MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Suster DW

SEJARAH SINGKAT KEHADIRAN KONGREGASI PUTRI-PUTRI KEBIJAKSANAAN DAN KARYA PELAYANANNYA DI INDONESIA

Oleh P. Fidel Wotan,SMM

 

  1. SEJARAH MUNCULNYA KONGREGASI DAUGTHERS OF WISDOM (DW) DAN AWAL MULA KEBERADAANNYA DI INDONESIA (FLORES)

Kongregasi Putri-putri Kebijaksanaan didirikan pada 2 Februari 1703 di Perancis oleh Santo Louis-Marie de Montfort dan Beata Marie-Louise de Jesus.  Setelah sekian lama berdiri dan berkarya di Perancis dan di berbagai belahan dunia lainnya, para suster Putri-putri Kebijaksanaan, melalui para mentor dan pionirnya menjejakkan kakinya di bumi Indonesia, tepatnya di Pulau Flores. Pada tahun 2003. Pulau Flores, yang ada di wilayah Timur dari NKRI (NTT) kemudian menjadi locus persemaian karya dan pewartaan para suster tersebut.  Berkaitan dengan bagaimana persisnya awal mula kedatangan mereka di Flores (Keuskupan Ruteng), tepatnya di Paroki St. Montfort Poco, berikut petikan langsung yang dapat kita baca dari tulisan Pater Piet Derckx, SMM. Ia menulis demikian: “Tanggal 2 Desember 2004 merupakan hari bersejarah bagi para suster Putri-putri Kebijaksanaan. Pada hari itu, rumah mereka di Paroki St. Montfort Poco diberkati oleh Mgr. Eduardus Sangsun,SVD (alm). Hadir juga di dalam upacara itu dua anggota Dewan Jenderal DW, yaitu Sr. Louise Madore dan Sr. Madeleine Cadour yang datang dari Roma. Upacara diawali dengan penyambutan kedatangan tamu kehormatan Bapak Uskup dan Bapak Bupati di pintu gerbang jalan masuk menuju rumah suster. Penyambutan tamu ini dilaksanakan dengan menggunakan adat Manggarai. Para tamu ini lalu diantar masuk ke ruang rekreasi untuk melanjutkan rangkaian acara. Setelah menyampaikan kata pengantar, bapak uskup berkeliling memberkati setiap ruangan dan sudut bangunan yang diberi nama Pondok Marie Louise, “bangunan ini adalah rumah biara” demikian ditegaskan oleh bapak uskup Mgr. Eduardus Sangsun, SVD (alm).  Masih di dalam kesempatan yang sama di Pondok Marie-Louise yang dibangun di belakang gereja Paroki St. Montfort ini Sr. Jacqueline menguraikan arti kehadirannya di Poco. Terinspirasi oleh semangat Beata Marie Louise, maka para Putri Kebijaksanaan rela hadir di Poco untuk melayani umat, khususnya untuk perkembangan kaum wanita.”[1]

  1. SPIRITUALITAS KONGREGASI DW

Para suster Putri-putri Kebijaksanaan mengakarkan dirinya, menenggelamkan dirinya dalam semangat dan atau spiritualitas hidup yang diwariskan oleh Santo Louis-Marie Grignion de Montfort. Santo Montfort mengajari Marie Louise, sebagai co-founder tarekat DW agar setiap suster Putri Kebijaksanaan dipanggil untuk mengikutinya, yakni mencari, merenungkan, dan menyatakan Cinta Kebijaksanaan Abadi.  Cinta akan Sang Kebijaksanaan Abadi menjadi objek dari pencarian, renungan dan rasa cinta mereka. Itulah, Yesus Kristus, Sang Cinta yang dicari dan dirindukan oleh para suster Putri-putri Kebijaksanaan.

Para suster Putri-putri Kebijaksanaan memoklamirkan diri mereka sebagai pribadi-pribadi yang dalam hidup harian mereka -malahan menjadi makanan rohani mereka sepanjang hidup- yakni memiliki sebuah kebijaksanaan, yakni Yesus Kristus yang menjelma dalam Maria, melalui Maria. Dan jalan hidup yang mereka tempuh setiap hari untuk mewujudkan hal itu ialah membaktikan diri kepada Yesus-Kebijaksanaan, melalui Maria.

III.    MISI DAN KARYA PERUTUSAN PARA SUSTER DW

3.1.   MISI:“Menyatakan cinta Kristus kepada manusia, teristimewa mereka yang terabaikan, dan yang ditolak oleh masyarakat.”[2]

Misi keberpihakan terhadap mereka yang secara sosial ditolak dan dibuang oleh masyarakat adalah sebuah pilihan dasar hidup para suster Putri-putri Kebijaksanaan. Melalui misi inilah, mereka terus berupaya agar kehadiran mereka di mana saja, menjadi berkat dan rahmat bagi mereka yang terpinggirkan. Dengan menyatakan option for the vulnerable people tersebut, para suster Putri-Putri Kebijaksanaan sesungguhnya telah menjadikan mereka sebagai saudara dan saudari dengan diri mereka sendiri. Malahan mungkin dapat dikatakan bahwa mereka ingin menyamakan diri mereka dengan saudara-saudari yang kurang diperhatikan, ditolak dan dibuang oleh sesamanya, sebagaimana yang sudah diproklmirkan oleh Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan yang menjelma; “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).

3.2.   KARYA PERUTUSAN PARA SUSTER DW

Para suster Putri-putri Kebijaksanaan dipanggil untuk memberikan pelayanan dalam pelbagai bidang kehidupan. Mereka dipanggil secara khusus untuk melayani umat  di bidang pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial dan pastoral. Sejauh ini, sejak kehadiran mereka di Flores, di Komunitas Biara Suster Putri-putri Kebijaksanaan”, Poco, para suster telah dan sedang memberikan diri melayani umat di beberapa bidang tersebut. Beberapa kegiatan karitatif  yang mereka layani tampak begitu jelas yakni menyelenggarakan atau membuka sekolah ‘PAUD’ bagi anak-anak di Paroki St. Montfort, Poco. Selain itu, mereka juga terlibat aktif dalam pelayanan karitatif, mengunjungi umat, termasuk di dalamnya memberikan sakramen kepada orang sakit dan jompo.

3.3.   KEANGGOTAAN PARA SUSTER DW

Kongregasi DW adalah sebuah kongregasi yang bersifat internasional. Saat ini terdapat kurang lebih 2100 Putri-putri  Kebijaksanaan di 22 negara. Kongregasi ini baru masuk di Indonesia pada 2003. Sejak kedatangan para suster pionir di Indonesia, yang memulai karya misinya di Indonesia (Flores), beberapa pemudi pribumi yang telah menggabungkan dirinya dengan para suster Putri-putri Kebijaksanaan. Berikut ini daftar para suster pribumi asal Indonesia. Sebagian besar berasal dari Flores dan Timor, sedangkan yang lainnya adalah para suster misionaris dari luar negeri  (Kanada, India, Madagaskar). Berikut di bawah ini, saya akan memetakan sekilas profil para suster Putri-putri Kebijaksanaan (DW) di Indonesia

3.4 Para Suster Misionaris Pertama yang Datang ke Indonesia

Menurut catatan sejarah dari Pater Piet Derckx, SMM, dikatakan bahwa ada dua orang suster DW yang datang pertama kali ke Indonesia, yakni Sr. Jacqueline Lagrandeur, DW (Kanada) dan Sr. Josée,DW (Kanada). Keduanya juga dapat dikatakan sebagai perintis  -juga bersama dengan Sr. Blandine, DW (Madagaskar) dan Sr. Molly, DW (India)- dimulainya karya misi para suster Putri-putri Kebijaksanaan di Indonesia (Flores), (Ed). Berkaitan dengan kedatangan kedua suster pionir tersebut, berikut petikan langsung dari Pater Piet, SMM; “ Pada tanggal 2 Agustus 2003 Pater Widodo, Pater Ludovikus dan beberapa frater skolastik menjemput Sr. Jacqueline Lagrandeur, DW (Kanada) dan Sr. Josée,DW (Kanada) serta mengantar mereka ke Jalan Gunung Kencana No. 10. Mereka tinggal di Bandung selama tiga bulan untuk belajar Bahasa Indonesia sebelum bertugas di Flores. Mereka memulai kursus Bahasa Indonesia pada tanggal 8 Agustus di Pusat Bahasa IMLAC, tidak jauh dari Jalan Gunung Kencana. Pada tanggal 22 Agustus komunitas suster ditambah lagi dengan seorang suster dari Madagaskar, Sr. Blandine, DW. Mereka mendiami sebagain dari novisiat lama yang sudah menjadi komunitas para frater S 2. Mereka juga masih menantikan St. Molly, DW dari India, tetapi kedatangannya ditunda sampai Februari 2004, karena kecelakaan kecil di Perancis. Setelah bisa berbahasa Indonesia seadanya, pada tanggal 18 Oktober 2003, mereka pindah ke Novisiat Montfortan di Ruteng. Mereka tinggal di situ dan mempersiapkan diri untuk memulai berkarya di Paroki Poco supaya bisa lebih dekat dengan tempat karyanya.”[3]

  3.5.TAHAP-TAHAP PENDIDIKAN PARA SUSTER DW

  1. Aspiran berlangsung selama dua tahun
  2. Postulan berlangsung selama dua tahun, satu tahun pertama di Indonesia (Flores) dan satu tahun kedua di Filipina.
  3. Novis berlangsung selama dua tahun di Filipina
  4. Kaul pertama. Selama kaul sementara, mereka diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, misalnya kuliah di STKIP St. Paulus Ruteng. Mereka juga sebetulnya pada tahap ini sedang berada dalam masa formasi yang berlangsung selama lima tahun. Sesudah itu mereka direkomendasikan untuk berkaul kekal. Sesudah kaul kekal mereka dapat berkarya di Indonesia atau di luar negeri sesuai dengan kebutuhan kongregasi.
  1. ALAMAT KOMUNITAS SUSTER PUTRI-PUTRI KEBIJAKSANAAN DI INDONESIA (FLORES)
  2. Biara Putri-putri Kebijaksanaan, Paroki St. Montfort, Poco

Tromolpos 801, Ruteng  86508, Flores, NTT.

E-mail: indodwpoco@telkom.net. Biara ini sekaligus juga menjadi tempat pendampingan bagi para calon Aspiran DW.

  1. Biara Putri-putri Kebijaksanaan, Tenda, Ruteng, Flores, NTT. Biara ini sekaligus menjadi tempat pembinaan bagi para postulant DW.

 

V.PENUTUP

Kehadiran para suster Putri-putri Kebijaksanaan di Indonesia sungguh memberi arti dan warna tersendiri bagi umat yang dijumpai dan dilayaninya. Kehadiran mereka sejak 2003 di Indonesia, khususnya di Paroki St. Montfort Poco, dan Wilayah Tenda, Ruteng memiliki arti dan peran tersendiri bagi keuskupan lokal, Keuskupan Ruteng, sebagaimana beberapa bidang pelayanan yang telah dan sedang mereka kerjakan saat ini. Kehadiran mereka juga sesungguhnya menambah barisan para montfortan di Indonesia sebagai sebuah keluarga yang lahir dari satu Rahim Spiritualitas dan Mentor yang sama yakni, Santo Louis-Marie Grignion de Montfort. Kehadiran mereka kiranya juga terus membawa berkah dan rahmat bagi umat yang dilayaninya dan semoga kehadiran mereka juga ikut menarik perhatian para pemudi yang ingin mau bergabung di dalamnya menjadi laskar Marie Louise yang handal dalam mewartakan Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan yang Menjelma.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme