MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Misi PNG

Kisah dari Tanah Misi PNG

Salam jumpa kembali buat para konfrater semua dari tanah PNG. Membaca Internos edisi-edisi sebelumnya terlihat begitu banyak hal bagus yang menghiasi perjalanan serikat di tanah air. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah dengan adanya group What’s app SMM Indonesia. Di sana setiap konfrater dapat saling menyapa dan berbagi informasi satu sama lain. Kami yang di PNG juga ikut ambil bagian tapi tidak seintens para konfrater di Indonesia sehingga ada banyak informasi yang tidak dibagikan kepada konfrater sekalian. Meski demikian kita toh punya media Internos untuk saling berbagi kisah. Kisah ini adalah kisah lama yang baru bisa saya sharingkan dengan konfrater pada edisi kali ini.

Meninggalkan Paroki St. Montfort, Daru

Belum puas rasanya bertugas di Paroki St. Montfort Daru. Tapi inilah panggilan, siap berangkat kemana saja saat diperlukan. Lepas bebas. Kiunga menjadi tempat perutusan saya yang baru. Sebenarnya saya sudah berada di Kiunga tiga bulan sebelumnya. Pertengahan Mei 2016, saya diminta bapak uskup – Mgr. Gilles, SMM – untuk membantu pelayanan di tiga paroki: Paroki Katedaral Kiunga, Paroki Kungim dan Paroki Tarakbits karena kekurangan imam. Tiga bulan menjadi masa yang menarik dan saya menyebutnya ‘misi keliling’. Setelah menjalani misi keliling selama kurang lebih tiga minggu, saya diberitahu bapak uskup bahwa saya akan melanjutkan misi saya nanti di Paroki Kamusi bersama dengan pastor SMM yang berasal dari Madagaskar. Akan tetapi, hal ini tidak terealisasikan karena bapak uskup punya pilihan lain. Di akhir ‘misi keliling’, Mgr. Gilles, SMM mengatakan kepada saya “kamu tinggal di Kiunga di katedral”. Saya terkejut. Saya sebenarnya menolak untuk bertugas di katedral karena saya belum siap untuk itu. Pastor Mas John pernah bilang bertugas di katedral punya tekanan yang lebih. Saya sadar akan hal itu. Tapi itulah misi, kerapkali kita melakukan sesuatu tanpa kompromi dengan situasi, pilihan atau kehendak pribadi. Ini sebuah tantangan tetapi ini juga merupakan berkat. Jawaban YA saya atas tugas ini juga lahir dari dua kesadaran ini, bahwa tugas ini adalah tantangan sekaligus berkat. Saya diberi kesempatan untuk kembali ke Daru selama dua minggu untuk berpamitan dengan umat paroki. Dan pada tanggal 26 Agustus 2016 saya meninggalkan Daru.

Komunitas Liberos

Saya meninggalkan Komunitas Daru dan bergabung di Komunitas Liberos. Di situ sudah ada Pastor Mas John, Pastor Leo dan Pastor Roy. Saya menjadi pendatang baru di komunitas ini. Komunitas Liberos adalah komunitas internasional walau secara jumlah didominasi oleh misionaris asal Indonesia. Kami berempat tinggal dalam rumah yang sama dan punya tanggungjawab berbeda. Saya dan Pastor Roy bertugas di Paroki, Pastor Mas John di Admin Keuskupan dan Pator Leo bertugas di DTPA. Meski demikian kami berusaha untuk menjadikan Komunitas Liberos ini sebagai komunitas persaudaraan. Komunitas yang membuat masing-masing kami belajar untuk menjadi saudara bagi satu sama lain. Dalam hal ini saya merasa beruntung karena saya tidak merasa komunitas ini sebagai komunitas yang baru. Tidak perlu waktu yang lama untuk beradaptasi. Selain itu dengan komunitas ini, saya punya teman untuk bertanya, berdialog dan bercerita tentang banyak hal.

Perpisahan dengan Sr. Pierrete Gagnon, DW.

Tanggal 12 Februari 2017 adalah hari terakhir bagi Suster Pierrete. Dia menjadi yang terakhir dari 54 suster DW asal Kanada yang bertugas di Papua New Guinea. Dia bertugas di PNG selama 50 tahun. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa. Tetapi yang lebih berkesan tentu saja pengabdian, pelayanan kepada umat selama kurun waktu 50 tahun. Karena itu sangatlah pantas untuk dirayakan bersama umat. Awal mula saya bersama dewan berpikir untuk merayakannya pada level paroki sebagai ungkapan terima kasih atas pelayanannya kepada umat. Tetapi dalam konsultasi dengan bapak uskup beliau mengatakan perayaan ini tidak semata-mata terfokus pada Suster Pierrete tetapi juga sebagai perayaan syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang mengutus para Suster DW dari Kanada untuk melayani umat di tanah misi ini. Karena itu, kita juga merangkul semua petugas pastoral/services keuskupan untuk terlibat dalam perayaan ini, juga beberapa paroki yang ada di sekitar yang mau bergabung untuk merayakannya. Perayaan disiapkan secara baik dan meriah dan dilanjutkan dengan resepsi sederhana dan selanjutnya umat secara pribadi/kelompok memberikan hadiah-hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan yang diberikan oleh suster-suster DW dari Kanada.

Perayaan ini berlangsung sehari, tetapi kenangan akan apa yang mereka lakukan tidak akan pernah selesai. Dalam sambutannya Sr. Pierrete mengatakan “dalam kurun waktu 50 tahun ini saya tidak merasa sia-sia. Karena selama 50 tahun saya telah mencoba membuat kotak cerita saya, tentang saya dan mereka yang saya jumpai dalam pelayanan. Dalam kotak itu tersimpan semua memori yang baik dan yang buruk. Ada susah dan senang, sedih dan gembira, tertawa dan menangis. Semua itu terjadi antara saya dan kamu. Tetapi lebih dari itu, semua ini menjadi indah karena Tuhanlah yang mengijinkan hal ini terjadi. Semuanya ini tidak akan terjadi bila Tuhan tidak mengutus saya ke tempat ini. Itulah hal yang paling menggembirakan dari pada sebuah perayaan”.

Perayaan ini menjadi moment refleksi saya bahwa 50 tahun adalah waktu yang lama. Dan mereka punya banyak cerita yang akan menjadi kenangan indah dalam hidup mereka dan tentu saja semua itu menjadi lembaran-lembaran cerita yang akan menghiasi hidup mereka di hari tua. Dan sekarang kita yang ada di sini adalah gambar nyata dari mereka yang boleh saya sebut sebagai pelukis. Gereja yang mereka gambar adalah saya dan umat bukan yang lainnya. Sekarang apakah semua yang telah kita jalani bersama misionaris dalam kurun waktu 50 tahun akan menjadi gambar yang indah dalam memori, dan menjadi lembaran cerita indah yang kita wariskan kepada penerus? Jika ini hanya akan menjadi sebuah kisah yang didokumentasikan dalam memori maka saat  beranjak pikun semuanya akan jadi samar-samar. Gambar yang mereka buat ini menjadi contoh bagaimana saya akan melukis gambar berikutnya tentang saya, umat dan Tuhan yang telah menyiapkan semua alat untuk melukis dan memberikan saya kesempatan untuk melukis dengan memandang pada hasil karya yang telah dihasilkan sebelumnya. Demikian kisah saya dari tanah misi. See you next…….

*P. Laurentius Ola Ruing, SMM, Misionaris Montfortan di PNG.

 

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme