MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Sejarah Formasi SMM Indonesia

SEJARAH FORMASI SMM INDONESIA

 Para Misionaris Belanda telah menanamkan benih kasih Allah di Indonesia sejak tahun 1993. Tujuan utama kehadiran Montfortan di Belanda adalah untuk mewartakan karya cinta aksih Allah.Oleh karena itu, hingga tahun 1975, tidak ada isyarat pembentukan atau pendirian rumah formasi, sedangkan Montfortan yang berasal dari Belanda hampir seluruhnya telah ‘termakan usia”; ada yang kembali ke Belanda dan ada yang meninggal dunia di Kalimantan. Tidak ada lagi Montfortan yang dikirim dari Belanda. situasi ini secara tidak laangsung mendesak para Montfortan untuk mulai mendidik para Montfortan muda pribumi.

            Sebenarnya, imam Montfortan pertama Indonesia telah ada yaitu Pastor Ding yang berasal dari mendalam, Kalimantan Barat. Ia sebelumnya imam projo lulusan STFT Ledalero (Flores), dan ditahbiskan menjadi imam tahun 1945. Ia melayani umatnya di Kalimantan Barat. Namun kemudian tertarik untuk bergabung dengan SMM. SMM mengabulkan permohonannya dan mengirim Pastor Ding ke Belanda untuk menjalani formasi Montfortan dan menajdi seorang novis Montfortan di Meerssen. Pada tahun 1949 ia mengikrarkan kaul pertamanya  sebagai SMM. Kemudian pada tahun 1950 ia kembali ke Kalimantan Barat sebagai seorang imam SMM. Sejak dia, belum ada imam Montfortan pribumi lainnya yang bergabung hingga tahun 1978. Dan barutahun 1979, Novisiat di Puttusibau dimulai.

 1979: Novisiat di Putussibau

Ketika pada tahun1977seorang putra Dayak bernama Aloysius Jamal ingin bergabung dengan Misionaris Montfortan sebagaiseorang bruder, ia dikirim ke novisiat Kapusin sebagai seorang calon Montfortan, dengan harapan dia akan mengubah p[ikirannya dan kemudian bergabung dengan para Kapusin. Namun, setelah rampung program postulant dan novisiat, dia ternyata sungguh-sungguh berkeinginan untuk bergabung dalam Misionaris Montfortan dan spenuhnya menolak menjadi bruder Kapusin. Seteleah formasi awal ini, pada tanggal 30 Mei 1979, Jamal kembali ke Putussibau di mana dia begabung dalam kehidupan komunitas pastoran Montfortan dengan P. adrianus van der Vleuten, pastor paroki dan P. Wim Peeters. Akhirnya pada 14 November 1979, Superior regional, P. Lamber van dern Boorn, membuat suatu permohonan resmi kepada Superior jenderal, dan kepada Superior Privinsi Belanda untuk membuka rumah novisiat di Indonesia. Pada tanggal 26 November 1979, P. Marcel Gendrot menulis sebuah surat resmi: mulai tanggal 8 Desember 1979 pastoran Putussibau dijadikan sebagai sebuah ruman Montfortan dan sebagai novisiat untuk regio Indonesia. Dewan jenderal sepakat dengan Dewan Provinsi Belanda untuk mempercayakan formasi para novis kepada P. Wim Peeters, sebagai Magister Novis dan P. Adrianus van der Vleuten sebagai pembantunya. Superior Regional diminta untuk memastikanwaktu pembukaan novisiat. Maka Novisiat itu dibuka tanggal 2 Februari 1980, dengan hanya seorang calon, Yaitu Bruder Jamal yang mengikrarkan kaul pertamanya pada 2 Februari 1981 (Namun pada tahun 1989 Bruder Jamal meninggalkan kongregasi karena tidak diterima atau diizzinkan untuk mengikarkan kaul kekalnya yang telah ditunda selama beberapa tahun.

            Kemudian P. van der Vleuten kembali ke Belanda, dan P. Wim menjadi pastor paroki Putussibau tanpa ada novis. Juga pengalaman menjadi seorang Magister Novis tanpa pendidikan professional yang pantas mengharuskan P. Wim membuat permohonan untuk diperbolehkan mengikuti kursus sebelum memulai dengan calon-calon baru. Dewan Provinsial setuju dan P. Wim siap mengikuti kursus setahun bagi magister novis di Bangalore India. Akan tetapi, beberapa konfrater yang diminta untuk pindah ke Putussibau untuk menggantikan posisi P. WIm sebagai pastor paroki menolak dan sebagian besar karena mereka tidak mendukung formasi bagi para Montfortan Indonesia. Oleh karena itu, rencana mengikuti kursus di India dibatalkan. Setelah P. Van der Vleuten kembali ke Putussibau, P. Wim diberi kesempatan untuk mengikuti kursus tiga bulan Spiritual Leadership di Institut Roncalli, Salatiga, Jawa tengah, tahun 1982.

 1982: Sintang

Pada tanggal 2 November 1982, P. Van der Boorn mengajukan permintaan kepada pater Lemire Superior Jendral yang baru, untuk memindahkan novisiat dari Putussibau ke Sintang. Regio telah membeli sebidang tanah dengan sebuah rumah kecil di sana. Magister Novis ingin menggunakana rumah itu untuk pembinaan. Superior Regional melanjutkan, “jika Anda hendak menanyakan saya apakah Sinatngakan menajdi tempat final untuk Novisiat di Regio ini saya tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena tahun berikutnya, ada konfrater yang mengatakan bahwa kita seharusnya memiliki novisiat di Jawa dekat sebuah Semianri Tinggi. Tanggal 23 November 1982, Pater Lemire menjawab “Dewan jendral telah memeprtimbangkan permintaanmu dengan baik, dan karenanya saya mengesahkan pembukaannya sebagai sebuah rumah Montfortan yang baru, yang telah Anda beli di Sintang dan memulai Novisiat di sana. Pengesahan ini berlaku – bila ada peluang – Anda memutuskan untuk pindah dekat sebuah rumah studi di lokasi yang lain. Dewan juga menunjuk P. Wim Peeters sebagai Magister Novis.”.

            Tahun 1982, P. WIm ditunjuk sebagai pembimbing rohani pada Sekolah Katekis di Sintang dan memulai tinggal bersama beberapa postulant di Novisiat yang baru. Selama tiga tahun berikutnya, 1982-1985 beberapa calon yang semuanya dari Dayak-Kalimantan bergabung menjadi postulant, tetapi kebanyakan mereka tidak bertahan.  Tahun 1983, Uskup Sintang meminta P. Wim untuk menjadi formator bagi sekelompok calon imam diosesan yang harus datang ke Sintang sebelum mereka dikirim ke Seminari Tinggi di jawa. Mereka mengikuti beberapa pelajaran bersama dengan calon-calon Montfortan di Novisiat. Tahun 1984, tiga postulant baru diterima, di antaranya dua bruder-postulan dan mereka mulai hidup di Novisiat. Beberapa aspiran bergabung dengan komunitas itu di setiap akhir pekan. Kemudian tibalah suatu gebrakan baru yang besar: pemindahan Novisiat ke Bandung di Jawa Barat.

 1985: Pemindahan Novisiat ke Bandung

pada bulan Juni 1984, P. Piet Derckx, SMM ditunjuk menjadi Rektor Semianri Tinggi Diosesan Sintang di Bandung. Bersama dengan para seminaris lain, merreka mengikuti kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Mulanya P. Piet mengumpulkan mereka di sebuah rumah kontrakan dan pada tanggal 30 September 1984 mereka pindah ke sebuah bangunan baru, Seminari “Betang Betara”.

            Dua calon Montfortan dari Kalimantan diterima di seminari ini untuk menjalani masa postulat mereka dibawah bimbingan P. Piet. Mereka mengikuti pelajaran dalam “Tahun Orientasi Rohani (TOR)” semacam program novisiat umum baik bagi calon anggota religious maupun Diosesan. Mereka bahkan sudah menerima jubah dan tali single pada November 1984,  padahal baru akan memulai Novisiat-Kanoniknya pad September 1985 bersama dengan tiga postulant dan dua calon lain dari Kalimantan.

            Tanggal 2 Maret 1985 Superior General, Pater C. Smit, meminta izin kepda Superior Jenderal untuk memindahkan Novisiat ke Bandung. Pemindahan ini disetujui oleh P. Gerald Lemire tanggal 11 April. Tanggal 11 Maret 1985. P. Piet Derckx membeli sebuah rumah di Jalan Gunung Kencana No. 10, Ciumbuleuit. Rumah itu kemudian menjadi sebuah asrama dengan kapasitas untuk delapan orang.

            Bulan Juni setelah kembali dari cutinya, magister novis mulai tinggal di rumah tersebut, bersama dengan tujuh orang postulant (enam orang calon imam dan satu orang calon bruder, seorang tukang kayu yang dilatih di rumah pembinaan khusus di Sintang).

            Masa Novisiat dimulai tanggal 8 September 1985. Lima orang novis ikut dalam program novis selama empat hari dalam seminggu. Itu berarti hanya tersisa dua hari saja dalam seminggu untuk pelajaran di rumah (novisiat). Pemimpin novis selama hari-hari itu, mengajar tentang Spiritualitas St. Montfort, Konstitusi, Meditasi. P. Piet derkx yang saat itu masih mengurus calon imam projo Sintang di Bandung mulai mengajar tentang kepribadian di novisiat, sedangkan P. Wim memeberikan latihan meditasi bagi para semianris projo Sintang. Dua orang novis yang sudah ikut program tahun orientasi spiritual bersama, setahun sbelumnya mulai kuliah di fakultas filsafat.

            SMM regio Indonesia, memutuskan untuk menambah masa Novisiat menjadi dua tahun. Akhirnya tanggal 15 Agustus 1987 tiga dari tujuh postulant mengikrarkan kaul pertama (tetapi ketiga orang ini telah meninggalkan SMM).

 1988: Seminari Montfort

            Karena para calon semakin banyak, maka rumah tempat mereka tinggal menjadi semakin sempit. Juga formasi para novis dn skolastik, oleh formator yang sama di rumah yang sama,tidak lagi ideal. Oleh karena itu, P. Piet meminta mundur dari tugasnya di semianri tinggi projo Sintang di “Betang Betara” kepada Sukup Sintang agar bisa memulai menjadi formator para calon imam Montfortan. Tugs yang diembannya di Seminari Betang Betara akhirnya diambil alih oleh seorang imam CM.

            Sebuah rumah baru yakni sebuah rumah yang normal dengan kapasitas Sembilan orang, dikontrak di jalan Suka Senang di sbelah timur Kota Bandung. Rumah ini kemudian menjadi “Seminari Montfort” yang baru. P. Piet dan tiga orang calon imam pindah ke rumah itu. Rumah ini diberkati pada 15 Agustus 1988 oleh Superior General: Pater C. Smit, SMM. Pada waktu yang sama diadakan pula perayaan pengikraran kaul pertama dari dua novis (salah satunya adalah Pater Ignasius Widodo, SMM yang kemudian menjadi imam Montfortan pertama hasil formasi Indonesia).

            Para frater skolastik terus mengikuti perkuliahan rutin di Fakultas Filasafat dan Teologi UNPAR. Pada hari rabu tidak ada perkuliahan di kampus. Pada saat itulah, para frater bisa mengambil pelajaran khusus di semianri. Pelajaran khusus yang diberikan antara lain, mariologi dan Spiritualitas Montfortan.

            Sejak tahun 1988, setiap tahun, novis tahun kedua yang telah melewati tahun Kanonik novisiat, pindah ke rumaha skolastik untuk memulai studi akademis. Mereka belajar dan hidup bersama dengan para frater skolastik tetapi hari Rabu menajdi “Hari Novisiat” bagi mereka. Pada hari ini Magister Novis datang ke semianri untuk memberikan latihan kepada merkea tentang Pembaktian Diri dan kaul-kaul dalam Totus Tuus Journey dan juga meenjalani bimbingan pribadi. Sebulansebelum mereka mengikrarkan kaul pertama, yaitu selama masa liburan kuliah, menjadi bulan khusus bagi para Montfortan untuk retret spiritual dalam rangka persiapan Pembaktian Diri dan Pengikraran kaul-kaul.

Komunitas yang Sedang Berkembang

Para novis baru terus menyusul. Pada tahun 1987, kapasitas novisiat menjadi lebih besar. Lantai dua dibangun pada sebagian rumah, dalam rangka penyediaan tempat untuk satu ruangan kelas, dan tiga ruangan lainnya. Pada waktu itu, P. Wim mengadakan promosi ke Flores satu dari pulau di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Katolik. Di Seminari Pius XII Kisol dia diberi kesempatan untuk menyapa para seminaris. Beberapa merasa tertarik dan memutuskan untuk bergabung dalam SMM. Promosi ke Flores ini, untuk seminari-seminari menengah dan juga umum dan sekolah-sekolah menengah umum Katolik dilanjutkan oleh Pater C. Smit, P. Piet dan P. Nico dan menjaring bnyak anggota. Juga Semianri Menengah Stella Maris Bogor (Jawa Barat) membuka pintunya bagi promosi Montfortan.

            Pada tahun 1990, Seminari Tinggi di jalan Sukasenang ternyata terlalu kecil. Sebuah rumah yang lebih besar, bekas restoran dengan pavilyun dua lantai tersedia 35 kamar berhasil dibeli di bagian barat Bandung di jalan Surya Sumantri 83. Karena novisiat telah menjadi lebih besar lagi dengan dua lantai pada seluruh rumah, para novis dan magister mereka dipindahkan. Mereka pindah pada bulanMei untuk sementara waktu ke seminari yang baru dibeli. Pada bulan Agustus, setelah Sukasenang dijual, para skolastik juga pindah ke Semianri Montfort yang baru. Pada tanggal 28 Desember 1990 para novis pindah ke novisiat yang direnovasi tersedia 20 kamar untuk para novis, sebuah kapel besar, dan ruang rekreasi.

            Supaya menjamin pendampingan yang intensif untuk meningkatkan jumlah calon, maka pada bulan Agustus tahun 1991 P. Nico schneiders, SMM ditarik dari Paroki Nanga Pinoh Serawai, Borneo, dan diangkat menjadi rekan pembina dari P. Piet di Seminari Montfort. Dia juga mulai mengajar di Novisiat (Sejarah hidup religious, Sejarah Montfortan dan Liturgi). Selain itu, bersamaan dengan “Tahun Orientasi Spiritual” telah dikurangi jumlah kelas bersama dan untuk selanjutnya hanya diberikan pada hari Senin dan Selasa: Kitab Suci, Mazmur, Agama dan Pengantar dalam Spiritualitas. Ini berarti bahwa pelajaran lebih banyak diberikan di novisiat. P. Piet mulai memberikan kursus kepribadian, dan sebagai pengajar nyanyian Bahasa Inggris. Dan P. Wim menangani yang lainnya: Spiritualitas Montfortan, Konstitusi, Kehidupan Montfort, Pengantar dalam Meditasi, dan Aktualia. Ketika P. Wim berangkat ke Chicago untuk mengadakan tahun Sabat, pada 1993-1994, P. Nico menjadi Magister Novis Ad interim. Setelah P. Wim kembali, P. Nico mengambil kembali tugasnya sebagai formator di Seminari Montfort.

 Formasi Para Calon Bruder

            Novis pertama SMM di Indonesia merupakan seorang bruder (1980) dan salah satu kelompok pertama novis di Bandung (1985) memiliki seorang bruder. Keduanya telah meninggalkan Serikat. Pada tahun 1991, empat calon bruder pada waktu yang sama meminta izin menjadi: seorang pengemudi taxi, seorang guru, montir/ahli mesin, dan petani. Mereka memulai masa postulan mereka di Seminari Montfort, hidup bersama para skolastik, tetapi mengikuti program khusus yang dipandu P. Piet. Seorang yang pernah mengajukan diri menjadi sopir taxi meninggalkan SMM dan pada tahun berikutnya tiga yang lain bergabung dalam tahun kanonik, bersama dengan novis-novis, demikian mereka secara tetap mengikuti program yang sama. Selama tahun kedua novisiat, yaitu ketika para calon biarwan mulai studi filsafat dan teologi, ketiga frater itu mengikuti program pembinaan pastoral. Mereka hidup di luar novisiat, yang diawasi oleh P. Joep van Lier, SMM yang pada saat itu menjadi pastor paroki di Bandung. Mereka daatng ke Novisiat untuk pembinaan spiritual. Pada beberapa bulan terakhir, mereka kembali ke novisiat, untuk menyiapkan diri mengikuti Pembaktian Diri dan kaul pertama. Setelah kaul perdana, dua dari mereka, yaitu Bruder Maning dan Bruder Niko Narimo mengikuti pelatihan atau kursus peemimpin komunitas Kristen di Jawa Tengah yang diebrikan oleh para Bruder Maria Imaculata. Setahun kemudian mereka diangkat menjadi pemimpin komunitas kita di Sintang. Sedangkan Bruder Yusup Gunarto memulai mengikuti empat tahun formasi di Fakultas Kateketik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama tahun-tahun itu, ia hidup bersama para Bruder Maria Imaculata. Pada tahun 1995, Bruder Maning keluar sedangkan Bruder Niko Narimo dan Bruder Yusup Gunarto mengikrarkan kaul kekal tahun 1998.

            Program ayng sama diberikan kepada dua calon bruder yang diterima sebagai postulant pada tahun 1991. Namun keduanya keluar setelah kaul perdana. Sejak tahun 1995, para calon bruder telah dikirim ke komunitas Sintang untuk mengikuti masa postulant. Seorang mengucapkan kaul perdanya pada tahun 1998, dan diangkat menjadi sekretaris delegasi, sedangkan yang lain sedang mengikuti tahun kedua masa novisiatnya, secara khusus belajar Kitab Suci dan Teologi bersama dengan para skolastik di Universitas Katolik atau Sekolah Tinggi.

 Indonesianisasi Personil Formasi

Sejak tahun 1979, formator Montfortan di Indonesia didasari oleh kehadiran misionaris dari Belanda. Dan saat yang bersejarah dalam hidup dari Komunitas Montfortan Indoensia adalah tanggal 8 Desember 1994, yaitu ketika Ignasius Widodo, buah pertama dari formasi SMM Indonesia, mengikarrkan kaul kekal. Pada 14 Mei 1995, ditahbiskan menajdi imam. Sebelum bergabung dengan kelompok misionaris Montfortan ia telah menajdi seorang guru di salah satu sekolah tinggi di Sintang. Setelah tiga tahun pengalaman pastoral di paroki dekat Sintang, pada tahun 1998 ia diangkat menjadi superior komunitas “Semianri Montfort’ untuk menggantikan P. Piet yang mulai secara penuh bertugas sebagai superior delegasi. Demi tujuan itu, SMM membeli rumah baru, yang kemudian menjadi novisiat yaitu Jalan Gunung Kencana No. 8. Sejak tahun 1996, setiap tahun salah satu dari para skolastik senior yang telah menjalankan tahun pastoral, diangkat menjadi “socius” untuk membantu Magister Novis. Dan akhirnya sejak pengangkatannya (yaitu pada tahun 1997, dengan sekali istrahat dari tahun 1993-1994, P. Wim seorang diri mendampingi para novis. Pada tahun 199, P. Dwi Watun menjadi imam socius yang pertama dan ia berhenti pada tahun 2000, untuk menyiapkan suatu tugas formasi pada masa yang akan datang. Ia diganti P. John Suri, SMM. Pada waktu yang sama, P. Avelinus Amput, SMM diangkat untuk bergabung dalam tim formasi di Seminari Montfort.

 Berbagai Perubahan dan Pemindahan

            Pada tahun 2000, FF UNPAR mulai membuka program master teologi selama dua tahun. Para formator deledasi memutuskan mungkin lebih baik jika skolastik senior yang bergabung dalam program ini harus memiliki komunitas sendiri, terpisah dari Seminari Montfort, dimana mereka dapat membentuk diri mereka sendiri secara dewasa. Komunitasnya harus dekat dengan universitas. Sebuah rumah baru di Bandung sangat mahal. Pada saat yang sama, novisiat yang terletak dengan kampus telah menjadi sangat padat. Karena kelompok skolastik akan kembali ke komunitas awal dan sebuah rumah novisiat yang baru akan dibangun di Flores di Keuskupan Ruteng. Banyak calon yang berasal dari situ. Ini akan membantu penyeleksian dan pemurnian motivasi dari semua calon sebelum pindah ke Jawa. Oleh karena itu delegasi memutuskan juga bahwa tahun kedua novisiat pindah ke Flores sedangkan studi akademis di FF UNPAR akan dimuali setelah profesi pertama. Dan pada tahun 2002 novisiat yang sebelumnya berada di Bandung pindah ke Ruteng, Flores.

 Pemindahan Rumah Formasi Skolastik ke Malang

            Tahun 2004 ditandai dengan peralihan besar situasi formasi SMM Indonesia. Dewan memutuskan agar pada tahun 2004, para frater yang baru menghabiskan masa novisiat di Ruteng tidak lagi mengikuti pendidikan filsafat dan teologi di Bandung, tetapi di STFT Widya Sasana Malang. P. Arnold Suhardi yang sebelumnya bertugas di rumah formasi skolastik Bandung ditugaskan untuk menjadi rektor bagi para frater SMM di Malang. Sementara di Bandung para frater skolastik yang masih mengikuti pendidikan filsafat dan teologi di UNPAR masih diperkenankan untuk mengikuti pendidikan di Bandung selama setahun dan kemudian akan dipindahkan ke STFT Widya Sasana Malang.

            Jumlah para frater pertama yang memulai pendidikan di STFT Widya Sasana Malang adalah sepuluh orang. Lima diantaranya mengikuti program pasca sarjana dan lima yang lainnya mengikuti program strata satu. Mula-mula mereka mengontrak rumah di JL. Langsep Barat Kav. 40. Rumah kontrakkkan ini letaknya tidak jauh dari kampus STFT.

            Pada tahun 2005, rumah pembinaan di Joyo Grand yang telah mulai dibangun tahun 2004 telh rampung. Para frater yang sebelumnya tinggal di Jl. Langsep, pada tanggal 20 Juli 2005 pindah ke rumah formasi yang baru yang terletak di Jl. Joyo Agung 100, Joyo Grand. Mereka kemudian bergabung dengan para frater pindahan dari FF UNPAR Bandung. Pada 14 Agustus 2005 rumah formasi baru ini diresmikan oleh Mgr. H.J.S. Pandoyoputro, OCarm. P. Konrad Hancu kemudian diangkat menjadi rektor di rumah formasi baru ini untuk jangka waktu satu tahun. Pada tahun kedua (2006), P. Konrad hancu dipindahkan ke Sintang dan yang menggantikannya adalah P. Arnoldus Suhardi.

 Tahun 2014: Pembukaan Rumah Aspiran

            Pada awal Juni 2014 Aspiran SMM mulai dibuka di Ruteng, Flores, dekat novisiat dengan mengontrak rumah milik salah satu keluarga (duabelas juta rupiah setahun). Jumlah aspiran angkatan pertama adalah lima belas orang dan masa aspiran berlangsung selama dua tahun. Tempat ini menjadi wadah untuk mereka yang menamatkan studi di SMA atau sederajat, yang sudah kuliah atau bekerja yang ingin menjadi imam atau bruder SMM. Terbentuknya rumah aspiran menjadi kado terindah bagi SMM yang merayakan kehadirannya yang ke-75 tahun di bumi pertiwi pada tahun 2014 dan ketika SMM berubah statusnya menjadi Provinsi sejak 3 Juni 2013. “Kado” ini bernilai sangat penting di tengah minimnya panggilan yang lulus dari seminari menengah, meskipun membutuhkan biaya yang sangat besar.

Provinsial dan dewan mempercayakan P. Fidelis untuk menjadi rektor aspiran. Sebagai penanggungjawab, ia mengurus segala sesuatu sejak awal mulai dari perlengkapan tempat tidur, ruang belajar, ruang doa, pelajaran, dll. Pada akhir bulan Agustus 2014 Diakon Jeje diutus ke tempat yang sama untuk mendampingi P. Fidelis.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme