MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Statuta KSM

STATUTA PERSERIKATAN MARIA RATU SEGALA HATI

(KERABAT SANTO MONTFORT  [KSM] )

 AZAS DAN TUJUAN

Art. 1 – Perserikatan Maria Ratu Segala Hati beranggotakan umat beriman kristiani, rohaniwan maupun awam, yang berkeinginan menjadi saksi-saksi kebenaran injil1. Mereka bertekad menghayati janji-janji baptisnya, dengan bantuan Pembaktian Diri seluruhnya kepada Kristus melalui tangan Maria. Demi tujuan itu, mereka mengikat diri untuk melaksanakan dengan sempurna Bakti Sejati kepada Maria, sebagaimana diajarkan oleh Santo Louis-Marie Grignion de Montfort, yang mereka pilih sebagai pemandu dan pembimbing rohani mereka.2

Art. 2  –  § 1 – Perserikatan Maria Ratu Segala Hati secara organik  bersatu dengan Serikat Maria Montfortan (SMM) dan tidak memiliki struktur yuridis apapun yang otonom3. Para anggotanya,– dalam situasi hidupnya masing-masing – , mengambil bagian dalam  perutusan para Montfortan dalam Gereja: untuk mempersiapkan Kerajaan Yesus melalui Maria4.

  • 2 – Perserikatan Maria Ratu Segala Hati merupakan suatu perluasan Serikat Maria Montfortan. Hal ini tidak berarti bahwa SMM akan mencari anggota-anggota bagi dirinya sendiri, melainkan lebih-lebih agar “Perawan yang teramat suci cepat atau lambat akan mempunyai lebih banyak anak, pelayan, dan hamba karena kasih dan bahwa karena itu Guru­ku Yesus Kristus yang terkasih lebih dari sebelumnya akan memerintah di dalam hati manusia.” 5
  • 3 – Maka Perserikatan tidak bertugas untuk melayani Serikat Maria Montfortan, melainkan untuk bersama Serikat Maria Montfortan melayani sang Ratu, melayani Gereja kudus, melayani keselamatan jiwa-jiwa, melayani umat Allah, melayani Kerajaan Yesus melalui Maria.

 PUSAT INTERNASIONAL DAN NASIONAL (REGIONAL)

Art. 3 –  Pusat internasional Perserikatan Maria Ratu Segala Hati  bertempat dalam rumah Pimpinan Umum Serikat Maria Montfortan. Setiap negara dapat memiliki sebuah pusat nasional (regional, …) yang didirikan oleh Superior Jenderal atau yang mewakilinya.

Art. 4 –  § 1 – Superior Jenderal Serikat Maria Montfortan adalah Pemimpin Umum Perserikatan Maria Ratu Segala Hati. Beliau berkuasa untuk mengangkat bagi masing-masing pusat seorang pemimpin nasional, regional atau lokal yang mewakilinya

  • 2 – Jika Superior Jenderal hendak mengangkat seorang imam projo sebagai pemimpin salah satu pusat Perserikatan, terdahulu ia harus memperoleh persetujuan Ordinaris imam itu; bila imam itu seorang biarawan yang bukan Montfortan, ia terdahulu harus memperoleh izin Pembesar Tinggi biarawan itu.

 PERANAN PARA PEMIMPIN PUSAT

Art. 5 – § 1 –         Pemimpin Umum menyampaikan pedoman-pedoman dan petunjuk-petunjuk yang dianggapnya berguna dan ia mengawasi penerapannya.

  • 2 – Pemimpin Umum bertugas mengizinkan pendirian pusat-pusat baru; ia  juga bertugas menyelidiki dan –  dengan persetujuan para penasehatnya –  mengesahkan statuta setiap pusat.

Art. 6 – § 1 – Para Pemimpin Pusat bertugas melayani para anggota Perserikatan dengan memberi bantuan agar mereka dengan lebih baik mengenal  dan mendalami, juga dengan lebih baik menghayati jalan rohani yang diwariskan oleh Santo Louis-Marie de Montfort. Mereka menyemangati para anggota supaya dengan sempurna setia kepada pembaptisannya, yaitu dengan setia mengikuti Kristus, Kebijaksanaan Abadi yang menjelma menjadi manusia demi keselamatan dunia, dengan menyerahkan diri secara total kepada Maria. Melalui Maria, oleh suatu tindakan penuh kuasa dari Roh Kudus, Kristus ingin datang kepada kita. 2 – Mereka juga akan mengingatkan para anggota akan tugas mereka – khususnya dengan teladan hidup mereka – ialah memperkenalkan jalan hidup ini kepada orang-orang lain di sekitar mereka, sehingga kedatangan Kerajaan Yesus melalui Maria dipercepat.6

Art. 7 – Para anggota sungguh berhak menerima pembinaan yang mereka perlukan dan yang mereka cari. Sementara itu para Pemimpin berkewajiban menyelenggarakan langsung atau tidak langsung pembinaan awal dan bina lanjut.7 Untuk mencapai tujuan ini Superior Jenderal akan mengurus persiapan atau meminta orang lain mempersiapkan suatu program atau buku pegangan. Di dalamnya dengan jelas akan ia tetapkan tahap-tahap apa yang perlu ditempuh sebelum seorang calon dapat didaftarkan sebagai anggota Perserikatan. Ia juga akan menetapkan kewajiban untuk mengikuti bina lanjut. Ia akan menyodorkan program atau buku pegangan itu kepada Dewan Jenderal untuk dinilai dan disetujui.

KEANGGOTAAN

Art. 8 –  Perserikatan Maria Ratu Segala Hati terbuka untuk semua orang beriman (kaum awam, rohaniwan, biarawan-biarawati) yang ingin mengikuti jalan rohani dan rasuli yang diusul oleh Santo Louis-Marie de  Montfort. Para biarawan-biarawati hendak mengindahkan Kanon 307, §3 dalam Kitab Hukum Kanonik.

Art. 9 – Seorang yang setelah pembinaan dan persiapan yang perlu mengucapkan Pembaktian Diri kepada Yesus, Kebijaksanaan Abadi yang menjelma menjadi manusia, melalui tangan Maria, menurut rumus Santo Louis-Marie de Montfort, dapat diterima dalam Perserikatan. Setelah permohonan yang disertai motivasinya diajukan oleh calon dan penerimaannya oleh Pemimpin, keanggotaan menjadi efektif pada saat Pembaktian Diri diucapkan dalam kehadiran Pemimpin atau wakilnya dan dicatat dalam daftar keanggotaan Perserikatan.

KEWAJIBAN

Art. 10 – Setelah melalui Pembaktian Diri melibatkan diri secara pribadi dalam Perserikatan, para anggota, pria maupun wanita, mewajibkan diri, –  dalam status hidupnya masing-masing, dalam lingkungan hidup masing-masing, dalam pekerjaan masing-masing – , untuk menghayati semangat dan spiritualitas yang diwariskan kepada kita oleh Montfort. Para anggota akan berusaha untuk menjadikan Pembaktian Diri jantung hati hidupnya yang meresapi segala tindakan dan kerasulannya. Para anggota memperbaharui Pembaktian Diri setiap hari. Sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada mereka dan kondisinya masing-masing, para anggota bekerja sama dalam karya kerasulan Serikat Maria Montfortan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Pemimpin Umum.

Art. 11 – Untuk para anggota yang mungkin merindukan hal itu, Pemimpin Umum dapat menciptakan di dalam Perserikatan:

– sebuah kelompok mitra yang melibatkan diri, melalui janji-janji atau kaul, untuk menghayati nasehat-nasehat injil dalam semangat dan spiritualitas Santo Montfort, sesuai dengan status hidup mereka;

– kelompok-kelompok yang melibatkan diri untuk melakukan kerasulan tertentu, selalu dalam semangat dan spiritualitas Santo Louis-Marie de Montfort.

Art. 12 – Demi tujuan itu Pemimpin Umum akan mempersiapkan Statuta khusus yang mencerminkan baik panggilan anggota-anggota tersebut maupun azas Perserikatan. Pemimpin Umum bertugas, bersama dengan para penasehatnya, untuk menyelidiki dan mensahkannya jikalau Statuta itu dinilai cocok untuk memandu umat beriman di jalan menuju Sang Kebijaksanaan Abadi yang menjelma menjadi manusia, Yesus, Putra Allah dan Putra Maria.

MENGAMBIL BAGIAN DALAM KEKAYAAN ROHANI

Art. 13 – Dengan masuk dalam Perserikatan para anggota menjalin persatuan rohani dengan seluruh Keluarga Besar Montfortan. Mereka senang merayakan beberapa pesta liturgi yang menjadi lambang maupun perwujudan persatuan ini: Hari Raya Kabar Sukacita, 25 Maret, yang adalah pesta utama Perserikatan.8 Juga pesta-pesta berikut dirayakan dengan tekanan khusus oleh para anggota Perserikatan: Hari Raya Natal, 25 Desember; Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, 8 Desember; Pesta Santo Louis-Marie Grignion de Montfort, 28 April. Para anggota juga mengambil bagian dalam kekayaan rohani yang dicurahkan kepada keluarga besar Montfortan oleh Maria yang “memberikan dirinya secara total dan tak terperikan kepada orang yang memberikan kepadanya segala-galanya“.9

Art. 14 – Masuknya dalam Perserikatan menciptakan suatu ikatan persaudaraan dan solidaritas timbal-balik antara semua anggota Keluarga Besar Montfortan. Para anggota baru mengambil bagian dalam kegembiraan dan kedukaan Keluarga yang baru ini. Bila seorang merasa bahagia dapat minum dari sumber kekayaan rohani Keluarga ini, ia akan berusaha untuk memperbesar kekayaan itu dengan berdoa dan dengan mempersembahkan hidupnya, dijiwai oleh Pembaktian Diri Montfortan.

PERUBAHAN STATUTA

Art. 15 – Dengan persetujuan para penasehatnya, Superior Jenderal dapat mengubah Statuta ini yang telah disahkan oleh Takhta Suci, sejauh perubahan itu tidak menyentuh azas dan tujuan Perserikatan. Servatis caeteris de jure servandis

                1 Mereka adalah saksi-saksi kebenaran menurut teladan Yesus, yang menyatakan di hadapan Pilatus bahwa Ia datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh 18:37); menurut teladan semua martir, kaum awam mengambil bagian dalam pekerjaan untuk kebenaran (3 Yoh 8; Apostolicam Actuositatem, 6) – “Bapa menghendaki, agar dalam semua orang kita mengenali dan mencintai secara nyata Kristus Saudara kita, dengan kata-kata maupun tindakan, dan dengan demikian memberi kesaksian akan Kebenaran” (Gaudium et Spes, 93).

                2 Lihat Paus Yohanes-Paulus II, dalam Ensiklik “Ibunda Sang Penebus” (Redemptoris Mater), no. 48: “… di antara banyak saksi-saksi dan guru-guru spiritualitas, kami hendak mengingatkan kembali, tokoh Santo Louis-Marie Grignion de Mont­fort, yang mengusulkan persembahan diri kepada Kristus melalui tangan Maria, sebagai usaha yang berhasilguna bagi umat kristiani untuk menghayati janji-janji baptisnya.”

                3Hubungan ini diatur oleh Hukum Kanonik. Lih. KHK 303: “Perserikatan-perserikatan yang para anggotanya mengambil bagian dalam semangat suatu tare­kat religius dalam dunia dan di bawah kepemimpinan lebih tinggi tarekat itu menjalani hidup kerasulan dan mengejar kesempurnaan kristiani, disebut ordo-ordo ketiga atau diberi nama lain yang sesuai”. Dan KHK 312, §2: Untuk mendir­ikan dengan sah perserikatan atau seksi perserikatan di keuskupan, meskipun berdasarkan privilegi apostolik, dituntut persetujuan tertulis Uskup diosesan; tetapi persetujuan yang diberikan untuk mendirikan rumah tarekat religius berlaku juga untuk mendirikan perserikatan yang khas untuk tarekat itu di rumah itu atau di gerejanya.”

                4 Lihat Bakti Sejati, 227 dan Konstitusi SMM, nr. 9 dan 39

               5 Bakti Sejati, 113

                6 Bukan hanya imam, juga  para awam  “wajib bekerja sama demi penyebarluasan dan perkembangan Kerajaan Kristus di dunia... Setiap orang awam wajib menjadi saksi kebangkitan dan kehidupan Tuhan Yesus serta menjadi tanda Allah yang hidup di hadapan dunia” (Lumen Gentium, 35 dan 38)

                7 Lihat KHK 677, §2: “Tarekat-tarekat religius, jika mempunyai perserikatan-perserikatan umat beriman kristiani yang digabungkan dengannya, hendaknya membantu mereka secara khusus, agar mereka diresapi oleh semangat murni ke­luarganya.”

                 8 Lihat BS 243.

                9  BS 144.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme