MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Paroki St. Montfort PIR Butong

Paroki St. Montfort PIR Butong diresmikan oleh Mgr. A. Sutrisnaatmaka, MSF (Uskup Keuskupan Plangka Raya) pada 1 September 2013. Nama St. Montfort yang menjadi nama pelindung paroki ini didedikasikan untuk menandai kehadiran karya SMM secara definitif di Keuskupan Palangka Raya.PIR Butong Maka sejak peresmian ini, terbentuklah suatu komunitas pastoral SMM di PIR Butong dengan Pastor Parokinya, P. Yusup Gunarto dan dibantu P. Kosmas Ambo Patan, sebagai pastor rekan, ditambah Bruder Niko Narimo dan Fr. Ryan, SMM (Frater TOP). P. Yusup Gunarto tidak lama menjadi pastor paroki di sini, karena ia pindah ke Purwokerto pada awal tahun 2014. Sebagai gantinya, P. Ignatius Widodo SMM diangkat Provinsial untuk menjadi pastor Paroki St. Montfort PIR Butong. Saat ini, P. Ignasius Widodo, SMM didampingi P. Kosmas, SMM (Bulan Agustus 2013. Sebelum paroki ini diresmikan P. Kosmas sudah bertugas di Paroki Muara Teweh sebagai pastor rekan); P. Ariston, SMM (mulai tahun 2013), P. Frumens (mulai Agustus 2014-Agustus 2016), Bruder Niko (sejak tahun 2013). Frater TOP (2015) adalah: Theodorus Meko Koten, SMM dan Frater Top Tahun 2016 adalah Fr. Oris Goti, SMM (undur dari SMM 2017). Tahun 2015, P. Kosmas diangkat menjadi pastor Paroki PIR Butong dan P. Yohanes Baptista Waja, SMM menjadi pastor rekan sejak Juli tahun 2016.

Kegiatan Paroki Tahun 2016:

ANGIN SEJUK DI RIMBA SAWIT PIR BUTONG
(by Yohanes Baptista Waja, SMM)

Beberapa hari terakhir rasanya agak adem, hujan makin sering menyapu tanah Butong. Jauh berbeda dengan waktu beberapa pekan sebelumnya. Tanah Butong terlalu gerah untuk sekedar buat kami berdiam di dalam bilik-bilik. Puji Tuhan, hujan melimpah telah melunasi banyak kerinduan yang terpendam. Ikan di kolam bisa bernafas lega, bibit sayuran hijau mulai bisa disemai; ehhh ngomong-ngomong pisang buah karya Fr Ryan dan Rm Umeng udah dipanen. Panjangnya bikin bengong, saking gedenya. Tingginya tidak beda jauh dengan Pater Obeth (pizzz Pater hehe.. Salam dari tengah ke barat Borneo). Kami hanya bisa bergumam bahwa harapan bisa bertunas dari kersangnya kehidupan. Ya, namanya juga harapan, bisa saja mekar di mana-mana dan dalam situasi apapun. Situasi ini seperti angin yang menyapu dari balik pelepah sawit; yang terlalu murah untuk terus dirindukan.
Kami memang sedang merindukan apa saja yang menyegarkan, entah hujan yang melimpah atau angin sejuk yang menyegarkan. Situasi sosial-ekonomi utamanya telah membuat begitu banyak orang khawatir tentang hidup mereka. Sebab banyak dari warga yang sebagian adalah (umat) Gereja Butong menghadapi kesulitan mendapatkan penghasilan karena memiliki masalah dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Tidak sedikit yang memilih untuk pergi ke tempat lain yang kiranya menjamin kehidupan dan pendapatan mereka. Sedih sih rasanya, dan perasaan ini menjadi berlipat-lipat tatkala melihat sepinya gereja dan camp-camp umat. Kalau saja mereka pernah mengetahui cara Pater Grignion berkeluh kesah, mungkin mereka juga bertanya seperti dia: “ Apa yang kuminta pada-Mu? ” Entahlah, saya jarang sekali mendengar mereka berkeluh kesah. Kadang memang, ada yang tak sabar dan lekas marah dan putus asa. Yang pasti bahwa mereka berharap adanya campur tangan Tuhan atas perjuangan hidup mereka. Namanya juga orang kecil, tidak mempunyai banyak pilihan selain tetap berjuang sebagai yang terbaik. Mungkin juga dengan tangisan dan air mata yang tertumpah ke dalam hati.
Kami juga turut merasakan getirnya situasi ini. Bayangkan bagaimana susahnya para perantau, tanpa ijazah dan keluarga harus berjuang meminta hak mereka dipenuhi. Kadang harus melewati terik matahari. Mereka seperti para musafir yang sedang mencari, tetapi tidak tahu harus mencari apa. Namun demikian, kami tidak dapat berbuat banyak untuk menolong mereka karena kami “masih muda” dan seringkali masih belajar untuk berbicara seperti seorang bayi belajar menggagap berbicara. Jikalau meminjam kata-kata seorang bendahara yang tidak jujur, “mencangkul aku tidak dapat; mengemis aku malu”. Benar lho, manen sawit itu butuh tenaga ekstra. Kalau ditakar dengan piringan nasi, mungkin perlu dua piring sekali makan, ditambah bonusnya: ehmmm lombok. Saya pernah mencoba memanen satu biji, ternyata sulit juga. Harus rajin-rajin menantang langit alias memandang yang di atas. Maaf bagi yang suka pegal leher. Kata mereka, manen sawit itu taruhannya nyawa pula. Dengar-dengar banyak yang meninggal gara-gara terkena agrek (baca: pisau panen) atau tergilas truk waktu pergi/pulang memanen. Atau ketabrak truk logging karena salah mengambil jalurnya. Beda lho dengan jalur biasa. Ikhhh ngeri juga.

Angin Segar di Tengah Rimba Sawit
Salah satu hiburan yang luar biasa di tengah tantangan ini adalah bahwa kecintaan umat terhadap Gereja tak pernah lekang. Kekecewaan dan kesulitan tidak merampas cinta mereka akan gereja. Bahan persembahan memang tidak sebanyak dulu lagi. Kalau sebelumnya persembahan berjubel di lemari makan pastoran mulai dari sabun cuci Mama Lemon, bumbu masak Royco, beras yang berlebel atau yang sudah dituang di washcom, detergen Daia yang konon pernah dipopulerkan Fadly Zon dan macam-macam lainnya, maka saat ini persembahan seperti agaknya sangat sepi. Akan tetapi, tangan mereka selalu mudah terulur kalau Gereja membutuhkan pertolongan mereka. Kelompok-kelompok kategorial masih hidup. Singkatnya tantangan justru mengubah cara pandang dan kesadaran untuk kian mendekatkan diri mereka dengan Tuhan. Saya teringat akan suatu peristiwa tatkala Yang Mulia Bapak Uskup Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF berkunjung ke Paroki Butong. Antusiasme umat begitu luar biasa dan hal ini jelas terasa dalam keterlibatan dan kegembiraan yang mereka rasakan. Waktu itu, Bapak Uskup memberikan sakramen Krisma, melantik anggota Dewan Pastoral yang baru dan memberkati dua buah kapela stasi. Salah satu stasi, yakni stasi PT BAK letaknya agak jauh dan harus ditempuh dengan kendaraan selama lebih dari sejam. Salah satu pengalaman yang mengharukan adalah bahwa jarak yang sedemikian jauh tidak menyurutkan umat dari luar stasi itu untuk datang menyertai Bapa Uskup melalui jalan licin dan menyeberangi sungai Barito. Hal serupa juga terjadi tatkala Bapak Uskup pergi memberkati kapela stasi Logpond, salah sebuah stasi di pinggir Sungai Barito. Mereka tidak berkeberatan kalau nanti harus kembali larut malam melewati rimba sawit. Eh Ngomong-ngomong, dua buah kapel tersebut dibangun di atas peluh umat sendiri lho; usaha umat sendiri. Ini bukti perjuangan dan kecintaan umat kepada Pribadi yang mereka cintai, bukan? Bapak Uskup sendiri berkesan bahwa perjalanan tersebut sungguh menyenangkan dan kesaksian umat merupakan suatu pengalaman rohani yang kaya.
Berdirinya sebuah bangunan pastoran berlantai dua adalah cerita lain tentang buah dari sukacita injil yang hidup dalam sanubari umat. Saat ini di Maranen terdapat bangunan pastoran baru yang cukup megah. Ada beberapa kamar bagus-bagus, lengkap deh pokoknya. Ceritanya gedung ini pada mulanya timbul atas prakarsa Pastor Kosmas karena terdorong oleh keprihatinan bangunan fisik sebelumnya. Pastor Kosmas dan kawan-kawan lainnya sebelumnya berjuang keras, dari menganimasi umat, mencarikan dana, mencari segala perlengkapan dan lain sebagainya. Eh, tau-taunya keprihatinan berbuah kemanisan luar biasa. Ya, Puji Tuhan! Akan tetapi, kami tetap mengingat bahwa dukungan dan cinta umat seperti pemeran di belakang layar. Bapak uskup pada gilirannya menjadi orang pertama yang merasakan sejuknya gedung baru itu. Sayang sekali, aroma ampas tahu yang paling tidak sedap mendahului Bapak Uskup menyelinap ke kamarnya sehingga harus diusir dengan pengharum ruangan hihihi.Cerita tentang kebaikan ini menjadi sedemikian terasa jika kita sendiri terlibat di dalamnya. Semuanya itu seperti angin segar yang keluar dari rimba sawit.

Momen Pembaruan
Pada suatu kesempatan saat kotbah dalam misa krisma Bapa Uskup melontarkan pertanyaan kepada umat: “Apakah saudara-saudara pernah melihat setan? Umat dan calon krismawan menjawab: “Belummm Bapa Uskup”.“Lha, katanya mau menolak setan dan tipu muslihatnya”, demikian Mgr. Aloysius menimpal. “Sekarang saya beritahu caranya biar bisa melihat setan (atau malaikat), mauuuuuu? Umat mengiyakan tantangan Bapak Uskup penuh semangat, karena mereka mengira pasti dapat ilmu baru. Kata Bapak Uskup, “Nanti kalau pulang ambil cermin ya.., lalu lihat sendiri dicermin itu bagaimanakah bentuk mata setan itu, terus hidungnya, terus telinganya, dan semuanya. Kalau matanya merah berarti itu matanya setan; kalau hidungnya belang-belang, nah itu hidungnya setan, kalau mulutnya tiba-tiba dua, maka itu pasti wajah setan”. Semua umat tertawa gimana gitu, lucu tapi mengena juga sehingga ada yang tertawa dengan wajah aneh. Kalau sekedar membayangkan, kayak Frater Njo kalau sedang marah (hehe, salam kompak galatikos, bro). Bapa Uskup sebenarnya sekedar mengingatkan kami semua tentang pentingnya mengenali diri, dan lebih dari itu berusaha untuk membarui diri jika ada yang salah. Saya teringat akan suara Paus Fransiskus seperti yang pernah dikutip Reuters: “Kita dapat membangun banyak hal. Akan tetapi, jika kita tidak memberitakan Yesus Kristus, maka ada sesuatu yang salah. Mereka sudah lupa kalau Yesus memandikan orang yang berpenyakit lepra dan makan bersama dengan para pelacur…. Maka, keluarlah, berbagi dan bertanya!!!” Panggilan untuk keluar, berbagi dan bertanya ini coba kami hayati dalam pengalaman kecil harian kami antara lain mencuci piring, memasak, berkebun dan lain-lain. Siapa tahu, Yesus bisa dilayani dengan cara begitu, selain dalam pelayanan-pelayanan sakramen. Siapa tahu! Saya kira Pater Steff di seberang sedang mencoba hal yang sama. Dengar-dengar beliau sedang belajar bagaimana caranya menggoreng telor. Gemes deh kalau mendengar cerita Pastor Stef menggoreng telor. Kalau soal goreng-menggoreng, Pastor Widodo memang ahlinya. Pastor Widodo paling jago kalau soal menggoreng telor mata kerbo.
Sekembalinya Bapa Uskup, PIR Butong sekali lagi didatangi oleh para konfrater dari Kandui. Awalnya dikira siapa. Eh..tau-taunya Pastor Widodo, Pastor Steff dan Bro Niko. Datangnya malam-malam sih. Seharian kami berkumpul bersama-sama, dan separuh waktu dari itu kami berdoa dan membicarakan pengalaman pastoral kami serta hal-hal terkait dengan kehidupan konggregasi. Ada banyak hal yang menyejukan dari perjumpaan itu dan kami boleh merasakan kegembiraan sebagai satu kawanan kecil. Setelah makan siang, para konfrater kembali ke Kandui dan rupanya tiba dengan selamat. Semua perjumpaan yang kami alami telah sungguh meneguhkan, menggembirakan dan menyadarkan kami akan pentingnya pembaruan dan pembaktiandiri. Akhirnya, seperti angin segar di rimba sawit, kami dan siapa pun dipanggil untuk keluar, berbagi dan bertanya, seperti kata Paulus, “baik atau tidak baik waktunya”. Dengan Salam Maria, kami menitipkan salam buat konfrater semua. (Pater Yohanes Baptisa Waja, SMM, vikaris paroki PIR Butong).