MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

TEOLOGI KEBIJAKSANAAN: Jalan Kehidupan Yang Bijak Menurut St. Louis Mariae Grignion de Montfort

 

 

TEOLOGI KEBIJAKSANAAN:

Jalan Kehidupan Yang Bijak Menurut St. Louis

Mariae Grignion de Montfort

 

Rm. Egidius Sumarno, SMM

 

Pengantar

         Dari kodratnya manusia ingin menjadi bijak. Itulah sebabnya manusia mencurahkan segala pikiran dan tenaganya untuk memperoleh kebijaksanaan. Dalam ziarahnya, manusia  menemukan bahwa menjadi bijak atau menjadi orang bijaksana itu bukan sesuatu yang mudah dan sekali jadi. Menjadi bijak itu adalah suatu proses keseharian hidup terus-menerus. Proses itu tidak pernah berakhir. Proses itu sendiri adalah sebuah seni memaknai hidup secara baik (the art of living well). Santo Louis Mariae Grignion de Montfort adalah salah seorang kudus yang berusaha menulis tentang seni hidup bijak dan apa yang harus dilakukan untuk menjadi manusia bijak atau orang bijaksana dalam perspektif Kristiani. Tulisan ini bermaksud melihat pemikiran St. Montfort tentang teologi kebijaksanaan dan sumbangannya bagi hidup kristiani.

 

Kodrat Manusia Menjadi Bijak

Kebijaksanaan adalah salah satu dari empat keutamaan dasar (selain keadilan, keberanian, penguasaan diri) yang ada dalam diri manusia. Keutamaan kebijaksanaan mendorong manusia secara teguh untuk memutuskan dan melakukan sesuatu secara baik[1]. Keutamaan kebijaksanaan erat kaitannya dengan keunikan manusia sebagai makhluk yang berakal budi. Manusia diciptakan dengan segala potensi berpikir, berbicara dan bertindak dengan bijaksana. Kemampuan ini sungguh melekat pada dirinya sebagai pribadi[2]. Ini adalah kodrat asalinya. Kemampuan ini membuat manusia ditempatkan sebagai makhluk yang sungguh istimewa, yang membedakannya dari binatang. Manusia diciptakan sungguh amat baik adanya (Kej. 1:31). Ia adalah citra Allah. Kesecitraannya dengan Allah menempatkan manusia dalam relasi yang amat dekat dengan Allah sebagai unsur konstitutif dirinya[3]. Kesecitraan dengan Allah membuat manusia berbeda dari makhluk lain yang diciptakan Allah. Mengutip W. Zimmerli, Claus Westermann mengatakan:

“Pencipta menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk menemukan jalan hidupnya dan memahami dirinya sendiri, membedakan mana yang baik dan yang tidak baik serta mana yang menguntungkan dan yang merugikan hidupnya.” [4]

Seluruh kehidupannya terarah pada persoalan bagaimana ia menjadi bermakna. Bermakna yang dimaksud adalah memiliki kebijaksanaan hidup. Orang bijak adalah orang yang memahami rahasia kehidupan ini, kemudian tahu memberikan pertimbangan yang matang, sehingga tahu bagaimana harus menghayati kehidupan ini[5]. Mengacu pada gagasan kebijaksanaan sebagai seni menjalankan hidup, W. Zimmerli mengatakan kebijaksanaan adalah bagian sentral dalam pencarian kehidupan manusia. Tujuan yang dicari orang bijak adalah menjadi guru kehidupan dengan cara mempelajari pengetahuan tentang dunia dan menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan.[6] Orang bijak mencari jawaban atas persoalan hidup. Jawaban atas pencarian menentukan orientasi hidupnya. Ia belajar dari pengalaman hidupnya sendiri, pengalaman orang-orang di sekitarnya, dan terutama dalam Allah.

Filsafat yang berdasarkan namanya berarti cinta (philia) akan kebjaksanaan (sophia) menunjuk pada suatu bentuk pencarian kebenaran. Kebenaran itu dinamai kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu yang dicari oleh para filsuf, juga para teolog. Kita juga dapat mengatakan, filsafat dari kodratnya adalah anak kandung dari kerinduan manusia akan kebijaksanaan. Kerinduan itu dicari dalam kebenaran akan makna hidup.

St. Monfort hidup pada zaman di mana filsafat modern yang dirintis oleh Rene Descartes sangat diagung-agungkan. Rasionalisme modern membawa dua pengaruh besar. Pertama, adanya pergeseran pandangan dari teosentrisme ke antroposentrisme.[7] Allah tidak dilihat sebagai dasar, penjamin kebenaran. Pusat kebenaran kini adalah kesadaran manusia, subyek yang berpikir. Aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum). Manusia melihat dirinya sebagai subyek yang bebas, otonom. Bahwa manusia adalah subjek yang bebas hendak mengatakan bahwa manusia tidak hanya hadir di dunia melainkan hadir dengan sadar, dengan berpikir kritis, dengan berefleksi, dengan mengambil jarak secara kritis dan bebas. Subjektivitas adalah unsur hakiki dalam paham antroposentrisme. Itulah semboyan yang dipegang oleh rasionalisme. Pandangan ini secara jelas menyingkirkan kebenaran iman dari kehidupan manusia.

Kedua, munculnya pencerahan dan saintisme. Pencerahan dimaksudkan sebagai tampilnya budi manusia yang cerah mengusir kegelapan takhayul dan kepercayaan-kepercayaan irasional. Imanuel Kant (1724-1804) mendefenisikan pencerahan sebagai keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk memakai nalar tanpa bimbingan orang lain.[8] Beranilah memakai nalarmu sendiri (Sapere aude)! Itulah semboyan era pencerahan. Pencerahan menolak segala sesuatu yang tidak dapat dipertangungjawabkan secara nalar. Akibat lanjut dari pandangan ini adalah munculnya empirisme.[9] Empirisme menganggap sesuatu benar kalau bisa dibuktikan melalui pengalaman. Segala pengetahuan ilmiah harus dapat dibuktikan melalui pengalaman. Puncak dari empirisme adalah pada abad ke-19 ketika patokan kebenaran adalah ilmu pengetahuan atau yang biasa disebut saintisme. Salah satu cetusan saintisme adalah filsafat bahasa yang diperkenalkan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951) ketika ia mengatakan, bahasa hanya mengungkapkan dunia yang faktis. Di luar yang faktis bahasa tidak mempunyai peran lagi.[10] Itu berarti bahasa menolak kemungkinan berbicara tentang sesuatu yang berada di luar apa yang empiris dan logis. Konsekuensinya adalah mereka menolak berbicara tentang Allah, tentang teologi dan berbicara tentang makna hidup.[11]

Apapun bentuk filsafat yang menjadi lahan perdebatan para filosof, yang jelas semuanya mengarah pada pencarian akan sebuah kebenaran tertinggi. Titik terakhir dari pencarian itu menghantar para filosof pada apa yang disebut  “Ada (Being, Sein), yang dalam agama-agama disebut “Yang Ilahi” dan diberi nama Tuhan. Forest menulis, bila pikiran mencapai dasarnya, dengan sendirinya ia menjadi religius, bukan sebagai sesuatu yang disimpulkan, melainkan sebagai sesuatu yang pasti. Gerak yang membawa kita kepada Allah adalah gerak yang membawa kita kepada Ada (Being, Sein).[12] Maurice Blondel (1861-1949) menyebut ungkapan ini La Philosophie Orante yang secara harafiah berarti filsafat yang berdoa, untuk mengatakan hubungan erat antara filsafat (usaha mencarai kebenaran dengan akal budi) dan teologi. 

St. Montort tidak terlalu pusing dengan segala uraian filosofis dan juga tidak jatuh dalam satu paham filsafat yang marak berkembang waktu itu. St. Montfort sendiri dengan baik membuat kategori kebijaksanaan yang diperdebatkan oleh para filsuf.[13] Dengan itu, ia tidak membiarkan diri larut dalam perdebatan filofis yang tanpa akhir dan tanpa memberikan pengaruh pada kehidupan nyata. Setidaknya ia meyakini, segala bentuk pencarian kita akan kebenaran pasti membawa kita pada perjumpaan dengan Kebijaksanaan Abadi atau kebijaksanaan Adikodrati. Kebijaksanaan Abadi itu tidak lain adalah Yesus Kristus Sendiri. Kebijaksanaan Abadi itu adalah ilmu tertinggi. Dan perjumpaan itu harus membawa kita pada transformasi diri, yakni keserupaan denganNya. Jika tidak demikian, semua perdebatan filosofis itu berhenti di kepala, menjadi monumen imajinatif saja.

St. Montfort membuat tiga kategori kebijaksanaan; kebijaksanaan palsu, kebijaksanaan kodrati dan Kebijaksanaan Adikodrati/Kebijaksanaan Abadi. Paham-paham filsafat yang umumnya diperbincangkan oleh para filsuf dikategorikannya dalam kategori kebijaksanaan kodrati (CKA 13, CKA 84). Akan tetapi St. Montfort hanya tertarik dengan kebijaksanaan adikodrati, yang merupakan ujung dari semua pencarian akal budi, sebagai sebuah kepastian. Apa yang dilakukan oleh St. Montfort adalah sebuah gebrakan baru, karena dari sudut pandang teologi ia mempertemukan ide kebijaksanaan dalam Perjanjian Lama dengan Pejanjian Baru dan juga mengangkat tema kebijaksanaan yang diperdebatkan oleh para filosof pada titik terakhir pencariannya. Bahwa kebijaksanaan sebagai logos tidak lain adalah Kristus sendiri. St. Montfort membuat sintesis yang sama seperti yang  dibuat oleh Paulus ketika memberikan kuliah umum di depan sidang Areopagus, di hadapan para filsuf Yunani (Kis 17: 16-34).  Paulus mengatakan bahwa Allah yang tidak dikenal, yang disembah itu adalah Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati. Sementara St. Montfort mengatakan; kebijaksanaan yang dicari susah payah oleh manusia itu adalah Kebijaksanaan Abadi, yang tidak lain Yesus Kristus sendiri. Sebenarnya yang dicari oleh semua manusia dari kodratnya adalah Yesus Kristus. Untuk bagian ini, kita juga bisa mengaitkannya dengan antropologi transendental Karlh Rahner, yang melihat Kristus sebagai jawaban dan pemenuhan atas realisasi diri manusia.

 

Yesus Kristus: Sang Kebijaksanaan Abadi

Diskursus tentang kebijaksanaan, menghantar St. Montfort pada keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Kebijaksanaan Abadi itu sendiri atau Sang Kebijaksanaan Adikodrati. Penggunaan kata adikodrati untuk memberi pembedaan yang jelas dari kebijaksanaan duniawi dan kebjaksanaan kodrati. Mengenai kebijaksanaan adikodrati, ia menjelaskannya dengan baik dalam beberapa aspek.

  1. Kebijaksanaan Sebagai Pribadi; Pendekatan Kristologis

Gagasan St. Montfort tentang Kebijaksanaan sebagai pribadi sangat kaya. Tentang hal ini kita dapat melihat komentar dari M. Gilbert yang dikutip oleh Barbara Moore, yang menilai buku “Cinta Kebijaksanaan Abadi” sebagai satu-satunya harta spiritual dari Gereja Katolik yang merujuk langsung pada mistisisme kebijaksanaan kuno setelah tulisan awali bapa Gereja Yunani dan Latin. Barbara Moore mengatakan, jelaslah bahwa tidak ada komentar Buku-buku Kebijaksanaan dari Bapa-bapa Gereja yang berani membuat sintesis sebagaimana dilakukan oleh St. Montfort.[14] Barangkali inilah yang mendorong St. Montfort mencoba membuat sintesis Perjanjian Lama dan Perjanian Baru dari sudut pandang kebijaksanaan. Dan lebih lagi, setelah abad XVII tidak ada penulis spiritual yang dengan kuat dan berterus-terang membuat identifikasi personifikasi Perempuan Bijaksana pra-Kristiani dengan Sabda Allah, Putra Manusia yaitu Yesus Kristus.[15] Raja Rao juga mengatakan, amat jarang penulis rohani menggunakan sudut pandang kebijaksanaan sebagai kunci untuk memahami Kristus dan menggunakannya sebagai sebuah penuntun dalam perjalanan rohani. Montfort berani melakukannya, tanpa menyimpang dari revelasi Kristiani.[16]

Bagi St. Montfort, Kebijaksanaan sebagai seorang pribadi tidak lain adalah Yesus Kristus Putra Allah yang berasal dari Allah sejak keabadian. Ia mengambil rupa manusia dalam rahim Perawan Maria dalam peristiwa inkarnasi. Montfort memanfaatkan literatur tradisi Kebijaksanaan dengan amat baik dan menempatkannya pada Yesus Kristus.[17] Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Wim van der Weiden yang melihat adanya kesamaan fungsional antara Yesus dengan Allah dalam Perjanjian Lama jika dilihat dari sudut pandang kebijaksanaan.[18] Kesamaan fungsional ini seakan menegaskan apa yang dikatakan oleh St. Montfort bahwa Yesus adalah Sang Kebijaksanaan yang sejak awal ada dalam keabadian. Di sinilah St. Montfort dengan amat berani memetakan Kristologi Kebijaksanaan. Mengutip J. Hemery, Prevost mengatakan, inilah karisma Montfort, memiliki keyakinan yang khusus memperkenalkan Kebijaksanaan dari Allah.[19]

Siapakah Yesus Kristus Sang Kebijaksanaan itu? Montfort menjawab pertanyaan ini dalam empat aspek. Pertama, Yesus Kristus adalah Kebijaksanaan Abadi, yang berinkarnasi sebagai kepenuhan Allah. Mengutip St. Yohanes Krisostomus, St. Montfort mengatakan: “Tuhan kita adalah sebuah ringkasan seluruh karya Allah, sebuah lukisan yang merangkum seluruh kesempurnaan Allah dan kesempurnaan yang terdapat dalam seluruh ciptaan” (CKA 9). Yesus dalam dirinya memiliki kepenuhan baik sebagai Allah maupun sebagai manusia. Kedua, Kristus adalah Sabda yang mengambil bagian dalam penciptaan. Montfort mengidentifikasi Kristus dengan Sang Kebijaksanaan dalam fungsinya yang telah ada sejak penciptaan dan mengambil bagian penciptaan. Sang Kebijaksanaan Ilahi adalah Firman dalam keabadian dan dalam waktu, ia telah selalu berbicara.

Oleh sabdaNya segala sesuatu dijadikan dan segala sesuatu dipulihkan. Ia telah berbicara melalui para nabi, melalui para rasul, dan Dia akan terus berbicara sampai akhir zaman melalui mulut orang-orang yang kepada mereka Ia telah memberi diriNya (CKA 95).

Ketiga, Kristus disebut Kebijaksanaan dalam relasinya dengan Salib. Rahasia terbesar dari Sang Kebijaksanaan bagi St. Montfort terletak dalam Salib. Kebijaksanaan adalah Salib dan Salib adalah Kebijaksanaan (CKA 180). Relasi keduanya sangat dekat seolah yang satu menjadi syarat bagi yang lain. Dalam CKA bab XIV ia secara kuat melukiskan keagungan Sang Kebijaksanaan Abadi dalam dan melalui Salib (180). Bersama Santo Paulus, Montfort memuji keagungan Salib dan mengatakan;

Oh! Betapa dalamnya dan betapa berbedanya pikiran-pikiran dan jalan-jalan Sang Kebijaksanaan Abadi dari pikiran-pikiran dan jalan-jalan manusia, biar manusia yang paling bijak sekalipun (CKA 167) Ah! Betapa mendalam Kebijaksanaan dan pengetahuan Allah (Rom. 11:33)! Betapa mengherankan pilihanNya ini dan betapa mendalam dan tak terpahami rancangan dan penilaianNya! Namun betapa tak terperikan cintaNya kepada Salib (CKA 168).

Salib secara ringkas menggambarkan pernyataan misteri cinta Allah yang besar bagi manusia. Bagi St. Montfort, peristiwa Salib itu sudah mulai ketika Sang Sabda menjelma dalam rahim Maria. Peristiwa Golgota adalah puncaknya.

Ya Allahku, ya BapaKu, Aku telah memilih Salib ini dalam pangkuanMu, Aku telah memilihnya di dalam rahim ibuKu. Aku mencintainya dengan seluruh kekuatanKu dan Aku menempatkanNya di pusat hatiKu sebagai mempelai dan pemimpinKu (CKA 169).

Salib mendapat tempat yang utama dalam ajaran St. Montfort. Ia juga menulis surat kepada sahabat-sahabat Salib. Isinya adalah ajakan untuk memeluk Salib dengan sepenuh hati, sebab ia merupakan bagian hakiki dari kehidupan orang Kristiani. Dalam salah satu suratnya kepada sahabat-sahabat Salib ia mengatakan:

Andaikata orang-orang Kristen mengetahui nilai-nilai Salib…Sebab di dalam Salib, yang patut dicintai itu terkandung Kebijaksanaan Sejati yang kucari siang malam dengan semangat yang semakin bernyala-nyala.[20]

  1. Kebijaksanaan Sebagai Anugerah Roh Kudus Dalam Jiwa

Kebijaksanaan Abadi dipahami Montfort dalam pengertian komunikasi diri Kristus dalam jiwa-jiwa atau rahmat yang dianugerahkan ke dalam diri seseorang (CKA 13). Kebijaksanaan inilah yang diberikan oleh Allah kepada Musa, Salomo, para rasul dan banyak orang kudus lain (CKA 90-102).[21] Karunia Kebijaksanaan ini dianugerahkan ke dalam jiwa untuk memampukan manusia; Pertama, mengenal kebenaran (CKA 92-94).  Ia mengatakan:

Dan kamu perhatikan bahwa terang dan pengenalan yang diberikan oleh Sang Kebijaksanaan bukanlah yang kering, mandul tanpa semangat rohani, melainkan pengenalan yang terang, penuh urapan, berdaya dan saleh; yang menyentuh dan memuaskan hati serta menerangi akal budi (CKA 93).

Roh pengenalan inilah yang dianugerahkan oleh Allah yang telah diterima oleh Salomo sehingga ia dianggap sebagai orang yang paling bijak.[22] Melalui karunia ini manusia dimampukan untuk sama seperti Salomo menjadi hakim atas segala sesuatu dengan pertimbangan yang mendalam dan ketajaman yang tiada duanya (CKA 92). Rahmat ini diterima oleh St. Thomas Aquinas sehingga ia dengan amat baik menerangkan kebenaran iman. Thomas Aquinas, sang mistikus agung membedakan dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui penyelidikan ilmiah dan pengetahuan melalui kesekodratan, Ia mengatakan;

Nah, ketetapan penilaian ada dua macam; pertama karena penggunaan akal budi secara sempurna, dan kedua, karena adanya kesekodratan dengan hal yang harus dinilai. Adapun mengenai kemurnian, seseorang setelah menyelidiki dengan akal budi, membentuk penilaian yang benar, jika ia telah mempelajari ilmu moral, sedangkan orang yang mempunyai kebiasaan hidup murni menilai hal seperti itu semacam melalui kesekodratan. [23]

Lebih lanjut ia berpendapat bahwa kesekodratan dengan hal-hal Ilahi itu adalah hasil dari cinta yang mempersatukan kita dengan Allah.[24] Pengetahuan melalui kesekodratan itu penting untuk mengenal Allah. Sebab Allah adalah cinta. Orang yang mencintai mengenal Allah, orang yang tidak mencintai Allah tidak mengenal Allah (1 Yoh. 4:8).[25] Melalui cintalah Kebijaksanaan turun ke dalam hati kita. Itulah sebabnya tradisi mistik selanjutnya berbicara mengenai doa mistik sebagai kontemplasi yang dicurahkan (infusa contemplation). Mengutip St. Yohanes dari Salib, W. Johnston melihat komunikasi Sang Kebijaksanaan ke dalam hati manusia terjadi ketika orang mengosongkan diri. Komunikasi ini tidak dihasilkan dengan sarana-sarana apa pun melainkan melalui suatu persentuhan jiwa dengan Yang Ilahi.[26] Mistisisme Kristiani yang autentik didasarkan atas cinta. Sebab, cinta adalah dasarnya. Kita mencintai karena Ia lebih dahulu mencintai kita (1 Yoh. 4:19).[27]

Kedua, Sang Kebijaksanaan Abadi memberikan daya untuk membagikan kebenaran kepada orang lain dengan kata-kata yang meluap dari hati (CKA 97-98). Karunia ini diberikan kepada Musa, para rasul  dan orang-orang kudus dalam pewartaan Kerajaan Allah. Kata-kata mereka penuh kebenaran dan kuasa yang membuat setiap orang yang mendengarnya terkagum-kagum.

Namun, kata-kata yang mereka sampaikan bukanlah kata-kata yang biasa, alamiah, dan manusiawi yang disampaikan Kebijaksanaan Ilahi, melainkan kata-kata yang sungguh ilahi. Itu adalah kata-kata yang kuat, menyentuh, tajam dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. Ia meluap dari hati orang yang melaluinya Dia berbicara dan masuk sampai ke dalam hati orang yang mendengarnya (CKA 96).

Kebijaksanaan yang dicurahkan ke dalam seseorang memampukannya mewartakan hikmat Allah sebagaimana yang telah diterima oleh Paulus. St. Montfort memberi kesaksian bahwa berkat Kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah kepada Paulus, ia mampu memberitakan kebenaran, hikmat Allah kepada lawan-lawannya (CKA 98).

Kebenaran yang diberitakan oleh mereka yang menerima anugerah kebijaksanaan ini tidak sama dengan apa yang diterima seseorang melalui terang akal budi, atau melalui buku-buku yang mereka baca (CKA 97). Ia sepenuhnya mengikuti Paulus yang percaya akan hikmat Allah yang mendorong mereka untuk mewartakan Injil. Bagi St. Montfort, pewartaan pertama-tama adalah memberitakan hikmat Allah. Di sini ia dengan jelas memberikan alasan mengapa kurang adanya pertobatan setelah orang mendengarkan kotbah-kotbah. Alasannya adalah karena orang tidak memiliki hikmat yang membuat kata-katanya berwibawa, berkuasa dan membuat orang lain tidak dapat membantahnya (CKA 97)[28].

Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawanmu (Luk 21:15). Ah, alangkah sedikitnya jumlah pengkotbah pada saat ini, yang memiliki karunia istimewa untuk berkata-kata ini, dan mereka ini bisa bersama Santo Paulus berkata: kami memberitakan hikmat Allah (1 Kor 2:7)! Kebanyakan para pengkotbah berbicara menurut terang alamiah dari akal budinya, atau menurut apa yang mereka baca melalui buku-buku, tetapi bukan menurut ilham yang ditimbulkan Sang Kebijaksanaan Ilahi (Keb. 7:15) atau yang diucapkan mulut meluap dari hati (Mat 12:34), menurut kelimpahan ilahi yang disampaikan Sang Kebijaksanaan kepada Mereka…Andaikata seorang pengkotbah sungguh telah menerima dari Sang Kebijaksanaan karunia untuk berkata-kata, maka para pendengarnya, nyaris tidak mampu melawan kata-katanya, seperti dahulu kala; mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara (Kis 6:10). Pengkotbah seperti itu berbicara serentak secara sangat lembut dan sangat berwibawa, sebagai orang yang berkuasa, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak akan kembali kepadanya dengan sia-sia (Yes 55:11) (CKA 97).

Kebijaksanaan yang dicurahkan Allah ke dalam hati seseorang bercorak profetis. Secara khusus St. Montfort berbicara tentang homili yang baik. Homili yang baik harus lahir dari hikmat Allah. Untuk memperoleh hikmat itu orang harus memohonkannya dengan penuh kerinduan. Seorang pewarta yang baik menyampaikan Firman tidak dengan kata-katanya sendiri, tetapi dengan hikmat yang berasal dari Allah. Melalui dirinya Allah berbicara, memberitakan firman kepada umat. Homili itu harus berciri profetis, alkitabiah, dan homiletis.[29]

Ketiga, Kebijaksanaan itu sebagai sumber sukacita. Kebijaksanaan hadir dalam jiwa sebagai sumber sukacita atau penghiburan rohani yang melebihi penghiburan yang ditimbulkan ciptaan-ciptaan lain di dunia ini. Kesenangan ini sifatnya suci dan sejati. Lukisan St. Montfort tentang hal ini sangat indah.

Karena Sang Kebijaksanaan Abadi adalah pokok kegembiraan dan kesenangan Bapa yang kekal, kegembiraan para malaikat, maka Dia menjadi sumber sukacita dan hiburan yang paling murni bagi manusia. Ia memberikan kepada orang itu kecapan akan kemanisan, yang berasal dari Allah, dan menghilangkan selera untuk mengecap hal-hal yang berasal dari ciptaan. Ia menggembirakan akal budi orang itu dengan kecemerlangan cahayaNya. Ia menuangkan di dalam hatinya suatu kegembiraan, suatu rasa manis dan damai yang tak terkatakan, bahkan di tengah kepahitan dan penderitaan  yang paling kasar seperti kesaksian Paulus yang berseru: dalam segala penderitaan kami akui sangat terhibur (2 Kor. 7:4). (CKA 98).

Karunia kegembiraan yang dikatakan St. Montfort mirip dengan apa yang digambarkan para mistikus seperti Aquinas, Yohanes dari Salib, Teresia dari Yesus ketika mereka mengalami pengalaman ekstase.[30] Karunia Kebijaksanaan ke dalam batin membawa kegembiraan besar, suatu kegembiraan rohani. Dengan mantap ia mengatakan:

Jika kita mengetahui rasa nikmat yang dikecap sebuah jiwa yang mengenal keindahan Sang Kebijaksanaan, yang menghisap susu dari “buah dada Bapa” ini, kita pasti berseru bersama mempelai wanita dalam kidung Agung; susu dari buah dadaMu lebih nikmat daripada anggur yang enak, dan daripada segala kenikmatan yang berasal dari ciptaan (CKA 10). [31]

Bagi St. Montfort, kegembiraan ini sangat berbeda dengan kegembiraan yang ditimbulkan oleh pencerapan indra atau akal budi. Kegembiraan ini adalah kegembiraan rohani yang meluap dalam batin. Inilah kegembiraan dalam arti yang sesungguhnya. Kegembiraan ini tidak sama dengan kesenangan lahiriah yang ditimbulkan oleh prestasi, kekuasaan, kenikmatan jasmani.

Keempat, kebijaksanaan sebagai daya yang membantu manusia untuk bertumbuh dalam kebajikan. Manusia dari kodratnya memiliki kemampuan dalam dirinya untuk bertumbuh dalam kebajikan[32]. Hal ini dimungkinkan karena manusia dianugerahi akal budi dan kehendak yang tetap. Melalui akal budinya ia mampu membedakan apa yang baik dan jahat. Itulah sebabnya manusia selalu merindukan apa yang disebut dengan kepenuhan, kebenaran, kesempurnaan. Akan tetapi kepenuhan manusia tidak selesai hanya dengan aktivitas akal budi. Kepenuhan manusia itu ditemukan dalam relasi dengan kebenaran tertinggi. Tujuan akhir dari hidup berkebajikan adalah menjadi serupa dengan Allah (Gregorius dari Nisa)[33]. St. Montfort memiliki keyakinan yang sama bahwa tujuan dari segala keutamaan pada dasarnya adalah agar orang memiliki kesempurnaan dalam Allah. Kesempurnaan itu terletak dalam Yesus Kristus, Sang kebijaksanaan Abadi (CKA 8). Untuk mendapatkanNya setiap orang harus menjual segala-galanya (Mrk 10:21).

St. Montfort sendiri adalah pribadi yang memiliki keutamaan besar dalam dirinya. Kesaksian Leschassier, pembimbing rohaninya dalam surat yang bertanggal 3 mei 1701[34] membenarkan hal itu. J. Morinay menemukan setidaknya 80 kidung yang berbicara tentang kebajikan dari 164 kidung yang masih tersimpan ditulis oleh St. Montfort.[35] Hal ini menggambarkan betapa St. Montfort sangat memahami panggilan dasar setiap orang untuk memiliki kebajikan dalam dirinya. Kita dapat mengatakan bahwa kebajikan sebagai hal yang hakiki dirindukan oleh manusia bukan semata-mata usaha pribadi. St. Montfort telah menunjukkan hal itu. Kebajikan terutama adalah anugerah Allah. Agar bertumbuh dalam kebajikan manusia tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia membutuhkan Allah.

Kelima, karunia Kebijaksanaan sebagai penguji dan pemurni iman. Pemurnian ini bertujuan untuk mengantar orang pada kemajuan hidup rohani, semakin maju dalam kekudusan. Menjadi kudus bukan sesuatu yang sudah selesai, tetapi sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sampai akhir hayat. St. Montfort mengatakan;

Akhirnya oleh karena tidak ada yang lebih aktif dari Sang Kebijaksanaan, Kebijaksanaan lebih lincah dari segala gerakan (Keb. 7:24). Ia tidak membiarkan orang-orang yang memiliki persahabatan denganNya suam-suam kuku atau lalai…setelah mereka disiksa, bersabdalah Roh Kudus, mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka lalu mendapati mereka layak bagiNya. Laksana emas dalam dapur api mereka diperiksa olehNya, kemudian diterima bagaikan korban bakaran, maka pada waktu pembalasan mereka bercahaya (CKA 100).

St. Montfort melihat karunia Kebijaksanaan yang diberikan kepada seseorang pada akhirnya memurnikan jiwa. Karunia itu tidak diberikan begitu saja sebagai sesuatu yang sudah jadi, lalu tinggal dalam hati seseorang sebagai sesuatu yang tetap. Gambaran yang dilukiskan St. Montfort tentang pemurnian jiwa ini digandengkan dengan Salib. Perjalanan pemurnian adalah perjalanan memikul Salib Tuhan. Sang Kebijaksanaan menyediakan Salib untuk dipikul.

 

Seni Mengolah Hidup Menjadi Bijaksana

  1. Kerinduan Yang Menggelora

Sarana pertama yang diperlukan untuk menjadi bijak adalah kerinduan yang menggelora. Jordan Aumann mengatakan, faktor psikologis yang paling penting dalam kehidupan spiritual adalah kerinduan terus-menerus untuk menjadi sempurna.[36] Kerinduan untuk menjadi sempurna adalah tindakan kehendak yang dipengaruhi oleh rahmat yang mendorong kita terus-menerus bertumbuh dalam kekudusan. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kekudusan, maka dengan sendirinya kerinduan itu tidak dapat dicapai hanya dengan usaha manusia semata. Untuk menjadi kudus perlu rahmat Allah. Kerinduan akan Tuhan dengan demikian adalah pertama-tama terjadi karena rahmat yang dicurahkan oleh Allah.

Bagi St. Montfort, kerinduan yang menggelora lahir dari cinta. Keduanya terjalin satu sama lain sebagai bagian penting dalam kehidupan mistik.[37] St. Montfort bahkan kadang menggunakan kata “kerinduan menggelora” dan “cinta” dalam pengertian yang sama. Penggunaannya dipertukarkan satu dengan yang lain[38]. Sebagai contohnya adalah;

Sampai kapankah kamu “mencintai” kesia-siaan dan mencari kebohongan? Mengapa kamu tidak memalingkan matamu kepada Sang Kebijaksanaan Ilahi? Dari segala sesuatu yang dapat “dirindukan” seseorang, Dialah yang paling pantas “dirindukan”. Untuk membuat diriNya dicintai manusia, Ia sendiri menyatakan asal-usulNya, menunjukkan keindahanNya, memperlihatkan harta kekayaanNya dan membuktikan kepada mereka dengan banyak cara, kerinduan yang Ia miliki agar “merindukan” Dia dan mencari Dia (CKA 181).

Cinta dan kerinduan lahir dari perjumpaan dengan Sang Kebijaksanaan. Sang Kebijaksanaan yang mengambil inisiatif pertama kali mencintai kita (CKA 181). Tentang hal ini dapat kita lihat pada bagian pertama struktur dari buku CKA (CKA bab I-XIV) yang berbicara tentang bagaimana Sang Kebijaksanaan sejak awal mula aktif  memperkenalkan diri kepada manusia (CKA 181).

Kerinduan akan kebijaksanaan ini adalah anugerah besar dari Allah (CKA 182). Tetapi kerinduan itu bukan anugerah yang begitu saja diberikan kepada setiap orang. Anugerah itu diberikan oleh karena orang hidup benar di mata Allah. Kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati yang keruh dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai oleh dosa (CKA 182). Dengan ini, St. Montfort hendak menegaskan bahwa kerinduan dan cinta bukanlah sesuatu yang dapat timbul begitu saja di dalam batin sebagai usaha manusia semata-mata.[39] Sang Kebijaksanaan telah memberikan karunia kepada manusia dalam interaksi yang dinamis. Dasar dari kerinduan dan cinta itu adalah pengalaman akan Sang Kebijaksanaan yang membangkitkan dalam hatinya kerinduan dan cinta yang semakin besar pada Sang Kebijaksanaan. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Yohanes: “Kita mencintai karena Allah terlebih dahulu mencintai kita” (1 Yoh, 4:19)[40].

St. Montfort menunjukkan adanya relasi yang erat antara cinta dan pengetahuan. Ia bertanya: “Mengapa Sang Kebijaksanaan Abadi yang menjelma, Yesus Kristus yang patut disembah, sangat sedikit dicintai? Itu karena ternyata Dia tidak dikenal atau kurang dikenal (CKA 8). Rupanya St. Montfort melihat adanya relasi yang erat antara cinta dan pengetahuan. Pertanyaan St. Montfort di atas mengantar kita pada apa yang dikatakan oleh Yohanes Paulus II: “Iman dan akal budi adalah dua sayap, karena itu jiwa manusia menanjak ke kontemplasi kebenaran”[41]. Pengenalan merupakan aktivitas akal budi. Akal budi manusia bekerja untuk tahu membedakan yang baik dan yang benar. St. Montfort menyadari pentingnya aktivitas akal budi, sebagai daya reflektif untuk melihat kebenaran dari Allah. Dalam kaitannya dengan ini, kita mendengar apa yang dikatakan oleh Teresia Avila:

Saya berpendapat kita tak pernah dapat mengenal diri sendiri kalau kita tidak berusaha mengenal Tuhan. Dengan merenungkan keagunganNya, kita dapat melihat kenistaan kita. Dengan merenungkan kemurnian-Nya kita menyadari ketidakmurnian kita. Dengan merenungkan kerendahan hati-Nya kita sadar betapa kurang kerendahan hati kita[42].

Bagi St. Teresia pengenalan akan Allah membantu orang untuk semakin mengenal diri sendiri di hadapan Tuhan. Tujuan dari pengenalan ini menurut Teresia adalah agar kita memuji Dia dalam makhluk-makhluknya.[43] Dalam terang yang sama kita dapat mengatakan bahwa pengenalan akan Tuhan membawa orang untuk semakin mencintaiNya. Dalam terang pemikiran St. Montfort, tujuan dari pengenalan akan Sang Kebijaksanaan adalah agar kita semakin mencintaiNya, merindukanNya sebagai satu-satunya harta yang paling berharga dan sebagai satu-satunya pengetahuan sejati. Kerinduan yang menggelora adalah sarana untuk sampai ke tujuan itu.

Antara pengetahuan dan iman tidak bertentangan. Keduanya justru memiliki ikatan yang sangat erat. Iman membuka jalan ke pengenalan. Bahkan pengenalan akan Sang Kebijaksanaan adalah yang paling mulia, manis, perlu, berguna, sebagai kesempurnaan, dan juga akar kebakaan. Mengetahui Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan berarti mengenal segala-galanya yang kita butuhkan. Mengetahui segala-galanya dan tidak mengetahui Dia berarti tidak mengetahui apa-apa (CKA 11). Apa arti perkataan ini? Perkataan ini bisa dipahami jika melihat tujuan pencarian manusia. Jika yang dicari manusia adalah kebijaksanaan sebagai “satu-satunya harta yang berharga bagi hidup dan sebagai kebenaran tertinggi” maka St. Montfort berani mengatakan bahwa hal itu ditemukan dalam diri Kristus Sang Kebijaksanaan Abadi. Di sini ia sekaligus meletakkan dasar teologi pengetahuan. Pengetahuan itu bersumber pada Sang Kebijaksanaan. Sang Kebijaksanaan Abadi itu sendiri adalah pengetahuan sejati itu sendiri (CKA 8-13). Hal ini senada dengan perkataan orang bijak; permulaan pengetahuan adalah takut akan Tuhan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan pendidikan (Ams 1:7). Mengomentari ayat ini, Rm. Pareira berpendapat, teks ini adalah suatu teologi pengetahuan. Pengetahuan itu bersumber pada Allah.[44] Dialah yang memberikan kepada manusia. Karena itu orang perlu memohonkannya dengan rendah hati.

Di lain pihak St. Montfort mengingatkan bahwa kerinduan kita harus suci dan tulus.[45] Model yang ia tunjukkan adalah Salomo. Salomo memberi teladan oleh karena ia hanya memohonkan kebijaksanaan dari Tuhan dalam memutuskan perkara-perkara (1 Raj 3:9). Ia tidak meminta dari Tuhan umur yang panjang, kekayaan atau nyawa musuh-musuhnya (1 Raj 3:11). Kerinduan seperti inilah yang dimaksudkan oleh St. Montfort. Dalam bagian lain kita telah melihat bagaimana ia menolak kebijaksanaan duniawi (materialisme, hedonisme, cinta kekuasaan) yang dianggapnya sebagai kecapan akan kebohongan (CKA 80-83). Kerinduan yang suci dan tulus mengantar orang untuk meninggalkan dosa-dosanya. (CKA 182). Ia kemudian mengutip Keb. 7:7, 8:2,18 sebagai gambaran dari mereka yang memiliki kerinduan yang suci, yaitu mencari dengan tiada hentinya, menjadikannya sebagai kekasih jiwa.

  1. Doa Terus-menerus

Sarana kedua yang ditunjukkan oleh St. Montfort untuk menjadi bijak adalah doa terus-menerus. Doa adalah bagian tidak terpisah dari kerinduan yang menggelora sebagaimana ditunjukkan pada poin sebelumnya. Doa dan kerinduan saling memengaruhi. Sr. Barbara Moor dan Raja Rao bahkan melihat kedua hal itu sebagai satu kesatuan. Komentar atas kedua bagian ini dijadikan satu oleh mereka. Hal ini benar adanya, karena doa selalu lahir dari kerinduan yang mendalam. Orang yang berdoa adalah orang yang merindukan Tuhan. Sedangkan orang yang tidak berdoa mirip suatu tubuh yang lumpuh. Kendati pun badan itu berlengan dan berkaki namun tidak dapat menggunakannya.”[46] Hanya orang yang merindukan Tuhan yang berdoa. Kerinduan akan Sang Kebijaksanaan diungkapkan lewat doa terus-menerus. Penjelasan tentang langkah pertama pada poin sebelumnya berlaku juga untuk bagian kedua. Akan tetapi, pada bagian ini penekanan St. Montfort tampak pada penjelasan apa itu doa dan syarat-syarat doa yang baik.

St. Montfort adalah seorang pendoa yang besar. Sejak kecil keutamaan doa tumbuh dalam dirinya. Ia didik di Seminari St. Sulpice yang sangat menekankan hidup doa agar para calon imam kelak menjadi imam yang saleh, terpelajar dan memiliki semangat kerasulan. Olier, pendiri St. Sulpice mengatakan;

Tujuan utama dari institut ini adalah mendidik para calon imam agar sepenuhnya hidup bagi Allah, dalam Yesus Kristus Tuhan kita, dan karenanya Putra hidup dalam kedalaman hati kita sehingga sama seperti Paulus; “Aku hidup, tetapi sekarang bukan aku melainkan Kristuslah yang hidup dalam diriku” (Gal 2:20).[47]

Karena itu untuk memahami bagian ini, ada baiknya melihat bagaimana Sekolah Prancis telah membentuknya. R. Devil mencatat tujuh ciri khas yang sangat ditekankan dalam Sekolah Prancis. Salah satu yang mendapat perhatian besarnya adalah penekanan pada pengalaman mistik, persatuan dengan Kristus[48]. Berulle mengatakan, hanya dalam persatuan dengan Kristus, Sabda yang berinkarnasi, kita dapat memuji Allah dengan kerendahan hati dan cinta.[49] Apa yang hendak dikatakan Berulle adalah bahwa persatuan dengan Kristus merupakan dasar dan tujuan dari segalanya. Hal itu hanya mungkin terjadi melalui doa. Sebab pengalaman persatuan dengan Allah pada dasarnya adalah pengalaman doa. St. Montfort persis berada dalam arus ini.

St. Montfort mengatakan doa adalah “terusan yang biasa, yang dipakai oleh Allah untuk membagi rahmat-rahmatNya, secara khusus Sang Kebijaksanaan” (CKA 184). Lewat doalah Allah mengkomunikasikan diriNya kepada manusia, dan juga doa dipakai Allah sebagai sarana agar manusia sampai padaNya. St. Montfort mengutip apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil,

Marilah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Kebijaksanaan sendiri; carilah maka kamu akan mendapat, ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu, mintalah maka akan diberikan kepadamu (Mat 7:7, Luk 11:19). Seakan-akan ia mengatakan; jika kamu ingin mendapat Aku, kamu harus mencari Aku… (CKA 184).

Melalui teks ini St. Montfort menekankan bahwa apa yang kita minta di dalam doa pertama-tama adalah Kebijaksanaan yang merupakan harta terbesar dan kebenaran yang tertinggi bagi manusia. Dengan memohonkan rahmat Kebijaksanaan, kita dengan sendirinya meminta segala keutamaan yang dimiliki oleh Yesus Kristus Sang Kebijaksanaan. Itu berarti kita memohonkan agar Yesus hidup dalam diri kita. Kita membiarkan Dia berkuasa atas kita, melakukan apa yang dikehendakiNya dalam diri kita.

Setelah menjelaskan definisi doa, St. Montfort kemudian memberikan beberapa syarat doa yang baik untuk memperoleh Sang Kebijaksanan. Ia perlu menjelaskan hal ini oleh karena pemahaman tentang doa seringkali keliru. Tentang hal ini Berulle pernah memberikan nasihat begini;

Kita tidak boleh diilhami atau berkosentrasi pada usaha mencari kesempatan dan keuntungan spiritual kita sendiri, tapi satu-satunya adalah untuk kemuliaan Allah, tanpa adanya pertimbangan pribadi kita atau kepuasan kita sendiri; oleh karena pada akhirnya kita harus mengatakan kepada diri kita sendiri maksud tujuan doa itu, untuk menghormati, mengenal dan menyembah Allah yang agung, sebagaimana Ia sendiri adanya, lebih dari sebagai apa Dia untuk kita, dan untuk mencintai kebaikanNya karena Ia sendiri lebih dari apa yang mungkin dapat dilakukannya bagi kita[50].

Apa yang dikatakan oleh Berulle menunjukkan adanya suatu pemahaman yang salah tentang doa pada begitu banyak orang. Banyak orang yang melihat doa sebagai sarana untuk meminta-minta kepada Tuhan agar segala keinginan dirinya dikabulkan. Tuhan bagi orang demikian tidak lebih dari seorang yang melayani kebutuhan, keinginan dan nafsu mereka. Hal itu ditentang oleh St. Montfort. Baginya berdoa yang benar adalah; pertama, berdoa dengan penuh iman. Ia mengatakan, kita harus meminta karunia ini dengan iman yang hidup dan teguh, tanpa ragu-ragu. Sebab orang yang bimbang dalam imannya janganlah ia mengira akan menerima sesuatu dari Tuhan (CKA 185).[51] Iman memegang kepercayaan teguh kepada Tuhan. Kepercayaan teguh itu harus terwujud dalam doa. Gereja dengan tegas mengajar bagaimana agar doa kita menjadi berdaya guna. Syaratnya adalah kepercayaan yang mendalam terutama yang dibangkitkan oleh karyaNya dalam kesengsaraan dan kebangkitan PuteraNya.[52]

Kedua, memohonkannya dengan iman yang murni. Iman yang murni adalah batu dasar bagi seluruh doa dan karya kita, kata St. Montfort (CKA 87). Dalam berdoa, “Kita harus memohonNya dengan iman murni, tidak mendasarkan doa kita pada hiburan-hiburan indrawi, pada penglihatan atau wahyu istimewa” (CKA 186). Baginya ciri iman yang murni adalah tidak bergantung pada sensasi lahiriah belaka atau hiburan-hiburan indrawi, ataupun pada wahyu istimewa. Kita berdoa tidak untuk mendapatkan kepuasan diri. Berdoa pertama-tama lahir dari kerinduan akan Sang Kebijaksanaan, bukan kerinduan akan kepenuhan keinginan-keinginan pribadi. Kita berdoa karena kerinduan kita untuk memiliki Sang Kebijaksanaan dalam hati. Tentang hal ini kita dapat membandingkannya dengan perkataan Ibu Teresa dari Kalkuta dalam sebuah suratnya kepada Uskup Agung Perier pada bulan Februari 1956;[53]

“…Saya mendambakan dengan kerinduan yang sangat menyakitkan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan untuk menjadi sedemikian suci sehingga Yesus dapat tinggal secara penuh dalam diri saya. Semakin besar hasrat saya untuk memilikiNya semakin kuat perasaan bahwa saya tidak dibutuhkan. Saya ingin mencintaiNya dengan cara yang belum pernah Ia alami, namun keterpisahan itu terus ada, kekosongan yang mengerikan, merasakan ke-tidak-hadir-an Allah…”

Ibu Teresa dari Kalkuta mengalami pengalaman kegelapan jiwa yang mendalam. Tetapi ia sadar bahwa itu adalah akibat dari cintanya akan Allah. Ia sadar bahwa perjalanan rohani adalah perjalanan melalui pintu yang sempit. Jiwa pada umumnya harus menapaki jalan ini untuk mencapai persatuan luhur dan menggembirakan dengan Allah. Inilah yang disebut sebagai malam gelap oleh St. Yohanes dari Salib.[54] Teresia dari Jesus mengatakan;

Mencari penghiburan rohani merupakan suatu cara yang buruk untuk memulai karya pembangunan yang begitu indah dan luas. Mencari penghiburan rohani seperti membangun di atas pasir. Seluruhnya akan runtuh, pada hal ketidak-puasan dan godaan tidak ada habisnya. [55]

Dengan menekankan agar berdoa dengan iman yang murni, St. Montfort hendak menunjukkan bahwa pengalaman malam gelap akan dilewati oleh semua orang untuk mencapai persatuan dengan Sang Kebijaksanaan. Sedangkan mencari penghiburan indrawi adalah hal yang bertolak belakang dengan pengalaman malam gelap.

Ketiga, memohonkannya dengan tekun. “Kita harus memohon dengan tekun Sang Kebijaksanaan ini (CKA 188)…perlu memintaNya siang dan malam tanpa lelah dan tanpa menjadi putus asa (CKA 188)”. St. Montfort berbicara tentang pengalaman hidup doa kebanyakan orang di masanya yang berhenti berdoa karena kecewa doanya tidak pernah dikabulkan. Bahkan mereka itu sampai menghina Allah. Pendoa yang baik baginya adalah seorang sahabat yang mengetuk-ngetuk terus pintu tiada henti di tengah malam agar dipinjamkan kepadanya, bahkan dengan cara yang agak memaksa (CKA 189-190).[56] Berdoa yang baik dengan demikian seperti “memaksa Sang Kebijaksanaan” sampai Ia sendiri berkenan membiarkan diriNya tinggal dalam hati. Akhirnya ia mengutip doa Salomo (Keb 9:1-6, 9-18) sebagai contoh doa yang baik[57].

  1. Matiraga Menyeluruh

Sarana ketiga yang penting untuk menjadi orang bijak adalah matiraga menyeluruh. Prinsip dasar yang harus terus dingat adalah bahwa untuk menjadi bijak orang harus memiliki di dalam dirinya Sang Kebijaksanan Abadi yaitu Yesus Kristus. “Marilah kita tinggal dalam Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan yang menjelma. Di luar Dia hanya terdapat kesesatan, kebohongan dan kematian, Akulah jalan kebenaran dan hidup” (CKA 89). Akan tetapi kelemahan manusia, karena jatuh dalam dosa menghalanginya untuk sampai pada persatuan itu. Matiraga adalah salah satu jalan untuk sampai pada persatuan itu. Itulah motif utamanya. Motif lainya adalah untuk mengatasi kodrat manusia yang lemah dan yang dari kodratnya berdosa, untuk memikul Salib bersama Yesus, meneladani Yesus yang mengosongkan diri (CKA 194). Kita melihat pemahaman St. Montfort tentang matiraga bercorak Kristosentris. Matiraga diletakkan dalam hubungannya dengan Kristus Sang Kebijaksanaan yang mengosongkan diri. Karena itu untuk memahami hal ini perlu melihat bagaimana Yesus menghayati peristiwa kenosis, pengosongan diri dalam hidupnya. Titik tolaknya adalah kerinduan, cinta Allah untuk menyelamatkan manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak dapat memulihkan keadaanya sendiri. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan dirinya. Karena itu Allah mau mengosongkan diri untuk menjadi serupa dengan manusia (CKA 45-46).

St. Montfort melihat tindakan matiraga adalah rahmat yang dianugerahkan Allah. Akan tetapi anugerah itu tidak diberikan kepada orang-orang yang malas, orang-orang yang tidak merindukannya dengan sepenuh hati, orang yang tidak berkenan kepada Allah. Rahmat itu hanya diberikan kepada mereka yang merindukannya. Ia mengatakan;

Sang Kebijaksanaan, kata Roh Kudus, tidak ditemukan dalam manusia yang hidupnya santai, yang memenuhi apa yang diinginkan oleh hawa nafsu dan panca indranya. Karena mereka yang hidup menurut keinginan daging, tak mungkin berkenan kepada Allah; dan kebijaksanaan daging adalah perseteruan terhadap Allah (CKA 104).

Apa yang dimaksudkan oleh St. Montfort dalam hal ini? Baginya, matiraga adalah bagian yang tidak terpisahkan dari praktek hidup untuk menjadi orang bijak. Matiraga bukanlah unsur tambahan untuk memperoleh kesempurnaan hidup, melainkan hal penting yang tidak dapat dipisahkan dari hidup. Matiraga kristiani haruslah diletakkan dalam kerangka misteri Paskah yaitu penderitaan, wafat dan kebangkitan Tuhan.[58] Dengan demikian yang terpenting dalam matiraga bukan tindakan kita untuk mematikan diri sendiri tetapi perbuatan Tuhan.[59]

Praktik matiraga menyangkut dua hal. Pertama, praktek lahiriah. Praktek lahiriah terdiri dari penyangkalan diri yang dilakuan setiap hari dalam hidup harian. Penyangkalan diri itu terdiri dari; penyangkalan diri terhadap kebijaksanaan duniawi (CKA 13), seperti dari kenikmatan (CKA 198), kekayaan (CKA 197), hawa nafsu (CKA 81) dan kekuasaan (82, 199).

Praktik batiniah terdiri dari pengosongan diri dari segala hal yang buruk dan mati terhadap diri sendiri. Pertama, berkaitan dengan pengosongan diri. Untuk menjadi bijak dengan memperoleh Sang Kebijaksanaan seseorang harus mengosongkan diri. Apa saja yang harus dikosongkan dari dalam diri? Segala sesuatu yang buruk dalam diri kita (BS 78). Untuk memahami hal ini kita ingat bagaimana ia sendiri telah dibentuk oleh pemikiran Platonis-Agustinian yang sangat pesimis dalam memandang manusia. Manusia itu sudah dicemari oleh dosa. Karena itu manusia pertama-tama meninggalkan dirinya sendiri.[60] Keburukan manusia nyata dalam sifat-sifatnya. Manusia memiliki keinginan yang melekat pada hal-hal duniawi, segala hawa nafsu, aktivitas kuasa gelap yang berdiam dalam jiwa seseorang (bdk. BS 79).[61]

Pierre Humblet melihat bab XVI (CKA 194-202)-XVII (CKA 103-122) sebagai satu kesatuan pola yang menggambarkan kematian mistik “manusia lama kita” dan kelahiran “manusia baru” melalui devosi kepada Bunda Maria.[62] Dalam tradisi mistik, doa, kontemplasi adalah sebuah latihan pengutuhan diri untuk kembali ke keadaan semula, keadaan murni, sebelum manusia jatuh dalam dosa.[63] Pierre Humblet mengatakan, St. Montfort pada poin ini mengikuti tradisi religius dan Gereja yang berkembang waktu itu.

Kedua, mati terhadap diri sendiri. Bentuk kedua dari matiraga batiniah adalah mati terhadap diri sendiri. Mati terhadap diri sendiri berarti mati terhadap berbagai kesenangan yang memuaskan diri. Mati terhadap segala sesuatu yang tidak berasal dari Allah. Mengapa kita harus mati terhadap diri sendiri? Manusia dari dirinya sendiri sudah rusak oleh dosa. Dalam dirinya hanya terdapat keinginan jahat. St. Montfort mengatakan;

Untuk mengosongkan diri kita perlu mati setiap hari terhadap diri kita sendiri, artinya menolak aktivitas kuasa-kuasa gelap jiwa kita, dan aktivitas panca indra tubuh kita; kita harus melihat seakan-akan tidak melihat, mendengar seakan-akan tidak mendengar, hidup dalam dunia ini, namun tak mempedulikannya. Itulah yang dimaksudkan oleh St. Paulus dengan mati setiap hari, setiap hari aku mati (1 kor 15:30-31).  (BS 18)

Bagi St. Montfort orang yang sungguh mematikan dirinya akan dicintai oleh Allah. Jikalau orang berseru dan memohonkan rahmat maka Allah akan menjawabnya. Allah akan menyingkapkan diriNya.[64] Matiraga lebih berguna lagi karena tidak membangkitkan kesombongan.

  1. Bakti Sejati Kepada Santa Perawan Maria.

Sarana keempat untuk menjadi bijak adalah bakti yang sejati kepada Santa Perawan Maria. Sarana ini adalah “yang paling besar dan paling mengagumkan dari semua rahasia untuk memperoleh dan menyimpan Sang Kebijaksanaan Ilahi” (CKA 2003). Dalam buku Bakti Sejati Kepada Santa Perawan Maria, St. Montfort mengatakan; Sarana ini adalah yang paling mudah, pendek, sempurna dan aman untuk mencapai persatuan dengan Tuhan (BS 152). Mengapa demikian? Apa yang dimaksudkan St. Montfort dengan bakti yang sejati kepada Santa Perawan Maria? Bagian ini akan menjelaskan apa yang dimaksudkan St. Montfort dengan bakti sejati kepada St. Perawan Maria dan bagaimana hal itu dilihat sebagai proses yang membawa orang menjadi bijak. Akan tetapi sebelum itu St. Montfort memperlihatkan kedudukan St. Maria dalam kehidupan orang Kristiani.

 

4.1  Maria Sebagai Bunda Allah dan Citra Asli Gereja (Tipos).

Peran St. Maria dalam kehidupan Kristiani tidak terlepas dari perannya dalam sejarah keselamatan. Peran Maria dalam sejarah keselamatan adalah sebagai Bunda Allah (CKA 204) yang melahirkan bagi manusia Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan Abadi, untuk menyelamatkan manusia.[65] Karena itu konteks pembicaraan St. Montfort tentang Maria diletakkan dalam karya keselamatan. Santa Maria mengambil bagian dalam karya keselamatan yang dikerjakan Allah bagi manusia. Beginilah St. Montfort menggambarkan hal ini:

Dan, lihatlah, pada saat yang sama ketika Maria menyetujui untuk menjadi Bunda Allah, terjadilah beberapa hal ajaib. Roh Kudus membentuk dari darah paling murni dari hati Maria sebuah tubuh yang kecil …Sang Kebijaksanaan Abadi atau Putera Allah menyatukan diri, sebagai sungguh pribadi, dengan tubuh dan jiwa…Sabda telah menjadi daging, Sang Kebijaksanaan Abadi menjelma menjadi manusia. Allah menjadi manusia tanpa berhenti menjadi Allah. Allah-manusia ini bernama Yesus Kristus Sang Penyelamat.

 (CKA 108)[66]

Maria berperan aktif dalam karya keselamatan oleh karena ia sendiri bertindak atas keputusan bebasnya. Tanggapannya atas tawaran Allah lahir dari kebebasannya sebagai manusia. Kebijaksanaan Ilahi ingin menjadi manusia dalam Maria kalau Maria memberikan persetujuan (CKA 107, BS 16). Maria adalah wanita yang dengan imannya menyetujui penjelmaan Kebijaksanaan Ilahi (CKA 204, BS 22).

Pola inkarnasi, Sang Kebijaksanaan menjadi manusia kemudian dipakai oleh St. Montfort untuk merumuskan peran Maria dalam kehidupan menggereja. Ia mengatakan;

Pola bertindak yang diikuti oleh ketiga pribadi Tritunggal Maha Kudus saat penjelmaan, yaitu datangnya Yesus Kristus pertama kali, tetap dipegang mereka setiap hari di dalam Gereja secara tidak kelihatan. Sampai akhir zaman , yaitu saat datangnya Yesus Kristus yang terakhir kali, mereka tetap setia pada pola yang sama (BS 22).

Yang hendak dikatakan oleh St. Montfort dalam hal ini adalah bahwa peran Maria sebagai Bunda Allah dalam peristiwa inkarnasi berlanjut kini dalam misinya menjadi ibu terhadap anggota Tubuh Mistik Kristus. Kalau dalam inkarnasi Allah Bapa memberikan putraNya kepada dunia melalui Maria; kini pun Ia memberikan kepada Maria kemampuan untuk melahirkan semua anggota Tubuh MistikNya.[67] Secara rohani ia menjadi ibu setiap orang beriman.[68] Dalam Inkarnasi Allah Putra lahir dari Maria dan tunduk kepadanya, kini sampai pada akhir zaman, Dia tetap melanjutkan mukjizat-mukjizatNya melalui Maria. Dalam inkarnasi, dengan persetujuan Maria Roh Kudus membentuk Kristus dalam Maria, kini bersama Maria dan dalam Maria Roh Kudus memberikan kehidupan kepada anggota-anggota Tubuh Mistik Kristus. Ia mengatakan;

Kalau kepala umat manusia, Yesus Kristus, lahir dari Maria, makanya dengan sendirinya orang-orang terpilih yang adalah anggota-anggota dari Kepala itu, juga lahir dari wanita ini. Tidak mungkin ibu yang sama melahirkan Kepala tanpa anggota-anggota, juga tidak mungkin anggota-anggota tanpa kepala. (BS 32)

 

4.2  Bakti Yang Sejati Kepada Maria.

Pertanyaan penting yang harus dijawab sebelum menguraikan bakti sejati kepada Bunda Maria adalah; mengapa St. Montfort menggunakan sarana ini? Apakah tidak cukup jika orang bermatiraga, menyalibkan tubuhnya bersama Salib Kristus? Dengan kata lain, bukankah jalan pemurnian yang ditunjukkan dalam sarana ketiga sudah cukup untuk membawa orang memperoleh Kebijaksanaan Abadi? Rupanya bagi St. Montfort, hal itu tidaklah cukup. Manusia adalah makhluk yang lemah, berdosa dan tidak setia. Ia dalam dirinya tidak layak menjadi tempat kediaman Sang Kebijaksanaan. Karena itu ia butuh rahmat Allah. Ia menegaskan;

Dari segala sarana untuk memiliki Yesus Kristus, Maria adalah yang paling pasti, paling mudah, paling singkat dan paling suci. Seandainya kita mau bermatiraga dengan cara yang paling mengerikan, …bahkan bila kita menumpahkan segala darah kita untuk memperoleh Sang Kebijaksanaan Ilahi, dan bahwa pengantaraan dan bakti kepada santa Perawan tidak ditemukan dalam segala usaha ini, semuanya menjadi tidak berguna dan tidak mampu bagi kita untuk memperoleh Sang Kebijaksanaan. (CKA 212).

Untuk memahami hal ini kita melihat apa yang dikatakan oleh Pierre Humblet yang melihat adanya kesatuan yang tak terpisah antara bab XVI (CKA 194-102) dan bab XVII (CKA 303-222), yang menggambarkan kematian manusia lama dan kelahiran manusia baru.[69] Di sinilah letak peran kunci Maria dalam peristiwa inkarnasi, Kebijaksanaan Abadi menjadi manusia yang berlanjut pada peran kuncinya melahirkan Sang Kebijaksanaan dalam hati kita.[70] Jika kematian “manusia lama kita” dimulai dengan matiraga, menyalibkan tubuh dan segala keinginan kita bersama Salib Kristus maka kelahiran manusia baru dimulai dengan kehidupan baru melalui rahim Perawan Maria. Sebab, sebagaimana Maria mempunyai peran kunci dalam peristiwa Inkarnasi, melahirkan Yesus Sang Kebijaksanaan, peran yang sama akan dilakukan Maria untuk melahirkan Yesus Sang Kebijaksanaan dalam diri kita (CKA 203-2090). Dalam proses ini rahmat Allahlah yang berkarya dalam melahirkan Sang Kebijaksanaan dalam hati kita. St. Montfort menunjukkan bahwa antara matiraga dan penyerahan total kepada Bunda Maria bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya saling menyempurnakan. Devosi kepada Bunda Maria menyempurnakan tindakan matiraga dan juga sebaliknya. Pierre Humblet melihat, devosi kepada Bunda Maria merupakan suatu proses pemurnian. Dikatakan demikian, karena St. Montfort melihat kedosaan manusia membuatnya tidak dapat menerima Sang Kebijaksanaan (CKA 209-210). Karena itu, manusia memerlukan hati yang pantas. Maria adalah orang yang memiliki kemurnian hati untuk itu. St. Montfort menganjurkan agar setiap orang memiliki hati Maria. St. Montfort menunjukkan bahwa Bunda Maria adalah solusi atas ketidakmampuan dan ketidakpantasan manusia memperoleh Sang Kebijaksanaan (CKA 209-214).[71]

St. Montfort meletakan kerangka pemikirannya dalam peran Maria sebagai Bunda Allah yang telah membentuk Yesus Kristus sebagai kepala anggota Tubuh Mistik Kristus. Peran yang sama akan dikerjakannya dalam membentuk anggota-anggotaNya. “Ia mengandung mereka, membawa mereka dalam rahimnya, dan melahirkan mereka dalam dunia kemuliaan melalui rahmat Allah yang ia bagi-bagikan kepada mereka.” (CKA 213)

Setelah melihat Maria dalam karya keselamatan dan juga dalam hubungannya dengan peran keibuan rohaninya dalam Gereja, dengan demikian kita sampai pada pemahaman mengapa “bakti” ini dikatakan sarana yang paling penting untuk menjadi bijak. Bakti ini adalah kesimpulan yang ditarik St. Montfort berdasarkan landasan teologis yang dikemukakan. Bakti (devosi) sejati lahir dari keyakinan bahwa Allah menghendaki Maria melanjutkan peran inkarnasi dalam Gereja untuk membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus Sang Kebijaksanaan Sejati. Kalau dalam inkarnasi Maria terlibat secara total bagi karya keselamatan, maka dalam Gereja ia melibatkan diri secara total membentuk kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Sebab, ia adalah ibu rohani bagi Gereja. Apa yang dikatakan di atas dapat dirangkum dalam pernyataan St. Montfort: “Melalui St. Perawan Maria Yesus Kristus telah datang ke dunia. Melalui Maria pulalah Dia harus meraja di dunia.” (BS 1)

Apa yang dimaksudkan St. Montfort dengan “bakti (devosi) sejati kepada Santa Maria”? St. Montfort mengatakan;

Seluruh kesempurnaan kita terdiri dari hal ini, bahwa kita serupa dengan Yesus Kristus, bersatu denganNya dan dibaktikan kepadaNya. Dari situ jelas sekali bahwa devosi yang paling sempurna adalah devosi yang secara paling sempurna membawa kita serupa dengan Yesus Kristus, mempersatukan kita denganNya dan membaktikan diri kita denganNya. …Maka dari itu pembaktian diri kepada Yesus Kristus adalah tidak lain dari pembaktian diri sendiri yang sempurna dan seutuhnya kepada Perawan teramat suci. Inilah devosi yang saya wartakan. Dengan kata lain, suatu pembaharuan yang sempurna dari ikrar dan janji sakramen Baptis. (BS 120)

Dari sini kita melihat bahwa, pembaktian diri itu pertama-tama bertujuan untuk membawa orang untuk semakin bersatu dengan Kristus. Kristus adalah tujuan akhirnya. St. Montfort meletakkan kriteria devosi yang benar yaitu Yesus Kristus sebagai tujuan akhirnya. Yesus Kristus penebus kita, sungguh Allah dan sungguh manusia, harus menjadi tujuan akhir dari segala bakti kita, kalau tidak bakti itu tidak tepat dan menyesatkan (BS 61). Kedua, St. Montfort mengaitkan pembaktian diri dengan pembaptisan Kristiani. Pembaktian adalah suatu pembaharuan terhadap janji-janji pembaptisan yang telah kita terima lewat sakramen pembaptisan. Lewat pembaptisan seseorang diangkat menjadi anak Allah. Ia hidup sebagai manusia baru. Tanggungjawabnya sebagai manusia baru adalah menghayati janji-janji pembaptisan yang telah ia terima.[72] Untuk menghayati dengan sempurna janji-janji pembaptisannya St. Montort menganjurkan untuk menyerahkan seluruh diri lewat tangan Maria. Pembaktian diri adalah pembaharuan janji-janji pembaptisan di dalam Maria.[73] Lewat pembaptisan seseorang masuk dalam persekutuan dengan Kristus, Allah Tritunggal, dengan Gereja dan ikatan kesatuan ekumenis.[74]

Bagaimana hal itu dilakukan? St. Montfort menulis, “Saya telah mengatakan; ibadat ini adalah melakukan segala-galanya dengan Maria, dalam Maria, dan untuk Maria”.[75] Pertama, kita harus melakukannya melalui Maria, artinya di dalam segala-galanya kita taat kepada perawan teramat suci ini dan membiarkan diri kita dibimbing oleh rohnya, yang adalah Roh Kudus dari Allah. Kita mengosongkan diri kita dari segala-galanya dan menyerahkan diri kepada Maria.[76]

Kedua, melakukannya dengan Maria (BS 260). Pembaktian diri dilakukan dengan Maria. Maria dijadikan sebagai model sempurna dari semua yang kita kita lakukan. Bagaimana Maria menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, hal yang sama harus kita lakukan ketika menyerahkan diri kepada Tuhan. Untuk mengetahui bagaimana Maria menyerahkan dirinya kepada Tuhan, St. Montfort menganjurkan untuk: menyelidiki dan merenungkan keutamaan-keutamaanya yang luhur yang ia hayati selama hidupnya; imannya yang hidup, …kerendahan hatinya yang mendalam…, kemurnian yang sepenuhnya ilahi…, serta segala keutamaan lain (CKA 260).

Ketiga, hidup dalam Maria. Maria dianugerahi rahmat istimewa untuk melahirkan Kristus sebagai Kepala Gereja dan juga untuk anggota-anggotaNya. Kelahiran kembali kita menjadi manusia baru hanya mungkin terjadi bila Roh Kudus yang dianugerahkan kepada Maria dalam peristiwa Inkarnasi berkarya dalam diri kita. Hidup dalam Maria dipahami St. Montfort seperti hidup dalam taman firdaus sejati. Maria adalah taman firdaus sejati yang menggantikan taman firdaus yang telah rusak oleh dosa manusia. Buah pertama dari firdaus baru ini adalah Yesus Kristus. Ia juga akan menghasilkan buah-buah kehidupan yang lain jika orang tinggal di dalamnya. Menurut Patric Gaffney, buku Bakti Sejati nomor 261-263 yang berbicara tentang ‘hidup dalam Maria” merupakan bagian yang paling mistik dari pembahasan St. Montfort.[77] Ia menguraikan tentang suatu persatuan yang intim dengan Kristus di dalam taman firdaus baru yaitu Maria. Mengapa kita harus tinggal dalam taman firdaus ini? St. Montfort mengatakan;

Di dalam yang perawan itu kita akan; 1). Dibesarkan dengan susu rahmat dan kerahiman keibuannya, 2). Dibebaskan dari ketidaktenangan, ketakutan dan kepekaan yang keterlaluan, 3). Diamankan dari segala musuh kita yakni roh jahat, dunia dan dosa…4). Dibentuk dalam Yesus Kristus dan Yesus Kristus akan dibentuk dalam kita. Karena Bapa Gereja menerangkan bahwa rahimnya adalah ruangan misteri-misteri ilahi. Di situ Yesus Kristus dan segala orang-orang terpilih dibentuk, “seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya” (CKA 264).

Itulah yang terjadi ketika seseorang tinggal dalam Maria. Kita dibesarkan dengan rahmat sebagaimana yang pernah diberikan kepada Kristus.

Keempat, untuk Maria. St. Montfort mengatakan:

Kita harus melakukan segala tindakan kita untuk Maria karena kita telah menyerahkah diri kita seutuhnya untuk mengabdi dia…bukan karena kita memandangnya sebagai tujuan akhir semua pengabdian kita, karena tujuan akhir kita hanyalah Yesus Kristus. Tetapi benar kita memandang dia sebagai tujuan dekat kita, lingkungan hidup yang penuh rahasia dan sarana yang mudah untuk pergi kepada Yesus Kristus. (BS 265)

Bila kita hidup dalam Maria maka kita melakukan segala sesuatu untuk Maria. Dengan demikian, hidup kita semakin lebih intensif untuk Yesus. Melakukan segala sesuatu untuk Maria tidak menghalangi tujuan akhir, yaitu Yesus Kristus, malahan semakin mempermudah untuk sampai pada tujuan akhir, karena Maria hidup bagi Allah saja. St. Montfort tetap berpegang teguh bahwa devosi ini bertujuan untuk semakin memuliakan Kristus dan membuat orang semakin menyerupai Kristus. Untuk menunjukkan hal ini ia berani mengatakan; “kita harus melawan sekeras-kerasnya siapa saja yang menyalahgunakan penghormatannya karena itu sama saja dengan menghina Putranya” (CKA 265).

 

Kesimpulan.

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:16). Dengan sabda itu, Yesus menunjukkan kepada kita sebuah jalan, yakni jalan ke hidup bijak. Jalan itu adalah Dia sendiri. Ia juga adalah kebenaran. Kebenaran yang dicari oleh para bijak, para filosof. Kebenaran yang dicari oleh umat manusia. Kristus juga adalah hidup itu sendiri. Pemenuhan hidup manusia dan juga jawaban atas hidupnya adalah Kristus. Perkataan Agustinus; gelisah hatiku sebelum beristirahat padaNya, menjelaskan tentang arti pemenuhan hidup manusia dalam Kristus. Pada akhirnya, oleh karena manusia dari kodratnya rindu akan kebijaksanaan, maka ia tidak dapat terhindarkan dari iman akan Kristus sebagai satu-satunya jawaban yang pasti.

  

 

       DAFTAR PUSTAKA

 

Dokumen Gereja

Katekismus Gereja Katolik, Ende: Nusa Indah, 2007

Yohanes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (Ter. R. Hardawiryana),         Jakarta: KWI, 2009

 

Tulisan-tulisan St. Montfort

Montfort, Louis Mariae Grignion de, Cinta Sang Kebijaksanaan

             Ilahi. Malang: Seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan

             Malang, 2009.

——–,   Bakti Sejati Kepada St. Perawan Maria, Bandung: Serikat

             Maria Montfortan, 2000.

——–,  Kumpulan Surat, Bandung: Serikat Maria Montfortan,

             1997

——–,   Rahasia Maria, Bandung: Serikat Maria Montfortan, 1993

——–,  God Alone. God II; The Hymns of St. Louis Grignion de

             Montfort, By Shore, NY: Montfort Publications, 2005.

 

Buku-buku Lain

Auman, Jordan, Spiritual Theology,  London: Sheed and Ward,

———, Teologi Mistik; Ilmu Cinta, Yogyakarta: kanisius, 2001.

Avila, St. Teresia, Meditasi-Meditasi Kidung Agung,

     Bajawa: Biara Pertapaan Karmel, 2000.

———-, Puri Batin, Lembang: Biara Karmel, 1992

———-, Jalan Kesempurnaan, Cipanas-Cianjur: Pertapaan Shanti

             Buana, 2004

Ceunfin, Frans & Felix Baghi (ed), Mengabdi Kebenaran,

             Maumere, Ledalero, 2005.

Cortinovis, Battista, Montfort Pilgrim In The Church, Roma:

             Misionari Monfortana, 1997.

Disester, Dr, Nico Syukur OFM, Teologi Sistematika 2,

             Yogyakarta: Kanisius, 2004

Martasudjita, Pr., Sakramen-Sakramen Gereja; Tinjauan

             Teologis, Liturgis dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius,

Fiore, Stefano de s (Ed), Jesus Living In Mary: Hand Book of the

             Spirituality of St. Louis  Marie de Montfort, New

             York, NY: Montfort Publicatinons, 1994.

Healey, Charles J., SJ., Christian Spirituality; An Introduction to

             the Heritage, New York: Alba House, 2008. Hlm. 289.

Haring, Bernard C. S. s. R, Road To Relevance; Present and

             Fucture Trendss in Catholic Moral Theology, New York:

             Alba House, 1969.

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai

             Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2007

Humblet, Pierre, Mystical Prosess of Transformation in Grignion

             De Montfort’s The Love Eternal Wisdom, The

             Netherlands, Titus Brandsma Institute Nijmegen, 1993

Johnston, William, The Inner Eye of Love; Mysticism and

             Religion, San Fransisko, Harper &Row Publisher, 1982.

Kleden, Paul Budi, SVD, Membongkar Derita, Teodecia: Sebuah

             Kegelisahan Filsafat dan Teologi, Maumere, Ledalero,

             2006.

Kolodiejchehuk, Brian, M. C. Ibu Teresa; Datang, dan Jadilah

             Cahaya-Ku, Catatan-Catatan Pribadi Orang Suci dari

             Kalkuta, Jakarta: Gramedia, 2009.

Pareira,  Berthold Anton O. Carm., Homiletik: Bimbingan

             Berkotbah, Malang: Dioma, 2010.

———, Jalan Ke Hidup Yang Bijak; Amsal 1-9, Malang: Dioma,

Perdue, Leo G, Wisdom and Creation; The Theology of Wosdom

             Literature, Nashville: Abingdon Press, 1994.

Suzeno, Frans Magnis, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius,

             2006.

Watington, III Ben, Jesus The Sage; The Pilgrimage of Wisdom,

             Edinburgh: T & T Clark, 1994.

Weiden, Dr. Wim Van der MSF, Seni Hidup; Sastra

             Kebijaksanaan Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius,

Westermann, Claus, Roots of Wisdom; The Oldest Proverbs of

             Israel and Other Peoples, Louisville, Kentuccky:

             Westminster John Knox Press, 1995.

     

     Endnote:

[1] Jordan Auman, Spiritual Theology,  London: Sheed and Ward, 1980. Hlm. 276-277

[2] Claus Westermann, Roots of Wisdom; The Oldest Proverbs of Israel and Other Peoples, Louisville, Kentuccky: Westminster John Knox Press, 1995, Hlm. 1

[3] Dr. Nico Syukur Dister, OFM, Teologi Sistematika 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004. Hlm 98-101.

[4] The Creator bestowed on the human being the capability of finding his own way through life and of understanding himself, of distinguishing betwen that which is good or evil, beneficial or destructive. Claus Westermann, Loc.Cit

[5] Berthold Anton Pareira O.Carm, Jalan Ke Hidup Yang Bijak; Amsal 1-

  9, Malang:Dioma. Hlm 11.

[6] Leo G Perdue, Wisdom and Creation; The Theology of Wosdom Literature, Nashville: Abingdon Press, 1994. Hlm. 35-36.

[7] Frans Magnis Suzeno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006. Hlm. 45.

[8] Ibid. Hlm. 51.

[9] Empirisme dirintis oleh Tomas Hobbes (1588-1679), John Lock (1632-1704), Gerorge Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776). Bdk. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2007. Hlm. 64

[10] Paul Budi Kleden, SVD, Membongkar Derita, Teodecia: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi, Maumere, Ledalero, 2006. Hlm. 49.

[11] Ibid. Hlm. 50-52.

[12] Frans Ceunfin & Felix Baghi (ed), Mengabdi Kebenaran, Maumere, Ledalero, 2005. Hlm. v-xix.

[13] St. Montfort membuat tiga kategori kebijaksanaan. 1). Kebijaksanaan palsu. Kebijaksanaan palsu ini terdiri dari; kebijaksanaan duniawi (CKA 80), hedonisme (CKA 81), kebijaksanaan setani yaitu cinta akan kekuasaan (CKA 82). 2) Kebijaksanaan kodrati. Kebijaksanaan kodrati terdiri dari dua hal; pertama, dalam kaitannya denga filsafat (CKA 84). Kedua, dalam kaitanya dengan alkimia (CKA 86). 3) Kebijaksanaan Adikodrati atau Kebijaksanaan Abadi. Kebijaksanaan Adikodrati adalah kebijaksanaan yang datangnya dari Allah. Kebijaksanaan Adikodrati ini tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri (CKA 9). St. Louis Grignion de Montfort, Cinta dari Sang Kebijaksanaan Abadi (terj), Seminari Pondok Kebijasanaan Malang, 2009. Selanjutnya akan digunakan singkatan CKA.

[14] Barbara Moore and Sr. Ann Nielsen, d.w, The Love of Eternal Wisdom; Volume 2 Comentary and Study Guide,  Melawi: Montfort Media, 1998.. Hlm. 14.

[15] Barbara Moore. Ibid. Hlm. 14.

[16] Thelagathoti Joseph Raja Rao,The Mystical Experience and Doctrine of St. Louis Mariae Grignion de Montfort,  Roma: Gregoroan University Press, 2005. Hlm. 230.

[17] Dalam Injil Yohanes (Yoh 1:1-18), Yesus diperkenalkan sebagai Logos. Logos dalam Injil Yohanes dan Kitab Kebijaksanaan (Keb. Salomo 9:1-2;18:15) oleh Philo dilihat sebagai term yang mempunyai pengertian yang sama dan dapat ditukarkan. Kebijaksanaan dengan demikian tidak lain adalah Logos yang menciptakan, yang telah ada sejak kekal dan yang telah berinkarnasi, dan menyelamatkan manusia. Hal ini sangat tampak dalam relasi fungsional dari keduanya; sebagai Pencipta (Yoh Yoh 1:3; Ams 8:22-36:), terang yang tidak dikalahkan oleh kejahatan (Yoh 1:5; Keb 7:10), berasal dari Tuhan (Sir 24:3; Yoh 1-2). Gagasan-gagasan ini menunjukkan kesamaan paham tentang kebijaksanaan. Akan tetapi gagasan tentang Logos dalam Yohanes lebih kaya oleh karena Logos itu menjelma menjadi manusia, dan mati bagi manusia. Kebijaksanaan atau Logos itu adalah Yesus Kristus. Dan dalam Injil Yohanes, Logos itu adalah pemenuhan dari Logos Perjanjian Lama. Watington mengatakan apa yang telah dikatakan oleh Salomo tentang kebijaksanaan dikatakan ulang oleh Yohanes. Logos dalam Kebijaksanaan Salomo sama artinya dengan Logos dalam Yohanes. Bdk. Ben Watington III, Jesus The Sage; The Pilgrimage of Wisdom, Edinburgh: T & T Clark:, 1994. Hal 379.

[18] Ketika meneliti tentang kebijaksanaan dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru yakni dari Amsal 8:22-36, Sirakh bab 24, Kebijaksanaan 7:25-8:1, Kolese 1:15-17, Ibr. 1:1-3 dan Yohanes 1:1-18, Dr. Wim Van der Weiden, MSF., menemukan adanya kesamaan fungsional antara Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru dan Allah dalam Perjanjian Lama. Kesamaan fungsional itu menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara Logos Perjanjian Lama dan Kebijaksanaan dalam Perjanjian Baru.  Dr. Wim Van der Weiden, MSF., Seni Hidup; Sastra Kebijaksanaan Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 1995. Hlm. 95-99.

[19] J. P. Prevost, “Wisdom”, dalam, Stefano de Fiores (Ed), Jesus Living In Mary: Hand Book of the Spirituality of St. Louis  Marie de Montfort, New York, NY: Montfort Publicatinons, 1994. Hlm. 1264. Selanjutnya akan disingkat JLM.

[20]Louis Grignion de Montfort, Kumpulan Surat, Bandung: Serikat Maria Montfortan, 1997. Srt. 13.

Bdk juga, St. Louis Grignion de Montfort, God Alone. God II; The Hymns of St. Louis Grignion de Montfort, By Shore, NY: Montfort Publications, 2005. Kidung 19, 102:9-10.

[21]Mengutip Yohanes dari Salib, W. Johnston mengatakan; “dalam kontemplasi, Allah mengajarkan kepada jiwa dengan tenang dan penuh rahasia, tanpa mengetahuinya bagaimana, tanpa suara dan kata-kata, dan tanpa bantuan dari kekuatan jasmani atau spiritual, dalam keheningan dan ketenangan dalam kegelapan terhadap segala hal yang bersifat indrawi dan segala benda alami.” William Johnston, The Inner Eye of Love; Mysticism and Religion, San Fransisko, Harper &Row Publisher, 1982. Hlm. 33-34.

[22] Ketika menjelaskan bagian ini, St. Montfort banyak mengutip kitab Kebijaksanaan (Keb 7:17, 21; 8:8; 10:10). Dalam CKA 58 ia mengatakan; barang siapa ingin memiliki ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan rahmat dan kodrat, ilmu yang tidak biasa-biasa saja, tetapi luar biasa, suci dan mendalam, ia harus berusaha sekuat tenaga, untuk memperoleh Sang Kebijaksanaan, sebab, tanpa Dia, manusia, betapapun ia terpelajar di mata sesama manusia, tidak berarti apa-apa di mata Allah, tidak dihargai sama sekali (Keb 3:17).

[23] William Johnston, Teologi Mistik; Ilmu Cinta, Yogyakarta: kanisius, 2001. Hlm. 51.

[24] Ibid. Hlm. 52

[25] Ibid. Hlm. 52.

[26] Ibid. Hlm. 306

[27]Ibid. Hlm. 72. Bdk jga, Dalam CKA 9 St. Montfort mengatakan, “pengenalan akan Yesus adalah yang paling tinggi dari segala ilmu karena obyek ilmu ini adalah apa yang paling mulia dan paling agung, yakni Sang Kebijaksanaan yang tidak diciptakan dan menjelma menjadi manusia”.

[28] Bdk. Mat 1:22

[29] Untuk memahami hal ini kita dapat membandingkannya dengan  apa yang dikatakan oleh Rm. Pareira. Homili yang baik harus berciri pertama, profetis, artinya ia berbicara karena ia diutus untuk memberitakan Firman. Kedua, berciri alkitabiah, artinya, seluruhnya harus dijiwai oleh Firman Allah. Ketiga, berciri liturgis, artinya homili itu harus mewartakan misteri keselamatan yang sedang diwartakan. Keempat, berciri homiletis, artinya pembicaraanya harus keluar dari hati untuk menyapa hati dan berdialog dengan umat untuk membangun suatu persekutuan. Bdk. Berthold Anton Pareira O. Carm., Homiletik: Bimbingan Berkotbah, Malang: Dioma, 2010. Hlm. 28-34.

[30] Yohanes dari Salib berkomentar: “Pengetahuan ini amat mengasyikan karena pengetahuan ini adalah pengetahuan yang diperoleh melalui cinta. Cinta adalah guru pengetahuan ini dan cinta inilah yang menyebabkan pengetahuan ini sepenuhnya menyenangkan”. Bdk. Wliiam Johnston. Op.Cit. Hlm. 4-5.

[31] Gambaran yang sama dikatakan oleh Teresia Avila; “Karena cinta-Mu lebih nikmat daripada anggur; keharuman minyak-Mu bagaikan jiwa yang tercurah. (Kid. 1:2-3). Mengenai ayat-ayat ini ia mengatakan; Tetapi apabila Pengantin Pria yang yang paling kaya ini ingin lebih memperkaya dan memberi karunia kepada jiwa, Dia mengubahnya ke dalam diri-Nya sampai ke tingkat sedemikian hingga membuat orang pingsan karena terlalu senang dan bahagia, nampaknya jiwa dibiarkan ditangguhkan di tangan “Yang Ilahi”, bersandar pada bahu suci dan dada ilahi. Dia tidak tahu bagaimana lebih lagi dari pada bersukacita, ditopang oleh susu ilahi dengan mana Pengantinnya memberinya makan dan membuatnya lebih baik sehingga dia dapat berkenan di hatiNya dan memperoleh lebih banyak pahala setiap hari. Ketika jiwa itu terbangun dari tidur dan kemabukan surgawi…Saya rasa jiwa itu dapat berkata; cinta-Mu lebih nikmat dari Anggur”. St. Teresia dari Avila, Meditasi-Meditasi Kidung Agung, Bajawa: Biara Pertapaan Karmel, 2000. Hlm. 71-72

[32]Katekismus Gereja Katolik, Ende: Nusa Indah, 2007. No. 1803.

[33]Ibid. No. 1803.

[34]Saya mengenal pater Grignion selama beberapa tahun. Allah telah memperlengkapi dirinya dengan banyak berkat dan dia telah menanggapinya dengan penuh iman. Ia telah menunjukkan kepada saya sebagaimana kepada orang lain cintanya yang tiada henti kepada Allah, praktik doanya. Ia memiliki semacam ide kesempurnaan yang tinggi, semangat yang tinggi dan sedikit pengalaman. Bdk. J. Morinay, “Virtues”, dalam JLM, Op.Cit.  Hlm. 1232.

35 Bdk. J. Morinay, “Virtues”, dalam JLM, Op.Cit. Hlm. 1232-1237.

[36] Jordan Aumann O. P, Spiritual Theology, Great Britain: Bidles, 2006. Hlm. 256.

[37]St. Montfort menggunakan kata kerinduan (desire) dan merindukan (to desire) dalam buku CKA sebanyak 170 kali. Bdk. Thelagathoti Joseph Raja Rao, Op.Cit. Hlm. 241.

[38] Pierre Humblet, Mystical Prosess of Transformation in Grignion De Montfort’s The Love Eternal Wisdom, The Netherlands, Titus Brandsma Institute Nijmegen, 1993. Hlm. 42.

[39]Ibid. Hlm. 45.

[40]Mengutip Yohanes dari Salib, William Jhonston mengatakan; “Kehidupan mistik adalah kisah kelahiran cinta beserta pertumbuhannya. Dari latu kecil, latu itu menjadi apa yang disebut oleh st. Yohanes dari Salib ‘kobaran cinta yang hidup’. Tetapi apakah cinta itu?St. Yohanes dari Salib mengatakan bahwa kobaran cinta yang menyala adalah Roh Kudus. Cinta tidak dapat diperoleh berdasarkan usaha manusia dan bukan merupakan akibat praktek-praktek tapabrata atau teknik-teknik piawi. Cinta itu tidak dapat berdasarkan jasa. Allah memberikannya kepada orang yang Ia kehendaki dan kapan saja saatnya sesuai dengan kehendakNya”. Bdk. William Jhonston, Op.Cit. Hlm. 71-72.

[41]Dalam tradisi skolastik yang berpuncak pada St. Tomas Aquinas, iman dan akal budi tidak dilihat sebagai hal yang bertentangan satu dengan yang lainnya. Keduanya justru saling membantu. Ungkapan ancilla theologiae (filsafat sebagai pembantu wanita teologi) dan praembulum fidei (filsafat sebagai pendahulu, pembuka, pengantar iman) adalah dua istilah yang sangat penting untuk melukiskann relasi antara iman dan akal budi. Jauh sebelum St. Tomas Aquinas, St. Agustinus sudah dengan amat tepat merumuskan peran budi yang membantu memahami iman. Inquietum est cor meum donec requiescat in te (gelisah hatiku sebelum beristirahat dalam Engkau). Pelukisan ini adalah pergumulan Agustinus dalam pencarian pengertian tentang imannya. Bdk. Yohanes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (Ter. R. Hardawiryana), Jakarta: KWI, 2009. No. 1, 43-44.

[41]Teressa de Jesus, Puri Batin, Lembang: Biara Karmel, 1992. Hlm. 8.

[41]Ibid. Hlm. 2

[44] Berthold Anton Pareira, Jalan Ke Hidup Yang Bijak; Amsal 1-9, Op.Cit. Hlm. 75.

[45]Jordan Aumann memberikan beberapa kriteria kualitas kerinduan, yang menentukan apakah kerinduan itu terarah pada kekudusan. 1) Kerinduan itu sifatnya supranatural, harus mengalir dari rahmat Allah, dan terarah untuk semakin memuliakan Allah. 2) Kerinduan itu harus membawa kita untuk semakin menjadi rendah hati. 3) Kerinduan itu harus disertai keyakinan yang kuat bahwa Allahlah yang mengerjakan semuanya, tanpaNya kita tidak dapat melakukan apa-apa. 4) Kerinduan itu merupakan sebuah kerinduan yang tertinggi. Semua kerinduaan yang lain ada di bawahnya. 5) Kerinduan itu bukan sesuatu yang sekali jadi, tetapi sesuatu yang konstan, terus-menerus. 6) Kerinduan itu harus merupakan sesuatu yang praktis dan berhasil guna. Bdk. Jordan Aumann, Op.Cit. Hlm. 256-257.

[46] St. Teresia de Jesus, Puri Batin, Op.Cit. Hlm. 3

[47] H. m. Guindon, “Prayer”, dalam, JLM, Op.Cit. Hlm. 970.

[48] Red Deville, “The French Scoohl Spirituality”, dalam JLM, Op.Cit. Hlm. 438

[49] Charles J. Healey, SJ., Christian Spirituality; An Introduction to the Heritage, New York: Alba House, 2008. Hlm. 289.

[50] Barbara Moore, Op.Cit. Hlm. 125.

[51]Bdk. Yak 1:6-7

[52] Katekismus Gereja Katolik, Op.Cit. No. 2738.

[53] Brian Kolodiejchehuk, M. C. Ibu Teresa; Datang, dan Jadilah Cahaya-Ku, Catatan-Catatan Pribadi Orang Suci dari Kalkuta, Jakarta: Gramedia, 2009. Hlm. 212-213.

[54] Op.Cit. Hlm. 3

[55]St. Teresia de Jesus, Puri Batin, Op.Cit. Hlm. 14-15.

[56] Bdk. Luk 11:5-8.

[57] Doa Salomo yang dikutip St. Montfort berisi permohonan kepada Allah nenek moyang Israel yang telah mengangkat manusia untuk menguasai dunia semesta. Tetapi ia menyadari bahwa tugas itu tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa kebijaksanaan yang datangnya dari Allah (ayat 1-3). Untuk itu Salomo memohonkan kebijaksanaan dari Alllah (ayat 4-6). Secara khusus ia memohon kebijaksanaan sebagai raja agar ia bisa membangun Bait Allah di Yerusalem (ayat 7-9), agar memerintah dengan adil ( 11-12). Dalam ayat 13-18 penulis kitab ini tidak hanya berbicara tentang Raja tetapi tentang semua manusia. Keterbatasan manusia sebagai mahluk yang fana, hina membuat dirinya tidak dapat mengenal rencana Allah. Untuk dapat mengenal rencana dan kehendak Allah ia butuh Roh Kudus yang dari Allah. Bdk. Wim van der Weiden, MSF. Op.Cit. Hlm. 74-77.

[57] T. Myladil, “Mortification”, dalam, JLM, Op.Cit. Hlm. 842-843

[58]Berkaitan dengan teologi Moral, Bernard Haring melihat asketisme merupakan bagian tak terpisah dari moralitas Kristiani. Asketisme berkaitan dengan perealisasian diri tetapi tidak dalam pengertian merusak diri (self-destructive), melainkan untuk semakin memperdalam iman. Asketisme bertujuan untuk melayani hidup. Bdk. Bernard Haring C. S. s. R, Road To Relevance; Present and Fucture Trendss in Catholic Moral Theology, New York: Alba House, 1969. Hlm. 105-119.

[59]Pierre Humblet mengutip St. Teresa dari Avila untuk menjelaskan hal ini. St. Montfort tampaknya mempunyai pendapat yang sama dalam hal ini. St. Teresia Avila mengatakan; “Sekali kita melepaskan diri kita dari dunia dan dari kaum keluarga…maka akan ada banyak hal yang akan merampas kebebasan roh yang dicari jiwa untuk dapat membubung kepada pencipta mereka tanpa dibebani beban dunia yang kelam. Sehubungan dengan hal-hal yang kecil kita harus berhati-hati. Begitu kita mulai menyukainya, kita harus memalingkan pikiran kita darinya dan mengarahkannya pada Allah. Sri Baginda akan membantu kita untuk melakukannya. Dia telah menganugerahkan anugerah yang besar. Bdk. Pierre Humblet, Op.Cit. Hlm. 51. Bandingkan juga, St. Teresia Avila, Jalan Kesempurnaan, Cipanas-Cianjur: Pertapaan Shanti Buana, 2004. Hlm. 46.

[60]St. Montfort mengatakan; “Tubuh kita begitu busuk sehingga Roh Kudus menamakannya: tubuh dosa, dikandung dalam dosa, dibesarkan dalam dosa, dan mampu melakukan macam-macam. Tubuh kita menderita berbagai macam penyakit yang tak terhitung jumlahnya, yang tiap hari membusuk dan tak mampu melakukan apapun kecuali kudis, kutu dan kebusukan. Jiwa kita yang beseru dengan badan kita telah begitu bersifat kedagingan, sehingga dinamakan daging. Segala daging telah merusakan jalan hidupnya di bumi (Kej 6:22). Inilah bagian kita: Roh kita berisi tidak lain dari pada kesombongan dan kebutaan, hati kita hanya kebandelan, jiwa kita hanya kelemahan dan ketidaktekunan, badan kita hanya mengenal hawa nafsu birahi yang bergejolak dan berbagai penyakit. …dari diri sendiri kita hanya memiliki ketiadaan dan dosa. Kita tidak berhak mendapat apapun selain murka Allah dan neraka yang kekal” Bdk.BS. No. 79

[61]St. Louis Marie Grignion de Montfort, Rahasia Maria, Bandung: Serikat Maria Montfortan, 1993. No 36. Selanjutnya akan disingkat RM

[62] Pierre Humblet, Op.Cit. Hlm. 48

[63] William Johhnston, Teologi Mistik; Ilmu Cinta. Op.Cit. Hlm. 205

[64]God alone II; The Hymnes St. Louis Marie de Montfort, Op.Cit. No. 8:5-6.

[65]Studi kritis atas buku Bakti Sejati menunjukkan bahwa nomor 14-36 dari buku ini berisi landasan teologis ajaran St. Montfort tentang devosi kepada Maria, khususnya pembaktian diri kepada Yesus Melalui Maria. Konteks pembicaraan St. Montfort di bagian ini adalah peran Maria dalam karya keselamatan. Bdk. Battista Cortinovis, Montfort Pilgrim In The Church, Roma: Misionari Monfortana, 1997. Hlm. 120.

[66] Dalam BS 16 St. Montfot mengatakan; Allah Bapa memberikan Putra tunggalNya kepada dunia tidak lain daripada melalui Maria…Allah Putra telah menjadi manusia demi keselamatan kita tetapi di dalam Maria dan oleh Maria. Allah Roh Kudus telah membentuk Yesus Kristus di dalam Maria, setelah lebih dahulu meminta persetujuan wanita ini melalui salah satu malaikat Agung”

[66] Di bagian lain ia mengatakan; Allah Roh Kudus telah membentuk Yesus Kristus di dalam Maria, setelah lebih dahulu meminta persetujuan wanita ini melalui salah satu malaikat agung. Bdk. BS No. 16

[67] Bdk. BS No. 16-17

[68]Fungsi penyelamatan Maria menentukan hubungannya dengan Gereja. Maria di pandang sebagai typos (citra asli) Gereja, dan dengan demikian Gereja dilihat sebagai antitypos Maria. Tipologi ini berlangsung dalam kesuburan alamiah dan keutuhan keperawanan Maria. Sebagai ibu, Gereja melahirkan Anak Allah di dalam manusia masing-masing karena pewartaan dan Sakramen Baptis, Gereja menyampaikan keselamatan Kristus kepada umat manusia. Gereja bersifat perawan karena secara setia menjaga keutuhan iman, artinya dengan cinta ia menerimaa Allah yang memberikan diriNya dalam Kristus. bdk. Dr, Nico Syukur Disester, OFM., Teologi Sistematika 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004. Hlm. 491.

[69] Pierre Humblet, Op.Cit. Hlm. 53.

[70] Pierre Humblet, Op.Cit. Hlm. 53-54.

[71] Hal yang sama dikatakan oleh St. Montfort dalam buku Rahasia Maria. Ia mengatakan; kita harus menemukan jalan yang mudah untuk memperoleh rahmat Allah yang diperlukan untuk menjadi suci. Jalan itulah yang hendak saya ajarkan kepada kamu. Sungguh, jika kamu ingin menemukan rahmat ini dari Allah, maka lebih dahulu kamu harus menemukanMaria. Sebab; 1). Hanya Maria yang memperoleh rahmat di hadapan Allah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi tiap-tiap manusia. 2). Maria diberi nama Bunda Rahmat (Mater gratiae), karena dialah yang melahirkan dan menghidupkan Pencipta segala rahmat. 3). Allah Bapa sumber setiap anugerah yang sempurna dan sumber setiap rahmat, telah menyerahkan PutraNya kepada Maria dan demikianpun segala rahmat. Sehingga, (seperti dikatakan oleh St. Bernardus) kehendak Allah diberikan kepadanya dalam dan denganYesus. 4). Allah telah memilih dia sebagai bendaharawati, pengurus dan penyalur segala rahmat sehingga segala rahmat dan anugerah-Nya melewati tanganNya. 5). Seperti dalam tata kodrati setiap anak memiliki seorang bapa dan ibu, demikian juga dalam tata rahmat seorang anak sejati dari Gereja mempunyai Allah sebagai Bapak dan Maria sebagai Ibu. 6). Oleh karena Maria telah membentuk kepala kaum pilihan, Yesus Kristus, ia juga harus membentuk para anggota kepala yaitu kaum Kristen sejati. 7). Roh kudus telah mengambil Maria sebagai mempelainya…8). Maria telah menerima dari Allah kuasa istimewa atas umat manusia untuk memelihara dan menumbuhkan mereka menjadi citra Allah. Bdk. St. Louis Grignion de Montfort, Rahasia Maria, Op.Cit. No. 5-14

[72]Batista Cortinovis melihat teologi pembaptisan St. Montfort pada tempat pertama berdasarkan Surat Paulus kepada jemaat di Roma: kita telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematianNya, dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleb baptisaan, dengan demikian, kita juga hidup dalam hidup yang baru. Battista Cortinovis, Op.Cit. Hlm. 28.

[73]Bakti ini dengan tepat sekali dapat disebut sebagai pembaharuan sempurna ikrar atau janji-janji pembaptisan suci. Karena sebelum pembaptisannya, setiap orang Kristiani adalah hamba setan: waktu itu ia sungguh miliknya. Namun, pada saat pembaptisan, secara pribadi atau melalui wali baptisnya secara meriah ia menolak setan, perbuatan dan kesian-siaanya; ia telah memilih Yesus Kristus sebagai Gurunya dan Penguasanya yang mutlak untuk bergantung padaNya selaku hamba kasih. Bdk. BS 126

[74] E. Martasudjita, Pr., Sakramen-Sakramen Gereja; Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius, 2003. Hlm. 228-232.

[75] St. Louis Grignion de Montfort, Rahasia Maria, No. 43

[76] BS. No. 159

[77] Patric Gaffney, “Consecration”, dalam JLM,  Op.Cit. Hlm. 230.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme