MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Aspiran

 

 

SEJARAH SINGKAT MUNCULNYA ASPIRAN SMM DI INDONESIA

 

 (P. Fidel Wotan, SMM)

 

I MENELUSURI JEJAK AWALNYA

Gaung tentang pendirian Rumah Formasi baru, yakni Aspiran SMM Indonesia -kalau mau ditelusuri ke belakang- sesungguhnya sudah muncul beberapa tahun sebelumnya. Hanya saja kapan persisnya ide ini muncul, dan bagaimana format pendampingan para calon yang pas atau tepat sesungguhnya belum begitu jelas. Demikian juga Rumah Formasi yang disediakan secara khusus untuk itu pun belum ada. Yang dilakukan ialah SMM Indonesia mencoba memulainya dengan mengatur, mendampingi dan menyelenggarakannya melalui komunitas-komunitas yang sudah dipercayakan, seperti Komunitas Biara Deo Soli, Putussibau (Kalbar)[1] dan Biara Menyurai (Sintang)[2]. Selanjutnya, pendampingan dan pembinaan para calon Aspiran di kedua komunitas tersebut.

Ide pendirian rumah formasi Aspiran SMM Indonesia semakin berhembus kuat, ketika SMM Indonesia melalui para Dewannya membicarakan dan memutuskannya untuk segera memulai hal itu dan Komunitas Novisiat SMM, Ruteng diberi ruang yang cukup luas untuk memikirkan, mendiskusikan dan mulai menyusun draft program pembinaan para calon Aspiran. Selain itu, mereka juga diberi kepercayaan untuk mulai mencari rumah kontrakan yang kelak dijadikan sebagai Rumah Formasi Aspiran SMM Indonesia yang pertama. Pater Stef, Pater Anton, Pater Marsel, Pater Fidel, Pater Borgias mulai berpikir keras untuk mewujudkan hal ini. Setelah memertimbangkan berbagai aspek soal pemilihan rumah dan lokasinya, Pater Marsel, selaku Ekonom Komunitas Novisiat, dibantu oleh Pater Fidel (pendamping postulant) bersama-sama mencari dan melegorumah yang akan dikontrakkan. Ada beberapa rumah yang diincar, dan akhirnya hanya satu yang didapat dan hal itu cukup memenuhi keinginan, aspirasi dan atau harapan para formator novisiat. Setelah rumah kontrakan itu disepakati untuk dijadikan sebagai Rumah Aspiran (Rumah Bapak Valentinus Gara), para formator novisiat mulai duduk bersama lagi untuk membuat draft program pembinaan Aspiran SMM.[3] Hal yang dikerjakan di sini ialah mereka bersama-sama menggodok visi-misi komunitas Aspiran dan beberapa aturan hidup harian di dalamnya.

Setelah visi-misi dan draft pembinaan Aspiran dirumuskan, Pater Fidel yang dipercayakan sebagai animator panggilan Regio Flores perlahan-lahan mulai menjaring para calon Aspiran angkatan pertama. Usaha dan kerja kerasnya ternyata tidak sia-sia, dari duapuluhan calon yang mendaftar ada 13 calon yang secara definitif diputuskan diterima ke dalam Komunitas Aspiran. Ketigabelas pemuda tersebut datang dari beberapa wilayah atau daerah dengan latar-belakang budayanya yang berbeda-beda. Mereka kemudian diterima secara resmi pada tanggal 6 Juli 2014 oleh Pater Fidel,SMM yang telah dipercayakan oleh Pater Provinsial sebagai Pimpinan Komunitas (Rektor Domus).[4] Kini para Aspiran yang masih bertahan tinggal sepuluh (10) orang.

II INSPIRASI DASAR

2.1. KAWANAN KECIL (ASPIRAN) DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI  SANG KEBIJAKSANAAN YANG MENJELMA, YESUS KRISTUS

 Sekedar Mengantar

Yesus adalah Allah bagi semua umat Kristiani. Dia juga sekaligus menjadi manusia yang menjelma, hadir dan tinggal bersama umat-Nya. Sebagai manusia, Dia tampil menjadi Pribadi yang selalu dekat dengan siapa saja. Dalam diri-Nya yang ilahi dan insani menjadi satu, menjadi Allah, Tuhan dan Manusia bagi umat-Nya. Dialah Allah yang Transenden sekaligus Imanen, jauh tapi dekat bagi manusia. Semasa hidup-Nya, Dia telah memilih sekumpulan orang-orang untuk menjadi murid-murid-Nya. Ia telah mengajarkan banyak hal yang kemudian menjadi warisan indah bagi kemuridan kristiani dewasa ini. Petrus, Paulus, Yohanes, dll., adalah pribadi-pribadi yang ditarik secara langsung oleh-Nya untuk menemani, mewartakan dan melanjutkan perutusan Allah di dunia, demi membangun Kerajaan Allah di tengah-tengah umat-Nya.

Warisan indah itu, kemudian diteruskan oleh Gereja sampai saat ini dalam wujud panggilan hidup yang khas, yakni menjadi imam, biarawan dan biarawati. St. Montfort adalah salah satu dari sekian ribu mentor yang juga ikut ditarik oleh-Nya untuk mewujudkan Kerajaan itu di tengah-tengah dunia ini. Dan hal itu telah tampak dari cara hidup, pewartaan (evangelisasi) yang ia jalankan. Cara hidup Montfort rupanya secara telak telah menganimasi ribuan kaum muda-mudi untuk membaktikan diri mereka kepada Yesus Kristus dalam semangat dan kharisma yang ia ajarkan. Kini semangat dan kharisma itu sudah dan tengah ditaburi di berbagai tanah (media) di belahan bumi ini. Salah satunya ialah tanah panggilan hidup membiara (Montfortan) di bumi Indonesia. Panggilan menjadi Montfortan telah tumbuh dan berkembang di mana-mana.

Sejak masuknya para Misionaris Montfortan di bumi Borneo 1939 (Kalimantan), panggilan tersebut terus bertumbuh dan berbuah. Tahun ini SMM Indonesia merayakan kehadirannya yang ke-75 sebuah kurun waktu yang tidak lagi dibilang singkat. Rasa syukur ini tentu diungkapkan, dirayakan dengan penuh antusiasme oleh para Montfortan Indonesia. Kehadirannya ini pun kemudian secara luar biasa ditandai pula dengan dimulainya program formasi bagi para calon jebolan SMU non seminari, atau yang dikenal dengan nama Aspiran SMM. Puji syukur, di jejak awalnya ini, SMM Indonesia boleh menerima kedatangan dua belas belasan pemuda yang mau menjadi Aspiran SMM. Mereka datang dari berbagai macam latar-belakang suku, budaya, adat-istiadat, dan bahasa yang berbeda. Kini mereka disatukan oleh satu semangat dan spiritualitas baru yakni, Spiritualitas Montfortan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang secara tidak langsung telah digerakkan oleh Montfort untuk menjadi ‘laskar’ Kristus, menjadi sebuah kawanan kecil, yang dipanggil secara khusus untuk menjadi Biarawan Montfortan, sebagaimana yang ia cita-citakan. Kami mencoba meletakkan antusiasme mereka ini ke dalam apa yang dikatakan Yesus dalam Kisah Panggilan para murid yang mengikuti-Nya: Apakah yang kamu cari? (Yoh 1:38).

Para Aspiran dipanggil untuk menjawab kata-kata Yesus, Guru dan Pembimbing Rohani mereka. Tentu dengan hati bebas, mereka akan memberi jawaban itu dalam jejak langkah yang tengah mereka tapaki dalam panggilan hidup mereka di Rumah Formasi, Aspiran Serikat Maria Montfortan, Labe-Ruteng. Tentu sebelum menjejakkan kaki mereka di Rumah Formasi Aspiran ini, mereka yang merasa ada benih panggilan dalam dirinya bertanya demikian: “Guru, di manakah Engkau tinggal?” (Yoh 1:38) dan kemudian dijawab oleh Yesus “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39). Sekarang mereka telah datang dan melihatnya bahkan mulai mengalami hidup bersama dengan-Nya (dalam formasi ini). Dari sebab itu, sebagai konsekuensinya, mereka diajak untuk bisa memenuhi tuntutan hidup-Nya, berani melepaskan parameter pribadi, angan-angan, kehendak, harapan pribadi dan kemudian meletakkan semuanya itu ke dalam angan-angan dan cita-cita Sang Mentor, St. Montfort.

Mereka yang dipanggil menjadi Aspiran ini, diharapkan mampu melepaskan kelekatan diri (sekalipun di tahap awal ini upaya pelepasan ini sama sekali tidak mudah), mampu mengarahkan hati kepada Allah yang memanggil mereka secara pribadi. Kemampuan untuk melakukan apa yang disebut dengan ‘pelepasan’ diri dari aneka bentuk kelekatan dan cinta diri di masa lalu, lalu mulai mengenakan antusiasme dan Cinta Kristus dalam semangat St. Montfort adalah mimpi yang harus mereka wujudkan hiec at nunc, kini dan di sini, dalam formasi awal ini. Jikalau itu berhasil dilakukan, maka mereka sendiri akan mengalami sebuah kelimpahan hidup, mengalami kekayaan hidup yang tak terkirakan, sekalipun masih dalam tahap awali.

Semoga bermanfaat!

                                                                                       

2.2. DRAFT PROGRAM PEMBINAAN ASPIRAN SMM INDONESIA

VISI

YESUS MEMANDANG MEREKA DAN BERKATA: “APA YANG KAMU CARI”? (Yoh 1:38)

  1. Tujuan Masa Aspiran:
  2. Untuk meneruskan proses animasi panggilan dan memberi kesempatan kepada para aspiran untuk mengalami hidup Komunitas Montfortan
  3. Untuk membantu para aspiran mengenal dan memahami serta menegaskan hasrat mereka  menjadi Religius Montfortan
  4. Untuk memberikan kepada mereka formasi yang penting dalam aspek manusiawi,intelektual dan kristiani

    MISI

Berjalan bersama dalam semangat persaudaran, keterbukaan  untuk bertumbuh dalam iman Kristiani agar semakin berkembang dalam panggilan Hidup Religius

 

III MATERI PEMBINAAN

3.1. Christian Formation

  1. Pengantar Hidup Doa
  2. Discerment Hidup Religius
  3. Liturgi Praktis
  4. Pengantar Kitab Suci
  5. Iman Katolik
  6. Sejarah Gereja
  7. Sejarah SMM
  8. Spiritualitas Montfortan

3.2.Intellectual Formation

  1. Bahasa Indonesia
  2. Bahasa Inggris
  3. Bahasa Latin

 3.3.Human Formation

  1. Pengenalan Kepribadian
  2. Modestia  (etiket)
  1. Means (Sarana-sarana):
  2. Perayaan Liturgis Bersama
  3. Pelajaran
  4. Bimbingan Pribadi
  5. Kerja
  6. Live-in
  7. Rekoleksi-Retret
  8. Rekreasi

 

PERPINDAHAN ASPIRAN KE LABUAN BAJO

(By P. Yohanes Jefriandi Jedabu, SMM)*

Aspiran SMM Indonesia pada tahun ini telah  memasuki tahun ketiga. Tahun pertama dan kedua dilewati dengan “numpang” tinggal di rumah kediaman Bapak Valentinus Raga (depan Novisiat Montfortan di Labe-Ruteng). Angkatan pertama dan kedua saat ini telah bergabung di Novisiat bersama dengan teman-teman mereka dari seminari-seminari dan KPA Mataloko. Sementara itu angkatan ketiga (sambil menunggu diselesaikannya pembangunan rumah aspiran yang baru) telah memulai masa pembinaan di Labuan Bajo. Tulisan ini hanya sebagai sebuah sharing perpindahan rumah pembinaan Aspiran dari Labe Ruteng ke Cowang Dereng Labuan Bajo.

Perpindahan Ke Labuan Bajo

kontrakan

Rumah Kontrakan di Cowang Dereng

Alasan perpindahan ke Labuan Bajo sebenarnya bukan pertama-tama karena pembinaan di Ruteng tidak berjalan dengan baik. Bukan juga karena ada peristiwa-peristiwa yang genting. Perpindahan ini murni karena kita akan memulai pembangunan Aspiran baru pada tahun ini dan dengan demikian diharapkan kita bisa menyaksikan secara langsung (mengambil bagian sebisa mungkin) proses pembangunan rumah baru ini. Perpindahan ini juga sebenarnya sudah lama didengungkan Provinsial dan dewan SMM Indonesia bahkan juga diharapkan oleh kami sebagai tim pembina di Aspiran selama dua tahun. Kami merindukan suasana yang baru, dimana mungkin kami akan memiliki cerita lain berkaitan dengan kehidupan pembinaan Aspiran. Kami mendambakan akan ada cerita-cerita berbeda yang dirajut dalam komunitas Aspiran di tempat yang baru nanti. Karena itu, perpindahan ini menjadi semacam perwujudan keinginan yang sudah lama ada dalam agenda Kongregasi SMM Indonesia dan yang ada dalam benak kami (juga keinginan dan kerinduan para konfrater semua tentu saja).

Sungguh patut kita berterima kasih pada keluarga Bapak Julia atas kerelaan mereka mengizinkan SMM menggunakan rumah kediaman mereka selama 2 tahun. Rumah kediaman ini memiliki cerita tersendiri untuk kami para pembina tetapi juga untuk para Aspiran angkatan pertama dan kedua serta siapa saja yang pernah masuk ke dalamnya. Di dalam rumah ini kami pernah merasakan kehangatan dan keakraban sebagai saudara. Begitu banyak kisah yang dialami di dalam rumah ini, dan kenangan tentangnya tidak begitu saja mudah untuk dilupakan. Karena itu, sebagai ucapan terima kasih kepada pemilik rumah dan rumah ini sendiri, kami harus meninggalkannya dalam keadaan baik dan utuh sebagaimana dulu pertama kali memasukinya. Kami memperbaiki beberapa bagian yang rusak dari rumah ini selama seminggu.

Perpindahan ke Labuan Bajo dilewati dengan perjuangan yang cukup berat berhubung barang-barang yang diangkut bukanlah barang yang ringan dan mudah diangkat. Rumah kontrakan lama benar-benar harus dikosongkan pada akhir Mei sesuai dengan perjanjian kontrak. Karena itu tanggal 28 Mei 2016 menjadi hari dimana kami membawa semua barang-barang ke Labuan Bajo. Dengan bantuan para aspiran angkatan kedua kami membereskan rumah. Rupanya ini menjadi tugas berat mereka sebelum kembali berlibur ke kampung halaman mereka. Mereka juga diboyong selama dua hari ke Labuan Bajo untuk membantu kami menyiapkan rumah kontrakan baru di Labuan Bajo. Untuk mengangkut barang-barang ke Labuan Bajo, kami menggunakan hanya satu  truk ekspedisi di tambah dengan sebuah kendaraan kenalan baik SMM di Langgo Ruteng. Di Labuan Bajo juga kami berjuang keras untuk membereskan rumah kontrakan baru, sebab rumah yang akan didiami selama setahun ini bukanlah sebuah rumah yang baru dan bahkan ditinggalkan dalam keadaan yang tidak terawat oleh pengontrak sebelumnya. Disana-sini juga harus dibenahi beberapa bagian, apalagi kami harus menambah ruangan untuk memenuhi kebutuhan. Ini dikerjakan selama kurang lebih dua minggu. Beruntung ada begitu banyak orang yang membantu hingga kemudian komunitas Aspiran sementara di Labuan Bajo siap untuk ditempati oleh para Aspiran angkatan ketiga.

 Penerimaan Para Aspiran Angkatan III

Aspiran angkatan ketiga (13 orang) masuk ke komunitas baru di Labuan Bajo pada 25 Juni 2016. Kali ini mereka masuk lebih awal dari tahun sebelumnya berhubung masa kontrak rumah di Cowang Dereng  akan berakhir pada bulan April 2017.  Ketiga belas Aspiran baru ini datang diantar keluarga mereka. Banyak dari antara mereka dan keluarga yang datang mengantar terkejut dengan kondisi rumah dan pekarangan yang sangat kecil. Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa rumah ini tidak dialiri air PAM meskipun pipa dan meterannya ada. Untuk memenuhi kebutuhan air kami harus mensuplai air dengan membeli air tanki yang akan habis dalam jangka waktu 5 hari.

Wajah-wajah ceria Aspiran Angkatan III

Rumah kontrakan  aspiran yang baru di Labuan Bajo letaknya memang sangat strategis. Dengan pekarangan yang lumayan luas dan letaknya yang tidak terlalu berdempetan dengan tetangga membuat kami sungguh bisa menikmati kebersamaan dalam komunitas. Pemilihan rumah ini sungguh sesuai dengan apa yang dinginkan dan didambakan sejak lama dimaaspina kita bisa dengan penuh ketenangan membina para aspiran dan terutama juga supaya kegiatan yang dilakukan tidak menganggu para tetangga sekitar.  Rumah kontrakan ini kini akan menjadi rumah kediaman kami dan para aspiran lainnya dalam beberapa bulan ke depan. Rumah ini diharapkan juga mampu menjadi rahim yang juga mampu melahirkan calon-calon Montfortan yang dirindukan oleh Santo Montfort.

 (P. Yohanes Jefriandi Jedabu, SMM, Pimpinan Aspiran)