MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Paroki St. Montfort Poco

Paroki St. Montfort Poco diresmikan oleh Almarhum Mgr. Eduardus Sangsun, SVD pada 31 Desember 1999. Paroki ini terletak kira-kira 11 KM dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Paroki St. Montfort Poco mencakup empat stasi dan dua wilayah. Pelayanan bisa menggunakan kendaraan bermotor (sepeda dan mobil). Mata pencaharian umat umumnya adalah petani. Konfrater yang berkarya di paroki ini adalah:

  • P. Yakobus Rua Bai, SMM (Pastor Paroki),
  • P. Blasius Lion, SMM (Pastor Rekan sampai tahun 2016),
  • Fr. Yohanes Jehadun, SMM (Frater TOP II tahun 2015 dan telah mengundurkan diri tahun yang sama. Diakon Martinus Tamur, SMM (2016-Juni 2017).
  • P. Robertus Ludok Kelore, SMM (Agustus 2017-…)
  • Fr. Rio Sudirman, SMM (TOP I, Agustus 2017-….)

 

TAMAN DOA POCO

(P. Yakobus Rua Bai, SMM)

Paroki Santo Montfort Poco, telah berusia 16 tahun, namun paroki ini belum memiliki Gua Maria untuk meningkatkan semangat devosional umat kepada Bunda Maria, seturut semangat Pelindung Paroki – Bapa yang baik dari Montfort – yaitu Santo Montfort. Maka, muncullah beberapa pertimbangan awal berdirinya Gua Maria ini: pertama, kami teringat akan kisah Santo Montfort yang ketika usia remaja sangat mencintai doa dan devosi kepada Bunda Maria. Setiap setelah selesai misa, ia selalu berdoa di depan patung Bunda Maria yang berada disamping gereja. Kedua  kami teringat kisah tulisan Santo Montfort “Melalui Santa Perawan Maria, Yesus Kristus telah datang ke dunia. Melalui Maria pulalah Dia harus berkuasa di Dunia” (BS No.1). Ketiga, adanya dorongan dari para konfrater yang mengingatkan supaya ada kekhasan bagi paroki yang dilayani oleh Serikat Maria Montfortan. Keempat, keadaan dan situasi pohon beringin yang sudah bertumbuh besar sehingga akarnya merusak lantai gereja paroki. Maka, pohon ini harus ditebang dan kemudian diubah menjadi taman doa, yakni di sisi kanan gereja dari arah pintu masuk Gereja St. Montfort Poco. Rencana pemotongan dan pembanguan taman doa itu muncul tanggal 21 September 2016 ketika saya sedang berada dalam kegelisahan pribadi yang tak bisa beristirahat siang dan langsung dieksekusi tanggal 22 September 2016 (Pohon beringin dan kemiri dipotong).

Antara Gua dan Taman Doa

                Ketegangan terjadi ketika kami hendak memulai pembangunan. Antara memilih membangun Gua Maria atau membangun Taman Doa dengan atap ijuk. Membangun Gua Maria rasanya sulit karena dana tidak cukup dan tiadanya tempat berlindung ketika berdoa diwaktu hujan. Akhirnya, pilihan jatuh pada yang kedua yakni membangun Taman Doa dengan atap ijuk. Mengapa atap ijuk? Karena umat di Paroki St. Montfort Poco memiliki pohon enau/aren. Namun faktanya, justru kami susah mendapatkan ijuk lagipula harganya mahal. Mengingat modal keuangan paroki sedikit maka kami memilih membangun Taman Doa dengan atap seng.

Apa yang bisa dibuat untuk membaharui semangat umat Allah

Sebagai Pastor Paroki Santo Montfort Poco, saya selalu dan selalu bertanya diri “apakah yang bisa kami bertiga (Pater Jack, Diakon Martin, SMM dan Frater Salves, SMM) lakukan demi membawa umat pada sebuah pembaharuan hidup? Apakah hanya sebatas pelayanan rutinitas saja?” Dengan penuh keyakinan kami akan menjawab “Tidak”. Sebuah pembaharuan hidup tentu lebih penting dari pada sebuah pelayanan yang rutinitas saja. Pemharuan hidup tentu memiliki dua makna penting, yakni: 1) pembaharuan ke arah yang lebih baik sesuai dengan kehendak Allah dan 2) sebaliknya, ke arah yang tidak baik kalau hanya mengandalkan kehendak sendiri. Karena itu perlu untuk mendengarkan Tuhan yang hadir dalam diri sesama, baik konfrater maupun para pengurus dan umat Allah. Dengan membuka diri melalui komunikasi bersama dengan orang muda khususnya Jery dan Evan, kami membuat sebuah perencanaan untuk membuat taman doa dan Jery membuat gambar taman doa dengan ukuran panjang 8 meter dan lebar 4 meter. Dengan gambar dan ukuran yang ada kami memberanikan diri untuk menyampaikan kepada tukang yang akan mengerjakannya, yakni Bpk. Ignatius, Bpk. Marsel, Bpk. Lius, serta Yul. Keempat orang ini memulai pembangunan Taman Doa. Material batu pasir, semen, besi, kami pesan melalui umat di Tengkuk Tok 1 yakni Bpk. Maksi. Modal atau dana awal 7.000.000 rupanya tidak mencukupi terutama pada awal pembangunan (1 bulan pertama yaitu bulan September). Sebagai solusi, awal bulan Oktober kami memberkati lilin dan membagikan lilin kepada 18 KBG di wilayah 1-4 (Pusat Paroki) dan mereka harus membayar. Maka, pada awal November uang lilin selama Doa Rosario terkumpul sebesar 6 juta. Selain itu, umat secara pribadi memberi sumbangan berupa uang dan material, antara lain, pasir. Selain itu kami juga mendapatkan bantuan dari beberapa orang di Jakarta. Berbekalkan kerjasama yang baik dari tukang dan juga umat yang kerja bakti pembangunan Taman Doa serta pengerjaan tangga dapat diselesaikan setelah hari Raya Natal. Ada sukacita ketika melihat perkembangan pembangunan, umat terlibat ambil bagian untuk menyelesaikan pembangunan Taman Doa secara fisik, mengajak umat, KSM, Kelompok “Ca Nai: Sehati ” (kumpulan para orang tua yang anaknya di Seminari Menengah, Aspiran, Postulan, Novisiat, Seminari Tinggi, suster, frater, bruder dan imam yang berasal dari Paroki Poco  untuk berdoa bersama agar pembangunan taman doa dapat terselesaikan dengan baik. Namun ada juga rasa duka yakni begitu banyak dana yang dikeluarkan untuk tukang, material, dll. Bersyukurlah pada tanggal 31 Desember 2016, bertepatan dengan ulangtahun paroki yang ke-17 kami memberkati Taman Doa Maria Pengantara Segala Rahmat, yang didahului dengan acara adat Manggarai “Kebeng” pada tanggal 30 Desember 2016.  Kami mendapat sumbangan patung Bunda Maria Kerahiman Ilahi, dari seorang bapak di Jakarta, dan patung dibuat di Yogyakarta. Pada tanggal 23 Januari 2017, patung tiba di Poco. Pada tanggal 29 Januari 2017, Patung Bunda Maria diberkati di Gereja. Pembangunan Taman Doa ini menghabiskan dana sebesar 76.000.000. Kini taman doa sudah dapat digunakan untuk meningkatkan devosional umat kepada bunda Maria. Kelompok KSM Poco menggunakan sebagai tempat pertemuan bersama setiap minggu ke-3 dalam bulan. Pembangunanan Taman Doa sudah selesai dan digunakan tetapi umat tetap memberikan masukan untuk penataan selanjutnya yakni menyediakan tempat untuk kolekte, tempat untuk mentahtakan lilin dan juga membuat pagar sehingga membuat umat lebih aman dan tenang untuk berdoa di Taman Doa. Jalan yang terbaik untuk menjadikan diri sebagai pembawa pembaharuan adalah percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan berjalan bersama Maria serta membangun kerjasama yang baik dengan sesama, umat Allah, tegas, jujur dan terbuka.

Mengandalkan Allah Saja melalui Maria dalam tangan kasih sesama

Perencanaan pembangunan Taman Doa, boleh dikatakan hanya bermodal nekat. Tidak punya modal atau dana yang besar hanya sedikit saja. Hanya bermodalkan pemberian Allah melalui orang lain, yang memberi dengan tulus hati. Seraya mustahil untuk dapat terselesaikan dengan baik, namun bagi Allah tidak ada yang mustahil. Jika mengandalkan Allah dan memasrahkan diri ke dalam tangan kasih Bunda Maria pasti dan yakin akan membuahkan hasil yang membahagiakan. Maka ingatlah kata-kata Bunda Maria “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh. 2:6). Inilah tanda pertama di Kana, yang membuat para murid percaya. Percayalah bahwa kehendak Allah akan terlaksana dalam setiap karya pelayanan jika selalu mendengarkan Tuhan: “FirmanMu Pelita Bagi Kakiku dan Terang Bagi Jalanku (MZM 119:105).

 Akhirnya…

Bersukacita dalam Tuhan, bersukacitalah. Karena Dialah yang membuat semua rencana manusiawi kita dapat terselesaikan dengan baik dan semuanya indah pada waktunya. Bersyukurlah selalu dalam tiap langkah hidup, karya dan pelayanan dan terimalah setiap berkat dan kesempatan yang Tuhan anugerahkan, dan berdoalah selalu bagi mereka yang telah memberikan sumbangan apapun bagi hidup kami”. Itulah ungkapan doa, syukur dan pujian yang dapat umat Paroki St. Montfort haturkan kepada Tuhan atas berkat dan kasihNya bagi kami pada tahun Kerahiman Ilahi serta Tahun Liturgi bagi kami Umat Allah Keuskupan Ruteng. Kini kami mulai memasuki Tahun 2017 sebagai Tahun Pewartaan. Umat Allah Paroki St. Montfort Poco mulai bangkit dan membaharui hidup dengan terlibat ambil bagian dalam ekaristi, ibadat, doa serta kegiatan bersama di tingkat KBG, Stasi, Wilayah, Paroki dan Keuskupan. Berkat Tuhan dan doa bunda Maria Pengantara segala Rahmat menyertai kami umat Paroki St. Montfort Poco .

 

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme