MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Pertautan antara Spiritualitas Santo Montfort dan Legio Maria

 

 

 

PERTAUTAN ANTARA SPIRITUALITAS SANTO MONTFORT DAN LEGIO MARIA

 

(P. Fidelis Wotan, SMM)

 

 

PENGANTAR

Legio Maria sebagai sebuah organisasi rohani yang didirikan oleh Frank Duff merupakan sebuah perkumpulan rohani yang hidup dan berkembang di seluruh dunia. Sejak didirikan pertama kali (1921), organisasi ini telah menyebar ke suluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Hidup dan karya kerasulan organisasi ini patut diapresiasi bukan pertama-tama karena pendirinya adalah seorang yang hebat (meski harus diacungkan jempol juga kepadanya karena telah meletakkan dasar yang kokoh bagi perkembangan selanjutnya), melainkan karena semangat hidup rohani dari para legioner di seluruh dunialah yang membuat mereka selalu menjadi laskar atau prajuritnya Bunda Maria yang handal dalam mewartakan Kerajaan Allah. Legio Maria menjadi kuat, hebat, terkenal juga karena sistem kerjanya sangat teratur dan juga terlebih lagi karena semangat hidup marial yang ada di dalam organisasi ini. Semangat ini menjadi barometer perjalanan hidup legioners di dalam menjalankan karya kerasulan mereka di tengah-tengah dunia.

Berkenaan dengan kehadiran Legio Maria dengan segala sistem dan cara kerja serta karya kerasulannya di tengah-tengah dunia, patut diajukan pertanyaan apa dasar spiritualitas dan kharismanya. Apakah ada pengaruh lain yang kemudian membuat organisasi ini menjadi begitu hidup dan terus berkembang dalam karya kerasulannya di dalam Gereja. Tentang ini, adalah tidak berlebihan bila dilakukan suatu studi khusus untuk mendalaminya. Berkaitan dengan ini, saya – setelah melihat dan mempelajari buku pegangan Legio Maria dan sumber-sumber lainnya –  muncul sebuah dorongan untuk menghubungkannya dengan Spiritualitas Santo Montfort, yang bukan secara kebetulan hadir dan ikut memengaruhi dari dalam esensi hidup dari organisasi rohani ini. Oleh karena kehadirannya dikatakan begitu mendasar dalam diri Legio Maria, maka tulisan sederhana ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menelaah, mendalami apa yang disebut sebagai ”Pertautan antara Spiritualitas Santo Montfort dan Legio Maria”[1].

Harapannya, kiranya melalui refleksi teologis ini, para legioner dapat dibantu untuk mengenal gerak jiwa atau semangat hidup mereka dan bagaimana mampu menghadirkan diri mereka sebagai agen marial di tengah-tengah dunia. Untuk itu, baiklah dibuat suatu studi khusus tentang relasi, pertalian di antara Spiritualitas St. Montfort dengan Spiritualitas Legio Maria yang saling terkait dan mengandaikan.

 

I. SANTO MONTFORT DAN JIWA LEGIO MARIA

I.1. Santo Montfort Lebih Dari Sekedar Seorang Pelindung  Legio Maria

Mungkinkah terlalu berlebihan kalau Montfort dijadikan sebagai seorang kudus yang punya peranan besar dalam perkembangan Legio Maria. Mengapa dikatakan demikian? Oleh karena sepintas lalu, nama Montfort terkesan tidak lebih dari sekedar seorang pelindung dari Legio Maria. Akan tetapi setelah menelusuri lebih jauh, ternyata kesan itu sungguh sangat jauh dari apa yang ada dalam pikiranku. Berkenaan dengan kesan sepintas ini, maka dalam seminar ini, baiklah saya mencoba dari segala keterbatasan kemampuanku untuk sejenak bersama para pembaca, secara khusus para legioner menyoroti hubungan antara Legio Maria dan Santo Louis-Marie de Montfort. Sebelum kita bersama-sama melacak hubungan tersebut, secara pribadi saya ingin menceritakan sejenak pengalaman perjumpaanku dengan Legio Maria.

Selama berada di Bandung, periode 2001-2003[2] saya pernah bergabung dalam salah satu Presidium Legio Maria yang bernama ’Sumber Sukacita’, sebuah presidium mahasiswa Universita Parahyangan, Bandung. Saya tidak masuk dalam anggota tetap, yang aktif ikut rapat mingguan dan lain sebagainya, hanya saja masuk dalam status sebagai adjutorian-auxilier, anggota tidak aktif yang tidak ikut rapat mingguan dan tidak melakukan tugas yang dibagikan dalam rapat.[3] Sesekali saya diajak oleh Pembimbing Rohani (PR) untuk bersama dengannya ikut rapat. Hal yang saya ingat ialah ketika mendaraskan (mendoakan) Doa Tessera, nama Montfort disebut sebagai salah satu pelindung.

Apa yang menjadi ingatanku ini, ternyata kemudian menimbulkan kesan singkat bahwa Montfort itu adalah seorang pelindung Legio Maria. Saya sendiri tidak tahu kalau di balik sebutan nama Montfort tersebut, ternyata kehadirannya di dalam Legio Maria lebih besar daripada sekedar sebutan tersebut. Artinya, seorang yang kurang mengenal dan memahami sistem Legio Maria mungkin akan mengatakan bahwa Santo Montfort hanyalah salah satu santo pelindung Legio Maria seperti Santo Yosef atau Santo Mikhael, dll. Padahal dengan sangat jelas sang Pendiri Legio menulis dalam Buku Pegangan (Selanjutnya disebut BP) Legio demikian: ” … dengan aman dipastikan bahwa tak ada orang kudus yang memegang peranan lebih besar dalam perkembangan Legio selain Santo Louis-Marie de Montfort.”[4] Nama Montfort tidak hanya disebut satu kali dalam buku pegangan. Dalam BP terjemahan Indonesia edisi lama (1993), kita dapat menemukan 20 referensi tentang Montfort.[5]

Dalam halaman-halaman itu, kehadiran Montfort sesungguhnya bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan sungguh sudah dipikirkan dengan matang oleh Duff sebagai seorang yang punya peran dan pengaruh yang kuat dalam jiwa atau semangat Legio Maria yang didirikannya.[6] Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa kehadiran Montfort dalam Legio Maria adalah sebuah faktor yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan Legio di kemudian hari.[7] Jikalau, kita memerhatikan dengan saksama, kutipan-kutipan yang dipakai di dalam beberapa halaman dari BP tersebut, tampaknya Duff melihat bahwa ungkapan-ungkapan atau pun kata-kata Montfort begitu memengaruhinya, yang kemudian ikut pula semacam mendesain jiwa kerasulan yang didirikannya. Dalam hal ini, jiwa Maria yang ditonjolkan Montfort dalam beberapa tulisannya, salah satunya misalnya Bakti Sejati kepada Maria memenuhi beberapa halaman dari buku pegangan tersebut.[8]

 

I.2. Spiritualitas Santo Monfort Meresapi Hati Dan Pikiran Frank Duff

I.2.1 Awal Mula Perjumpaan Frank Duff Dengan Santo Montfort

Bagaimana persisnya perjumpaan Duff dengan Montfort sebetulnya agak sulit dipastikan dan memang secara fisikal, Duff tidak bertemu atau berjumpa secara nyata dengan Montfort. Secara fisik memang betul demikian, Montfort tidak pernah dijumpai secara langsung oleh Duff. Meskipun demikian, sesungguhnya perjumpaan mereka itu hanya bisa dikatakan terjadi secara tidak langsung (secara rohaniah-spiritual). Lalu bagaimana persisnya hubungan Duff dengan Montfort? Ketika Pendiri Legio ini lahir (1889), Montfort sudah lama meninggalkan dunia. Itu berarti ketika Duff lahir, Montfort sudah pada tahun yang ke-173 mendahului Duff masuk dalam kediaman Abadi di Surga. Dengan kata lain, ketika Duff lahir, Montfort sudah meninggal, dia sendiri sudah hidup hampir dua abad sebelum kelahiran Duff. Montfort lahir pada 31 Januari 1716 (akhir abad ke-17 awal abad ke-18), sedangkan Duff lahir 7 Juni 1889, setelah Revolusi Industri, akhir abad ke-19. Dengan demikian di antara keduanya terbentang jarak yang sangat jauh. Sesungguhnya keduanya berasal dari generasi yang berbeda. Meskipun demikian, Frank Duff sebagai seorang generasi belakangan memiliki relasi khusus dengan orang kudus tersebut, lalu bagaimana persisnya perjumpaan itu?

Perjumpaannya itu bisa dikatakan terjadi secara kebetulan, persis setelah hampir 47 tahun sebelum Duff lahir, yakni 1842, di mana kala itu tulisan mahakarya Montfort, Bakti Sejati kepada Maria ditemukan. Karangan Montfort ini kemudian dibaca pula oleh Duff dan pada awalnya Duff sendiri tidak tahu kalau penulisnya ialah Montfort. Pada waktu itu, pada tahun 1918[9] (127 tahun setelah Montfort meninggal), tatkala Duff bekerja sebagai anggota S.S.V (Serikat Santo Vinsensius), dia menemukan sebuah buku karangan Montfort. Kejadian itu muncul tatkala Duff mendengar dari luar pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan oleh teman-temannya di dalam sebuah ruangan. Ketika dia masuk, dia melihat seorang yang bernama Vincent Kelly duduk di tengah-tengah pertemuan itu sembari memegang sebuah kopian tentang tulisan ”True Devotion” (Bakti Sejati kepada Maria) karya Montfort. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Vincent Kelly tentang buku tersebut, Duff mendapatkan kesan bagus tentang isi buku itu. Pada suatu ketika, ia pergi ke sebuah toko buku dan melihat kembali buku itu terjual di sana. Ia pun langsung membelinya dan membacanya. Apa yang terjadi pada waktu itu, tampaknya Duff kurang begitu berminat oleh karena ia merasakan secara langsung bahwa buku itu terlalu banyak berbicara tentang Bunda Maria. Dari sebab itu, ia meletakkan buku itu jauh-jauh dari pandangannya dengan maksud agar ia tidak membacanya lagi.

Beberapa waktu kemudian, Penyelenggaran Ilahi pun datang menghampirinya. Pada waktu itu, adalah seorang yang bernama Tom Fallon, rekan kerja Duff melontarkan sebuah pernyataan kepadanya: ”Frank, have you read de Montfort’s book on True Devotion to the Blessed Virgin?”Duff menjawab katanya: ”Yes, I have read it.””And what did you think of it?”Duff menjawabnya lagi: ”Well, it’s beautifully written but I’d regard it as wildly extravagant.” Mendengar jawaban itu, Fallon segera menanggapinya: ”Oh, not at all. You just can’t have read it properly. Go back and read it again; you must get to the bottom of that book.”[10]

Dari percakapan di atas, bisa dikatakan bahwa Fallon memaksa Duff untuk terus membacanya sampai selesai. Setelah Duff mengikuti keinginan temannya, dia pun membacaya sampai selesai. Lalu apa yang terjadi? Duff merasa terkagum-kagum dan menyebutnya sebagai sebuah fenomena yang luar biasa mengagumkan. Sebelumnya dia menganggap buku itu terlalu berlebihan dalam memberi penghormatan kepada Maria. Akan tetapi, setelah perlahan-lahan dan penuh perhatian mengunyah isi buku itu, Duff sampai pada kesimpulan bahwa anggapannya yang dulu itu tidak betul.[11] Tulisan Montfort itu, kemudian menjadi begitu meyakinkan dan menarik perhatiannya akan cinta dan devosinya kepada Bunda Maria.[12]Selanjutnya, Duff mendalaminya terus-menerus sembari belajar sendiri teologi khusus yang berbicara tentang Bunda Maria sehingga apa yang menjadi kesan dan pemahamannya tentang tulisan Montfort juga semakin diperkaya oleh karena dia sendiri ingin mendalami peran dan posisi Maria di dalam Sejarah Keselamatan dalam buku-buku teologi. Jadi ringkasnya, selain mendalami pemahamannya tentang Maria sebagaimana yang diajarkan Montfort, Duff juga ingin mengetahui secara persis posisi Bunda Maria secara benar dalam Ajaran Gereja Katolik. Itulah sebabnya, ketika dia ditawarkan oleh seorang Imam Cistersian, Pastor Brendan untuk membaca buku di perpustakaan mereka, di Mount Melleray Abbey,[13] Duff hanya menjawab bahwa ia mau membaca buku yang menjelaskan secara baik dan benar posisi Maria (di dalam ajaran Gereja Katolik).[14] Semua hal ini dianggapnya begitu penting dan secara luar biasa kelak di kemudian hari ikut memengaruhi hati dan pikirannya untuk mendirikan Legio Maria.

Pada saat mendirikan Legio Maria, 7 September 1921, bersama beberapa wanita, Pater Michael Toher dan Uskup Agung Dublin, Duff berusia 32 tahun. Pada saat itu, buku karya Montfort, Bakti Sejati kepada Maria sudah dikenal orang selama 79 tahun. Duff sendiri juga sudah mengenal buku itu. Sebetulnya kalau mau dilihat kembali ke belakang, sudah sejak 1917/1918 Duff mulai mengenal uraian Montfort tentang Bakti Sejati kepada Maria. Sejak saat itulah, Montfort secara implisit (spiritual-rohani) menginspirasi Duff. Buku itu malahan dijadikannya sebagai bahan-bahan berharga dalam pertemuan S.S.V di Markas S.S.V, Myra House.[15]

Pada tahun 1921, Kerabat Santo Montfort (atau dikenal dengan nama KSM ) sudah berusia 22 tahun dan tentu sudah menyebar ke seluruh dunia. Duff sendiri menganjurkan agar para legioner juga bisa ”memperdalam” ”devosi kepada Perawan yang Terberkati” atau ”Pengabdian total kepada Maria” dengan mau bergabung menjadi anggota KSM.[16] Bagi Duff ini penting, karena dengan menjadi anggota KSM, seorang legioner akan menimba semangat Legio dari sumber utamanya. Lagipula, di dalam KSM-lah ajaran tentang ”Pembaktian Diri” diperkenalkan dan dipromosikan untuk kemudian menjadi sebuah seni hidup, life-style seorang Kristiani. Ini jugalah yang kemudian, dalam perjalanan batin para legioner, apa yang menjadi ajakan Duff supaya mereka juga terus-menerus mempersembahkan seluruh dirinya dalam bimbingan Bunda Maria (Acies) semakin menemukan kesesuaiannya dengan semangat Montfort.[17]

Dalam perjalanan selanjutnya, apabila Duff sudah tertarik dengan tulisan Montfort tentang Bakti Sejati itu, maka tidak tertutup kemungkinan, tulisan-tulisan Montfort lainnya pun bisa saja (’mungkin’) dibaca dan dipelajarinya. Mengapa demikian, karena dari Buku Pegangan Legio Maria, di sana-sini, secara sporadis, kita akan menemukan sejumlah kesamaan, keselarasan pikiran atau ide-gagasan dan isi dari pikiran Montfort dan refleksi Duff.[18]

 

I.2.2. Frank Duff Diresapi Oleh Semangat Santo Montfort

Buku Pegangan Legio Maria yang ditulis oleh  Duff bisa dikatakan merupakan gema langsung atau pengaruh yang cukup signifikan dari Montfort. Berkenaan dengan hal ini, maka penting sekali kita menelusuri lebih jauh seberapa besar dan dalamnya pengaruh tersebut.  Untuk itu, perlu dipetakan secara global sejauh mana teks-teks atau tulisan-tulisan Montfort tampak dalam buku pegangan tersebut.

Dalam BP Duff berkata bahwa BP Legio penuh dengan semangat jiwa Montfort. Ia menulis: ”Buku pegangan ini penuh dengan semangat jiwanya. Doa-doa Legio menggemakan kembali kata-katanya.”[19] Dari kata-kata pendiri Legio ini, bisa disimpulkan secara sederhana bahwa memang pengaruh atau semangat jiwa Montfort ada dalam hati dan pikirannya. Itu artinya bahwa Duff benar-benar menjadikan Montfort sebagai referensi langsung (hidup) dalam mendesain (menganyam) jiwa perkumpulan atau organisasi yang didirikannya.[20] Sebanyak 32 kali, nama Montfort disebut secara eksplisit di dalam BP. Jumlah ini bisa dikatakan cukup proporsional untuk sebuah buku BP  yang memuat 390 hlm., dalam edisi Bahasa Indonesia, edisi 1999. Kalau kita perhatikan dengan saksama dan teliti, maka kita bisa menyimpulkan bahwa nama Montfort disebut secara menyebar dari halaman depan sampai akhir. Dengan demikian, kita juga bisa berpandangan bahwa tidak ada tokoh lain yang namanya sering disebut, dikatakan sebanyak itu, selain nama Montfort. Untuk menunjukkan kenyataan ini, maka baiklah kita menunjukkan seberapa besar teks-teks Montfort ditemukan dalam BP yang menunjukkan pengaruh langsung dari Montfort bagi  Duff.[21]

Pertama, kesejajaran yang bersifat langsung dalam tema uraian. Duff dipengaruhi oleh beberapa tema yang tidak jauh berbeda dengan apa yang digagas oleh Montfort. Kalau kita melihat bab 32 dalam BP,[22] Duff memberi judul ”Keberatan-keberatan yang Mungkin Diantisipasi”. Berkaitan dengan judul tersebut, Arnold Suhardi memelajari beberapa hal yang cukup penting di sini, yaitu bahwa Duff mengemukakan aneka argumentasi atau alasan yang mungkin akan disampaikan orang yang menyatakan keberatan dengan kehadiran Legio Maria di paroki atau menyatakan ketidaksetujuannya untuk membentuk Praesidium Legio Maria. Dikatakan demikian, karena yang jelas bahwa Duff sudah mengenal dengan baik tulisan Montfort, Bakti Sejati kepada Maria. Dengan demikian pertanyaan kita ialah darimanakah anggapan Duff di atas bisa dipertahankan? Tampaknya bisa dilihat bahwa inspirasi untuk menulis tema ini diambil dari Montfort yang dalam BS 131-133 yang persis berbicara hal yang kurang lebih sama yakni ”Keberatan-keberatan yang Mungkin Dikemukakan,”[23] di mana di situ disampaikan alasan-alasan yang biasa orang ungkapkan untuk ”menolak bakti yang sejati kepada Maria”.

Kedua, pada bab 39.1 (BP 300-309) dijumpai sebuah penjelasan teologis yang bersentuhan langsung dengan Montfort ketika Duff memaparkan secara rinci sebuah argumentasi yang kuat untuk menantang mereka yang mengalami bahwa Bunda Maria ditinggalkan oleh mereka yang kurang menghargainya. Beliau mengatakan dengan lantang bahwa mereka yang bersikap demikian, sesungguhnya ”mengajarkan agama Kristen tanpa Kristus karena mengabaikan peranan Maria dalam penyelamatan umat manusia. Karena Allah sendiri telah memersiapkan bahwa tidak ada pertanda atau kedatangan atau manifestasi dari Yesus tanpa Maria.”[24] Duff kemudian menyampaikan sebelas (11) argumentasi untuk memerjelas dan membuktikan kebenaran pernyataannya. Menurut studi Arnold Suhardi, dikatakan bahwa argumentasi-argumentasi ini sangat senada (berada dalam jalur yang sama) dengan BS bab I dan II,[25] yang menguraikan ”Dasar-dasar Devosi kepada Maria” di mana Montfort menguraikan tempat khusus Maria dalam Rencana Keselamatan Allah dan dalam Kehidupan Gereja dan beberapa Kebenaran Dasar Bakti Sejati kepada Maria. Dalam BS Montfort berkata: ”Ah! Seandainya orang tahu ….”: bahwa kalau menyebarluaskan bakti yang kokoh kepada Perawan tersuci, maka kita melakukannya hanya supaya bakti kepada Yesus disebarluaskan dengan lebih sempurna.”[26]

Ketiga, BP 51-54 berbicara tentang ”Ibadat Ekaristi dalam Persatuan dengan Maria” dan ”Ekaristi Harta Kekayaan kita.” Bagian ini, menurut Arnold, itu pun bisa dipastikan diinspirasikan oleh Montfort dari BS 266-273 yang berbicara tentang cara untuk memberi bentuk konkret kepada bakti ini dalam Komuni Suci. Dalam bagian ini, Montfort menganjurkan kita supaya meminta kepada Bunda Maria agar ”meminjamkan hatinya kepadamu agar menerima Putranya di dalammu dengan sikap hatinya sendiri.”[27]

Keempat, doa-doa Legio sebagai gema lanjutan dari Kata-kata Montfort.[28] Kalau kita mau memerhatikan dengan saksama, tidak bisa dipungkiri bahwa Duff sendiri berkata demikian: ”doa-doa Legio menggemakan kembali kata-kata Montfort.”[29] Ini berarti Duff sendiri terinspirasi oleh doa-doa Montfort. Doa-doa mana sajakah yang menggemakan kembali kata-kata Montfort. Ada beberapa gradasi (tingkatan) yang bisa dipaparkan:

Pertama, doa umum gerejawi berkaitan dengan Spiritualitas Legio Maria, tapi samasekali tidak ada hubungan dengan Spiritualitas Montfort. Meskipun demikian, hal itu menggemakan dengan sangat baik ”spiritualitas ketergantungan dengan Bunda Maria” yakni Salve Regina, Sub Tuum Presidium, seruan kepada Hati Kudus Yesus, Hati tak Bernoda Bunda Maria dan para Kudus Pelindung Legio.

Kedua, doa umum tapi landasan teologisnya diinspirasikan dalam kerangka Spiritualitas Pembaktian Diri. Doa-doa yang dimaksud misalnya, ”seruan dan doa kepada Roh Kudus”. Bagi Montfort, doa ini dirasakan penting sekali untuk mengerti ’Rahasia Maria.’ Tempatnya ialah pada bagian awal buku Montfort (Rahasia Maria) dan pada awal seluruh doa Legio. Selain itu, ’Doa Rosario’ menjadi salah satu doa utama Montfort yang juga didaraskan dalam doa Legio. Seluruh karya misi umat yang dijalankan Montfort bertujuan untuk ”memromosikan doa Rosario”. Selanjutnya, ”Doa Magnificat” yang menjadi Catena Legionis[30] termasuk salah satu doa yang merupakan ”praktik lahiriah” dari suatu penghayatan ”Pembaktian Diri”. Demikian juga, seruan kepada malaikat dalam ”Tessera”[31] termasuk unsur penting dalam ’spiritualitas peperangan rohani’ yang diajarkan oleh Montfort.

Ketiga, doa yang dilatarbelakangi dan diinspirasikan oleh Montfort. Kita melihat bahwa janji legio yang ditujukan kepada Roh Kudus, diinspirasikan pula oleh doa Montfort dalam ’Rahasia Maria’[32] yang sesungguhnya ditujukan kepada Roh Kudus. Selanjutnya doa gubahan sendiri yang menjelaskan dasar-dasar teologis Legio Maria.[33] Doa ini pun sebetulnya diinspirasikan oleh doa Montfort yang ditujukan kepada Maria dalam ’Rahasia Maria’, yang di dalamnya juga terkandung kebenaran-kebenaran teologis tentang Maria. Montfort menulis doanya demikian: ”Salam Maria Puteri tercinta Bapa yang kekal. Salam Maria Bunda Putera yang patut dikagumi. Salam Mempelai setia Roh Kudus. Salam Maria Ibuku yang terkasih, Ratuku yang patut dicintai dan Penguasaku yang perkasa….”[34] Selain itu, ada juga doa yang merupakan modifikasi dari kata-kata Montfort, yakni doa penutup Tessera (doa mohon iman). Doa ini merupakan modifikasi dalam bentuk doa yang diuraikan Montfort tentang peran Maria dalam peziarahan iman kita. Doa Tessera berbunyi: ”Ya Tuhan berikanlah kepada kami, yang mengabdi di bawah panji Santa Maria, iman yang penuh kepada-Mu ….” Sedangkan teks Montfortnya berbunyi: ”Semakin banyak anda memeroleh kerelaan Ratu yang mulia dan Perawan yang setia ini, semakin banyak pula seluruh tindak-tandukmu akan ditandai oleh iman yang murni….”[35] Demkian pula doa Acies[36] adalah modifikasi dari Doa Pembaktian Diri ala Montfort. Selanjutnya, doa anggota auksilier[37]merupakan gema kata-kata Montfort dalam Rahasia Maria.[38]

 

I.2.3. HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS SANTO MONTFORT DAN SEMANGAT (JIWA) LEGIO MARIA

Ketika kita ingin mencari tahu dan memahami lebih jauh pertalian di antara Montfort dan Duff, maka pertanyaan yang dimunculkan di sini ialah apakah ada hubungan di antara keduanya? Apakah ada pertautan antara Spiritualitas Montfort dengan Legio Maria. Pertanyaan lanjutannya ialah ”di manakah letak hubungan tersebut?” Berkenaan dengan pertanyaan fundamental ini, hal yang patut  ditelaah secara lebih mendalam ialah mengutip secara langsung pernyataan Duff ketika ia memberi ceramah kepada sekelompok Montfortan (para pengikut Santo Montfort) dan Legioner di Biara Ratu segala Hati di New York pada 6 Desember 1956. Ia berkata: ”Legio Maria boleh dikatakan berhutang budi besar kepada devosi yang diajarkan Santo Montfort.” Kata-kata ini sebetulnya menggemakan kembali apa yang sudah ditulis Duff dalam BP 57-58. Ia berkata:

”… dapat dipastikan bahwa  tidak ada  orang kudus lainnya yang telah memegang peranan begitu besar dalam perkembangan Legio selain dia. Buku pegangan ini penuh dengan semangat jiwanya. Doa-doa legio menggemakan kembali kata-katanya. Ia sungguh-sungguh guru dari Legio: jadi seruan kepadanya sudah sepatutnya dan merupakan kewajiban moral dari Legio[39].”

Dari kata-kata Pendiri Legio Maria tersebut, dan hasil penelusuran dari halaman ke halaman yang memuat kutipan-kutipan Montfort dalam BP, maka kita akan sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa tulisan-tulisan Montfort, terutama Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria, merupakan sebuah rujukan langsung atau referensi hidup bagi Legio Maria. Dengan kata lain, apa yang disebut dengan asal, tujuan dan spiritualitas Legio Maria, bersumber langsung pada ajaran Montfort. Dalam arti inilah, Bakti Sejati kepada Maria merupakan sumber penuh inspirasi bagi Legio Maria.[40] Bentuk pengabdian ini seharusnya dilihat sebagai ”perhambaan kepada Maria” sebagaimana yang dikatakan Montfort, dan yang kini termuat dalam kedua bukunya yang berjudul Bakti Sejati kepada Perawan yang terberkati[41] dan Rahasia Maria.[42]

Duff menyadari betapa karya monumental Montfort di atas sangat berdaya guna baginya. Oleh karena kesadaran inilah, ia mengharapkan agar setiap legioner, bukan hanya anggota aktif, melainkan juga setiap orang dari rombongan besar para anggota auksilier, memiliki copian buku tersebut, Bakti Sejati kepada Perawan Maria. Malahan, ia menganjurkan agar mereka senantiasa berulang-ulang kali membaca, memahami dan membuatnya dengan sepenuh hati berpengaruh di dalam kehidupan spiritual mereka. Duff menulis:

”Diharapkan bahwa setiap legioner, bukan hanya anggota aktif, tetapi juga setiap orang dari rombongan besar para anggota auksilier, memiliki sebuah copi buku Bakti Sejati, karya Santo Montfort yang hebat itu. Mereka harus membacanya berulang-ulang, memahaminya dan membuatnya dengan sepenuh hati berperan di dalam hidup rohani mereka. Hanya dengan cara itu mereka akan mampu meresapi semangat Legio Maria. Sebab sebagaimana diterangkan oleh Legio sendiri, Grignion de Montfort sungguh merupakan gurunya.”[43]

Selain buku utama tersebut (BS) menjadi sumber inspiratif bagi Duff dalam menghidupkan jiwa Legio, sesungguhnya bila ditelusuri dengan baik, secara implisit[44] ia menyampaikan apa yang menjadi gagasan Montfort dalam beberapa karya tulisan lainnya. Tulisan-tulisan yang dimaksud antara lain; Rahasia Maria, Rahasia Rosario, Cinta dari Kebijaksanaan Abadi, Doa yang Menggelora. Pertanyaan yang patut diajukan di sini ialah manakah pernyataan-pernyataan atau gagasan-gagasan itu dapat kita temukan. Kita tidak akan membaca dan menjelaskan secara rincian di sini. Hal yang dapat ditelusuri ialah  berusaha menderetkan halaman-halaman kutipan dalam BP yang menunjukkan gema dari gagasan (ide, refleksi) Montfort.

Pertama, Ide dalam Rahasia Maria. Apa yang dikatakan Duff dalam BP 104: ”Perawan tak Bernoda, Pengantara segala rahmat, kepadamu kupersembahkan doa-doa, pekerjaan maupun penderitaanku agar dimanfaatkan menurut keinginanmu”, itu mirip dengan kata-kata Montfort dalam Rahasia Maria.[45]

Kedua, Ide dalam Cinta dari Kebijaksanaan Abadi. Duff menulis dalam BP 60 demikian: ”Untuk dengan cara khas menirukan kasih dan ketaatan yang tidak terhingga yang diberikan Kristus sebagai Kepala kepada Ibu-Nya, dan inilah yang harus dilakukan kembali dalam Tubuh Mistik.” Kata-kata tersebut ternyata mirip dengan kata-kata Montfort dalam CKA.[46]

Ketiga, dalam Doa yang Menggelora. Dalam BP 22-23 Duff berkata: ”Karena kita anak-anak Maria sejati, maka, kita harus berkelakuan sepantasnya, dan sungguh-sungguh seperti anak kecil yang tergantung seluruhnya kepadanya. Kita harus datang kepada Maria untuk diberi makan, bimbingan, pengajaran, penyembuhan kita bila sakit, penghiburan kita bila kita sedih, nasihat bila kita bimbang, panggilan bila kita tersesat.” Apa yang disampaikan pendiri Legio ini rupanya mirip dengan kata-kata Montfort dalam Doa yang Menggelora.[47]Apabila kita memerhatikan dengan cermat, sebetulnya ide-ide, pikiran-pikiran yang mengalir dari gagasan-gagasan tersebut menunjukkan bahwa memang kemungkinan besar Duff membaca beberapa tulisan Montfort termasukbuku Bakti Sejati kepada Maria yang mendapat perhatian begitu besar darinya.[48]

Buku Bakti Sejati kepada Maria[49]memang tidak bisa dipungkiri lagi memainkan peran penting bagi  Duff. Begitu pentingnya buku itu di matanya, membuat kita sendiri juga, bila membolak-balik ide, gagasan, frasa, kalimat demi kalimat dalam BP akan berpandangan bahwa Montfort sangat memengaruhi Duff. Pada poin ini tidak akan diperlihatkan secara detail, namun hanya berusaha melacaknya satu persatu kesamaan atau kemiripan ide, pikiran, kalimat dlsb., di antara Montfort dan Duff. Meski demikian, baiklah kita melihat beberapa persamaannya. Dalam BP 20 di sana dikatakan demikian: ”Allah merencanakan semuanya ini, karena pertama-tama Allah mengetahui bahwa dia akan memeroleh tanggapan yang lebih besar dari Maria daripada yang akan diperoleh-Nya dari gabungan semua makhluk suci.” Kalau kita memerhatikan ide dalam Bakti Sejati kepada Maria, maka kita akan mengatakan bahwa keduanya mempunyai kesamaan ide. Kita ikuti kata-kata Montfort berikut ini: ”

”Ah seandainya orang tahu betapa banyak kemuliaan dan kasih yang Engkau terima dari makhluk yang mengagumkan ini, maka orang akan mempunyai perasaan-perasaan yang lain sekali terhadap-Mu dan terhadap Maria daripada yang mereka miliki hingga kini. Perawan tersuci begitu menyatu dengan Engkau, sehingga orang lebih dulu bisa memisahkan terang dari matahari dan panas dari api. Atau lebih tegas lagi: orang bisa lebih dulu menjauhkan semua malaikat dan orang kudus dari-Mu daripada Maria yang dipenuhi Allah; karena dia mencintai-Mu lebih menyala dan memuliakan-Mu lebih sempurna daripada seluruh makhluk-Mu yang lain meskipun secara bersama-sama.”[50]

Masih ada beberapa kesamaan lain lagi yang sebetulnya bisa dipaparkan di sini, namun kiranya apa yang sudah diperlihatkan di atas sudah mewakili kesan yang muncul bahwa buku Bakti Sejati kepada Maria, memengaruhi hati dan pikiran (semangat-jiwa) Duff.[51] Hal ini sangat jelas kemudian terungkap dalam BP yang mengatakan bahwa para legioner dianjurkan untuk membaca buku utama tentang devosi yang benar kepada Maria yakni BS dan juga RM. Duff malahan menganjurkan agar legioner membacanya bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali.[52] Ini berarti tulisan Montfort tersebut layak dan terkesan ”harus” dibaca dan direnungkan oleh legioner, menjadi sebuah rujukan utama. Berkenaan dengan ini, apakah sampai saat ini para legioner pernah membaca buku Bakti Sejati karya Montfort, ataukah samasekali belum menyentuhnya (membaca dan memelajarinya)?[53] 

 

II. MENJADI KUDUS ADALAH PANGGILAN KRISTIANI

Panggilan untuk menjadi kudus adalah sebuah panggilan universal. Gereja dipanggil untuk menghayati martabatnya sebagai orang kudus, oleh karena Allah sendiri berdiam di dalamnya. Konsili Vatikan II, melalui Lumen Gentium bab IV mengalamatkan panggilan untuk menjadi kudus ini kepada seluruh Gereja, meskipun dihayati dengan cara yang berbeda-beda menurut ‘kurnia’ dan ‘tugas’-nya masing-masing. Dari sebab itu, bisa dilihat bahwa pada hakekatya, Gereja, tidak dapat kehilangan kekudusannya. Dikatakan demikian karena, Kristus, Putera Allah, yang bersama Bapa dan Roh Kudus dipuji bahwa “hanya Dialah Kudus”, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya (lih. Ef 5:25-26). Ia menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya sendiri dan menyempurnakannya dengan kurnia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Maka dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hirarki entah digembalakan olehnya, dipanggil untuk kekudusan, yang menurut amanat Rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tes 4:3; lih. Ef 1:4).[54]

Montfort pun menyadari aspek ini dan ia sangat menekankan pentingnya memeroleh kekudusan Allah. Untuk memahami secara menyeluruh jalan kekudusan yang dipahami dan diajarkan Montfort, hal pertama yang diperlukan di sini ialah mengerti dengan baik teologi kekudusan Kristiani dan aneka cara (jalan) yang menuntun seseorang sampai kepada sasaran (kekudusan)[55] tersebut. Seluruh umat Allah diwajibkan untuk menjadi kudus di hadapan-Nya. Dalam kenyataan yang bisa diamati, ternyata di sepanjang abad ke-20 Gereja Katolik diberi kelimpahan berupa kehadiran para teolog dan orang-orang kudus yang senantiasa mengingatkan kembali umat beriman akan ketaatan mereka terhadap panggilan menjadi kudus.[56] Menurut J. Aumann, para kudus dan teolog dan sejumlah nama lainnya telah menyiapkan jalan bagi pembaharuan Gereja yang begitu dinanti-nantikan tatkala Paus Yohanes XXIII memanggil para uskup sedunia untuk mengikuti Konsili Vatikan II di tahun 1961. Salah satu ajaran fundamental yang senantiasa digemakan kembali sejak penutupan Konsili Vatikan II ialah ajaran Kristus sendiri: ”Hendaklah kamu menjadi kudus, samaseperti Bapamu di surga kudus adanya.” (Mat 5:48). Santo Paulus juga dalam suratnya kepada Jemaat di Tessalonika berkata: ”Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu ….” (1 Tes 4:3).[57] Ketika kita mengacuh kepada teks Kitab Suci, sebetulnya di situ kita menjumpai sejumlah referensi tentang ”kekudusan”. Hal pertama yang harus kita pahami di sini ialah bahwa kita memuji dan menyembah kekudusan Allah. Dikatakan demikian karena pada dasarnya Allah mengatasi kekudusan setiap manusia dan malaikat manapun dalam suatu derajat ketakterbatasan (infinite).

Ketika berbicara tentang Allah, maka hal yang dipikirkan tentang diri-Nya ialah soal esensi atau hakekat keberadaan-Nya. Dalam Kitab Keluaran 3:14 Allah disebut sebagai Yahwe ”Aku adalah Aku.” Para ahli filsafat menafsir esensi Allah dengan mengatakan bahwa Ia adalah Pure Act dan mengandung di dalam diri-Nya sendiri segala kemungkinan tentang kekudusan atau kesempurnaan. Lebih dari itu, Allah sesungguhnya dipandang sebagai the source of all perfections, sumber dari segala kesempurnaan. Hal ini bisa dipahami ketika kesempurnaan Allah itu diletakkan dalam seluruh ciptaan-Nya. Di hadapan semua yang ada (ciptaan-Nya), para teolog kemudian menyebut-Nya sebagai the First Cause uncaused, Penyebab Pertama (utama) dari yang tidak dapat disebabkan lagi.[58]

Dari tekanan yang diberikan oleh Konsili Vatikan II dan rujukan biblis tentang kekudusan tersebut, apakah yang bisa dipahami ketika kita berbicara tentang ”kekudusan Kristiani”? Kekudusan Kristiani  tidak pernah terlepas dari relasinya dengan Allah, sejauh mana ia bersentuhan, bergaul, berjumpa dan mengalami Allah dalam hidupnya. Hidup yang tak bercela, suci, murni dalam pikiran, perkataan, perbuatan merupakan tanda adanya kesucian dalam diri orang tersebut. Untuk memahami hal ini dengan lebih jelas lagi bagaimana kekudusan Kristiani bisa dimengerti, maka baiklah kita memahami beberapa hal berikut ini.

Secara teologis, istilah ”kesempurnaan” tidak bisa lepas dari apa yang disebut dengan  kesempurnaan dalam arti substansial.  Kesempurnaan substansial  (in esse) ialah sanctifying grace (rahmat yang menguduskan). Tanpa rahmat yang menguduskan, seseorang itu akan mati secara rohani dan tidak mampu menghasilkan jasa (kebaikan) yang tak  terbatas. Selain itu, kesempurnaan dapat dipahami pula dalam arti operational or functional perfection (in operatione). Kesempurnaan dalam arti ini sebetulnya menekankan kebajikan kasih (virtue of charity). Dikatakan demikian oleh karena kasih merupakan batu loncatan dari segala tindakan kita.  Dalam tingkatan spiritual, frasa yang diungkapkan oleh St. Agustinus cukup membantu kita. Ia mengatakan demikian:  ”Cintailah Allah, dan lakukanlah apa yang engkau inginkan, dan janganlah ingin berbuat dosa.”[59]

Selanjutnya kesempurnaan dipahami dalam arti menggapai cita-cita atau tujuan (in assecutionefinis). Kesempurnaan di sini dimengerti sebagai jalan untuk mewujudkan kasih dalam tindakan nyata. Sekalipun demikian, J. Aumann memerlihatkan dua model penerapannya. Pertama, apa yang menjadi tujuan hidup manusia dalam hidupnya ialah mencapai kesempurnaan kasih itu yaitu the perfection of charity. Kedua, mengarahkan diri kepada ”Keabadian” (Yang Abadi). Dalam poin ini, kesempurnaan diperoleh melalui ungkapan nyata cinta akan Allah secara total lewat seluruh pengalaman hidup kita.[60]

Setelah kita menelusuri Teologi Kristiani tentang jalan kesempurnaan atau kadang-kadang bisa disejajarkan artinya dengan ”kekudusan” sebagaimana yang didengungkan baik oleh beberapa orang kudus maupun juga dari kutipan Kitab Suci, kita diajak untuk berhenti sebentar dan melirik ke dalam apa yang dipikirkan dan diajarkan oleh Montfort.

Salah satu tekanan kuat dalam Spiritualitas Montfort bagi para pengikutnya ialah bagaimana mereka mampu menguduskan dirinya sendiri. Hidup di dunia ini adalah sebuah usaha, upaya untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Dengan kata lain, untuk semakin kudus, suci, seseorang harus menjadikan Yesus sebagai pusat pencarian hidupnya, sumber dan tujuan hidupnya.[61] Montfort menawarkan empat sarana untuk  memeroleh Sang Kebijaksanaan yang Menjelma, Yesus Kristus. Keempat sarana ini juga sebetulnya merupakan jalan, media yang bisa dipakai untuk bertumbuh dalam kekudusan itu. Keempat sarana yang dimaksud Montfort ialah perlunya kerinduan akan Sang Kebijaksanaan (Yesus Kristus), doa yang terus-menerus, matiraga yang menyeluruh dan bakti sejati kepada Santa Perawan.[62] Sarana yang terakhir ini bisa dihayati melalui praktik yang diajarkan oleh Montfort, yakni Pembaktian Diri kepada Yesus melalui Maria. Dengan demikian Maria menjadi faktor katalisator dalam upaya pengudusan diri seorang pribadi, mengapa demikian? Oleh karena, semakin seorang itu dibaktikan kepada Yesus melalui Maria, semakin dia diantar untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus putranya. Itu berarti dia semakin disucikan, dikuduskan. Dari sebab itu, Montfort sangat menganjurkan para pengikutnya (baca: semua orang Kristiani) memiliki devosi kepada Santa Perawan Maria.

Jadi, apabila kita hendak konsekuen, maka kita pun mesti menerima pengaruh, peranan dan perutusan yang diberikan Tuhan kepada Maria. Dalam hal ini, Maria sekurang-kurangnya ikut menolong kita mencapi garis finish. Apa yang dikatakan Montfort dalam bukunya, Rahasia Maria merupakan gambaran yang jelas bagaimana kekudusan, kesucian itu diperoleh dan dinikmati. Ia berkata: ”Kamu, gambaran hidup dari Allah, dan ditebus dengan darah mulia Yesus Kristus, Allah menghendaki kamu menjadi suci seperti Dia dalam hidup sekarang ini, dan mulia seperti Dia sesudah hidup ini ….”[63]

Semua orang Kristiani dipanggil untuk menjadi kudus. Dasar alkitabiahnya sudah disinggung pada pembahasan sebelumnya, meskipun demikian baiklah kita mengutip dari teks lain juga, misalnya dalam 1 Ptr 1:15. Di dalam surat ini, Rasul Petrus berkata: ”Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu, samaseperti Dia yang kudus.” Efek yang bisa dilihat dan dirasakan ialah kita akan dimuliakan sebagaimana Yesus sendiri dimuliakan. Dari sebab itu, memeroleh kekudusan Allah merupakan panggilan kita sebenarnya. Jadi dalam arti ini, apa yang menjadi pikiran, perkataan, penderitaan dan seluruh kehidupan kita harus mengerucut kepada kekudusan tersebut.

Memeroleh kekudusan merupakan panggilan sebenarnya dari semua pengikut Kristus, termasuk juga para legioner. Bersama dengan semua orang Kristiani lainnya, legioner juga dipanggil untuk menjadi milik Allah. Menjadi milik Allah berarti hidup hanya bagi Allah (Dieu Seul). Itu berarti siapa pun dia, apapun status dan profesinya dipanggil untuk menjadikan Kristus sebagai pusat hidupnya, sementara Roh Kudus mengilhamkannya untuk melakukan segala kegiatan batin dan perbuatan lahiriah. Dari sebab itu, setiap orang Kristen perlu dengan gagah berani berkata: ”Tuhan, di sinilah aku; aku ingin menjadi milik-Mu seluruhnya.” Maria sangat membantu kita untuk memraktikkannya. Ia sendiri bahkan menjadi teladan di dalam praksis tersebut ketika ia menunjukkan ”fiat”nya kepada Allah (bdk. Luk 1:38). Montfort menulis dalam baris pertama bukunya, Bakti Sejati, ”Melalui Santa Perawan Maria, Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia; melalui Maria pula haruslah Dia berkuasa di dunia.”[64] Melalui misteri Inkarnasi (penjelmaan), Maria dipersatukan dengan begitu erat kepada Kristus, sehingga semua yang kita berikan kepada Maria, akan langsung menuju Kristus. Inilah suatu sarana yang jauh lebih aman daripada andaikata kita berusaha melakukannya sendiri.

 

II.1. Panggilan Sebagai Legioner:

II.1.1. Legioner Membawa Maria Di dalam Hatinya

Setiap legioner adalah murid-murid Kristus. Sebagai murid-murid-Nya, ia juga samaseperti para pengikut lainnya pun diajak untuk setiap hari, setiap saat mengembangkan kekudusannya. Hal ini dilakukan melalui pembinaan rohani pada tingkat presidium. Pembinaan rohani para legioner pada tingkat presidium sangat membantu dalam mengembangkan kesucian mereka. Ada beberapa sarana yang diperlukan oleh para legioner di dalam menumbuhkembangkan dimensi kekudusannya, misalnya berdoa, bermatiraga, dan menghayati sakramen-sakramen.[65] Dalam pembahasan tentang sakramen-sakramen, BP menyatakan demikian: ”Persatuan dengan Kristus bersumber dalam Pembaptisan, berkembang lebih lanjut dalam Penguatan dan diwujudkan dan dipelihara dalam Ekaristi.”[66] Sebagai ringkasannya, legio digambarkan sebagai kumpulan orang yang sedang maju berperang di bawah pimpinan Bunda Maria sambil membawa panji-panjinya: salib di tangan kanan mereka keselamatan jiwa dan pengudusannya, rosario di tangan kiri dan nama kudus Yesus dan Maria di dalam hati serta semangat pengorbanan Yesus Kristus dalam segala perbuatannya.”[67] Tugas legioner seperti ini tampaknya sederhana tapi sesungguhnya tidak terlalu mudah juga untuk dipraktekkan bila dari dalam dirinya atau hatinya tidak sungguh menceburkan diri dalam jiwa atau semangat Bunda Maria. Supaya dapat menjalankan tugas luhur ini, maka seorang legioner harus membawa Maria di dalam hatinya, sebagaimana dijelaskan oleh Duff sendiri: ”Jelaslah bahwa legioner yang hatinya jauh dari Maria tidak dapat memenuhi amanat itu. Ia terpisah dan tidak ikut serta dalam usaha legio. Ia bagaikan tentara yang tak bersenjata.”[68]

Untuk pertumbuhan kekudusannya, Roh Kudus berperan aktif dalam mengarahkan sebagian umat Kristiani untuk bergabung dalam Legio Maria. Dari sebab itu, menjadi legioner merupakan sebuah panggilan. Dikatakan demikian karena melalui jalan-jalan yang kadang-kadang sulit dipahami secara manusiawi, Roh Kudus menyingkapkan kepada umat Kristiani tentang ”Rahasia Maria” dalam perjalanan kekudusan Kristiani, sehingga mereka tertarik dan memutuskan untuk bergabung menjadi legioner. Dengan demikian, secara sederhana bisa dikatakan bahwa karena dorongan Roh Kuduslah, seseorang atau sekelompok orang digerakkan untuk mendaftarkan diri  menjadi legioner. Dalam hal ini, Montfort menunjukkan secara jelas bahwa Roh Kuduslah yang mengajar kita tentang peran Maria dalam misteri Kristus dan Gereja, Ia mengantar kita ke pengenalan dan pengalaman akan peran Maria sebagai pengantara dan yang akan mengantar ke persatuan penuh dengannya. Montfrort menulis:

”Ya Roh Kudus! Kurniakanlah kepadaku segala rahmat ini. Tanamkanlah, siramilah dan peliharalah Maria tercinta dalam jiwaku, dialah pohon kehidupan yang sejati itu, ia bertumbuh, berbunga dan menghasilkan buah kehidupan berlimpah-limpah.”[69]

Dalam iman akan Kristus karena karya Roh Kudus memang tidak ada lagi hal yang dapat dikatakan sebagai murni inisiatif dan kreativitas manusia. Dalam konteks inilah, kita bisa memahami apa yang ditulis oleh pendiri Legio Maria:

”Legio adalah suatu laskar. Ratunya sudah ada di sana sebelum mereka bergabung dalam persatuan legio. Ratu ini menunggu untuk menerima pendaftaran mereka yang sudah diketahui akan menghadap kepadanya. Mereka tidak memilih dia tapi dia yang memilih mereka.”[70]

 

II.1.2. Legioner Bercermin Kepada Maria Sebagai Jalan Rahmat Untuk Kekudusan

            Dalam bukunya, Rahasia Maria, Montfort menekankan dua hal penting. Pertama, Maria adalah jalan rahmat untuk bertumbuh dalam kekudusan.[71] Kedua, praktik ”Pembaktian Diri” diusulkan sebagai cara hidup yang hendaknya setiap kaum Kristiani hayati demi mengefektifkan peran Maria agar bertumbuh dalam kekudusan.[72] Berkenaan dengan Maria sebagai jalan rahmat untuk bertumbuh dalam kekudusan, Montfort berkata:

”Kita harus menemukan jalan yang mudah untuk memeroleh rahmat Allah yang diperlukan untuk menjadi kudus. Jalan itulah yang mau saya ajarkan kepada kamu. Sungguh, jika kamu ingin memeroleh rahmat ini dari Allah, maka lebih dahulu kamu harus menemukan Maria.”[73]

Pandangan Montfort tentang peran Maria dalam membagikan rahmat Allah ini sungguh sejalan dengan pandangan Konsili Vatikan II sebagaimana yang tertera dalam dokumen Lumen gentium no. 62:

”Ada pun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankan di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke sorga, ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memeroleh bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memerhatikan saudara-saudara puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, dalam Gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara.” [74]

Devosi kepada Maria dengan demikian bisa kita pahami sebagai jalan rahmat untuk bertumbuh dalam kekudusan, di mana kita akan mengalami perubahan rupa dalam Kristus, kita sungguh mengalami suatu transformasi diri di dalam Yesus Kristus. Hanya dengan demikian, kerajaan-Nya datang dalam diri kita dan melalui diri kita dalam dunia yang lebih luas. Berkenaan dengan hal ini, kita bisa mengamati bahwa ternyata Legio Maria berada dalam jalur pemikiran yang sama, bahwa Maria adalah jalan rahmat untuk kekudusan, tatkala Duff menegaskan demikian:

”Legio menaruh kepercayaan tak terbatas kepada Maria karena menyadari bahwa oleh ketentuan Allah kekuasaan Maria menjadi tak terbatas. Segala sesuatu yang dapat diberikan Allah kepada Maria, telah Ia berikan. Segala sesuatu yang Maria mampu menerima, telah ia terima dalam kelimpahan. Demi kita, Allah menjadikan Maria sarana rahmat yang istimewa. Jika kita berkarya dalam persatuan dengan Maria, kita mendekati Allah dengan lebih berhasil, dan oleh karena itu lebih mudah memeroleh rahmat. Kita sungguh menempatkan diri dalam arus pasang rahmat, karena Maria adalah pengantin Roh Kudus: dialah saluran setiap rahmat yang diperoleh Kristus. Kita tidak puas dengan hanya menyalurkan semuanya: ia memeroleh semuanya untuk kita.”[75]

Sebagai penyalur rahmat, jelas sekali Maria memiliki tugas yang tak tergantikan. Dalam arti ini, ia melakukan apa yang disebut dengan training, semacam instruktur training,[76] yang ”melatih” dan ”menumbuhkan kepercayaan” dalam diri orang-orang yang percaya kepada Puteranya. Dengan kata lain, Maria menjadi seperti seorang ”instruktur”, ”komandan” yang melatih, yang memberi perintah tertentu supaya ditaati dan diikuti oleh murid-murid atau putra-putrinya. Maria melakukan hal ini, sebab Sang Kepala (Yesus) yang telah dikandung dan dilahirkan dari rahimnya secara biologis, serta dibentuk olehnya dalam kuasa Roh Kudus telah menginjak kepala ular, telah menang atas dosa dan maut serta setan yang dilambangkan oleh ular itu. Dari sebab itu, kini, anggota Tubuh Mistik (orang-orang yang percaya kepada Puteranya), juga dikandung dan dilahirkan dari rahim rohaninya serta dibentuk olehnya dikerjakan selalu dalam kuasa Roh Kudus untuk menjadi serupa dengan Puteranya yang menang atas dosa-setan di dalam hidup sehari-hari.

Roh Kudus melahirkan anak-anak bagi Allah, karena beriman kepada Putera-Nya, di medan karya, bersama Maria, Anak itu dan anak-anak itu semuanya menjadi pejuang, dan bersama-sama menjadi suatu laskar yang gagah berani, rapi, teratur, siap tempur menaklukkan musuh-musuh. Mungkin kita bertanya, kira-kira materi apa yang diajarkan Maria kepada orang-orang yang percaya kepada puteranya. Ringkasnya, apakah materi training itu? Materi training yang dimaksudkan di sini ialah kebajikan-kebajikan Yesus, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tujuan dari proses pelatihan ini ialah supaya umat beriman memiliki kemampuan (skill) dalam menaklukan kuasa dosa-setan (kejahatan). Dari sebab itu, supaya kita semua, termasuk legioner dapat dididik oleh Bunda Surgawi ini dengan baik, maka perlu menyerahkan diri dalam tuntunan dan bimbingan kasihnya, supaya hasil yang diperoleh itu bisa membanggakan.[77]

Jikalau demikian halnya, maka yakinlah bahwa sebagai seorang legioner juga akan berhasil sebagaimana yang dirumuskan dengan sangat indah nan cemerlang oleh St. Bernardus: ”Kalau Maria mendukung engkau, engkau tidak akan jatuh; kalau dia melindungi engkau, engkau tidak perlu takut apapun; kalau dia membimbing engkau, engkau tidak akan letih; dan kalau dia menyukaimu, engkau akan tiba di pelabuhan yang aman.”[78]

Setelah kita melihat dan merenungkan semua hal yang sudah dikatakan tadi, maka dapat diparafrasekan bahwa sesungguhnya dengan memilih hidup sebagai legioner, seseorang juga sedang berada di jalan penghayatan intensif atas pembaptisan. Montfort mengatakan bahwa bakti yang sejati kepada Maria merupakan ungkapan pembaharuan yang sempurna dari janji-janji pembaptisan.[79] Melalui saat itu, yakni saat pembaptisan, seseorang telah berjanji untuk selamanya menolak setan. Dengan kata lain pada saat itu, seseorang telah mencanangkan pertempuran melawan kuasa kegelapan. Pencanangan pertempuran ini kemudian dibaharui lagi oleh legioner pada waktu ”acies” yang dilakukan pada tanggal 25 Maret atau di sekitar tanggal itu. Hal yang dilakukan legioner kala itu ialah bersama Maria, yang kepadanya (Maria) legioner membaktikan seluruh diri, berperang melawan setan dan kekuatan kejahatannya.[80] Dari sebab itu, apabila setiap orang setiap hari hidup bersama Maria dalam iman akan Kristus, karena karya Roh Kudus, maka sesungguhnya di situ kita dapat belajar banyak dari dia tentang bagaimana menjadi serupa dengan Putra-Nya, termasuk di dalam keserupaan menolak dan menaklukan aneka belenggu serta penguasaan setan atas diri kita.  Meskipun secara sederhana kita juga sampai pada sebuah keyakinan bahwa semuanya ini dimungkinkan karena peran Maria yang mengajar kita[81] dan ia bisa menjadi guru kita, namun secara lebih mendalam guru yang utama ialah Roh Kudus, Dialah Sang Ahlinya (bdk. Yoh14:26). Roh Kuduslah yang mengajarkan kepada kita tentang siapakah Kristus, Sang Kebijaksanaan yang Menjelma dalam rahim Maria. Dari sebab itu, apabila Roh Kuduslah yang menjadi aktor utama di balik proses pedagogi iman tadi, maka Bunda Maria bisa dikatakan sebagai asistennya. Dia memang disebut asisten, tapi lebih dari sekedar itu dialah sang asisten yang sangat ahli, pandai, bukan asisten biasa. Maria disebut sebagai ”Sang asisten ahli” oleh karena setiap saat dia bersatu dengan Roh Kudus. Dari sebab itu, apabila kita mendengarkan Maria dalam semangat Roh Kudus, maka kita sendiri akan aman, tidak tersesat karena Maria diberi semacam kredit khusus oleh Allah, karena melalui kerjasamanya dengan Roh Kudus, ia telah melahirkan Anak didiknya yang unggul yakni, Yesus Kristus.

Apabila kita memahami hal tersebut dengan baik, maka bisa dipahami bahwa ketika kita bersatu dengan Maria, ia akan mengantar kita ke persatuan rohani nan mesra dengan Putranya. Montfort menulis:

”Bersama dengan Roh Kudus, Maria telah menghasilkan mukjizat yang terbesar dari segala zaman: seorang Allah – manusia. Jadi, Maria juga akan menghasilkan mukjizat-mukjizat terbesar pada waktu zaman akhir. Tugasnya yang paling pribadi adalah membentuk dan mendidik orang-orang kudus yang besar, yang akan hidup menjelang akhir dunia.”[82]

Pendidikan yang diberikan Maria kepada siapa saja yang memasrahkan diri dalam asuhan, didikannya adalah didikan yang penuh dengan kuasa dan semangat Roh Kudus. Maria ikut mendidik kita karena ia adalah pribadi yang relasional dengan Roh Kudus, sehingga Maria taat kepada-Nya. Dari sebab itu, jikalau kita semua taat kepada didikan Maria, maka dari sendirinya kita pun akan menjadi putra-putri sejati dari Allah sebagaimana yang diungkapkan dengan sangat bagus oleh Montfort. Ia berkata bahwa kita harus melakukan tindakan kita melalui Maria, maksudnya ialah bahwa di dalam segala-galanya kita perlu menundukkan diri kepada Perawan teramat suci dan membiarkan diri kita dibimbing oleh rohnya, yang adalah Roh Kudus Allah.

Dari uraian di atas tentang relasi yang intim, konstan dengan Maria, yang tidak lain adalah relasi yang mesra dengan Roh Kudus sendiri semakin membuka cakrawala bahwa persatuan kita sebagai seorang Kristiani dengan Maria karena bimbingan Roh Kudus sesungguhnya akan menghantar kita kembali kepada persekutuan yang semakin erat dengan Roh Kudus. Berkenaan dengan hal ini, Montfort berkata:

”Saya tidak percaya bahwa seseorang dapat memeroleh persatuan yang mesra dengan Tuhan dan kesetiaan yang sempurna  kepada Roh Kudus, apabila ia tidak berhubungan secara sungguh-sungguh dengan Perawan tersuci dan bergantung sepenuhnya pada bantuan wanita ini.”[83]

Menarik sekali untuk dicermati secara lebih mendalam bahwa memang Maria menjadi figur yang sudah sepatutnya dikenal, didekati, dialami, dan diteladani oleh setiap kita yang ingin menyebut diri sebagai murid-murid sejati dari Allah. Jadi, betapa pentingnya, Maria dalam menganimasi insan-insan yang hendak mengalami persatuan yang tetap dengan Allah di jalan menuju kekudusan itu sendiri.

 

II.1.3. ”Acies” Sebagai Momen Janji Legioner Dan Pembaktian Diri: Momen Penyerahan Diri  (Self-Offertory) Kepada Bunda Maria

Seorang legioner mengetahui apa itu ”acies” namun istilah ini belum begitu familiar di telinga kaum Kristiani pada umumnya dan secara khusus bagi mereka yang samasekali buta atau tidak mengerti akan sistem yang ada di dalam Legio Maria. Berkenaan dengan itu, maka baiklah kita perlu menelaah sejenak pemakaian term ini dalam BP  Legio. Duff menegaskan bahwa bakti kepada Maria merupakan sebuah unsur konstitutif dalam sistem legio. Dimensi ini menjadi begitu hakiki dan urgen dalam legio. Dari sebab itu, setiap tahun diwajibkan diadakan upacara penyerahan diri legioner kepada Bunda Maria. Apa yang disebut sebagai penyerahan diri legioner tersebut oleh  Duff disebut sebagai ”acies”. Istilah ini berasal dari kata Latin yang berarti ”balatentara yang siap sedia bertempur”.

Menurut Duff, ”acies” merupakan saat yang tampan bagi para legioner berkumpul bersama sebagai satu balatentara untuk menerima kekuatan serta berkat Maria sebagai bekal pertempuran selama setahun yang akan datang melawan kekuasaan setan.[84] Menurut Duff, ”acies” juga merupakan pertemuan tahunan pusat Legio sehingga yang menjadi tekanannya ialah ”kehadiran setiap anggota.” ”Acies” dengan demikian dipahami pula sebagai momen pernyataan suci untuk persatuan dan ketergantungan kepada Maria yang oleh Duff dijadikan sebagai Ratu para legioner.[85] Pada waktu itu, setiap legioner mengucapkan kata-kata kunci yang merupakan janji penyerahan dirinya kepada Bunda Maria. Masing-masing mereka mengucapkan kata-kata berikut ini: ”Aku adalah milikmu, ya Ratu dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu.”

Setelah kita melihat pengertian atau arti dan makna dari ”acies” tersebut, kita dapat menelaah lebih jauh beberapa poin yang menjadi isi atau kandungan dari ”acies” itu dalam kaitannya dengan spiritualitas yang diajarkan oleh Montfort. Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang legioner punya kewajiban untuk menyatakan janjinya sebagai legioner pada waktu ”acies”. Hal yang dijanjikan seorang legioner ialah berkaitan dengan  penyerahan diri ke dalam tangan Bunda Maria, menjadikan seluruh diri dan segala kepunyaan yang ada padanya menjadi milik Maria, menjadi kepunyaannya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pada waktu janji penyerahan diri tersebut, seorang legioner benar-benar melepaskan seluruh dirinya, mengosongkan seluruh dirinya untuk kemudian dipersembahkan kepada Bunda Maria.

Jadi, apabila seseorang (legioner) mengucapkan ”Janji Legio” dan menyatakan dirinya sebagai hamba dan milik Maria, ”sehingga dapatlah kiranya pula Yesus Kristus Tuhan hamba tumbuh dalam diri hamba” dengan perantaraan Maria, sebetulnya di situ ia sedang membaharui janji baptisnya, ia mengaku imannya dan menolak segala kekuasaan setan. Mengapa demikian, karena pada waktu ”acies” sebetulnya apabila menggunakan rumusan Montfort, maka yang tampak di saat itu ialah pengungkapan hal ini yang diformulasikan demikian: ”Aku milikmu semata-mata[86], dan segala milikku adalah kepunyaan-Mu, ya Yesus yang terkasih, melalui Maria Ibu-Mu yang suci.”[87] Sepintas lalu kita melihat kedua rumusan itu tampak sama. Dengan kata lain,  kita bisa melihat adanya kesamaan, yakni penyerahan diri seseorang kepada yang lain. Hanya saja, ada sedikit perbedaan di sini. Kalau dalam Doa Acies, doa penyerahan diri itu diarahkan langsung kepada Maria,[88] sedangkan dalam rumusan Montfort, penyerahan itu dialamatkan kepada Yesus. Sekalipun demikian, sesungguhnya esensinya kurang lebih sama, yakni ”pembaktian diri kepada Yesus melalui tangan Maria.” Dalam ”acies”, seseorang menyerahkan dirinya, melalui tangan Maria seluruhnya kepada Yesus Kristus. Hal ini menjadi sesuatu yang pantas dilakukan  – termasuk legioner – menyerahkan dirinya kepada Maria, oleh karena Maria merupakan ”sarana yang sempurna” yang dipilih Yesus untuk memersatukan Diri-Nya dengannya dan dirinya dengan Diri-Nya.

Menurut refleksi Montfort, melalui Maria kita membaktikan diri kita kepada Yesus, Sang Kebijaksanaan yang Menjelma, ”tujuan akhir” dari seluruh pencarian diri kita. Apa saja yang diberikan kepada Maria akan sampai seluruhnya secara sempurna kepada Yesus, sebab Maria dan Yesus tidak dapat dipisahkan, relasi kedua sangat erat. Dari sebab itu, jikalau kita memakai refleksi dan logika Montfort, maka kita sampai pada sebuah tesis yang menyatakan bahwa pembaktian diri yang paling sempurna kepada Maria sekaligus merupakan pembaktian diri yang paling sempurna kepada Yesus. Montfort sangat menganjurkan agar kita menyerahkan seluruh diri kepada Maria lewat tindakan ”Pembaktian Diri”.[89] Inti dari praktik “Ppembaktian Diri” kepada Yesus lewat tangan Maria adalah penyerahan seluruh diri secara total kepada Kristus. Montfort menulis, ”devosi ini terdiri dari suatu penyerahan diri seutuhnya kepada Perawan teramat suci supaya melalui dia menjadi milik Yesus Kristus sepenuhnya.”[90] Penyerahan diri yang dimaksudkan Montfort adalah memberikan segala kepemilikan diri kepada Maria, baik yang bersifat jasmani maupun yang rohani.[91] Jadi, Montfort mengajarkan bahwa kalau orang berdevosi kepada Maria, maka ia diminta untuk menyerahkan diri ke dalam tangan Maria (anggota badannya, jiwanya, harta lahiriah, segala karya amal, dsb.).[92]

Penyerahan diri kepada Maria, atau dalam bahasa teologisnya, devosi kepada Maria pada akhirnya harus menghantar orang bersatu dan menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Itulah tujuan dari penyerahan yang total kepada Maria: ”menjadi milik Yesus Kristus sepenuhnya, mencapai kesatuan dengan Kristus dan menjadi serupa dengan-Nya.”[93] Penyerahan diri tersebut dalam arti tertentu juga menjadi momen penelanjangan diri (baca: mengosongkan diri) dari segala hal yang tidak selaras dengan janji baptis. Penyerahan diri melalui jalan ”Pembaktian Diri” sebagaimana yang diajarkan Montfort dan penyerahan diri melalui jalan ”acies” sebagaimana yang digagas Duff, bisa dipahami sebagai momen yang memungkinkan seseorang ”mematikan dirinya” dari segala kuasa kegelapan (mati terhadap dirinya sendiri).[94] Penyerahan diri (baca: Pembaktian Diri) yang total kepada Allah lewat Maria, dengan demikian memerlihatkan efek yang kuat, di mana seseorang sungguh-sungguh dapat melepaskan segala yang ada dalam dirinya, termasuk pula segala hal yang berseberangan dengan Kehendak Allah.[95]

Apabila kita mencermati refleksi atau ajaran Montfort ini dan menggandengkannya dengan apa yang digagas oleh Duff tentang ”acies”, maka kita bisa menarik sebuah benang merah bahwa melalui ”acies”, seorang legioner menghayati apa yang diajarkan Montfort tentang praktik penyerahan diri (self offertory) tersebut, saat di mana seseorang diajak untuk memberikan, menyerahkan seluruh dirinya secara total (penuh) tanpa ada yang tersisah untuk dirinya sendiri ke dalam tangan Bunda Maria. Dengan kata lain, saat mengucapkan  ”Aku adakah milikmu, ya Ratu dan Bundaku….”, maka pada saat itu seorang legioner mau “mengosongkan” diri ke dalam Maria dan membiarkan dirinya  “tenggelam” di dalamnya.

 

III. Frank Duff, Penerus Mimpi (Visiun) Santo Montfort: Legio Maria, Tentaranya Bunda Maria

Sejak Legio Maria didirikan pada 7 September 1921 di Dublin, Irlandia sebagai sebuah perkumpulan yang kuat karena mendapat restu dari Gereja dan berada di bawah pimpinan yang sangat kuat dari Bunda Maria, sejak itu pula sampai hari ini, Legio Maria selalu disebut sebagai sebuah laskar, persisnya Laskar Perawan Maria yang amat berkuasa. Laskar ini didirikan dengan tujuan akhirnya ialah mendirikan Kerajaan Yesus melalui Maria. Kalau kita membaca dan mendengar ungkapan ini, sebetulnya, Montfort sendiri pun sudah mengatakan hal itu dalam Bakti Sejati kepada Maria. Kata-kata profetisnya berbunyi demikian: ”Melalui Santa Perawan Maria, Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia. Melalui Marialah haruslah Ia berkuasa di dunia.”[96] Berkenaan dengan seruan profetis ini, Montfort pernah mendapat suatu pengelihatan (visiun) yang menunjukkan bahwa pada suatu waktu akan muncul sebuah laskar yang begitu kuat dan berani memerangi dunia yang jahat (busuk) sekalipun tantangannya itu tidak mudah dihadapi. Tetapi Montfort merasa itu lebih baik dan justru berekspetasi akan munculnya sebuah kesuksesan yang besar. Laskar ini tampak begitu kuat karena di dalamnya Yesus Kristus dan Maria hadir menyertainya. Dari sebab itu laskar ini terdiri dari tentara Yesus dan Maria  baik pria maupun wanita yang gagah berani, pantang mundur.[97] Mereka akan memerangi dunia, setan dan kodrat yang telah rusak dalam sebuah zaman tertentu (zaman yang berbahaya).[98] Pertanyaan kita, apakah laskar itu, dan siapakah mereka yang mau berdiri di garda terdepan memerangi dunia yang jahat itu? Agaknya, tidak terlalu berlebihan bila Legio Maria yang didirikan Duff disebut sebagai laskar yang gagah berani itu.[99] Dalam arti ini, kita bisa mengatakan bahwa memang Duff menjadi penerus visiun Montfort tersebut. Ia menjadi pria di zaman ini yang senantiasa mewujudkan ramalan Montfort ini hingga hari ini melalui kehadiran Legio Maria di mana-mana.

Apabila kita melihat ke dalam realitas duniawi saat ini, apa yang disebut dengan sekularisme, liberalisme, ateisme dan munculnya fundamentalisme ekstrim dari kelompok-kelompok kaum radikal dengan membawa bendera agama membunuh sesama umat lainnya (ingat kasus bom bunuh diri baru-baru ini di Surabaya), atau seperti adanya kelompok ISIS begitu menakutkan. Presensi kelompok-kelompok ekstrim ini begitu menggelisahkan dan mengancam keutuhan martabat hidup manusia. Semuanya itu sebetulnya juga ikut menghancurkan beberapa komunitas Kristen di dunia, dan juga bahwa kehadiran mereka semakin menjadi ancaman hebat bagi dunia dan memunculkan penganiayaan terhadap Gereja di Eropa, Amerika Selatan dan Asia. Hal-hal itu pun sungguh menjadi sebuah permenungan yang mendalam bagi kita.[100] Kehadiran Legio Maria sejak 1921 hingga hari ini sekurang-kurangnya ikut mengalirkan kuasa Allah lewat pertolongan Bunda Maria untuk melindungi dunia dari aneka rongrongan jahat tersebut dan kuasa-kuasa kegelapan lainnya.[101] Melalui karya kerasulannya setiap hari, doa-doa mereka – secara diam-diam dengan bantuan rahmat Allah dan pertolongan Ibu Maria – dunia yang jahat dapat diterangi oleh cahaya Kristus, dunia yang jahat dapat dikalahkan, dan ditaklukkan.

Legio Maria hadir sebagai sebuah organisasi rohani yang memiliki sistem kerja yang teratur, rapi dan sistematis. Duff sedari awal telah menanamkan suatu sistem teratur dalam Legio dengan kerangka kerja yang jelas dalam hal kedisiplinan, taktik dan moral.[102]  Kita mengetahui bahwa jiwa Legio ialah jiwa Maria sendiri.[103] Dengan kerangka kerja yang jelas, sistematis, teratur itu, Duff menginginkan agar Legio Maria juga sungguh memerlihatkan efek (pengaruh) yang kuat bagi dunia dengan membawa Maria kepada dunia sebagai sarana yang ampuh untuk merebut hati dunia bagi Yesus.[104] Bagi Duff, seorang legioner yang hatinya jauh dari Maria, jelas sekali tidak bisa memenuhi amanat profetis itu, malahan ia dilihat seperti seorang balatentara yang tidak bersenjata.[105]

Para legioner disebut sebagai laskar Maria, dan sebagai laskar ia bertindak seperti seorang tentara yang maju ke ”medan pertempuran” dengan kekuatan senjata yang lengkap. Kekuatan senjata lain yang tetap dipakainya dalam ”medan pertempuran” itu ialah rosario di tangan kiri dan nama kudus Yesus dan Maria di dengungkan dalam hati.[106] Mengapa nama Kudus Yesus dan Maria harus bergema di dalam hati mereka? Ini penting karena seperti dikatakan Montfort, ternyata setan itu lebih takut dengan Bunda Maria, ”dalam arti tertentu lebih takut akan Maria daripada akan Allah sendiri.”[107]

Sebagai seorang tentaranya Maria, jelas juga seorang legioner di dalam menjalankan tugas dan kerasulannya setiap hari perlu membawa Maria di dalam hatinya. Menurut hemat saya, ini sungguh merupakan sebuah unsur vital, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bila seseorang (legioner) masih mau menyebut dirinya seorang laskar Maria. Itu berarti apapun yang menjadi perintah dan bimbingan ’Sang Jenderal’ atau pemimpin (Maria), ia harus tunduk, taat dan melaksanakannya dengan penuh gembira.

Sebagai ’penerus’ visiun Montfort, jelas sekali bahwa Duff pantas berhutang budi kepada Montfort, karena melalui intuisi spiritualnya, Duff telah berusaha menggemakan, menghidupkan kembali mimpi Montfort dalam sebuah laskar yang dicita-citakan dan didirikannya itu. Dalm arti ini, bila kita ingin melacak lebih dalam semua hal yang telah diungkapkan oleh Montfort dan yang ditegaskan serta dihidupkan kembali oleh Duff dalam buku pegangannya itu, dapat dikatakan bahwa Maria menjadi unsur penting yang tidak boleh dilupakan bahkan diabaikan begitu saja oleh seorang legioner. Mengapa demikian, karena tanpa Maria, ”demikianlah menurut keputusan Allah, jiwa manusia tidak dapat menghadap dan mengerjakan karya Allah.” Sebaliknya, adanya ”hubungan yang erat dengan Maria akan menyebabkan tercapainya pengudusan secara mengagumkan… dan merupakan sumber pengaruh yang dahsyat atas jiwa-jiwa orang lain.”[108]

 

PENUTUP

Setelah kita menelusuri Spiritualitas Montfort dan semangat atau jiwa dari Kerasulan Legio Maria sebagaimana yang dikedepankan (ditekankan) oleh Duff, kita dapat memerlihatkan beberapa catatan atau semacam kesimpulan yang sekurang-kurangnya memetakan secara global apa yang menjadi pertautan di antara keduanya. Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa hal yang dapat digagas di sini.

Pertama, para legioner diajak untuk ”Berguru kepada Sang Pujangga Kepengantaraan Maria”[109], St. Louis Marie Grignion de Montfort. Bila kita membaca dengan baik BP, maka sebetulnya di situ kita akan menemukan suatu undangan yang mendalam yang diharapkan Duff bagi para legioner. Ia mengundang para legioner agar tidak jemu-jemunya membaca dan memelajari tulisan-tulisan Montfort, sang mentornya (guru atau tokoh). Hal ini secara sangat jelas terlihat dalam BP bab XXVII. Di situ dikatakan bahwa para legioner semestinya melakukan Bakti Sejati menurut cara Montfort.[110] Ini penting sekali oleh karena menurut refleksi Duff, Legio Maria seharusnya mengidentifikasikan diri atau menyesuaikan dirinya dengan hidup rohani sebagaimana yang diajarkan oleh Montfort. Dengan kata lain, Duff mau mengatakan bahwa seorang legioner perlu memberi corak istimewa baktinya kepada Maria menurut apa yang diajarkan oleh Montfort. Inilah yang sangat kuat ditekankan oleh Montfort mengenai Bakti Sejati kepada Maria. BP yang diperlihatkan Duff sendiri pun tidak pernah keluar jalur yang sama sebagaimana yang dipikirkan dan diajarkan oleh Montfort. Dari sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa BP sesungguhnya menyambung dengan sangat baik apa yang diajarkan oleh Montfort.[111]

Kedua, Semangat (Roh) Legio Maria ialah ”MARIAL”. Duff sangat menekankan bagaimana seorang legioner meneladani kebajikan-kebajikan Maria Kebajikan-kebajikannya disebut satu persatu olehnya: ”kerendahan hatinya yang luar biasa, ketaatannya yang sempurna, keindahannnya yang laksana malaikat, doanya yang terus menerus, matiraga yang menyeluruh, kemurniannya yang tak bercela, ketaatannya yang gagah berani, kebijaksanaannya yang surgawi, pengorbanannya untuk kasih akan Allah … kebajikannya yang tanpa batas….”[112] Ringkasnya, seorang legioner diharapkan membawa Maria dalam hatinya, artinya menjadikan Maria sebagai Ibu, Ratu yang membimbing dan menuntun seluruh gerak, dinamika hidupnya juga terutama di dalam menjalankan setiap tugas dan pelayanannya. Itu mengandaikan adanya pembatinan dalam dirinya apa yang menjadi nilai-nilai kebajikan dari Maria. Dari sebab itu, janji yang diucapkan setiap legioner pada waktu ”acies” sungguh menjadi momen penyerahan diri para legioner ke dalam tangan Bunda Maria. Apa yang digagas dan direfleksikan Duff tersebut sesungguhnya menggemakan kembali jiwa-semangat atau Spiritualitas Montfort. Dari sebab itu, pada poin ini, pantaslah dan tidak berlebihan bila Duff dikatakan berhutang budi kepada Montfort dan berguru langsung, menemukan sumbernya secara langsung dari Montfort sendiri. Kata-kata Duff tentang peran penting yang ditunjukkan Montfort dalam perkembangan Legio Maria tentu menjadi semacam referensi kuat yang tidak bisa lagi disangkal akan semuanya itu.[113]

Ketiga, Panggilan untuk Menjadi ”KUDUS”. Setiap kaum Kristiani dipanggil untuk menjadi suci, kudus dalam segala hal, tentu dalam hati, pikiran,perkataan dan perbuatan. Konsili Vatikan II melalui dokumennya Lumen Gentium pun secara telak mengumandangkan hal ini. Sumber kesucian dan kekudusannya tidak lain, hanyalah Allah sendiri. Konsili Vatikan II telah memerlihatkan dimensi ini sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Suci sendiri: ”Hendaklah kamu menjadi kudus, samaseperti Bapamu di surga kudus adanya.” (Mat 5:48). Santo Paulus juga dalam suratnya kepada Jemaat di Tessalonika berkata: ”Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu ….” (1 Tes 4:3). Ketika kita mengacuh kepada teks Kitab Suci, sebetulnya di situ kita menjumpai sejumlah referensi tentang ”kekudusan”. Hal pertama yang harus kita pahami di sini ialah bahwa kita memuji dan menyembah kekudusanAllah. Mengapa demikian, karena Allah pada dasarnya mengatasi kekudusan setiap manusia dan malaikat manapun dalam suatu derajat ketakterbatasan (infinite).

Montfort sangat mengedepankan dimensi ini. Ada sekian jalan, cara yang ia tawarkan untuk menempuh jalan itu dan meraih hidup seperti itu menjadi kudus. Salah satunya, dan yang cukup kuat menggema dalam spiritualitasnya ialah devosi kepada Santa Perawan Maria. Melalui devosi itu pula, setiap orang Kristen diajaknya untuk juga mau membaktikan dirinya, menyerahkan seluruh dirirnya, segala harta yang bersifat lahiriah maupun yang batiniah.

Dari sebab itu, ”Pembaktian Diri” kepada Yesus melalui tangan Maria menjadi semacam pintu masuk untuk menghayati ”kesucian” itu karena, melalui tindakan itu pula, seseorang membaharui kembali janji-janji pembaptisannya untuk selamanya menolak segala kuasa setan atas dirinya. Apa yang diajarkan Montfort mengenai jalan kekudusan itu, ternyata juga ikut memengaruhi Duff di kemudian hari. Duff sendiri rupanya sadar sungguh-sungguh akan panggilan kepada kekudusan ini. Apa yang ia katakan dan wariskan dalam Legio Maria sebetulnya merupakan sebuah promosi spiritual kepada setiap orang yang ingin menjadi kudus. Promosi yang ia tawarkan itu melalui  Legio Maria, tentunya bisa dikatakan sebagai sarana yang istimewa untuk senantiasa bertumbuh dalam kekudusan. Hal ini sebetulnya tampak dalam tujuan pendirian Legio Maria ”kemuliaan Allah melalui pengudusan anggotanya yang dikembangkan dengan doa dan kerja kerjasama aktif, di bawah bimbingan Gereja, dalam karya Maria dan Gereja, untuk menghancurkan kepala ular dan meluaskan kerajaan Kristus.”[114] Itulah panggilannya, dipanggil menjadi kudus dan hal itu sudah dimulai sejak pembaptisan. Semuanya itu diketahuinya dari Montfort jauh sebelum Konsili Vatikan II, bukan hanya berusaha bekerjasama dengan rahmat Allah agar dirinya sendiri bertumbuh dalam kekudusan, tapi pada saat yang sama memromosikan kekudusan yang universal dan memobilisasi segala upaya umat ke arah tujuan itu dengan menawarkan sarananya: Pembaktian Diri. Montfort sudah menguraikan hal ini dalam Rahasia Maria no. 3.

Keempat, ”MARIA” adalah Wanita Pilihan Allah, Menjadi ’Opsi’ Kita Semua. Montfort telah mengajak semua umat Kristiani untuk memilih Maria, berdevosi kepadanya untuk semakin dekat dan menyerupai Yesus Kristus. Maria dipilih tidak hanya sekedar sebagai Ibu yang harus dihormati dan dicintai lewat praktik penyerahan diri (Pembaktian Diri), tetapi lebih dari itu, ia (Maria) memainkan peran yang tetap dalam misteri Gereja. Dari sebab itu, pertanyaannya ialah mengapa kita harus memilih Bunda Maria? Pertanyaan ini sesungguhnya membawa kita langsung menyentuh inti dari misteri Inkarnasi, Allah yang menjadi daging (manusia). Sebab selain sebagai “misteri-asali”, “mal atau cetak tuang Allah”. Penjelmaan juga dilihat Montfort sebagai “misteri pola”. Artinya cara atau pola yang dipakai Allah untuk datang pertama kali ke dunia ini akan terus dipakai-Nya pada masa Gereja sekarang, seperti juga untuk kedatangan-Nya yang kedua nanti.

Montfort mengatakan: “pola bertindak yang diikuti ke tiga Pribadi Tritunggal Mahakudus saat Penjelmaan, yaitu datangnya Yesus Kristus yang pertama kali, tetap dipegang Mereka setiap hari di dalam Gereja secara tak kelihatan. Sampai akhir zaman, yaitu saat datangnya Yesus Kristus yang terakhir kali, mereka akan tetap setia kepada pola yang sama.”[115] Sesungguhnya gagasan Montfort ini selaras dengan ajaran Konsili Vatikan II yang menyatakan bahwa peran kebundaan Maria dalam sejarah keselamatan “terus berlangsung tanpa henti sejak persetujuan penuh iman yang dinyatakannya saat diberi kabar dan yang dipertahankannya tanpa ragu di bawah salib, hingga permahkotaan kekal semua umat terpilih.”[116]

Gagasan ini sebetulnya mau menempatkan Maria pada peran yang tetap dan penting. Dikatakan demikian karena kalau pada kedatangan-Nya yang pertama Allah memerlukan Maria, maka pada kedatangan-Nya setiap hari secara rohani pada masa Gereja saat ini (hiect et nunc), seperti juga untuk kedatangan-Nya pada akhir zaman, Allah juga akan selalu memerlukan Maria. Dari sebab itu, Inkarnasi Yesus Kristus tidak pernah dan  berlanjut terus hingga sekarang. Dengan demikian, misteri Penjelmaan, yang dirayakan Gereja pada 25 Maret, merupakan pesta utama praktik “Pembaktian Diri kepada Kristus lewat tangan Maria” ini.[117] Maksudnya adalah untuk merayakan pengilahian kita melalui penghampaan diri Allah yang terjadi melalui Rahim Maria. “Pengilahian” berarti bahwa Yesus Kristus lahir lagi kini dalam diri kita sehingga kita menjadi serupa dengan-Nya.

Montfort berkata: “Allah Putra ingin dibentuk, artinya ingin dilahirkan kembali setiap hari … dalam diri setiap anggota-anggota-Nya…. .”[118] Dengan demikian, Maria Ibu Yesus, haruslah juga menjadi Ibu kita yang akan terus “melahirkan” Putranya dalam diri kita, karena karya Roh Kudus. Apa yang menjadi ajakan Montfort di sini, sesungguhnya juga menjadi ajakan Duff untuk tanpa henti-hentinya menjadikan Maria selain sebagai “pembimbing, penuntun hidup para legioner” (membawa Maria di dalam hatinya oleh karena semangat Legioner ialah Maria sendiri), juga seperti ajakan Montfort untuk bersedia menjadi “hamba” karena “kasih” (pelayan) Maria dalam penyerahan diri yang total kepadanya (setiap pikiran, gerakan, hati, kekayaan rohani, hati nurani terdalam … sampai nafas terakhir).[119]

Apa yang Bisa Dihayati dan Diharapkan dari Legio di Masa-masa Mendatang?

Bila kita melihat buku Pegangan Legio Maria, maka dapat dijumpai tujuan dari perkumpulan Legio Maria yang bisa diformulasikan demikian Legio Maria adalah perkumpulan Kerasulan Awam yang didirikan dengan tujuan membawa anggotanya kepada pengudusan diri di bawah bimbingan Roh Kudus dengan semangat Bunda Maria. Bila memerhatikan tujuan ini, maka ketika seseorang masuk ke dalam perkumpulan ini, maka dia sendiri bersama para legioner lainnya dapat mengaktualisasikan secara konkrit panggilan Tuhan yang telah diterimanya lewat Sakramen Baptis dan Krisma, yaitu setiap orang terpanggil untuk menguduskan diri dan orang lain melalui Doa dan Karya Kerasulan di bawah bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian, panggilan para legioner sebagai Rasul Awam ialah menjadi pribadi-pribadi yang berjiwa merasul dan membantu menjadi semacam “penghubung” antara imam dengan umat. Dalam arti ini, mereka juga dipanggil untuk ikut meringankan tugas imam sebagai pemimpin paroki dalam tugas pelayanan ibadat dan pastoral, khususnya dalam hal “mengunjungi orang sakit” dan “keluarga”. Persatuan erat antara imam dan umat dalam karya pastoral merupakan jaminan bagi kesejahteraan Gereja.[120] Jadi, perkumpulan Kerasulan Legio Maria merupakan wadah untuk membentuk Rasul Awam.[121]

Karya kerasulan seorang legioner atau para legioner akan bertumbuh dan berkembang dengan sangat baik serta memerlihatkan mutu yang mumpuni (bagus, tinggi), apabila anggota Legio Maria berkembang dalam hal kerohaniannya sebagai orang Katolik sejati, yang semakin hari semakin matang dan dewasa dalam iman dan kasihnya kepada Tuhan dan sesama. Sejak awal Kerasulan Legio Maria harus dimulai dari perkembangan rohani dan pribadi para anggota Legio Maria. Hal ini menjadi salah satu unsur yang kiranya baik diingat dan diintegrasikan selalu dalam hidup sehari-hari dalam tugas dan pelayanannya.

Legio Maria selama ini dikenal dengan sistem kerjanya yang sangat teratur atau terorganisir dengan amat baik. Tentu harus diakui dan patut diapresiasi bahwa Legio Maria selama ini telah bekerja dengan keras, malahan bisa dikatakan sangat keras, sangat tekun, begitu bersemangat karena membawa Maria di dalam hatinya. Meskipun demikian – banyaknya kegiatan yang dilaksanakan para legioner dalam bidang kerasulan tersebut – di satu sisi bisa saja menunjukkan hal itu, namun bila tidak disadari dengan baik, sesungguhnya belum tentu memerlihatkan bahwa para legioner sudah berhasil atau bertumbuh subur di dalam penghayatan hidupnya, oleh karena hal itu bisa saja memerlihatkan “kehampaan” hidupnya jika tidak punya dasar hidup rohani yang kuat. Kerohaniannya harus juga ditanam dan diakarkan dalam semangat dasar hidupnya, yakni MARIA. Semangat hidup Bunda Maria perlu selalu menjadi barometer kehidupan atau nafas mereka di dalam karya kerasulan mereka setiap hari.

Montfort telah mengajari Duff bagaimana harus melihat Maria dan menjadikannya sebagai seorang Ibu Rohani, Pembimbing Rohani (Ratu) para legioner. Maria bagi Duff adalah seorang “tokoh besar”, bahkan “sumber inspirasi” dari Kerasulan Legio Maria. Ini berarti Legio Maria harus memiliki Semangat Bunda Maria dan dengan demikian segala karyanya harus didasarkan atas semangat tersebut. Itu berarti seluruh hidup dan panggilannya sebagai legioner harus didasarkan dan digerakkan oleh Spiritualitas Marial sebagaimana yang diharapkan Duff, pendirinya. Dari sebab itu, seorang yang menjadi legioner bukan hanya legioner secara administratif atau menjadi legioner yang disiplin rapat mingguan dan menjalankan tugas-tugas legionernya, tetapi selama seluruh hidupnya ia perlu dan selalu menunjukkan semangat legionernya tersebut sebagai Laskar Maria, tentaranya Bunda Maria secara rohaniah.

Menjadi legioner bukan hanya soal apakah dia sudah sukses berkarya dan merasul (doing), tetapi bagaimana ia mengaktualisasikan seluruh diri dan hidupnya dalam segala dimensi hidup yang dituntut darinya sebagai seorang legioner (being). Itu berarti secara jasmaniah dan rohaniah harus berimbang. Legio itu bukan soal aturan, melainkan soal hidup Kristiani itu sendiri. Seorang legioner akan menjalani hidupnya yang khas, yang adalah seni hidup Kristiani yang optimal, sebuah seni mentransformasi diri sebagai seorang Kristiani, yang betul-betul menyadari keberadaan dirinya (being) sebagai prajurit-prajurit Maria yang siap-sedia “bertempur” memerangi dan bahkan menaklukan dunia dan segala kekuatan jahat di dalamnya. Sebagai laskar Maria, legioner perlu selalu menjadikan Maria sebagai model kerasulan sebagaimana yang diharapkan sendiri oleh Gereja dalam Dekrit Apostolicam Actuositatem no. 4. Dari sebab itu, legioner harus selalu berjuang bersama Maria dengan membawa Maria dalam hatinya, ia menjalankan karya kerasulan karena dorongan Roh Kudus. Inilah kekhasan kerasulannya: “bersatu dengan Maria.” Dari sebab itu, benarlah bila Duff mengatakan bahwa Legio adalah instrument dan perwujudan karya Maria.[122]

Melalui Legio Maria yang kini tersebar di seluruh dunia, karya misioner Montfort sudah, sedang dan akan selalu dilanjutkan, seperti juga pendekatannya yang popular dan pengaruhnya yang luar biasa dahsyat atas banyak orang. Para pria dan wanita yang dengan semangat dan disiplin menghayati peraturan Legio Maria, benar-benar bisa dikategorikan sebagai putra-putri Montfort.

Legio Maria sudah tumbuh dan berkembang di mana-mana termasuk di bumi Indonesia. Karya kerasulan atau pelayanannya juga tentu bisa dirasakan di mana-mana. Setelah kita melihat pertumbuhan dan perkembangannya itu, mungkin kita bisa bertanya apakah sistem kerasulan Legio Maria masih dikatakan tetap aktual dan menarik minat secara khusus perhatian dari kaum muda dewasa ini? Apalagi mengingat, kini di mana-mana di dalam Gereja juga muncul berbagai macam kelompok kategorial (misalnya kelompok karismatik yang juga punya sense, interese terhadap orang kecil, mengunjungi orang sakit) yang memiliki tugas dan pelayanannya yang bisa dikatakan hampir sama dengan Legio Maria. Sementara itu, di pihak lain, kadangkala orang mengatakan bahwa sistem Legio Maria terlalu kaku, ketat dan kering karena tidak diperbolehkan mengubah acara rapat, bahkan doa-doanya sesuai dengan peraturan yang ada. Hal ini, bisa saja menjadi sebuah “kesulitan” tersendiri, dan malahan menjadi tantangan hebat bagi seorang legioner, apalagi di mana-mana juga muncul aneka persekutuan doa yang tampilannya lebih menarik karena kegiatan mereka disertai dengan nyanyi-nyanyian dan puji-pujian. Kehadiran mereka bisa saja lebih menghibur dan menyentuh hati bagi orang-orang yang dikunjungi (orang sakit,dll.). Apakah hal semacam ini juga pernah menjadi sebuah kesadaran umum dari para legioner? Apalagi dalam Legio Maria tidak ada gerakan untuk mendalami Kitab Suci dan mungkin dalam mendaraskan doa-doa spontan juga masih kurang lancar.

Kita semua tentu menginginkan agar para legioner tetap antusias dan semangat dalam karya kerasulan dan hidup rohaninya. Sekalipun sistem kerjanya tampaknya terlalu kaku, ketat dan bisa saja terlihat kering, dan berhadapan dengan aneka tantangan lainnya (eksternal maupun internal), apalagi umat sendiri juga punya tingkat kesibukan pribadi yang tidak kalah menyita perhatiannya, seorang legioner tetap dipanggil dan diharapkan menjadi seperti apa yang dikatakan Duff ‘instrument dan perwujudan karya Maria’, menjadi Laskar Maria yang tidak pernah lelah, capek, bosan, dalam menghidupi karya kerasulannya dan panggilannya sendiri sebagai legioner sejati.

Demikianlah satu-dua pikiran yang bisa digali dari perjumpaan yang mengagumkan antara Spiritualitas Montfort dengan Spiritualitas Legio Maria yang diajarkan oleh Duff, Sang Mentor, Pendiri Legio Maria. Kiranya ajaran Montfort yang kemudian dibahasakan kembali oleh Duff dalam Legio Maria yang didirikannya semakin hari semakin menginspirasi dan mengajak seluruh umat Kristiani untuk terus berjuang di jalan kekudusan menuju keserupaan paripurna dengan Yesus Kristus melalui Bunda Maria.

Apa saja yang telah direfleksikan dalam tulisan ini tentang pertautan antara spiritualitas Montfort dengan Legio Maria sebetulnya masih jauh dari sempurna, artinya masih terbuka untuk didiskusikan dan dipelajari lebih lanjut. Bisa saja temuan-temuan baru dari hasil studi lebih lanjut atasnya, dapat semakin memerkaya pemahaman kita semua.

 

LAMPIRAN:

SELAYANG PANDANG TENTANG SANTO LOUIS-MARIE GRIGNION DE MONTFORT (1673-1716)[123]

Montfort adalah anak sulung dari pasangan Jean-Baptiste Grignion (1647-1716) dan Nyonya Jeanne Robert (1649-1718). Ia lahir pada tanggal 31 Januari 1673 di kota Montfort, tidak jauh dari kota Rennes di wilayah Brittany, Perancis Barat. Ayahnya, seorang pengacara. Ibunya mempunyai dua saudara yang menjadi imam.[124] Para penulis sejarah tidak mencatat banyak hal tentang masa kanak-kanaknya. Meskipun demikian, buku pembaptisan dan kematian, yang masih tersimpan di Iffendic, dapat berceritera banyak tentangnya.[125] Setelah Montfort menyelesaikan tahun-tahun pertamanya dengan anggota keluarganya, ia masuk ke Sekolah yang dikelola oleh para Yesuit (Jesuit School- College de Rennes), St. Thomas Becket, di Rennes selama delapan (8) tahun (1685-1693).[126]

Setelah menamatkan pendidikannya di Rennes, Montfort melanjutkan pendidikannya di Seminari Saint Sulpice (1695-1700). Montfort adalah seorang yang tekun dan rajin membaca serta membuat sintesis atas apa yang telah dibacanya. Ketika bekerja sebagai petugas perpustakaan di Seminari St. Sulpice, ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk membaca buku-buku. Kesempatan yang berharga itu ia gunakan untuk mendalami Kristologi, Pneumatologi dan Eklesiologi serta Mariologi. Ia juga membaca dan mendalami pemikiran para Bapa dan Pujangga Gereja. Hasil bacaan dan pemikiran mereka dirangkumnya dalam Le Cahier de Notes (Buku Catatannya). Selain membaca tulisan mereka, Montfort membaca pula tulisan rohani para pengarang dari aliran Spiritualitas Bérullian (Mazhab Perancis) yang turut meresapi hidup rohaninya.[127] Ada empat tokoh yang menjadi pilar penting Mazhab Perancis, yakni, Bérulle (+1629), Condren (+1642), J. J. Olier (+1657) dan J. Eudes (+1680).[128]

Selain para tokoh di atas, masih ada tokoh-tokoh lain dari mazhab ini, yakni: Vincent de Paul (+1660), Mère Madaleine de Saint Joseph (+1637), Marguerite du Saint-Sacrament of Beanune (+1648), Marguerite du Saint-Sacrament of the Carmel of rue Chapon (1590-1660), François Bourgoing (1585-1661), Paul Métézeau (+1632), Claude Seguenot (+1673), Louis Lallement S.J. (+1635), Louis-Tronson (1622-1700), Jean-Baptiste de La Salle (+1719), dan Louis-Marie de Montfort (+1716).[129]

Montfort hidup pada zaman di mana Mazhab Perancis begitu kuat memengaruhinya. Pengaruh ini terasa sekali ketika ia masuk ke dalam lingkungan Seminari St. Sulpice (1692-1700), sebuah seminari yang sangat terkenal di bidang formasi pendidikan bagi calon imam di Eropa dan bahkan mungkin seluruh Eropa pada waktu itu.[130] Ada beberapa penulis atau pengarang rohani di zaman Montfort yang memengaruhi perjalanan hidup rohaninya, meskipun pada akhirnya, ia sendiri berusaha menghayati gaya hidupnya secara khas, a la dia sendiri. Misalnya, tentang kenosis  yang ia hayati dan refleksikan dalam tulisannya yang mengalir dari misteri Inkarnasi dan Salib Kristus.[131] Ia merenungkan misteri-misteri itu tidak lepas dari konteks di mana ia hidup, karena ia adalah anak  zamannya.

Sebagian besar pemikiran dan gaya hidup Montfort dipengaruhi oleh Mazhab Perancis[132] yang dipelopori oleh Kardinal Pierre de Bérulle (+ 1629). Ada banyak tema yang direfleksikan oleh mazhab ini tentang Allah dan manusia. Salah satu tema dasar, yang menjadi pusat pemikiran dari mazhab ini adalah inkarnasi. Inkarnasi ini sering disebut sebagai misteri pengosongan diri Allah.[133]

Montfort pernah mengenyam pendidikan di Universitas Sorbonne,[134]akan tetapi kemudian ia diminta untuk belajar sendiri di perpustakaan seminari sambil mendiskusikan hasil studinya dengan para pembimbingnya, sampai ia ditahbiskan imam pada 5 Juni 1700 oleh Mgr. Bazan de Flamenvile. Sesudah menjadi imam, ia bergabung pertama kali dengan tim misi yang dipimpin oleh Pater Lévêque di Nantes (1700- November 1701), kemudian ia berkarya di wisma tunaharta di Poitiers (1701-1706) meskipun di sela-selanya, pada 1703, ia juga pernah berkarya di tempat penampungan para ‘sampah masyarakat’ kota Paris, di La Salpêtrière. Montfort kemudian berjumpa dengan Marie-Louise Trichet yang kemudian akan menjadi co-pendiri Tarekat Putri-putri Kebijaksanaan (Daughters of Wisdom-DW).

Pada tahun 1705, Montfort berjumpa  dengan Bruder Mathurin di Montbernage yang menjadi anggota pertama Serikat Maria Montfortan (SMM), yang beranggotakan para imam dan bruder, yang dalam perkembangannya memiliki cabang khusus untuk para bruder yang disebut para Bruder Santo Gabriel (SG). Ketiga tarekat ini sekarang bekerja di lima benua. Di Indonesia terdapat dua tarekat yakni, SMM (1939-sekarang) dan DW (2003-sekarang).

Pada 6 Juni 1706, Montfort – setelah melakukan perjalanan kaki yang cukup panjang sepanjang ratusan kilometer dari Paris ke Roma – beraudiensi secara pribadi dengan Paus Klemens XI untuk meminta petunjuk lahan karya misi yang cocok untuk ditanganinya kelak. Bapa Suci menunjuk Perancis sebagai medan karya misionernya. Melihat antusiasme yang begitu besar dari diri Montfort untuk melayani umat, Bapa Suci menjulukinya sebagai “Misionaris Apostolik” di negaranya sendiri.

Montfort tekun melaksanakan karya misinya misalnya melayani orang-orang kecil, orang sakit, orang miskin dan iapun begitu giat membaharui janji-janji baptis umat yang dilakukannya dengan meletakkan semua janji itu dalam tangan Bunda Maria sebagai jaminan kesetiaan. Sejak tahun 1706 hingga kematiannya, Montfort tampil menjadi seorang misionaris aktif yang tak jemu-jemunya melayani umat dan membawa umat kepada cara hidup Kristiani yang benar. Montfort melaksanakan kurang lebih 200 karya misi di berbagai keuskupan di wilayah Perancis Barat antara lain, Keuskupan Rennes, Saint Malo, SaintBrieuc, Nantes, Luçon, La Rochelle,,dll. Ia bermisi di tengah umatnya dari paroki yang satu ke paroki yang lain. Di dalam karya pelayanannya itu, ia tekun membangun sebuah bukit kalvari di Ponchateau[135]

Selama 16 tahun menjadi imam, Montfort menulis begitu banyak karya tulis dan beberapa di antaranya merupakan karya monumental di bidang Kristologi, Mariologi dan Spiritualitas Imamat-misioner: Cinta dari Sang Kebijaksanaan, Surat kepada Sahabat-sahabat Salib, Kidung, Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria, Rahasia Maria, Rahasia Rosario, Doa yang Menggelora untuk memohon para misionaris. Di samping itu, Montfort juga menghasilkan aneka karya tulis dan karya seni lainnya.[136] Montfort meninggal tatkala sedang menjalankan karya misinya di Saint Laurent-sur-Sevre, Perancis dalam usia 43 tahun, tepatnya 28 April 1716. Hari Rayanya kini diperingati juga dalam Kalenderium Liturgi Gereja, yakni 28 April sebagai hari peringatan kematiannya. Enam thun sebelum wafatnyam yaitu 1710, sebagai Imam Projo, Montfort memilih menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan (OP).

Waktu terus bergulir, dan seiring dengan itu, hembusan angin segar pun mendatangi keluarga besar Montfortan di seluruh dunia. Montfort, sang mentor mereka, oleh Gereja perlahan-lahan dimasukkan ke dalam jajaran orang suci. Ia dinyatakan sebagai Beato oleh Paus Leo XII pada 22 Januari 1888 dan dinyatakan sebagai Santo oleh Paus Pius XII pada 20 Juli 1947. Pada 25 Maret 1987, Paus Yohanes Paulus II dalam Ensikliknya, Redemptoris Mater, menyebut Montfort sebagai “Saksi dan Guru Spiritualitas Marial Sejati” (RM 48). Dalam khotbahnya, saat berziarah ke makam St. Louis-Marie Grignion de Montfort di Saint Laurent-sur-Sèvre, pada 19 September 1996, Bapa Suci berkata bahwa Beliau sangat berhutang budi kepada St. Montfort dan kepada karyanya, Traktatnya tentang Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria. Berikut ini, salah satu pernyataan Beliau atas percikan kharisma, spiritualitas Santo Montfort sebagaimana yang ia temukan dan refleksikan dalam buku Rahasia Maria dan Bakti Sejati kepada Maria. Beliau menulis:

“As is well known, my episcopal coat of arms symbolically illustrates the Gospel text quoted above; the motto Totus tuus is inspired by the teaching of St Louis Marie Grignion de Montfort (cf. Gift and Mystery, pp. 42-43; Rosarium Virginis Mariaen. 15). These two words express total belonging to Jesus through Mary: “Tuus totus ego sum, et omnia mea tua sunt”, St Louis Marie wrote, and he translates his words: “I am all yours, and all that I have is yours, O most loving Jesus, through Mary, your most holy Mother” (Treatise on True Devotion, n. 233). This Saint’s teaching has had a profound influence on the Marian devotion of many of the faithful and on my own life. It is a lived teaching of outstanding ascetic and mystical depth, expressed in a lively and passionate style that makes frequent use of images and symbols. However, the considerable development of Marian theology since St Louis Marie’s time is largely due to the crucial contribution made by the Second Vatican Council. The Montfort teaching, therefore, which has retained its essential validity should be reread and reinterpreted today in the light of the Council”.[137]

Selanjutnya, pada tahun 2002 yang lalu, Montfort juga disebut Paus yang sama dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, no. 8 sebagai salah seorang saksi kudus yang mengalami Doa Rosario sebagai “jalan sejati untuk menghayati kekudusan.” Setelah kepergiannya, nama Montfort terus dikenang baik oleh para Montfortan, para awam yang menimba semangat hidup dan spiritualitasnya maupun oleh Gereja sendiri. Montfort dikenal pula sebagai salah seorang pembela Mariologi melawan paham Yansenisme.[138] Dalam usia imamatnya yang cukup singkat (16 tahun), ia telah menghasilkan begitu banyak karya monumental. Salah satu karyanya yang amat terkenal ialah “Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria” (Traité de la Vrai Devotion à la Sainte Vierge). Tulisannya ini sebetulnya mampu menyatukan banyak tulisan dan ajaran para kudus mengenai Maria sebelumnya. Montfort memakai model pendekatan “penyucian (pembaktian) menyeluruh kepada Yesus Kristus melalui Maria” (Pembaktian Diri kepada Yesus melalui Maria) memiliki sebuah pengaruh yang kuat bagi devosi Maria baik di dalam kegiatan-kegiatan masyarakat umum maupun di dalam spiritualitas para ordo atau tarekat, organisasi rohani.[139]

Salah satu pengikutnya yang terkenal adalah Paus Yohanes Paulus II. Menurut surat apostolik-nya Rosarium Virginis Mariae, motto pribadi Sri Paus “Totus Tuus” terinspirasi oleh doktrin Santo Montfort mengenai keunggulan devosi kepada Maria dan penyucian menyeluruh, di mana ia mengutip:

“Seluruh kesempurnaan kita terdiri dari hal ini, bahwa kita serupa dengan Yesus Kristus, bersatu dengan-Nya dan dibaktikan kepada-Nya. Dari situ jelas sekali bahwa devosi yang paling sempurna adalah devosi yang secara paling sempurna membuat kita serupa dengan Yesus Kristus, mempersatukan kita dengan-Nya dan membaktikan diri kita kepada-Nya. Nah, dari semua makhluk, Maria adalah yang paling serupa dengan Yesus Kristus, sehingga tidak ada satu pun devosi yang lebih membaktikan seorang manusia kepada Tuhan dan membuatnya serupa dengan-Nya daripada devosi kepada Bunda-Nya yang suci. Jadi, semakin orang dibaktikan kepada Maria, semakin pula dia dibaktikan kepada Yesus Kristus.”[140]

Dalam sebuah amanat kepada para Imam Montfortan, Sri Paus juga mengatakan bahwa karya tulis “Devosi Sejati kepada Maria” adalah sebuah titik balik sangat penting dalam hidupnya. Gema pengaruh misionaris ulung dan penghormat Maria ini atas kehidupan Paus juga dapat kita temukan dalam dokumen resmi seperti Redemptoris Mater (Bunda Sang Penebus), sebuah ensiklik yang ditulis untuk Tahun Maria (1987-1988). Ketika berbicara mengenai devosi Marial, Paus sangat memromosikan (menonjolkan) “tokoh Santo Louis-Marie Grignion de Montfort”, yang mengusulkan “Pembaktian Diri kepada Kristus melalui tangan Maria” sebagai sarana yang efektif bagi umat Kristiani untuk menghayati janji-janji baptisnya dengan setia” (RM No. 48).

Belakangan ini, setelah melihat “geliat” atau “passion” Montfort yang begitu besar di dalam hidup pribadi dan karya pelayanannya di tengah-tengah umat di masa lampau serta kharisma rohani dan ajaran-ajarannya (Teologi, Mariologi, Kristologi, Pneumatologi, dll.,), muncul semacam keinginan dan upaya baik dari para Montfortan sendiri maupun dari biarawan lainnya untuk memromosikannya sebagai seorang Pujangga (Doktor) Gereja. Salah seorang yang mengajukan hal ini ialah Pater Francois-marie Lethel, OCD,[141] Professor di Teresianum – Roma dan Anggota Akademi Kepausan untuk Teologi. Ia memohon secara khusus kepada Paus Yohanes Paulus II, agar menyatakan St. Louis-Marie Grignion de Montfort sebagai Pujangga Gereja. Hanya saja usaha ini, sampai dengan hari saat ini belum menemukan titik terangnya, apalagi Bapa Suci itu sudah meninggal dunia.

Pengaruh dari Montfort ternyata juga tertanam kuat dalam diri seorang pria awam yang mempunyai semangat kerasulan doa yang tinggi yakni, Duff pendiri Legio Maria. Seperti sudah dijelaskan dalam tubuh teks apa kesan dan pandangan Duff sendiri, baiklah kita mengutip kembali kata-kata kesaksian yang menunjukkan pengaruh spiritual Montfort bagi dirinya: “… dapat dipastikan bahwa buku pegangan ini penuh dengan semangat jiwanya. Doa-doa Legio menggemakan kembali kata-katanya. Ia sungguh-sungguh guru dari Legio….”[142]

Spiritualitas Montfort ternyata tidak hanya memengaruhi beberapa orang yang sudah disebutkan sebelumnya, termasuk Paus Yohanes Paulus II tetapi juga secara sporadis menginspirasikan kelahiran banyak gerakan kerasulan awam dalam Gereja. Mereka menghayati spiritualitasnya, malahan ada yang mengangkatnya menjadi pelindung dan mencantumkan namanya dalam Anggaran Dasar atau Konstitusi mereka.[143]

  1. SELAYANG PANDANG TENTANG FRANK DUFF (1889-1980)

Duff lahir di Dublin, Irlandia pada 1889. Ia anak sulung dari tujuh orang bersaudara keturunan John Duff (meninggal 23 Desember 1918) dan Susan Letitia (meninggal 27 Februari 1950). Keluarga ini tinggal di Jl. St. Patrick, Drumcondra, Dublin.[144] Tentang pendidikannya, sesungguhnya Duff tidak pernah mengenyam pendidikan di sebuah sekolah nasional (pemerintah). Pertama-tama ia mengikuti sebuah sekolah privat di daerahnya, sebuah sekolah khusus untuk anak laki-laki, ini seperti sebuah sekolah kursus yang sangat umum pada waktu itu. Selanjutnya, ia masuk ke Kolese Belvedere selama satu tahun. Pada 1899, tatkala keluarganya pindah ke Dun Laoghaire, ia mendaftarkan diri sebagai seorang murid di Kolese Blackrock. Selama masa-masa ini, ia memersiapkan diri untuk menerima pengakuannya yang pertama dan komuni yang pertama.

Dari masa kecilnya, bisa dilihat bahwa Duff memiliki sikap hati yang lemah-lembut dan punya kesadaran yang penuh. Dia juga dikenal sebagai seorang yang luar biasa jujur, tulus hati dan punya pikiran yang jernih akan kebenaran. Selama berada di kolese itu, Duff sungguh-sungguh dididikdengan baik, ia diajari banyak hal yang berguna untuk hidupnya. Pada usia 12-13 tahun, Duff memelajari lima bahasa yakni, Bahasa Irlandia, Inggris, Yunani, Latin dan Perancis di kolese itu. Dari beberapa penulis, dikatakan bahwa Duff tampil memesona dan menjadi semacam bintang di kelasnya, terutama di Kelas Bahasa (Irlandia). Pernah pada suatu ketika guru tutornya memuji kemampuan akademis Duff terutama dalam penguasaan yang begitu baik tentang Bahasa Irlandia dan dalam ujian-ujian yang diikutinya. Sekalipun Duff dipuji-puji seperti itu, ia tetap rendah hati, sehingga tidak mengherankan, di akhir dari pendidikannya itu, ia dianugerahi semacam medali atau bintang penghargaan baginya.[145]

Pada usianya yang ke-18, ia masuk ke sebuah Pelayanan Sipil, dan bekerja di bagian ‘departemen keuangan.’[146] Selama bekerja di kantor keuangan itu, Duff benar-benar mengabdikan dirinya secara total. Aktivitas di kantor yang super menyibukkan itu, ternyata tidak juga mengurangi antusiasmenya untuk aktif melayani (bekerja) di luar jam kantor. Delapan tahun kemudian pada usia 24 tahun, ia bergabung atau menjadi anggota S.S.P. (Saint Vincent de Paul Society), Serikat Santo Vinsensius yang didirikan oleh St. Vincentius a Paulo (Vincent de Paul).[147] Selama berada di dalam serikat itu, Duff ikut memerlihatkan dan sekaligus juga merehabilitasi situasi yang menyedihkan dan memerhatikan realitas kemiskinan di Dublin pada saat itu.[148] Duff sendiri mengatakan bahwa kadangkala perhatian kepada orang-orang miskin itu begitu kuat, apa yang menjadi kebutuhan rohani (spiritual) mereka terabaikan. Kesan inilah yang ternyata begitu kuat mengakar dalam dirinya sehingga tidak bisa diragukan lagi kalau ketika orang mengatakan bahwa Duff begitu teguh menjalankan nasehat Yesus dalam Mat 25:40.

Selain situasi kemiskinan melanda masyarakat, apa yang disebut dengan alkoholisme dan praktik prostitusi pun tampak menjamur di Dublin. Duff sendiri bergabung di dalamnya dan segera setelahnya, ia menjabat sebagai President Konferensi St. Patrik yang diselenggarakan di Paroki St. Nikolas (di Myra House). Duff berkonsentrasi penuh pada orang-orang yang secara materi dan spiritual kehilangan arah dan pegangan hidup.[149]

Pada tahun 1916, ketika ia berumur 27 tahun, Duff mempublikasikan karya tulisnya yang pertama, yaitu Can we be Saints? Tulisan itu memerlihatkan bahwa semua orang tanpa kecuali dapat menjadi kudus dan bahwa melalui iman Kristiani, semua orang juga dapat memeroleh jalan menuju kesucian itu.[150]

Pada tahun 1920, Duff diberi kepercayaan dari pihak pemerintah sebagai manajer (kepala) utusan nasional untuk London yang membicarakan tentang Pakta Perjanjian Kemerdekaan bagi Irlandia. Saat itu, sebagai salah satu di antara para utusan lainnya yang bertugas untuk berunding soal kemerdekaan untuk negaranya, ia samasekali tidak memegang senjata demi melindungi dirinya. Selama perjalanan ke London, Duff memakai nama samaran, F. S. Mitchel, yang belakangan kemudian nama itu ia pakai secara khusus sebagai  nama di atas sebuah kertas. Pada waktu itu, Duff diberi kepercayaan khusus bekerja sebagai sekretarisnya Michael Collins, seorang Kepala Tentara Nasional Irlandia.[151]

Pada tahun 1921, Duff mendirikan sebuah perkumpulan rohani, sebuah organisasi kerasulan awam. Bagaimana persisnya itu didirikan, hanya Duff yang tahu dengan pasti. Dari literatur yang ada, dikatakan bahwa sesungguhnya ia terinspirasi oleh tulisan Santo Montfort tentang Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria,[152] sehingga kemudian memengaruhinya (secara spiritual-rohani) untuk mendirikan the Legion of Mary (Legio Maria). Pada tanggal 7 September 1921, malam menjelang Pesta Kelahiran Bunda Maria, Duff, Pater Michael Toher, seorang imam dari sebuah Keuskupan Agung Dublin, dan 15 wanita berkumpul di Myra House untuk mendiskusikan bagaimana kelompok mereka ini dapat lebih meningkatkan pelayanannya kepada orang miskin, sakit, dan terlantar.[153]Ada dua tujuan utama Duff mendirikan kerasulan awam tersebut, yakni pertama, soal pertumbuhan dan perkembangan spiritual (rohani) dari para anggotanya dan

Kedua, meluaskan Kerajaan Yesus Kristus melalui tangan Maria.[154] Perjalanan hidup, pertumbuhan dan perkembangan legio mulai dari awal berdirinya hingga saat ini tidak mudah, ada sekian hambatan dan tantangan yang terus menghadangnya, baik dari pihak awam maupun pihak imam yang kurang setuju dengan pekerjaan mereka yang menanggung resiko dan bahaya tetapi Legio Maria tetap hidup sampai saat ini. Meskipun demikian, ternyata Duff dan para pengikutnya tidak mengenal rasa “lelah” dan “putus asa.”

Duff sadar bahwa segala kegiatan yang dilakukan para pengikutnya semata-mata diilhami oleh Bunda Maria. Dari sebab itu, ia mulai memikirkan sebuah nama umum bagi gerakan kerasulan ini. Nama “Maria” menjadi pilihannya dan ia pun terinspirasi oleh sebuah gambar Maria maka kemudian ia menamai perkumpulannya dengan nama “Legio Maria”. Duff melihat Legio Maria sebagai suatu pasukan tentara yang penuh semangat, yang dikerahkan untuk mendatangkan Kerajaan Tuhan di seluruh dunia. Tentara Maria inilah yang akan menggantikan “pedang” dan “Sabda Tuhan” sebagai senjata. Para legioner ingin berbakti dan melayani Ratu Surgawi dengan kesetiaan, kebajikan dan keberanian. Untuk itulah, Legio Maria kemudian disusun dan diorganisasikan menurut model tentara Romawi. Segala struktur, sistem dan disiplinnya diatur mirip model struktur ketentaraan Romawi, tetapi senjata dan tujuannya tidak bersifat duniawi. Medan pertempuran para legioner awal ialah rumah-rumah sakit, keluarga, tempat-tempat hiburan dan lorong-lorong gelap.[155]

Sampai dengan hari ini, Legio Maria tersebar di mana-mana di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan berjumlah kurang lebih empat (4) juta anggota yang aktif dan sepuluh (10) juta anggota auxilier. Semuanya itu tersebar di 200 negara,[156] secara khusus di 2000 keuskupan di seluruh dunia.[157]

Pada tahun 1965, Paus Paulus VI mengundang Duff untuk mengikuti Konsili Vatikan II sebagai seorang pengamat awam. Pada waktu itu, Duff memromosikan devosi kepada Hati Kudus Yesus sebagai sebuah kerasulan dari Legio Maria. Ia mengambil kata “Hati” dari kata-kata Tuhan sendiri ketika Ia menampakan diri-Nya kepada Santa Margareta Marya Alacoque: ”My Heart is so inflamed with Love for men that it is no longer able to keep within itself the flames of its burning love. It must make itself known unto men to enrich them with the treasures it contains.” Selama berada di Vatikan, Duff ternyata diberi kesempatan khusus untuk beraudiensi secara langsung dengan Bapa Suci pada 11 Desember 1965. Bapa Suci berkata kepadanya: “Mr. Duff, I want to thank you for your services to the Church and also to express appreciation for all that the Legion of Mary has done.” Menarik bahwa kata-kata dukungan dan apresiasi penuh atas dedikasi dan pelayanan Duff melalui Legio Maria bagi Gereja Katolik sungguh berkesan di hatinya. Tanpa ragu-ragu dia pun membalasnya dengan berkata: “The Legion of Mary … two names that will be forever linked together in the Church’s history of the Lay Apostolate of the 20th century… two names spiritually related to St. Louis de Montfort and his apostolic form of Marian spiritually, leading souls to Jesus through Mary.” Audiensi dengan Bapa Suci merupakan sebuah pengalaman indah yang tidak akan pernah ia lupakan.

Akhirnya, pada usianya yang ke-91, tepatnya tanggal 7 November 1980, Duff menghembuskan nafasnya yang terakhir di Dublin.Oleh karena karya kerasulannya yang luar biasa itu, tidak mengherankan, muncul upaya-upaya untuk segera menjadikannya dalam daftar bilangan para kudus. Upaya ini pernah dipromosikan oleh Uskup Agung Dublin, Kardinal Desmond Connell pada tahun 1996.[158]

 

 

DAFTAR BACAAN:

Dokumen Gereja

Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana, Obor, Jakarta 2002.

 

Tulisan-Tulisan Santo Montfort:

De Montfort, Louis-Marie Grignion, Rahasia Maria (Le Secret de Marie), terj. SMM Bandung, Bandung, 1993.

________, Doa Menggelora dalam Montfortan Masa Kini, terj. SMM Bandung, Bandung 1994.

________, Cinta dari Kebijaksanaan Abadi (L’Amour de la Sagesse Éternelle), terj. SMM Bandung, Bandung, 2004.

________, Rahasia Rosario, terj. Obor, Jakarta 2007.

________, Bakti Sejati kepada Maria (Traité de la Vrai Dévotion à la Sainte Vierge), terj. Mgr. Ishak Doera, Pr, Bandung 2009.

 

Tulisan-Tulisan Yang Berkaitan Dengan Spiritualitas Santo Montfort

Artikel:

Aumann, J., “Path of Perfection” dalam Stefano de Fiores (ed.) Jesus Living in Mary, Handbook of the Spirituality of St. Louis Marie de Montfort, Bay Shore, New York: Montfort Publications, 1994.

Charest, R. M., “Legion of Mary”, dalam Stefano de Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994.

Gaffney, Patrick, An Overview of the Spirituality of Saint Louis de Montfort, dalam: God Alone. The Collected Writings os St. Louis Mary de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, NY 11706, 1987.

_______, “Consecration” dalam Stefano de Fiores (ed.) Jesus Living in Mary: Handbook of the Spirituality of St. Louis-Marie de Montfort, Bay Shore, Montfort Publications, NY 1994.

  1. Payne, Richard, “Incarnation”, dalam Stefano de Fiores (ed.) Jesus Living in Mary: Handbook of the Spirituality of St. Louis-Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994.

Léthel, François-Marie, “Spiritual Theology of St. Louis-Marie Grignion de Montfort, The Love of Jesus Christ in Mary”, dalam Sedes Sapientie, Seminari Montfort, Malang 2006.

Peeters, Wim, ”Bukalah Pintu bagi  Yesus Kristus, Spiritualitas Santo Montfort dan Legio Maria” dalam Seminari Montfort (ed.), Menjelajahi Dunia, Menyelamatkan Sesama,Open House Seminari Montfort ‘Pondok Kebijaksanaan’, 26-28 April 2008, Seminari Montfort, Malang 2008.

Suhardi, Arnold, Guru Legio Maria: St. Louis-Marie de Montfort, Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya”, dalam Seminari Montfort (ed.), Menjelajah Dunia Menyelamatkan Sesama, Open House Seminari Montfort ‘Pondok Kebijaksanaan’, 26-28 April 2008, Seminari Montfort, Malang 2008.

 

Buku:

Beiting, Ralph W., Tanya Jawab tentang Bakti Sejati kepada Maria, terj. Ludofikus Ndona, Serikat Maria Montfortan Delegasi Indonesia, Bandung, 2003.

Cortinovis, Battista, Montfort Pilgrim in the Church, terj. Bross Julien Rabiller at al., St. Gabriel Press, Rome 1997.

Gentle, Rev. Judith Marie, Jesus Redeeming in Mary, The role of the Blessed Virgin Mary in Redemption According to St. Louis-Marie Grignion de Montfort, Bay Shore, NY: Montfort Publications, 2003.

Hechtermans, Hub, Seluruhnya atau Tidak Sama Sekali, terj. Serikat Maria Montfortan, Bandung: Pusat Spiritualitas Maria, 2005.

Muto, S. A., in the Preface to W. A. Thompson, Bérulle and the French School, New York: Paulist Press, 1989.

Paulus, Yohanes, Melintasi Ambang Pintu Harapan, terj. Obor, Jakarta: Obor, 1995.

Suhardi, Arnold, Santo Louis-Marie Girgnion de Montfort, Guru dan Pembimbing Rohani Sepanjang Zaman, Marian Centre Indonesia, Jakarta 2004.

Thompson, W. A., Bérulle and the French School, Paulist Press, New York 1989.

 

Majalah:

Queen of All Hearts, Edisi Maret-April, 1957.

 

Skripsi:

Wotan, Fidelis Bolo, Salib adalah Kebijaksanaan dan Kebijaksanaan adalah Salib (Skripsi), Tinjauan Teologis atas Salib Menurut St. Louis-Marie Grignion de Montfort, STFT Widya Sasana Malang, Malang 2008.

 

Tesis:

Wotan, Fidelis Bolo, Kenosis: Jalan Transformasi Diri, Kajian Teologi Spiritual Menurut St. Montfort dan Aktualitasnya bagi Umat Kristiani Dewasa Ini (Tesis), STFT Widya Sasana, Malang 2011.

 

Tulisan-Tulisan Yang Berkaitan Dengan Legio Maria Dan Frank Duff

Buku:

Bradshaw, Robert, Frank DuffFounder of the Legion of Mary, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1985.

Chang, Teresa 8 Senjata Rahasia Prajurit Legio Mariae Memenangkan Peperangan Rohani, Kanisius, Yogyakarta 2010.

Duff, Frank, The Montfort Way, Publisher Catholic Truth Society of Ireland, Ireland 1959.

________, Legio Mariae (Buku Pegangan Resmi Legio Maria), Ed. Revisi Cet. Thn. 1993, terj. Team Senatus Malang, 1993.

________, Legio Mariae (Buku Pegangan Resmi Legio Maria), Ed. Revisi Cet. Thn. 1999, terj. Team Senatus Malang, 1999.

Widayaka, J. Mengenal Legio Maria, Malang: Senatus Malang, t.t.

 

Situs Internet:

Http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Duff. (Diakses pada 4 Februari 2015, pkl 21.30).

Http:www.arlingtonregi.com/Legionsaints/frunkduff.html+Montfort+duff&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id. (Diakses pada 24 Februari 2015, pkl.10.00).

Http://felixkurniawan.wordpress.com/category/Legio-Maria. (Diakses pada tanggal 28 Februari 2015, pkl. 10.00).

Http://w2.vatican.va/content/john-paul-ii/en/letters/2004/documents/hf_jp-ii_let_20040113_famiglie-monfortane.html. (Diakses pada tanggal 13 September 2018, pkl. 14.01).

 

[1] Tulisan ini pernah saya presentasikan menjelang Perayaan 75 Tahun SMM di Indonesia (2015) dalam sebuah seminar marial yang diselenggarakan oleh Panita Perayaan (SMM Regio Flores) dalam kerjasamanya dengan para legioner di Kota Ruteng. Tulisan ini sudah direvisi kembali dalam beberapa bagian.

[2] Sesungguhnya, bila saya membuka kembali file ingatanku, dulu ketika masih duduk di bangku SD kelas 3 saya pernah ikut kegiatan Legio Maria di kampung halaman saya (Pulau Solor, Flores Timur). Pada waktu itu saya masuk dalam sebuah presidium legio bukan sebagai anggota tetap, tapi hanya ikut-ikutan rame saja dengan teman-teman. Pengalaman pertama yang masih saya ingat ialah bagaimana kami diajak untuk berdoa Tessera. Pada waktu itu, saya sendiri ikut mengucapkan nama St. Louis de Montfort, tanpa kemudian pada suatu ketika saya malah menjadi pengikutnya dalam Kongregasi Maria Montfortan (SMM).

[3] Pada periode 2003, sewaktu masih frater skolastik, saya pernah juga diminta untuk menjadi APR (Asisten Pembimbing Rohani) dari Presidium ‘Sumber Sukacita’ – Bandung.

[4] Duff seakan sudah tahu apa yang harus dia katakan sendiri (mungkin karena hasil studi dan bacaannya tentang tulisan-tulisan Santo Montfort, misalnya Bakti Sejati kepada Maria,dlsb.,) bahwa Santo Montfort sangat memengaruhinya sehingga kemudian ia sendiri berani berkata demikian: “Buku pegangan penuh dengan semangat jiwanya, doa-doa legio merupakan gema kata-katanya, dia sungguh-sungguh guru legio…” Frank Duff, Legio Mariae (Buku Pegangan Resmi Legio Maria), Ed. Revisi Cet. Thn. 1999, terj. Team Senatus Malang 1999, hlm  153 (selanjutnya disebut BS). Bdk. pula apa yang dikatakan oleh Robert Bradshaw tentang dirinya. Lih. Robert Bradshaw, Frank Duff, Founder of the Legion of Mary, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1985, hlm. 55-58 dan 159.

[5] Lih. BP 16, 57, 58, 67, 72, 123, 128, 130, 134, 152, 168, 202, 205, 208, 245, 347, 349, 352 (2x disebut). Dalam BP edisi baru (1999), kita bisa melihatnya mulai dari halaman 24, 28, 40,41,dst.  Di situ, nama Montfort mulai muncul atau disebut oleh Duff dst., hingga halaman-halaman lanjutannya (bisa dicek sendiri).

[6] Bdk. BP 58-59 (edisi 1993) atau Lih. BP 153 (edisi 1999).

[7] Salah satu hal yang sangat memengaruhi Duff dalam misi besarnya waktu itu untuk mendirikan Legio Maria ialah buku karangan St. Montfort, yakni The True Devotion” atau Bakti Sejati kepada St. Perawan Maria. Bdk. Robert Bradshaw, Frank Duff, Founder of the Legion of Mary, hlm. 54-55.

[8] Bdk. Ibidem.

[9] Menurut catatan dari http:www.arlingtonregi.com, ini terjadi pada tahun 1917. Terlepas mana yang tepat, tetapi yang jelas sekitar tahun-tahun itu, Duff mulai berkenalan dengan tulisan Montfort.

[10] Robert Bradshaw, Frank Duff, Founder of the Legion of Mary, hlm. 54-55.

[11] Duff berkata: “I was engaged on a final forced reading, when a short of phenomenon occurred. Without any process of thought leading up to it, something, which I could only regard as a divine favour, was granted to me. As a sort light, the sudden realization came to me that the book was true, a complete conviction that what Ia had been regarding as exaggerated and unreal was fully justified. The excesses which I thought I found in the book were really deficiencies in myself, wide gaps of knowledge and comprehension. That momen has remained in my mind with an absolute clarity.” Ibidem, hlm. 55.

[12] Menurut Robert Bradshaw, apa yang menjadi kesan Duff tentang buku itu setelah membacanya sampai selesai tidak terlepas dari pengalaman pribadinya akan kehadiran Bunda Maria. Dari sebab itu, Duff kemudian secara teratur berusaha mendalami penghormatannya kepada Perawan Tersuci, Maria. Ibid.

[13] Itu merupakan sebuah Biara Monastik, Cistersian yang terbesar dan begitu terkenal di Irlandia saat itu. Ibidem.

[14] Ibidem, hlm. 58.

[15] Ibidem, hlm. 66-67.

[16] Bdk. BP 373-376.

[17] Bdk. Arnold Suhardi, “Guru Legio Maria: St. Louis-Marie De Montfort, Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya”, dalam Seminari Montfort (ed.), Menjelajah Dunia Menyelamatkan Sesama, Open House Seminari Montfort ‘Pondok Kebijaksanaan’, 26-28 April, Malang, Seminari Montfort 2008, hlm. 37.

[18] Tulisan-tulisan yang mungkin dibaca Duff ialah Rahasia Rosario. Lih. BP 379 (edisi 1999). Bdk. St. Montfort, Rahasia Rosario, terj. Obor, Jakarta: Obor,2007, hlm. 77. Di situ ada kesesuaian ide, pikiran di antara keduanya. Selain itu Duff juga ‘mungkin’ membaca Cinta dari Kebijaksanaan Abadi (CKA) karya Montfort. Lih. BP 60 (edisi 1999). Bdk. CKA 60. Demikian juga dari Rahasia Maria No. 49. Bdk. BP 104 (edisi 1999) dan dari Doa Menggelora No. 11. Bdk. BP 22-23. Jikalau kita mau mendalami dengan baik, maka bisa disimpulkan secara sederhana bahwa Duff juga membaca buku-buku Montfort atau tulisannya yang lain.

[19] BP hlm. 153.

[20] Nama Montfort disebut dalam BP, baik dalam sub-judul, dalam sebuah uraian, maupun dalam kutipan dan dalam rujukan kutipan, sebanyak 32 kali, tidak termasuk dalam surat-surat Paus, di mana disebut alamat Concilium Legionis: De Montfort House (hlm. 362 dan 365), yakni hlm. 24, 40 dua kali, 41, 48 dua kali, 108, 111,114,115 dua kali, 139, 147,153 lima kali, 163, 167, 214, 228, 249, 373, 375,376 tiga kali, 379 dua kali. Lih. BP edisi yang direvisi (1999).

[21] Bdk. Arnold Suhardi, Guru Legio Maria: St. Louis-Marie De Montfort, Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya”, hlm. 51-53.

[22] Duff berkata: “Orang bersemangat yang ingin sekali merintis mendirikan Legio di sebuah daerah baru, harus siap menjumpai kenyataan bahwa Legio tidak dibutuhkan di tempat ini. Karena Legio bukan merupakan organisasi yang menangani suatu pekerjaan khusus, melainkan suatu organisasi yang tujuan utamanya ialah mengembangkan semangat dan jiwa Katolik ….” BP  201 (edisi 1999).

[23] Montfort berkata: “Orang tidak bisa mengemukakan keberatan bahwa devosi ini adalah sesuatu yang baru atau bahwa ia kurang berarti. Devosi ini jelas tidak baru. BS hlm. 112-114.

[24] BP 300 (edisi 1999).

[25] Bdk. BP 1-89 (edisi 1999).

[26] BS 62. Bagi Arnold Suhardi, “baik Montfort maupun Duff berada dalam jalur keprihatinan Kristosentris yang sama”. Arnold Suhardi, “Guru Legio Maria: St. Louis-Marie De Montfort, Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya”, hlm. 53.

[27] BS 266 (edisi 1999).

[28] Lih. Arnold Suhardi, “Guru Legio Maria: St. Louis-Marie de Montfort Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya”, hlm. 111-114.

[29] BP 153 (edisi 1999).

[30] Kata katena berasal dari Bahasa Latin catena yang berarti ‘rantai’. Dalam Legio Maria disebut ‘katena’, yaitu rantai doa Legio. Setiap hari seorang anggota Legio (aktif) harus berdoa katena yang pada pokoknya terdiri dari Magnificat:doa Pujian Maria sendiri-Kidung sore Gereja. Doa ‘katena’ merupakan mata rantai antara Legio dengan kehidupan sehari-hari semua anggotanya dan juga merupakan ikatan yang memersatukan anggota satu dengan lainnya dengan Ibu yang Terberkati. Nama rantai doa Legio juga mengingatkan para anggota agar berdoa setiap hari. Lih. BP 147 (edisi 1999). Lih. Juga http://felixkurniawan.wordpress.com/ca. tegory/Legio-Maria. (Diakses tanggal 28 Februari 2015, pkl. 10.00).

[31] Kata ini berasal dari Bahasa Latin tessera yang dipahami sebagai tanda pengenal atau tanda kenang-kenangan yang dibagikan antara teman-teman agar mereka dan keturunan mereka saling mengenal. Dalam kaitan dengan Legio Maria, tessera merupakan sebuah lembaran yang berisi “doa-doa Legio”, dilengkapi dengan sebuah reproduksi gambar Legio, diberikan kepada setiap anggota aktif maupun auksilier. Ibidem. Bdk. J. Widayaka, Mengenal Legio Maria, hlm. 23.

[32] Lih. RM 67.

[33] Bdk. BP 386 (edisi 1999).

[34] RM 68-69.

[35] BS 214.

[36]Acies berasal dari Bahasa Latin yang artinya pasukan yang siap tempur. Dalam kaitan dengan Legio Maria, Acies merupakan upacara “penyerahan diri” legioner kepada Bunda Maria. Bdk. BP 190 (edisi 1999).

[37] Istilah auksilier merupakan jenis keanggotaan Legio Maria. Selain anggota aktif yang setiap minggu rutin mengikuti rapat, menjalankan kewajiban berdoa “katena” setiap hari dan menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh Ketua di rapat, Legio Maria juga memiliki keanggotaan yang disebut ‘auksilier’. Dikatakan “tidak aktif”, karena anggota auksilier tidak mengikuti rapat mingguan dan tidak melakukan tugas-tugas yang dibagikan dalam rapat. BP 104 (edisi 1999).

[38] Bdk. RM 49.

[39] BP 57-58.

[40] Bdk. Majalah Queen of All Hearts, Edisi Maret-April 1957, hlm. 7. Bdk. Pula Robert Bradshaw, Frank Duff, The Founder of the Legion of Mary, hlm. 247.

[41] Buku Bakti Sejati kepada Perawan Maria, karya Montfort ditulis sekitar tahun 1700, kemudian selama kurun waktu satu setengah abad buku ini hilang, dan baru ditemukan kembali dalam sebuah peti pada 1842. Setelah dicetak, buku ini menjadi begitu popular (laris) sehingga diterjemahkan dalam puluhan bahasa, juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris (1862). Pada tahun 1921, seorang pemuda, Duff beberapa kali mencoba membacanya, namun ia merasa enggan untuk membaca buku itu terus sampai selesai. Ternyata pada akhirnya ia berhasil mengatasi rasa enggannya itu dan membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk menangkap isi atau pesan karya Montfort tersebut. Malahan, ia penuh bersemangat hendak membagikan penemuannya dengan orang–orang lain. Lih. Frank Duff, The Montfort Way, Ireland: Publisher Catholic Truth Society of Ireland, 1959, hlm. 35. Bdk. Robert Bradshaw, Frank Duff, The Founder of the Legion of Mary, hlm. 55.

[42] Bdk. BP (edisi 1993), hlm. 142.

[43] Bdk. BP  3.

[44] Dikatakan demikian karena ia tidak membuat kutipan langsung atas apa yang disampaikan dalam BP.

[45] “Kita harus melakukan segala-galanya untuk Maria. Karena kita adalah hamba Ratu mulia ini kita hanya boleh berkarya untuk dia saja…. Karena itu seringkalai kita harus mengulangi dari dalam lubuk hati kata-kata ini: “Ratuku yang tercinta, untukmu aku pergi kian ke mari, untukmu aku melakukan ini atau itu, untukmu aku menderita penyakit ini atau penghinaan itu.” RM 49.

[46] “Ya Perawan yang manis, terimalah persembahan kecil perhambaanku ini untuk menghormati dan meniru ketaatan yang dipilih oleh Kebijaksanaan Abadi terhadap engkau, ibu-Nya. Untuk menghormati kekuasaan yang kamu berdua miliki atas ulat tak berdaya dan pendosa malang ini; sambil bersyukur atas kasih dan karunia yang dicurahkan Allah Tritunggal kepadamu.” CKA  226.

[47] Montfort berkata: “Anak-anak sejati BundaMu Maria yang suci murni, dikandung dan dilahirkan oleh cinta kasihnya, digendong dan dipangkunya, ditimang dan diberi minum dari susunya, dibesarkan oleh usaha pemeliharaannya, dipapah oleh tangannya dan diperkaya oleh rahmat-rahmatnya.” St. Montfort, Doa Menggelora, dalam Montfortan Masa Kini, SMM, Bandung, 1994, hlm. 13, No. 11.

[48] Pada saat Duff bersentuhan langsung dengan tulisan Montfort tentang Bakti Sejati kepada Maria, ia secara pribadi memerlihatkan kesan bahwa buku itu memang menarik meskipun demikian, baginya itu masih terkesan berlebihan. Ketika ia mengatakan hal itu, Tom Fallon (rekan kerjanya dan pemimpin dari S.S.V pada waktu itu) berkata bahwa kesan itu tidaklah demikian adanya. Duff justru dipaksanya untuk membaca sekali lagi hingga akhir halaman dari tulisan itu. Setelah selesai membacanya, Duff mengatakan bahwa memang betul buku Montfort itu sungguh benar dan menariknya untuk menyadari bahwa buku itu memerlihatkan sebuah keyakinan yang kuat bahwa apa yang ia pikirkan sebelumnya (berlebihan dan tidak konkret) benar-benar diluruskan olehnya (buku itu). Ringkasnya, Duff semacam memeroleh pencerahan atas apa yang menjadi ketidakyakinannya atas tulisan Montfort itu pada kesan pertamanya. Robert Bradshaw, Frank Duff, The Founder of the Legion of Mary, hlm. 55.

[49] Tentang kesan menyeluruh atas buku Bakti Sejati Kepada Maria, Duff meringkasnya demikian: “De Montfort does no more than mirror the Divine idea of Mary, so vividly and unmistakenly revealed in propechy. Likewise, the Annunciation shows her key-position. Her free decision and her faith opened up a way to God. Mary is the Mother of Christ’s Mystical Body. In so far as we are members of Christ’s Body, so necessarily are we children of Mary, His Mother… Without her, this, our sublime destiny, is not achieved; such is the Divine arrangements… Therefore, the soul must give to Mary a devotion corresponding to the intensity of its dependence on her which is a constant and an all-embracing one. The ‘True Devotion’ is full acknowledgement of Mary’s Motherhood and also-strange to say- represents the very minimum of what is due to her. Its practice is the systematic recognition of the God-assigned part of Mary in every operation of the spiritual life.” Robert Bradshaw, Frank Duff, The Founder of the Legion of Mary, hlm. 159.

[50] BS 63. Dalam BP 48 (edisi 1999), dikatakan: “Sebab kita adalah anak-anak Allah dan anak-anak Bunda Maria.” Ide ini sama dengan ide Montfort dalam BS 30: “Semua anak Allah yang benar, yaitu orang-orang terpilih mempunyai Allah sebagai Bapa dan Maria sebagai ibu. Barang siapa tidak mempunyai Maria sebagai ibu, dia tidak mempunyai Allah sebagai Bapa.”

[51] Semua data-data yang sudah disebutkan sebelumnya (dari beberapa tulisan Montfort) kiranya cukup menjelaskan tiga hal penting, pertama, dari cara kerjanya, Duff tentu membaca buku-buku Montfort dan ia meresapkannya ke dalam hati dan budinya, sehingga ketika itu disampaikannya lagi dalam BP kita tidak meragukan adanya gema langsung dari pikiran dan semangat Montfort. Kedua, buku yang paling sering dikutip dan yang idenya menyebar serta meresap dalam seluruh BP ialah BS. Ketiga, tema-tema teologis yang terdapat dalam teks-teks kutipan di atas mencakup segala tema besar Spiritualitas Montfort (tentang Allah Tritunggal yang menghendaki keterlibatan Maria dalam karya penebusan, pengudusan, tentang persatuan dan kerjasama antara Roh Kudus dan Maria dalam misteri Inkarnasi Allah, tentang kebundaan rohani Maria, tentang masa Gereja sebagai masa intensifikasi peningkatan kekudusan, tentang keberadaan laskar yang gagah berani yang merupakan pasukan Yesus dan Maria. Bdk. Arnold Suhardi, “Guru Legio Maria: St. Louis-Marie De Montfort, Buku Pegangan Legio Penuh dengan Semangat Jiwanya”, hlm. 62-63.

[52] Bdk. BP 375.

[53] Buku itu sebetulnya tidak mudah dicerna atau dipahami dengan baik kalau hanya dibaca sepintas lalu atau hanya satu kali. Buku ini perlu dibaca berkali-kali agar bisa memahaminya. Duff saja merasa bahwa membaca Bakti Sejati hanya satu kali itu saja tidak cukup, harus berkali-kali seperti yang ia katakan dalam buku pegangan Legio.

[54] Bdk. Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen gentium no. 39, terj. Obor, Jakarta 2004, hlm. 127.

[55] Secara etimologis (asal kata) kata ”perfection” dan ”perfect” berasal dari kata Latin perficere yang berarti ”membuat jadi lengkap, sempurna” atau ”membawa penyelesaian.” Dengan demikian, kata ”perfect” bisa diartikan demikian: sempurna, lengkap. J. Aumann, “Path of Perfection” dalam Stefano de Fiores (ed.), Jesus Living In Mary, Handbook of the Spirituality of St. Louis Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994, hlm. 909.

[56] Hal itu bisa dilihat kembali di dalam ajaran dan pengaruh para teolog dan orang-orang kudus seperti St. Therese de Lisieux, Beata Elizabeth dari Tritunggal Maha Kudus, St. Maximilian Kolbe, Dom Columba Marmion, Reginald Garrigou-Lagrange, John Arintero,  Thomas Merton dan Joseph de Guibert, dll. Ibidem.

[57] Gereja itu sendiri adalah kudus adanya. Kekudusannya secara permanen ditampakkan dalam buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh Rok Kudus dalam diri umat beriman. Dengan demikian, hal itu mestinya ditampakkan dalam aneka cara oleh masing-masing individu yang mau memelihara kesempurnaan kasih yang pada gilirannya nanti ikut menguduskan orang lain. Menurut J. Aumman, bagaimana pun juga, setiap pribadi menurut tugas-tugas dan karunianya mesti teguh dalam menghidupi imannya yang kemudian memunculkan harapan dan karya melalui kasih. Ibidem, hlm. 907-908.

[58] Bdk. Ibidem, hlm. 910.

[59] Lih. J. Aumman, “Path of Perfection”, hlm. 910.

[60] Kesempurnaan Kristiani pada hakikatnya tampak dalam kasih (kebaikan atau kemurahan hati). Yesus sendiri mengajarkan bahwa hukum yang paling pertama dan terutama ialah hukum cinta kasih (Mat 22:35-40; Mrk 12:28-31). Hal senada juga dikatakan St. Paulus dalam beberapa suratnya, seperti Kol 3:14: “Dan di atas semuanya itu kenakanlah: kenakanlah kasih, sebagai pengingat yang memersatukan dan menyempurnakan. Kemudian dalam suratnya kepada jemaat di Roma ia berkata: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Rm 13:10). Selain itu, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus ia berkata: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor 13:13)  Bdk. Ibidem.

[61] Menjadi serupa dengan Kristus merupakan sebuah ungkapan yang menyatakan adanya persatuan yang tetap dengan Kristus. Persatuan yang tetap ini tentu mengandaikan sebuah relasi yang permanen dengan-Nya yang dibangun setiap saat, bukan sekedar relasi musiman atau sesewaktu bahkan sekedarnya bila memerlukan kehadiran-Nya (di kala susah, mengalami tantangan dan penderitaan belaka). Persatuan ini terjadi di dalam batin dan mengubah atau memengaruhi kita dari dalam hati kita kemudian menyebar sampai ke seluruh keberadaan fisiologis kita. Dari sebab itu, sekalipun kita itu tetap manusia, namun tanda-tanda milik Kristus (Gal 6:17) ada pada kita dan mengenakan perasaan yang juga ada pada Kristus yang hidup dalam kita (Gal 2:20). Dari sebab itu, bila Kristus berada dalam diri kita, maka Dia menguasai dan mengendalikan kita mulai dari inti diri kita, dengan demikian kita juga hidup dalam Kristus (bdk. Kol 3:3), tinggallah di dalam kasih-Nya (bdk. Yoh 15:9), sehingga Kristus menjadi hidup kita (Kol3:4) karena dalam Dia ada hidup (Yoh1:4).

[62] CKA 181-203.

[63] RM  3.

[64]BS 1.

[65] Bdk. BP 49-62 (edisi 1999).

[66] BS 51-52 (edisi 1999).

[67] BP 72 (edisi 1993) atau lih. BP 163 (edisi 1999).

[68] BP 129 (edisi 1993).

[69] RM 67.

[70] BP 10 (edisi 1993).

[71] RM 6-15.

[72] RM 24-65.

[73] Setelah itu, Montfort menguraikan bagaimana persisnya peran yang Allah Tritunggal kehendaki dari Maria untuk ia mainkan dalam karya pengudusan kini hingga akhir zaman: membagikan rahmat Allah. BS 23-25.

[74] Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen gentium n. 62, hlm. 156.

[75] BP, hlm. 20-21.

[76] Arnold Suhardi, Guru Legio Maria: St. Louis-Marie de Montfort, Buku Pegangan Legio Penuh dengan  Semangat Jiwanya”, hlm. 88-90.

[77] Bdk. BS 144, 197, 216, 266.

[78] BS 174, bdk. BP  398 (edisi 1999)

[79] Bdk. BS bab IV.

[80] Pada tanggal 25 Maret itu yang adalah Hari Raya Penjelmaan, “Allah yang menjadi daging” umat beriman yang membaktikan diri kepada Maria dilahirkan kembali melalui pembaharuan janji baptis mereka lewat tangan Maria. Pada saat Allah menjadi manusia, manusia menjadi ilahi. Keduanya terjadi melalui Rahim tak bernoda Maria, karena kuasa Roh Kudus. Hanya bedanya ialah bahwa “Rahim pertama” adalah sungguh-sungguh Rahim biologis Maria, oleh karena Yesus adalah “Buah tubuhnya”, sedangkan “Rahim yang kedua” adalah pengaruh bundawi dan lingkungan rohani Maria. Berkenaan dengan ini Montfort berkata: “Untuk pergi dan mempersatukan diri dengan Kristus, kita harus menggunakan sarana yang sama, yang dipergunakannya sewaktu ia datang kepada kita, untuk menjadi manusia dan untuk membagikan rahmat-rahmat-Nya kepada kita. Sarana itu adalah penyerahan sepenuhnya kepada Bunda Maria.” Lih. RM 23.

[81] Bdk. BS 258.

[82] BS 20. Bdk. BS  6. Bdk. RM 13.

[83] BS 43.

[84] Bdk. BP 108 (edisi lama 1993). Bdk. BP 190 (edisi revisi, 1999).

[85] Ibidem.

[86] “Milikmu semata-mata”, dalam Bhs. Latin dapat disebut “Totus Tuus”. Santo Yohanes Paulus II, memilih term (istilah) Totus Tuus yang berasal dari kata-kata Montfort sebagai moto pontifikalnya. Totus Tuus merupakan sebuah frasa yang dipilihnya dengan penuh kesadaran yang kemudian menandai seluruh perjalanan hidupnya sebagai seorang Pemimpin Gereja Katolik sejagat. Berkenaan dengan hal itu, Santo Yohanes Paulus II memberi kesaksian demikian: “… Berkat Santo Louis dari Montfort saya dapat mengerti bahwa devosi sejati kepada Bunda Allah sesungguhnya bersifat Kristosentris, secara sangat mendalam devosi tadi sangat berakar dalam misteri Allah Tritunggal, dan misteri Inkarnasi dan Penebusan. Demikianlah saya menemukan kembali kesalehan marial, kali ini dengan suatu pengertian yang lebih mendalam.” Yohanes Paulus II, Melintasi Ambang Pintu Harapan, terj. Obor, Jakarta 1995, hlm. 265-266.

[87] BS 233.

[88] BP 191 (edisi 1999).

[89] Sebuah terminologi yang dipakai Montfort untuk mengungkapkan penyerahan diri secara total kepada Perawan Maria supaya melaluinya (Maria) seseorang menjadi milik Yesus Kristus sepenuhnya. Bdk. BS  21.

[90] BS 121.

[91] Dengan menyerahkan diri secara total, seseorang memasuki suatu kedalaman baru dari kepemilikan Kristus atas dirinya. Daya penebusan, intensitas kesatuan dengan Kristus melalui Maria semakin kokoh diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui “Pembaktian Diri.”

[92] Bdk. BS 121.

[93] BS 61, 121.

[94] Bdk. BS  82.

[95] Berkaitan dengan totalitas penyerahan diri melalui Pembaktian Diri, Patrick Gaffney mengomentari demikian: “This itemizing of what we freely consecrate is done by Montfort in order to try to get across the absolute totality of the consecration. There is nothing whatsoever not include in this ‘perfect consecration. We become ‘divested’ of everything, for our career, plans, possessions. Spiritual goods – even glory – is freely made holy,’ i.e., subject to the overriding will of Jesus. There may be other ways of ‘itemizing’ the totality of consecration in contemporary circumstance, but the scope of the surrender envisioned by Montfort does not omit one iota.” Patrick Gaffney, “Consecration”, JLM, hlm. 210.

[96] BS 1.

[97] Seperti setiap tentara, Legio tersusun dari anggota yang melakukan tugas aktif (anggota aktif) dan mereka yang mendukung pasukan ini dengan karya dan doanya (anggota auksilier). Berpola pada sistem militer, Legio mengambil alih nama dan istilah dari Legio Romawi zaman dulu. Penggunaan istilah-istilah Latin seperti Presidium, Kuria, Senatus, dlsb., memberi kepada Legio suatu corak universal dan persatuan. Dengan demikian sebetulnya Legio itu tersusun secara rapi, terorganisir dengan baik. Bdk. R. M. Charest, “Legion of Mary”, dalam JLM, Montfort Publications, Bay Shore, NY1994, hlm. 599-600.

[98] Montfort berkata: “Saya melihat dengan jelas apa yang akan terjadi: binatang-binatang galak datang mengamuk untuk mencabik dengan gigi setaninya buku sederhana ini beserta dia yang telah digunakan Roh Kudus untuk menulisnya; atau paling tidak untuk menyembunyikannya dalam kegelapan dan kesunyian pada sebuah peti agar membuatnya tetap tak terkenal. Bahkan semua pria dan wanita yang membacanya dan memraktikkannya, akan diserang dan dianiaya. Tetapi tidak apa-apa! Malah lebih baik! Pengelihatan ke depan ini mengobarkan semangat saya dan membuat saya menantikan sukses besar: suatu laskar besar prajurit-prajurit yang gagah berani dari Yesus dan Maria, baik pria maupun wanita, yang memerangi dunia, setan, dan kodrat yang sudah busuk di dalam masa yang sangat gawat, yang pasti akan datang.” BS 114.

[99] Selain Legio Maria disebut sebagai “Laskar Maria”, sebetulnya jauh sebelumnya, Montfort telah merindukan hal ini, dan Laskar Maria bisa disebut muncul lebih dahulu ialah Serikat Maria Montfortan (SMM), yang tidak lain sungguh merupakan buah karya nyata dari mimpi Montfort tersebut.  Para imam ini akan menjadi balatentara dan prajurit perkasa dan rapi teratur di bawah bimbingan Roh Kudus siap bertempur untuk menaklukkan musuh-musuh. Montfort berkata: “… Maka kami akan membentuk di bawah panji salib sebuah pasukan yang siap tempur dan rapi teratur, supaya bersama-sama menggempur musuh-musuh Tuhan yang telah siap untuk menyerang.” Bdk. St. Montfort, Doa Menggelora 29.

[100] Bdk. Wim Peeters, ”Bukalah Pintu bagi  Yesus Kristus, Spiritualitas Santo Montfort dan Legio Maria” dalam Seminari Montfort (ed.), Menjelajahi Dunia, Menyelamatkan Sesama, Seminari Montfort, Malang 2008, hlm. 166-167.

[101] Mungkin secara kasat mata, kerja keras, karya kerasulan dan doa-doa legioner dalam melawan kejahatan dunia tidak bisa dibuktikan secara empiris, diukur secara presisi (persis tepat adanya), tapi secara rohaniah, batiniah, Legio Maria memberi dampak tersendiri bagi dunia di sekitarnya. Ini hanyalah sebuah intuisi spiritual yang muncul dari dalam hati.

[102] Bdk. BP 116, 140 (edisi 1999).

[103] Bdk. BS 1.

[104] Legio juga diharapkan Duff dapat menjadi sebuah sarana yang ampuh untuk melawan kekuasaan setan. Duff menggemakan kembali kata-kata Kitab Suci Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara kamu dan wanita, antara keturunanmu dan keturunannya,” sama maksudnya dengan: “Ia akan menghancurkan kepalamu.” Lih. BP 71-71 (edisi 1993) atau BP 163 (edisi 1999).

[105] Bdk. BP 129 (edisi 1999).

[106] Bdk. BP 72 (edisi 1993). Alat atau sarana yang dipakai para legioner sebagai senjata dalam peperangan ialah bukanlah senjata-senjata dalam sebuah pertempuran di medan perang yang biasa digunakan oleh para prajurut militer, melainkan lebih berkaitan dengan sarana spiritual, yakni doa dan tobat, kesetiaan yang semakin besar terhadap perintah-perintah Allah dan selalu menerima sakramen-sakramen.  Jikalau mau diringkaskan, sesungguhnya ada delapan (8) senjata utama yang harus dipakai oleh para legioner dalam memperlengkapi dirinya di ”medan pertempuran itu”, seperti: salib sebagaimana yang diharapkan Montfort, doa sebagai anak panah yang mencapai hati Tuhan, Rosario sebagai senjata ampuh untuk memerangi neraka, meditasi sebagai sarana untuk mengenal Tuhan dan diri sendiri; puasa dan matiraga, silih bagi sesama, pengakuan dosa sesering mungkin, dan pertobatan sebagai konkritisasi lanjutan dari pengakuan dosa. Bdk. Teresa Chang, 8 Senjata Rahasia Prajurit Lagio Mariae Memenangkan Peperangan Rohani, Kanisius, Yogyakarta 2010, hlm. 25-29.

[107] BS 51-52.

[108] BP 130 (edisi 1993).

[109] Saya mengikuti pikiran R. M. Charest di mana ia menulis sebuah artikel khusus tentang Legio Maria. Ia menulis bahwa Montfort adalah seorang ‘Pujangga Kepengantaraan Maria’. Lih. R. M. Charest, “Legion of Mary”, hlm. 603.

[110] Bdk. BP 142 (edisi 1993) atau BP 40 (edisi 1999).

[111] Duff berkata: “Bakti ini menuntut terjalinnya suatu perjanjian resmi dengan Maria. Kita menyerahkan kepada Maria diri kita seluruhnya dengan segenap pikiran dan perbuatan, dengan segala sesuatu yang kita miliki, baik rohani maupun jasmani, yang dahulu, yang sekarang dan yang akan datang tanpa perkecualian sedikit pun. Dengan singkat, kita menempatkan diri kita seperti budak tanpa milik pribadi, seluruhnya tergantung pada Maria dan siap mengabdi hanya kepadanya.” BP 142 (edisi 1993).

[112] BP 13.

[113] Bdk. BP 153 (edisi 1999).

[114] BP 12 bab 2, Tujuan Legio Maria, bdk. 19 (edisi 1999).

[115] BS 22.

[116] Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen gentium no. 62.

[117] Bdk. BS 243-248.

[118] BS 31.

[119] BP 40.

[120] Bdk. BP 18-19 (edisi 1993) atau BP 63-64 (edisi 1999).

[121] Bdk. BP 19 (edisi 1993).

[122] BP 29 (edisi 1999).

[123] Montfort adalah Pendiri beberapa Tarekat Besar, DW (Daughter of Wisdom-Putri-putri Kebijaksanaan), SMM (Societas Maria Montfortana) juga SG (Serikat Bruder-bruder Santo Gabriel) yang kemudian menjadikannya sebagai Pelindung, Bapa Rohani Kongregasi. Ketiga tarekat ini tersebar di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, SMM hadir sejak 1939 dan berkarya pertama kali di Kalimantan Barat. Para misionaris Montfortan (imam dan bruder) dari Belanda dan Amerika berkarya cukup lama dan ikut merintis berdirinya Keuskupan Sintang. Selanjutnya, misi itu diteruskan oleh para Montfortan Indonesia yang terus berkarya mulai dari Keuskupan Sintang sampai hari ini, kemudian berkarya di Bandung (1980-an – sekarang) dan Flores Barat, Keuskupan Ruteng (1999/2000 – sekarang), menyusul Malang – Jatim (2004 – sekarang) dan Palangkarya-Kalteng (2011-sekarang). Tahun 2015, SMM Indonesia telah merayakan Pesta Intan, 75 tahun kehadirannya di Indonesia. Menandai perayaan ini, SMM Indonesia sudah membuka Program Pembinaan Aspiran di Ruteng (pembinaan awal) dan kini dilanjutkan di Labuan Bajo (Daerah Nggorang). Formasi ini dikhususkan untuk menerima calon-calon SMM tamatan SMU non seminari. Pembinaan ini sudah dimulai berjalan sejak 6 Juli 2014 dengan mengontrak sebuah rumah penduduk (Bpk. Valentinus Gara) di depan Novisiat SMM, Labe-Ruteng (dua tahun). Sebagai sebuah Tarekat Misionaris, SMM Indonesia ikut mengirim para misionarisnya berkarya di beberapa Negara, seperti Papua New Guinea, Equador, Perancis dan Roma, Nicaragua, Belanda dan dalam waktu dekat SMM Indonesia akan berkarya di Vietnam. Sedangkan DW hadir di Indonesia sejak 2003, yaitu saat mereka merayakan 300 tahun Pendirian Serikat mereka. Kini mereka berkarya di Keuskupan Ruteng (Poco dan Tenda). Sedangkan Kongregasi Bruder-bruder St. Gabriel belum berkarya di Indonesia (kongregasi ini berkarya di seluruh dunia, termasuk di Asia: Thailand, Singapura, Malaysia, dll).

[124] Battista Cortinovis, Montfort Pilgrim in the Church, terj. Bross Julien Rabiller at al., St. Gabriel Press, Rome 1997, hlm. 9.

[125] Hub Hechtermans, Seluruhnya atau Tidak Sama Sekali, terj. Serikat Maria Montfortan, Pusat Spiritualitas Maria, Bandung 2005, hlm. 11.

[126] Kolese Yesuit di Rennes ini merupakan sebuah lembaga pendidikan yang cukup ternama dan sangat berpengaruh pada saat itu di Perancis. Selama berada di kolese ini, Montfort mendapat pelajaran dan pengetahuan yang sangat berguna baginya di kemudian hari. Di sana ia belajar retorika, grammar, matematika, filsafat dan teologi. Atmosfer pendidikan di situ sungguh-sungguh membantunya untuk belajar dengan giat. Tekanan kuat dari lembaga pendidikan ini lebih memerlihatkan “pemisahan yang tegas dari situasi dunia.” Di bawah pengaruh imam Philippe Descartes, Montfort dibimbing untuk menemukan dan menghayati nilai kemiskinan injili, geliat untuk mengutamakan Allah dan makna penting dari suatu karya kerasulan. Battista Cortinovis, Montfort Pilgrim in the Church, hlm. 9.

[127] Menurut Arnold Suhardi, apa yang sering disebut dengan istilah “Mazhab Perancis”, itu digunakan untuk membedakannya dari Mazhab Spanyol, Mazhab Italia dan Mazhab Inggris, dll. Bdk. Arnold Suhardi, Santo Louis-Marie Girgnion de Montfort, Guru dan Pembimbing Rohani Sepanjang Zaman, Marian Centre Indonesia, Jakarta 2004, hlm. 20.

[128] Piere Bérulle adalah pelopor Mazhab Perancis, sedangkan Jean Jacques Olier adalah pendiri St. Sulpice dan formator para frater calon imam. Ia adalah murid yang paling terkenal dari Bérulle. Jean Eudes, seorang orator hingga tahun 1643 adalah murid dari Bérulle dan Condren. Ia mendedikasikan dirinya untuk mengajar misi kepada umat. Bdk. Battista Cortinovis, Montfort Pilgrim in the Church, hlm. 65-67.

[129] R. Deville, ”The French School of Spirituality”, JLM, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994, hlm. 437. Bdk. W. A. Thompson, Bérulle and the French School, Paulist Press, New York 1989, hlm. 81.

[130] Dari lingkungan Sulpisian, Montfort dibantu untuk menghayati kekudusan hidupnya, misalnya melalui tulisan-tulisan dari Henri Boudon, J. J. Olier, J. J. Surin. Ibidem, hlm. 127.

[131] Kontemplasi Montfort tentang kenosis Allah, dimulai dari misteri inkarnasi hingga misteri salib. Ia melihat bahwa seluruh konstelasi hidup Yesus merupakan sebuah perjalanan pengosongan atau penghampaan diri. Ia melihat hal ini sebagai momen di mana Yesus Kristus, mau menggantungkan diri-Nya kepada Maria pada peristiwa penjelmaan hingga kematian-Nya di kayu salib. Bdk. BS 157.

[132] Asumsi dasar dari Spiritualitas Mazhab Perancis yakni, manusia diciptakan oleh Allah dan dibentuk dalam rupa-Nya. Ia berasal dari Allah dan ia juga kembali kepada-Nya. Menurut Bérulle kehidupan manusia di dunia ini mestinya menjadi jalan (lorong) kecil, yang ditandai oleh hal-hal yang menunjukkan kepadanya bahwa ia dipanggil untuk mengalami hidup di surga. Bdk. S. A. Muto, in the Preface to W. A. Thompson, Bérulle and the French School, hlm. xv-vi.

[133] Menurut P. Gaffney, Bérulle dan para pengikutnya dari Mazhab Perancis memikirkan demikian: “di dalam inkarnasi, Kristus telah mengosongkan diri-Nya sendiri.” P. Gaffney, “Incarnation”, JLM, hlm. 546.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

[134] Menurut studi dari Arnold Suhardi dikatakan bawha sulit bagi para pembaca mencari tahu apa alasan mendasar mengapa Montfort berhenti studi di Universitas Sorbonne. Sebagian orang hanya menduga karena pada saat itu di Sorbonne, ada banyak professor dan gerakan mahasiswa yang mendukung Yansenisme dan Gallikanisme. Arnold Suhardi, Santo Louis-Marie Girgnion de Montfort, Guru dan Pembimbing Rohani Sepanjang Zaman, Marian Centre Indonesia, Jakarta 2004, hlm. 19.

[135] Bdk. Battista Cortinovis, Montfort Pilgrim in the Church, hlm. 16.

[136] Selama hidupnya, Montfort telah menghasilkan banyak tulisan, baik itu merupakan buku, surat, kidung, kotbah, renungan, regula, amanat, doa, wasiat maupun catatan pribadinya. Karya-karya Montfort dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, Surat-surat (ada 34 Surat Korespondensi dan satu Surat Edaran kepada Warga Montbernage, Poitiers – Lettre Circulaire Aux Habitants de Montbernage). Kedua, Karya-karya Kristologis dan Marial: CKA(Cinta dari Kebijaksanaan Abadi – L’Amour de la Sagesse Éternelle), SSS (Surat Edaran kepada Sahabat-sahabat Salib – “Lettre Circulaire” Aux Amis de la Croix), RM(Rahasia Maria – Le Secret de Marie),BS(Bakti Sejati kepada Maria – Traité de la Vrai Dévotion à la Sainte Vierge), K (Kidung, jumlahnya 165 – Cantiques). Ketiga, Pendirian Serikat-serikat: Pertama, Serikat Maria Montfortan SMM): DM (Doa Menggelora – Priére Embrasée, “Memento”), RIM (Regula para Imam Misionaris Serikat Maria – Règle des Pretres Missionnaires de la Compagnie de Marie), AAS (Amanat kepada Anggota Serikat Maria – Aux Associés de la Compagnie de Marie), KP(Kontrak Perjanjian dengan Allah – Le Contrat d’ Alliance avec Dieu,Kedua, Putri-putri Kebijaksanaan (Fdls,DW): RPK (Regula Putri-putri Kebijaksanaan – Règle Primitive de la Sagesse), PAK(Patokan dan Ajaran Kebijaksanaan Ilahi – Maximes et Leçons de la Divine Sagesse). Keempat, Peraturan-peraturan: PP (Peraturan ke-44 Perawan – Règlement de Quarante-quatre Vierges), PPP (Peraturan para Pentobat Putih – Règlement de Pénitents Blancs), ZS (Ziarah para Pentobat kepada Bunda Maria di Saumur – Le Saint Pèlerinage de ND de Saumur), PKS (Peraturan Kemiskinan Sukarela – Règles de la Pauvreté Volontaire de la Primitive Église). Kelima, Rosario dan Doa-doa: RS (Rahasia Rosario – Le Secret Admirable du Tres Saint Rosaire), CR(Cara-cara Berdoa Rosario – Méthodes pour Réciter le Rosaire), D (Doa pagi dan Doa Malam – Prières du Matin, Prières du Soir). Kelima, Aneka Tulisan Lain dan Wasiat: BK (Buku Khotbah – Le Livre des Sermons), BC (Buku catatan – Cahier de Notes), RHM (Empat Renungan Tentang Hidup Membiara – Quatre Abreges de Meditations sur la Vie Religieuse), PKB (Persiapan Kematian yang Baik – Dispositions pour Bien Mourir), SW (Surat Wasiat – Le Testament). Fidelis B. Wotan, Salib adalah Kebijaksanaan dan Kebijaksanaan adalah Salib (Skripsi), Tinjauan Teologis atas Salib Menurut St. Louis-Marie Grignion de Montfort, STFT Widya Sasana, Malang 2008, hlm. 98-99.

[137] Http://w2.vatican.va/content/john-paul-ii/en/letters/2004/documents/hf_jp-ii_let_20040113_famiglie-monfortane.html. (Diakses pada tanggal 13 September 2018, pkl. 14.01)

[138] Yansenisme adalah sebuah gerakan teologis dan spiritual yang berciri keras dalam hal moral dan bersikap pesimis dalam hal memandang manusia. Nama Yansenisme berasal dari nama Kornelis Otto Yansen (1585-1638) yang kemudian pada tahun 1636 diangkat menjadi Uskup, Ypres, Belgia. Bersama dengan kawannya Jean Duvergier de Hauranne, abbas St. Cyran (1581-1643), ia berkeinginan untuk mendorong diadakannya pembaharuan sejati dalam bidang ajaran dan moral Katolik. Menurut Yansen, tanpa rahmat khusus dari Allah kita tidak dapat menaati perintah-perintah-Nya. Ajaran Yansen ini kemudian ditolak oleh Gereja pada tahun 1653 (DS 2001-2005).

[139] Menurut Suhardi, ada banyak orang yang secara pribadi menghayati Spiritualitas Montfort. Di antaranya, ada banyak tokoh terkenal yang menyatakan secara telak rujukan hidup rohani mereka ke Montfort. Ia menyebut beberapa figur atau tokoh yang menghayati Spiritualitas Montfort, antara lain, Paus Pius X, St. Maximilianus – Maria Kolbe, Paus Leo XII, Kardinal Mercier, Mgr. Duhamel, Pater Edward Poppe, Dom Gallotti, R. P. Nazario Perez SJ, Edel-Marie Quinn, Kardinal Carlo Maria Martini, Kardinal Suenens, Oscar Luigi Scalfaro (Mantan Presiden Italia), dan Mendiang  Sri Paus Yoh Paulus II. Saat ziarah ke makam Montfort di Saint Laurent-sur-Sevre (19 September 1996), Bapa Suci berkata: “Saya sangat berhutang budi kepada St. Montfort dan kepada karyanya, Bakti Sejati Kepada Santa Perawan Maria”. Bdk. Arnold Suhardi, “Santo Louis-Marie Grignion de Montfort”, hlm. 66.

[140] BS  120.

[141] Pater François-Marie Léthel secara telak mengakui Montfort sebagai seorang doktor (pujangga) yang berbicara secara khusus tentang “Cinta Yesus Kristus dalam Bunda Maria (bdk. BS 64). Ia melihat bahwa tulisan Montfort tentang Bakti Sejati kepada Maria dan Rahasia Maria sungguh merupakan suatu mahakarya teologis yang luar biasa mengagumkan, terutama buku BS dilihatnya memiliki kedalaman karya dan yang meringkaskan ajarannya. Apalagi buku ini sudah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa ke seluruh dunia. Ia melihat bahwa itu seperti Summa Theologica-nya St. Thomas Aquinas dan Interior Castle dari St. Theresia dari Avila. Bdk. François-Marie Léthel, “Spiritual Theology of St. Louis-Marie Grignion de Montfort, The Love of Jesus Christ in Mary”, dalam Sedes Sapientie, Seminari Montfort, Malang 2006, hlm. 31.

[142] BP 3.

[143] Arnold Suhardi membuat beberap klasifikasi tentang perserikatan yang berkaitan dengan Tarekat-tarekat Montfortan, Kerabat Santo Montfort maupun Tarekat-tarekat yang samasekali tidak terkait dengan Montfortan. Ada beberapa perserikatan atau persekutuan rohani yang menimba semangat Montfort. Yang akan didaftarkan di sini ialah ‘yang terkait dengan Tarekat-tarekat Montfortan: Pertama, Confrerie de Marie Reine des Coeurs (Perserikatan Maria Ratu Segala Hati). Perserikatan ini didirikan oleh Mgr. Thomas Duhamel, Kanada. Di Indonesia, namanya diterjemahkan menjadi Kerabat Santo Montfort-KSM. Kedua, Institut Séculir Montfortain (Serikat Awam Montfortan-Perancis). Ketiga, Pèlerinage Montfortain (Ziarah Montfortan: dikoordinir oleh Provinsi SMM Perancis). Keempat, Marche Montfortaine (Jalan Kaki Montfortan, dikoordinir oleh para Bruder St. Gabriel di Nantes untuk “memohon para misionaris dan Kebijaksanaan melalui Maria” menurut kerinduan Pater de Montfort.Kelima, Amitiés Montfortaines (Para Sahabat St. Montfort), Keenam, Hospitalitiés Montfortaines (Menangani  ziarah di Lourdes), Ketujuh, Missionarie di Maria Regina dei Cuori (Missionaris Maria Ratu Segala Hati-Italia), dll. Sementara yang tidak terkait dengan Tarekat-tarekat Montfortan, misalnya; Pertama, Legio Mariae (didirikan oleh Frank Duff), Kedua, Yoyers de Charité (didirikan oleh Marthe Robin di Perancis, Ketiga, Opera di Maria (Focolari) (didirikan oleh Chiara Lubich di Italia, Keempat, Communauté des Béatitudes (Gerakan Karismatik Beatitude, didirikan oleh Frère Éphraïm dan Jo Croissant bersama dengan Jean-Marc dan Mireille, Kelima, Communauté de L’Émmanuel (Komunitas Emmanuel, didirikan oleh Pierre Goursat dan Martine Laffitte-Catta di Perancis), Keenam, Sociedad Grignion de Montfort (didirikan oleh P. Pedro Suner SJ di Barcelona dan masih banyak lain lagi. Sedangkan ada juga Tarekat-tarekat Religius yang menimba inspirasi dan semangat dari Montfort, seperti; Petite Compagnie de Marie (Serikat Dina Maria), Servantes de Jesus-Marie (Hamba-hamba Yesus dan Maria-Kanada), Filles du Coeur de Marie (Puteri-puteri Hati Maria), Adoratrices du Presieux Sang (Para Suster Penyembah Darah Mulia-Kanada) dan di Indonesia salah satu Tarekat Lokal yang didirikan oleh Mgr. Gabriel Manek, SVD (Larantuka) yakni PRR juga setidak-tidaknya menimba semangat hidup dari Montfort. Untuk selengkapnya lihat apa yang didaftarkan secara panjang lebar oleh Arnold Suhardi. A. Suhardi, Santo Louis-Marie Grignion de Montfort, hlm. 63-66.

[144] Http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Duff. (Diakses pada 4 Februari 2015, pkl 21.30).

[145] Robert Bradshaw, Frank Duff Founder of the Legion of Mary, hlm. 17.

[146] Http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Duff. Selama bekerja di departemen itu, Duff sungguh-sungguh mendedikasikan dirinya dalam hal apa saja, kerja keras dan pengabdiannya itu tidak bisa ia hindari. Di balik semangat kerjanya itu, rupanya Duff juga menunjukkan semangat “persaudaraan” dan “persahabatan” di kantornya. Dia memang seorang yang cukup humoris dan penuh dengan keceriaan. Robert Bradshaw, Frank Duff Founder of the Legion of Mary hlm. 24.

[147] S.S.P atau SSV didirikan dengan tujuan menghidupkan kembali sejumlah besar kemalangan atau kesedihan yang melanda kehidupan manusia dan pada saat yang sama mengangkat kembali martabat kaum miskin ke tingkat hidup rohani yang lebih baik.

[148] Kebanyakan masyarakat pada zaan itu adalah para penganggur. Keluarga-keluarga tinggal dalam sebuah ruangan di sebuah “rumah petak” dalam bentuk rumah-rumah gubug. Selain itu, kelaparan, kemelaratan, perjudiaan pun tampak di mana-mana. Situasi ini rupanya kurang begitu ditanggapi dengan baik oleh kaum religius di sana. Ibidem, hlm. 25.

[149] Http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Duff.

[150] Bdk. Ibidem.

[151] “Mr. Duff”, they said, “Michael Collins is, as you know the Commander-in-chief of our National Army. We are assigning you as his private secretary. We would like you to go, for the time being, to Portobello Military Barracks to look after him.” Ibidem, hlm. 39.

[152] Http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Duff. (Diakses pada tanggal 4 Februari 2015, pkl. 21.45).

[153] Pada waktu itu, salah seorang wanita memberi meja pertemuan dengan taplak meja putih, meletakkan patung Maria yang Tak Bernoda di atasnya dengan diapit dua tempat bunga dan dua buah lilin bernyala. Selama pertemuan itu, mereka memohon bimbingan Roh Kudus, berdoa Rosario suci dan membuat rencana kerja. Para wanita ingin mengunjungi pasien-pasien wanita di sebuah Rumah Sakit. Pater Toher membekali mereka dengan wejangan rohani singkat dan berjanji akan melaporkan hasil tugas kunjungan ke rumah sakit dan mereka berjanji akan melaporkan hasil tugasnya dalam pertemuan minggu depan. Mereka memutuskan untuk menyebutkan kelompok ini “Perkumpulan Puteri Kerahiman” dan memilih Ny. Elisabeth Kirwan, salah seorang senior dan pekerja di sebuah kantor. Pertemuan pertama ini merupakan benih dan model dari legio sebagaimana kita kenal sekarang ini. Lih. J. Widayaka, hlm. 17.

[154] Bdk pula apa yang dikatakan secara langsung oleh Duff dalam BP 12 (edisi 1999).

[155] Paus Pius XI dalam amanatnya kepada Legio Maria pada tanggal 16 September 1933, menganugerahkan berkat istimewa kepada karya yang indah dan suci ini dan berdoa agar para legioner dapat meneruskan kerasulan ini dengan semangat yang lebih besar lagi, sehingga dengan berbuat demikian, para anggota Legio Maria dapat ikut serta secara aktif dalam karya penebusan Kristus. Bdk. J. Widayaka, Mengenal Legio Maria, hlm. 18.

[156] Legio Maria hadir pada 1928 di Scozia (Scot), 1929 di Inggris, 1931 di India, 1932/1933 di Amerika Serikat dan Australia, 1934 di Selandia Baru, Afrika dan Amerika Latin, 1938 di China, lalu kemudian di Negara-negara Eropa daratan. Sedangkan Legio Maria masuk ke Indonesia pada tahun 1951 di Medan, lalu dibawa oleh seorang envoy (duta) bernama “Miss Theresia Shu”. Selanjutnya Pater Paul Janssen, CM memulai Legio Maria tahun 1952 di Kediri, disusul tahun 1953 dimulai di Bandung lalu ke Cirebon. Tahun 1969 Legio Maria hadir di Yogyakarta, kemudian di bawa ke Semarang dan Surakarta (Solo). Pada tahun 1977/1978 Legio Maria terus bergerak ke Jakarta. Selengkapnya, bagaimana persisnya Legio Maria masuk ke Indonesia, kita bisa baca dalam salah satu tulisan Rm. Widayaka, CM dalam buku kecilnya tentang “Mengenal  Legio Maria”, buku Seri Pertama, Senatus Malang. Bdk. J. Widayaka, Mengenal Legio Maria, hlm. 19. Lih. Catatan kaki, Arnold Suhardi, Guru Legio Maria: St. Louis-Marie de Montfort”, hlm. 31.

[157] Bdk. Http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Duff.hlm. 2. (Diakses tanggal 4 Februari 2015, pkl. 22.00).

[158] Bdk. Ibidem, hlm. 3

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme