MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Misi Nikaragua

Kisah Masa-masa Awal Perutusan: Antara Kolombia – Nikaragua

By P. Jefro, SMM

P. Jefro, SMM (Kiri) & P. Zaka (Kanan), Misionaris di Nikaragua

Monasterio Benediktin – El Rosal, sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, saya habiskan waktu liburan seminggu penuh. Dalam suasana hening Monasterio Benediktin dengan diselimuti suhu udara yang sangat dingin, kuhabiskan sebagian waktuku untuk merenungkan kembali perjalanan ini: tentang jalan perutusan. Kuhadirkan kembali dalam ingatanku setiap proses yang telah dilalui, setiap pengalaman kegembiraan dan kesulitan yang pernah dialami. Di balik pengalaman-pengalaman tersebut, kucoba merenungkan makna sebuah perutusan dan melihat kekuatan apa yang harus dimiliki ketika menjalani perutusan dalam konteks kehidupan sosial dan budaya yang serba baru.

Sepintas saya melihat kembali  perjalanan ini sejak persiapan awal hingga kini, saya merasakan bahwa perutusan ini sungguh menantang, namun saya harus menjalaninya dengan penuh sukacita. Sekurang-kurangnya, inilah kesan yang dialami selama beberapa bulan awal. Dan bagi yang menyebut dirinya ¨sang misionaris¨ atau “yang diutus”, pengalaman “ditantang” setidaknya merupakan sesuatu yang normal. Ada hal-hal baru yang kita hadapi yang tidak pernah terduga sebelumnya. Mengalami itu, seolah-olah hidup harus dimulai dari titik awal lagi: belajar berbicara, belajar memahami sesuatu dan mengatakan keinginan. Situasi baru membawa saya seperti dilahirkan kembali. Dalam konteks ini, tanah misi memasukan saya ke dalam sebuah suasana pembentukkan diri sekali lagi. Tanah misi adalah sebuah “ruangan kelas” (medan) dan saya datang, masuk ke dalamnya, dan seperti seorang anak kecil yang menggagap belajar tentang banyak hal.

                Bermisi adalah bagian dari panggilan hidup seorang Montfortan. Sebagai seorang imam Montfortan, tibahlah waktunya bagiku untuk mengambil bagian dalam sebuah perjalanan diutus. Setelah melewati ´bulan madu´ sebagai imam muda yang baru ditahbiskan, tanggal 27 Agustus, 2015, saya tiba di rumah Profinsialat, Bandung. Di sana, Pater Zakarias Beong, SMM, sudah tiba sebulan sebelumnya. Saya dan Pater Zakarias, SMM, sama-sama akan diutus ke Nicaragua, salah satu negara yang ada di Centro-America, America Latin. Nicaragua adalah sebuah negera kecil dengan jumlah penduduknya kurang-lebih 8 juta jiwa. Seperti beberapa negara lain yang ada di sana, Nicaragua menggunakan bahasa Spanyol sebagai Bahasa Nasional.  Konteks kehidupan sosial, budaya dan bahasa umat yang ada di sana menjadi medan di mana kami menjalankan misi sebagai Montfortan.

Sebelum kami masuk dalam konteks kehidupan di Nicaragua, kami membutuhkan tahap persiapan diri. Tahap persiapan ini kami lewati di New Manila – Filipina, antara tanggal 05 Oktober-28 Desember 2015 dalam komunitas bersama para Monfortan yang ada di sana. Bagi kami, kesempatan ini adalah momen awal untuk belajar tentang hidup, terutama ketika sudah ke luar dari tanah dan bangsa kami sendiri. Di sana, bukan hanya bahasa Inggris yang diperdalami, tetapi juga sebuah cara hidup ketika orang-orang di sekeliling bukan lagi mereka yang sebahasa dan sebudaya dengan kami. Jadi, tiga bulan berada di Filipina, misinya tentu bukan untuk berlibur (killing time), tetapi misi pembentukan diri (self adapting).

Bagi kebanyakan imam misionaris yang bermisi ke luar negeri, tantangan atau kesulitan yang dihadapi seringkali tidak hanya soal situasi kehidupan yang serba baru di tempat bermisi. Kesulitan pertama yang kadang dihadapi adalah lamanya waktu yang diperlukan untuk memproses dokumen ijin berkarya (Visa Kerja). Dan bagi kami yang akan berkarya di Nicaragua, kesulitan besar yang dihadapi adalah ketika antara Indonesia dan Nicaragua tidak mempunyai hubungan diplomatik langsung. Untuk menemukan solusi agar bisa mendapatkan Visa Kerja, kami menghabiskan waktu selama tiga bulan. Jadi, tiga bulan tinggal di Bandung adalah waktu untuk menunggu sambil berharap akan sebuah solusi.

 Solusi pertama kami terima dari Provincialat Colombia pada bulan Maret tahun 2016. Pater Gonsalo Tabares, SMM (Profincial Montfortan Colombia) mengundang kami untuk datang dengan menggunakan Visa Turis (ijin tinggal sementara). Mereka bersedia menjadi perantara untuk mendapatkan Visa Kerja ke Nicaragua. Oleh karena itu, pada 03 Maret 2016, kami meninggalkan Bandung menuju Bogotá – Colombia. Kami tiba di Bogotá pada 04 Maret 2016, disambut dengan ramah oleh Pater Gonsalo, SMM. Selama menunggu proses dokumen yang diperlukan di Departemen Luar Negeri Colombia, kami habiskan waktu dua bulan untuk kursus Bahasa Spañol (di Internasional House).

Setelah beberapa bulan menunggu, bantuan Provincial Colombia sebagai perantara (pembuatan Visa Kerja) menuju Nicaragua rupanya gagal. Kegagalan ini disebabkan karena persoalan relasi politik yang sedang tidak kondusif antara Colombia dan Nicaragua. Karena kesulitan ini, maka kami pun memutuskan untuk masuk ke Nicaragua tanpa Visa Kerja seperti yang direncanakan semula. Dengan Visa Fronteriza, kami mendapatkan ijin tinggal sementara selama 30 hari dan bisa diperpanjang selama 90 hari. Kami tiba di Managua (ibu kota Nicaragua) pada tanggal 11 Juni 2016. Di bandara, kami disambut oleh Pater Alonso, SMM dan Pater Harry, SMM. Dalam suasana persaudaraan, kami menikmati makan malam penyambutan di sebuah restoran di Managua. Dan beberapa saat kemudian, kami melanjutkan perjalanan selama tiga jam menuju Santo Thomas – Chontales, sebuah kota kecil di mana para imam Montfortan berkarya.

Tiga bulan lamanya adalah waktu yang disediakan bagi kami untuk mengurus Visa Kerja di Kantor Imigrasi Nicaragua. Sambil menunggu proses pembuatan Visa Kerja, kami turut mengambil bagian dalam karya parokial di dua paroki (Paroki Santiago Apóstol dan María Reina) untuk sedikit demi sedikit memahaami budaya dan situasi sosial kehidupan umat. Dan setelah tiga bulan berlalu, ternyata kami gagal juga mendapatkan Visa Kerja. Keluar-masuk kantor imigrasi, namun ada-ada saja alasan dari pihak imigrasi yang membuat kami gagal mendapatkan Visa Kerja. Dengan sedikit rasa kecewa, kami harus kembali ke Colombia. Kami meninggalkan Nicaragua pada tanggal 06 September 2016, dengan sebuah harapan semoga suatu saat kami tetap kembali ke sana.

 Kembali ke Colombia tentu tidak menyurutkan semangat dan harapan kami. Kami terus berharap sambil melakukan apa yang bisa kami lakukan selama di Colombia. Antara Oktober 2016 – Januari 2017, kami melayani di paroki bersama para Montfortan Colombia. Pater Zakarias, SMM, membantu pelayanan parokial di sebuah paroki di Kota Medellín dan saya membantu pelayanan parokial di sebuah paroki di Kota Acacias. Karena belum juga jelas bagaimana proses selanjutnya, dengan banyaknya waktu yang telah dilewati untuk menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk membuat Visa Studi di Colombia. Visa ini kami dapatkan dengan bantuan Pater Jorge Hendrike, SMM (Asisten Jendral) dan berlaku untuk jangka waktu dua tahun. Dengan visa ini, kami bisa menetap di Colombia sambil mencari solusi lain untuk bisa kembali masuk ke Nicaragua. Dan pada tanggal 14 Februari 2017 mendatang, kami diundang ke sana sekali lagi untuk meminta ijinan khusus sebagai misionaris di kantor Imigrasi Nicaragua.

Inilah proses panjang menuju sebuah tempat perutusan dengan segala macam kesulitan (tantangan) yang dialami. Kami belum sampai ke sana dan berkarya seperti yang diharapkan semula. Kami adalah misionaris yang masih dalam perjalanan. Dari seluruh proses yang telah kami lewati sampai saat ini, ada beberapa hal penting yang saya renungkan dan bisa saya bagikan pada kesempatan ini:

Misionaris: seorang yang siap diutus

Ketika mengingat kembali masa-masa formasi (novisiat dan kuliah filsafat-teologi), saya menyadari bahwa saya telah melewati sebuah perjalanan panjang dalam pembentukan diri sebagai seorang misionaris. Harapan kecilku dulu adalah cukuplah diriku menjadi seorang imam bagi orang setanah dan sebangsaku. Pada masa-masa ini, hampir setiap tahun kami dikunjungi oleh imam-imam misionaris. Di antara mereka, ada yang bertugas dalam negeri (Indonesia), juga ada yang bertugas di luar negeri (di beberapa negara yang berbeda). Mereka menceritakan pengalaman hidup dalam berpastoral dengan cara dan gayanya masing-masing. Lebih dari sekadar menceritakan perjuangan mereka, tentu dalam kesempatan seperti itu mereka ingin menanamkan semangat bermisi bagi kami yang sedang dalam masa formasi. Entah nantinya bermisi di dalam negeri atau luar negeri, semuanya bergantung pada minat, kemampuan dan sikap lepas bebas kami masing-masing.

Bagi saya, misi dalam negeri adalah pilihanku. Minat untuk pergi bermisi ke luar negeri tidak pernah muncul dalam bayanganku. Saya tahu sejauh mana kemampuanku, secara khusus dalam berbahasa asing. Inilah alasanku untuk lebih memilih bermisi bagi orang-orang setanah dan sebangsaku. Fokus pikiranku lebih ke arah bagaimana saya memahami kehidupan sosial dan budaya orang-orang sebangsaku. Ke daerah mana pun saya diutus, di sana bahasanya tetap sama. Demikian juga soal makanan, di sana tidaklah jauh berbeda dengan daerah asalku. Dengan demikian, bukanlah sebuah tantangan bagiku untuk menjalaninya.

Tentang perutusan seorang Montfortan, untuk menentukan ke daerah mana harus berkarya ternyata tidak bergantung pada kehendak dan minat pribadi semata. Dalam konteks ini, tetap harus memiliki sikap lepas bebas: kesediaan untuk diutus ke mana saja (bebas bagaikan awan). Setidaknya mengikuti teladan Maria, dengan fiat yang diberikannya terhadap panggilan Allah. Dan kali ini, fiat Mari menjadi fiatku juga untuk mengatakan tentang kesediaanku terhadap perutusan Serikat. Bulan Oktober tahun 2015 dalam sebuah kesempatan wawancara di Deo Soli (Putussibau), Pater Kasmir, SMM (Provinsial Montfortan Indonesia), memintaku untuk mengurus Pasport. Jawaban ¨ya¨ku tentu tidaklah mudah. Seperti fiat Maria yang disertai dengan pertanyaan-pertanyaan kecil sekadar untuk mengatasi kebingungan, saya juga mempunyai pertanyaan kecil karena kebingunganku, bahwa apakah perutusan yang diberikan kepadaku ini bukan sebuah kekeliruan?

Entahlah… dan yang pasti melakukan karya misi ke Nicaragua tidak pernah terduga dalam benakku. Saya tidak pernah bermimpi untuk melakukan misi dengan jarak perjalanan yang jauh seperti ini. Bahkan saya pernah mempunyai keinginan untuk menghindari misi ke luar dari Indonesia. Akan tetapi, Tuhan mempunyai kehendak yang lain untuk kujalani. Kehendakku kadang tidak sejalan dengan kehendak-Nya. Nicaragua adalah sebuah negara yang belum pernah kudengar dalam pembicaraan setiap hari. Namun, apapun keadaannya, bahasanya dan situasi kehidupannya umatnya, saya memutuskan untuk siap diutus. Saya harus mengatasi segala pertimbangan manusiawiku, terutama soal jarak yang jauh dan berbagai kesulitan yang muncul dari dalam diriku sendiri.

Selain kesulitan dari dalam diriku sendiri, situasi di tempat berkarya dengan banyaknya hal baru yang dihadapi kadang menjadi tantangan bagiku untuk bisa melakukan banyak hal. Tetapi apapun pengalamannya, dari perutusan ini selalu ada hal yang menarik untuk dipelajari. Misalnya, selama sebulan tinggal bersama para jompo Montfortan di Choachi, dari kehidupan mereka, saya melihat soal kesetiaan seumur hidup dalam hidup membakti. Seluruh tenaga dan masa muda mereka telah habis terkuras dalam berbagai karya misi yang telah mereka lakukan. Dan sekarang mereka sudah lanjut usia, menikmati hari-hari sambil menunggu ajal menjemput. Saat mendengar kisah-kisah mereka, dalam hati saya pun berkata: inilah saatnya bagiku dan semoga saya mampu melakukan perutusan ini ke mana pun diutus.

Selain mengalami hidup bersama para jompo, saya juga terlibat dalam beberapa karya misi parokial. Keterlibatan dalam karya di paroki semakin memperkaya pengalamanku sebagai imam muda. Kami hidup dalam satu komunitas (komunitas internasional): 2 orang Colombia, 1 orang Congo, 1 orang India dan 1 orang Indonesia, dan berkarya di dua paroki yang berbeda. Sebuah pengalaman yang tidak pernah kuduga sebelumnya akan terjadi, yakni ketika dalam sebuah kesempatan kegiatan misi umat, saya mendapat kesempatan untuk merayakan Ekaristi dalam komunitas Suku Indian. Tentang Suku Indian, dulu saya hanya mendengar dan mengetahui melalui buku-buku pelajaran sekolah, namun sekarang saya bisa ada di antara mereka dan merayakan Ekaristi bersama mereka.

Pengalaman menarik lain lagi ketika merayakan Natal bersama umat yang ada di daerah pertambangan minyak. Daerah ini berada jauh di luar kota dan ditempuh selama 6 jam perjalanan menggunakan mobil Tangki Minyak. Apa yang terjadi di sana, baru kali ini terjadi dalam hidupku, merayakan misa Natal tanpa nyanyian (lagu-lagu Natal). Ah… betapa tidak memuaskan perayaan kali ini, kataku dalam hati. Apakah ini takdir bagiku karena tidak bisa bernyanyi dengan baik sejak dari dulu, aku juga tidak tahu. Yang saya tahu hanyalah sebuah kenyataan bahwa dalam setiap jawaban ya selalu disertai dengan berbagai pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun, apapun pengalamannya semuanya diterima sebagai bagian kisah perutusan, sebagai bagian dari kisah pemberian diri. Dan entah saya sadar atau tidak, bahwa semua pengalaman ini sangat membantu proses pendewasaan diriku dalam menjalani perutusan.

Dimana ada Harapan, di sana ada Jalan

Harapan adalah sebuah keutamaan yang harus dimiliki di tengah setiap kesulitan, terutama ketika saya ingin melakukan lebih. Menyerah pada pengalaman sulit sama dengan mematikan daya juang yang ada dalam diriku. Dalam menghadapi setiap pengalaman sulit, saya selalu berharap bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik bagiku sesuai dengan rencana-Nya. Saya sungguh yakin akan penyertaan-Nya, terutama ketika menyadari bahwa perutusan ini bukanlah kehendak atau ambisi manusiawiku atau kehendak pimpinan semata. Perutusan ini adalah milik Allah, dan saya hanyalah pelaksana. Maka apa pun situasi sulit yang dihadapi, Dia punya cara dan jalan untuk mengatasinya.

Seorang misionaris identik dengan seorang pejuang. Maka sebagai seorang misionaris, saya berjuang untuk datang sejauh ini karena Allah menaruh kehendak-Nya untuk kujalani. Ia bekerja dalam diriku dengan banyak cara dan melalui banyak orang. Ada sekian banyak orang yang kujumpai dan mereka telah membantu saya dengan caranya masing-masing. Melalui bantuan para konfrater, sebagai orang-orang yang telah digerakkan atau diinpirasikan oleh roh yang sama, saya selalu mendapatkan dukungan untuk tetap semangat dan terus berjalan.

Dalam menjalani perutusan ini, walaupun begitu banyak kesulitan, secara pribadi saya tetap berusaha agar tidak pernah lupa untuk berbahagia. Saya merasa bahagia bukan karena bisa memberikan sesuatu kepada umat yang dilayani. Ada begitu banyak umat yang menantikan kehadiran dan pelayanan dari para imam, itulah alasanku untuk berbahagia. Tidak sedikit umat yang dalam doa hariannya, mendoakan khusus bagi imam-imamnya. Dan terutama bagi saya yang baru datang, ada umat yang menghabiskan beberapa menit waktunya di hadapan Sakramen Mahakudus mendoakan agar tetap sehat dan bisa menyesuaikan diri dengan budaya dan bahasa mereka. Inilah salah satu cara dan jalan yang Allah berikan agar saya tetap mencintai tugas pelayanan ini, selalu berharap pada-Nya, sesulit apapun pengalaman yang dihadapi.

Konteks Tanah Misi Menuntut untuk Tidak Pernah Berhenti Belajar

                Sebuah karya misi tidak pernah terlepas dengan konteks kehidupan sosial dan budaya umat yang menerimanya. Dan bahkan karya misi harus lahir dan bertumbuh dalam pengalaman nyata kehidupan umat setempat. Dari pemahaman ini, maka menjadi jelas bahwa kegiatan misi antara satu tempat dengan tempat yang lain tidaklah sama.  Dengan adanya perbedaan konteks karya misi, menjadi sebuah tuntutan bagi saya sebagai seorang misionaris untuk tidak pernah berhenti belajar. Madre Teresa de Calcuta berkata “Tómate tiempo para leer (estudiar); es la fuente de la sabiduría”. Dari pemikiran orang kudus ini, menjadi jelas bahwa seorang misionaris menjadi lebih bijak, tahu apa yang harus dikerjakan dan tahu apa yang menjadi kebutuhan umat dengan cara banyak membaca, belajar langsung dalam kehidupan nyata umat setiap hari.

                Konteks pastoral di tanah Latin America (Colombia dan Nicaragua), bagi saya pribadi tampaknya menjadi sebuah sekolah baru di mana saya harus masuk dan memulai awal lagi. Ini adalah sekolah kehidupan di mana cara hidup umat, budaya dan bahasanya merupakan hal yang saya harus pelajari dan akan menjadi cara hidup, budaya dan bahasa saya juga. Saya tidak bisa melakukan karya pastoral di tengah-tenganh mereka dan bersama mereka kalau cara hidup, budaya dan bahasa mereka tidak menjadi bagian dari kehidupan saya.

                Merupakan hal yang tidak dapat terelakkan bahwa budaya hidup yang telah tertanam dalam diri saya sangatlah berbeda dengan budaya hidup orang-orang atau umat yang saya hadapi. Demikianpun bahasa yang digunakan sangatlah jauh berbeda, sebuah bahasa yang sebelumnya tidak pernah terjamah untuk dipelajari. Dan tentang budaya hidup, ada sebuah kecenderungan dimana pada saat-saat tertentu saya lebih membanggakan  budaya hidup yang saya miliki. Ada sebuah tantangan lebih mencintai budaya hidup di tempat saya berasal. Dalam soal bahasa yang digunakan juga, kadang saya ditantang oleh sebuah pemikiran bahwa bahasa yang saya miliki lebih mudah dipelajari daripada bahasa di sini. Akan tetapi, karena tuntutan karya misi, maka dalam hal tertentu saya harus mampu “mengosongkan diri”. Konteks tanah misi yang berbeda menuntut saya untuk mengesampingkan segala kebanggaan dan kecintaanku akan apa yang telah saya miliki sebelumnya. Sungguh kesadaran seperti ini membantu saya untuk bisa mempelajari banyak hal dan masuk dalam konteks budaya hidup orang-orang di sini.

                Tentang “pengosongan diri”, sebagaimana yang dihayati oleh St. Montfort dalam seluruh karya misinya, inilah roh dasar yang menggerakan langkah seorang misionaris. Dengan “pengosongkan diri”, maka seorang misionaris bersedia untuk diutus ke manapun. Kadang perutusan itu sangat berbeda dengan harapan bahkan bertentangan dengan keinginan peribadi. Akan tetapi, panggilan ini asalnya dari Allah yang disertai dengan sebuah jawaban ‘ya’. Allah yang memanggil, Allah pula yang mengutus. Dengan demikian, panggilan untuk bermisi merupakan kelanjutan dari tugas perutusan yang diberikan Allah kepada Putra-Nya, dan selanjutnya Yesus teruskan kepada murid-murid-Nya. Inilah wujud jawaban ya-ku terhadap panggilan Allah: mengambil bagian dalam karya perutusan yang diberikan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya. Jadi, dalam segala bentuk pengalaman yang dihadapi, yang kumiliki hanyalah sebuah sikap penyerahan diri seperti dalam fiat Maria. Saya tidak mungkin bisa menerima perutusan ini kalau bukan karena Allah dalam tuntunan Roh-Nya membimbing dan menggerakkan diriku untuk turus berjuang, mempelajari dan memahami banyak hal.

 

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme