MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Serikat Maria Montfortan

Serikat Maria Montfortan didirikan oleh Santo Louis-Marie Grignion de Montfort tahun 1705. Tahun 1705 Montfort bertemu dengan seorang pemuda bernama Mathurin Rangeard (1687-1760) di sebuah kapel di Poitiers. Mathurin sebenarnya dalam perjalanan menuju biara Kapusin karena dia berniat untuk menjadi bruder Kapusin. Namun, Montfort berhasil meyakinkannya sehingga Mathurin batal masuk Kapusin lalu berpindah haluan menjadi pengikut Montfort. Meskipun Bruder Mathurin tidak pernah mengucapkan kaul kebiaraan namun dia dicatat sebagai anggota pertama Serikat Maria Montfortan. Nah, tahun perjumpaan Montfort dengan Mathurin tahun 1705 itulah dianggap sebagai tahun kelahiran SMM (Michael Betrand, A History of the Company of Mary, Roma: 2000).

Selama menjalankan karya misinya, Montfort ditemani oleh para pengikutnya, baik imam maupun awam. Namun mereka datang dan pergi tanpa mengikatkan diri secara tetap mon tridengan kelompok misionaris ini. Ketika Montfort meninggal dunia tahun 1716, hanya dua imam yang secara resmi dianggap sebagai pengikut Montfort, yaitu Adrien Vatel (1680- ) dan René Mulot (1683-1749)[1]. Bersama Br. Mathurin kedua imam ini melanjutkan karya Montfort di Perancis. Namun pelan tapi pasti, kelompok misionaris ini bertambah jumlahnya dan memperluas wilayah misinya serta menjadi serikat yang diakui Gereja Katolik.

Nama kelompok ini berubah dari waktu ke waktu. Montfort menghendaki namanya Serikat Maria namun orang sering menyebut mereka Montfortan. Sepeninggal Montfort, kepemimpinan diteruskan oleh René Mulot lalu mereka disebut Mulotian dengan nama serikatnya menjadi Serikat Roh Kudus.[2] Tahun 1853 Paus Pius IX mengakui Serikat ini menjadi Serikat Kapausan dan Sri Paus menghendaki agar para imam kembali ke regula dasar dan kepada nama yang dikehendaki Montfort, yaitu imam Misionaris Serikat Maria.[3] Dalam rangka beatifikasi Montfort tahun 1888, Paus Leo XIII mengubah nama Serikat ini menjadi Serikat Maria dari Beato Montfort. Perubahan ini dirasa perlu karena pada saat itu sudah ada tarekat lain yang bernama Serikat Maria. Namun sejak tahun 1919 sampai sekarang namanya menjadi Serikat Maria Montfortan.[4]

Mengingat pesan Paus Clement XI agar Montfort menyalurkan energi misionernya di Perancis, maka para Montfortan merasa bahwa SMM itu khusus untuk Perancis. Namun Konstitusi SMM tahun 1853 mengatakan bahwa Para imam Serikat Maria selalu siap untuk membawa obor Injil ke manapun mereka diutus, entah di Perancis atau ke negara lain, sejauh Wakil Kristus menghendakinya. Misi luar Perancis pertama adalah Haiti.[5] Perubahan ini membuka jalan bagi perubahan berikutnya. Regula dasar menegaskan bahwa para misionaris tidak boleh terikat pada karya formasi (tidak membuka seminari). Dengan demikian, tambahan anggota hanya mengharapkan imam-imam yang bersedia bergabung menjadi Montfortan. Namun tahun 1874, demi kepentingan tenaga misionaris untuk Haiti, para Montfortan membuka Sekolah Apostolik di Perancis.[6]

Situasi politik Perancis, semangat anti klerus dan penganiayaan terhadap hirarki memaksa para Montfortan untuk mencari tempat yang aman bagi pembinaan para calonnya. Tahun 1881 Novisiat Montfortan dipindahkan ke Belanda.[7] Daerah misi baru yang dibidik SMM adalah Kanada. Pada 1883 seorang imam dan 5 bruder tiba di Kanada dan menjadi perintis karya Montfortan di sana. Tahun 1899 mereka mulai membuka Sekolah Apostolik di Huberdeau yang selama puluhan tahun menghasilkan tenaga-tenaga misionaris. Setelah 10 tahun di Kanada, tahun 1903 SMM Kanada melebarkan sayapnya ke Amerika.[8] Demikianlah SMM menyebar ke seluruh Eropa dan dunia termasuk kemudian Amerika Latin, Asia, dan Afrika.

Ada baiknya kita melihat secara khusus perkembangan SMM di Belanda. Sejak awal SMM dimengerti sebagai Kongregasi untuk orang Perancis. Dengan demikian, ketika mereka masuk Belanda tahun 1881 mereka membawa dan mendatangkan para calon dari Perancis. Beberapa tahun kemudian barulah mereka menerima calon-calon non-Perancis. Masuknya calon-calon asal Belanda mendorong mereka untuk membuka Sekolah Apostolik di Schimmert tahun 1883. Pesatnya perkembangan SMM di Belanda menjadikan mereka propinsi baru tahun 1905.[9] Situasi sulit di Perancis membawa berkah besar bagi Gereja dan SMM karena dari sinilah muncul ratusan misionaris yang tersebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Para Montfortan Belanda masuk Indonesia tahun 1939[10]. Tiga misionaris perintis P. Harry L’Ortye, P. Jan Linsen dan Br. Bruno tiba di Pontianak pada 7 April 1939.

[1] Ibid., hlm. 20

[2] Sampai saat ini komunitas rumah induk SMM di Saint Laurent sur Sévre disebut Komunitas Roh Kudus.

[3] Luigi Nava, Company of Mary, dalam Jesus Living in Mary, Bay Shore: Montfort Publication, 1994, hlm. 194

[4] Ibid.

[5] Michael Bertrand, Op cit., hlm. 99

[6] Michael Bertrand, Op cit., hlm. 101

[7] Michael Bertrand, Op cit., hlm. 105

[8] Michael Bertrand, Op cit., hlm. 106-107

[9] Michael Bertrand, Op cit., hlm. 107

[10] Perjalanan SMM Indonesia bisa dilihat dalam Piet Derckx, Sejarah dimulainya Montfortan Hidup, dan Berkarya di Indonesia, Bandung: Pusat Spiritualitas Marial, 2008

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme