MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Montfort: Guru Legio Maria

 

 

GURU LEGIO MARIA: LOUIS-MARIE DE MONTFORT

Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya

 

 (Arnold Suhardi, SMM)

 

“Tidak ada orang kudus lainnya

yang telah memegang peranan begitu besar

dalam perkembangan Legio selain dia.

Buku pegangan ini penuh dengan semangat jiwanya.

Doa-doa Legio menggemakan kembali kata-katanya.

Ia sungguh guru dari Legio:

jadi seruan kepadanya sudah sepatutnya

dan merupakan kewajiban moral dari Legio”.

(BP 153)[1]

 

Walau ada saat di mana Legio Maria mengalami kesulitan berkaitan dengan “teologi jasa” yang dianutnya[2], karakter militeristik dan paham yang tampak manikeistik[3] tentang baik dan buruk; kini ia mulai lagi dan tetap diminati oleh umat Katolik di banyak belahan dunia. Diperkirakan kini ia sudah tersebar di lebih dari 2000 diosis di seluruh dunia[4]. Dan di mana pun ia hadir, anggota-anggotanya tetap setia menjalankan penginjilan lewat cara-cara sederhana yang mereka lakukan dalam hidup sehari-hari.

Tulisan ini dimaksudkan untuk membangkitkan refleksi pribadi perihal sejauh mana para Legioner mengenal pendiri mereka sendiri, sejauh mana mereka mengenal guru mereka sendiri dan bagaimana para Legioner menghayati martabat adikodrati panggilan dan perutusannya.

Maka, sambil membacanya, seorang Legioner diharapkan pada saat yang sama mencoba masuk ke dalam diri sendiri untuk menemukan pengalaman atau penghayatan pribadinya sendiri. Karena tulisan ini berada pada posisi “seharusnya” atau das sollen, ia dapat dijadikan kondisi perbandingan dengan pengalaman Legioner sendiri yang berada dalam posisi “kenyataannya” atau das sein. Tulisan ini merupakan cermin untuk berkaca, mudah-mudahan cukup terang dalam membahasakan kembali spiritualitas Legio Maria sebagaimana terdapal BP dan dokumen-dokumen lainnya. Maka ia menjadi tantangan untuk dengan jujur menemukan dan merumuskan pengalaman pribadi tentang bagaimana selama ini seorang Legioner memahami dan menghayati identitas spiritual-misioner Legio Maria.

Maka tulisan ini akan mengedepankan beberapa elemen penting yang berkaitan dengan identitas spiritual-misioner Legio Maria. Pertama-tama ditampilkan latar belakang Pendiri Legio Maria, Hamba Allah Frank Duff, rasul awam berwibawa dari abad XX itu. Kedua, dikemukakan pertautan Frank Duff dengan St. Montfort dan ajarannya, yang oleh BP disebut sebagai “guru Legio” dan “orang kudus yang memegang peranan begitu besar dalam perkembangan Legio”, secara khusus dalam hal asal-muasal pemberian nama “Legio Maria” kepada wadah kerasulan awam internasional ini. Ketiga, akan dicuatkan ke permukaan data-data eksplisit, sejauh dapat dideteksi, pertautan tekstual antara BP Legio Maria dengan ajaran Montfort sebagaimana terdapat dalam karya-karyanya. Ini tentu selalu dalam kerangka memperjelas pernyataan BP sendiri bahwa “Buku pegangan Legio Maria (LM[5]) penuh dengan semangat jiwanya”. Keempat, akan diartikulasikan titik temu doktriner antara spiritualitas Legio Maria dengan spiritualitas St. Montfort, di mana akan secara sangat jelas dan nyata ditampakan kebenaran pernyataan BP bahwa “Buku pegangan LM penuh dengan semangat jiwanya”. Bagian ini akan sangat memperjelas peran Montfort sebagai seorang guru, yang ajarannya diamini dan dikutip oleh muridnya, yang ajarannya mempengaruhi muridnya dan menentukan ciri organisasi kerasulan awam yang didirikannya karena pengaruh Roh Kudus. Pada bagian doktriner ini akan dikemukakan karakter kristologis LM, kedudukan dan peran Maria yang terkait dengan Roh Kudus dalam misteri Kristus dan Gereja demi kemuliaan Allah Bapa, dan bagian utuh penghayatan kekudusan seperti doa dan persatuan dalam komunitas gerejawi, yang semuanya dalam kadar yang berbeda-beda menampakkan jejak-jejak langkah sang guru.

Dengan ini diharapkan seorang Legioner merasa tertantang untuk menemukan dan merenungkan dalam diri dan hidupnya pengalaman akan peran Allah Tritunggal, peran dan tempat Maria, pengaruh doa-doa Legio, arti keterlibatan dan partisipasi aktifnya dalam kerasulan dan pentingnya persatuan dalam komunitas gerejawi. Hal ini akan menjadi bagi Legioner seteguk air yang ditimba dari oase, di tengah-tengah padang gurun praktik hidup pribadi dan kerasulan yang padat dan penuh tantangan dewasa ini.

 

FRANK DUFF:

ANTARA VINSENSIUS DE PAUL, KATERINA LABOURÉ

DAN LOUIS-MARIE DE MONTFORT

 Dari pengalaman membimbing presidium Legio Maria, saya mengetahui bahwa masih ada – bahkan banyak – Legioner yang belum mengenal nama pendiri Legio Maria. Bukan hanya belum mengenal hidupnya, tapi juga ada yang belum mengetahui namanya[6]. Bahkan nama Montfort lebih dikenal daripada Duff, karena nama Montfort disebut dalam tessera, sedangkan Duff tidak, walaupun juga belum mengenal lebih jauh tentang siapa sesungguhnya orang kudus yang namanya aneh itu: Montfort atau Monsfrot atau Monfrot atau….?

Duff lahir satu abad setelah revolusi industri, akhir abad ke-19, persisnya pada 7 Juni 1889. Hidupnya lama, yaitu hingga senja abad berikutnya, 1980, persisnya ia meninggal pada 7 November, tatkala berusia 91 tahun. Itu berarti pada 7 November 2008 ini dia akan genap 28 tahun bersatu secara tak terhalang dengan Bapa surgawi, yang selama hidup di dunia ini telah diabdinya dengan setia.

  1. Pertautan dengan SSV

Tatkala masih muda, dia sudah memiliki keprihatinan sosial akan sesama yang berkesusahan. Hal itu bukan hanya didorong oleh motif kemanusiaan belaka, tapi juga oleh semangat misioner yang bergelora dalam hatinya, untuk dalam lingkungannya yang terbatas dan dalam hidupnya yang sederhana dapat melakukan sesuatu yang berguna, walau kecil sekali, kepada mereka, untuk berjumpa dengan Kristus sendiri dalam diri sesama yang menderita, berkekurangan, memiliki kesulitan. Karena itu, pada tahun 1913, saat ia sudah berusia 24 tahun, ia mendaftarkan diri sebagai anggota Serikat Santo Vinsensius (SSV) “di mana ia dibina menuju penghayatan iman Katolik yang lebih dalam dan bersamaan dengan itu ia memperoleh kepekaan tinggi akan kebutuhan orang miskin dan orang serba kekurangan” (BP 5). Maka Santo Vinsensius (15811660) dan para imam Lazaris (CM), yang didirikan St. Vinsensius, mempunyai kontribusi besar untuk hidup pribadi dan semangat kerasulan Frank Duff dan juga di kemudian hari untuk perkembangan Legio Maria di seluruh dunia (misalnya sevagai Pembimbing Rohani Concilium: bdk. hlm. 73, 85), termasuk di tanah air. BP tidak menjelaskan apakah ia berhenti sebagai anggota SSV setelah mendirikan Legio Maria pada 1921, ataukah ia fokus di Legio dan meninggalkan SSV? Kalaupun misalnya tidak bergabung lagi dengan SSV, dapat dipastikan bahwa pengaruh semangat Vinsensian yang ditimbanya dari SSV pasti tidak kecil dalam mengorientasikan dirinya kepada pelayanan terhadap orang miskin. Pengaruh SSV juga terekam dalam urutan acara rapat dan arah kerasulan Legio.

  1. Hubungan dengan Medali Ajaib

Sebagai seorang anggota SSV, tentulah ia juga memiliki devosi yang mesra kepada Maria. Peristiwa penampakan Bunda Maria sebanyak tiga kali kepada seorang suster novis Putri Kasih (PK) – tarekat yang didirikan Vinsensius dan Louise de Marillac – bernama Katerina Labouré (1806-1876) yang terjadi tahun 1830 di Paris pasti dia kenal dengan baik. Pada saat penampakan itu Bunda Maria memperkenalkan Medali Wasiat atau bagusnya “Medali Ajaib” (Miraculous Medal) kepada Katerina. Demikianpun patung Maria Tak Bernoda yang dirancang berdasarkan gambar pada Medali Ajaib itu, tentu ia kenal dan memang ada di “Myra House”, pusat Serikat Santo Vinsensius (SSV), di mana dia secara rutin datang mengikuti pertemuan. Hari pembentukan Legio Maria terkait erat dengan Medali Ajaib ini, baik dengan patung Maria Tak Bernoda yang gambarnya terdapat pada medali itu maupun dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Maria yang gambarnya juga ditemukan pada medali tersebut. Sehingga Duff mengatakan: “Medali ini mempunyai hubungan erat dengan sejarah organisasi mereka. Dengan tidak sengaja dipersiapkan, patung model tahun 1830 ini menghiasi meja rapat yang pertama” (BP 10, 377), di Myra House, saat mereka mengadakan pertemuan, masih sebagai anggota SSV.

Itulah sebabnya mengapa “penghormatan pada medali dimasukkan dalam sistem devosi Legio” (BP 377) – “sebagai bahan amunisi yang khas” (BP 378) – , bersama dengan devosi kepada Maria yang dikandung tanpa noda serta kepada hati kudus Yesus dan hati Maria yang tak bernoda. Legioner dianjurkan juga untuk menjadi anggota Serikat Medali Wasiat (BP 378) untuk memperdalam devosinya kepada hati Yesus yang tertusuk mahkota duri dan hati Maria yang tertusuk pedang, yang adalah devosi kepada Maria yang berdiri dalam lautan duka di kaki salib Puteranya, agar para Legioner mengalami rahmat kerahiman yang tiada taranya. Maka dalam tessera ada seruan kepada “Hati Yesus yang mahakudus” dan “Hati Maria yang tak bercela”. Sehingga “Legio seolah-olah adalah Medali Wasiat yang hidup” (BP 378).

Jadi LM memiliki hubungan historis dengan Santa ini, tentu juga dengan suster-suster Putri Kasih. Selanjutnya, entah masih kebetulan juga – seperti di atas – atau kali ini disengaja, para Legioner pertama di Dublin mengadakan kunjungan tugas pertama ke rumah sakit yang dikelola suster-suster PK. Lalu di Perancis, Kardinal Verdier, uskup agung Paris (18641940) berkenan menerima para Legioner di Paris dan merestui pendirian dan kehadirannya justeru pada kesempatan memperingati usia 100 tahun (1906) St. Katerina Labouré (BP 377) yang sudah wafat 30 tahun sebelumnya. Kelihatannya acara itu diorganisir oleh para suster PK sebagai salah satu dari rangakain acara peringatan 100 tahun itu.

  1. Perjumpaan dengan Montfort

Lalu bagaimana persisnya hubungan Duff dengan Montfort? Pada saat Duff lahir, St. Montfort sudah pada tahun yang ke-173 meninggalkan dunia ini. Jadi, Montfort hidup hampir dua abad sebelum Duff. Montfort wafat pada 28 April 1716, di Saint-Laurent-sur-Sèvre – Normandia, Perancis. Ia lahir 43 tahun sebelum wafatnya itu, yaitu pada 31 Januari 1673. Dengan demikian dia hidup pada akhir abad ke-17, awal abad ke-18. Sementara Duff hidup pada akhir abad ke-19 dan sebagian besar tahun-tahun dari abad ke-20. Jadi mereka berasal dari generasi yang berbeda.

Maka kalau dalam BP dikatakan” “tidak ada orang kudus lainnya yang telah memegang peranan begitu besar dalam perkembangan Legio selain dia”, itu bukan karena Montfort hidup pada zaman yang sama dengan Duff atau setelah Duff dan terlibat secara langsung-teknis-organisasional dalam menata dan mengembangkan Legio di seluruh dunia. Pernyataan itu harus dimengerti dalam tingkat yang berbeda, yaitu pada tingkah pengaruh rohani dan inspirasi yang selalu segar untuk memotivasi pendiri dan para Legioner di seluruh dunia yang terus berlangsung walaupun ia sendiri secara fisik sudah tidak ada lagi di dunia ini. Duff sendirilah yang selama seluruh hidupnya menjadi lokomotif karismatis untuk kemajuan dan perkembangan Legio. Dalam BP 5 dikatakan bahwa “sampai akhir hayatnya…ia membimbing perluasan Legio ke seluruh dunia dengan pengabdian gagah berani”. Namun dikaitkan dengan kutipan tentang Montfort dapat kita pastikan bahwa Hamba Allah ini terus-menerus “dirasuki” oleh Roh Kudus yang dulu telah berkarya secara khusus dalam diri Montfort untuk mengerti dengan sangat baik misteri peran Maria, Bunda Allah dalam misteri Kristus dan Gereja, dan meneriakkannya dengan lantang ke seluruh dunia lewat Legio Maria.

Lalu bagaimana persisnya hubungan antara Duff dengan Montfort? Semuanya berawal dari kenyataan bahwa 47 tahun sebelum Duff lahir, persisnya pada 1842, buku Bakti Sejati kepada Maria[7] karangan Montfort ditemukan, padahal tidak pernah diketahui bahwa buku seperti itu pernah ditulis olehnya. Dengan demikian, penemuan itu terjadi saat sang pengarangnya sendiri sudah meninggalkan dunia selama 127 tahun. Tidak sulit untuk mengetahui tulisan itu sebagai berasal dari Montfort.

Tidak lama setelah ditemukan, karya itu langsung dicetak dan terus mengalami cetak ulang. Masih dalam euforia penemuan buku yang melukiskan peran kebundaan rohani Maria yang mendasarkan diri pada Misteri Penjelmaan itu, pada 1854, dengan demikian 12 tahun kemudian, Paus Pius IX menyatakan dogma Maria Dikandung Tanpa Noda, yang secara supernatural diteguhkan oleh penampakan Bunda Maria sendiri di Lourdes 4 tahun kemudian, yaitu pada 1858 – jadi 16 tahun setelah penemuan BS – , yang memperkenalkan diri kepada Bernadette sebagai “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda!”.

Buku BS terus dibaca delam Gereja. Sepuluh tahun setelah Duff lahir, pada 1899, di Ottawa, Kanada didirikan Serikat Agung Maria, Ratu semua Hati atau Perserikatan Agung Maria Ratu segala Hati (BP 373-376), yang di Indonesia diterjemahkan sebagai Kerabat Santo Montfort (KSM), oleh Uskup Agung Ottawa, Mgr. Duhamel, yang didasarkan atas buku tersebut. Itu berarti Perserikatan (KSM) tersebut didirikan pada tahun ke-37 dari penemuan Bakti Sejati. KSM memfasilitasi umat untuk menghayati spiritualitas Pembaktian Diri (BP menerjemahkannya dengan “Pengabdian total kepada Maria”: hlm. 111, atau “Janji Pengabdian”: hlm. 41) alias Perhambaan karena cinta (BP terjemahkan sebagai “Perbudakan Maria”: hlm. 24) kepada Yesus melalui tangan Bunda Maria, yang tidak lain merupakan pembaharuan yang sempurna dari janji-janji Pembaptisan dalam tangan Maria.

Persis satu tahun sebelum Duff lahir, yaitu pada 1888, Paus Leo XIII menyatakan Montfort sebagai Beato, dan baru dinyatakan Santo pada 20 Juli 1947 oleh Paus Pius XII, Paus yang sama yang menyatakan Dogma Maria Diangkat ke surga tiga tahun kemudian, yaitu pada 1 November 1950.

Pada saat mendirikan Legio Maria pada 1 September 1921, bersama beberapa wanita, bersama Pater Michael Toher dan Uskup Agung Dublin, Duff berusia 32 tahun. Saat itu BS sudah dikenal orang selama 79 tahun. Bagaimana Duff bisa mengenalnya? Atau bagaimana persinya perjumpaan Duff dengan (spiritualitas) Montfort? Ternyata, sudah sejak tahun 1917 – pada usia 28 tahun – Duff mulai mengenal uraian Santo Louis Marie de Montfort tentang Bakti Sejati kepada Maria.[8] Dengan demikian pengenalan itu terjadi 4 tahun sebelum pendirian Legio Maria. Mulai saat itu, inspirasi dari buku itu antara lain dijadikannya bahan in put dalam pertemuan SSV di markas SSV tempat dia menjadi anggotanya, Myra House. Tampak bahwa dia seorang teolog otodidak, seperti Montfort juga seorang otodidak. Sungguh, Duff adalah seorang awam yang mengagumkan! Pada 1925 nama kelompok “Our Lady of Mercy” (Bunda Berbelaskasihan) – demikianlah kelompok yang dibentuk pada 1921 itu untuk sementara dikenal orang – diganti dengan nama baru usulan Frank Duff: Legio Maria. Dan tiga tahun kemudian (1928) terbitlah buku pegangan pertama dari tangan Duff.

Pada 1921 itu, KSM sudah berusia 22 tahun, dan tentu sudah menyebar ke seluruh dunia. Sehingga beliau menganjurkan anggota para Legioner untuk memperdalam “devosi kepada Perawan yang Terberkati – atau Pengabdian total kepada Maria” (BP 111) atau bagusnya “Pembaktian seluruh diri kepada Maria” dengan bergabung menjadi anggota KSM (BP tambahan 5, hlm. 373-376) sebab di sana Legioner akan menimba semangat Legio dari sumber pertama. Sebab dalam KSM-lah ajaran tentang Pembaktian Diri diperkenalkan dan dipromosikan penghayatannya dalam iman kristiani.

Dalam perjalanan selanjutnya, bukan hanya BS yang dibaca Duff, tapi juga buku-buku lain, sekurang-kurangnya yang ditemukan jejaknya dalam BP adalah: Rahasia Maria, Rahasia Rosario, Cinta dari Kebijaksanaan Abadi dan Doa Menggelora. Dalam karya terakhir ini, Montfort memberikan ulasan tentang kerjasama antara Roh Kudus dan Maria, para misionaris yang disebutnya juga tentara dan orientasi karya kepada orang-orang miskin – walaupun tentang semuanya ini sudah termuat juga dalam BS.

Data perjumpaan Duff dengan BS dan karya-karya lain dari Montfort sebelum pendirian Legio Maria sudah menjelaskan mengapa BP ini penuh dengan semangat jiwa Montfort. Sebab spiritualitas Montfort menggerakkan semua orang, termasuk Duff dan semua Legioner untuk menerima Maria secara utuh sebagai pribadi, dalam hidup kristiani. Maka dara spiritualitas marial Legio Maria bukanlah penampakan tertentu dari Maria seperti kepada St. Katerina Labouré dengan medali wasiat dan patung Maria tak bernodanya – walaupun terkait dengan sejarah pendirian Legio – , bukan berdasarkan kebaikan tertentu dari Maria, bukan berdasarkan episode tertentu dari hidup Maria, bukan berdasarkan dogma tertentu tentang Maria…..- walau semuanya itu tentu saja dihayati dalam Legio – , tapi terutama berdasarkan Pembaptisan, seperti yang diajarkan Montfort. Setiap orang yang dibaptis (kristiani) harus menerima Maria sebagai ibunya. Dan tentang hal ini, Duff belajar dari Montfort.

Sehingga walaupun ada keberatan untuk mencantumkan nama orang kudus dari negara tertentu sebagai Pelindung Legio, namun untuk Montfort yang dipikirkan bukanlah asalnya dari Perancis, tapi pengaruh rohaninya bagi Legio: ia sungguh seorang guru Legio.

Atas dasar semuanya itu, para Montfortan, misalnya di Amerika, banyak memperkenalkan Legio Maria dan kehidupan Frank Duff[9] sendiri antara lain melalui penerbitan mereka, Montfort Publications. Tapi juga di Indonesia, khususnya waktu di Bandung, banyak romo SMM menjadi Pembimbing Rohani untuk aneka presidium dan kuria. Lalu berhubung literatur ilmiah tentang Legio Maria itu termasuk langka, Handbook atau Buku Pegangan Spiritualitas Montfortan, Jesus Living in Mary, yang diterbitkan Montfort Publications juga sampai menurunkan satu artikel khusus tentang Legio Maria, karangan Pater Roger M. Charest, SMM[10].

 [1] Buku Pegangan selanjutnya akan disingkat BP, dan nomor yang menyusulnya merujuk kepada halaman Buku Pegangan di mana sebuah kutipan atau inspirasi rujukan ditemukan.

[2] Seseorang melaksanakan tugas kerasulan bukan demi kebaikan itu sendiri dan demi orang lain tapi demi memperoleh jasa, dengan demikian bagi dirinya sendiri, yang dengan jasa itu mereka diselamatkan dari api penyucian, walaupun juga dapat diterapkan untuk membantu sesama. Bentuknya misalnya adalah dalam hal menghitung jam tugas, menghitung “bunga-bunga rohani”. Bdk. Praktik indulgensi atau aflaat. Dengan praktik ini sesungguhnya seseorang diharapkan semakin melakukan kebaikan secara cuma-cuma, yang dipersembahkan kepada Allah, untuk kemuliaanNya. Bukan melakukan kebaikan karena mencari indulgensi pada dirinya sendiri dan untuk keselamatan diri.

[3] Pandangan dualisme tentang baik dan jahat. Yang baik adalah Gereja, yang jahat adalah dunia. Padahal Gereja Juang ini ada dalam dunia ini dan dunia adalah tempat Penjelmaan Sang Sabda.

[4] Legio Maria hadir pada 1928 di Scozia (Scot), 1929 di Inggris, 1931 di India, 1932/1933 di America Serikat dan Australia, 1934 di Selandia Baru, Africa dan America Latin, 1938 di China, lalu kemudian di negara-negara Eropa daratan. Di Indonesia: dimulai pada 1951, dengan kota awal Medan, dibawa oleh seorang envoy bernama Miss Theresia Shu. Lalu Pater Paul Janssen CM memulai Legio Maria tahun 1952 di Kediri, disusul tahun 1953 pembentukan presidium lain di Malang, Blitar dan Madiun. Tahun 1956 dimulai di Bandung lalu ke Cirebon. Tahun 1969 di Yogyakarta lalu terus ke Semarang dan Surakarta. Tahun 1977/1978 ia terus merambah ke Jakarta. Untuk sejarah masuknya Legio Maria di Indonesia, cfr. J. Widayaka CM, Mengenal Legio Maria, Buku Seri Pertama, Senatus Malang, hlm. 19.

[5] Dalam tulisan ini kadang Legio Maria disingkat LM saja.

[6] Terutama dalam proses menuju beatifikasinya, baik kalau para Legioner meningkatkan devosi kepadanya: berdoa dengan pengantaraannya untuk intensi pribadi maupun untuk memohon pencerahan darinya.

[7] Selanjutnya disingkat BS atau kadang ditulis dengan judul singkatnya, Bakti Sejati. Dan nomor yang menyusul setelah singkatan ini bukan merujuk ke nomor halaman buku seperti yang terjadi dengan BP, tapi ke nomor paragraf atau artikel dalam buku tersebut. Cara merujuk yang seperti ini berlaku juga untuk semua karangan St. Louis-Marie de Montfort.

[8 Http://www.arlingtonregia.com/Legionsaints/frankduff.html+montfort+and+duff&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id, diambil pada Jumat, 4 April 2008, jam 10.30 dari Joyo Grand.

 [9] Frank Duff (Founder of the Legion of Mary), Robert Bradshaw, Montfort Publications, Bayshore, New York, 1985.

[10] Dalam Stefano de Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Handbook of the Spirituality of St. Louis-Marie de Montfort, Montfort Publications, New York, 1994, hlm. 597-606.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme