalam kerjasamaNya dengan Maria, Perawan terberkati.
Berikut ini kita akan telusuri tema-tema besar teologis Montfort yang meresap dalam BP, walaupun dalam BP tidak diuraikan secara sistematis. Semuanya didalami dari sudut pandang Roh Kudus yang antara lain kutipan tentang perannya ditemukan dalam kutipan-kutipan di atas, yaitu pada BS 25 dan 114.
IV
JIKA SAJA ROH KUDUS DIKENAL…
Agar kita tidak salah paham akan tempat dan peran Maria sebagaimana yang dihayati oleh Legio Maria, kunci sejati untuk membuka pemahaman yang benar adalah peran Pribadi Allah Roh Kudus. Dia diutus Bapa dalam nama Yesus untuk melaksanakan karya keselamatan, baik dalam misteri Kristus maupun dalam misteri Gereja. Untuk kedua karya yang tak terpisahkan ini tampak bahwa Roh Kudus selalu dalam kerjasama yang konstan dengan Perawan Maria. Persis hal inilah yang ditemukan dalam spiritualitas Legio Maria, yang menimba seluruh kekayaannya dari spiritualitas St. Montfort. Berkaitan dengan peran Roh Kudus dan Maria dalam spiritualitas Legio Maria, Kardinal Suenens pernah berkata:
“Kunci pertama keberhasilan Legio Mariae di seluruh dunia adalah keseimbangan antara devosi kepada Roh Kudus dan kasih kepada Maria; yang kedua terletak pada keseimbangan antara persatuan dalam doa dan tindakan; dan kunci keberhasilan yang ketiga, atau lebih baik keajaiban ketiga Legio Mariae, adalah persatuan kehendak antara imam dan awam” .
Walaupun bagian ini bukan terutama dimaksudkan untuk memperjelas segala elemen dari pernyataan Kardinal yang luar biasa berpengaruh dalam hidup Gereja pasca-Konsili ini, karena tulisan ini mengikuti skemanya sendiri, tetapi dengan cara tertentu tulisan ini akan semakin memperjelas pernyataan tersebut.
A. Roh Kudus dalam Karya Penebusan
Roh Kudus dalam pengalaman Montfort adalah “Amour substantiel du Père et du Fils” alias “Kasih yang berdaulat (yang substansial) dari Bapa dan Putra” (BS 36). Dialah yang bertindak, mempersiapkan Maria yang ditetapkan Allah Allah untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan. Maria dipersiapakan secara khusus oleh Roh Kudus dalam kegenapan waktu dengan seluruhnya rahmat (bdk. Luk 1:28, KGK 721) untuk Penjelmaan Sang Sabda. Dia diciptakan sebagai ciptaan baru karena jasa keselamatan Yesus Kristus yang efektivitasnya secara antisipatif dianugerahkan kepadanya.
Jadi, sudah sejak titik yang paling awali ini, Allah Tritunggal sudah berelasi intensif dengan Maria. Karena itu, sudah sejak awal keberadaannya, Maria sudah menjadi figur yang relasional, berelasi dengan Bapa, Putera, Roh Kudus. Lagi-lagi di sini St. Montfort mengemukakan intuisi yang paling dalam maknanya, dan yang tetap relevan sepanjang zaman, tatkala ia menyatakan bahwa:
“Maria itu sepenuhnya berelasi dengan Allah, atau saya malah sangat senang untuk menyebutnya “dia yang relasional”, yang takkan pernah ada jika tidak dalam relasinya dengan Allah” (BS 225).
Oleh karena itu, Maria itu adalah pribadi yang sangat trinitarian: terkait dengan Bapa, terkait dengan Kristus dan terkait dengan Roh Kudus. Dengan Bapa, oleh karena Allah mencintainya dengan cinta yang khusus. Dengan Kristus, oleh karena Kristus menyelamatkan Maria dari dosa asal dan menyelamatkannya untuk tidak berdosa secara pribadi. Dengan Roh Kudus, oleh karena Roh Kudus, dalam kerjasama dengan Putera, menciptakan Maria menjadi seluruhnya kudus. Dan ini terjadi sudah sejak awal keberadaannya. Karena Maria ada, hadir dalam rencana Allah untuk suatu tugas yang luar biasa agung: mengambil bagian dalam karya penyelamatan manusia dari dosa, karena karya penebusan yang akan dijalankan Putera, yang dimulai dengan PenjelmaanNya dalam rahim Maria.
Maria menjadi karya yang unggul dari Tritunggal Mahakudus, ia keluar dari kasih yang sangat khusus dari Allah Tritunggal yang hadir padanya sejak awal keberadaannya. Kehadiran dan karya itu sudah menjadi manifestasi awali Tritunggal Mahakudus walau belum sepenuhnya disadari oleh Maria sendiri. Maka sudah sejak awal keberadaannya, Maria telah menjadi bait tempat tinggal Allah Tritunggal yang Mahakudus, dan Maria berelasi secara intensif denganNya, dan memancarkanNya kepada ruang sekitarnya, dalam rahim ibunya dan dalam dunia hidupnya yang sederhana tatkala ia telah dilahirkan dan menjadi besar. Berkaitan dengan kebenaran ini, Montfort dengan tegas mengatakan:
“Maria adalah karya seni yang sangat indah dari Allah Yang Mahatinggi; Allah mengkhususkan Maria bagi diri-Nya untuk dikenal dan dimiliki. Maria adalah Bunda Allah Putra yang pantas dikagumi. ……di dalam hati-Nya, Ia menghargai dan mengasihinya lebih dari semua malaikat dan manusia. Maria adalah “mata air yang termeterai” (Kid 4:12) dan Mempelai Roh Kudus yang setia. Hanya Roh Kuduslah yang bertempat tinggal di dalam Maria. Maria adalah bait suci dan tempat istirahat Tritunggal Mahakudus” (BS 5).
Ini sungguh suatu persatuan mistik yang paling tinggi, paling unik, melampaui segala bahasa. Maria sungguh unik, tunggal, tiada duanya. Bukan karena kehebatannya sendiri, tapi karena Allah menghendakinya. Terlalu luar biasa. Sebab, sebelum Maria sempat bekerjasama secara unggul dengan kebebasannya, Allah sudah ada padanya. Maria adalah pribadi yang unggul dan tunggal (LG 53). Sebelum Maria melakukan sesuatu untuk dipersembahkan kepada Allah, Alllah sendiri sudah terlebih dahulu melakukan banyak hal dalam diri dan melalui Maria.
Devosi Legio kepada Maria dikandung tanpa noda berasal dari titik awali ini. Karena Allah yang bertindak, yang memilih dan mempersiapkan Maria, maka rantai dosa asal terputus pada saat pembentukan Maria dalam rahim ibunya. Karena kuasa Allah, Maria manjadi pribadi yang tak bernoda, yang “seluruhnya kudus”.
Selanjutnya, seturut pertumbuhan kesadaran yang ada padanya, – yang menyertai pertambahan usianya, Maria lalu bekerjasama dengan penuh kebebasan dan cinta dengan karya Allah itu. Ia tidak menyia-nyiakan rahmat yang Allah curahkan secara berlimpah atasnya dan dalam dirinya (bdk. 2Kor 6:1) untuk hidup sepadan dengan panggilan dan perutusan khusus yang Allah siapkan baginya.
Lalu tatkala kegenapan waktu tiba, Allah mengutus PuteraNya, lahir dari Maria. Namun Allah terlebih dahulu menanyakan kesediaan Maria, melalui utusanNya, Malaikat Gabriel. Hanya dalam kerangka karya rahmat Allah sejak awal keberadaannya dan kerjasama Maria dengan rahmat itu seturut perkembangan usianyalah jawaban Maria kepada utusan Allah, Malaikat Gabriel, dalam Lukas dapat dimengerti: “Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dan Maria memberikan jawaban dengan kebebasan iman, dengan kesadaran penuh. Maria bukan mengikuti secara pasif saja, ia bukan korban rencana Allah yang telah terlebih dahulu memprogramkannya. Maria menyatakan “ya”, bukan karena ia tidak dapat berbuat lain (bdk. LG 56), bukan karena ia telah kehilangan kebebasannya. Ia sepenuhnya bebas, sadar, yang keduanya merupakan kondisi yang menentukan dari cinta yang sejati, tetapi patuh, taat dalam kebebasan.
Namun, adalah Roh Kudus yang akan berkarya dalam diri Maria. Jadi, Sang Sabda itu akan menjelma menjadi manusia dengan “dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” (KGK bab II, art. 3). Dan Maria menyatakan “ya” kepada Roh Kudus untuk Penjelmaan Sang Sabda, menjadi manusia, pada kegenapan waktu (Luk 1:35, Gal 4:4) dalam rahimnya. Maria memeluk rencana Allah baginya, mengikuti dengan ketaatan penuh kebebasan dan cinta tarian rahmat Allah yang bekerja dalam dirinya.
Keterlibatan Maria bukan hanya pada saat Penjelmaan, tapi juga selama seluruh hidup Yesus. Maria membesarkanNya penuh kasih sayang dengan didikan yang dituntun oleh Roh Kudus yang berkarya dalam dan melalui dirinya. Dengan demikian, Roh Kudus hadir dan berkarya dalam dan melalui diri Maria bukan hanya pada saat pembentukannya dalam rahim ibunya, bukan juga hanya untuk terealisirnya peristiwa Penjelmaan, tapi juga selama seluruh hidupnya, Maria ditandai oleh persatuan yang konstan dengan Roh Kudus, walau persatuan itu tidak membuat Maria berhenti untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Maria adalah pribadi yang rohnya selalu berada dalam getaran yang tepat dan konstan dengan gelombang Roh Kudus, yang adalah Roh Putera Bapa, tapi juga Roh Puteranya, sehingga dalam Roh itu Maria menjadi “Puteri Allah Bapa”, dan Maria menyapaNya sebagai Abba, Bapa (bdk. Rom 8:13-15, Gal 4:6). Tentang persatuan tetap antara Roh Kudus dan Maria ini, Montfort berkata: “roh Maria adalah Roh Allah karena dia tidak pernah membiarkan dirinya dibimbing oleh rohnya sendiri melainkan selalu oleh Roh Allah. Roh Allah itu sudah begitu menguasainya sehingga Dia menjadi roh Maria sendiri” (BS 258).
Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus (Luk 4:18), adalah Keturunan perempuan ini. Dalam ketaatan kepada kehendak Bapa yang adalah makananNya (Yoh 4:34) dan dalam kerendahan hatiNya yang mendalam (Mat 11:29), karena cinta (Yoh 10:11), Ia berhasil dengan gemilang menjalankan pengadilan yang tidak jujur, menempuh jalan penderitaan dengan heroik dan mati di salib dalam ketaatan tak bercela kepada kehendak Bapa. Keturunan ular (maut akibat setan dan dosa) menginjak tumit Keturunan perempuan ini – Maria – di salib, dengan dipakunya kaki Yesus di kayu Salib. Tapi Yesus menang karena Ia taat dan rendah hati sehingga kepala ular diinjakNya. Walaupun secara fisik Ia mati mengenaskan, sebetulnya saat mati itu juga Ia sudah menang. Maka kematianNya adalah kemuliaan, karena Ia mati dalam ketaatan penuh cinta. Saat itu juga ular yang memagut tumitNya sudah kalah. Dosa tidak pernah menguasaiNya. Maut yang ditanggungNya akibat dosa manusia sudah ditaklukanNya. Yesus menguasai penderitaanNya. Yesus sudah bangkit juga pada saat Ia sedang mati di Salib.
Namun, sebelum dengan penuh kebebasan Ia menyerahkan nyawaNya kepada Bapa (Luk 23:46), Ia menyerahkan dulu ibuNya kepada murid terkasih (Yoh 19:25-27) yang oleh Gereja dalam tradisinya yang panjang ditafsirkan sebagai bersama Maria merupakan wakil seluruh Gereja yang imannya terpusat pada wafat dan kebangkitan Kristus. Maria, diterima dalam komunitas gerejawi sebagai ibu, yang dalam kerjasamanya dengan Roh Kudus dan di bawah kuasaNya ikut mendidik umat beriman agar mengenal kehendak Bapa dan melaksanakakannya dalam hidup mereka sehari-hari, karena penerangan Roh Kudus, seperti Putera Ilahinya, dan juga karena jasa Puteranya, seperti dirinya sendiri.
Walaupun Puteranya wafat, ia tetap bersatu dengan Puteranya dalam ikatan yang erat dan tak terputuskan (LG 53). Karena karya Roh Kudus, ia telah diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya, untuk memperhatikan saudara-saudara Puteranya dengan menyalurkan rahmat-rahmat Ilahi (LG 59, 62) dan menjadi tanda harapan yang pasti bagi umat beriman yang masih berziarah dan berjuang di dunia ini (LG 68-69), bahwa kemenangan atas setan akan menyertai Gereja. Selalu.
B. Pentakosta Sepanjang zaman
Kalau mendengar tentang Pengudusan, yang umumnya secara spontan dipikirkan adalah bahwa itu merupakan dinamika yang sedang berlangsung dalam masa Gereja kini, yang diawali dengan Pentakosta di Yerusalem. Kalau ditanyakan tentang apa yang terjadi pada hari Pentakosta di Yerusalem itu, yang langsung dipirkan adalah turunnya Roh Kudus untuk membaharui lagi semangat komunitas gerejawi yang sedang berkumpul.
Pentakosta merupakan pengalaman transformatif radikal dalam hidup pribadi para rasul yang mengarah ke semangat yang berkobar-kobar untuk memberikan kesaksian. Namun, hal itu bukan hanya terjadi dulu sebagaimana terekam dalam Kisah para Rasul (Kis) dan surat-surat Paulus, tapi juga kini dan di sini. Roh Kudus saat ini sungguh sedang di arena, di medan karya, dalam Gereja dan dunia, mengantar orang lewat aneka jalan sampai ke perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, yang mengubah hidupnya, dan yang pada saat yang sama mendorong orang itu ke kerasulan atau kesaksian. Pentakosta baru dimulai dan belum pernah selesai, sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya dalam kemuliaan untuk menyatukan segala sesuatu di surga dan di bumi sehingga Allah menjadi segala bagi semua (1Kor 15:28).
Jika kini dalam Gereja muncul istilah Pentakosta Baru, itu hanya mau mengungkapkan kerinduan untuk terulanginya lagi karya-karya ajaib yang pernah terjadi pada Pentakosta di Ruang Atas di Yerusalem: pengalaman transformatif personal, pembaharuan eklesial, pertobatan, lahirnya kelompok-kelompok reformis baru dalam tubuh Gereja, orientasi dan inspirasi pastoral baru, peneguhan kesatuan komunitas, etc. Oleh karena Pentakosta adalah peristiwa abadi dalam Gereja, maka Paus Yohanes XXIII mengatakan, “Kebutuhan dasariah Gereja adalah untuk menghayati Pentakosta di sepanjang waktu”
Frank Duff sendiri melihat Legio berserta panggilan dan perutusannya sebagai manifestasi Pentakosta itu. Gambar Legio (BP 161) dan Veksilium Legionis (BP 165) sudah menjelaskan hal itu. Doa pembuka dalam Tessera (BP 164) yang memohon kedatangan Roh Kudus dan Janji Legio (BP 99) yang dialamatkan kepada Roh Kudus sungguh menunjukkan spiritualitas Pentakostal Legio Maria itu. Aktor Pentakosta adalah Roh Kudus dan para rasul yang berdoa bersama Maria. Maka, dalam dan melalui organisasi kerasulan yang demikian ini, karya-karya ajaib yang pernah terjadi pada Pentakosta di Yerusalem itu bisa terulang lagi, sehingga Gereja sungguh dibaharui. Duff sendiri berkata:
“Bila bakti sejati kepada Maria sudah merupakan saluran rahmat istimewa bagi perorangan, apalagi bagi suatu organisasi yang bertekun sehati dalam doa bersama dengan Maria (Kis. 1:14) yang telah menerima semuanya dari Allah. Apalagi bila organisasi ini dijiwai dengan semangat Maria dan sepenuhnya masuk dalam rencana Allah berkaitan dengan penyaluran rahmat! Bukankah organisasi seperti ini akan penuh dengan Roh Kudus (Kis. 2:4) dan tidakkah akan ada “banyak mukjizat dan tanda” (Kis. 2:43)?” (BP 24)
Namun, hal berikut ini perlu mendapat perhatian kita. Bahwa Pentakosta Pertama dalam masa Gereja yang dilukiskan dalam Kis di Yerusalem itu, terjadi pada saat para Rasul “sedang berdoa bersama Maria….” (Kis). Jadi, ada persatuan antara Roh Kudus dan Maria. Sesungguhnya, pola yang demikian itu sudah terjadi, bukan hanya pada saat pembentukan Maria dalam rahim ibunya, tapi secara khusus untuk perwujudan Penjelmaan Sang Sabda Kekal menjadi manusia. Pada saat itu, Malaikat Gabriel berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau…..” (Luk 1:35). Turunnya Roh Kudus atas komunitas beriman di Yerusalem untuk pembentukan Tubuh Mistik, sudah diantisipasi bagi Maria di Nazaret untuk pembentukan Kristus dalam rahimnya yang tak bernoda, Kepala Tubuh Mistik. Turunnya Roh Kudus yang bersifat antisipatif untuk Maria ini sering disebut sebagai proto-Pentakosta, sebuah Pentakosta yang mendahului. Maka, pembentukan Gereja sesungguhnya sudah diantisipasi secara nyata dalam Penjelmaan. Dan semuanya terkait dengan kerjasama sinergis antara Roh Kudus dan Maria. Inilah yang menjadi konsentrasi Duff, yang tentu diinspirasikan oleh Montfort. Sebab karena ada hubungan antara Penjelmaan dan Pengudusan berkat kerjasama antara Roh Kudus dan Maria, Santo Montfort mengatakan:
Dengan wanita ini, di dalam dia, dan dari dia, Roh Kudus telah menghasilkan karya seni-Nya: Allah menjadi manusia. Dengan cara yang sama Ia masih melahirkan setiap hari, sampai akhir zaman, kaum pilihan, yaitu anggota-anggota tubuh dari kepala yang pantas disembah ini. Oleh karena itu: makin di dalam satu jiwa Roh Kudus menemukan Maria pengantin-Nya yang tercinta dan tak terpisahkan, makin kuat Roh Kudus berkarya dan berkuasa untuk melahirkan Yesus Kristus di dalam jiwa itu dan jiwa itu di dalam Yesus Kristus” (BS 20).
Istilah “…Roh Kudus berkarya dan berkuasa untuk melahirkan Yesus Kristus di dalam jiwa itu dan jiwa itu di dalam Yesus Kristus” merujuk kepada pengalaman transformatif alias perubahan rupa dalam Kristus. Ini sungguh sebuah pengalaman pentakostal. Tapi kondisi untuk maksimalnya karya Roh Kudus adalah bahwa Dia “menemukan Maria pengantin-Nya yang tercinta dan tak terpisahkan: dalam jiwa umat beriman. Maka sesungguhnya kelahiran Kristus, Kepala Gereja, dan kelahiran secara rohani setiap umat beriman, anggota Tubuh Mistik Kristus, terkait erat dengan kerjasama sinergis antara Roh Kudus dan Maria. Jadi baik untuk pembentukan Kepala maupun anggota, Allah berkenan bahwa Roh Kudus, Sang Cinta, melibatkan Maria dalam kerjasama aktif yang kostan, sehingga Montfort berkata:
“Manusia pertama yang dilahirkan di dalam Maria adalah Allah-Manusia Yesus Kristus; dan manusia kedua adalah manusia biasa, anak Allah dan Maria melalui pengangkatan. Kalau kepala umat manusia, Yesus Kristus, lahir dari Maria, maka dengan sendirinya orang-orang terpilih, yang adalah anggota-anggota dari kepala itu, juga lahir dari wanita ini. Tidak mungkin ibu yang sama melahirkan kepala tanpa anggota-anggota, juga tidak mungkin anggota-anggota tanpa kepala” (BS 32).
Berikut ini akan ditelusuri proyek keserupaan dengan Kristus yang merupakan goal seluruh hidup kristiani dan yang secara khusus mendapat garis bawah yang tebal sekali bagi para Legioner, yang menyediakan bagi mereka sarana yang efektif untuk “mencapai”-nya.
1. Panggilan kepada Keserupaan dengan Kristus
Setiap orang kristen dipanggil bukan saja untuk mengikuti Kristus, tetapi juga untuk menjadi serupa dengan Dia. Sebab Kristus diutus kepada kita sebagai model sejati dalam menghayati dengan sungguh panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Ia sendiri adalah Putera terkasih Bapa, kepenuhan pewahyuan Allah (Kol 2:9), yang mengenakan kemanusiaan kita, agar dengan demikian kita menjadi putera-puteri Bapa. Karenanya, tak ada model lain, dan takkan pernah ada model lain, yang olehnya kita akan dijadikan anak-anak Allah sejati. Sebab dalam Kristus telah berdiam seluruh kepenuhan keilahian dan kemanusiawian.
Menjadi serupa dengan Kristus merupakan suatu ungkapan yang menyatakan adanya persatuan yang tetap dengan Kristus karena karya Roh Kudus. Persatuan ini terjadi dalam batin, dan mengubah atau mempengaruhi kita dari dalam, dari dalam hati kita lalu menyebar sampai ke seluruh keberadaan fisiologis kita. Maka, walaupun kita tetaplah manusia sebagaimana adanya kita, namun tanda-tanda milik Kristus (Gal 6:17.) ada pada kita dan kita mengenakan perasaan yang juga ada pada Kristus (Flp 2:5), sehingga bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam kita (Gal 2:20). Dan karena Kristus dalam kita, maka Kristus menguasai dan mengendalikan kita mulai dari inti diri kita, maka kitapun hidup dalam Kristus (Bdk. Kol 3:3), tinggallah dalam kasihNya (bdk. Yoh 15:9), sehingga Kristus menjadi hidup kita (Kol 3:4) karena dalam Dia ada hidup (Yoh 1:4).
Pengalaman keserupaan kita dengan Kristus itu merupakan hasil kerja rahmat yang disambut dengan kerjasama yang aktif dan konstan dari pihak manusia dengan seluruh kebebasan dan cintanya. Karena itu, ia bukan merupakan prestasi manusia, melainkan anugerah Allah yang cuma-cuma. Ia bukan dicapai, tapi diberikan. Manusia dari pihaknya sendiri tidak dapat mencapainya. Ia diberikan cuma-cuma oleh Allah dalam kebebasanNya, namun usaha manusia merupakan kondisi yang normal untuk kita “mendapatkannya”. Tentang pentingnya rahmat Allah ini, Montfort berkata:
“Perubahan sedemikian itu begitu sulit dan mustahil dikerjakan oleh seorang manusia . Hanya Allah saja dengan rahmatNya yang berlimpah-limpah serta luar biasa – dapat menyelesaikannya” (BS 3).
Santo Montfort mengatakan bahwa rahmat Allah itu dicurahkan atas diri kita karena karya Roh Kudus. Roh Kuduslah yang beraksi, sebab memang untuk itulah Dia diutus. Namun, karena kehendak ilahi, Maria mengambil bagian dalam peran Roh Kudus itu. Peran Maria dialami Montfort sebagai sebuah rahasia untuk memperoleh rahmat dari Roh Kudus agar kita bertumbuh dalam kekudusan (RM 6). Karena itu, Montfort berkata:
“Allah Roh Kudus telah memberi kepada Maria, mempelai-Nya yang setia, anugerah-anugerah yang tak terkatakan. Dia memilih Maria menjadi pembagi segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Oleh karena itu Maria membagi semua anugerah dan rahmat itu kepada siapa dia mau, sebanyak dia mau, seperti dia mau dan apabila dia mau. Jadi tidak ada satu pun anugerah surgawi yang diberikan kepada manusia, yang tidak melalui tangan Bunda yang murni. Memang demikianlah kehendak Allah, bahwa kita akan menerima segala sesuatu melalui Maria…. Demikianlah pikiran Gereja dan para Bapa Gereja” (BS 25).
Kerjasama antara Roh Kudus dan Maria semakin menggarisbawahi lagi kristosentrisme kekudusan kita, sebab kita menjadi serupa dengan Kristus, Putera Allah, yang “menjadi manusia karena karya Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria”. Karena itu, keserupaan ini merupakan keserupaan berkat partisipasi dengan martabat Kristus. Allah Bapalah yang menghendaki, seperti Dia juga yang menjadi sumber, namun Roh Kuduslah yang berkarya dalam diri kita untuk mencetak keserupaan dengan Kristus – dalam kerjasamaNya dengan Maria – , sehingga kita dapat mencintai Allah dan sesama dengan sepenuh hati, seluruh pikiran, seluruh hidup (LG 40). Dan Yesus telah mengutus ke dalam hati kita Roh KeputeraanNya. Sehingga sama seperti Kristus, dalam Roh Keputeraan yang sama, kita dapat menyapa Allah sebagai Abbà, Bapa. Di sinilah terletak keagungan martabat panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Jika kita serupa dengan Kristus, Ia kemudian akan mengantar kita ke persatuan mesra yang ada antara Bapa dengan diriNya. Maka kita pun akan mewarisi dari Bapa apa yang menjadi bagian PuteraNya: mengambil bagian dalam kerajaanNya. Kita sekalian dipanggil untuk menatap wajah Allah. Itulah kesempurnaan hidup kita sebagai murid Kristus! “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48).
Persisnya, menjadi serupa dengan Kristus itu berarti serupa dalam seluruh hidupnya, dengan segala dimensinya: inkarnasi dan martabatNya sebagai Anak Allah, hidup dan karya pelayananNya di depan umum, sengsara dan kematianNya dan kemuliaan kebangkitanNya. Untuk lebih detilnya, kita tengok sebentar refleksi para penulis Kitab Suci tentang panggilan kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Tentang keserupaan dalam kematianNya, St. Paulus berkata: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp 3:10); dan dalam kebangkitanNya: Kristuslah “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” (Flp 3:21); untuk menjadi anak-anak Allah yang sejati: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rom 8:29). Kita juga dipanggil untuk menjadi serupa dalam pelayanan atau misiNya: „Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yoh 15:16).
Keserupaan ini tentulah dalam hal kasih, sebab karena kasihlah Kristus mengalami semuanya itu. Kita diharapkan bertumbuh dalam kesemurnaan cinta kasih, yang barometernya adalah Kristus sendiri: menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan bagi banyak orang! Semuanya ini hanya dimungkinkan kalau kita taat kepada bimbingan “Kasih yang berdaulat (yang substansial) dari Bapa dan Putra” (BS 36), yaitu Roh Kudus – dalam kerjasamaNya dengan Maria. Maka kita akan menjalani hidup biasa sehari-hari namun dengan cinta yang luar biasa berkobar-kobar dalam hati, kepada Allah dan kepada sesama.
Kalau kita menempatkan diri di perjalanan kesempurnaan kasih ini, maka kita sesungguhnya sedang bertumbuh dalam kekudusan. Kudus bukan lagi dalam arti separasi alias pemisahan diri dari dunia melainkan mengkhususkan hati dan diri kita jadi tempat tinggal, jadi rumah, bait Tritunggal Mahakudus yang adalah Kasih itu sendiri. Maka Allah Tritunggal akan menjiwai seluruh hidup kita, dan melalui kita Ia hadir dan berkarya dalam dunia. Kita tetap di dunia tapi kita menjadikan dunia ini milik Tritunggal Mahakudus, sebab kita adalah milikNya. Santo Paulus berkata, “inilah kehendak Allah: Pengudusanmu” (1 Tes 4:3). Melalui kita, dunia ini lantas dikuduskan dari dalam, karena kita hidup di jantung rotasi dan dinamika dunia ini, karena kita bergaul dengan hal-hal duniawi. Maka akhirnya sudah tidak relevan lagi adanya pemisahan antara yang duniawi dan yang kudus, sebab yang duniawi pun bertumbuh dalam kekudusan. Maka, menjadi serupa dengan Kristus, menjadi sempurna dalam kasih, menjadi kudus…merupakan tiga hal yang sama!
Panggilan kepada kekudusan ini kemudian diuraikan panjang lebar dalam LG bab V yang menggarisbawahi panggilan universal kepada kekudusan dan memotivasi semua umat kristiani untuk menempatkan diri dalam peziarahan kekudusaan itu….
Sangat menakjubkan, bahwa jauh sebelum Konsili, Legio Maria sebagai organisasi kerasulan awam, yang didirikan pada 7 September 1921 (menjelang 8 Sept: pesta kelahiran SP Maria) di Dublin, Irlandia, telah menempatkan di jantung hati organisasinya tujuan yang sangat mulia ini. Padahal umumnya diyakini bahwa pemahaman umum tentang kekudusan pada era sebelum Konsili adalah monopoli kaum awam yang mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan, yang disebut biarawan-biarawati, bukan kaum awam yang bersandar pada Pembaptisan saja. Padahal, seperti sudah kita tegaskan di atas tadi, panggillan kepada kekudusan atau keserupaan dengan Kristus itu bukan didasarkan atas kaul-kaul atau tahbisan, tapi pada Pembaptisan. Lumen Gentium bab V menjelaskan bahwa ditahbiskan sebagai hirarki (diakon, imam, uskup) hidup berkeluarga sakramental, mengucapkan kaul-kaul kebiaraan, hidup melajang, menjadi janda… itu hanya merupakan medan penghayatan yang berbeda-beda dari panggilan yang sama kepada kekudusan, sesuai dengan rahmat dan panggilan yang Allah anugerahkan kepada masing-masing orang yang dibaptis untuk kebahagiaannya sebagai seorang kristiani dan untuk pelayanan yang berbeda-beda dalam Gereja. Tidak ada bentuk hidup yang lebih tinggi dari yang lain atau kebalikannya. Itulah sebabnya mengapa kami menyebut semuanya secara acak saja.
Frank Duff (1889-1980), seorang awam biasa, sederhana, yang sedang dalam proses untuk dibeatifikasi, sadar sungguh-sungguh akan panggilan kepada kekudusan ini. Dan ia promosikan kepada semakin banyak orang dengan menyediakan sarana yang istimewa untuk pertumbuhannya dalam Legio Maria, sehingga dalam BP tertulis apa yang menjadi “tujuan Legio”:
“Tujuan Legio Maria adalah kemuliaan Allah melalui Pengudusan anggotanya yang dikembangkan dengan doa dan kerjasama aktif, di bawah bimbingan Gereja, dalam karya Maria dan Gereja, untuk menghancurkan kepada ular dan meluaskan kerajaajn Kristus” (BP 12, bab 2: Tujuan Legio Maria, bdk. 19)
Di sini kita mendapati diri sungguh sedang berada di pusat identitas spiritual seorang Legioner: dipanggil untuk menjadi kudus. Inilah panggilannya, dan sudah mulai dijalani sejak Pembaptisan. Dalam LM, adalah peran Roh Kudus, yang diutus Yesus kepada kita, untuk membawa kita sekalian ke dalam persatuan dengan Allah Bapa, melalui Kristus sendiri, dan bersama dengan Bunda Maria.
Itu tentu diketahuinya dari Montfort, yang lebih jauh sebelum Konsili Vatikan II bukan hanya “berusaha” bekerjasama dengan rahmat Allah agar dirinya sendiri bertumbuh dalam kekudusan, tapi pada saat yang sama mempromosikan kekudusan yang universal dan memobilisasi segala upaya umat ke arah tujuan itu dengan menawarkan sarananya: Pembaktian Diri. Montfort mengatakan:
“Kamu, gambaran hidup dari Allah, dan ditebus dengan darah mulia, Yesus Kristus, Allah menghendaki kamu menjadi kudus seperti Dia dalam hidup sekarang ini, dan mulia seperti Dia sesudah hidup ini. Memperoleh kekudusan ini adalah panggilanmu yang pasti: ke sanalah kamu harus mengarahkan segala pikiran, perkataan dan perbuatan, penderitaan dan gerakan hidup; jikalau tidak, kamu melawan Allah, karena kamu menolak maksud dan tujuan Allah menciptakan kamu dan memelihara hidupmu sampai hari ini. O, sungguh karya yang mengagumkan! Debu berubah menjadi terang, kotor menjadi bersih, dosa menjadi kesucian, makhluk menjadi Pencipta, manusia menjadi Allah! Saya ulangi: Sungguh suatu karya yang mengagumkan” (RM 3).
Dalam kaitannya dengan ini dapat ditegaskan bahwa pengalaman mistik bukanlah monopoli biarawan-biarawati, apalagi yang kontemplatif saja. Karena Pembaptisan, semua orang beriman hidup dalam persatuan mistik. Itulah sebabnya Gereja disebut sebagai Tubuh Mistik Kristus. Tubuh, karena Kristus adalah Kepala. Mistik, karena Kristus hadir dalam Gereja dan melalui serta dalam Dia, Bapa, karena karya Roh Kudus, juga hadir dalam Gereja. Gereja adalah Bait Tritunggal Mahakudus, tempat karyaNya yang maksimal dan sarana karyaNya yang unggul.
Legio Maria sungguh mengantar anggotanya ke pengalaman keserupaan dengan Kristus itu, bahkan BP menyatakannya dengan mengutip kata-kata St. Agustinus, pujangga yang mengagumkan itu:
“Tujuan Legio adalah untuk membantu anggota-anggotanya dan semua orang yangt berhubungan dengan Legio agar sepenuhnya hidup dan memenuhi panggilan kristiani mereka. Pangilan hidup ini bersumber pada Pembaptisan. Dengan dibaptis, orang dibuat menjadi seorang Kristus. ‘Kita tidak saja menjadi seorang Kristus, tetapi kita telah menjadi Kristus sendiri’ (St. Agustinus)” (BP 228-229).
Kata-kata Pujangga mulia ini – “menjadi Kristus sendiri” – seperti juga Montfort di atas: “manusia menjadi Allah” – tentu tidak dimaksudkan bahwa seseorang lantas berubah menjadi sama dengan Kristus, dan karena itu menjadi klon-nya Kristus, melainkan selalu untuk menekankan pengalaman persatuan mistik dan persatuan yang mengubah dengan Yesus dalam batin, walau kita tidak berhenti untuk tetap menjadi diri kita sendiri seutuh-utuhnya. Di hadapan pengalaman persatuan mistik ini, akal budi manusia tertunduk, segala bahasa berhenti. Yang ada hanyalah takjub, terpesona, hati selalu berkobar.

Legio itu hidup kristiani dalam intensitasnya. Sebab ia merupakan gaya hidup. Seni hidup. Legio itu bukan aturan. Ia adalah hidup kristiani itu sendiri, tapi hidup kristiani dalam kepadatannya!, ketebalannya!, intensitasnya! Karena itu, seseorang menjadi Legioner bukan hanya saat mengikuti rapat mingguan dan pada saat kunjungan. Tapi seluruh hidupnya, dia adalah Legioner!
Karena itu, motivasi dasariah untuk menjadi Legioner adalah motivasi yang teologis, bukan sosiologis. Teologis, oleh karena Allah Tritunggal-lah yang menjadi dasar pilihan kita dan Dia pulalah yang kita cari dalam dan melalui segala doa dan pelayanan Legio Maria. Allah Tritunggal adalah norma tertinggi yang padanya diukur dan dinilai kualitas martabat kita sebagai Legioner.
Karenanya, persatuan kita juga mengatasi hubungan pertemanan. Mungkin ada di antara kita yang masuk menjadi Legioner karena diajak teman atau untuk mencari dan menambah koleksi teman baru. Tentu saja ini baik. Tapi pertemanan ini akan melulu bernilai sosiologis kalau Allah, dalam diri Kristus PuteraNya, tidak sungguh menjadi norma, kalau Allah tidak sungguh dicari, kalau Allah tidak sungguh dimuliakan dalam dan melalui pertemanan itu. Motivasi untuk menjadi Legioner juga tidak cukup jika hanya untuk mengisi waktu, atau untuk melatih diri dalam kehidupan managerial (baik manajemen rohani pribadi maupun menajemen organisasi), atau untuk sekadar mencari ketenangan batin.
2. Sebuah Proses yang Ditandai Salib
Seperti yang telah dikatakan di depan, perjalanan menuju keserupaan ini merupakan perjalanan progresif, yang dimulai sejak Pembaptisan, yang olehnya seseorang mengambil bagian dalam martabat Yesus sebagai imam, nabi dan raja, yang dihayati dalam hidup sehari-hari. Karena itu, penggunaan kata “menjadi”, itu merujuk kepada sebuah proses, dinamika tanpa henti, maju-mundur, jatuh-bangun, saat masih di dunia ini. Walau segala “kemunduran” dan kejatuhan, diharapkan kalau ditarik grafiknya seseorang diharapkan berjalan naik, semakin tinggi – kalau pertumbuhan itu dilukiskan sebagai jalan naik seperti ke “Pendakian Gunung Karmel”-nya Yohanes dari Salib. Atau semakin berjalan masuk, masuk ke dalam diri, kalau pertumbuhan itu dilukiskan sebagai perjalanan memasuki inti diri di mana di pusatnya bertakhta dan memerintah Raja hati kita, model “Puri Batin”-nya Teresia dari Avila. Atau diubah menjadi serupa dengan Kristus kalau pertumbuhan itu dilukiskan sebagai kelahiran kembali dalam rahim rohani Bunda Maria karena karya Roh Kudus, kalau pertumbuhan itu dilukiskan dalam kerangka spiritualitas Penjelmaan model “Pembaktian Diri”-nya St. Louis-Marie de Montfort.
Perjalanan itu akan disertai salib, sebab ia merupakan kriteria kemuridan. Yesus sendiri telah bersama: “Barangsiapa mau menjadi muridku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Mat16:24). Salib bukanlah pengalaman yang asing dari hidup kita. Ia biasa, bahkan sangat biasa. Yaitu tatkala kita mau melaksakan kehendak Allah karena cinta, kita harus setiap kali menanggalkan egoisme kita. Salib adalah pengalaman tuntasnya kasih kepada Allah dan sesama. Totalitas itulah spiritualitas salib Legio Maria, seperti dinyatakan dalam BP, dengan merenungkan
“perasaan hati St. Teresia dari Avila: “Menerima demikian banyak dan membalas begitu sedikit: Oh! Itulah kemartiran yang ingin kualami”. Dengan merenungkan Tuhannya yang tersalib, yang mempersembahkan nafas-Nya yang terakhir serta tetes penghabisan darah-Nya demi dia, seorang Legioner dalam pelayanannya harus berusaha mencerminkan penyerahan diri secara total seperti itu” (BP 14).

Totalitas itu tentu dihayati setiap kali dalam perjuangan yang berat karena setiap kali digoda untuk setengah-setengah, suam-suam kuku, tidak mau mengambil resiko. Dalam terminologi sangat khas LM, totalitas perjuangan dalam perjalanan kekudusan ini diungkapkan dengan istilah “pertempuran”. Pertempuran itu disertai penyangkalan diri, memikul salib dan mengikuti Yesus. Senjatanya dalam pertempuran ini adalah “senjata Allah” (Ef 6:11) yaitu kesetiaan, keberanian, kedisiplinan, ketabahan dan keberhasilan (BP 13).
“Legio Maria adalah suatu Perkumpulan umat Katolik yang, dengan restu Gereja dan bimbingan kuat Maria tak Bernoda, Pengantara segala Rahmat, telah menggabungkan diri ke dalam suatu laskar untuk bertempur dalam peperangan abadi antara Gereja melawan dunia dan kekuatan jahatnya” (BP 9).
Pertempuran merupakan simbolisme pertumbuhan yang ditandai salib di jalan kekudusaan. Dalam terminologi Santo Montfort pertempuran berarti “totalitas” atau “tanpa kecuali” (BS 121) atau “segalanya atau tidak sama sekali” (K 133) untuk menghayati manajemen batin Legio Maria: “kesetiaan, kebajikan, keberanian” (BP 9), “kesetiaan, keberanian, kedisiplinan, ketabahan dan keberhasilan” (BP 13) “penyerahan diri kepada pimpinan, rasa tanggungjawab yang besar, ketahanan dalam menghadapi kesulitan, ketabahan menderita, kesetiaan kepada tugas sampai hal-hal yang paling kecil” (BP 372).
Di sini ada semacam dikotomi yang harus dipahami dengan baik: “peperangan abadi antara Gereja melawan dunia dan kekuatan jahatnya”. Seakan-akan Gereja itu berada di luar dunia. Karena itu, dia berada pada posisi yang lain, yang di hadapannya, pada posisi yang berbeda, ada “dunia dan kekuatan jahatnya”, yang dianggap musuh oleh Legio dan karena itu harus diperangi. Ternyata ada Gereja yang masih berjuang di dunia ini, ia hidup dalam dunia. Walaupun dalam dunia ini Sang Sabda telah menjelma, namun masih ada kekuatan kejahatan yang mempengaruhi Gereja. “Dunia dan kekuatan jahatnya” yang harus dilawan tentu adalah kekuatan setani yang merendahkan martabat manusia, yang bercokol dalam hati manusia sebagai pribadi yang dirasuki oleh egoisme (keinginan daging) dan dalam struktur sosial yang koruptif.
Maka, Legioner harus bertempur dulu melawan kekuatan setan yang ada dalam dirinya sendiri…, yang menghalangi karya rahmat Roh Kudus dalam diri kita. Untuk itu kita harus mengikuti arahan Maria Tak Bernoda yang bersama Roh Kudus sedang beraksi di medan pertempuran, agar kita yang sering “terombang-ambing di antara dua kutub yang berlawanan, antara ketidakpedulian dan kerajinan yang menggebu-gebu, karena kita menganggap Allah tidak ada kaitannya dengan karya kita” (BP 18), dapat mengikuti disiplin manajemen rohani gaya Legio Maria untuk menang atas diri sendiri!
Lalu terhadap kekuatan kejahatan dan dosa struktural-sosial, Legioner tampil sebagai “paskas” dari Gereja juang melawan kejahatan yang sosoknya “selalu berubah-ubah” (BP 95) ini: “Keseluruhan hidup umat manusia, baik perorangan maupun sosial, merupakan suatu perjuangan, dan suatu perjuangan dramatis, antara terang dan gelap” (GS 13, BP 9).
Dapat dipastikan bahwa pengalaman pertempuran ini akan mengantar kita ke arah permurnian hati, pencerahan hati dan persatuan hati dengan Yesus. Ini merupakan tiga tahap pengalaman hidup rohani yang umumnya digambarkan para tokoh besar dalam hidup rohani. Pemurnian hati karena kita mencabut tujuh dosa pokok beserta akar-akarnya dan di tempat itu kita menanam kebajikan kristiani. Dalam doanya kepada Allah Bapa, Montfort berkata: “Biarkanlah kerajaan Kristus didirikan di atas reruntuhan kerajaan musuh-musuhMu” (DM 4): kesombongan diganti kerendahan hati, ketamakan diganti menjadi dermawan dan kemiskinan, kedengkian diganti pengampunan, kemurkaan diganti kesabaran atau pengampunan, percabulan diganti kemurnian, kerakusan diganti ugahari dan puasa, kelambanan diganti rajin.
Pengalaman mistik merupakan anugerah cuma-cuma dari Allah, yang kondisi normalnya adalah usaha dari pihak manusia untuk bertumbuh. Iman bukan hanya berarti tahu tapi juga pasrah-berserah pada kebenaran yang diketahui itu dan membangun hidup yang serasi dengannya. Dan semuanya itu karena cinta. Harapan melekat pada iman dan cinta itu. Dan pengalaman mistik itu sungguh dapat dianugerahkan kepada kita oleh Allah dalam kemurahan hatiNya di tengah-tengah dunia ini, dalam praktik hidup kita sebagai rasul awam dalam mempersembahkan dunia ini kepada Allah, menuntun jalannya sejarah dan menata dunia ini sesuai dengan kehendak Allah.
Pengalaman mistik itu bukanlah anugerah yang menanti di ujung perjalanan pertumbuhan dan setelah mengalaminya kita tidak bertumbuh lagi, tapi sebagai bagian dari perjalanan itu, kalau dianugerahkan kepada kita, dan merangsang intensifikasi dalam perjalanan selanjutnya.
Tapi bukan pengalaman mistik yang disertai dengan segala penyataan atau pewahyuan pribadi yang spektakuler yang dicari (bdk. RM 69). Bukan dalam hal-hal hebat secara supernatural. Tapi mistik keseharian, yaitu semakin bertumbuh setiap hari melalui interaksi hidup harian yang biasa dan sederhana sekali. Tapi semuanya itu dihayati dengan cinta yang luar biasa, sehingga kehadiran Kristus ditemukan dalam segala sesuatu, dan bahwa segala sesuatu ada dalam Kristus.
Walaupun pada hakikatnya semua orang yang dibaptis adalah mistik, namun sebagai pengalaman personal, tidak semua mengalaminya. Pada banyak orang, ia hanya menjadi sebuah kebenaran yang mudah-mudahan disadari tapi hanya sampai pada level pengetahuan. Legio Maria sungguh mengantar anggotanya melalui salib sampai kepada pengalaman persatuan dengan Kristus, yang dianugerahkan secara cuma-cuma berkat kerjasama antara Roh Kudus dan Maria. Montfort berkata bahwa persatuan kita dengan Roh Kudus yang berkarya bersama Maria ini akan mengantar kita ke pengalaman persatuan ituu, yang sering disebut sebagai “perkawinan rohani”. Beliau berkata:
“Sudah pasti bahwa Kebijaksanaan Abadi [Yesus Kristus] dalam cintaNya bagi jiwa-jiwa sampai mengawini mereka dan melangsungkan suatu perkawinan rohani namun nyata dengan mereka, yang tidak dikenal dunia” (CKA 54).
Montfort berkata bahwa di jalan mistik ini, Bunda Maria berperan untuk menerangi, menjernihkan, menyemangati, mendukung…kita agar dapat melewati malam gelap iman itu dengan nyaman, sehingga hati dan pikiran kita dicerahkan untuk “melihat” Kristus dengan lebih jelas. Jadi Maria sungguh berperan dalam perjalanan perubahan rupa kita dalam Kristus, bukan hanya berperan dalam hal pengabulan doa-doa seperti misalnya yang dilakukan dalam praktik novena. Montfort menerangkan peran Maria di jalan mistik itu sebagai berikut:
“Melalui jalan Maria kita akan maju dengan lebih lemah-lembut dan tenang. Di sini kita harus berjuang keras mengatasi banyak kesulitan besar, tetapi Bunda dan Ratu yang baik itu mendekatkan diri kepada para pelayannya yang setia. Dia akan menerangi mereka di saat-saat yang gelap, memberi kejernihan dalam kebimbangan, menyemangati dalam ketakutan, mendukung dalam perjuangan dan kesulitan. Dengan demikian jalan sang perawan untuk menemukan Yesus Kristus ini, dalam kenyataannya adalah mawar dan madu dibandingkan dengan jalan-jalan lain” (BS 152).

Pengalaman perkawinan rohani itu adalah pengalaman di mana hati seseorang disentuh oleh Yesus yang bangkit karena karya Roh Kudus dan Ia menyebut nama kita: sentuhan yang membuat seseorang sadar dan tak bisa “tidur” lagi, mencerahkan pikirannya sehingga ia mengerti lebih banyak hal-hal yang berkaitan dengan iman, membuat matanya melihat lebih jelas dan terang menderang, membuat telinganya peka mendengar suaraNya, membuat seluruh dirinya menangkap kehadiranNya, menggerakkan kakinya untuk melangkah lebar jauh perkasa, membuka mulutnya untuk berteriak lantang, menggerakkan tangannya untuk bertindak! Hatinya dibakar oleh api kasih yang meluap-luap. Sungguh, sentuhan yang mengubah! Mengubah 180 derajat. Dan tidak akan membuatnya sama lagi seperti sebelumnya. Menjadi manusia baru, ciptaan baru dalam Kristus! Sebab Yesus menjadi Makna, makna yang sama sekali baru untuk seluruh keberadaannya, entah hidup entah mati. Dalam konteks anugerah pengalaman mistik ini kita dapat mengerti kata-kata Rasul paulus: “Hidup bagiku berarti Kristus, mati adalah keuntungan!”, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku!”, “Semua yang dahulu merupakan kebangaan bagiku sekarang semuanya kuanggap rugi karena Kristus, semuanya sampah!”, “Celakalah aku kalau aku tidak mewartakan Injil!”
3. Karya Pengudusan ini Dijalankan Roh Kudus bersama Bunda Maria
Aktor untuk perjalanan kekudusan ini adalah Roh Kudus. Namun, pola bertindakNya dalam masa Gereja kini melanjutkan cara yang telah ditempuhnya dalam karya penebusan. Sebab penebusan dan Pengudusan merupakan satu-kesatuan di mana yang terakhir menyusul yang pertama. Dan keduanya terkait dengan karya Roh Kudus.
Keistimewaan dasariah yang LM miliki untuk menempuh jalan kekudusan ini adalah bahwa ia memiliki “sarana” yang luar biasa: Maria sendiri. “Di bawah pimpinan Allah, Legio dibentuk atas dasar devosi kepada Maria, ‘Mukjizat yang tak terlukiskan dari Yang Maha Tinggi’ (Paus Pius IX)” (BP 19).
Kalau merenungkan Maria – selalu dalam iman akan Kristus – kita akan menemukan betapa maksimal serta luar biasanya kehadiran dan karya Roh Kudus, bahkan tiada duanya, dalam diri seorang manusia normal dan dalam seluruh ciptaan. Lebih dari itu juga betapa luar biasa solid dan efektifnya kerjasama yang ada antara Yang Ilahi, yaitu Roh Kudus sendiri, dengan yang insani, yaitu Maria, dalam melaksanakan rencana keselamatan Allah, baik dalam misteri Kristus maupun dalam misteri Gereja.
Walaupun tidak kelihatan oleh mata fisik, Roh Kudus memang selalu hadir nyata dalam seluruh diri kita, dalam roh kita, dalam hati kita, dalam pikiran kita, dalam tubuh kita. Dia adalah bagian utuh hidup kita sehari-hari, bagian utuh dunia kita. Dia adalah Ruah, yaitu angin atau udara yang bergerak, yang walaupun tidak kelihatan, hembusan dan arah gerakkannya bisa ditangkap diri kita. Dia dilambangkan juga dengan api, cahaya, air, cap/meterai, jari, merpati, awan….semuanya dari dunia kita yang biasa. Sangat nyata! Namun betapa sangat nyata lagi dalam diri Maria. Karena kehadiran dan karyaNya teridentifikasi konkret: dalam kerjasamaNya dengan Maria, Dia membentuk Sang Pencipta Kehidupan, Sabda kekal yang menjelma, dan membentuk semua orang beriman yang akan mengambil bagian dalam hidupNya.
Legio sadar akan semuanya ini. Maka, Maria bukan sekadar dekorasi dalam Legio, tapi “penentu” identitas spiritual dan misionernya, baik sebagai pribadi maupun sebagai sebuah persekutuan. Karena itu, Maria bukan hanya diterima secara teoretis dalam iman kristiani oleh para Legioner tapi sungguh dalam sebuah praktik hidup yang nyata. Karena itu juga para Legioner bukan hanya melakukan secara aksidental devosi kepada Maria dalam iman kristiani, melainkan sungguh secara terus-menerus. Karena itu para Legioner tidak jatuh dalam praktik-praktik lahiriah dalam berdevosi kepada Maria tapi terutama juga dalam batin. Karena itu dalam hidup pribadi maupun kerasulan, baik spontan peribadi maupun karena tugas Legio – sebab Legioner harus senantiasa bertugas – , para Legioner selalu melaksanakannya bersama Maria. Singkatnya, kapanpun dan di manapun, dalam keadaan apapun, seorang kristiani yang menjadi Legioner selalu bersama Maria. Tanpa batas ruang dan waktu. Karena itu semua, Legio Maria adalah hidup kristiani dalam intensifikasinya! Atau dengan bahasa yang sangat elok, Paus Yohanes XXIII mengatakan: “Legio Maria – itu – mewakili wajah sejati Gereja Katolik” (BP 11). Karena Legio tidak membiarkan kebenaran sebagai teori tapi sebagai hidup. Spiritualitasnya operasional dan mengubah. Legio Maria adalah spiritualitas dalam aksinya. Karena itu ia sungguh dahsyat untuk mendorong pertumbuhan kekudusan kristiani. Dan semuanya itu terjadi karena Maria. Sebab Maria adalah ikon praktis-konkret dari karya Tritunggal Mahakudus baik dalam misteri penebusan maupun Pengudusan. Di sisi lain, hal itu dimungkinkan karena Maria mau bekerjasama dalam kebebasan dan cinta.
1. Dasar Teologis: Misteri Penjelmaan
Tadi kita sudah melihat bahwa jalan kekudusan itu ditandai salib. Pengalaman mistik itu akan dianugerahkan kepada kita kalau mau menyangkal diri dan memikul salib. Menurut Montfort, kondisi itu dapat dilalui dengan aman jika kita melakukan devosi yang sejati kepada Maria. Beliau berkata:
“Kalau kita mau mencapai kesempurnaan, yang hanya mungkin melalui persatuan dengan Yesus Kristus, maka penting sekali kita mengosongkan diri dari segala sesuatu yang buruk di dalam diri kita…….Untuk mengosongkan diri, kita harus, pertama, menyadari dengan baik melalui terang Roh Kudus kejelekan batin kita yang paling dalam, ketidakmampuan kita untuk segala hal yang bermanfaat bagi keselamatan kita……Kedua: Untuk mengosongkan diri, kita perlu mati setiap hari terhadap diri kita sendiri, artinya menolak aktivitas kuasa-kuasa gelap jiwa kita dan aktivitas panca indera tubuh kita: kita harus melihat seakan-akan kita tidak melihat, mendengar seakan-akan kita tidak mendengar, hidup dalam dunia ini namun tak mempedulikannya……Ketiga: Kita harus memilih di antara semua devosi Perawan tersuci devosi yang paling mampu mengantar kita untuk mati terhadap diri sendiri; karena devosi itulah yang terbaik dan paling menyucikan” (BS 78-82).
Itulah sebabnya mengapa Gereja – lebih khusus lagi dalam hal ini Legioner – berdevosi kepada Maria. Berbakti kepadanya merupakan jalan untuk menemukan Kristus dan melalui dia Kristus mau berjumpa dengan kita.
“Maria adalah jalan, yang melaluinya Yesus Kristus datang kepada kita pertama kalinya. Sebab itu Maria juga harus menjadi jalan pada kedatangan Yesus Kristus yang kedua, meskipun tidak dengan cara yang sama. Maria adalah sarana yang aman, jalan yang lurus dan tak bernoda untuk datang kepada Yesus Kristus dan menemukan Sang Putra secara sempurna. Sebab itu semua orang yang dipanggil kepada kesucian yang istimewa harus memakai sarana ini untuk menemukan Yesus Kristus. Siapa menemukan Maria, menemukan hidup yaitu Yesus Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6)” (BS 50).
Apa dasarnya keterlibatan Maria dalam perjalanan kekudusan Gereja itu? Karena cara kerja Allah Tritunggal yang melibatkan Maria dalam karya penebusan itu oleh Montfort – mengikuti para Bapa Gereja dan para Pujangga Gereja – dikatakan berlaku terus, baik sekarang pada Penjelmaan maupun nanti pada Pengudusan sampai saat kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Maria bukanlah instrumen (baca: objek, diperalat) karya Allah dalam misteri Penjelmaan, sehingga setelah Penjelmaan terlaksana Maria tidak diperlukan lagi. Dalam kebijaksanaanNya yang ilahi, Allah terus memerlukan kerjasama Maria. Montfort tegaskan:
“Apabila saya bertolak dari kenyataan dan melihat bahwa Allah telah menghendaki untuk memulai dan menyelesaikan karya-karya-Nya yang agung melalui Perawan tersuci, mulai dari saat Ia menciptakannya, maka dengan hati yang tenang kita boleh percaya bahwa Allah sepanjang segala abad tidak akan mengubah sikap-Nya. Karena Dia Allah: Dia tidak berubah dalam pikiran dan cara kerja-Nya (Mzm 102:26-28)” (BS 15).
Alasan keberadaan Maria adalah untuk karya keselamatan Allah, baik dalam misteri Kristus maupun Gereja, baik untuk penebusan maupun untuk Pengudusan. Dari kutipan di atas menjadi jelas juga bahwa dasar teologis untuk mengaitkan peran Maria dengan Roh Kudus dalam misteri Pengudusan adalah Penjelmaan. Sebab Penjelmaan terlaksana karena karya Roh Kudus dalam diri Maria. Maka, dalam Pengudusan pun Roh Kudus dan Maria tetap bekerjasama secara sinergis. Sungguh, Penjelmaan menjadi dasar kristologis yang kokoh sekali untuk devosi yang sejati Gereja kepada Maria. Atas dasar keyakinan ini, Montfort sekali lagi menegaskan bahwa pola bertindak Allah Tritunggal dalam Penjelmaan itu dipegang terus dalam Pengudusan sampai akhir zaman
“Pola bertindak yang diikuti ketiga pribadi Tritunggal Mahakudus saat Penjelmaan, yaitu datangnya Yesus Kristus yang pertama kali, tetap dipegang Mereka setiap hari di dalam Gereja secara tak kelihatan. Sampai akhir zaman, yaitu saat datangnya Yesus Kristus yang terakhir kali, Mereka akan tetap setia kepada pola yang sama” (BS 22).
Maka berbakti kepada Maria merupakan cara paling maksimal yang dapat dilakukan untuk meniru tindakan Allah Tritunggal dalam karya penyelamatan. Maka dalam proses itu seseorang akan bertumbuh sebagai bait Tritunggal Mahakudus, seperti Maria, sehingga dapat memancarkanNya kepada dunia, juga seperti Maria. Montfort menjelaskan:
“Dengan menyerahkan diri kepada Yesus melalui Maria, kita meneladani Allah Bapa, yang menyerahkan PuteraNya kepada kita hanya melalui Maria, dan yang hanya membagikan rahmatNya kepada kita melalui Maria. Begitu pun kita meneladani Allah Putera. Dia telah datang kepada kita hanya melalui Maria. Setelah memberi teladan itu, Ia mengun dang kita datang kepadaNya lewat jalan yang sama yang telah Ia gunakan untuk datang kepada kita. Akhirnya kita meneladani Roh Kudus yang membagikan rahmat dan karuniaNya kepada kita hanya melalui Maria. Maka tidak tepatkah kata Santo Bernardus jika rahmat itu kembali ke sumbernya melalui saluran yang telah dilaluiNya ketika datang kepada kita?” (RM 35).
Peran kebundaan rohani Maria terhadap Gereja yang sudah termaktub dalam misteri Penjelmaan itu lalu dikukuhkan dalam misteri salib, tatkala Maria menerima tugas dari Sang Putera yang sedang dalam sakratul maut untuk menjadi ibu semua orang yang menjadi muridNya. Hal ini dikatakan dengan amat baik oleh BP tatkala menyimpulkan:
“Maria menjadi Bunda Kristus maupun ibu kita ketika ia menanggapi salam malaikat dan dengan rendah hati menyatakan persetujuannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Keibuan Maria dimaklumkan pada saat kedudukannya sebagai ibu diperluas sampai titik sempurna, ialah ketika karya Penebusan digenapi. Di tengah kesedihan Kalvari, dari atas salib, Yesus berkata kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”, dan kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26-27). Melalui Santo Yohanes kata-kata ini ditujukan kepada seluruh umat pilihan Allah. Karena Maria melalui persetujuannya dan melalui penderitaannya sepenuhnya bekerja sama dalam kelahiran rohani umat manusia, ia menjadi ibu kita dalam arti yang paling penuh dan paling sempurna” (BP 22).
Sejak “saat itu” (Yoh 19:27) Maria mulai menjalankan peran aktif-kooperatif dengan Roh Kudus dalam “melahirkan kembali” setiap anggota Tubuh Mistik Kristus, agar semuanya mengalami perubahan rupa dalam Kristus. Peran Maria yang demikian itu dilihat Montfort sebagai perpanjangan Penjelmaan. Jadi, Penjelmaan itu tidak pernah selesai, melainkan baru saja dimulai dengan Penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia. Selanjutnya yang terjadi adalah Penjelmaan rohani setiap anggota Gereja menjadi serupa dengan Kristus. Kedua-duanya karena kerjasama Roh Kudus dan Maria. Jalan Maria itu merupakan jalan sempurna Putera Allah menjadi sama dengan kita dan jalan sempurna kita menjadi serupa dengan Dia. Montfort dengan amat elok menjelaskan:
“Yang Mahatinggi telah turun kepada kita dengan cara yang sempurna dan ilahi melalui Maria yang rendah hati. Pada peristiwa itu Dia tidak kehilangan apapun dari ke-Allahan dan kekudusan-Nya. Maka orang yang sangat kecil pun harus naik melalui Maria dengan cara yang sempurna dan ilahi kepada Yang Mahatinggi, tanpa takut terhadap apapun. Yang Tak tertampung telah membiarkan diri sepenuhnya ditampung dan dilingkupi secara sempurna oleh Maria yang kecil, tanpa melepaskan sedikit pun dari ketakterbatasan-Nya. Kita juga harus membiarkan diri kita sepenuhnya dilingkupi dan dibimbing oleh Maria yang kecil tanpa syarat. Yang Tak terhampiri telah mendekati kita. Melalui Maria Dia telah mempersatukan kita dengan diri-Nya secara mesra, sempurna dan malahan pribadi dengan kemanusiaan kita. Namun tidak sedikit pun dari keagungan-Nya hilang. Kita juga harus melalui Maria mendekati Allah dan mempersatukan diri kita secara sempurna dan mesra dengan Yang Mahamulia tanpa takut akan ditolak. Akhirnya, “Dia-yang-ada” mau datang kepada yang tiada, dengan maksud membuat yang tiada menjadi Allah atau “Dia-yang-ada”. Ia telah melaksanakan hal ini dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan menyerahkan dan menundukkan diri seutuhnya kepada perawan Maria yang masih remaja. Namun dalam kefanaan Dia tidak berhenti menjadi “Dia-yang-ada sepanjang segala abad”. Demikian juga kita, kendati tidak berarti apa-apa, dengan bantuan Maria bisa menjadi serupa dengan Allah, berkat rahmat dan kemuliaan. Untuk itu kita harus menyerahkan diri kepadanya dengan sempurna dan utuh, sehingga kita yang tak berarti apa-apa dari diri sendiri, berarti segala-galanya dalam Maria, tanpa bahaya kita keliru” (BS 157).
Dalam jalur pemikiran yang sama, St. Agustinus juga memiliki rangkaian kalimat yang luar biasa indah dan padat makna, yang dikutip BP, sekaligus juga menjelaskan bahwa Legio Maria pun berada pada jalur pemikiran yang sama. Bapa Gereja ini menegaskan:
“Maria adalah Bunda semua anggota Sang Penebus, karena dengan kemurahan hatinya ia telah bekerja sama dalam kelahiran umat beriman dalam Gereja. Maria adalah cetakan Allah yang hidup, artinya, hanya dalam diri wanita ini Allah-manusia dibentuk secara kodrati tanpa kehilangan satu ciri pun, – kalau boleh dikatakan begitu -, dari ke-Allah-an-Nya; dan hanya dalam diri wanita ini manusia dapat dibentuk secara tepat dan hidup-hidup dalam rupa Allah, sejauh kodrat manusia mampu untuk itu berkat rahmat Yesus Kristus.” (Santo Agustinus, BP 11).

2. Maria sebagai Jalan Rahmat untuk Kekudusan
Di sini kita sedang berada di jantung teologis ajaran Montfort. Buku mungilnya, Rahasia Maria, berisikan dua hal ini: pertama, Maria adalah jalan rahmat untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kedua, praktik pembaktian diri diusulkan sebagai cara hidup yang hendaknya orang kristiani hayati untuk mengefektifkan peran Maria itu agar bertumbuh dalam kekudusan. Berkaitan dengan yang pertama, Montfort berkata:
“Kita harus menemukan jalan yang mudah untuk memperoleh rahmat Allah yang diperlukan untuk menjadi kudus. Jalan itulah yang mau saya ajarkan kepada kamu. Sungguh, jika kamu ingin memperoleh rahmat ini dari Allah, maka lebih dahulu kamu harus menemukan Maria” (RM 6).
Setelah ia ia memaparkan argumentasi-argumentasi untuk mendukung tesis ini, yang umumnya berdasarkan tindakan Allah pada misteri Penjelmaan.
Kemudian ia menguraikan bagaimana persisnya peran yang Allah Tritunggal kehendaki dari Maria untuk ia mainkan dalam karya Pengudusan kini hingga akhir zaman: membagikan rahmat Allah!
“Allah Bapa…..mempunyai sebuah khazanah, sebuah gudang yang berisi penuh, di mana Ia menyimpan segala sesuatu yang indah, yang gemerlapan, yang langka dan berharga, ya, malahan Putra-Nya sendiri. Khazanah yang luar biasa besar itu adalah Maria. Orang-orang Kudus menyebutnya khazanah Tuhan. Dari kepenuhannya semua orang mene¬rima bagiannya secara melimpah. Allah Putra telah menyampaikan kepada Bunda-Nya segala sesuatu yang diperoleh-Nya melalui kehidupan dan kematian, yakni pahala-pahala…yang tak berhingga dan keutamaan-keutamaan-Nya yang mengagumkan. Segala sesuatu yang telah dihadiahkan Bapa kepada Yesus sebagai milik yang tak dapat dialihtangankan, diserahkan-Nya kepada Bunda-Nya. Melalui Maria Allah Putra mengenakan pahala-pahala kepada anggota-anggota-Nya, memberi mereka bagian dari keutamaan-keutamaan dan membagi rahmat-Nya. Maria adalah terusan yang gaib, saluran layang air, yang melaluinya Allah mengalirkan kerahiman-Nya dengan lembut dan melimpah. Allah Roh Kudus telah memberi kepada Maria, mempelai-Nya yang setia, anugerah-anugerah yang tak terkatakan. Dia memilih Maria menjadi pembagi segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Oleh karena itu Maria membagi semua anugerah dan rahmat itu kepada siapa dia mau, sebanyak dia mau, seperti dia mau dan apabila dia mau. Jadi tidak ada satu pun anugerah surgawi yang diberikan kepada manusia, yang tidak melalui tangan Bunda yang murni. Memang demikianlah kehendak Allah…. Demikianlah pikiran Gereja dan para Bapa Gereja” (BS 23-25).
Pendapat Montfort tentang peran Maria dalam membagikan rahmat Allah ini sungguh sejalan dengan pandangan Konsili Vatikan II, yang pada artikel 62 Lumen Gentium menegaskan:
“Ada pun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankan di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke sorga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam Gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara” (LG 62).
Devosi kepada Maria merupakan jalan rahmat untuk bertumbuh dalam kekudusan, di mana kita akan mengalami perubahan rupa dalam Kristus, sehingga kerajaanNya datang dalam diri kita dan melalui diri kita dalam dunia yang lebih luas. Legio Maria berada dalam jalur pemikiran yang sama, bahwa Maria adalah jalan rahmat untuk kekudusan, tatkala menyatakan:
“Legio menaruh kepercayaan tak terbatas kepada Maria karena menyadari bahwa oleh ketentuan Allah kekuasaan Maria menjadi tak terbatas. Segala sesuatu yang dapat diberikan Allah kepada Maria, telah Ia berikan. Segala sesuatu yang Maria mampu menerima, telah ia terima dalam kelimpahan. Demi kita Allah menjadikan Maria sarana rahmat yang istimewa. Jika kita berkarya dalam persatuan dengan Maria, kita mendekati Allah dengan lebih berhasil, dan oleh karena itu lebih mudah memperoleh rahmat. Kita sungguh menempatkan diri dalam arus pasang rahmat, karena Maria adalah pengantin Roh Kudus: dialah saluran setiap rahmat yang diperoleh Kristus. Kita tidak akan menerima apapun tanpa campur tangan Maria yang jelas. Ia tidak puas dengan hanya menyalurkan semuanya: ia memperoleh semuanya untuk kita” (BP 20-21).
Maka kalau Maria dalam Injil Yohanes telah diterima dalam rumah (Yoh 19:25-27), sesungguhnya dia diterima untuk bekerja, yaitu pekerjaan yang Allah kehendaki untuk ia lakukan yaitu membagikan rahmat Allah kepada umat beriman dan untuk melakukan training terhadap orang-orang yang percaya kepada Puteranya, tentu dalam hubungannya yang konstan dengan Tritunggal Mahakudus. Maria menjadi instruktur “training” atau “physiotherapy”. Dan itu dilakukannya sebagai partisipasi dalam peran primordial Roh Kudus dan selalu dalam kerjasama denganNya. Training dilakukan sebab Kepala yang telah dikandung dan dilahirkan dari rahimnya secara biologis serta dibentuk olehnya dalam kuasa Roh Kudus telah menginjak kepala ular, telah menang atas dosa-maut-setan yang dilambangkan oleh ular itu. Kini, anggota Tubuh Mistik – orang-orang yang percaya kepada Puteranya – , juga dikandung dan dilahirkan dari rahim rohaninya, serta dibentuk olehnya – selalu dalam kuasa Roh Kudus – untuk menjadi serupa dengan Puteranya yang menang atas dosa-setan dalam hidup sehari-hari. Roh Kudus melahirkan anak-anak bagi Allah, karena beriman kepada PuteraNya, di di medan karya, bersama Maria, Anak itu dan anak-anak itu semuanya menjadi pejuang, dan bersama-sama menjadi suatu laskar yang gagah berani, rapih teratur, siap bertempur menaklukan musuh-musuh.
Materi training tentu saja hal-hal yang mendasar: kebajikan-kebajikan Yesus, sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Goal dari training ini adalah agar umat beriman memiliki skill yang diperlukan untuk menaklukan setan dan kuasanya, dalam diri sendiri dan dalam masyarakat! Agar dapat di-training dengan hasil yang membanggakan, umat beriman harus mempercayakan seluruh diri kepada bimbingan bunda terberkati ini (bdk. BS 144, 197, 216, 266). Jika demikian halnya, seorang Legioner akan berhasil, seperti dirumuskan dengan sangat baik oleh Santo Bernardus ”Kalau Maria mendukung engkau, engkau tidak akan jatuh; kalau dia melindungi engkau, engkau tidak perlu takut apapun; kalau dia membimbing engkau, engkau tidak akan letih; dan kalau dia menyukaimu, engkau akan tiba di pelabuhan yang aman” (BS 174, bdk. BP 398).

Berdasarkan semuanya ini, kita dapat mengatakan bahwa dengan memilih hidup sebagai Legioner, seseorang sesungguhnya sedang berada di jalan penghayatan yang intensif atas Pembaptisan. Montfort mengatakan bahwa bakti yang sejati kepada Maria merupakan ungkapan pembaharuan yang sempurna dari janji-janji Pembaptisan (BS bab IV). Sebab pada saat Pembaptisan, seseorang telah mencanangkan pertempuran itu! Pencanangan pertempuran itu dibaharui lagi oleh Legioner pada saat Acies yang dilakukan pada tangal 25 Maret atau sekitar tanggal itu: untuk bersama Maria, yang kepadanya ia membaktikan seluruh diri, berperang melawan setan dan kekuatan kejahatannya. Pada hari raya Penjelmaan itu, umat beriman yang membaktikan diri kepada Maria dilahirkan kembali melalui pembaharuan janji Baptis mereka lewat tangan Maria. Pada saat Allah menjadi manusia, manusia menjadi ilahi. Keduanya terjadi melalui rahim tak bernoda Maria, karena karya Roh Kudus. Hanya bedanya adalah bahwa rahim yang pertama adalah sungguh-sungguh rahim biologis Maria, sebab Yesus adalah “buah tubuhnya”, sedangkan rahim yang kedua adalah pengaruh bundawi dan lingkungan rohani Maria. Montfort menegaskan:
“Untuk pergi dan mempersatukan diri dengan Kristus, kita harus menggunakan sarana yang sama yang dipergunakanNya sewaktu Ia datang kepada kita, untuk menjadi manusia dan untuk membagikan rahmat-rahmatNya kepada kita. Sarana itu adalah penyerahan sepenuhnya kepada Bunda Maria” (RM 23).
Maka, kalau kita hidup setiap hari bersama Maria dalam iman akan Kristus, karena karya Roh Kudus, maka kita dapat belajar banyak dari dia tentang bagaimana menjadi serupa dengan Puteranya, termasuk di dalamnya serupa dalam kemenanganNya dalam menaklukan setan. Walaupun dikatakan kita dapat belajar dari Maria dan dengan demikian Maria mengajar kita, sesungguhnya Roh Kudus sendirilah Profesornya (bdk. Yoh 14:26). Dia mengajarkan kepada kita tentang Kristus, Sang Kebijaksanaan, satu-satunya Pengetahuan dasariah yang harus dipelajari. Roh Kudus yang mengajarkanNya kepada kita. Maria adalah asisten, bukan asisten ahli, tapi asisten-yang-sangat-ahli, sebab dia selalu bersatu dengan Roh Kudus. Maka jika mendengarkan Maria dalam Roh Kudus, kita takkan tersesat, sebab ia diberi kredit khusus oleh Allah, karena lewat kerjasamanya dengan Roh Kudus, ia telah menghasilkan Anak didiknya yang unggul: Yesus Kristus sendiri! Jika kita bersatu dengan Maria, ia lantas akan mengantar kita ke persatuan penuh dengan Puteranya karena dan dengan Roh Kudus. St. Montfort menulis,
“Bersama dengan Roh Kudus, Maria telah menghasilkan mukjizat yang terbesar dari segala zaman: Seorang Allah-Manusia. Jadi Maria juga akan menghasilkan mukjizat-mukjizat terbesar pada waktu zaman akhir. Tugasnya yang paling pribadi adalah membentuk dan mendidik orang-orang kudus yang besar, yang akan hidup menjelang akhir dunia” (BS 35).
Maria ikut mendidik kita karena Maria sendiri adalah pribadi yang penuh dengan Roh Kudus sehingga Maria taat kepadaNya. Ketaatan itu merupakan semangat yang dianimasi oleh Roh Kudus sendiri. Kalau seseorang taat kepada didikan Maria, maka orang itupun menjadi putera-puteri sejati dari Allah. Seperti yang dinyatakan dengan amat baik oleh St. Louis-Marie de Montfort:
“Kita harus melakukan tindakan kita melalui Maria, artinya di dalam segala-galanya taat kepada Perawan teramat suci dan membiarkan diri kita dalam segala-galanya dibimbing oleh rohnya, yang adalah Roh Kudus Allah. Mereka yang dibimbing oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah (Rom 8:14). Mereka yang dibimbing oleh roh Maria adalah anak-anak Maria, yang juga adalah anak-anak Allah seperti telah kami tunjukkan. Ada banyak penghormat Perawan suci tetapi hanya mereka yang membiarkan diri dibimbing oleh rohnya boleh disebut penghormat-penghormat yang benar dan setia. Saya katakan bahwa roh Maria adalah Roh Allah karena dia tidak pernah membiarkan dirinya dibimbing oleh rohnya sendiri melainkan selalu oleh Roh Allah. Roh Allah itu sudah begitu menguasainya sehingga Dia menjadi roh Maria sendiri” (BS 258).
Jadi sebagai asisten-yang-sangat-ahli, Maria itu mendengar Guru batin: Roh Kudus, yang memimpin kita kepada seluruh Kebenaran (Yoh 16). Maka, efektivitas Maria sebagai guru itu sangat tergantung dari relasinya dengan Guru Batin itu. Dan sesungguhnya, Maria selalu relasional dengan Roh Kudus ini. Persatuan seorang kristiani dengan Maria, karena bimbingan Roh Kudus, akan mengantar kembali orang itu kepada persatuan yang semakin erat dengan Roh Kudus. St. Montfort berkata,
“Saya tidak percaya, bahwa seorang dapat memperoleh persatuan yang mesra dengan Tuhan dan kesetiaan yang sempurna kepada Roh Kudus, apabila ia tidak berhubungan secara sungguh-sungguh dengan Perawan tersuci dan bergantung sepenuhnya pada bantuan wanita ini” (BS 43).
Maria adalah rahasianya. Ah, “iika saja Maria dikenal….” , ia akan mengantar kita ke Kristus, dalam kerjasamanya dengan Roh Kudus. Penerimaan akan Maria dalam iman kristiani sungguh mengantar kita ke pengenalan yang makin mendalam tentang Yesus Kristus. Pater Faber mengatakan: “Yesus dibuat kabur karena Maria dibiarkan di garis belakang. Beribu-ribu jiwa binasa karena Maria dijauhkan dari mereka” (BP 25). Betapa pentingnya jalan marial dalam pertumbuhan kekudusan kita. Maria tidak hanya diterima secara implisit dalam iman kristiani, tapi eksplisit atau konkret dalam bakti yang sejati, yang cirinya kristosentris, tetap dan batiniah.
3. Sifat Hubungan Legioner dengan Maria untuk Penyaluran Rahmat Allah
Dari segala citra tentang Maria yang spiritualitas LM miliki, Kardinal Suenens yang dikutip oleh Agostino Favale, menyimpulkan adanya dua dimensi marial yang secara khas sangat erat melekat pada penghayatan devosi LM yaitu: kepengantaraan Maria dan persatuan dengan Maria . Tentu saja ini bukan dua peran Maria yang saling terpisah, melainkan berjalan dan efektif pada saat yang bersamaan. Agar apa yang secara sederhana disampaikan Kardinal Suenens menjadi lebih jelas, berikut ini akan diuraikan citra Maria dalam Legio Maria secara lebih lengkap dan terperinci.
Pertama, Marianya Legio adalah Maria yang tak bernoda. Dasar teologisnya diambil dari Kitab Kejadian, tentang permusuhan antara ular dengan Hawa, yang telah diuraikan di depan. Tapi kenapa Aciesnya, yang merupakan pembaharuan tahunan penyerahan diri kepada Maria, dan karenanya penting sekali untuk mempertahankan persatuan dengan Maria, bukan dilakukan pada 8 Desember, HariRaya Maria Tak Bernoda? Malah pada 25 Maret, Hari Raya Penjelmaan atau Hari Raya Maria Diberi Kabar Gembira? Apakah ada inkonsistensi teologis di sini? Tidak juga, malah tepat sekali, karena sesuai dengan ajaran Montfort, inilah realisasi Keturunan dan banyaknya keturunan yang akan melawan setan yang disimbolkan ular itu, yang lahir dari Maria yang tak bernoda, yang telah menginjak kepala ular itu. Anak Pertama yang dilahirkan adalah Sang Sabda. Ia menang atas ular walau kakiNya dipagut. Anak kedua, dan banyak, adalah seluruh umat beriman, yang pada hari Pembaptisan mencanangkan pertempuran melawan setan itu, yang pada 25 Maret ini datang untuk membaharui janji-janji Pembaptisannya dalam tangan Maria yang telah melahirkan Anak yang menang dalam pertempuran, untuk dikuatkan dalam pertempuran yang belum selesai sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Kedua, sikap dasar di hadapan Maria Tak Bernoda ini adalah meniru Maria. Itu berarti Maria menjadi model yang harus ditiru (BP 13), yang yang kebajikannya hendak para Legioner assimilasi, sehingga mereka melakukan semuanya dalam, untuk, dengan, dan melalui Maria (BP: serupa dengan Maria). Karena proses assimilasi semangat Maria itulah yang LM lakukan dalam doa, semangat Maria itu juga menjiwai LM dalam pelayanannya, dan semangat yang sama merupakan dasar untuk memupuk rasa cinta kepada Gereja yang mereka layani. Pembentukan diri dalam mengasimilasi semangat Maria ini ada di pusat komitmen setiap Legioner. Sebagaimana di katakan dalam BP bahwa Legio Maria mempunyai “tujuan pertama dan konstan – yaitu – membentuk diri agar serupa dengan Maria” (BP 11).
Roh Kuduslah yang akan membantu Legioner mengasimilasi semangat Maria: kerendahan hati, ketaatan, keelokan, doa, mati raga, kemurnian, kebijaksanaa, pengorbanan, iman. Tindakan mengasimilasi semangat Maria ini dijadikan Konsili sebagai kriteria dari sejati atau palsunya bakti seseorang kepada Maria. Lumen Gentium menegaskan:
“Bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan bersifat sementara, tidak pula dalam sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita untuk mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong kita untuk sebagai putera-puteranya mencintai Bunda kita dan meneladan keutamaan-keutamaannya” (BS 67).
Berkat asimilasi itu, semangat LM, dan dengan demikian semangat setiap dan semua Legioner, sungguh-sungguh “adalah semangat Maria sendiri” (BP hlm. 13, bab 3: Semangat Legio Maria). Sebab setiap anggotanya semakin berkembang“menjadi gambar Maria yang hidup” (BP 29, BS 217). Untuk itu, Montfort berdoa kepada Maria:
“Salam Maria puteri tercinta Bapa yang kekal…..Jikalau engkau masih melihat dalam diriku sesuatu yang belum menjadi kepunyaanmu, aku mohon ambillah itu pada saat ini juga dan jadilah penguasa mutlak atas segala yang ada padaku. Binasakanlah, cabutlah dan musnahkanlah segala yang tidak berkenan pada Allah dan tanamkanlah, buatlah bertumbuh dan olahlah di tempat itu segala yang berkenan kepadamu. Semoga terang imanmu mengusir kegelapan rohku. Semoga kerendahanmu yang mendalam mengganti kecongkakanku. Semoga kontemplasi luhurmu menghentikan khayalanku yang melayang-layang. Semoga karuniamu memandang Allah terus menerus, memenuhi aku dengan kerinduan akan kehadiranNya. Semoga nyala cinta hatimu melebarkan dan mengobarkan hatiku yang suam dan dingin. Semoga kebajikanmu menggantikan dosa dosaku. Semoga pahala pahalamu menjadi perhiasan dan perlengkapanku di hadapan Allah. Pendek kata, Ibuku yang tersayang dan tercinta, buatlah jika mungkin supaya aku hanya mempunyai rohmu saja untuk mengenal Yesus Kristus dan kehendak ilahiNya; supaya aku hanya mempunyai jiwamu untuk memuji dan memuliakan Tuhan; supaya aku hanya mempunyai hatimu untuk mencintai Allah seperti engkau, dengan cinta yang murni dan cinta yang bernyala-nyala” (BM 68).
Ketiga, ciri mendasar hubungan Legioner dengan Maria yang tak bernoda ini adalah persatuan dan ketergantungan dengannya. Ini merupakan dua sifat penting dari spiritualitas Pembaktian Diri. Yang lain-lain merupakan citra peran. Dalam persatuan dan ketergantungan yang merupakan satu kesatuan ini, kita menemukan dengan sangat baik karakter ajaran Montfort tentang praktik batiniah Pembaktian Diri sebagaimana terdapat dalam BS 257-262: persatuan hati yang tak terperikan dengan Maria, seluruh hidup, bukan hanya sesaat. Karena persatuan dan ketergantungan ini, rahmat Allah dapat Maria teruskan kepada kita untuk bertumbuh dalam kekudusan.
Persatuan dengan Maria. Kata persatuan ditemukan banyak sekali dalam BS dan BP (untuk menyebut beberapa: 24, 25 [kutipan dari Gratry], 27 beberapa kali, 28 beberapa kali).
Persatuan atau “ikatan antara jiwa kristiani dengan Bunda Maria” (BP 27) ini bukan hanya pada tingkat “emosional atau mekanis” (BP 27) melainkan “bersatu sehati sejiwa dengannya [Maria]” (BP 27) atau “menjadi sejiwa dengannya” (28) atau lebih lengkap lagi “bersatu dengan misinya dan memastikan kemenangannya” (BP 29). Persatuan memang membuahkan kemenangan. “Legio akan ditandai oleh persatuan yang mengagumkan [dengan Maria] dalam semangat, tujuan, dan karya. Persatuan ini begitu berharga di mata Allah sehingga Dia memperlengkapinya dengan kekuatan yang tak terkalahkan” (BP 24). Karena mencakup seluruh diri, seorang Legioner berada dalam koinsidensi yang tetap dengan Maria, sebab persatuan ini sampai pada tingkat “menghirup Maria seperti tubuh menghirup udara” (BP 28, BS 217), karena itu “kesadaran bahwa Maria selalu hadir dalam jiwa kita harus ditingkatkan menjadi penghayatan iman yang hidup” (BP 28).
Maria jadi jiwa seorang Legioner, karena “jiwa tanpa Maria tidak dapat mengangkat dirinya sendiri atau melaksanakan karya Allah” (BP 27). Persatuan seperti ini mengandaikan tingkat kepasrahan diri yang tinggi dari pihak Legioner. Itulah sebabnya Montfort misalnya dalam doanya menyapa Maria sebagai “hidupku”, “hatiku” dan “jiwaku”…:
“Salam Maria, Pemimpinku dan bundaku yang baik, Ratu hatiku, Hidupku, Manisku dan Harapanku pada Yesus, Hatiku dan Jiwaku. Aku ini seluruhnya kepunyaanmu, dan segala kepunyaanku adalah milikmu. Hai Perawan yang terberkati oleh semua makhluk yang murni, aku mohon kepadamu, agar pada hari ini jiwamu tinggal dalam aku untuk memuliakan Tuhan. Semoga semangatmu tinggal dalam aku, supaya dapat bergembira dalam Allah. Hai Perawan yang setia, letakkan dirimu bagaikan meterai kekasih pada hatiku, agar melalui engkau dan dalam engkau aku didapatkan tetap setia kepada Allahku” (Rahasia Maria, Penutup Doa “Mahkota Kecil”).
Untuk Legio Maria, ungkapan doa penyerahan diri yang menyatakan persatuan batiniah itu adalah doa Acies: “Aku adalah milikmu, ya Ratu, dan Bundaku, dan segala milikku adalah milikmu” (BP 28). Ungkapan “segala milikku adalah milikmu” menunjukkan adanya totalitas, tanpa kecuali… seluruh diri dan seluruh milik dibaktikan kepada Maria…. Gagasan ini tentu saja merupakan gema dari BS 144-150, di mana dilukiskan persatuan seorang beriman dengan Maria. Berikut ini terdapat kutipan yang indah sekali dari Thomas a Kempis yang melukiskan persatuan batiniah tak terbahasakan antara Legioner dengan Maria:
“Hiduplah dengan gembira bersama Maria, pikullah segala pencobaanmu bersama Maria, bekerjalah bersama Maria, berdoalah bersama Maria, beristirahatlah dan bersantailah bersama Maria. Carilah Yesus bersama Maria; gendonglah Yesus, dan bersama Yesus dan Maria benahilah tempat tinggalmu di Nasaret. Bersama Maria pergilah ke Yerusalem dan tinggallah dekat salib Yesus, kuburkanlah dirimu bersama Yesus. Bersama Yesus dan Maria bangkit kembali, bersama Yesus dan Maria naik ke surga, bersama Yesus dan Maria hidup dan mati.” (Thomas a Kempis: Sermon to Novices) (BP 29).

Kalau diibaratkan dengan tubuh, Hidup ilahi adalah darah segar! Ia berasal dari Roh Kudus. Baik kalau para Legioner sendiri menerima dulu darah itu, dan segera setelah ia lebih dihidupkan lagi dari sebelumnya, mereka bawa dengan penuh percaya diri dan kerendahan hati lewat seluruh hidupnya, kepada seluruh Gereja dan dunia, di mana kita hidup dan berkarya, yang keduanya selalu dalam keadaan merasul! Penyaluran darah segar kepada para Legioner itu terjadi melalui persatuan batiniah dengan Maria tersebut.
“Dalam persatuan yang erat dengan Maria…yang adalah penyalur Darah Ilahi, terletak Pengudusan dan sumber kekuatan luar biasa atas jiwa-jiwa orang lain. Mereka yang dengan kerasulan biasa-biasa saja tidak dapat terlepas dari belenggu dosa akan dibebaskan – setiap orang – bila Maria menjiwai kerasulan itu dengan permata dari Darah Mulia yang ada dalam karunia yang ada padanya” (BP 28).
Melalui kutipan di atas menjadi jelas juga bagi kita mengapa Legio berdevosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus. Sebab dari HatiNya mengalir darah segar untuk hidup dunia. Melalui para Legioner, Darah segar itu diteruskan bersama Maria kepada sesama dalam berbagai dimensi hidup mereka: “Dijiwai oleh kasih dan iman Maria ini, Legio sanggup melaksanakan tugas apa saja…” (BP 13). “Mereka maju dan berjuang bersama Maria, dengan keyakinan bahwa mereka akan berhasil dan mempertahankan persatuan mereka dengan Bunda Maria” (BP 10). Sungguh, Gereja dan dunia kita saat ini sedang kekurangan darah!
Ketergantungan dengan Maria. Yang tak terpisahkan dari persatuan adalah ketergantungan pada Maria BS dan BP (untuk menyebut beberapa misalnya hlm. 23, 28). Itulah sebabnya mengapa Pembaktian Diri kepada Maria yang diajarkan Montfort disebut perhambaan (atau BP menerjemahkannya sebagai “perbudakan”), tapi perhambaan kehendak bebas, karena cinta, sehingga sesungguhnya ia merupakan pemuliaan kebebasan.
Kita mau tergantung kepada Maria karena kita percaya bahwa dia akan memperhatikan kita untuk pertumbuhan kekudusan kita:
“Legio menaruh kepercayaan tak terbatas kepada Maria karena menyadari bahwa oleh ketentuan Allah kekuasaan Maria menjadi tak terbatas. Segala sesuatu yang dapat diberikan Allah kepada Maria, telah Ia berikan. Segala sesuatu yang Maria mampu menerima, telah ia terima dalam kelimpahan. Demi kita Allah menjadikan Maria sarana rahmat yang istimewa” (BP 20-21)
Lalu citra-citra yang lain dari Maria, walau tetap tak terpisahkan dari dua sifat di atas, merupakan peran yang Maria mainkan tatkala kita mau bersatu dan bergantung padanya. Semua peran ini pun merupakan satu-kesatuan, karena dijalankan oleh pribadi Maria yang sama. Misalnya citra sebagai pengantara rahmat (BP 20-21). Tema ini sudah diuraikan di depan. Lalu ada juga citra Maria sebagai ratu (BP 10) yang dan sebagai panglima perang (BP 21-22). Citra lain adalah Maria sebagai ibu. Perannya dilukiskan dengan baik sekali oleh BP sebagaimana tampak dalam kutipan berikut ini:
“Karena kita anak-anak Maria sejati, kita harus berkelakuan sesuai, sungguh-sungguh seperti anak kecil yang seutuhnya bergantung pada wanita ini. Kita harus mengharapkan dia untuk memberi kita makan, bimbingan, pengajaran, untuk menyembuhkan kita bila sakit, untuk menghibur kita bila sedih, untuk menasehati kita bila bimbang, untuk memanggil kita kembali bila tersesat. Bila kita sepenuhnya mempercayakan diri kepada Maria, kita dapat bertumbuh menyerupai saudara kita yang sulung, Yesus, dan ikut serta dalam perutusan-Nya untuk melawan dan mengalahkan dosa” (BP 23-24) .
C. Geliat Karya Kerasulan
Kalau Legioner sudah bersatu dengan Maria, karena karya Roh Kudus, maka yang terjadi adalah letupan karya misioner sampai ke ujung bumi, untuk memberikan kesaksian tentang Yesus yang bangkit dan sekarang hidup dalam kemuliaan Bapa dan bahwa Dia masih akan datang lagi. Dalam semangat karya penginjilan Pentakostal, Frank Duff berkata, “Allah tidak memiliki suara, tangan, dan kaki yang lain, selain yang milikmu, untuk menyatakan Kabar Gembira di seluruh dunia” .
Oleh karena Maria juga hadir di Ruang Atas, maka, spiritualitas pelayanan atau penginjilan LM itu lahir dari persatuannya dengan Maria. Maka, dengan karya penginjilan ini, LM berusaha untuk mengaktualisasikan semangat Pentakostal itu.
“Jika dengan perantaraan Maria Legioner berjalan untuk bertemu dengan Kristus, dengan perantaraan dia pula ia berjalan untuk berjumpa dengan sesama manusia. Sulit dipikirkan adanya persatuan dengan Maria yang tidak mengarah ke karya kerasulan” .
Keterlibatan dalam karya penginjilan itu memiliki asal-muasal pada martabat Pembaptisan yang telah diterima. Karena itu, ia merupakan bagian utuh perjalanan kekudusan kita. Dan hal itu dilaksanakan dengan bimbingan dan daya Roh Kudus, yang kita terima saat Pembaptisan dan diteguhkan lagi saat penerimaan Sakramen Krisma. Melalui partisipasi aktif pada karya penginjilan Gereja ini, LM menampilkan terus-menerus wajah Pentakostal Gereja yang masih terus berlangsung sampai kini dan terus hingga kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Jadi, Pentakosta bukanlah sebuah peristiwa masa lalu: ia pernah terjadi, dan setelah itu tak pernah lagi terjadi. Pentakosta itu sedang berlangsung dalam Gereja kini.
1. Menjadi Ragi – Senantiasa Bertugas
Tujuan kerasulan Gereja menurut Dekrit tentang kerasulan awam Konsili Vatikan II, Apostolicam Actuositatem (AA) 20, hlm. 12 adalah: “mewartakan Injil kepada sesama dan menguduskan mereka, serta untuk membina suara hati mereka secara kristiani sedemikian rupa, sehingga mereka mampu merasuki pelbagai jemaat serta berbagai lingkungan dengan semangat Injil”. Jadi gambarannya adalah menjadi ragi, sebab kata yang dipakai adalah “merasuki”. Itu berarti jangan pernah ada keputusan kita dituntun dan dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan setani, tapi kita yang kendalikan situasi dengan iman, atau seperti dikatakan Paus Yohanes Paulus II: “untuk berada di dunia dalam kemuliaan iman, harapan dan kasih” (YOH Paulus II, BP 2).
Karena itu, seorang yang menjadi Legioner bukan hanya menjadi Legioner saat datang rapat mingguan dan menjalan tugas sebagai Legioner – dan dengan demikian atas nama Legio –tapi selama seluruh hidupnya, ia adalah Legioner! Berdasarkan karakter dasariah panggilan dan perutusan khas kaum awam yang “hidup dalam dunia”, maka Legioner – yang awam – mereka akan menyebar dan meresap ke dalam segala bidang kehidupan manusia, bahkan dalam bidang di mana Gereja barangkali kesulitan untuk hadir (LG 33) Dan dalam seluruh hidup mereka adalah Legioner, dalam hidup sehari-hari: di mana saja, kapan saja, dalam keadaan apapun juga. Di kantor pemerintah, di partai politik, di RT/RW, di rumah, di pabrik, di toko, di jalan, di mall, saat ngantar anak ke sekolah, saat masak, saat siram bunga, di kampus…..saat sedang liburan, saat aktif kerja, saat pensiun, saat tidur, saat mandi, saat bergaul dengan anggota keluarga, saat berelasi dengan siapa saja: atasan-bawahan, orang yang sudang dikenal – orang asing…… saat berhasil, saat gagal, saat krisis, saat dihina, saat sehat, sakit, terkena penyakit, saat meninggal….. Singkatnya seluruh hidup dan sepanjang hidupnya, seorang Legioner adalah tetap dan selalu Legioner Maria!
Legio bukan soal doing tapi soal being! Legio itu bukan soal aturan tapi soal hidup kristiani itu sendiri. Legio menjalani gaya hidup yang khas, yang adalah seni hidup kristiani yang optimal, yang sadar! Beginilah caranya menghayati hidup berjaga-jaga seperti yang dituntut dari Kitab Suci (Mat 24:42; 25:13; 26:38,41; Mrk 13:33,3537; Luk 12:37; 1Tes 5; 1Kor 16:13; Why 16:15, dll.) dalam kita menjalani masa Gereja kini. Karena itu dikatakan bahwa “Legio senantiasa bertugas” (BP).
2. Kerasulan Bersama Maria dan Membawa Maria
Maria adalah model kerasulan. Hal ini juga ditekankan Penginjil Lukas. Sebab turunnya Roh Kudus dalam tulisannya (Injil dan Kis) terkait dengan “kelahiran” dan kesaksian Maria atasnya. Yang lahir pertama adalah Sang Sabda Kekal. Maria mewartakannya dengan melewati pegunungan Yudea sampai kepada Elisabet. Yang lahir kedua adalah Gereja dan Maria menjadi sumber yang kredibel untuk seluruh hidup Yesus, khususnya untuk hidup masa kanak-kanak Yesus (Luk 1-2). Karena itu Konsili Vatikan II lewat Dekrit tentang kerasulan awam, Apostolicam Actuositatem menegaskan bahwa Maria adalah model seorang yang merasul:
“Suri teladan yang sempurna bagi hidup rohani dan hidup merasul itu ialah Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul. Selama di dunia ia menjalani hidup kebanyakan orang, penuh kesibukan keluarga dan jerih payah, tetapi selalu mesra bersatu dengan Putera-Nya, dan dengan cara yang sangat istimewa ia bekerja sama dengan karya Sang Penyelamat …….. Hendaknya semua saja penuh khidmat berbakti kepadanya, dan menyerahkan hidup serta kerasulan mereka kepada perhatiannya yang penuh rasa keibuan. (AA 4, BP 13).
Maka Legioner berjuang bersama Maria…., dengan membawa Maria dalam hatinya, ia menjalankan karya kerasulan karena dorongan Roh Kudus. Jadi, kekhasan Legio dalam kerasulam adalah kesatuan dengan Maria. Tentu saja dalam seluruh hidup: termasuk di sini bukan hanya dalam hidup doa tapi juga dalam kerasulan. Dengan memiliki dalam hati jiwa Maria dan membiarkan hatinya dijiwai Maria, sehingga ia membawa semangat dan keprihatinan Maria dalam kerasulan karena “Legio adalah instrumen dan perwujudan karya Maria” (BP 29).
Karena itu, karakter pelayanan LM itu sangat marial (Bdk. Bab 4: Pelayanan Legio Maria). Apapun karya kerasulannya atau tugasnya, semangatnya sama. Mereka lakukan itu bersama Maria: Maria ada dalam pikiran, hati, mulut dan tangan mereka. Maria berjalan bersama mereka. Maka mereka membawa kegembiraan, kasih, dan persembahan diri Maria dalam pelayanan. Pelayanan itu mereka lakukan secara maksimal dan terus-menerus. Dengan semua ini, para Legioner lantas menjadi saksi hidup Injil di tempat mereka hidup berkarya, menjadi terang dan garam dunia. Para Legioner berusaha menghidupi Injil, dan mau menulisnya setiap hari bersama Maria, dalam terang Roh Kudus. Mereka akan menjelajahi dunia…menyelamatkan sesama dengan membawa Maria dalam hati.
Yang diwartakan bersama Maria, dalam persatuan dengan Maria, karena dorongan Roh Kudus dan karena dikuatkan olehNya adalah Kristus (LG 66).
Namun, pengenalan akan Kristus yang semakin mendalam akan mengantar ke pengenalan yang semakin sempurna juga akan Maria dalam rencana keselamatan. Seperti yang dinyatakan oleh Pater Faber: “Devosi kepada Maria dangkal, tapis dan miskin, tanpa ada iman yang terkandung di dalamnya. Ini karena Yesus tidak dicintai….” (BP 25). Jadi, kalau Yesus dicintai karena karya Roh Kuduslah maka orang yang mencintai Yesus itu juga akan berdevosi mesra kepada Maria. Pernyataan Faber itu merupakan gema dari kata-kata Montfort sendiri yang menegaskan: “Jika kamu ingin mengenal Maria, Bunda; kenalilah Yesus Puteranya, sebab Maria merupakan Bunda Allah” (BS 12, bdk 49).
Maka untuk memperjelas identitas diri dan karya Kristus, dalam Roh Kudus, seorang Legioner juga bercerita tentang Maria.
“Legio bertujuan membawa Maria ke dunia sebagai sarana yang ampuh untuk merebut dunia bagi Yesus. Sudah jelas bahwa seorang Legioner tanpa Maria dalam hatinya tidak dapat memenuhi amanatnya. Ia terpisah dari tujuan karya Legio. Ia bagaikan prajurit tak bersenjata, mata rantai yang putus, atau lebih buruk lagi sebagai tangan lumpuh – yang tersambung pada tubuh, dan ini benar – tetapi tidak berguna!” (BP 27).
Maria dibawa untuk “melaksanakan tugas keibuannya bagi jiwa-jiwa dan tugas abadinya untuk menghancurkan kepala ular” (BP 26). “Legio akan membawa Maria ke dunia, dan Maria akan menerangi dunia dan menyalakan semangat yang berkobar” (BP 29). BP menegaskan:
“Sekali lagi, hal ini mengingatkan kita akan Pentakosta, di mana Maria adalah sarana untuk mencurahkan Roh Kudus yang berlimpah yang dapat disebut Penguatan Suci Gereja. Dengan tanda-tanda yang dapat ditangkap indera, Tuhan menyalurkan Roh Kudus kepada Gereja dalam rupa lidah-lidah api yang akan memperbaharui muka bumi. “Berkat kuasa perantaraan Maria, Gereja yang baru lahir menerima curahan rahmat Roh Penebusan Ilahi secara berlimpah.” (MC 110). Tanpa perantaraan Maria, api tidak akan pernah menyala dalam hati umat manusia” (BP 162).
Tampak sekali Duff berada pada jalur yang sama dengan pandangan Montfort dan banyak Bapa Gereja yang menyatakan bahwa Roh Kudus dan Maria berada dalam arena pertempuran dan bekerjasama terus menerus. Karya Roh Kudus dan Maria ini tertuju kepada pembentukan orang beriman agar menjadi semakin serupa dengan Kristus. “Legio akan berusaha sepenuhnya – kata Paus Yohanes Paulus II – agar melalui kasih kepada BundaNya, orang lebih mengasihi Putera, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan dari setiap orang” (Yoh Paulus II, BP 3). Karena itu Legioner harus teguh bertekad untuk mencintai Maria dan membuat Maria dicintai oleh semakin banyak orang.
“Jika bakti kepada Maria mengerjakan keajaiban-keajaiban seperti itu, maka kita harus bertekad bulat untuk menggunakan sarana itu guna membawa Maria kepada dunia. Bagaimana hal ini dapat diusahakan dengan lebih efektif daripada lewat suatu organisasi kerasulan; terdiri dari kaum awam, maka dalam hal jumlah tidak terbatas; aktif, maka dapat menerobos ke mana saja; mencintai Maria dengan sekuat tenaga, dan yang berjanji untuk melibatkan hati semua orang lain dalam cinta kepada Maria; menggunakan segala kesempatan untuk mencapai tujuan ini” (BP 25-26).

3. Tugas Khusus-Mingguan
Ada aneka macam kemungkinan kegiatan Legio Maria (BP Bab 37), yaitu segala sesuatu yang menjadi kebutuhan paroki atau keuskupan, dan bagi siapa saja yang membutuhkan pelayanan Gereja, karema memang tugas Legio adalah “membantu uskup setempat dan pastor paroki dalam bentuk apapun….yang dirasa pantas oleh pejabat Gereja bagi para Legioner dan berguna bagi kesejahteraan Gereja” (BP 12). Dalam bahasa khas Legio, pelaksanaan tugas itu merupakan sebuah pertempuran: “laskar siap bertempur untuk berjuang mati-matian demi kesejahteraan jiwa setiap insan” (BP 29)

Ada dua strategi khas yang dipakai LM dalam melayani atau melakukan karya penginjilan. Pertama, adalah pendekatan langsung dan pribadi, pribadi ke pribadi, melalui mulut dan kata-kata “Rahasia keberhasilan dalam membina Perserikatan dengan orang lain tergantung dari pembentukan kontak pribadi, ialah kontak berdasarkan kasih dan simpati. Kasih ini harus lebih dari apa yang dapat dilihat” (BP 15). Misalnya saat kunjungan rumah yang merupakan “ciri khas Legio. Melalui kunjungan rumah, dapat diadakan kontak pribadi dengan banyak orang” (BP 255) dalam kerendahan hati dan kesederhanaan, baik kepada yang Katolik maupun yang non-Katolik dan non-Kristen, untuk meneguhkan, mendengar, menyatakan simpati, pengertian, dukungan, arahan, dll. Tentu saja di sana ada pengorbanan. Tapi “dipikul dengan manis dan memberikan kegembiraan”, karena semuanya dijalani bersama Maria. Sebab kata St. Montfort:
“Bunda dan Ratu yang baik itu mendekatkan diri kepada para pelayannya yang setia. Dia akan menerangi mereka di saat-saat yang gelap, memberi kejernihan dalam kebimbangan, menyemangati dalam ketakutan, mendukung dalam perjuangan dan kesulitan. Dengan demikian jalan sang perawan untuk menemukan Yesus Kristus ini, dalam kenyataannya adalah mawar dan madu dibandingkan dengan jalan-jalan lain” (BS 152).

Kedua, ia hadir dengan tenang, penuh perhatian dan pengertian. Legio “mempraktekkan kepahlawanan sejati dengan tenang” (BP 15). Tapi ketenangan yang penuh “semangat yang gagah berani” (BP 15). Gaya kehadiran Legio Maria itu “tidak gaduh dan heboh tapi tersembunyi, secara pastoral sangat berdayaguna” . Kardinal Suenens berkata, bahwa “Inisiatif-inisiatif besar tidak lahir di arena-arena publik. Allah menjelmakan mereka di tempat-tempat tersembunyi, dalam keheningan dan kegelapan. Dan orang-orang yang rendah hati adalah mereka yang pertama yang akan mengakuinya. Inilah tanda karya Roh Kudus”.

4. Kriteria Keberhasilan Pelaksanaan Tugas

Kriteria keberhasilan bukan bahwa tugas itu berhasil dilaksanakan dengan hasil yang sesuai dengan “kriteria duniawi” tapi apakah Legioner melaksanakannya dengan kesabaran (BP 15), pengorbanan (BP 16), kesediaan (BP 16). Jadi keberhasilannya bukan terutama dengan melihat akibatnya pada orang yang dilayani, tapi juga dan terutama untuk dan dalam diri Legioner sendiri. Apakah seorang Legioner mendapat pelajaran atau hikmah dari proses pelayanan itu? Jadi, dengan membantu orang lain, diri Legioner itu sendiri mendapatkan hikmahnya. Maka, walaupun ada tugas yang tidak berhasil dilaksanakan karena satu dan lain alasan yang wajar, namun itu tidak berarti gagal. Asal seorang Legioner itu jujur telah berusaha. Tapi kebalikannya, kalau tugas itu jadi dilaksanakan, dan setelah itu kita dengan bangga – untuk tidak menyebut sombong – melaporkannya dalam rapat atau menceritakannya kepada orang lain, itu namanya gagal: “dia sudah mendapat upahnya!”. Bukan soal target, efisiensi, efektivitas, tapi soal motivasi: apakah ada kesediaan dan ketekunan seperti Maria, apakah dijalankan bersama Maria, dll. Pelaksanaan tugas itu sudah berhasil atau gagal di mata Allah sejak dalam motivasi pelaksanaanya. Motivasi itu ada dalam hati, dan Allah menilai hati manusia. Karena itu, “Legio sangat memperhatikan kemantapan motivasi dalam berkarya dan baru kemudian program kerja” (BP 17). Seperti ditegaskan juga dengan bahasa yang lebih terperinci oleh BP:
“Tanpa kesediaan ini, pelayanan kita tidak mempunyai arti. Legioner yang menetapkan batas: “Saya akan berkorban sampai sejauh ini dan tidak lebih jauh,” akan mencapai hasil yang tak berarti, meskipun telah berusaha sangat keras. Sebaliknya, jika kesediaan itu ada, meskipun tidak pernah perlu dikerahkan atau hanya dalam skala kecil, ia akan menghasilkan hal-hal yang besar” (BP 16).

Namun, kriteria keberhasilan yang sifatnya batiniah ini tidak boleh dijadikan legitimasi untuk kemalasan. Karena Allah memperhatikan batin manusia, menembus ke dalam hati. Allah memperhatikan apakah tugas itu Legioner jalankan bersama Maria atau tidak. Seorang Legioner karena itu juga tidak dapat mengklaim memiliki penghayatan kualitas batiniah yang tinggi untuk membenarkan di hadapan manusia usaha lahiriah yang minimal dalam pelaksanaan tugas. Ini namanya “’kesombongan yang berkedok kerendahan hati’, dan penyair memberinya istilah ‘dosa kesayangan setan’” (BP 135).

Harus ada “kesediaan dan penyerahan diri total” dalam pelaksanaan tugas (BP 16) dan “pelayanan tanpa batas atau tanpa pamrih” (BP 16). Motivasi yang sama ini harus dimiliki dalam mengatasi segala kebosanan, kejenuhan dalam pelaksanaan tugas yang barangkali hanya itu-itu saja; kurang bervariasi. Ketekunan dalam menjalankan tugas, walau diserang kebosanan, adalah buah dari kerendahan hati. Justeru di sana terletak kedisiplinan seorang prajurit Maria. Sungguh,“tanpa kerendahan hati, tidak ada tindakan Legioner yang efektif” (BP 30).

Dengan demikian Legioner akan bertumbuh dalam kekudusan: “Keberhasilan usaha yang kita tangani jauh lebih bergantung dari Tuhan dari pada dari kita sendiri. Allah merindukan pertobatan yang ingin kita usahakan, jauh lebih daripada kita. Kita ingin menjadi kudus. Dia merindukannya sejuta kali lebih kuat daripada kita” (BP 19). Maka kekudusan dan pelayanan (bdk. BP 19) bukanlah dua hal yang berbeda. Kekudusan itu bukan hanya terkait dengan doa. Tapi dalam seluruh hidup, termasuk tatkala menjalankan tugas, kita adalah orang kudus dan terus bertumbuh dalam kekudusan itu.

5. Wawancara Imajiner dengan Duff

Mengakhiri bagian ini, baiklah kalau di sini dikutip wawancara imaginer yang dilakukan Kardinal Suenens kepada Frank Duff yang meninggal tahun 1980, yang di dalamnya terkandung elemen-elemen misioner-organisasional Legio Maria. Kardinal Suenens itu meninggal pada 6 Mei 1996. Dalam wawancara itu, ia membayangkan bahwa seorang wartawan mengadakan wawancara jarak jauh dengan Frank Duff yang di surga, yang meninggal pada 7 November 1980. Inilah rekaman jawaban Frank Duff, yang didahului oleh catatan sang wartawan.
“Tak seorang pun dapat diwawancarai di surga, tapi andaikan, walau hanya sesaat, Frank Duff memberikan kita beberapa saran tentang penginjilan kini dan di masa yang akan datang, saya yakin, inilah yang akan dikatakannya kepada kita:
‘Perjuangan harus diteruskan, sampai semua orang kristen yakin bahwa mereka harus menjadi rasul oleh karena martabat Pembaptisan yang telah mereka terima; ini adalah tugas penting di mana kita harus terus-menerus saling mengingatkan satu sama lain, apa pun halangan yang mungkin kita hadapi.
Kita harus mewartakan Injil dalam kata dan perbuatan, di mana pun dan di segala waktu; itu artinya bahwa kita harus harus selalu dan sedang berada dalam keadaan merasul.
Kita harus berani untuk percaya bahwa hal yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin; kita harus berani untuk berjalan ke air yang lebih dalam.
Kita harus mendorong dan mengutamakan pendekatan langsung, melalui kontak pribadi dan kesaksian yang hidup.
Kaum awam harus mengambil bagian dan bertanggungjawab, tapi harus dalam kerjasama langsung dengan para imam yang memiliki peranan dasariah untuk menafsirkan ajaran Gereja dan untuk memberikan bimbingan moral.
Kristianitas tak dapat dihidupi dalam kesendirian, orang-orang kristen harus membentuk sel-sel hidup, yang mewajibkan diri untuk hadir dalam pertemuan rutin dan teratur, untuk berdoa bersama dan untuk saling mendukung dalam tugas penginjilan mereka.
Karya kerasulan lahir dari misteri penebusan, dan jiwa-jiwa telah dibeli dengan harga yang sangat tinggi’”.

D. Doa Legio: “menggemakan Kembali Kata-kata Santo Montfort”

Legio mempunyai dasar teologis yang solid. Membanggakan kalau masuk Legio. Tapi pertanyaan kini adalah bagaimana menghayati semua kebenaran teologis itu, sehingga Legioner sungguh-sungguh menjadi “batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr 2:5) (BP 24)? Sebab tentu tidak seorang pun ingin bahwa tatkala ia menjadi anggotanya – karena cara hidupnya yang kurang sepadan dengan spiritualitas Legio – Legio Maria berubah menjadi sebuah organisasi tanpa spiritualitas, padahal LM itu memiliki landasan teologis kebenaran iman yang solid; tidak seorang pun bahwa sebagai Legioner ia menjalankan praktik-praktik doa secara lahiriah saja tanpa penghayatan batiniah, padahal Legio Maria itu hakikatnya batiniah; tidak seorang Legioner pun ingin melakukan tugas atau kegiatan kerasulan sebagai kewajiban saja tanpa membawa Maria dalam hati, karena Legio Maria itu adalah Legio-nya Maria.

Maka, doa menjadi sentral sekali. Memang bukan terutama dengan doa dan pada waktu berdoa kita menunjukkan bahwa kita kudus. Karena kita seluruhnya kudus. Namun keseimbangan antara doa dan kerasulan sudah disebut dengan bangga oleh Kardinal Suenens di depan tadi sebagai salah satu kunci keberhasilan Legio.

1. Pentingnya doa bagi Legio

Penekanan pada doa ini menjadi penting sekali sebagai jawaban atas kecenderungan aktivisme yang umumnya ada pada manusia. Supaya Legioner jangan hanya bergerak di kedangkalan, luaran, teknis, memikirkan tugas-tugas melulu, doa menjadi penting sekali. Walaupun tentu pelayanan kasih jangan diabaikan ia merupakan jawaban yang sangat indah atas kultur utilitarian (menilai sesuatu berdasarkan gunanya “secara manusiawi”) yang merasuki jiwa begitu banyak orang zaman kini, juga merasuk dalam bidang hidup rohani. Misalnya orang hanya hidup sebagai parasit: mulai berdoa kepada Tuhan kalau memerlukan sesuatu. Atau hanya bersatu dalam persekutuan doa, tapi lupa untuk melayani dan memperhatikan sesama. Dalam Legio terdapat keseimbangan yang sehat, bukan ketimpangan. Dari inspirasi KS dan LG kita mengetahui bahwa doa dan pelayanan, yang semuanya dilakukan dengan kasih, merupakan ukuran terakhir untuk menilai kualitas kekudusan kita.

Bagian “devosi Legio, akar kerasulan Legio” (BP 23, dari Bab 5: “penampilan devosi Legio”) menggarisbawahi bahwa kerasulan Legio itu harus mengalir dari kepenuhan persatuan dengan Bunda Maria yang adalah Bait Tritunggal Mahakudus, walaupun adalah benar juga bahwa kerasulan itu dijalankan juga dalam persatuan dengan Maria dan kepadanya pula dibaktikan. Jadi, sesunggunya bukan hanya dalam doa Legioner bersatu dengan Maria, tapi persatuan yang berlangsung secara tetap.

Namun harus dengan jujur diakui bahwa kita perlu waktu secara khusus untuk menjalin hubungan batin secara khusus dengan Bunda Maria, di luar kesempatan kerasulan yang umumnya pada saat itu kita mengarahkan perhatian kepada orang lain yang kita layani, bukan kepada Bunda. Sehingga nanti tatkala kita melakukan kerasulan itu, secara spontan dan tanpa selalu disadari kita mengalami intervensi dan arahan Bunda Maria. Sedemikian pentingnya doa itu, sampai-sampai BP menegaskan:
“Setiap anggota Legio harus menghormati dan menjunjung tinggi Maria dengan melakukan meditasi yang serius dan mempraktekkannya dengan penuh semangat. Tugas ini harus dianggap sebagai bagian penting dalam tugas Legio, dan merupakan yang paling utama dari antara tugas lain manapun dalam keanggotaan Legio” (BP 26)

Jika kita diminta “melakukan meditasi yang serius dan mempraktekkannya dengan penuh semangat”, itu berarti kita perlu waktu khusus, entah pribadi entah bersama-sama.

Doa meditatif yang paling istimewa tentu adalah Rosario, di samping segala yang lainnya, yang sebagai tindakan devosional pribadi berada di bawah Misa Kudus dan Komuni yang menyertainya. Dalam BP dikatakan:
“Jiwa Legioner harus merindukan Misa Kudus, Komuni Kudus, Pujian Sakramen Kudus, Doa Rosario, Doa Jalan Salib , dan Devosi lainnya, seperti apa adanya, untuk bersatu dengan Maria, dan merenungkan misteri Penyelamatan melalui jiwa yang maha setia yang dihidupi oleh Yesus, Maria memegang peran yang tak dapat digantikan dalam diri mereka” (BP 28).

Mengapa Rosario? Karena menurut Montfort, “meditasi adalah jiwa dari Rosario” (BP 379, RR Mawar 21). Lebih dari itu, secara historis, Rosario menduduki tempat istimewa sejak awal pendirian dan tradisi panjang LM. Karena kelompok awal itu sadar akan betapa dahsyatnya energi spiritual yang dapat ditimba dari doa rosario. Inilah rekaman historis tentang tempat Doa Rosario dalam LM awal:
“Dengan diinspirasikan oleh ajaran yang dikembangkan oleh St. Louis-Marie Grignion de Montfort dalam Traktat tentang Devosi Sejati kepada Santa Perawan, dan dipengaruhi oleh Konferensi-konferensi St. Vinsensius de’ Paul, … para Legioner awal tertarik untuk menyeberluaskan doa Rosario dan untuk mengunjungi orang sakit di berbagai rumah sakit di Dublin”

Karena itu, BP menganjurkan berkali-kali supaya para Legioner bergabung dalam Perserikatan Rosario Suci (BP 111, 118, 224, 379) yang berada dalam jakur tradisi Domenikan dan Montfortan berkaitan dengan perjuangan untuk mengalahkan musuh, Santo Montfort mengharapkan agar para tentara Maria ini “memiliki rosario di tangan” (BS), yang dalam jalur yang sama Paus Pius IX berkata: “Aku dapat mengalahkan dunia jika aku memiliki pasukan untuk berdoa rosario” (BP 162).

Pada saat ini kita cuatkan ke permukaan isi doa rosario itu. Untuk “Tahun Rosario” – 2002-2003, Bapa Suci telah mengeluarkan surat Apostolik Rosarium Virgnis Mariae (RVM), yang disebutnya sebagai “pemahkotaan marial” (RVM 3) atas Novo Millennio Ineunte (NMI). Disebut demikian oleh karena dalam NMI Bapa Suci mengajak Gereja untuk memulai peziarahan di millennium baru dengan “berangkat lagi dari Kristus” (NMI; RVM 3) dalam perjalanan pertobatan terus-menerus. Nah, RVM ini berbicara secara khusus tentang doa rosario, yang tak lain adalah jalan kontemplasi dari misteri-misteri hidup Kristus dengan tatapan marial seorang murid. Tujuan perjalanan ini adalah perkembangan dalam keserupaan dengan Sang Guru yang tiada lain merupakan proses semakin bertumbuh dalam kekudusan. Dan seluruh Gereja sedang dalam perjalanan untuk menghayati dengan sungguh-sungguh martabat kekudusan yang telah diterimanya saat Pembaptisan (LG 40). Dalam perjalanan itu, Bapa Suci, seturut teladan banyak saksi kudus , mengedepankan rosario sebagai “sebuah jalan sejati Pengudusan” (RVM 8). Inilah dua elemen dasariah Rosario.

a. Rosario: Hati kristologis, Pusatnya adalah Kristus

Ini hal yang fondamental, bahwa nukleusnya doa rosario itu adalah Kristus. Orang sering terkecoh oleh spontanitas untuk segera mengaitkan rosario dengan Maria. Walaupun hal ini juga ada benarnya, namun harus selalu diingat bahwa pusat rosario adalah Kristus sendiri (RVM 1). Dikatakan demikian tentu bukan oleh karena sekadar melihat adanya salib di ujung setiap rosario, tapi terutama oleh karena misteri yang direnungkan dalam doa rosario adalah misteri-misteri hidup Kristus.

Sentralitas Kristus ditekankan secara berkali-kali dan dengan berbagai ungkapan dalam Surat Apostolik RVM, seperti “memeditasikan Kristus” (RVM 13), “mengkontemplasi terus-menerus wajah Kristus” (RVM 15), “kontemplasi atas misteri kristiani“ (RVM 5), “kontemplasi misteri dari Dia yang adalah perdamaian kita” (RVM 6), “kontemplasi atas Kristus” (RVM 10), “kontemplasi kristologis” (RVM 12), “meditasi dari misteri-misteri hidup Tuhan” (RVM 12) dan “kontemplasi wajah Kristus” (RVM 15)…. Jadi, misteri Kristus itulah yang dikontemplasikan. Kata misteri merujuk kepada seluruh peristiwa hidup Yesus: kata dan perbuatanNya. Masing-masing peristiwa itu menyingkapkan kepada kita wajah Misteri sesungguhnya [Kristus] “yang mengatasi segala pemahaman” (RVM 24; Ef 3, 19), yang kepadaNya setiap muridNya, berusaha, dengan bantuan Roh Kudus, untuk mengkonformasi diri.

Persisnya, Gereja telah memilih masing-masing lima misteri gembira, cahaya, sedih dan mulia, yang dengan cara tertentu menyingkapkan kepada kita wajah Kristus, yang padaNya “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Col 2, 9). Lewat kontemplasi, kita juga akan ditarik semakin dekat ke Kristus, karena misteri-misteri itu berbicara kepada kita, menyapa kita, mengajak kita, mentobatkan kita, mengubah kita. Melalui kontemplasi atas misteri-misteri itu, rosario membantu untuk mengubah hidup seseorang menjadi semakin erupa dengan Kristus.

Oleh karena seluruh misteri ini diambil dari Kitab Suci, maka doa rosario juga mendapat julukan sebagai “compendium“ alias “ringkasan” inti Kitab Suci (RVM 1, 18). Dua misteri mulia yang terakhir: Maria diangkat ke surga dan Maria dimahkotai di surga, memang tidak secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci, namun keduanya merupakan konsekuensi logis dari iman Gereja Purba yang diungkapkan dalam Kitab Suci bahwa Maria diikutsertakan secara khusus dalam “hidup triniter” (Luk 1:38; RVM 9).

b. Rosario: Fisionomi Marial

Dengan mendengar nama ‘doa rosario’, umumnya umat segera diingatkan akan doa ‘Salam Maria’ yang diulang-ulang itu. Doa ‘Salam Maria’ itu menampilkan diri sebagai bagian yang paling fisis dari Doa Rosario, karena ia diulang-ulangi untuk mengiringi peresapan misteri keselamatan yang dikontemplasikan. Dalam metode yang sekarang umumnya dipakai, ‘Salam Maria’ itu diulang sampai sepuluh kali. Tidak perlu dicari pendarasan teologis atas jumlah sepuluh itu, karena memang tak ada penjelasan. Namun umumnya ia datang dari pertimbangan praktis bahwa jumlah itu sudah cukup membantu proses asimilasi atas misteri keselamatan yang dikontemplasikan.

Namun, fisionomi marial (RVM 1, 33) ini tidak boleh dilihat hanya sekadar sebagai kulit, dekorasi atau bungkusan, dan yang karenanya dapat dikurangi atau malah diabaikan. Sebab ia juga merupakan sarana yang paling efektif untuk mengasimilasi misteri hidup dan keutamaan Maria: kerendahan hati yang mendalam, iman yang hidup, ketaatan buta, doa terus-menerus, matiraga yang menyeluruh, kelurnian ilahi, kasih yang berkobar-kobar, kesabaran yang heroik, kelembutan yang bagaikan malaikat, kebijaksanaan ilahi (BS 108) yang semuanya penting bagi para Legioner, sebagai buah dari pertempuran melawan diri sendiri. Dalam pendarasan yang terus diulang-ulang itu, tatapan kita akan misteri Kristus kemudian akan dimurnikan, diperjernih, diperdalam; oleh karena Maria “memberi” kita imannya sendiri sebagai mata untuk menatap; memberi kita hatinya untuk mengagumi, untuk menderita; memberi kita mulutnya untuk bersorak-sorai dan berdendang. Singkatnya, asimilasi semangat marial ini membantu kita untuk menatap Kristus dengan tatapan Maria. Sebab Maria tak berbuat lain selain dari “terus-menerus menawarkan kepada umat beriman misteri-misteri Putranya, dengan kerinduan bahwa semuanya itu kiranya dikontemplasikan, sehingga dapat memancarkan seluruh kekuatan keselamatannya” (RVM 11).

Proses asimilasi semangat Maria ini berjalan serentak dengan kontemplasi yang tetap terfokus pada misteri Kristus. Asimilasi semangat Maria itu berjalan di bawah sadar, namun berjalan seiring dengan asimilasi kristologis yang adalah pusat kontemplasi. Konsekuensi logis dari kontemplasi model ini adalah bahwa orang yang mendoakan rosario, akan bertumbuh menjadi seorang “kristiani” sejati justeru karena ia “marial”. Justeru pada saat ia ditarik makin dekat ke Kristus, ia semakin merasa bahwa Maria juga semakin dekat dan berjalan bersama dengannya. Pada saat Kristus semakin menemukan tampat yang leluasa dalam hatinya, dalam hidupnya; Maria juga dialami sebagai semakin mesra menuntun langkah-langkahnya. Tak ada perebutan tempat antara Yesus dan Maria dalam hidupnya. Yang ada hanyalah sukacita karena Maria membantu mempersatukannya semakin erat lagi dengan Kristus, Puteranya. “Karakter marial [dalam rosario] tidak hanya tidak bertentangan dengan karakter kristologis, tapi sebaliknya, ia (karakter marial) mengarisbawahi dan mengagungkan karakter kristologis itu” (RVM 33).

Jika ini yang terjadi, maka terpenuhilah ideal persatuan dan ketergantungan dengan Maria dalam spiritualitas Legio Maria, sebab dengan doa Rosario, “jiwa Legioner menjadi begitu penuh dengan gambaran dan pemikiran tentang Maria sehingga menjadi sejiwa dengannya” (BP 28). Karena itu Legio “menjadi tempat tinggal anggota yang berkualitas tinggi dan suci, atau titik tolak dari suatu perjuangan yang gagah berani” (BP 24). Jadi, sungguh dahsyat hasilnya.

Persoalannya, untuk anggota aktif, Rosario tidak wajib didaraskan setiap hari, tapi hanya sekali seminggu karena merupakan bagian dari acara rapat, itupun kalau hadir, dan kalau hadir tepat waktu tanpa merencanakan untuk datang terlambat dalam rangka untuk menghidari doa rosario yang ada pada awal rapat. Ini termasuk salah satu persoalan dalam sistem rohani Legio. Anggota aktif, yang berada di garis depan pertempuran, tidak diwajibkan berdoa rosario setiap hari. Sebab yang sekali seminggu itu amat sangat minimal. Nanti mereka mati konyol digebuk ramai-ramai oleh musuh, karena maju ke medan pertempuran tanpa membawa senjata, yaitu misteri-misteri hidup Yesus dan Maria dalam hati.

Namun “kelonggaran” yang dimungkinkan oleh sistem Legio Maria – yang biasanya dikatakan ketat itu – menantang kebebasan dan cinta para Legioner aktif untuk melakukannya secara pribadi atau bersama-sama. Sebab sistem Legio berharap sangat banyak agar hal ini dilakukan sungguh-sungguh oleh setiap Legioner, termasuk dan bahkan terutama yang aktif:
“Salah satu kewajiban Legio yang hendaknya paling digemari ialah menyatakan bakti yang tulus ikhlas kepada Bunda Allah. Hal ini hanya dapat dicapai melalui para anggotanya, sehingga setiap anggota diminta untuk ikut mengambil bagian di dalamnya dengan merenungkannya secara serius dan mempraktikkannya dengan tekun” (BP 23).

Dengan berdoa, para Legioner sesungguhnya sudah menjalankan tugas misioner, sebab dalam berdoa, para Legioner bukan hanya berdoa untuk diri sendiri, bukan juga hanya untuk semua Legioner tapi bernilai misioner universal seluruh Gereja. Doa sudah merupakan tindakan misioner.

2. Doa-doa Legio

BP sudah menegaskan bahwa akar kerasulan Legio adalah kehidupan devosionalnya (bdk. Hlm. 23), dan “penampilan devosi Legio tercermin dalam doa-doa” (BP 18) atau ciri-ciri bakti Legio tercermin dalam doa-doanya. Maka, doa merupakan sumber semangat pelayanan Legio. Dalam doa-doa itulah tercermin spiritualitas Legio yang sesungguhnya, walaupun di atas tadi sudah disebut secara khusus tentang rosario. Berikut ini kami deretkan saja aneka doa Legio.

a. Doa-doa yang terdapat dalam tessera (lih. Lampiran), terdiri atas:
-. Doa Pembuka: seruan dan doa kepada Roh Kudus dan seruan pembuka lainnya
-. Lima puluh butir rosario dengan seruan tambahannya yaitu Salve Regina (Salam, ya Ratu)
-. Doa penutup Rosario dan seruan kepada para pelindung Legio kelompok I
-. Catena Legionis alias Magnificat + doa penutupnya
-. Doa Penutup: Sub Tuum Praesidium (di bawah perlindunganmu), seruan kepada para pelindung Legio kelompok II, doa mohon iman dan doa bagi arwah para Legioner
Keterangan penggunaan:
-. Anggota aktif mendoakan seluruh doa ini pada kesempatan rapat mingguan. Tapi untuk hariannya, mereka hanya diwajibkan untuk mengucapkan Catena Legionis atau Magnificat: untuk menjadi orang yang rendah hati di hadapan Allah, seperti Maria.
-. Semua anggota auksilier, baik yang biasa maupun yang ajutorian, setiap hari mendoakan doa-doa yang ada dalam tessera itu. Tapi ada tambahan untuk ajutorian: misa (+ komuni) dan ofisi harian.

b. Selain itu, para anggota auksilier ini juga punya doa tambahan harian pribadi.
-. “Perawan tak bernoda, Pengantara segala rahmat, kepadamu kupersembahkan doa-doa, pekerjaan maupun penderitaanku agar dimanfaatkan menurut keinginanmu” (BP 104).
-. Di samping itu, ada juga seruan doa lain: “Maria, yang semula jadi tak bercela, pengantara segala rahmat. Doakanlah kami” (BP 112).

c. Janji Legioner (BP) juga merupakan doa. Berikut ini teksnya.

“Ya, Roh Maha Kudus, hamba, ..(nama calon),
Berhasrat pada hari ini untuk menjadi Legioner Maria. Namun karena insaf bahwa hamba tak pantas mengabdikan diri, maka hamba mohon kepadaMu turun atas diri hamba dan memenuhi diri hamba dengan diriMu, sehingga dapatlah kiranya perbuatan hamba yang tak berarti beroleh bantuanMu serta menjadi alat bagi tujuanMu Yang Mahabesar.

Akan tetapi hamba tahu bahwa Engkau Yang telah datang untuk memperbaharui dunia dalam Yesus Kristus, tak hendak melakukannya selain dengan perantaraan Maria, bahwa tanpa dia kami tak dapat mengenal ataupun mencintai Dikau, bahwa segala karunia, kebajikan serta rahmatMu dibagikan oleh Maria kepada siapa dia berkenan, bilamana dia berkenan dan menurut jumlah serta cara yang berkenan kepadanya. Dan hambapun sadar, bahwa rahasia kebaktian Legioner yang sempurna, Terletak pada persatuan yang sempurna dengan dia yang demikian sempurna dipersatukan dengan Dikau.

Maka, seraya memegang panji Legio, yang telah memperlihatkan kesemuanya itu kepada hamba, hamba berdiri di hadapanMu sebagai perajurit dan puteranya, dan hambapun menyatakan menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya. Dia adalah Bunda jiwa hamba. Hatinya dan hati hamba adalah satu, Dan dari hati yang satu itu ia mengulang kembali kata-katanya yang dahulu: “Aku ini hamba Tuhan”. Dan datanglah pula Engkau untuk bersama dengan dia melaksanakan perbuatan agung.

Biarlah kuasaMu menaungi hamba dan memasuki jiwa hamba dengan nyala api dan cintakasih, dan mempersatukannya dengan cintakasih dan hasrat Maria untuk menye-lamatkan dunia; sehingga dapatlah kiranya hamba menjadi murni dalam dia, yang diciptakan Semula jadi tak bercela olehMu; sehingga dapatlah kiranya pula Kristus, Tuhan hamba tumbuh dalam diri hamba dengan perantaraanMu; sehingga dapatlah kiranya hamba dengan dia, Bunda Kristus, membawaNya kepada dunia dan kepada jiwa-jiwa yang memerlukanNya sehingga dapatlah kiranya mereka serta hamba, setelah jaya dalam perang, Ikut berkuasa dengan dia untuk selama-lamanya dalam kemuliaan Tritunggal Mahakudus.

Maka dengan keyakinan bahwa Engkau menerima hamba – dan memperguna-kan hamba, dan pada hari ini mengubah kelemahan hamba menjadi kekuatan, hambapun mengambil tempat dalam barisan Legio, serta memberanikan diri untuk berjanji setia mengabdi. hamba sanggup dengan sepenuh hati tunduk pada disiplin Legio, yang memadukan hamba dengan teman-teman seperjuangan hamba; yang membentuk kami menjadi suatu balatentara; yang mengatur langkah kami tengah kami berbaris bersama Maria, untuk melaksanakan kehendakMu, Untuk menyelenggarakan mukjizat rahmatMu, yang akan memperbaharui muka bumi, serta memperkokoh kerajaanMu di atas segalanya, ya, Roh Mahakudus. Demi nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin” (BP 99-100).

d. Doa Acies yang artinya “balatentara yang siap sedia bertempur” (BP 191).
“Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu”. Doa ini diucapkan oleh semua anggota, aktif dan auksilier pada hari Acies. Teks Acies ini dikutip juga pada halaman-halaman lain dalam BP dengan rumusan yang agak bervariasi namun selalu ditujukan kepada Maria: “Aku adalah milikmu, ya Ratu, dan Bundaku, dan segala milikku adalah milikmu” (BP 28). “Kami adalah milikmu, ya Ratu, ya Bundaku, segala sesuatu yang kumiliki adalah milikmu juga” (BP 374). “Kami adalah milikmu sepenuhnya, ya Ratu dan Ibu. Dan seluruh milik kami adalah milikmu juga” (BP 387).

e. Doa yang menjelaskan dasar-dasar teologis Legio Maria ditemukan dalam BP 386, yang juga bisa dipakai saat Acies.

f. Doa patrisian (BP 297) yang sebelumnya didahului oleh doa Aku Percaya (BP 291).

3. “Doa-doa Legio Menggemakan Kembali Kata-kata Santo Montfort” (bdk. BP 153)

Selanjutnya BP mengatakan bahwa doa-doa Legio memiliki hubungan dengan Santo Montfort: “Doa-doa Legio menggemakan kembali kata-katanya” (BP 153). Maka berikut ini kita akan telusuri apa arti pernyataan tersebut, dengan langsung mengklasifikasi gradasi hubungan doa-doa tersebut dengan teks-teks Montfort.

a. Doa original Legio adalah doa patrisian. Isinya agak teknis.

b. Doa umum gerejawi yang dipakai adalah doa Aku Percaya untuk kelompok Patrisian. Ini berkaitan dengan kesetiaan kepada doktrin kristiani, untuk apa kelompok patrisian ini dibentuk.

c. Doa umum gerejawi berkaitan dengan spiritualitas Legio Maria, tapi tanpa hubungan khusus dengan spiritualitas Montfort, namun menggemakan dengan sangat baik spiritualitas ketergantungan dengan Bunda Maria adalah Salve Regina, Sub Tuum Praesidium, seruan kepada Hati Kudus Yesus, Hati tak Bernoda Bunda Maria dan orang-orang Kudus Pelindung Legio.

d. Lalu ada doa umum tapi landasan teologis mengapa dipilih diinspirasikan Montfort dalam kerangka spiritualitas Pembaktian Diri:

-. Seruan dan doa kepada Roh Kudus. Doa ini penting sekali untuk mengerti rahasia Maria. Pada nomor awal tulisan mungilnya, Rahasia Maria, Montfort berkata kepada para pembaca: “Sebelum membaca secara terus-menerus dengan rasa ingin tahu yang terburu-buru dan wajar, baiklah kamu sambil berlutut mengucapkan madah…..”Veni Creator” (Datanglah, ya Roh pencipta), untuk minta anugerah kepada Allah supaya mengerti dan mengenyam ‘rahasia’ ilahi ini” (RM 2). Tempatnya adalah pada bagian awal: awal buku Montfort dan awal seluruh doa Legio.
-. Doa Rosario: seluruh karya misi umat yang Montfort jalankan antara lain mempunyai tujuan utama yaitu untuk mempromosikan doa Rosario.
-. Doa Magnificat yang menjadi Catena Legionis: termasuk salah satu doa yang menjadi “praktik lahiriah” penghayatan Pembaktian Diri.
-. Seruan kepada malaikat dalam tessera (Malaikat: BP 156-158): termasuk perangkan penting dalam spiritualitas peperangan rohani yang Montfort ajarkan.

e. Doa yang dilatarbelakangi dan diinspirasikan oleh Montfort:

-. Janji Legio yang ditujukan kepada Roh Kudus, diinspirasikan oleh doa Montfort dalam RM yang juga ditujukan kepada Roh Kudus. Sebab jarang ada orang berdoa langsung kepada Roh Kudus. Teks Montfort adalah:
“Ya Roh Kudus, kurniakanlah aku segala rahmat itu. Tanamkanlah, siramilah dan peliharalah dalam jiwaku Maria tercinta, pohon kehidupan yang sejati itu. Maka ia akan bertumbuh, berbunga dan menghasilkan buah kehidupan berlimpah-limpah. Ya Roh Kudus, berikanlah aku devosi besar dan kerinduan mendalam kepada mempelai surgawiMu, kepasrahan kepada hati bundawinya dan kesediaan senantiasa mencari kemurahannya. Bentuklah melalui Maria, Yesus Kristus yang sejati, yang besar dan perkasa dalam diriku, sampai aku mencapai kepenuhan hidupNya yang sempurna. Amin” (RM 67).

-. Doa gubahan sendiri yang menjelaskan dasar-dasar teologis Legio Maria (BP 386). Doa ini diinspirasikan oleh doa Montfort yang ditujukan kepada Maria dalam RM, yang di dalamnya juga terkandung kebenaran-kebenaran teologis tentang Maria. Teks Rahasia Maria adalah:
“Salam Maria puteri tercinta Bapa yang kekal. Salam Maria Bunda Putera yang patut dikagumi. Salam Maria mempelai setia Roh Kudus. Salam Maria Ibuku yang terkasih, Ratuku yang patut dicintai dan Penguasaku yang perkasa. Salam kegiranganku, kemuliaanku, hatiku dan jiwaku. Engkau menjadi milikku seluruhnya karena kemurahan dan aku seluruhnya kepunyaanmu karena keadilan. Namun itu belum cukup nyata, maka kini aku memberikan diriku seluruhnya kembali kepadamu sebagai hamba untuk selama-lamanya tanpa menahan sesuatu bagi diriku atau bagi orang lain. Jikalau engkau masih melihat dalam diriku sesuatu yang belum menjadi kepunyaanmu, aku mohon ambillah itu pada saat ini juga dan jadilah penguasa mutlak atas segala yang ada padaku. Binasakanlah, cabutlah dan musnahkanlah segala yang tidak berkenan pada Allah dan tanamkanlah, buatlah bertumbuh dan olahlah di tempat itu segala yang berkenan kepadamu. Semoga terang imanmu mengusir kegelapan rohku. Semoga kerendahanmu yang mendalam mengganti kecongkakanku. Semoga kontemplasi luhurmu menghentikan khayalanku yang melayang-layang. Semoga karuniamu memandang Allah terus menerus, memenuhi aku dengan kerinduan akan kehadiranNya. Semoga nyala cinta hatimu melebarkan dan mengobarkan hatiku yang suam dan dingin. Semoga kebajikanmu menggantikan dosa-dosaku. Semoga pahala-pahalamu menjadi perhiasan dan perlengkapanku di hadapan Allah. Pendek kata, Ibuku yang tersayang dan tercinta, buatlah jika mungkin supaya aku hanya mempunyai rohmu saja untuk mengenal Yesus Kristus dan kehendak ilahiNya; supaya aku hanya mempunyai jiwamu untuk memuji dan memuliakan Tuhan; supaya aku hanya mempunyai hatimu untuk mencintai Allah seperti engkau, dengan cinta yang murni dan cinta yang bernyala-nyala. Aku tidak minta kepadamu penglihatan atau pewahyuan atau rasa enak atau kenikmatan, bahkan yang rohani pun tidak. Engkaulah yang melihat terang tanpa kegelapan; engkaulah yang merasakan sepenuhnya tanpa kepahitan; engkaulah yang jaya dengan mulia di sisi kanan Puteramu di surga tanpa lagi direndahkan; engkaulah yang memberi perintah mutlak kepada para malaikat, manusia dan setan tanpa perlawanan; dan akhirnya engkaulah yang mengatur menurut kehendakmu sendiri segala harta Allah tanpa dibatasi sedikitpun. Itulah, ya Bunda surgawi Maria, bagian yang terbaik yang telah diberikan Tuhan kepadamu dan yang tidak pernah akan diambil dari padamu; dan itulah yang sangat menggembirakan hatiku. Mengenai aku, aku di dunia ini tidak mengharapkan yang lain daripada apa yang telah engkau miliki, yaitu percaya dengan murni tanpa merasakan atau melihat apa-apa; menderita dengan gembira tanpa penghiburan makhluk manapun juga; mati bagi diriku sendiri terus-menerus tanpa mengendor; bekerja dengan keras sampai mati untukmu tanpa kepentingan diri sendiri, sebagai yang paling hina di antara para hambamu. Satu-satunya karunia yang kuminta demi belaskasihan semata-mata ialah, agar pada setiap hari dan saat hidupku aku boleh mengatakan tiga kali “Amin”: Menjawab “Amin” kepada segala-galanya yang telah engkau lakukan selama hidupmu di bumi ini; “Amin” kepada segala-galanya yang kini engkau lakukan di dalam surga; “Amin” kepada segala-galanya yang engkau lakukan di dalam jiwaku. Lalu tidak ada seorang pun selain dikau untuk sepenuh-penuhnya memuliakan Yesus dalam diriku, kini dan sepanjang masa. Amin” (RM 68-69).

f. Doa yang merupakan modifikasi dari kata-kata Montfort:

-. Doa penutup Tessera: doa mohon iman. Ia merupakan modifikasi dalam bentuk doa dari apa yang diuraikan Montfort tentang peran Maria dalan peziaraha iman kita: Teks dari Tessera adalah:
“Ya Tuhan berikanlah kepada kami, yang mengabdi di bawah panji Santa Maria, iman yang penuh kepadaMu dan kepercayaan kepadanya, untuk mengalahkan dunia. Berikanlah kepada kami iman yang hidup, penuh cinta kasih, sehingga kami dapat melaksanakan karya kami, dengan dorongan cinta sejati kepadaMu, dan selalu melihatMu dan melayaniMu dalam sesama kami. Suatu iman yang kokoh dan tak tergoyahkan bagaikan batu karang, di atas mana kami akan berdiri tenang dengan hati yang teguh. Di tengah-tengah beban salib, kerja keras dan kekecewaan hidup, suatu iman yang gagah berani yang akan menjiwai kami, untuk berkarya tanpa ragu-ragu. Melakukan hal-hal besar bagi kemuliaanMu dan keselamatan jiwa-jiwa, suatu iman yang akan menjadi Tonggak Api Legio, untuk membimbing kami dalam satu kesatuan, membangkitkan api cinta surgawi di mana-mana, untuk menerangi mereka yang berada dalam kegelapan dan dalam bayang-bayang kematian, untuk mengobarkan semangat mereka yang lemah. Untuk menghidupkan kembali mereka yang telah mati dalam dosa. Dan mengarahkan kaki kami sendiri ke jalan kedamaian. Agar supaya mereka yang berada dalam medan pertempuran kehidupan dapat berkumpul kembali, Tanpa kehilangan satu orangpun, dalam kerajaan kasih dan kemuliaan. Amin”.

Sementara teks dari Montfort adalah:
“Semakin banyak anda memperoleh kerelaan Ratu yang mulia dan Perawan yang setia ini, semakin banyak pula seluruh tindak-tandukmu akan ditandai oleh iman yang murni. Suatu iman yang murni, yang membuat anda tidak takut terbawa oleh perasaan dan hal-hal yang luar biasa. Suatu iman yang hidup, yang dijiwai oleh kasih, yang membuat anda mampu melaksanakan perbuatan-perbuatan anda semata-mata hanya karena kasih. Suatu iman yang kokoh dan tak tergoyahkan seperti wadas, yang membuat anda tetap teguh dan tegar di saat-saat cuaca buruk dan badai mengamuk. Suatu iman yang bertindak dan meyakinkan, yang sebagai kunci rahasia akan membuka jalan bagi anda kepada segala kebenaran Yesus Kristus, kepada tujuan terakhir manusia, ya kepada Hati Allah sendiri. Suatu iman yang berani, yang membuat anda tanpa ragu melakukan dan menyelesaikan hal-hal yang besar bagi Allah dan bagi keselamatan umat manusia. Akhirnya suatu iman yang bagi anda menjadi obor bernyala, hidup ilahi dan harta terpendam kebijaksanaan ilahi dan senjata yang sangat ampuh. Orang yang duduk di dalam kegelapan dan bayangan maut, akan anda terangi dengannya; orang-orang suam, yang membutuhkan emas kasih yang menyala, akan anda jadikan menyala. Kehidupan akan anda berikan kepada orang yang sudah mati karena dosa. Dengan kata-kata anda yang lembut dan kuasa akan anda hancurkan hati yang telah membatu. Dengan kata-kata yang lemah-lembut itu akan anda tebang pohon-pohon aras dari Libanon dan akhirnya akan anda adakan perlawanan terhadap setan dan segala musuh keselamatan kita” (BS 214).

-. Acies: sudah diuraikan di depan.

-. Doa anggota auksilier: “Perawan tak bernoda, Pengantara segala rahmat, kepadamu kupersembahkan doa-doa, pekerjaan maupun penderitaanku agar dimanfaatkan menurut keinginanmu” (BP 104). Ini merupakan gema kata-kata Montfort dalam Rahasia Maria: “Kita harus melakukan segala-galanya untuk Maria. Karena kita adalah hamba Ratu mulia ini kita hanya boleh berkarya untuk dia saja. Tujuan terdekat usaha kita ialah kepentingan dan kehormatan Maria, sementara tujuan terakhir ialah kemuliaan Allah. Lalu dalam segala perbuatan, kita harus menolak cinta diri, karena tanpa disadari, cinta diri hampir selalu menjadi tujuan kita. Karena itu seringkali kita harus mengulangi dari dalam lubuk hati kata-kata ini: “Ratuku yang tercinta, untukmu aku pergi kian ke mari, untukmu aku melakukan ini atau itu, untukmu aku menderita penyakit ini atau penghinaan itu” (RM 49).

Kesimpulan:

Setelah memperhatikan daftar doa dan gradasi keterkaitannya dengan ajaran rohani dan teks-teks Montfort ini, akhirnya sebagai kesimpulan kita dapat mengatakan beberapa hal ini. Pertama, tentang arti ungkapan “menggemakan kembali kata-kata Santo Montfort”. Sebagai sebuah gema, tidak ada dari rumus doa Legio yang rumusannya betul-betul atau persis sama dengan rumusan doa-doa Montfort. Khusus untuk doa-doa dalam klasifikasi d, e, f, sumber suaranya ada pada Montfort. Yang ada pada Legio Maria adalah gemanya. Volume suara gema tidak persis sama dengan aslinya bukan? Tapi orang tahu bahwa latar belakang penetapan doa-doa itu, teologi yang ada di balik doa-doa itu, sumber inspirasi penyusunan dan sumber kata-katanya ada pada Montfort. Lalu Duff menyusun rumusan doa sendiri, walaupun ada kata-katanya yang berasal dari Montfort. Walau rumus Acies itu secara sekilas sangat mirip, namun perbedaannya juga sangat mencolok: Montfort mengalamatkannya kepada Yesus dengan perantaraan Maria, Duff mengalamatkannya langsung kepada Maria.

Kedua, berkaitan tema-tema teologis yang mencuat dari doa-doa itu: – Iman: kesetiaan kepada ajaran iman Gereja, bukan hanya dalam akal budi tapi juga menjadi pengalaman iman (Aku Percaya, Doa patrisian, Doa Mohon Iman). – Roh Kudus adalah penerima janji Legioner untuk menjadi anggota pasukan mempelaiNya tersuci (Veni Creator Spiritus, Janji Legio). – Maria adalah Ratu, tak bernodan yang kepadanya para Legioner berlindung (Salve Regina dan Sub Tuum Praesidium, seruan kepada hati tak bernoda Bunda Maria, doa auksilier). – Kristosentrisme spiritualitas Legio (doa Rosario, seruan kepada Hati Kudus Yesus). – pujian kepada Allah karena karya-karyaNya yang agung dalam diri Maria dan berharap karya-karya yang sama diulangiNya lagi kini dalam masa Gereja melalui para Legioner (Catena Legionis – Magnificat). – pembaharuan janji baptis, pencanangan pertempuran (Acies). – semuanya terangkum dalam doa yang menjelaskan dasar-dasar teologis devosi kepada Maria yang ada di halaman belakang BP (BP 386). Betapa kayanya teologi doa Legio Maria itu. Sungguh memfasilitasi para Legioner untuk bertumbuh dalam iman, harap dan kasih dalam perjalanan pertumbuhan kekudusannya, karena karya Roh Kudus dan Bunda Maria!

V
ENERGI SPIRITUAL MENYEMBUR DARI KASIH

Sangat menarik bahwa judul bab terakhir BP (Bab 41) adalah “yang paling besar di antaranya adalah kasih [1Kor 13:13]” (BP 357). Betapa kasih ini menjadi kriteria yang menentukan keselamatan dalam seluruh iman kristiani. Karena kasih, Bapa mengutus PuteraNya, lahir dari Perawan Maria, karena karya Roh Kudus. Lalu Roh Kudus yang diutus Kristus dari Bapa terus-menerus menganimasi kasih seluruh Gereja bagi MempelaiNya, yang dengannya Gereja dapat melakukan petualangan rohani dalam perjalanan pertumbuhan kekudusannya. Hal ini berlaku juga bagi para Legioner yang ingin membawa dan memancarkan kasih Kristus ini kepada seluruh dunia.

A. Panggilan sebagai Legioner

Untuk pertumbuhan kekudusannya, Roh Kudus mengarahkan sebagian umat kristiani untuk bergabung dalam Legio Maria. Karena itu, menjadi Legioner merupakan sebuah panggilan. Karena melalui jalan-jalan yang kadang sulit dimengerti secara manusiawi, Roh Kudus menyingkapkan kapada umat kristiani tentang “rahasia Maria” dalam perjalanan kekudusan kristiani, sehingga mereka tertarik dan memutuskan untuk bergabung menjadi Legioner. Sesungguhnya dorongan Roh Kuduslah yang mengantar seseorang untuk mendaftar menjadi Legioner. Roh Kuduslah yang mengajar kita tentang peran Maria dalam misteri Kristus dan Gereja, mengantar kita ke pengenalan dan pengalaman akan peran Maria sebagai pengantara dan yang akan mengantar ke persatuan penuh dengannya (cfr. RM 67). Dalam iman akan Kristus karena karya Roh Kudus memang tidak ada lagi hal yang dapat diklaim sebagai murni inisiatif dan kreativitas manusia. Dalam konteks inilah dapat dimengerti apa yang ditulis Frank Duff sendiri:
“Legio adalah suatu laskar. Ratunya sudah ada di sana sebelum mereka bergabung dalam persatuan Legio. Ratu ini menunggu untuk menerima pendaftaran mereka yang sudah diketahui akan menghadap kepadanya. Mereka tidak memilih dia tapi dia yang memilih mereka” (BP 10).

B. Tantangan dalam Pelaksanaannya

Namun, kadang, sistem Legio yang pada hakikatnya dimaksudkan untuk memfasilitasi Legioner bertumbuh dalam kekudusan ini dialami sebagai bersifat “represif”, artinya dirasakan sebagai beban yang menyesakkan, dan karena itu tujuannya tidak tercapai. Misalnya karena saat membaca judul-judul daftar isi BP seorang Legioner menemukan kata-kata “Kewajiban” dan “tak berubah-ubah”, yang mengesankan bahwa LM itu strict, tertutup terhadap perubahan, keras, disiplin, etc. Seperti “Doa-doa tak dapat berubah”, “Sistim Legio tidak berubah-ubah”, “Kewajiban para Legioner terhadap Maria”, “Kewajiban pokok Legioner”, “Kewajiban para perwira presidium”, “Peraturan rapat presidium”, dll.

Bukanlah manusia zaman kita ini telah muak dengan kata “Kewajiban” dan “ketakberubah-ubahan”? Sekarang, orang lebih suka bicara tentang “hak” dan “kreativitas”. Segala yang berbau rutinitas itu terasa menyesakkan. Orang sekarang perlu yang gebyar, heeeboh, ngebor. Manusia zaman kita adalah manusia yang cepat bosan: pindah chanel tv, pindah sekolah, pindah kerja, pindah Gereja, pindah agama,…… Ingin coba segalanya. Ikut mode. Tampaknya, menjadi Legioner itu berarti memenjarakan diri. Membuat kita menjadi tampak kolot, ketinggalan zaman, jadi manusia antik….

Kita dapat membuat litani yang panjang atas hal-hal yang membosankan itu. Misalnya, kalau diminta membaca Buku Pegangan, itu adalah beban yang sangat berat. Buku-buku kuliah saja belum dibaca, bagi Legioner mahasiswa. Bagi yang lain, alasannya adalah belum biasa membaca belum jadi budaya. Membaca itu tindakan yang terlalu mewah. Yang biasa adalah bicara dan nonton. Belum lagi tugas ini dan itu masih menunggu. Saat BP dibuka, layout-nya sangat tidak mengundang gairah untuk menyentuhnya, apalagi untuk membacanya. Kadang ada yang merasa letih berjuang melawan rutinitas yang menjemukan. Jam dan tempat pertemuan yang kurang-lebih sama, acara serta tema pembicaraan yang kurang-lebih sama, laporan-laporan yang membosankan, tugas yang menjemukan, doa-doa yang monoton dan datar, alukusio yang membuat ngantuk, ecc.

Dewasa ini juga, ada tendensi untuk menghayati hidup keagamaan secara isolatif, individualistis…, dalam arti ada orang yang merasa sudah cukup kristiani dengan mengikuti misa mingguan. Selebihnya, ia hidup dan berjuang sendiri. Tapi akan berhubungan dengan komunitas beriman lagi (lewat Ketua Lingkungan, misalnya) jika ada keperluan untuk menerima sakramen perkawinan, mengurus sakramen pengurapan orang sakit, mengurus doa atau ibadat yang nerkaitan dengan kematian, etc. Orang yang masuk LM dan bergabung dalam presidium adalah orang yang kurang kuat fight sendiri, karena para Legioner itu beraninya kalau bersama-sama….

Dari pengalaman, kita mengetahui bahwa sering ada Legioner datang terlambat rapat antara lain untuk menghindari doa yang sangat penting dan pembentuk identitas kristosentris-marial spiritualitasnya: Doa Rosario.

Lebih dari itu, presidium-presidium tertentu mengalami kesulitan untuk regenerasi perwira, ada anggota yang tidak bersedia menjadi perwira, baik di tingkat presidium, kuria maupun senatus. Ada juga perwira kurang mau menghadiri rapat Kuria; atau yang merasa kurang didukung.

C. Ubi Caritas et Amor…. Di Mana ada Cinta dan Kasih….

Namun sesungguhnya, sebagai sesama anggota Tubuh Mistik, “tidaklah baik kalau manusia itu hidup sendirian“ (Kej 2:10). Ide tentang Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus yang dibutuhkan dan membutuhkan Kepala dan yang antar-anggota saling membutuhkan itu mendapat tekanan yang luar biasa dalam BP. Sebagai sama anggota Tubuh Mistik, kita perlu mempererat persatuan dan persekutuan (Kis 2, 42), untuk memuliakan dan mencari kehendak Tuhan secara bersama-sama, dan untuk mencari cara bagaimana mewartakanNya dengan lebih baik. Dalam komunitas umat beriman akan kita alami betapa indahnya saling mangasihi dan hidup dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan menguatkan dalam Roh (Ef 3, 14-17).

Miniatur dari Tubuh Mistik itu adalah presidium. Dan presidium menemukan wujudnya yang nyata dalam rapat mingguan, yang merupakan miniatur seluruh sistem organisasional dan spiritual Legio Maria. Sebab pada rapat itu dianimasi rasa cinta kepada Gereja lewat alukusio, bacaan rohani, laporan dan pembagian tugas, dll….yang semuanya dirangkai dengan doa-doa pujian kepada Roh Kudus, kepada Maria dan kepada para pelindung LM, dll. Karena itu, rapat mingguan merupakan puncak menuju ke mana mengarah segala tindakan, dan dari mana mengalir seluruh energi untuk hidup spiritual dan pelayanannya. Rapat mingguan merupakan linfa kehidupan LM. Jadi, ia ada di pusat, ia prinsip yang menjamin kelanggengannya.

Maka sepantasnyalah kalau presidium itu menjadi home bagi anggota di mana para Legioner mengalami kenyamanan, merasa krasan, betah, bahagia…. sehingga mereka bukan hanya dapat merealisasikan diri tapi juga mengalami bahwa Allah membantu mereka bertumbuh dalam kekudusan (transendensi diri).

Semua kekurangan di atas muncul kalau tidak ada kekebasan batin dari seseorang yang mencoba menjadi Legioner untuk mencintai Maria dengan sungguh-sungguh, dan untuk mengasimilasi kebajikannya. Sebab, kalau kita mencintai, kita itu takkan pernah bosan. Mungkin sesekali kita diserang krisis kebosanan, dan ini manusiawi sekali, tapi krisis itu tidak lantas menghentikan kita untuk tetap menjalankan kewajiban kita sebagai Legioner. Kalau kita tekun, krisis itu akan berlalu. Dan itu pasti! Ditegaskan oleh BP: “Ketekunan seumur hidup dalam karya kerasulan merupakan suatu kepahlawanan, dan hanya akan tercapai sebagai titik kulminasi dari rangkaian tindakan berani yang terus-menerus” (BP 16). Legioner disebut laskar, tentara….karena ketekunannya!: “hasil dari kehendak yang tak terkalahkan untuk menang” (BP 17). Inilah yang dimaksudkan BP dengan “intensitas dalam berkarya” (BP 17).

Kasih itu adalah anugerah (1Kor 13) sekaligus buah (Gal 5) Roh Kudus. Karena itu, Roh Kudus itu akan mengobarkan kasih kita kepada Kristus. Lalu Ia mengarahkan kita kepada sesama, terutama kepada mereka yang menderita, dengan siapa Kristus telah mengidentifikasi diri selama hidupNya. Kasih itu juga adalah kepada Maria, Ibu Tuhan, yang telah dipercayakanNya kepada kita dari salib. Kasih itu juga adalah kasih kepada Gereja seluruhnya. Kasih itu juga adalah kasih kepada Legio Mariae sendiri, yang telah kita pilih sebagai sarana untuk menjadi kudus. Kalau ada kasih, segalanya akan mudah, enteng, ringan! Apa yang berjudul: “Kewajiban” itu kemudian dilaksanakan dengan gembira! Dari kasih itu kemudian muncul kesetiaan. Kesetiaan untuk menjalankan “kewajiban” sehari-hari, dengan konsistensi, dalam suka maupun duka, dalam keadaan semangat maupun loyo: “berteguhlah!” (BP 17).

Ia seperti belajar musik. Aturan-aturan pertama-tama datang dari luar. Tapi setelah melalui pelatihan-pelatihan yang intensif, orang dapat memainkan sifoni yang indah tanpa harus setiap kali harus merujuk ke aturan, karena kini sudah terbatinkan, otomatis, terinternalisasi. Ia main sesuai aturan, tapi tanpa menyadari bahwa ia sedang dalam aturan. Roh Kuduslah yang membantu dalam proses ini. Dia sendirilah yang tanamkan aturan dalam hati kita, karena Dia adalah aturan kasih. Ketakberubah-ubahan merupakan isyarat kematangan pilihan, dan kesetiaan kepada bimbingan Roh Kudus. Ditegaskan BP dengan bahasa yang luar biaa menggetarkan:
“Oleh karena itu Legio sangat memperhatikan kemantapan motivasi dalam berkarya dan baru kemudian program kerja. Legio tidak menuntut dari anggota-anggotanya harta kekayaan atau pengaruh, tetapi iman yang tidak tergoyahkan; bukan perbuatan yang mengagumkan, tetapi hanya usaha yang tidak kenal lelah; bukan bakat istimewa tetapi cinta yang tak terpadamkan; bukan kekuatan raksasa tetapi disiplin yang kokoh. Pelayanan seorang Legioner mesti suatu pelayanan yang bertahan terus, yang dengan tekad dan tekun menolak untuk menyerah. Seorang Legioner adalah batu karang di saat kritis; tetapi bertekun sepanjang masa. Mengharapkan sukses; rendah hati dalam sukses; tetapi tidak tergantung kepada sukses; berjuang melawan kegagalan; dan tidak takut bila menemui kegagalan; berjuang terus, dan menanggulanginya; mengatasi kesulitan dan kebosanan, karena hal-hal itu memberi kesempatan untuk membuktikan iman dan keuletan dalam menghadapi serangan bertubi-tubi. Siap dan tegas bila dipanggil; siaga meskipun belum dibutuhkan; bahkan bila tidak ada konflik atau musuh yang kelihatan, bertahan berjaga-jaga bagi Allah tanpa lelah; siap menghadapi yang mustahil; namun rela juga menjalankan tugas yang sepele; tidak ada yang terlalu berat; tidak ada tugas yang terlalu remeh; untuk masing-masing karya ada perhatian yang sama teliti, kesabaran yang sama uletnya; keberanian yang sama tegar; setiap tugas ditandai dengan kegigihan yang sama teguh; selalu siap berkarya bagi keselamatan manusia; selalu siap menopang yang lemah melewati saat-saat lemah mereka; siap siaga untuk secara mendadak menemui mereka yang keras hati pada saat hati mereka lunak; tak henti-hentinya mencari-cari mereka yang tersesat; tidak memikirkan diri sendiri; selalu berdiri di samping salib orang lain, dan tetap berdiri di situ sampai semuanya selesai. Pelayanan Legio tidak pernah terhenti. Demikianlah memang pelayanan sebuah organisasi yang membaktikan dirinya pada Perawan yang Setia, dan yang menggunakan namanya, baik demi kemuliaan atau kecemaran namanya” (BP 17-18).

Jika kita setia, dalam arti tertentu hidup kita itu akan menjadi rutin. Rutinitas itu, bagi Legioner, bagaikan sebutir air yang terus menetes, dengan setia, terus-menerus, hingga dapat melubangi batu yang keras sekali pun. Energi spiritual yang dahsyat dapat menyembur dari rutinitas itu. Dengan demikian, menjadi anggota LM berarti memasukan diri dengan penuh kebebasan dalam sebuah proyek hidup sebagai orang kristen, untuk menjadi kudus. Dan itu dijalani dengan dan dalam Maria. Dalam perjalanan waktu kita lantas diubah menjadi “gambaran-gambaran hidup yang serupa dengan Maria untuk mengasihi dan memuliakan Yesus Kristus” (DS 217).

Jika demikian halnya, maka kita akan sungguh “menjadikan iman sebagai aspirasi hidup untuk mencapai kesucian pribadi” (Yoh Paulus II, BP 1). “Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi jalan mereka menuju keberhasilan kecuali iman yang berkurang” (BP 19). “Percaya berarti “menyerahkan diri” kepada kebenaran firman Allah yang hidup, mengetahui dan mengenal dengan rendah hati” bahwa sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya (Roma 11:33). Maria, yang oleh kehendak yang Maha Tinggi, dapat dikatakan, berada pada pusat “jalan-jalan yang tak terselami” dan “keputusan-keputusan yang tak terselidiki dari Allah”, menyerahkan dirinya dalam terang iman, menerima dengan hati yang siap dan sepenuhnya segala sesuatu yang telah diputuskan dalam rencana Allah (R.Mat 14?, BP 19). “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita,” (1Yohannes 5:4)

VI
PENUTUP

Berikut ini kepada kita diusulkan beberapa ide yang bukan mustahil dapat direalisasikan bersama sekalipun pada saat yang sama juga menunjukkan kompleksitas penghayatan hidup kristiani menurut semangat Legioner.

A. Legio ke Depan Ini

Sesungguhnya, walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit, BP sudah mengakui adanya “kekurangan” dalam sistem rohaninya, karena menyadari bahwa ia tidak dapat menuntut lebih banyak dari anggota-anggotanya, selain yang pokok-pokok saja. Untuk pendalaman yang memang sangat ia harapkan, ia serahkan kepada kebebasan anggota untuk mencari dan melaksanakannya. Itu tampak dari kenyataan bahwa BP mengusulkan agar anggotanya dipersilahkan masuk ke beberapa serikat kerasulan awam lainnya untuk semakin memperdalam spiritualitas marial-misioner Legio Maria. Dengan masuk ke kelompok-kelompok ini diharapkan seorang Legioner akan semakin menjadi Legioner yang lebih sejati lagi. Secara khusus di sini kami menyebut dua Perserikatan yang dari segi dasar spiritualitasnya amat sangat membantu para Legioner.

Pertama, “Serikat Agung Maria Ratu Semua Hati”. Di Indonesia, namanya adalah “Kerabat Santo Montfort” (KSM). KSM sudah hadir di Bandung, Jakarta, Flores, Kalimantan Barat, juga sudah hadir di Malang ini sejak 2005. Dengan masuk ke KSM, Legioner akan bersentuhan langsung dengan teks-teks Montfort yang mengajarkan tentang praktik “Pembaktian Diri kepada Kristus lewat tangan Maria”. BP sangat menganjurkan Legioner untuk bergabung ke KSM (BP 40, 111, Tambahan 5). Dan pada BP 26 dijelaskan bahwa bergabungnya Legioner ke KSM ini ditempatkan dalam konteks sarana yang memfasilitasi persatuan erat dengan Maria.
“Setiap anggota Legio harus menghormati dan menjunjung tinggi Maria dengan melakukan meditasi yang serius dan mempraktekkannya dengan penuh semangat. Tugas ini harus dianggap sebagai bagian penting dalam tugas Legio, dan merupakan yang paling utama dari antara tugas lain manapun dalam keanggotaan Legio. (Lihat Bab V, Penampilan Devosi Legio, dan Tambahan 5, Serikat Agung Maria Ratu Semua Hati / Confraternity of Mary Queen of All Hearts)”(BP 26)
Sehingga dengan bergabung ke KSM, para Legioner akan semakin dibantu atau dimotivasi untuk mengalami karunia persatuan dengan Maria ini, yang penting sekali untuk menjalankan hidup kristiani ini sebagai sebuah pertempuran atau peperangan. BP mengatakan.

Kedua, “Perserikatan Rosario Suci” (PRS). Sampai tiga kali (111, 118, 224, lalu penjelasannya ditemukan pada Tambahan 7, hlm. 379) BP menganjurkan Legioner bergabung ke PRS atas dasar bahwa Montfort – Pelindung Legio Maria – selama seluruh hidup kerasulannya, sebagai anggota Ordo Ketiga Dominikan (OP) telah sangat giat mempromosikan Perserikatan ini dan Doa Rosario sebagai sarana dan doa yang sangat efektif untuk bertumbuh dalam kekudusan.

Di samping kedua hal di atas, dapat juga diusulkan dua hal lain. Pertama, soal pembinaan anggota. Hendaknya dicari cara supaya sebelum anggota baru mengucapkan janji, hendaknya diadakan terlebih dahulu pembekalan atau semacam “retret awal”. Bukan hanya dilibatkan secara langsung dalam tugas selama masa percobaan tiga bulan (BP), dan setelah itu diajukan untuk mengucapkan janji Legio. Dalam kenyataan kita juga mengalami ada anggota yang enggan mengucapkan janji Legio, inginnya menjadi anggota percobaan terus. Itu tentu bukan ungkapan kerendahan hati, atau tidak mau mengambil resiko….tapi bisa jadi karena ia belum mengerti spiritualitas Legio, dan sesungguhnya ia mengharapkan adanya kepastian terlebih dahulu sebelum ia mengucapkan janji itu. Nah, kalau sekarang ia tetap saja datang sebagai anggota percobaan, itu tentu karena dia senang saja berkumpul bersama teman-teman – walaupun kadang hubungan antara anggota tidak selalu harmonis – , yang tentunya sudah merupakan jalan untuk kepadanya diberi pembekalan awal yang baik. Selain itu, para Legioner diharapkan giat dan dengan penuh percaya diri – tidak bertentangan dengan kerendahan hati – mencari anggota-anggota baru, sambil tetap merawat anggota-anggota yang sudah mengucapkan janji. Jadi, di sini bisa diterapkan cara kerja CBR: cari – bina – rawat!

Kedua, materi pembinaan. Diusulkan untuk mensosialisasikan devosi yang benar kepada Maria menurut Montfort, tapi dalam kerangka empat perspektif devosi kepada Maria yang diharapkan Marialis Cultus, yaitu biblis, liturgis, ekumenis dan antropologis.

B. Montfort – Duff, Montfortan – Legioner

Duff adalah seorang yang mengerti dengan sangat baik hubungan antara Tritunggal Mahakudus dengan Maria, baik untuk Penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia maupun untuk Pengudusan manusia. Dia menggarisbawahi pertumbuhan kekudusan Gereja karena karya bersama Roh Kudus dan Maria. Dia menyatakan tidak masuk akal klaim persatuan dengan Maria, karena karya Roh Kudus, kalau persatuan itu tidak diungkapkan dalam karya kerasulan. Kerasulan itu sendiri merupakan bagian utuh penghayatan kekudusan kristiani.

BP isinya sangat detil, sehingga segala yang mungkin kita pikirkan sebagai ide kreatif berkaitan dengan penghayatan spiritualitas marial misioner Legio Maria maupun berkaitan dengan organisasi rohaninya, semuanya ternyata sudah ada dalam BP. Ini menunjukkan kontak Duff yang intensif dengan “dunia” sebagai seorang awam, yang bergaul dengan semuanya itu dalam persatuan dengan Maria.

Kalau LM adalah buku, sesungguhnya Duff telah menulis dengan sangat baik ajaran rohani St. Montfort, sehingga tatkala membaca Legio Maria, orang menemukan terakomodasinya secara maksimal seluruh ajaran rohani St. Montfort. Bahasa Duff dalam menulis LM ini dapat dibaca oleh semua orang, dari manapun asalnya. Dia menulisnya dengan sangat rapi, dengan lay out dan pilihan huruf yang menawan, sehingga sangat merangsang selera baca orang, sangat enak dibaca dan sangat mudah dimengerti….

Kalau Legio Maria tidak lagi terlalu sering “dibaca”, barangkali karena para Legioner telah melakukan gencatan senjata, berdamai dengan setan atau dosa baik yang ada dalam diri sendiri maupun dalam dunia, militansi perjuangan diabaikan, idealisme ditinggalkan…..Maria, sang Ratu, Panglima para Legioner ditinggalkan berjuang sendiri. Sebab tidak mungkin dia berdamai dengan setan, dosa. Para perwira dan anak buah yang meletakkan senjata, kini saatnya untuk menyatukan lagi hati dan hidup dengan Bunda tersuci. Mengikuti analisis yang dengan sangat elok diringkas oleh Paus Yohanes Paulus II, seorang pengikut setia St. Montfort:
“Di mana ada Bunda, di sana juga ada Putera. Apabila seseorang seseorang berpaling dari Bunda, cepat atau lambat, akhirnya ia akan menjauh dari Putera juga. Tidak mengherankan apabila dewasa ini, dalam berbagai sektor masyarakat yang bersifat duniawi kita jumpai krisis iman akan Allah, yang didahului dengan berkurangnya devosi kepada Bunda Perawan Maria” (BP 3).

Maka, sama seperti terjemahan BP dalam bahasa Indonesia belum sempurna, dan memerlukan edisi revisi, maka kini saatnya untuk para Legioner melakukan ulang “disain interior” dirinya dan organisasinya, sesuai dengan model utama: Maria, dalam proses revisi yang terus berlangsung…. Bersama Bunda Maria, di atas reruntuhan kerajaan musuh, Kerajaan Kristus dibangun (DM) oleh para Legioner.

Duff sungguh telah “dirasuki” Roh Kudus yang dulu berkarya dalam diri Montfort. Kalau Duff dan BP penuh dengan semangat jiwa Montfort, maka para Legioner juga masuk dalam penghayatan ajaran rohani Montfort sebab seluruh dinamika rohani dan kerasulan Legio berdasarkan BP, yang penuh dengan semangat jiwa Santo Montfort. Adalah wajar kalau Duff dan Legio merasa berhutang budi kepada St. Montfort tapi adalah wajar juga kalau para Montfortan berterimakasih kepada Duff dan Legio Maria. Sesungguhnya, kedua-duanya – Montfortan dan Legioner – adalah sama-sama pasukan bala tentara Maria yang rapi teratur dan siap bertempur untuk berperang setiap saat melawan setan dalam dirinya sendiri dan dalam dunia kita, sehingga datanglah Kerajaan Kristus melalui Maria karena karya Roh Kudus, demi kemuliaan Bapa!

GLOIRE A JÉSUS EN MARIE! GLOIRE A MARIE EN JÉSUS!
GLOIRE A DIEU SEUL!
Kemuliaan kepada Yesus dalam Maria! Kemuliaan kepada Maria dalam Yesus!
Kemuliaan kepada Allah saja! (BS 265)

Joyo Grand, 6 April 2008
SEMINARI MONTFORT – Pondok Kebijaksanaan

Lampiran

Doa-doa Legio (bab 22, hlm. 145) dalam Tessera:

DOA-DOA LEGIO

Berikut ini tertera doa-doa Legio Maria menurut urutan yang harus didoakan dalam rapat. Bila didoakan secara pribadi, urutan ini tidak perlu diikuti.
Semua doa harus didoakan setiap hari oleh anggota auksilier.
Tanda Salib pada awal dan akhir tiap bagian dari doa adalah untuk memisahkan-misahkan doa. Bila doa-doa tidak dipecah dalam bagian, tanda salib harus dibuat pada awal dan akhir doa saja.

1. Doa yang diucapkan pada pembukaan rapat

DOA PEMBUKAAN
P. Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Datanglah Roh
Kudus, penuhilah hati umatMu dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.
Utuslah RohMu, maka semuanya akan dijadikan lagi.
U. Dan Engkau akan membaharui muka bumi.

MARLAH KITA BERDOA
Ya Allah, Bapa kami, curahkanlah karunia Roh KudusMu atas kami. Engkau memberikan penerangan Roh atas umatMu untuk mulai mengajarkan firmanMu; biarlah RohMu melanjutkan karya di dunia ini melalui hati umatMu yang percaya. Oleh Kristus Tuhan kami. Amin.
P. Tuhan, bukalah bibirku
U. Dan lidahku akan mewartakan kemuliaanMu
P. Ya Allah, sudilah datang menolong aku.
U. Tuhan, tolonglah daku segera
P. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Lalu diikuti dengan
lima puluhan doa Rosario dengan Salam,ya Ratu, Bunda yang rahim.

Salam, ya Ratu, Bunda yang rahim,
Kehidupan, penghibur dan pengharapan kami,
Salam.
Kami orang buangan, anak Hawa, berseru kepadamu.
Kepadamu kami mohon dengan keluh kesah di lembah kedukaan ini.
Maka tunjukkanlah kepada kami, hai pembicara kami, wajahmu yang manis.
Dan sesudah pembuangan ini, tunjukkanlah kepada kami,
Yesus, Buah Tubuhmu yang terpuji.
Ya Maria, Perawan yang murah hati,
penuh kasih sayang dan manis.

P. Doakanlah kami, ya, Santa Bunda Allah.
U. Supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

MARILAH KITA BERDOA
Ya Tuhan, PuteraMu tunggal telah memperoleh bagi kami kebahagiaan kekal dengan menyerahkan nyawaNya, dan kebangkitanNya; semoga kami, dalam merenungkan peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat mengikuti teladan isinya dan menerima yang dijanjikanNya. Oleh Kristus Tuhan kami Amin.
P. Hati Yesus Yang Mahakudus
U. Kasihanilah kami
P. Hati Maria yang Tak Bercela
U. Doakanlah kami
P. Santo Yusuf
U. Doakanlah kami
P. Santo Yohannes, pengarang Injil
U. Doakanlah kami
P. Santo Louis Marie de Montforrt
U. Doakanlah kami
Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

2. Katena Legio. Harus didoakan pada pertengahan rapat; dan setiap hari oleh setiap Legioner

CATENA LEGIONIS

Antifon bersama-sama:
Siapakah Putri yang datang bagaikan fajar menyingsing, indah laksana bulan, bercahaya laksana surya, dahsyat laksana balatentara siap bertempur?
P. Aku mengagungkan Tuhan
U. Hatiku bersukaria karena Allah, Penyelamatku
P. Sebab Ia memperhatikan daku, hambaNya yang hina ini.
U. Mulai sekarang aku disebut yang bahagia oleh sekalian bangsa.

P. Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Maha Kuasa
U. Kuduslah namaNya
P. Kasih sayangNya turun temurun
U. Kepada orang yang takwa

P. Perkasalah perbuatan tanganNya
U. Dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya
P. Orang yang berkuasa diturunkanNya dari tahta
U. Yang hina dina diangkatNya
P. Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan
U. Orang kaya diusirNya dengan tangan kosong.

P. Menurut janjiNya kepada leluhur kita
U. Allah talah menolong Israel, hambaNya
P. Demi kasih sayangNya kepada nenek moyang kita,
U. Abraham serta keturunanNya untuk selama-lamanya
P. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U. Seperti pada permulaan, sekarang , selalu dan sepanjang segala abad.Amin.

Antifon bersama-sama:
Siapakah Putri yang datang bagaikan fajar menyingsing, indah laksana bulan, bercahaya laksana surya, dahsyat laksana balatentara siap bertempur?

P. Ya Maria Semula Jadi Tak Bercela
U. Doakanlah kami yang berlindung kepadamu

MARILAH KITA BERDOA
Yesus Kristus Tuhan kami, Pengantara pada Allah Bapa, Engkau telah berkenan memilih BundaMu, Perawan yang terpuji, menjadi Bunda dan Pengantara padaMu, semoga semua yang mohon kemurahanMu, dapat bergembira karena dikabulkan permohonannya berkat pengantaraannya. Amin.

3. Doa Penutup. Didoakan pada penutupan rapat. Ditulis dalam lembaran yang disediakan untuk didoakan.

DOA PENUTUP
P. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
Bunda Tuhan yang Suci, di bawah perlindunganmu, kami bernaung, Perawan yang mulia dan terpuji janganlah mengabaikan doa-doa kami dalam kesulitan, tetapi bebaskanlah kami dari segala bahaya, Santa Maria yang Semula Tak Bercela, Pengantara segala Rahmat. (atau sebutan nama tiap presidium)
U.Doakanlah kami
(Dalam semua kesempatan di luar rapat presidium, seruan yang dipakai untuk semua anggota adalah :
P. Santa Maria yang Semula Tak Bercela, Pengantara Segala Rahmat
U. Doakanlah kami
P. Malaikat Agung Santo Mikael dan Santo Jibrael
U. Doakanlah kami
P. Seluruh balatentara surgawi, Legio Malaikat Bunda Maria
U. Doakanlah kami
P. Santo Yohannes Pemandi
U. Doakanlah kami
P. Santo Petrus dan Paulus
Doakanlah kami
Doa berikut ini harus didoakan serentak dengan Amin yang pertama; setelah imam

MARILAH KITA BERDOA

Ya Tuhan berikanlah kepada kami,
Yang mengabdi di bawah panji Santa Maria,
Iman yang penuh kepadaMu dan kepercayaan kepadanya,
Untuk mengalahkan dunia.
Berikanlah kepada kami iman yang hidup, penuh cinta kasih,
Sehingga kami dapat melaksanakan karya kami,
Dengan dorongan cinta sejati kepadaMu,
Dan selalu melihatMu dan melayaniMu dalam sesama kami.
Suatu iman yang kokoh dan tak tergoyahkan bagaikan batu karang,
Di atas mana kami akan berdiri tenang dengan hati yang teguh.
Di tengah-tengah beban salib, kerja keras dan kekecewaan hidup,
Suatu iman yang gagah berani yang akan menjiwai kami,
Untuk berkarya tanpa ragu-ragu.
Melakukan hal-hal besar bagi kemuliaanMu dan keselamatan jiwa-jiwa,
Suatu iman yang akan menjadi Tonggak Api Legio,
Untuk membimbing kami dalam satu kesatuan,
Membangkitkan api cinta surgawi di mana-mana,
Untuk menerangi mereka yang berada dalam kegelapan dan dalam bayang-bayang kematian,
Untuk mengobarkan semangat mereka yang lemah.
Untuk menghidupkan kembali mereka yang telah mati dalam dosa.
Dan mengarahkan kaki kami sendiri ke jalan kedamaian.
Agar supaya mereka yang berada dalam medan pertempuran kehidupan dapat berkumpul kembali,
Tanpa kehilangan satu orangpun,
Dalam kerajaan kasih dan kemuliaan. Amin.

P. Kami mohon agar jiwa-jiwa Legioner yang sudah meninggal dan semua orang yang sudah meninggal melalui belas kasih Allah beristirahat dalam damai Amin.
Lalu doa ini langsung disusul dengan berkat oleh imam; atau bila tidak ada imam yang hadir : Dalam nama Bapa, dst.)

FINISH

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme