MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Karya SMM Indonesia

KARYA SMM

Pengantar

Serikat Maria Montfortan (Societas Mariae Montfortana) merupakan salah satu dari serikat yang didirikan oleh Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716), yang lebih dikenal dengan nama Santo Montfort.[1] Berawal dari wilayah Prancis, tanah kelahiran bapa pendiri, Serikat Maria Montfortan (SMM) berkembang ke berbagai negara dengan mengusung misi mendirikan Kerajaan Yesus melalui Maria. Dalam tarekat ini, ciri marial dan misioner menyatu dengan erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tidak mengherankan para montfortan sering dikenal dengan sebutan Misionaris Serikat Maria.

Pada tahun 2014, Serikat Maria Montfortan merayakan 75 tahun kehadiarannya di Indonesia. Berawal menangani wilayah timur vikariat apostolik Pontianak, yang sekarang dikenal dengan keuskupan Sintang, Serikat Montfortan sudah berkarya di beberapa keuskupan, yakni keuskupan Sintang, Bandung, Ruteng dan Palangkaraya. Selain menangani paroki, perlahan-lahan SMM membuka bidang pelayanannya dalam wilayah kategorial lewat pembinaan kaum muda/i, kursus pemimpinan umat, dan kebutuhan-kebutuhan praktis untuk mendukung karya paroki. Untuk mendukung pengembangan karya ini, tidak dapat disangkal tenaga para imam dan bruder amat diperlukan dan mendapat perhatian yang serius. Apalagi tuntutan universalitas yang melekat dalam pelayanan SMM dunia menuntut SMM indonesia untuk mengutus dan memperkuat beberapa wilayah misi yang ditangani SMM di luar negeri.

 Paroki sebagai Bentuk Karya Awal SMM

Keberadaan SMM di Indonesia tidak lepas dari kebutuhan akan tenaga imam yang amat kurang pada awal perintisan karya misi di wilayah kalimantan, khususnya di kalimantan barat yang ditangani oleh para imam Kapusin. Pada tahun 1905, wilayah kalimantan ditingkatkan menjadi Perfektur Apostolik dan Pater Pacificus Bos, OFM Cap diangkat menjadi Perfek Apostoliknya. Setelah wilayah Timur dan Selatan Kalimantan diambil alih oleh para imam Misionaris Keluarga Kudus (MSF), dan kemudian menjadi Perfektur Apostolik Banjarmasin, para kapusin berkonsentrasi di wilayah Kalimantan Barat. Kendati demikian, kebutuhan akan tenaga pastoral tetap besar mengingat wilayah Kalimantan Barat sendiri sangat luas. Karena itu, Mgr. Bos berusaha untuk mencari tarekat-tarekat baru yang dapat membantu karya di Kalimantan Barat.

Usaha untuk mendatangkan tenaga misionaris baru dilanjutkan oleh Mgr. Van Valenberg, pengganti Mgr. Bos. Pada tahun 1936, Mgr. Valenberg  menawarkan kepada Serikat Maria Montfortan, Provinsi Belanda untuk mengambil alih sebagian karya misi di Kalimantan Barat. Sebelumnya, jalinan koresponden dengan pihak SMM Belanda sudah dijajaki oleh Pater Provinsial  Kapusin Belanda lewat surat tertanggal 5 Juli 1924. Setelah tawaran pertama belum mendapat tanggapan positif, Mgr. Valenberg kembali memberi tawaran kepada SMM Belanda pada tahun 1938. Tawaran kedua ini kemudian diterima oleh SMM Provinsi Belanda, sehingga terhitung sejak 1938, meski belum mengutus misionarisnya, wilayah misi Sintang dan Kapuas Hulu menjadi tanggung jawab SMM.

            Usaha untuk mematangkan rencana ini dilakukan secara intensif oleh Mgr. Valenberg dan Pater Provinsial SMM Belanda. Realisasi pengambilalihan tanggung jawab wilayah misi Sintang dan Kapuas Hulu terjadi pada tahun 1939, setelah tiga orang misionaris pertama SMM tiba di Indonesia. Mereka adalah Pater Harry L’ortye, Pater Jan Linssen dan Br. Bruno. Setelah melalui beberapa perhentian, mereka tiba di Paroki Keluarga Kudus dari Nazareth-Bika pada tanggal 29 April 1939. Inilah paroki pertama yang diambil alih oleh SMM dari Kapusin. Kurang lebih dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 10 Juni 1939, Pater Linssen berangkat ke Putussibau dan mulai menetap di sana. Tanggal ini kemudian dianggap sebagai awal berdirinya Paroki Hati Maria tak Bernoda, Putussibau, sekaligus menjadi paroki pertama yang dibuka oleh SMM. Pada tahun 1940, SMM Provinsi Belanda mengutus dua orang misionaris untuk menambah kekuatan misionaris perintis, mereka adalah Pater Lambertus van Kessel dan Pater Josef Wintraecken.

Situasi Perang Dunia II turut mewarnai langkah awal karya misi SMM di Wilayah yang dikemudian dikenal dengan nama Keuskupan Sintang. Pada tahun 1942-1946, semua misionaris SMM bersama dengan para misionaris lainnya di wilayah kalimantan barat diasingkan ke Wilayah Kuching oleh pemerintah Jepang. Tahun 1946, mereka kembali dari pengasingan dan kemudian perlahan-lahan mengambil alih semua wilayah yang sebelumnya dilayani oleh Kapusin. Pada tahun ini, Pater van Kessel diutus ke Banua Martinus sedangkan Pater L’ortye menetap di Sintang. Bulan-bulan awal tahun 1947, seluruh paroki yang dilayani oleh Kapusin diambil alih oleh SMM. Hal ini tidak lepas dari semakin bertambahnya misionaris yang diutus dari Belanda.

Usaha mengembangkan misi di Wilayah Sintang dan Kapuas Hulu berkembang dengan baik seiring dengan meningkatnya status Sintang dari wilahah Perfektur Apostolik Pontianak menjadi Perfektur Apostolik Sintang, dan Pater Lambertus van Kessel diangkat menjadi Perfek Apostoliknya pada tanggal 11 Maret 1948. Sejak saat itu, terdapat dua kepemimpinan di Sintang bagi para Montfortan. Pater L’ortye  kembali dipilih menjadi Superior Religiosus SMM dan Mgr. Lambert van Kessel selaku Perfeck Apostolik Sintang. Selanjutnya, pembukaan paroki-paroki baru digalakan dalam kerjasama yang baik antara Pater L’ortye dan Mgr. Kessel. Pengembangan wilahah paroki diarahkan ke wilayah Melawi. Tahun 1947, Paroki Nanga Serawai dibuka dengan kehadiran Pater Adrian Schellart. Selanjutnya, pada tahun 1949, Nanga Pinoh menjadi paroki dan dilayani oleh Jan Linssen.

Ketika terjadi ketegangan politik antara Indonesia dan Belanda, sehubungan dengan masalah Irian Jaya (Papua), misi SMM di Sintang mendapat tantangan sebab pihak Indonesia menolak pemberian visa kepada orang Belanda dan banyak menasionalisasikan perusahan-perusahaan Belanda. Situasi politik ini memberi dampak pada pendelegasian tanggung jawab menangani misi di Sintang kepada SMM Provinsi Amerika Serirkat. Terhitung sejak tanggal 3 Mei 1959, misi SMM di Sintang diserahkan kepada SMM Provinsi Amerika Serikat, diikuti dengan kedatangan misionaris Amerika yang pertama bulan November 1960. Meski ditangani oleh SMM Provinsi Amerika, Para Misionaris Belanda tetap berkarya di Sintang.

Pengembangan karya paroki di bawah pelayanan para Montfortan makin berkembang dan status Perfektur Sintang meningkat menjadi Vikariat Apostolik Sintang pada tahun 1955 dan diangkat lagi statusnya sebagai keuskupan pada tahun 1961. Terhitung sejak tahun 1939 sampai dengan tahun 1976, SMM Provinsi Belanda mengirim 38 orang misionaris ke Indonesia. Dan sejak tahun 1939 sampai dengan tahun 1980, Keuskupan Sintang memiliki 36 Paroki. Berkembangnya paroki-paroki di keuskupan Sintang saat ini tidak lepas dari perjuangan awal para Montfortan yang tidak mengenal lelah mengadakan pewartaan dan pelayanan bagi umat di pedalaman. Suka duka mereka jalani dalam semangat penyerahan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi dan di bawah perlindungan Bundawi Maria.

Luasnya wilayah keuskupan sintang dan sulitnya medan karya para montfortan menyebabkan mereka rela berminggu-minggu untuk menjalankan model pewartaan dan pelayanan pastoral yang dikenal dengan istilah “turne.”Suasana yang khas perkampungan di pedalaman membuat para misionaris ditempa untuk menjadi pribadi yang adaptif. Mereka harus siap dengan makan seadanya, tidur di tempat yang tidak nyaman dan masalah kesehatan yang tidak memadai.

Dengan semakin mandirinya Keuskupan Sintang, dan pengalihan tongkat estavet dari kepemimpinan SMM ke uskup pribumi dan imam diosesan Sintang, SMM perlahan-lahan meninggalkan paroki-paroki untuk ditangani oleh para imam diosesan Sintang. Selain itu, pada masa kepemimpinan Pater Lam Van den Boorn (1973-1977), Sintang membuka diri untuk bekerja sama dengan misionaris dari konggregasi lain, yakni para imam Kongregasi Misi (CM) dan Kongregasi Oblat Maria Immaculata (OMI). Tidak dapat dipungkiri, peristiwa-peristiwa ini kemudian mendorong SMM Indonesia untuk memikirkan bentuk karya yang khas montfortan.

Tonggak sejarah yang perlu untuk dicatat adalah pelebaran sayap karya ke keuskupan Ruteng. Sejak kehadirannya di Indonesia, seluruh dinamika pelayanan SMM berpusat di Keuskupan Sintang. Kerjasama dan komunikasi yang baik antara Pater Superior Regional, Pater Piet Derckx dan Uskup Ruteng Mgr. Eduardus Sangsung, SVD melahirkan kesepakatan untuk menerima kehadiran SMM di Keuskupan Ruteng dan menangani sebuah paroki baru, yakni Paroki Poco, sekitar 11 km dari pusat keuskupan dan kota Ruteng. Paroki Poco kemudian mengambil nama St. Montfort sebagai pelindung paroki. Pemberkatan dan peresmian Gereja Paroki Santo Montfort Poco berlangsung tanggal 31 Desember 1999. Pater Kondradus Hancu menjadi Pastor Paroki pertama di Poco.

Dan tepat setahun sebelum dan saat SMM merayakan 75 tahun kehadirannya di bumi pertiwi, SMM menerima tiga paroki sebagai  medan karya pastoralnya. Pertama, Paroki St. Montfort PIR Butong dan Paroki Petrus Kanisius, Kandui. Paroki St. Montfort PIR Butong diberkati Mgr. A. Sutrisnaatmaka, MSF pada 1 September 2013 dan nama “St. Montfort” sebagai nama pelindung paroki menandai awal kehadiran definitif karya pastoral SMM di tanah Palangka Raya. Pada saat bersamaan diserahkan juga kepada SMM Paroki St. Petrus Kanisius yang sebelumnya dilayani tim pastoral Paroki Muara Teweh. Kedua, pada bulan Oktober 2014, SMM menerima Paroki St. Antonius, Mbeling, Keuskupan Ruteng. P. John Suri, SMM diangkat menjadi pastor parokinya dengan dibantu P. Fransiskus Borgias, SMM.

Semakin meluasnya medan pastoral SMM  menjadi kesempatan untuk memperluas “Kerajaan Yesus Kristus melalui Maria”, namun disisi lain menjadi ujian untuk “Tangguh, Tanggap dan Tanggungjawab”.

 Membuka Karya Kategorial khas Montfortan

Sampai dengan masa kepemimpinan Pater Lam van den Born (1977), peran para misionaris SMM amat penting dalam segala bidang kehidupan di keuskupan Sintang. Ini kemudian berbeda saat Rm Isak Doera, Pr, imam keuskupan Ende yang berkarya sebagai imam tentara di Keuskupan Pontianak, diangkat menjadi uskup kedua Keuskupan Sintang, 19 Mei 1977. Mulai saat itu, banyak pos-pos penting yang sebelumnya dipegang oleh SMM perlahan-lahan diserahkan kepada imam-imam diosesan Sintang. Hal ini membuat keberadaan para imam SMM menjadi mengambang. Ini terkait erat dengan kenyataan bahwa pada masa itu, para montfortan belum memiliki rumah sendiri. Mereka tinggal dan bergabung dengan para imam diosesan dan imam dari tarekat lain yang ikut berkarya di keuskupan Sintang.

Situasi mulai menemukan titik terangnya dengan pembangunan Biara Montfort di Menyurai Sintang. Mulai tahun 1987, biara ini selesai dibangun dan menjadi rumah SMM bagi para misionaris yang berkarya di Sintang. Biara ini diresmikan oleh Mgr. Ishak Doera, Pr pada tanggal 2 Februari 1988. Karya kategorial yang khas Montfortan berawal dari tempat ini. Meski pun SMM pada saat itu sudah bergiat di bidang Pendidikan formal maupun non formal,  pemeliharaan dan pelestarian budaya, pertanian agroforesty, dll. Namun semua karya tersebut merupakan karya Keuskupan Sintang, yang ditangani oleh para Montfortan. Tidak mengherankan bahwa perlahan-lahan, seiring dengan kebijakan uskup Sintang, beberapa bentuk karya tersebut akhirnya ditutup atau diambil-alih seluruhnya oleh keuskupan.

Cikal bakal karya kategorial yang dicita-citakan oleh para Montfortan dimulai dengan dibentuknya tim Keliling yang akan melayani umat dari paroki ke paroki tanpa terikat struktur dan wilayah, namun tetap dalam kerjasama dengan para pastor paroki setempat. Dalam rancangannya, tim keliling ini akan datang ke sebuah paroki untuk menjalankan karya misi bagi umat dan tinggal untuk beberapa saat. Setelah menyelesaikan karya misi, tim ini akan berangkat ke paroki lain dengan agenda yang sama. Namun, cita-cita ini belum mampu direalisasikan dengan baik mengingat kondisi lapangan dan belum siapnya paroki-paroki yang diajak untuk bekerjasama. Situasi eksternal ini diperkuat dengan persoalan internal team sendiri yang belum memiliki program yang jelas.

Kendala pembentukan team keliling ini dijawab oleh dewan regio tahun 1998 dengan membentuk tim kategorial. Tim ini akan berada langsung dibawah naungan serikat. Untuk maksud itu, maka serikat pertama-tama mempersiapkan anggota-anggota team ini dengan mengutus mereka menimba ilmu di rumat retret CIVITA. Pater Joep van Lier menjadi mentor utama dalam pembentukan tim ini.

Setelah tim ini terbentuk, tantangan baru muncul soal tempat di mana mereka akan memulai karya baru ini. Dalam kerjasama dengan pihak keuskupan, akhirnya tim ini menggunakan bangunan milik keuskupan yang terletak di seberang biara Montfort, Menyurai. Untuk menunjang kegiatannya, dibangunlah sebuah bangsal di tempat yang sama. Tim ini kemudian bergerak dan mulai mengadakan kontak dengan paroki-paroki dan sekolah-sekolah yang tersebar di Sintang dan sekitarnya. Beda dengan konsep tim keliling yang belum memiliki program kegiatan yang jelas, tim kategorial ini sudah memiliki program kerja yang jelas. Untuk memenuhi kebutuhan paroki, tim mempersiapkan program-program seperti Kursus Persiapan Perkawinan, Pembekalan DPP, pembinaan kaum muda/i, kaderiasasi dan kursus pemimpin umat. Sedangkan untuk kebutuhan sekolah-sekolah, tim ini mempersiapkan program-program seperti retret, rekoleksi, konfrensi tentang gender dan latihan kepemimpinan dasar. Tim ini juga siap dipanggil untuk membantu paroki-paroki atau sekolah-sekolah yang membutuhkan tenaga sebagai fasilitator.

Keseriusan untuk mendukung karya kategorial ini ditunjukkan lewat pembangunan Biara Deo Soli, di daerah kedamin, Putussibau. Biara ini dibangun mulai Mei tahun 1999 dan diberkati tanggal 10 Januari 2001 oleh Uskup Agustinus Agus, Pr. Pola kerja tim Deo Soli tidak berbeda jauh dengan tim Sebeji Sintang. Tentu saja, perbedaan konteks dan kesadaran umat turut mewarnai perkembangan tim ini.

 Membuka Formasi Montfortan Pribumi

Kehadiran para misionaris SMM Belanda dalam kurun waktu 1965-1975 mengalami penambahan tenaga muda yang segar dan bersemangat. Namun, pada saat bersamaan, para misionaris perintis banyak yang memutuskan untuk kembali ke Belanda, terutama karena alasan kesehatan. Fenomena datang dan perginya para misionaris ini melahirkan ide dalam diri beberapa misionaris untuk membuka formasi SMM khusus bagi calon-calon pribumi. Tidak dapat dipungkiri, ide ini mendapat tantangan yang cukup kuat dari sebagian misionaris yang merasa tidak perlu untuk mendidik montfortan pribumi. Hal ini datang dari anggapan bahwa kehadiran SMM di Indonesia bukan untuk mencari anggota baru melainkan untuk menjalankan karya misi. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa montfortan pribumi tidak dapat berkembang dan kesulitan untuk berjalan mandiri. Pemikiran-pemikiran yang bernada pesimis ini tidak datang begitu saja. Situasi dan kondisi karya misi yang luas dan sulit turut menjadi pertimbangannya.

Namun, titik terang terjadi dalam musyawarah bulan November 1977. Para peserta sepakat untuk menerima calon pribumi dan mempersiapkan rencana pembukaan novisiat yang tentunya membutuhkan izinan dari Superior Jenderal dan pemilihan magister yang diambil oleh Pater Provinsila Belanda di bawah persetujuan Dewan Jenderal. Calon pertama adalah seorang Bruder. Untuk mengakomodasi rencana ini, maka Pater Pemimpin Regional yang saat itu dijabat oleh  Pater Lam van den Boorn menulis surat kepada Pater Hub Somers, Provinsial Belanda, dan Pater Jenderal yang isinya adalah meminta izin membuka novisiat di Putussibau dan mengangkat Pater Wim Peeters sebagai magister, serta Pater Janus van der Vleuten sebagai socius. Pada tanggal 8 Desember 1979, novisiat yang baru berdiri ini resmi dibuka. Setelah berjalan kurang lebih 4 tahun, novisiat dipindahkan ke Sintang, tepat di Sungai Durian.

Karena keuskupan Sintang telah membuka sebuah seminari tinggi di Bandung, di Mana Pater Piet Derckx menjadi rektornya, muncul gagasan untuk memindahkan niovisiat ke Bandung. Pater Piet kemudian diminta oleh dewan regional untuk memikirkan bagaimana bentuk pembinaan Montfortan jika dipindahkan ke Bandung: bergabung dengan para calon imam keuskupan Sintang atau membuka novisiat sendiri. Pengalaman Pater Piet menangani para calon imam keuskupan sintang dan dua postulan SMM dalam satu rumah memperlihatkan pola seperti itu tidak cocok dan efektif. Komisi formasi SMM kemudian mempertimbangkan fakta ini dan memikirkan untuk menyediakan rumah sendiri bagi novisiat SMM. Lewat bantuan dari dewan provinsi Belanda, rencana pemindahan novisiat ini berjalan dengan baik. Maka sejak tahun 1985, Novisiat SMM dipindahkan dari Sintang ke Bandung.

Dimulainya novisiat di Bandung diikuti oleh gencarnya pastoral panggilan. Mereka yang dipercaya untuk menangani ini mulai aktif untuk pergi ke berbagai tempat guna mempromosikan SMM dan berharap ada sebanyak mungkin orang-orang muda yang tertarik bergabung dalam SMM. Meski demikian, perkembangan formasi tidak tanpa tantangan. Situasi makin bertambahnya jumlah yang masuk menuntut bangunan yang lebih besar dan memiliki daya tampung yang memadai. Di sisi lain, pihak jenderalat mempertanyakan banyak regio yang ingin membangun skolatikatnya sendiri, sementara tenaga formator tidak memadai. Namun, karya yang dirintis para montfortan Belanda ini terus mengalami perkembangan yang baik. Sebuah keyakinan bahwa karya formasi ini berjalan dalam berkat dan penyelenggaraan Allas sendiri.

Tentu saja, mereka yang menyelesaikan masa novisiat dan mengikrarkan kaul pertama memerlukan sebuah rumah untuk melewati masa skolastikatnya. Dengan bantuan dana dari provinsi Belanda, sebuah rumah yang berlokasi di Sukasenang berhasil dibeli dan direnovasi untuk kepentingan skolastikat. Bulan Agustus 1988, rumah skolastikat di Suksenang selesai direnovasi dan dipakai sebagai rumah skolastikat SMM pertama. Pater Piet Derckx menjadi rektor bagi para skolastik smm, meski tetap merangkap tugas sebagai rektor untuk seminari keuskupan sintang.

Perkembangan yang baik dalam jumlah yang masuk novisiat membuat dewan regio perlu memikirkan tempat yang lebih luas. Hal serupa dengan skolastikat. Kedua persoalan ini kemudian dipecahkan dengan dibelinya sebuah rumah yang terletak di Jalan Surya Sumantri no. 83. Rumah ini memiliki kamar yang cukup banyak karena menjadi tempat kos bagi mahasiwa Universitas Kristen Maranatha. Proses pembelian dan pemindahan hak milik atas rumah ini rampung pada tanggal 31 Oktober 1989. Selanjutnya, bangunan ini direnovasi untuk memenuhi kebutuhan skolastikat. Bangunan ini selesai di renovasi pada bulan Oktober 1991. Untuk menambah tenaga formator, maka Pater Nico Schneider meninggalkan Kalimantan dan menjadi staf formator di Surya Sumantri. Rumah skolastikat  ini baru diberkati kurang lebih setengah tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Februari 1992.

Selanjutnya, dinamika dan situasi yang kurang menguntungkan untuk proses pembinaan para montfortan membuat para pimpinan SMM berpikir untuk memindahkan novisiat ke Flores, tepatnya di keuskupan Ruteng. Rencana ini kemudian direalisasikan dengan dibangunnya gedung novisiat SMM di Langgo, Ruteng. Selanjtunya pada tahun 2002, 13 novis angkatan 2001/2002 melanjutkan tahun novisiat ke dua mereka di tempat yang Ruteng. Pater Wim masih menjadi magister, dan ditemani oleh Pater John Suri selaku socius. Dengan pindahnya novisiat ke Ruteng, bangunan lama di Jln Gunung Kencana 10 berganti fungsi menjadi rumah “KOMPAS” (Komunitas Pastoral), yakni tempat para frater yang telah menyelesaikan tahun pastoral dan menempuh studi pasca sarjana di Fakultas Filsafat-Teologi Universitas Parahyangan.

Pada tahun 2003, lewat pelbagai pertimbangan, para pimpinan SMM, yang saat itu sudah diangkat status dari Delegasi regional menjadi Delegasi Jenderal, memutuskan untuk memindahkan rumah skolastikat ke Malang. Setahun kemudian, meski rumah skolastikat belum selesai, para frater yang menyelesaikan Pastoral tidak kembali ke Bandung tetapi langsung pindah ke Malang. Demikian pun para frater yang baru mengikarkan kaul pertama di Ruteng tidak lagi berangkat ke Bandung, melainkan langsung ke Malang dan memulai studi di STFT Widya Sasana. Untuk keperluan itu, Pater Arnold Suhardi berangkat meninggalkan Bandung pada bulan Juli 2004 dan secara resmi membuka lembaran baru hidup formasi SMM di Malang. Sambil menunggu proses pembangunan skolastikat yang baru, serikat kemudian mengontrak rumah di Langsep Barat Kav. 40. Pada bulan Juli 2005, pembangunan rumah skolastikat rampung dan diberkati oleh Uskup Malang, Mgr. Herman Joseph Pandoyoputro pada tanggal 14 Agustus 2005. Pater Konradus Hancu diangkat menjadi rektor seminari yang kemudian dikenal dengan nama Seminari Montfort “Pondok Kebijaksanaan”.

 Penutup

Demikian sejarah singkat perkembangan karya SMM di Indonesia. Mulai hadir untuk membangun misi di wilayah Sintang, dilanjutkan dengan pengembangan model pelayanan kategorial dan membuka formasi untuk para montfortan pribumi. Tidak dapat dipungkiri, seluruh dinamika perkembangan ini tak lepas dari Penyelenggaraan Illahi dan doa Santo Montfort sendiri. Dalam semangat Pembaktian Diri, para Montfortan Indonesia terus berkarya agar Yesus Kristus dan BundaNya Maria semakin dikenal dan dicintai. “Aku Milikmu Semata-mata, dan segala milikku kupersembahkan kepadaMu, ya Yesus yang terkasih lewat Maria, ibuMu yang suci”.

[1] Selain SMM, Santo Montfort juga mendirikan dua tarekat lain, yakni tarekat suster Putri-putri Kebijaksanaan (Dauthers of Wisdom)  dan Para Bruder Santo Gabriel (SG). Tareka Putri-putri Kebijaksanaan sudah berkarya di Indonesia, tepatnya di Keuskupan Ruteng.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme