MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Keluarga

Keluarga

              Louis-Marie Grignion dilahirkan di Montfort-sur-meu pada 31 Januari 1673. Ia dibaptis keesokan harinya di Gereja Paroki St. Yohanes. Dia adalah outra kedua dari 18 bersaudara (8 putra dan 10 putri). Ayahnya bernama Jean-Baptiste Grignion (1647-1716) adalah seorang pengacara yang berwatak keras dan temperamental. Ibunya bernama Jeanne Robert de la Viseule (1649-1718) – yang ketiga saudara ibunya menjadi imam –adalah seorang yang taat beragama, lemah lembut dan sabar. Ibunya merupakan putri walikota Rennes.

Louis-Marie merupakan anak sulung. Keluarga ini menganut sistim partriakal dan dibesarkan dengand isiplin keras dan takwa kepada Tuhan. Dari delapan anak laki-laki, empat orang diantaranya meninggal waktu masih kecil, tiga orang putra menjadi imam dan satunya menikah. Kedua saudari Montfort menjadi biarawati. Putri yang ketika meninggal dunia sebagai anggota Ordo St. Fransiskus. Beberapa hari sesudah dibaptis, Montfort dititipkan kepada istri seorang petani yang baik hati di La Bchelleraie, “Ibu Andre” seorang Katolik yang baik.  Dan Louis hamba Tuhan ini, seumur hidupnya amat mencintai dan berterima kasih kepadanya. Sebuah salib telah dipancangkan di tempat bekas rumahnya. Hal ini mengingatkan orang bahwa tempat ini pernah dikuduskan oleh buain seorang kudus. Kehidupan di desa amat keras, namun penuh kedamaian dan gembira. Kenang-kenangan akan hutan-hutan yang misterius dan lading-ladang yang tenteram akan sangat membekas pada waktak mistik anak ini, dengan daya tariknya yang tenang.

Sesudah menjadi anak yang kuat, Ibu Andre mengembalikan Louis-Marie ke rumah ayahnya. Nyonya Grignion yang diserap oleh pemeliharaan keluarganya yang semakin besar, heran bila melihat Louis-Marie begitu tenang disampingnya, smabil mengulang doa-doa yang telah diajarkan oleh pengasuhnya. Tetapi keluarga itu tidak lama tinggal di Montfort. Karena kesulitan ekonomi, Tuan Jean-Baptiste Grignion meninggalkan kota dan pindah ke Bois Marguer, sebuah rumah di desa Iffendic, empat kilometer dari kota. Bersama ibunya yang saleh, Louis-Marie pergi ke Gereja di Iffendic. Di depan altar ia berdoa lama seklai dan dengan penuh semangat. Bersama dengan penduduk desa, ia menghadiri misa hari minggu dan membiarkan Sabda Allah mendorongnya denganc ara yang tak terungkapkan. Sepulangnya dari gereja, dia sering mengulangi hampir-hampir harafiah khotbah atau pelajaran Katekismus yang telah didengarnya. Pastilah ia sering sekali, sendirian atau bersama anak-anak lain melewati jaln sempit berbelok-belok di desa itu. Untuk persiapan komuni pertamanya dengan penuh smengat ia mendengarkan imam-imam parokinya dan mendapat dari mereka pelajaran-pelajaran pertama yang menambah pengetahuan dsar yang dipelajarinya di rumah. Seperti Yesus di kenisah, ia membuat guru-gurunya kagum karena kepatuhan, kecerdasan dan usahnya. Kemudian hari guru-guru tersebut menyatkan bahwa ia tak pernah menyulitkan mereka. Semua tugas dikerjakna dengan ikhlas dan tak pernah harus dipaksa. Sudah sedemikain besarnya rahmat yang ada dalam jiwanya di waktu itu. Lihat seterusnya di….

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme