MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Misi Perancis

Cerita dari “Negeri Leluhur”, Perancis

Apa kabar konfrater? Salam hangat dari Marillais, France. Yah, tidak terasa sudah lima bulan lebih saya berada di negerinya St Montfort. Banyak peristiwa menarik, menantang dan inspiratif  saya jumpai. Sejak awal perjalanan dari Indonesia hingga tiba di Marillais, France. Walau tak sempat merekamnya secara detail, namun beberapa moment menarik, akan kubagikan kepada kita semua di sini.

Saya berangkat dari Indonesia pada Sabtu, 10 Desember dan tiba di Paris pada hari yang sama pula.  Dari Bandung-Jakarta-Dubai, saya bersama Pater Dwi, SMM. Kami menempuh perjalanan yang cukup menegangkan  (Jakarta-Dubai). Hujan dan petir silih berganti. Serasa seperti malaikat pencabut nyawa seperti di sinetron-sinetron. Ia datang tiba-tiba dan menyambar korban. Sungguh, ini bukan sinetron tetapi benaran. Seram dan menakutkan. Kendatipun demikian, saya merasa agak lega juga karena saya melihat P. Dwi, SMM selalu mendaraskan rosario sayup-sayup di sampingku. Sungguh beliau hadir sebagai malaikat pelindung dan pemudar rasa takut akan alam yang sedang tak bersahabat. Kelegaan saya semakin bertambah tatkala  pesawat kami mendarat dengan selamat di Dubai.

Di Dubai, kami dua berpisah. Saya berangkat ke Paris dan beliau menuju ke Roma. Di Dubai, saya tidak kesulitan melewati proses keimigrasian bandara. Demikian juga ketika saya berada dalam pesawat. Sungguh nyaman dan membuatku tertidur. Intinya bahwa perjalanan Dubai-Paris sungguh berbeda dengan Jakarta-Dubai. Penerbangan yang ditempuh selama tujuh setengah  jam terasa begitu singkat. Akhirnya pun saya tiba di Paris dengan aman.

Di Bandara Paris, saya tak kesulitan menjumpai P. Arnold, SMM yang menjemputku. Ia datang bersama P. Andre, SMM. Mereka berdiri tepat di luar pintu keluar bandara. Betapa senangnya saya ketika bertemu mereka terutama P. Arnold. Sebab, sudah sekian tahun kami tidak bertemu, semenjak ia menjadi formator saya di skolastikat Malang. Beliau tampak segar dan semangat. Gaya bicara dan guraunya masih seperti dulu. Terpancar pada wajahnya sebuah signal bahwa ia akan menjadi guide terpercaya bagi saya selama dua hari di Paris.

Signal guide terpercaya ini rupanya tidak meleset. Sebab, ketika sampai di rumah dan bertemu dengan konfrater yang lain, P. Arnold, SMM mengajak saya untuk mengikuti misa hari minggu di Katedral Notre Dame de Paris. Ajakan beliau langsung saya terima dengan senang hati. Saya suka jalan juga soalnya. Sambil berjalan keliling katedral, ia menjelaskan beberapa peristiwa penting terkait dengan pengalaman St Montfort di tempat ini. Besoknya, kami melancong ke Gereja St Sulpice. Di sini saya memandang patung Pendiri serikat kita: besar, tegap, dan berwibawa. Saya mengambil waktu untuk duduk berdoa, membayangkan apa yang dilakukannya di sekitar gereja ini dulu.

Dari Saint Sulpice, kami menyusuri sebuah jalan yang diyakini menjadi tempat St. Montfort menulis buku CKA. Sulit bagi kami untuk memastikan dimana “biara suster tempat dia menulis  CKA di bawah tangga”. Situasinya sudah berubah. Dulu tempat ini merupakan sebuah lorong. Bisa digambarkan seperti gang-gang di perkampungan. Sekarang bangunan-bangunan megah berjejal, mempertontonkan keadidayaan sekaligus kelembutan (keindahan kota Paris. Sejarah SMM pun menulis bahwa pada lorong itu, St Montfort merenung dan menulis kisah-kisah cinta kebijaksanaan ilahi yang ia alami dalam hidupnya.

Sayang waktunya terlalu singkat. Setelah dua hari di Paris, saya harus berangkat ke Saint Laurent. Di Saint Laurent, saya tinggal sekomunitas dengan P. Paulin, (Madagaskar) dan P John Marie, (India). Sebetulnya dengan P. Arnold juga karena dialah Superior di komunitas ini. Akan tetapi dia tinggal di Paris karena studi dan sesekali ia datang mengunjungi kami. Jadi, bersama merekalah, saya melewati perayaan Natal dan tahun baru kemarin.

Pada 8 Januari 2017, saya berangkat ke Angers (Mission Langues) untuk mengambil class Français. Di Angers, saya tinggal di asrama bersama 30-an students. Kami berasal dari berbagai negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Menariknya bahwa, di salah satu ruang terbuka di tempat kursus tersebut, saya melihat foto P. Arnold dan P. Rafael Lepen. Kata responsable Mission Langues, mereka berdua sangat terkenal di sana pada zamannya. Saya merasa  bangga mendengarnya. Setidaknya mereka menciptakan sejarah yang selalu dikenang (di sana) terutama untuk Montfortan Indonesia yang akan menyusul kelak.

Di Angers, saya tinggal selama tiga bulan. Awal April, saya kembali ke Saint Laurent. Saint Laurent tentu tidak seramai Angers apalagi Paris. Kotanya kecil dan sepi. Suasana ini mengajak saya untuk selalu mengunjungi dan berdoa di kuburan Bapa Montfort. Yah, rasanya seperti sedang bercerita. Imaginasi saya sungguh hidup. Perjumpaan pertama saya dengan beliau dalam “Hidup dan Karya St Montfort” di novisiat beberapa tahun yang lalu kembali hadir dan menjadi nyata. Ia hadir dan mendengarkan kisahku dalam diam. Karena itu, tidaklah berlebihan kalau saya mengatakan bahwa ini merupakan perjumpaan yang mengagumkan. Melalui dan bersama Sta Maria, St Montfort dan Beata Marie Louise de Jesus, kupersembahkan doa untuk para konfrater dimana pun karyanya.

Saya tinggal di Saint Laurent sampai bulan Mei. Saat ini, saya sudah berada di Le Marillais. Le Marillais letaknya tidak terlalu jauh dari Saint Laurent. Di sini saya berkomunitas dengan P. Rene Paul dan P. Misel (France) P. Renel (Haiti) dan Br. Armand (Madagaskar). Bisa dibilang sebuah komunitas internasional juga seperti di Saint Laurent. Para konfrater yang bertugas di komunitas ini sekaligus menjadi penangungjawab di paroki.

Menarik bahwa, kapel biara kita Notre Dame du Marillais, sering dikunjungi peziarah. Mereka datang dari berbagai kota bahkan negara. Memang kapel ini tergolong bangunan tua di Perancis. Menurut sejarah, kapel ini dibangun tahun 430, jauh sebelum St. Montfort lahir.  Kapel ini juga mempunyai makna historis bagi Gereja Perancis, terutama terkait revolusi Perancis. Di sekitar kapel ini ada monument peringatan kematian 2000 martir (orang Perancis dari sekitar daerah Marillais) yang tertembak ketika revolusi di negeri ini bergulir. Jadi, orang-orang yang berziarah ke monument tersebut sekaligus berdoa di kapel kita.

Entah berapa lama saya tinggal di Marillais, saya belum tahu pasti. Yang jelas, bulan Juli mendatang, saya harus ke Saint Laurent untuk mengikuti  program FIM selama sebulan. Ini semacam program on going formation bersama untuk para imam montfortan, bruder St. Gabriel dan Suster Puteri Kebijaksanaan kalau tidak salah. Dulunya FIM ini disebut IMI. Berdasarkan hasil pembicaraan dengan  P Josh (Provincial SMM Belgique) dan P. Olivier (Provincial SMM France), setelah program FIM selesai barulah saya mulai mengurus perpindahan ke Belgique. Bisa jadi, perpindahan ini baru akan terlaksana tahun depan. Semoga semuanya berjalan lancar.

Pada akhir kisah ini, saya mengucapkan terimakasih banyak kepada para konfrater semua. Secara khusus untuk para konfrater di Bandung yang turut sibuk menyiapkan berkas- berkas saya kemaren. Saya mendoakan kalian selalu.

*P. Stefan Musanai, SMM