MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Nama Legio Maria dan Vision Montfort

 

NAMA “LEGIO MARIA” DAN VISION MONTFORT

TENTANG LASKAR TENTARA YANG BERPERANG

 

Pertanyaan yang dapat diajukan di sini pertama-tama adalah bagaimana persisnya konteks pendirian Legio Maria? Dalam artian, apa yang mendorong Duff membentuknya? Apakah ada hubungannya dengan tulisan-tulisan Montfort, katakalah seperti tatkala Mgr. Duhamel di Kanada mendirikan Perserikatan Maria Ratu segala Hati atau KSM, itu karena membaca tulisan Montfort tentang bakti yang sejati kepada Maria.

Berkaitan dengan awal pembentukannya, BP menjelaskan: “Pada awalnya, Legio Maria bukan suatu perkumpulan yang direncanakan. Ia tumbuh spontan tanpa perencanaan terlebih dahulu dalam peraturan dan pelaksanaannya” (BP 9). Spontan. Semuanya spontan. Keberaadaan patung Maria tak bernoda model Medali Ajaib pun, yang menghiasi meja rapat pertama, dikatakan “dengan tidak sengaja dipersiapkan” (BP 377).

Roh Kudus memang biasa mendorong orang untuk kreatif secara spontan. Kalau semuanya direncanakan terlebih dahulu, nanti ide manusia yang akan berjalan. Tapi kalau Roh Kudus yang memulai, kecerdasan inisiatifNya akan membangkitkan kejutan-kejutan dalam diri manusia, untuk memurnikan motivasinya. Maka karya Roh ini mengandaikan tingkat kepasrahan yang tinggi dalam diri manusia untuk membiarkan Roh Kudus bertindak dalam dan melalui dirinya. Maka, kalau LM menjadi seperti sekarang ini, itu karena buah inisiati dan karya Roh Kudus di satu sisi dan kerjasama manusia dalam bentuk kepasrahan dan ketekunan di sisi lain. Kelompok yang masih merupakan kelanjutan SSV ini memutuskan untuk mengisi hari pertemuan mereka dengan doa rosario, di samping segala in put (pengajaran atau konferensi singkat) model khas SSV, lalu ada pembagian tugas untuk mengunjungi orang-orang sakit di rumah sakit kota Dublin.

Tulisan-tulisan Montfort memang disebut dalam BP, khususnya yang secara eksplisit disebut judulnya adalah Bakti Sejati kepada Maria yang telah dikenal Duff 4 tahun sebelum membentuk LM dan tentu juga Rahasia Maria (RM). Amat sangat dapat dipastikan bahwa Duff telah membaca buku-buku ini berkali-kali. Dua buku ini – seperti yang dianjurkannya kepada Legioner – dia baca bukan hanya “satu kali tetapi berkali-kali” (BP 375) untuk mengerti dengan baik devosi sejati yang Montfort ajarkan, sehingga bisa ia jadikan bahan konferensi untuk rekan-rekannya di Myra House. Kemungkinan pengendapan dari konferensi-konferensinya itulah yang kemudian ia tulis sebagai sebuah ulasan-komentar atas BS, berjudul “The Montfort Way”[1].

Pertanyaan kita adalah mengapa tiga tahun kemudian, pada 1925, nama kelompok “Our Lady of Mercy” (Bunda Berbelaskasihan) diganti oleh Frank Duff dengan nama baru: Legio Maria? Apakah ada hubungan langsung antara nama Legio yang berarti laskar, balatentara, dengan ramalan Montfort tentang keberadaan suatu laskar atau pasukan di masa depan, sebagaimana terdapat dalam bukunya, BS dan DM? Atau apakah karena diinspirasikan membaca “ramalan” itu, maka Frank Duff mendirikan persekuatan yang diberi nama Legio Maria?

Memang, ramalan Montfort tentang pasukan dalam BS itu dikutip dalam BP hlm. 153 untuk memperjelas riwayat hidup Montfort dan mengapa ia dicantumkan sebagai salah seorang kudus pelindung LM. Sebab kutipan-kutipan yang dicantumkan di bawah setiap uraian tentang suatu tema dalam BP itu berfungsi untuk memperjelas atau mempertegas atau menggarisbawahi secara sintetis dan berwibawa ajaran atau apa pun yang diuraikan di atasnya. Pada hlm. 153 kita membaca kutipan “ramalan” Montfort:

“Saya melihat dengan jelas apa yang akan terjadi: binatang-binatang galak datang mengamuk untuk mencabik dengan giginya yang setani buku sederhana ini beserta dia yang telah digunakan Roh Kudus untuk menulisnya; atau paling tidak untuk menyembunyikannya dalam kegelapan dan kesunyian pada sebuah peti agar membuatnya tetap tak terkenal. Bahkan semua pria dan wanita yang membacanya dan mempraktikkannya, akan diserang dan dianiaya. Tetapi tidak apa-apa! Malah lebih baik! Penglihatan ke depan ini mengobarkan semangat saya dan membuat saya menantikan sukses besar: satu laskar besar prajurit-prajurit yang gagah berani dari Yesus dan Maria, baik pria maupun wanita, yang memerangi dunia, setan dan kodrat yang sudah busuk di dalam masa yang sangat gawat, yang pasti akan datang. “Siapa membacanya, hendaklah ia memahaminya” (Mat 24:15). “Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti” (Mat 19:12)” (BS 114, garis miring dari penulis).

Ada dua hal yang dikemukan dalam nomor ini. Pertama adalah kemungkinan di masa yang akan datang buku yang sedang ditulisnya itu (BS) akan ditemukan dalam keadaan tidak sempurna lagi karena orang sembunyikan dalam kegelapan dan merusak halaman-halamannya, di samping bahwa nyawa penulisnya – Montfort sendiri – dalam keadaan terancam. Secara mengagumkan, penglihatan yang pertama ini sungguh terjadi nyata dalam sejarah, baik yang berkaitan dengan bukunya maupun dengan hidup Montfort sendiri.

Kedua berkaitan dengan keberadaan di masa depan dari suatu laskar besar, prajurit-prajurit gagah berani dari Yesus dan Maria untuk berperang melawan kekuasaan setan. Walaupun penglihatan itu merujuk kepada seluruh umat kristiani yang harapannya akan menjadi rasul-rasul luar biasa handal untuk Kerajaan, namun secara diperkecil kita dapat merujuk kepada Legio Maria, sebab segala unsur spiritualitas laskar itu, yang ditemukan dalam ajaran Montfort, semuanya “nyambung” dengan spiritualitas laskarnya Legio Maria. Dalam konteks ini kita lantas bertanya: apakah Duff membentuk Legio Maria karena terkesan dengan “ramalan” Montfort ini, walaupun pada awalnya nama kelompoknya adalah Bunda Berbelasksihan? Atau dengan rumusan lain, apakah kelompok bentukan Duff ini merupakan Penjelmaan ramalan tersebut? Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Duff memberikan nama “Legio Maria” kepada kelompok yang sebelumnya bernama Bunda Berbelaskasihan itu setelah memahami dengan baik spiritualitas peperangan rohani melawan setan yang dikumandangkan Montfort?

Terhadap segala pertanyaan ini, BP diam seribu bahasa. BP hanya sampai pada pernyataan bahwa BP ini “penuh dengan semangat jiwa St. Montfort”, tanpa merinci maksudnya. Sayang sekali, walaupun BP mengutip BS 114, hubungan historis kutipan itu dengan penamaan “Legio Maria” tidak disebutkan. Adalah sayang juga bahwa buku riwayat hidup Duff karangan Robert Bradshaw, yang diterbitkan Montfort Publications itu belum kita miliki untuk mendeteksi pertautan historis Duff dengan inspirasi Montfortan, baik untuk pendirian maupun untuk penamaan Legio Maria.

Persisnya, dalam hal apa saja spiritualitas laskar-nya Legio Maria itu “nyambung” dengan spiritualitas laskar-nya Montfort? Walaupun uraian detil tentang “nyambung”-nya spiritualitas Montfort dengan Duff ini masih akan disampaikan nanti pada Bab IV, namun bagian ini terutama akan menelusuri titik temu yang secara langsung berhubungan dengan NAMA Legio Maria untuk mendeteksi kemungkinan adanya hubungan historis itu. Inilah beberapa hal yang dapat dikemukakan.

Pertama, adanya pasukan yang bertempur. Selain terdapat dalam BS 114 di atas, ada juga tulisan lain dari Montfort, yaitu Doa Menggelora (DM), di mana di dalam ide yang sama dapat ditemukan. Oleh karena doa ini ditulisnya untuk memohon kepada Tritunggal Mahakudus agar mengirim imam-imam yang akan bergabung dengannya untuk mengambil bagian dalam pembaharuan Gereja dan dunia, maka gagasan “pasukan yang bertempur” dalam BS itu diterapkan secara diperkecil sebagai identitas diri para imam tersebut, yang sekarang bergabung dalam Serikat Maria Montfortan (SMM). Para imam ini akan menjadi balatentara dan prajurit perkasa dan rapih teratur di bawah bimbingan Roh Kudus siap bertempur untuk menaklukkan musuh-musuh. Dalam DM itu Montfort berdoa:

“Siapa yang memihak kepada Tuhan, datanglah kepadaku” (Kel 32:26). Biarlah semua imam ulung yang sekarang tersebar di seluruh dunia, baik yang bergerak dalam bidang kerasulan aktif, maupun yang menjalani hidup kontemplatif di tempat yang terpencil, menggabungkan diri dengan kami. Persatuan menumbuhkan kekuatan. Maka kami akan membentuk di bawah panji salib sebuah pasukan yang siap tempur dan rapi teratur, supaya bersama-sama menggempur musuh-musuh Tuhan yang telah siap untuk menyerang” (DM 29).

Kedua, keberadaan pasukan itu merupakan karya Roh Kudus dan adalah dalam kuasa Roh Kudus juga mereka bertempur. Keberadaan laskar ini bukanlah inisiatif manusia, melainkan karya Roh Kudus. Maka ia bukan hanya sebuah organisasi sosial melainkan organisme karya Roh Kudus. Dalam DM itu, Roh Kudus disapa Montfort sebagai “Tuhan yang Mahabesar”. Montfort berdoa kepada Roh Kudus: “Lalu, apakah hampir tak seorang pun yang akan memihak Engkau, ya Tuhan Yang Mahabesar, walaupun di dalam pengabdian kepadaMu itu terdapat banyak sekali kehormatan, keuntungan dan kekayaan?” (DM 28). Karena itu, ya Roh Kudus, “Laksanakanlah prakarsaMu yang Ilahi! Kumpulkanlah, panggillah, himpunlah para pilihanMu dari segala penjuru dunia untuk dijadikannya satu balatentara melawan musuh-musuhMu” (BS 26).

Ketiga, peran Maria dalam hubungannya dengan Penjelmaan. Maria memiliki peran melahirkan secara rohani dan membentuk / membina / melatih (melalui workshop atau training yang diperlukan) para anggota laskar yang akan maju ke medan pertempuran. Para anggota laskar ini akan menjadi rasul-rasul yang luar biasa handal (menjadi orang-orang kudus besar) untuk Kerajaan Kristus. Dan peran itu dilakukan Maria secara tebal sekali digarisbawahi karena kuasa Roh Kudus dan karena bersama Roh Kudus, seperti yang terjadi pada saat Penjelmaan. Dalam DM itu Montfort berdoa:

“MEMENTO: Ya Roh Kudus, ingatlah melahirkan dan membentuk anak-anak Allah dalam persatuan dengan Maria, mempelaiMu yang surgawi dan setia. Bersama dia dan dalam dia Engkau telah membentuk Kepala Umat Terpilih; bersama dia dan dalam dia Engkau harus membentuk anggota tubuh-Nya…..semua orang kudus dari masa lampau, dari masa kini sampai akhir zaman adalah karya kasihMu bersama Maria” (DM 15).

Keempat, ide tentang “peperangan abadi” antara Gereja – di bawah pimpinan Maria – melawan setan sebagaimana dinyatakan dalam BP 9. Gagasan ini sangat kental Montfort-an. Sebab dalam pandangan Montfort – mengikuti para Bapa Gereja – , Maria selalu dalam permusuhan (abadi) dengan setan. Sebab kata-kata yang diucapkan Allah di firdaus kepada ular tentang permusuhannya dengan Hawa diatribusikan kepada setan yang bermusuhan dengan Maria, Hawa Baru, dan keturunan setan (dalam bentuk semakin kompleksnya masalah kejahatan dan dosa) yang bermusuhan dengan keturunan Hawa Baru itu. Montfort menulis:

“Orang harus memahami ramalan dan kutukan yang pertama, yang telah diucapkan oleh Allah terhadap ular di taman firdaus. Di sinilah tempat untuk menafsirkannya demi kemuliaan Perawan tersuci, demi keselamatan anak-anaknya dan demi mempermalukan setan. ‘Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; dia akan menghancurkan sendiri kepalamu, dan engkau akan menghadang tumitnya’ (V/Kej 3:15)” (BS 51).

Jadi, permusuhan ini terus berlangsung. Banyak manusia yang kalah dengan menyerahkan hati dan hidupnya kepada setan dan kekuatan kejahatannya yang merendahkan keluhuran martabat panggilan dan perutusan manusia di dunia. Setan telah menang berkali-kali. Namun ia telah dikalahkan secara meyakinkan melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Pada saat disalibkan, kekuatan kejahatan itu (dilambangkan dengan ular) “memagut” kaki Yesus di salib, dengan paku-paku yang dahsyat. Tapi Yesus menang, karena Ia menjalani semuanya itu dengan kasih kepada Allah dan sesama. Yesus telah setia kepada panggilan dan perutusanNya. Ketaatan itulah yang membuat Dia menang, walaupun kakiNya dipaku. Ular tidak berhasil menggodaNya untuk turun dari Salib dan menyelamatkan diri (bdk. Mrk 15:31). Jadi pada saat itu sesungguhnya Yesus sudah “menghancurkan kepala ular” itu, Dialah keturunan perempuan itu, keturunan Hawa Baru, yang menang. Gigitan ular dan bisa-nya yang mematikan tidak membinasakan Yesus. Dengan kebangkitanNya, Ia menyatakan kemenangan yang definitif atas setan dan kekuatan kejahatannya.

Telah banyak keturunan Hawa, dan tidak ada yang berhasil menaklukan setan. Nah, kalau sekarang ada yang bisa, yaitu Yesus Kristus, itu berarti ibu yang melahirkanNya adalah ibu yang luar biasa istimewa dibandingkan dengan Hawa. Sebab Hawa telah tidak taat. Pasti ibu Yesus seorang yang taat juga, karena jasa keselamatan Yesus. Nah, dari sinilah berasal devosi Legio Maria kepada Maria Tak Bernoda. Sebab dalam kata-kata kutukan Allah kepada ular di atas tadi sudah digambarkan (tipologis: pralambang, prafigurasi) eksistensi seorang perempuan masa depan yang taat, berbeda dari Hawa. Perempuan itulah yang menjadi “Hawa yang baru”, dalam paralelisme yang sifatnya antitetis dengan Hawa yang pertama, yang jatuh ke dalam dosa[2]. Jika Maria tak bernoda sudah digambarkan dalam kata-kata hukuman tersebut, maka sesungguhnya di sana sudah terkandung juga paran bundawi Maria, yaitu peran kebundaan ilahi terhadap Yesus dalam penebusan dan kebundaan rohani terhadap Gereja dalam Pengudusan. Sebab dalam rangka itulah Maria dibentuk Allah dalam keadaan “seluruhnya kudus” sejak dari rahim ibunya. Karena itu, anak-anak Maria adalah pejuang, balatentara yang siap berperang melawan setan. Anak yang pertama, Sang Sabda yang menjelma, telah menang gilang gemilang. Efektivitas kuasa kemenanganNya itu berlaku secara antisipatif untuk Maria, sehingga Maria pun menang melawan setan, dalam rangka melahirkanNya di dunia ini. Tentang hal ini, Montfort menegaskan:

“Allah pernah mengadakan dan membentuk hanya satu permusuhan, yakni suatu permusuhan yang tak dapat didamaikan, yang terus berlangsung dan malahan akan berkembang sampai akhir, antara Maria, Bunda Kristus yang pantas dihormati, dengan setan; antara anak-anak, pelayan-pelayan Perawan suci dengan anak-anak, para kaki tangan Lusifer. Musuh yang paling dasyat yang dimunculkan Allah untuk melawan setan tak lain adalah Maria, Bunda-Nya yang suci” (BS 52).

Sekarang, giliran anak-anak rohani Maria, yang percaya kepada Puteranya, bertempur melawan setan, dan lagi karena kuasa kebangkitan Kristus, kemenangan adalah sebuah kepastian untuk mereka, seperti Maria. Hal ini dipahami dengan sangat baik sekali oleh Duff, sehingga dalam BP beliau menulis – masih merujuk kepada kata-kata yang diucapkan Allah kepada ular di atas:

“Sabda ini – ditujukan oleh Allah Yang Mahakuasa kepada Setan – dipegang oleh Legio sebagai sumber keyakinan dan kekuatan dalam peperangan melawan dosa. Dengan segenap hati Legio bermaksud untuk sepenuhnya menjadi keturunan, anak-anak Maria, karena itulah jaminan kemenangan. Semakin Legio menjadikan Maria sebagai Bundanya, semakin besar permusuhan Legio dengan kuasa jahat dan semakin sempurna kemenangan Legio” (BP 22).

Maka, Gereja juga tidak pernah tidur atau lengah. Ia selalu waspada! Sebab ia selalu dalam peperangan yang sadar dengan setan. Sebab permusuhan ini terus berlangsung, seperti dinyatakan Montfort: “Tetapi Allah tidak membatasi diri dengan satu permusuhan saja. Dia bicara tentang banyak permusuhan: Tidak hanya antara Maria dan setan, melainkan juga antara keturunan Maria dan keturunan setan” (BS 54).

Kelima, ikut turun ke arena peperangan adalah juga adalah para malaikat. Mereka selalu berada di medan pertempuran. Montfort secara pribadi memiliki devosi kepada para malaikat, khususnya tiga malaikat agung. Milsanya, sepulang dari Roma pada 1706 untuk mendapatkan orientasi langsung dari Paus Klemens XI tentang karya kerasulannya, sebelum mulai berkarya di wilayah Perancis Barat, ia langsung mengarahkan kakinya – karena dia selalu berjalan kaki – ke Mont-Sant-Michel (bukit Santo Malaikat Mikael) di pantai laut Atlantik untuk berziarah. Setelah itu baru ia mulai berkarya, berperang, bertempur…. dengan perlindungan Malaikat Agung Mikael. Karena itu, dia berdoa kepada Roh Kudus: “Apakah tak seorang pun prajurit yang bersedia berjuang di bawah panjiMu? Apakah tak seorang pun seperti Mikael, yang penuh semangat mempertahankan kemuliaanMu, akan berani berseru di tengah-tengah para saudaranya: “Siapa seperti Allah?” (Why 12:7; 13:4)” (DM 28). Seruan kepada para malaikat (agung) juga merupakan bagian dari doa Legioner. Supaya kuat dalam pertempuran. Dan menang!

Keenam, soal senjata yang dipakai dalam pertempuran itu. Senjatanya bukanlah bom, ranjau, pistol, golok, bambu runcing, ketapel…. Bukan juga kritik yang kasar, amarah, kebencian, tulisan kaleng, gosip, fitnah…. Tapi senjatanya adalah senjata ilahi: “kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef 6:11). Secara khusus, senjata yang dipakai Maria untuk menang adalah: kerendahan hati, ketaatan, penyerahan diri kepada Allah. Montfort menegaskan:

“Apa yang dihilangkan oleh Lusifer karena kesombongan, dimenangkan kembali oleh Maria karena kerendahan hatinya. Apa yang dibuat terkutuk dan hilang oleh Hawa karena ketidaktaatannya, diselamatkan oleh Maria karena ketaatannya. Karena mendengarkan setan, Hawa menjerumuskan segala anaknya bersama dirinya ke dalam kecelakaan dan menyerahkan mereka kepada iblis. Karena menyerahkan diri kepada Allah dengan kesetiaan yang penuh, Maria menyelamatkan semua anak dan pelayannya bersama dirinya, dan mempersembahkannya kepada Yang Mahamulia” (BS 53).

Dalam BP 13 disebutkan beberapa “senjata Allah” yang serupa, yaitu: kesetiaan, keberanian, kedisiplinan, ketabahan, keberhasilan…. inilah amunisi yang dibawa dalam pertempuran. Dengan amunisi itu, Maria telah menang. Montfort tegaskan:

“Maria berwibawa atas para malaikat dan orang kudus di surga. Sebagai balasan bagi kerendahan hatinya yang mendalam, Allah telah memberinya kuasa dan tugas untuk menempatkan orang-orang Kudus pada takhta-takhta yang telah ditinggalkan kosong oleh kejatuhan para malaikat yang sombong….: surga, bumi dan neraka, mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perintah-perintah Maria yang rendah hati” (BS 28).

Di sini tampak gambaran Maria sebagai Ratu, itulah sebabnya Legioner berdoa dalam tessera, Salve Regina alias “Salam, ya Ratu…”.

Terakhir, ketujuh, soal kemanangan anak-anak Maria. Jika Gereja berjuang bersama Maria yang adalah “penguasa tertinggi surga dan dunia, menjadi panglima balatentara, bendahari harta kekayaan, pembagi rahmat-rahmat, pelaksana mukjizat-mukjizat, pemulih umat manusia, penengah bagi manusia, pembasmi para musuh dan mitra setia dalam kebesaran dan kemenangan-kemenangan Allah” (BS 28), dan karenannya memiliki semua kualitas rohani (senjata-senjata) seperti yang dimiliki Maria di atas, maka mereka juga akan menang, seperti Maria. Dan itu dituai mereka justeru tatkala setan sedang mengadakan pertempuran yang semakin dahsyat, tatkala ia sedang meningkatkan tekanan…. kepada anak-anak Maria. Anak-anak Maria lebih dimusuhi setan sehingga gempuran terhadap mereka akan dilakukannya secara jauh lebih dasyat lagi. Bisa menang atas anak-anak Maria, merupakan kebanggan setan. Sebab anak-anak Maria ini merupakan musuh yang paling tangguh dan berkualitas yang dihadapi setan.

“Terutama dalam zaman akhir ini Maria harus menakutkan setan dan para kaki tangannya, bagaikan satu “balatentara yang siap tempur” (V/Kid 6:3); karena setan, yang tahu baik sekali bahwa tinggal waktu sedikit jauh kurang dari sebelumnya untuk menjerumuskan jiwa-jiwa ke dalam kebinasaan (Why 12:12), berusaha lebih keras lagi setiap hari dan bertempur lebih hebat lagi. Segera setan akan mengobarkan pengejaran yang mengerikan dan melakukan penghadangan-penghadangan yang menakutkan terhadap para pelayan yang setia, anak-anak Maria yang benar, karena dengan mereka setan mengalami lebih banyak kesulitan daripada dengan yang lain-lain” (BS 50).

Dengan “senjata Allah”, anak-anak Maria akan memang! Sebab mereka berperang di bawah perlindungan Maria. Maka dalam tessera didoakanlah doa marial tertua: sub tuum praesidium alias “Bunda Tuhan yang suci, di bawah perlindunganmu…”. Peran Maria yang melindungi itu dilukiskan Montfort sebagai seekor induk ayam yang perkasa menjaga anak-anaknya..:

“Maria, Bunda yang baik para orang terpilih, menyembunyikan mereka di bawah lindungan sayapnya seperti seekor induk ayam melindungi anak-anaknya. Dia berpaling kepada mereka, turun kepada mereka dan membungkuk di atas segala ketidakmampuan mereka. Dia tetap berada di sekitar mereka untuk membela mereka melawan burung elang dan burung hering dan menyertai mereka seperti suatu “balatentara yang siap tempur” (Kid 6:10). Siapakah yang takut pada musuh-musuhnya, apabila ada suatu balatentara yang siap tempur dengan kekuatan seratus ribu orang mengelilinginya? Apalagi bagi seorang pelayan Maria yang setia, yang dilindungi dari segala arah oleh kuasanya yang rajawi, tidak perlu merasa takut. Bunda yang baik dan ratu surga yang berkuasa itu akan lebih siap mengirim dengan cepat satu pasukan dari sejuta malaikat untuk menolong seorang pelayannya yang setia. Orang tidak pernah akan dapat berkata bahwa seorang pelayan Maria yang setia, yang  pasrah kepadanya, tidak mampu bertahan terhadap kejahatan, jumlah dan kekuatan musuh-musuhnya” (BS 210).

Jadi, ada tiga protagonis yang akan berkarya untuk memobilisasi perjalanan dan pertumbuhan kekudusan seluruh Gereja: Roh Kudus, Maria dan para rasul zaman akhir yang tiada lain adalah anak-anak Maria. Para rasul zaman akhir ini, yang lahir dari Maria karena karya Roh Kudus (BS 35) akan penuh dengan rahmat dan semangat (BS 48), terdiri atas para imam dan awam – pria dan wanita – merupakan “satu laskar besar prajurit-prajurit yang gagah berani dari Yesus dan Maria, baik pria maupun wanita, yang memerangi dunia, setan dan kodrat yang sudah busuk di dalam masa yang sangat gawat, yang pasti akan datang” (BS 114).

Ide yang terdapat dalam DM merupakan aplikasi konkret dan mini ke dalam diri para imam yang menjadi pengikutnya dari identitas yang pada hakikatnya diterapkan kepada seluruh umat beriman sebagaimana terdapat dalam BS. Sebab dalam BS sudah ditemukan spiritualitas tentara (BS 28, 50, 210) atau prajurit (BS 114) atau laskar (8, 114), yang bermusuhan dengan setan dan kekuatan jahatnya (BS 51, 52, 54) dan oleh karena itu di bawah pimpinan Maria mereka berperang (182) atau bertempur (50, 210) melawan setan itu.

Berdasarkan tujuh poin yang disebutkan di atas, kita dapat dengan mantap menegaskan bahwa di dalamnya tercakup beberapa karakter mendasar Legio Maria: mengapa berdevosi kepada Roh Kudus, mengapa memilih Maria sebagai panglima, mengapa ada ide “peperangan abadi”, mengapa Legio berdevosi kepada patung Maria semua tak bercela model Katerina Labouré, berdevosi kepada malaikat dan Maria adalah panglima para malaikat, mengapa berdevosi kepada Maria-Ratu,…..dan akhirnya mengapa organisasi yang sebelumnya bernama “Bunda Kerahiman” ini empat tahun kemudian diubah menjadi “Legio Maria”.

Memang model kepemimpinan dan nama tentara romawilah yang diambil, seperti yang dinyatakan: “Legio Maria diatur menurut model tentara, terutama seperti tentara Romawi kuno. Demikian pula nama Legio diambil dari istilah tentara Romawi” (BP 9). Bisa jadi inspirator yang mendorong Duff mengambil sistem organisasi militer romawi adalah Santo Klemens[3], Paus dan Martir, yang meminta Gereja Korintus belajar dari kebajikan tentara Romawi. Katakanlah perangkat kerasnya – sistem struktural-organisasional – diinspirasikan oleh model pengendalian dalam sistem militer tentara romawi.

Namun, melihat tujuh ciri di atas, rasanya sulit bagi kita untuk mengindar dari kesimpulan ini: bahwa dalam pemberian nama “Legio Maria”, Duff telah diinspirasikan Montfort, walaupun dalam sumber-sumber yang berada dalam jangkauan kita, belum ada yang secara eksplisit menyatakan bahwa: “nama Legio Maria berasal dari ‘ramalan’ Santo Montfort sebagaimana ditemukan dalam dua karyanya, BS dan DM”. Sebab bukankah sebuah nama yang dipilih itu harus mengungkapkan identitas spiritual yang terkandung di dalamnya? Dan ciri-ciri mendasar identitas spiritual Legio Maria itu ditemukan dalam karya Montfort seperti yang telah ditampilkan di atas.

Maka, kalau dari struktur tentara romawi Duff mengambil perangkat kerasnya, dari Montfort dia mengambil perangkat lunaknya. Sehingga segala kualitas “lahiriah” para tentara duniawi itu dialihkan ke tingkat rohani, “dibuat adikodrati” (BP 371), seperti: “kesetiaan, kebajikan, keberanian” (BP 9), “kesetiaan, keberanian, kedisiplinan, ketabahan dan keberhasilan” (BP 13) “penyerahan diri kepada pimpinan, rasa tanggungjawab yang besar, ketahanan dalam menghadapi kesulitan, ketabahan menderita, kesetiaan kepada tugas sampai hal-hal yang pali kecil” (BP 372). Semuanya itu menjadi senjata Legioner dalam pertempuran setiap hari. Namun, segala kualitas rohani itu dapat Roh Kudus anugerahkan kepada mereka jika mereka berada di bawah pimpinan Maria, dalam didikan Maria, seperti Maria, bersama Maria, untuk Maria. Sebab Montfort berkata:

“Apabila Roh Kudus, Mempelai Maria, menemukan Maria di dalam satu jiwa, maka Roh Kudus cepat-cepat ke sana, menetap di situ dan memberi diri-Nya secara melimpah kepada jiwa itu. Tepatnya dalam ukuran yang sama dengan tempat yang telah dikosongkan orang itu untuk mempelai-Nya. Hal yang paling utama mengapa Roh Kudus sekarang ini tidak mengadakan keajaiban yang mencolok di dalam jiwa-jiwa ialah karena Ia menemukan mereka tidak cukup mesra bersatu dengan mempelai-Nya yang setia dan tak terpisahkan” (BS 36).

Kenyataan ini berada pada kondisi yang berbeda dengan patung Maria Tak Bernoda model medali wasiat di atas tadi, yang secara providensial terkait dengan sejarah awal pembentukan Legio Maria. Secara providensial artinya: karena penyelenggaraan Tuhan, tidak direncanakan Duff secara sadar. Karena penyelenggaraan ilahi, apa yang tampaknya kebetulan di mata manusia, ternyata menjadi salah satu ciri devosi Legio kepada Maria. Sebab “nafas pertama yang ditarik oleh Legio dihembuskan dalam seruan singkat untuk menghormati anugerah khusus Perawan Maria ini. Anugerah khusus tersebut merupakan landasan segala kebesaran dan keistimewaan lain yang  bakal dilimpahkan kepada Maria” (BP 21).

Yang terjadi pada Montfort, bukanlah providensial tapi intensional. Dalam kata “intensional” itu terkandung bukan saja inisiatif sadar dari Duff sendiri tapi juga penyelenggaraan ilahi yang mengarahkannya. Sebab mustahil sebuah bangunan pemikiran teologis yang sedemikian solidnya dalam Legio Maria begitu “nyambung” dengan ajaran Montfort kalau Duff sendiri belum berguru padanya. Dan memang terbukti bahwa Duff telah membaca BS 4 tahun sebelum dia mendirikan LM. Kalau 4 tahun kemudian setelah mendirikan LM (1925) dia mengusulkan nama Legio Maria, itu tentu oleh karena dia telah melewati masa pengendapan akan isi BS sehingga kini dapat secara meyakinkan mengusulkan nama LEGIO MARIA. Sebab semangat LM adalah “semangat Maria sendiri” (BP 13), dan itu digalinya dari ajaran rohani “bentara Bunda Allah” ini, St. Montfort. Setelah itu dirancangnya dengan sadar dalam kombinasi dengan sistem kepemimpinan tentara romawi agar LM sungguh “menjadi sarana dalam penyelenggaraan kasih Allah” (BP 9-10).

Pada akhir kutipan tentang laskar dalam BS 114 di atas tadi, Montfort menulis: “Siapa membacanya, hendaklah ia memahaminya (Mat 24:15). Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti (Mat 19:12)” (BS 114). Tampak bahwa Duff adalah seorang yang telah memahami dan mengertinya dengan baik!

[1] Frank Duff, de Montfort Way, Montfort Publications, Bay Shore, N.Y. 1947. Bisa jadi buku inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Italia pada 1941 oleh P. Buondonno, SMM dengan judul Prospettiva Monfortana su la Vera Devozione, oleh Società Editrice Sant’Alessandro, Bergamo. Dikatakan “bisa jadi” karena tidak ditulis judul buku aslinya dalam bahasa Inggris, hanya dikatakan “versione dall’Inglese del…” artinya “diterjemahkan dari Inggris oleh….”. Isi buku ini merupakan komentar Duff atas BS. Sehingga sangat mungkin “de Montfort Way” diterjemahkannya sebagai “prospettiva monfortana su la..”, yang harafiahnya berarti “prospek St. Montfort tentang Bakti Sejati”.

[2] Bdk. Lumen Gentium: “Kitab-kitab Perjanjian Lama  maupun Baru, begitu pula  Tradisi yang  terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk kita renungkan. Adapun kitab-kitab Perjanjian Lama melukiskan  sejarah keselamatan, yang lambat laun menyiapkan kedatangan Kristus di dunia. Naskah-naskah kuno, sebagaimana dibaca dalam Gereja dan dimengerti dalam terang perwahyuan lebih lanjut  dan penuh, langkah demi langkah makin  jelas mengutarakan citra seorang wanita, Bunda Penebus. Dalam terang itu Maria sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur pertama yang jatuh berdosa, tentang kejayaan atas ular (lih. Kejadian 3:15).” (LG 55).

[3] Teks dari St. Klemens: “Siapakah musuh-musuh kita? Mereka adalah yang jahat yang menolak kehendak Allah. Oleh karena itu marilah kita dengan kebulatan tekad berusaha untuk berjuang bagi Kristus dan menundukkan diri kepada perintah-perintah-Nya yang mulia. Marilah kita menyelidiki mereka yang berdinas di Legio Romawi di bawah kekuasaan militer dan mencatat kedisiplinan mereka, kesiapan mereka, ketaatan mereka dalam menjalankan perintah. Tidak semua orang adalah panglima atau tribun atau perwira tinggi yang membawahi seratus prajurit atau komandan dengan bawahan lima puluh orang atau masuk dalam jenjang kepemimpinan yang lebih rendah. Tetapi setiap orang sesuai pangkatnya menjalankan perintah kaisar dan perwira atasannya. Yang besar tidak mungkin ada tanpa yang kecil; begitupun tidak ada yang kecil tanpa yang besar. Dalam suatu organisme semua bagian membentuk persatuan tertentu, sehingga tiap-tiap bagian membantu dan dibantu oleh semuanya. Marilah kita melihat analogi dengan tubuh kita. Kepala bukan apa-apa tanpa kaki; begitupun kaki bukan apa-apa tanpa kepala. Bahkan organ yang paling kecil dari tubuh kita penting dan bernilai bagi keseluruhan tubuh. Dalam kenyataannya semua bagian bekerja sama dalam ketergantungan satu terhadap yang lain dan menghasilkan suatu kepatuhan bersama demi kepentingan seluruh tubuh” (Santo Klemens, Paus dan Martir: Surat kepada umat di Korintus, tahun 96 M, Bab 36 dan 37) (BP 14).

 

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme