MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Formasi Montfortan: Dalam Sekolah Maria Menuju Keserupaan Dengan Kristus

 

 

Formasi Montfortan:

Dalam Sekolah Maria Menuju Keserupaan Dengan Kristus

 

 Pengantar

Formasi adalah jalan dan sarana menuju kesempurnaan dan kematangan diri. Karenanya formasi merupakan sebuah proses pertumbuhan atau pembentukan diri yang terus menerus, suatu proses menjadi yang tak berujung, tanpa kata selesai. Kini, berbagai  teori dan metode formasi ditawarkan kepada kita. Yang menarik adalah dari berbagai metode formasi yang ada hampir seluruhnya menggarisbawahi pentingnya formasi yang holistik artinya proses formasi yang merangkul seluruh aspek kehidupan antara lain, aspek intelektual, emosional, sosial, kultural, dan spiritual.

Tiga abad yang lalu St. Louis Mariae Grignion de Montfort melalui tulisan dan ajarannya menawarkan sebuah metode formasi kristiani yang tentu saja terurai dalam bahasa dan semangat khas zamanya. Itulah sebabnya upaya refo

BEBAS BAGAI AWAN

rmulasi ajaran Montfort dalam konteks dan bahasa masa kini amatlah penting, suatu keniscayaan. Tulisan ini merupakan salah satu upaya  merumuskan dan mengemas kembali model formasi kristiani yang pernah ia hidupi, lalui, dan ajarkan sendiri.

Dalam tulisan-tulisannya, Montfort lebih sering berbicara tentang formasi sebagai kata kerja daripada sebagai kata benda.[1]  Ia berbicara secara eksplisit dan lugas tentang formasi kristiani, [2] yaitu sebagai sebuah proses pertumbuhan seorang yang sudah dibaptis menuju puncak kedewasaan dan kesempurnaan kristiani yaitu menjadi serupa dengan Yesus Kristus, menggapai kekudusan atau menjadi pribadi Kristus yang lain.[3] Bagi Montfort formasi kristiani atau proses pertumbuhan menuju kesempurnaan kristiani tidak lain adalah masuk dalam sekolah Maria, masuk dalam rahim perawan Maria dan membiarkan diri dididik, dibentuk, dan dilahirkan kembali oleh Maria menyerupai buah rahimnya yang pertama, Yesus Kristus. Dalam sekolah Maria ini, Allah sendiri dalam pribadi Roh Kudus adalah pilar sekaligus penggerak dan energi yang memungkinkan proses pertumbuhan itu terjadi dan Maria sebagai guru atau pembimbing utama,  sedangkan mata pelajaran pokok adalah tentang Yesus Kristus. Sebelum masuk dalam isi dan model formasi kristiani ala Monfort ini, kita melihat terlebih dahulu gagasan formasi yang tersirat dalam tulisan dan spiritualitas Montfort.

 Pokok Pikiran Montfort tentang Formasi  Kristiani

            Menyelami tulisan dan refleksi Monfort tentang formasi kristiani merupakan kunci memahami pedagogi dan asas-asas dasar formasi Montfortan. Berikut beberapa pemikiran dan pemahaman dasar Montfort tentang formasi kristiani

  1. Formasi sebagai ziarah hidup
  2. Bagi Montfort formasi Kristiani sejatinya adalah suatu ziarah kehidupan. Sebagai ziarah hidup ia mengikuti jejak ziarah Yesus Kristus, Sang Kebijaksanaan yang menjelma menjadi manusia dalam misteri inkarnasi.[4] “Bagi orang Kristen, ziarah yang terpenting adalah ziarah Sang Sabda menjadi daging dan tinggal di tengah-tengah. Dia yang tidak dapat ditampung oleh dunia menjadi daging dalam rahim Maria sehingga Ia bisa hadir ditengah kita dan mengambil bagian dalam kemanusiaan kita. Jawaban ‘ya’ Maria terhadap inisiatif Allah ini menjadi jalan yang dipakai oleh Kebijaksanaan Ilahi untuk menjelma. Jalan pengosongan diri Allah ini menjadi jalan keselamatan bagi kita”.[5] Dengan demikian formasi kristiani sebagai jalan menuju keserupaan dengan kristus tidak lain adalah sebuah ziarah hidup menuju persatuan dengan Allah yang sama. Dalam konteks ini, berziarah dalam jalan Maria dan bersama Maria, mengikuti jalan yang telah dirintis dan dilalui Allah sendiri adalah mutlak dalam pandangan Motfort.[6] Mengenai hal ini Montfort beralasan, “jika Allah yang kudus saja menggunakan jalan Maria untuk mendekati manusia, mengapa kita tidak memakai jalan yang sama? Mengapa kita begitu lancang ingin mendekati Yang Ilahi tanpa perantara?” Montfort kemudian menyimpulkan bahwa Maria adalah jalan yang paling mudah, singkat dan aman menuju Kristus.[7] Dalam proses ziarah Sang sabda menjadi daging atau misteri inkarnasi Montfort amat terpesona oleh kenosis atau pengosongan diri dan kerendahan hati Allah yang sangat tergantung pada Maria. Pertama, tergantung pada tanggapan/jawaban Maria atas tawaran malaikat. Kedua, setelah jawaban ‘ya’ Maria, Sang sabda sepenuhnya tergantung pada kesediaan dan kesuburan Rahim Maria, sama seperti kebutuhan semua bayi umumnya. Ketiga, setelah dilahirkan pun Ia masih tergantung sepenuhnya pada susu Maria, pada kasih keibuan Maria yang menjaga dan merawatNya. Dengan kata lain, formasi sebagai ziarah hidup adalah mengikuti jejak Sang Putera berani melangkah dalam jalan Maria dalam semangat kenosis (pengosongan diri) dan kerendahan hati.
  3. Formasi sebagai prosesRatio formatio misionaris montfortan berbicara tentang aspek bina lanjut atau ongoing formation sebagai bagian integral dari proses formasi montfortan. Menjadi montfortan di zaman ini berarti sebuah panggilan untuk masuk dalam proses pertobatan dan transformasi diri terus menerus.[9] Pater William Considine, mantan pemimpin umum SMM menggarisbawahi hal ini dalam pengantar ratio formasi SMM demikian: “Pada dasarnya formasi montfortan adalah soal ‘ongoing formation’, formasi yang bersifat permanen yaitu proses dibentuk setiap hari sebagai misionaris montfortan, proses pertobatan setiap hari yang bersifat inheren dalam hidup bakti religius montfortan.”[10]
  4. Seirama dengan formasi sebagai ziarah, Montfort merumuskan formasi sebagai sebuah proses. Ziarah adalah sebuah proses melangkah dan bertumbuh yang terus menerus. Di sini formasi montfortan berciri ‘selalu dalam perjalanan’, sesuatu yang aktif (bergerak maju) dan dinamis (tanpa kata berhenti atau selesai). Bertumbuh dalam kekudusan, dalam keserupaan dengan Kristus, karenanya memerlukan waktu, perjuangan, kesetiaan dan pengorbanan. Montfort menawarkan empat sarana praktis untuk mendapatkan Yesus Sang kebijaksanaan, yakni, perlunya kerinduan yang menggelora akan Dia, doa terus menerus, matiraga menyeluruh, dan bakti sejati kepada santa perawan Maria. [8] Dalam penjelasan detail keempat sarana ini Montfort menggunakan kata ‘terus menerus’ artinya keempat sarana ini bukan sekali jadi, tetapi diusahakan terus menerus, menjadi gaya hidup (habitus) setiap hari montfortan hingga ajal menjemput.
  5. Formasi yang bersifat holistik            Ciri holistik formasi montfortan juga secara imlisit tampak dalam rumusan pembaktian diri para montfortan. “Aku milikmu semata-mata…,” Totus tuus Maria.[15] Apa yang dipersembahkan kepada Yesus dalam tangan Maria adalah ‘segalanya.’ “Kita harus memberikan kepadanya badan kita beserta semua indera dan anggotanya, jiwa kita dengan seluruh kemampuannya, harta lahiriah kita, maksudnya milik duniawi kita baik yang kini maupun yang akan datang, harta batiniah dan rohani kita dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. Pendeknya, kita harus memberikan segala sesuatu yang kita miliki dalam tata alam dan tata rahmat dan segala sesuatu yang kemudian masih akan kita peroleh dalam tata alam, tata rahmat dan tata kemuliaan. Ini semua diberikan tanpa syarat apapun entah berupa uang, sehelai rambut atau karya amal yang paling kecil sekalipun dan ini untuk selamanya.” [16] Roh totus tuus ini juga bergema dalam semboyan kegemaran Monfort ‘Deo soli, hanya bagi Allah’ atau dalam refleksi terkini tentang hidup, karya, spiritualitas, dan ajaran Montfort, ‘seluruhnya atau tidak sama sekali’ [17] Spiritualitas dan slogan hidup semacam ini menegaskan kembali kualitas dasar yang harus dimiliki oleh setiap montfortan, baik religius maupun awam bila ingin bertumbuh dalam kesempurnaan kristiani, yakni menjadi pribadi yang bebas dan membaktikan diri sepenuhnya dalam tangan Maria, menjadi ‘liberos,’ anak-anak Maria.
  6. Bertumbuh dalam kebebasan dan pembaktian diri yang radikal seperti ini mengandaikan adanya kematangan di setiap aspek kehidupan, keberanian untuk menyangkal diri dan dunia, dan penyerahan diri total kepada Allah. Di sini formasi yang holistik memainkan peran penting. Pentingnya formasi holistik bagi para montfortan baik religius maupun awan secara praktis tampak dalam proses pembinan sebelum seseorang dapat mengikrarkan pembaktian diri Montfortan atau dikenal dengan Ziarah totus tuus. Dalam proses pembinaan selama kurang lebih 33 hari ini, bertolak dari inspirasi spiritual dan ajaran Montfort, seseorang dituntun melewati empat tahap proses pertumbuhan yaitu bertumbuh dalam pengenalan dunia (knowledge of the world), dalam pengenalan diri sendiri (self-knowledge), pengenalan Maria (knowledge of Mary), dan pengenalan Yesus, Kebijaksanaan Allah, sumber segala kesempurnaan (knowledge of Christ the Wisdom of God). [18]
  7. Ciri holistik formasi montfortan terekam jelas dalam tujuan akhir dan output formasi yang diimpikannya. Baginya formasi mesti terarah pada proses kelahiran kembali setiap pribadi menjadi diri yang ‘liberos’ dan sepenuhnya dibaktikan pada Allah melalui Maria. Dalam Doa Menggelora 7-12 kata liberos mempunyai dua pengertian yaitu liberos sebagai kata sifat menunjuk pada orang-orang yang bebas dan liberos sebagai kata benda menunjuk pada ana-anak sejati Maria. Orang yang bebas menurut Montfort adalah pribadi yang telah mencapai kematangan manusiawi dan spiritual, pribadi yang seluruhnya bebas baik secara fisik, mental-emosional dan spiritual. Pertama, bebas secara fisik adalah mereka yang seperti Yesus melepaskan diri dari semua jenis ikatan relasional baik seturut garis darah, dari persahabatan duniawi lainnya maupun dari ikatan dengan barang-barang duniawi. “Sama sekali tak lekat hati, tanpa ayah, ibu, tanpa saudara, saudari, tanpa sanak keluarga, tanpa persahabatan dunawi, tanpa harta (DM 7).[11] Kedua, bebas secara mental-emosional (psikologis) adalah mereka yang lepas dari aneka tekanan psikis yang dapat menggangu misalnya luka-luka batin atau trauma dan bayangan gelap masa lalu, juga berbagai jenis penyakit psikis lainya. “Tanpa masalah dan persoalan, malah tanpa kehendak sendiri, tidak direm oleh cinta diri (DM 7-8).[12] Ketiga, bebas secara spiritual adalah mereka yang sepenuhnya dikuasai dan digerakkah oleh Roh Allah, sepenuhnya taa dan setia tuntunan dan cara kerja Roh. Mereka yang mencapai kebebasan anak-anak Allah. “Hamba-hamba kasihMu, hamba-hamba kehendakMu, tokoh-tokoh yang sesuai dengan hasrat hatiMu, siap sedia melaksanakan kehendakMu, siap mentaati Engkau, bagai awan melayang tinggi mereka bergerak dan pergi menurut tiupan nafas Roh Kudus (DM 8-10).[13] Sedangkan Liberos sebagai kata benda adalah mereka yang bertumbuh dalam identitas diri sebagai anak-anak sejati Bunda Maria. Mereka yang mengenakan keutamaan-keutamaan marial seperti kerendakan hati, ketaatan yang tulus, iman yang kokoh dan kemurnian hati yang dalam. Mereka yang hidup dan besar dalam asuhan, bimbingan, didikan Maria. Mereka yang seluruhnya taat dan membaktikan diri sepenuhnya dalam tangan Bunda Maria. “Anak-anak sejati Maria yang dikandung dan dilahirkan oleh cinta kasihnnya, digendong dan dipangkunya, ditimang dan diberi minum dari susunya, dibesarkan oleh usaha pemeliharaanya, dipapah oleh tanganya, diperkaya oleh rahmatnya dan melaksanakan bakti yang sejati kepada perawan tersuci, pelayan-pelayan sejati Maria (DM 11-12).[14]
  8. Formasi Dalam Persekutuan (communio)Montfort secara meyakinkan berbicara tentang jalan marial menuju persatuan dengan Yesus. Keyakinan ini adalah buah atau sintesa dari pergumulan dan perjumpaannya dengan ‘yang lain’ sepanjang hidupnya. Sebagai pribadi iaa misalnya cenderung mewarisi watak keras ayahnya sekaligus meyerap watak lembut ibunya. Pemikirannya yang cemerlang dan unik tentang Maria bersemi dari devosi keluarga dan diperkaya oleh kegemaranya membaca. Ia juga seorang yang sangat akrab dengan kitab suci. Inspirasi dasar Montfort menulis Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi adalah kitab suci. [19] Dasar teologis ajaranya tentang ‘jalan marial ini’ berakar kuat dalam aliran sekolah prancis terutama Berulle dan dipersubur oleh praktek devosi marial yang popular di Eropa pada abad XVII. Ketika Berulle berbicara tentang Maria ia berbicara tentang Yesus. Baginya Maria dan Yesus adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Mengikuti St. Bernard ia berseru kita mesti datang kepada Yesus melalui Maria. Ia meletakkan seluruh kepercayaan dan keyakinan pada Maria dan menyebut diri sebagai hamba Maria.[20] Montfort sendiri adalah tokoh doa dan matiraga. Keyakinanya pada jalan marial ini merupakan buah doa dan kontemplasinya yang mendalam, juga mengalir dari devosinya yang mesra kepada Maria. Selebihnya Montfort tidak ingin tenggelam dalam kesalehan dan keyakinan diri yang tak sehat, Ia setia menemui pembimbing rohaninya juga taat pada atasannya. Hal-hal ini menunjukan bahwa locus formasi Montfort adalah communion, persekutuan dan keterkaitan dengan pribadi yang lain dan dengan roh zaman (konteks) dalam semangat dialog, saling belajar dan mendengarkan, saling percaya dan menghormati. Membaca riwayat hidup dan karya Montfort, hampir dapat pasti bahwa ia adalah pribadi yang sulit untuk hidup bersama dalam komunitas, namun ia unggul dalam kerendahan hati dan kepercayaan pada Allah yang memelihara hidupnya dan ketaatan pada pembimbing dan atasannya.
  9. Menggapai kekudusan, menjadi serupa dengan Yesus Kristus dalam formasi montfortan diamini sebagai sebuah proses pergumulan panjang dan perjumpaan terus menerus seorang pribadi dengan pribadi yang lain, termasuk bersentuhan dengan realitas-realitas hidup konkrit, seperti budaya, pergolakan sosial, gaya hidup dst. Dengan demikian, proses bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus tidak dilihat sebagai proyek pribadi atau hasil jerih payah pribadi melainkan selalu dalam kaitan dengan ‘yang lain’ (bisa dengan Tuhan, sesama dan lingkungan). Dalam konteks ini kita bisa berbicara tentang aspek relasional dalam setiap model formasi dimana didalamnya terjadi proses komunikasi, dialog, saling percaya, saling menghormati, saling belajar dan mendengarkan terus-menerus.

Ratio formasi SMM dalam prinsip dasar formasi montfortan menterjemahkan aspek persekutuan formasi ini dalam konsep ‘berjalan bersama.’ Berjalan bersama mengikuti jejak rasul-rasul yang miskin adalah ungkapan yang digemari Montfort. Dokumen ini menjelaskan bahwa gambaran ini ingin menegaskan bahwa formasi montfortan adalah  proses vital dimana seseorang diubah pada level kedalaman jati dirinya oleh sabda Allah sekaligus belajar menemukan tanda-tanda Allah dalam realitas dunia. Dengan demikian  formasi dalam persekutuan merupakan salah satu aspek penting dalam formasi montfortan.

 Dalam Sekolah Maria

          Setelah melihat pedagogi fomasi atau gagasan dasar formasi Monfortan, berikut akan dibahas tentang metodologi formasi meliputi metode dan sarana formasi yang dibutuhkan dalam proses formasi montfortan. Pada bagian pengantar tulisan ini telah disebut bahwa formasi monfortan sejatinya adalah masuk dalam sekolah Maria untuk dididik, dibentuk dan secara mengagumkan dilahirkan kembali oleh Maria menyerupai Yesus Kristus, buah sulung rahimnya. Disini Montfort ingin memperkenalkan intisari ajaran, spiritualitas, dan rahasia kesucian hidupnya yang digambarkan sebagai ‘jalan marial menuju kekudusan’ atau dalam istilah asli Montfort  ‘Rahasia Maria.’[21]Orang pilihan, inilah suatu rahasia yang diajarkan oleh yang maha tinggi kepada saya dan yang tidak saya temukan dalam buku manapun. Dengan ilham Roh kudus saya mempercayakanya kepada anda (RM 1).”[22] Sekolah Maria dalam gagasan Montfort tidak lain adalah imitasi dari model sekolah yang dilalui Yesus Kristus dalam misteri inkarnasi. Dalam peristiwa inkarnasi Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus telah memilih Maria sebagai jalan untuk mendekati dan bersatu dengan manusia. Mengenai sarana yang dipilih Allah ini Montfort dengan penuh keyakinan berseru Allah menghendaki untuk memulai dan menyelesaikan karyaNya yang agung melalui perawan tersuci mulai dari saat Ia menciptakanya, maka kita boleh dengan hati tenang percaya bahwa Allah tidak pernah akan merubah sikapNya (BS 15). Lebih lanjut Montfort menjelaskan, Allah Bapa telah memberikan Putera tunggalNya kepada dunia tidak lain daripada melalui Maria. Mengutip St. Agustinus ia menjelaskan bahwa dunia tidak layak  menerima Putera Allah langsung dari tangan Bapa dan karena itu Bapa telah memberikan PuteraNya kepada dunia agar menerimanya melalui Maria.  Allah Putera telah menjadi manusia demi keselamatan kita tetapi di dalam dan oleh Maria. Sang Putera menemukan tempatnya yang cocok dan aman dalam rahim perawan Maria dan memilih tergantung sepenuhnya pada Maria. Allah Roh kudus telah membentuk Yesus Kristus di dalam Maria setelah lebih dahulu meminta persetujuan wanita ini melalui salah satu malaikat agung. Roh Kudus mandul di dalam Allah karena ia tidak menghasilkan pribadi yang lain, tetapi melalui maria yang telah diambilnya sebagai mempelai, Dia menjadi subur, menghasilkan karya seniNya, Allah menjadi manusia (BS.16) [23]  Melalui ragam penjelasan seperti ini Montfort meyakinkan pendengarnya bahwa bila Allah saja menggunakan jalan dan sarana Maria untuk mendekati manusia, mengapa kita tidak memakai jalan yang sama untuk mendekati Allah (BS 75)? Bila Yesus saja memilih Maria untuk dibentuk, diasuh dan dibesarkan Maria, dan Oh! Sepenuhnya tergantung dari Maria, mengapa kita enggan masuk dalam rahim yang sama untuk dibentuk kembali oleh Roh kudus menyerupai Yesus, buah sulung Maria?

Dalam sekolah ini, Maria sendiri menjadi lembaga dan guru utamanya sedangkan Roh Kudus adalah Ruah, Energi atau Daya Ilahi yang sepenuhnya mengendalikan proses pembentukan (kreasi) dan penciptaan kembali (rekreasi) mereka yang masuk dalam sekolah ini. Masuk dalam sekolah Maria berarti mendaftarkan diri, datang kepada Maria secara sukarela dan dengan kepercayaan penuh pada bimbingan dan bantuan Maria. Kepercayaan yang kuat bahwa dalam sekolah ini, dalam asuhan Maria mereka akan bertumbuh dan dilahirkan kembali oleh daya Roh kudus menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Singkatnya, masuk dalam sekolah Maria berarti membangun relasi dan kedekatan yang personal dan intim dengan Maria. Di sini Montfort mengaitkan proses dasar formasi Montfortan dengan Bakti yang sejati kepada Maria.[24] Dalam Bakti Sejati 120 ia memberi alasan fundamental: “Seluruh kesempurnaan kita terdiri dari hal ini, bahwa kita serupa dengan Yesus Kristus, bersatu denganNya, dan dibaktikan kepadaNya. Dari situ jelas sekali bahwa devosi yang paling sempurna adalah devosi yang secara paling sempurna membuat kita serupa dengan Yesus Kristus, mempersatukan kita denganNya dan membaktikan diri kita kepadaNya. Nah , dari semua mahluk, Maria adalah yang paling serupa dengan Yesus Kristus sehingga tidak ada satu pun devosi yang lebih membaktikan seorang manusia kepada Tuhan dan membuatnya serupa denganNya daripada devosi kepada Bunda tersuci. Jadi, semakin orang dibaktikan kepada Maria, semakin pula dia dibaktikan kepada Yesus Kristus. Maka dari itu pembaktian sempurna kepada Yesus Kristus adalah tidak lain dari pembaktian diri sendiri yang sempurna dan seutuhnya kepada perawan tersuci.”[25]

Bagi Montfort bakti sejati kepada Maria tidak lain adalah pembaharuan sempurna dari janji-janji baptis kita. Oleh sakramen baptis kita dipanggil menjadi kudus, untuk menjadi serupa dengan Kristus. Jalan yang kita pilih untuk mencapai puncak kesempurnaan kristiani ini adalah menjadi milik Allah, menjadi milik kristus selamanya. Disini letak hubungan antara janji baptis dan bakti sejati kepada Maria yakni bahwa oleh bakti ini kita ingin memberikan diri secara radikal, seluruhnya kepada Allah, menjadi milik Allah melalui tangan bunda Maria. Jadi, masuk dalam sekolah maria tidak lain adalah sarana efektif untuk memperbaharui janji-janji baptis kita (BS 126).[26]

Esensi dari bakti sejati kepada Maria yang kini menjadi doa persembahan diri harian dan menjadi roh para montfortan ini adalah penyerahan diri secara radikal kepada Maria, menyerahkan segala-galanya: tubuh kita beserta seluruh indera dan anggotanya, jiwa dan seluruh kemampuanya, harta lahiriah, milik duniawi kita baik yang ada sekarang maupun yanga akan datang, dan semua harta rohani kita meliputi pahala, keutamaan, karya amal yang telah, sedang dan akan kita lakukan. (BS 121).[27] Secara eksplisit radikalisme penyerahan dan pemberian diri ini tampak dalam istilah Montfort bagi para pengikutnya sebagai hamba Maria yaitu menjadi hamba secara sukarela dan karena kasih pada Maria.[28] Dalam tulisanya yang lain, Cinta Sang Kebijaksanaan Ilahi, Ia menggarisbawahi bahwa hakikat bakti sejati terletak pada penghormatan yang tinggi pada keangungan Maria, rasa terima kasih yang besar atas kebaikannya, semangat yang tinggi atas kemuliaanya, memohon bantuanya terus menerus, bergantung penuh pada kekuasaanya, bersandar teguh dan percaya penuh pada kebaikan bundawinya (CKA 215).[29]

Bakti kepada Maria menurut Montfort mestilah ungkapan bakti yang sejati yang berasal dari hati penuh cinta dan kepercayaan. Ia membedakan antara bakti yang sejati dan bakti yang palsu kepada Maria.[30] Ciri bakti yang sejati menurut Montfort, antara lain, ialah bakti yang bersifat batin artinya berasal dari budi dan hati, tumbuh dari rasa hormat kita pada Maria; bakti yang bersifat lembut artinya penuh kepercayaan terhadap perawan tersuci, seperti seorang anak terhadap bundanya yang baik; bakti yang bersifat suci yang mengantar orang menjauhi dosa, dan mengikuti keutamaan keutamaan Maria terutama kerendahan hati, imannya yang hidup dan ketaatanya yang buta (BS 106-108). [31] Jadi, masuk dalam sekolah Maria juga berarti datang kepada Maria dengan sikap bakti yang sejati, penuh rasa hormat dan percaya, juga didorong oleh kehendak yang kuat untuk mendengarkan dan taat pada asuhan dan bimbingan Maria. Montfort meyakinkan pendengarnya bahwa Allah Putera sendiri telah masuk dalam sekolah Maria dan sepenuhnya taat dan tergantung pada Maria, maka kita pun tanpa ragu memilih jalan yang sama untuk tergantung pada Maria.[32]

Montfort tak jemu jemunya meyakinkan pendengarnya tentang pentingnya masuk dalam sekolah Maria tanpa dibayangi keraguan dan ketakutan, tentang pentingnya bakti sejati kepada Maria. Bagi Monfort dalam sekolah Maria ini kita akan menemukan semua hal yang kita perlukan bagi pertumbuhan dan pembentukan kita menjadi serupa dengan Yesus. Ia menambahkan, Maria bahkan bukan sekedar sarana yang sempurna untuk menyerupai Yesus Kristus, tetapi sebagai sarana yang paling mudah, pendek atau singkat, dan aman. “Jalan itu telah dibuka oleh Yesus Kristus. Siapa yang akan mengikuti jalan yang sama tidak akan keliru. Sebuah jalan yang mudah karena di jalan itu orang menemukan kepenuhan rahmat dan pengurapan Roh Kudus sehingga mereka tidak akan menjadi lelah dan mundur; jalan yang pendek karena dapat mengantar orang kepada kristus dalam waktu singkat; jalan yang aman karena mengantar orang secara langsung dan aman kepada Yesus dan kepada hidup yang kekal (BS 168).”[33] Dalam Bakti sejati 6 secara analogis Montfort menyebut Maria sebagai taman firdaus Adam Baru sebab di dalamnya Yesus, Adam baru menjadi manusia oleh karya Roh Kudus, taman yang seluruhnya dipenuhi Allah dengan segala keindahan dan harta yang tak terkatakan, taman yang di dalamnya yang Maha Tinggi menyembunyikan Putra tunggalNya bersama dengan yang paling mulia dan paling bernilai yang dimiliki Allah. Oh! Betapa Allah telah mengerjakan hal-hal besar dan tersembunyi di dalam mahluk yang mengagumkan ini, seperti diakuinya sendiri, “Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar terhadapku.” (Lukas 1:49).[34] Lagi, ia menegaskan bahwa Maria sendirilah taman firdaus itu, tanah yang perawan dan terberkati dimana Adam dan Hawa yang berdosa telah diusir keluar dan karenanya Maria membolehkan masuk ke dalam diri hanya para pria dan wanita yang diperkenankan menjadi kudus (BS 45).[35]

 Dididik Oleh Maria

Dalam sekolah Maria, kita akan berjumpa dengan Maria sebagai pendidik utama. Kita akan diperkaya oleh pengetahuan dan pengalaman personal Maria yang sangat kaya dan dalam tentang Allah.  Sebagai guru utama, mata pelajaran pokok yang ia ajarkan adalah tentang Yesus Kristus. Maria adalah ahlinya Yesus sebab Ia adalah wanita yang paling erat bersatu dan dekat dengan Kristus, melebihi para kudus dan para malaikat sekalipun,  paling mengenal siapa Yesus dan bagaimana mesti bergaul dengan Yesus. Maria adalah murid Yesus yang paling setia. Ia tahu apa artinya menjadi murid Yesus dan rahasia hidup sebagai murid Yesus yang setia. Montfort menegaskan bahwa persatuan Maria dan bersifat unik dan tiada duanya “siapa menemukan Maria, menemukan Yesus” (BS 50)[36]. Demikian juga mengenal Maria berarti juga mengenal Kristus dan sebaliknya. Maria seluruhnya dipenuhi oleh Roh Kristus.[37] Bukan lagi Maria yang hidup, melainkan hanya Kristus, hanya Allah saja yang hidup dalam dia (RM 21)[38] sehingga Maria hanya mengajarkan Kristus dan membawa semua orang pada kristus. “Tak ada yang diinginkan Maria selain menyatukan setiap orang dengan Yesus puteranya. Sebaliknya tidak ada yang lebih disukai Puteranya daripada bahwa kita datang kepadaNya melalui Maria  (BS 75).”[39]

 Sebagai mempelai setia Roh Kudus Maria juga adalah ahli Roh Kudus sebab ia adalah mempelai pertama dan tersuci Roh Kudus. Ia tahu bagaimana menerima dan menyenangkan Roh Kudus. Sebagai Putri terkasih Allah Bapa, Maria juga membagikan ilmunya kepada hamba-hambanya untuk sepenuhnya taat, percaya, dan mengasihi Bapa. Pendek kata, Maria membantu kita mengenal dan mencintai Allah secara sempurna. “Sekali menemukan Maria dan melalui Maria menemukan Yesus dan melalui Yesus Allah Bapa, berarti menemukan segala yang baik.[40] Dalam bahasa Yohanes Paulus II Maria adalah ‘dia yang relasional’ yang takkan pernah ada jika tidak dalam relasinya dengan Allah, atau dia adalah gema Allah yang hanya mengatakan atau mengulangi Allah saja gema Allah.[41]

 Sikap yang sangat dibutuhkan dalam didikan Maria adalah mendengarkan Maria, mendengarkan kisah hidup dan pengalaman Maria menjumpai, mengenal, mencintai, dan mengabdi Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan demikian, kita membiarkan pengetahuan dan pengalaman Maria akan Allah menjadi pengalaman kita juga, membiarkan kisah Maria menjadi kisah kita, kata-kata Maria menjadi kata-kata kita. Misalnya mendengarkan kata kata yang sering keluar dari mulut maria saat ia kebingungan mendengar kata-kata Malaikat, saat ia mengikuti jalan salib Puteranya, “terjadilah, terjadilah padaku menurut kehendakMu.[42] Saat melihat krisis tuan pesta pada perkawinan di Kana Maria tahu kepada siapa mesti mengadu juga paham betul apa yang perlu dilakukan para pelayan dalam situasi sulit semacam itu, “lakukan apa saja yang Ia katakan kepadamu.” Kata-kata Maria ini dapat menjadi kata kata kita saat kita berhadapan dengan krisis hidup yang sama, saat mengalami kebingungan dan kekosongan hidup. Dalam hal ini kita bertumbuh menjadi murid sejati Maria.

 Dibentuk Oleh dan Dalam Maria

Dalam sekolah Maria, kita membiarkan diri dibentuk oleh Maria. Dibentuk dan dipahat oleh keutamaan-keutamaan dan sikap-sikap Maria sehingga kita hanya memiliki roh dan jiwa Maria saja. Montfort mengamini perkataan St. Ambrosius ini: “Semoga jiwa Maria hadir dalam setiap orang untuk mengagungkan Tuhan, semoga Roh Maria hadir dalam setiap orang untuk mengagungkan Tuhan.”[43] Buah dari bakti sejati kepada Maria menurut Montfort adalah kebahagiaan tak terhingga dimana kehidupan Maria yang tetap hadir dalam kita, sehingga bukan kita lagi yang hidup tetapi Maria di dalam kita. Juga dapat dikatakan jiwa Maria menjadi jiwa kita (RM 55).[44] Montfort menambahkan, Bila orang dipenuhi Roh Maria, menjadi tempat kediaman Maria, Maria akan menjadi segala-galanya bagi yang bersangkutan. Maria akan menerangi budi orang itu dengan imanya sendiri, meresapi orang itu dengan kerendahan hatinya, dan memperluas serta menyalakan hati orang itu dengan cinta kasihnya, memurnikan dia dengan kemurnianya, memuliakan dan membesarkan hatinya oleh sikap keibuanya (RM 57).

Bagaimana mengupayakan agar kita menjadi tempat kediaman Maria atau tepatnya Roh kita menjadi Roh Maria? Sebagaimana telah dibicarakan sebelumnya, dalam sekolah Maria yang membentuk kita adalah Roh Kudus, daya Illahi sendiri. Namun agar Roh Kudus benar-benar dapat bekerja, Ia membutuhkan jiwa seperti jiwa Maria dan rahim seperti rahim Maria yang terbuka dan tersedia bagi karyaNya. Sebab “Roh kudus  mandul di dalam Allah tetapi menjadi subur dalam Maria. Dalam wanita ini, di dalam dia dan dari dia, Roh Kudus telah menghasilkan karya seniNya, Allah menjadi manusia. Dengan cara yang sama ia masih melahirkan setiap hari, sampai akhir zaman kaum pilihan yaitu anggota-angggota tubuh dari kepala. Oleh karena itu makin di dalam satu jiwa Roh Kudus menemukan Maria pengantinNya yang tercinta dan tak terpisahkan, makin kuat Roh Kudus berkarya dan berkuasa untuk melahirkan Yesus Kristus di dalam jiwa-jiwa itu dan jiwa itu di dalam Yesus Kristus”(BS 20).[45] Kita dapat dibentuk Roh Kudus dalam kerjasama dengan Maria bila kita terus menerus mengkontemplasikan keutamaan-keutamaan dan sifat-sifat Maria dan membiarkan diri diresapi dan diubah oleh keutamaan-keutamaannya. Melalui kontemplasi terus menerus pada keutamaan keutamaan Maria terutama imanya yang hidup, kerendahan hatinya yang mendalam, dan kemurnian yang sepenuhnya Ilahi, kita akan diresapi dan diubah oleh keutamaan yang sama, sehingga keutamaan Maria menjadi keutamaan kita. Pater George Madore, smm merumuskan dengan baik daya kontemplasi dalam pengertian Montfort, “menatap untuk menjadi serupa.”[46] Jadi, dapat kita rumuskan juga kontemplasi atas keutamaan dan sifat Maria dengan menatap Maria untuk menjadi serupa dengan Maria. Kata Roh Kudus kepada Maria: “Kekasihku, Mempelaiku tanamkanlah semua keutamaanmu dalam orang pilihanKu agar mereka berkembang dari keutamaan ke keutamaan dan dari rahmat ke rahmat.” (BS 34).[47] Pada fase ini, kita mempunyai rahim yang kosong, bersih, dan tersedia bagi Roh Kudus. Inilah jiwa yang subur bagi Roh kudus.  Bakti kepada perawan tersuci, tegas Montfort, membantu seseorang untuk secara radikal dapat mengosongkan dirinya dan menghilangkan cinta diri (BS 18).[48]

Secara praktis membiarkan diri dibentuk oleh dan dalam Maria, usul Montfort, dapat kita lakukan dengan melakukan segala-galanya dalam hidup kita melalui, dengan, dalam, dan untuk Maria (BS 260-265).

Melalui Maria berarti, dalam segala hal kita harus taat kepada Perawan tersuci dan membiarkan diri dibimbing oleh Rohnya, yang tidak lain adalah Roh Allah, Roh Yesus sendiri. Mereka yang hidup dengan cara ini disebut sebagai anak-anak Maria, hamba-hambanya. Maria sendiri tidak pernah membiarkan dirinya dibimbing, dikuasai oleh rohnya sendiri, melainkan hanya oleh Roh Allah saja. Roh Allah begitu menguasainya sehingga Dia menjadi roh Maria sendiri. Untuk itu kita perlu dilakukan adalah menyangkal roh diri kita sendiri dan segala keinginanya, lalu menyerahkan diri pada roh Maria. Kedua hal ini mesti dilakukan terus menerus setiap hari hingga Roh Maria dengan sempurna ada dalam kita.

Dengan Maria berarti, menjadikan Maria sebagai model yang sempurna. Dalam setiap tindakan, kita bertanya apa yang akan Maria katakan, lakukan, bila ia ada dalam situasi saya ini? Disini kita perlu mengkontemplasikan tiga keutamaan dasar seperti telah diuraikan tadi.

Dalam Maria berarti, diajak untuk sungguh-sungguh mengenal Maria, keindahan, dan keistimewaanya yang tak tertandingi, misalnya sebagai taman firdaus Allah, pohon kehidupan yang menghasilkan buah termanis Yesus Kristus, dan semua gelar yang diberikan bapa gereja terhadap Maria. Bagi Montfort pengenalan akan Maria ini sendiri merupakan karunia rahmat Allah dalam diri seseorang. Nah, bila sudah mendapat karunia mengenal Maria, kita harus tinggal dengan tenang dalam batin dan Rahim Maria, beristirahat dan bersandar disitu dalam damai dan penuh kepercayaan. Dalam Rahim Sang Perawan ini kita akan dibesarkan dengan susu rahmat dan kerahiman keibuanya; dibebaskan dari ketakutan, kecemasan, dan kepekaan yang berlebihan; diamankan dari semua musuh kita yaitu roh jahat, dunia dan dosa-dosa kita; dan akhirnya dibentuk dalam Yesus Kristus dan Yesus Kristus akan dibentuk di dalam kita karena rahimnya. Inilah yang dimaksud para bapa Gereja tentang Maria sebagai ruangan misteri-misteri Ilahi, tempat Yesus Kristus dan semua orang terpilih dibentuk, seorang demi seorang dilahirkan didalamnya (MZM 87:6).

Untuk Maria berarti, dalam segala hal kita melakukan segalanya untuk Maria sebagai bentuk  konkrit penyerahan diri kita seluruhnya untuk mengabdi dia, tanpa sedikit pun keraguan. Kita juga berusaha membawa setiap orang untuk menjadi abdinya, menjadi hamba hamba Maria.

 Dilahirkan Kembali dalam Rahim Maria

Dengan melewati proses formasi dalam sekolah Maria, dididik dan dibentuk Maria, Sampailah kita pada puncak formasi montfortan yaitu dilahirkan kembali menyerupai buah sulung Maria, Yesus Kristus. Sampai disini, menarik untuk disadari bahwa mengenai proses dididik dan dibentuk oleh Maria pembicaraan kita melulu berpusat tentang Maria dan perannya yang menonjol dan istimewa seolah olah proses formasi montfortan berhenti pada Maria, seolah-olah Maria adalah tujuan terakhir dari bakti kepada Maria (maria-centris). Hal ini pulalah yang sering kali menjadi keberatan dan kritik atas ajaran Montfort. Terhadap kritik semacam ini Beato Yohanes Paulus II memastikan bahwa ajaran Montort tentang Maria sungguh bersifat Kristosentris dan berakar dalam misteri Allah Tritunggal dalam misteri inkarnasi.[49]Dalam bagian ini kita akan melihat dengan jelas bahwa Maria hanyalah sarana dan bukan tujuan akhir formasi montfortan. Montfort sendiri dengan tegas mengatakan bahwa Yesus Kristus penebus kita, sungguh Allah dan sungguh manusia harus menjadi tujuan akhir segala bakti kita, kalau tidak bakti itu tidak tepat dan menyesatkan. Yesus Kristus adalah satu-satunya guru untuk mengajar kita, satu-satunya Tuhan kepadanya kita bergantung, satu-satunya kepala yang denganNya kita bersatu (BS 61). Kemudian ia menyimpulkan bahwa bakti kepada Maria hanyalah sebuah sarana “untuk menemukan Yesus Kristus dengan sempurna, mencintaiNya dengan mesra dan melayaninya dengan setia” (BS 62). Model formasi montfortan mesti menjawab kerinduan setiap orang untuk bersatu dengan Kristus dan karenanya dalam sekolah Maria kita mempersiapkan tanah yang subur bagi persatuan itu. Dengan tinggal dalam Maria, seseorang sedang dalam proses menuju ciptaan baru dalam kristus itu, dimana kita dibentuk dalam Maria untuk menyerupai Kristus.[50]

Dengan membiarkan diri dididik dan dibentuk oleh dan dalam Maria kita sampai pada perubahan rupa dimana roh kita sepenuhnya dikuasai dan diubah menjadi roh Maria. Kita menjadi tempat kediaman Maria. Disisni Maria memainkan peran besar dalam membidani proses perubahan ini. Selanjutnya, Roh kudus dan Maria mengambil alih kendali dalam membidani kelahiran kembali kita dalam kristus. Pendek kata, membentuk kita kembali menjadi serupa dengan kristus dalam Rahim Maria. Kerjasama Roh Kudus dan Maria ini mengubah kita menjadi ciptaan baru dalam kristus. Montfort  mengikuti analogi St. Agustinus yang menyebut Maria sebagai ‘cetak tuang Allah’.[51] Barangsiapa dituang ke dalamnya dan mau dibentuk akan sempurna menyerupai tuangan yang pertama Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita perlu bersatu dengan Maria, mengenakan Maria agar Roh Kudus menjadi subur dalam kita dan membentuk kita kembali dalam rupa Kristus.

Dalam rahim Maria, oleh kuasa Maria dan karya Roh Kudus secara mengagumkan kita mengalami transformasi diri, dilahirkan kembali menjadi manusia baru serupa dengan Yesus Kristus. Ciptaan baru yang memiliki kualitas-kualitas berikut. Pertama, manusia liberos, yaitu pribadi yang seluruhnya bebas, baik secara secara fisik, emosional, maupun spiritual. Manusia yang sepenuhnya tersedia bagi Allah saja. [52] Berkat persatuan kita dengan Maria, Maria mengantar kita pada pengenalan diri yang dalam,  terutama diri kita yang telah rusak akibat dosa, juga kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita kemudian membantu kita menerima diri dan kelemahan ini dalam semangat kerendahan hatinya (BS 213). [53] Bakti kepada Maria ini juga seperti sudah disebut sebelumnya memampukan orang untuk menyangkal diri, mengosongkan diri dan melenyapkan cinta diri yang berlebihan. Inilah jalan menuju pribadi liberos sebagaimana dirindukan oleh Montfort. Paus Fransiskus dalam ensikliknya yang pertama Evangelii Gaudium tentang pewartaan injil dalam dunia masa kini menegaskan pentingnya pribadi yang liberos agar kita dapat memberi ruang bagi orang lain dan bagi Allah. “Whenever our interior life becomes caught up in its own interests and concerns, there is no longer room for others, no place for the poor. God’s voice is no longer heard, the quiet joy of his love is no longer felt, and the desire to do good fades. This is a very real danger for belivers too.”[54]

 Kedua, manusia beriman tangguh yaitu pribadi yang imanya akan Allah bersifat tak tergoyahkan dan tak pernah kering. Montfort melukiskan, berkat persatuan kita dengan Maria, ia menganugerahkan kepada kita imannya sendiri, iman yang melebihi iman bapa bangsa, para nabi dan para kudus manapun, sehingga seluruh tindak tanduk kita seluruhnya digerakan oleh iman yang murni dan kokoh ini (BS 214). Disini sebagai bendahari rahmat Allah, maria membagikan rahmat imanya kepada setiap orang yang ia mau.[55] Maria juga menurut Montfort akan memperbesar kepercayaan kita yaitu kepercayaan kepada Allah dan kepada dirinya sendiri (BS 216).  Ketiga, manusia yang berhati mulia, yaitu pribadi yang seluruhnya dipenuhi dan digerakan oleh kasih. Kita tidak lagi bertindak karena takut akan Allah, tetapi karena kasih padaNya (BS 215). Kita juga akan dicurahkan Maria hatinya sendiri sehingga kita sanggup memuliakan Allah dalam segala hal. Ia menggantikan Roh kita untuk bersukaria di dalam Allah. Keempat, yang paling mengagumkan adalah menjadi manusia Yesus Kristus, yaitu pribadi yang seluruhnya dijiwai dan digerakan oleh Roh Yesus sendiri (BS 218).  Bagi Montfort bila disebutkan bahwa praktik sempurna batiniah dari bakti sejati kepada Maria adalah melakukan segala-galanya melalui, dengan, dalam, dan untuk Maria, itu tidak lain agar kita mampu melakukan segala-galanya melalui, dengan, dalam, dan untuk Yesus Kristus. Inilah tujuan akhir proses formasi Montfortan[56].

Melakukan segala-galanya melalui Kristus menyingkapkan bahwa pusat formasi montfortan mestilah sebagai tindakan dan ungkapan iman akan Yesus Kristus.Singkatnya seluruh tindakan, karya, keputusan, tindakan kasih kepada sesama, juga kebebasan kita mesti merupakan buah dari kontemplasi kita yang mendalam akan Yesus Kristus.

            Melakukan segala sesuatu bersama Kristus berarti membiarkan Kristus  menjiwai seluruh hidup, perbuatan, dan karya kita. Seluruh hidup kita ditandai dan dijiwai oleh kasih yang ada dalam diri Kristus.

            Melakukan segala-galanya dalam Kristus dalam berarti menjadikan hidup kita semakin berakar dalam kristus. Hidup dan hati kita bergerak semakin bebas dan spontan seirama dengan gerak hati Kristus. Kita menjadi sehati dan seperasaan dengan Yesus berkat persatuan kita denganNya.

            Melakukan segalanya untuk Kristus berarti bila kita sudah dijiwai, diresapi dan digerakan oleh Kristus, maka pada saat itulah hidup kita berubah menjadi manusia baru, hidup dengan cara baru, gaya baru karena kristus telah menjadi segala-galanya bagi kita. Singkatnya kita memilih hidup hanya bagi Kristus saja.

 Sarana Pendukung Lain

            Sejauh ini fokus kita adalah bakti sejati kepada perawan tersuci sebagai sarana paling efektif dan sempurna untuk mencapai kekudusan atau untuk menjadi serupa dengan Kristus. Montfort dalam CKA 181-202) menyebut sarana efektif lain untuk mendapatkan Yesus , Sang kebijaksanaan dalam hati. Sarana-sarana ini mendukung dan menopang sarana pokok tadi, antara lain: 1)  Adanya kerinduan yang kuat dalam hati akan Yesus, Sang Kebijaksanaan. Kerinduan ini menurut Montfort adalah benih yang ditanamkan Allah dalam hati setiap orang berkat pengenalannya akan keindahan, keagungan, kekayaan yang dipancarkan Yesus di dalamnya dan berkat kesetiaanya melakukan perintah-perintah Allah. 2) Doa yang terus menerus, yaitu berdoa dengan iman yang hidup dan teguh, tanpa ragu-ragu, dengan iman yang murni, dan dengan berdoa terus menerus tanpa henti. Doa bagi Montfort adalah sarana biasa untuk menggapai dan bersatu dengan Allah. 3) Matiraga, yaitu matiraga yang dilakukan secara menyeluruh (baik fisik/materi, mental-emosional, maupun spiritual), terus menerus, penuh keberanian dan dengan sungguh-sungguh/serius. Matiraga menjadi sarana efektif untuk benar-benar mengosongkan diri bagi Allah.[57] 4) Sarana penting lain yang dapat kita simpulkan dari model formasi yang ditawarkan Montfort adalah kontemplasi yang dalam akan Yesus dan Maria. Urgensi Kontemplasi dalam metodologi formasi montfortan dimaksud untuk sebagai sarana untuk mengenal  Allah dan misteriNya, untuk mengenal Yesus dan Maria secara lebih dalam. Senada dengan Montfort, Miller menyebut kontemplasi  sebagai sarana utama jiwa untuk belajar dan mengenal.[58] Lebih dari itu, Montfort melihat kontemplasi sebagai sarana untuk meraih persatuan dengan Yesus dan Maria. Rosario misalnya menjadi doa kontemplatif kegemaran Montfort untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus. Pater George Madore, smm merumuskan dengan baik daya kontemplasi dalam pengertian Montfort, “menatap untuk menjadi serupa.”[59] Dengan demikian dapat dikatakan juga kontemplasi atas Yesus dan misteri hidupnya dengan menatap Yesus untuk menjadi serupa dengan Yesus.  Demikian juga kontemplasi atas keutamaan dan sifat Maria dengan menatap Maria untuk menjadi serupa dengan Maria. Disinilah kekuatan kontemplasi dalam pemahaman Montfort.  

 Catatan Akhir

Sebagai penutup penulis dapat menyimpulkan beberapa poin sebagai berikut:

Pertama, formasi Montfortan sejatinya merupakan sebuah model perziarahan iman kristiani yang tak berujung. Ziarah iman ini intisarinya merupakan gema dari panggilan pada kekudusan yang telah ditanam Allah dalam diri setiap orang ketika ia dibaptis hingga benar-benar menggapai puncak kesempurnaan kristiani yaitu keserupaannya dengan Kristus dan menjadi milik kristus sepenuh-penuhnya. Karenanya, ziarah batin iman ini tak lain sebagai pergulatan iman setiap orang yang dibaptis untuk menemukan, mendengarkan, menatap, meresapi dan membiarkan Allah menuntun, menguasai dan mengubah hidupnya hari demi hari.

            Kedua, metode dasar formasi montfortan yang sekaligus sebagai ciri khas dan sarana efektif dalam mencapai sasaran formasi montfortan adalah masuk dalam sekolah Maria dan membaktikan diri kepada Maria agar dapat sepenuhnya membaktikan diri kepada Yesus; bersatu dengan Maria agar dapat bersatu dengan Yesus; menjadi hamba Maria agar dapat sepenuhnya menjadi hamba Yesus. Ringkasnya, menuju Yesus melalui Maria.

Ketiga, pola dasar atau tahap-tahap formasi montfortan dimulai dengan pengenalan diri dan panggilanya pada kekudusan; hal ini menuntunya pada penyangkalan diri yang radikal; lalu menggerakannya untuk menyerahan diri kepada Yesus melalui Maria; kemudian membiarkan Allah membentuk dan melahirkannya kembali menyerupai Kristus dalam Rahim Maria; dan akhirnya hidup sebagai ciptaan baru dalam Kristus.

Keempat, berkaca pada model-model formasi yang berkembang dewasa ini secara kita menangkap kesan bahwa Monfort lebih sering berbicara tentang dimensi spiritual formasi dan mengabaikan aspek-aspek lainnya, namun ia tidak bermaksud demikian, misalnya ia berbicara tentang aspek manusiawi formasi yaitu tentang pengenalan dan penyangkalan diri dan soal bertumbuh menjadi manusia yang bebas (liberos). Dalam hal ini memahami konteks terutama cara berpikir ‘dualisme’ yang  kental pada zamannya dapat membantu kita memahami model formasi Montfort.

Kelima, bila Montfort berbicara tentang formasi, ia menunjuk pada formasi dasar kristiani. Dengan demikian berlaku baik bagi formasi religius montfortan dan juga terutama bagi formasi kaum awam. Disinilah letak sumbangan pemikiran Montfort, meniadakan sekat yang membedakan antara formasi kaum religius dan formasi kaum awam, karena memancar dari sumber yang sama yaitu panggilan pada kekudusan berkat sakramen baptis.

 [1] Formasi sebagai kata kerja menunjuk pada formasi sebagai sesuatu yang dinamis dan aktif, menjelaskan sebuah proses untuk bertumbuh dan berkembang, dan kadang bersifat abstrak sebaliknya sebagai kata benda bersifat statis, pasif, dan metodologis. Dalam hal ini misalnya berbicara tentang formasi sebagai lembaga atau tahap-tahap formasi.

[2]  Selanjutnya istilah formasi montfortan dan formasi kristiani dipakai dalam arti yang sama, sebab dalam ajaran Monfort kedua hal ini pada dasanya menunjuk pada realitas yang sama dimana yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain.

[3] Bdk. Lumen Gentium No. 40, Dokumen Konsili Vatikan II, R. Hardawiryana, S.J. (Terj), Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor, 2002, Hlm. 125.

[4]  Montfort gemar menyebut Yesus Kristus, sebagai Sang kebijaksanaan Abadi. Bila menyebut Sang kebijaksanaan, ia menunjuk pribadi Yesus kristus yang menjelma dan disalib.

[5]  Walking together in the footsteps of the poor apostles, Formation in montfortian life, Volume I-Inspirational principles: the spirit of montfortian formation, Company of  Mary, Rome, hlm. 17.

[6] Bakti Sejati Kepada Maria, Persiapan Menghadapi Kerajaan Yesus Kristus no.157, Santo Louis-Mariae Grignion de Montfort, Serikat Maria Montfortan (SMM), Bandung, 2009, Hlm. 129

[7]  Ibid, Bakti Sejati No. 152-159, hlm. 125-131

[8]  Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi  181-222, St. Louis-Mariae Grignion de Montfort, Seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan, Malang, 2009, hlm. 231-256

[9]  Walking together, Op.cit., hlm. 40

[10]  Ibid., Hlm. 3

[11] Montfortan Masa Kini, Serikat Maria Montfortan, Bandung:1995, hlm. 13

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14]  Montfortan Masa Kini, Op.cit. Hlm 13-14

[15]  Paus Yohanes Paulus II menggunakan “Totus tuus” sebagai moto kepausannya. Moto ini sungguh diinspirasi oleh ajaran khas Montfort tentang bakti sejati kepada perawan tersuci Maria dalam maha karya Montfort  ‘Bakti Sejati’ (Lihat. Surat kepada Para Anggota Hidup Bakti dari Keluarga Besar Montfortan, tertanggal 8 Desember 2003, untuk memperingati 160 tahun edisi pertama Bakti sejati kepada Maria).

[16]  Bakti Sejati, Op.cit,  Hlm. 121

[17]  Buku Seluruhnya atau tidak sama sekali ditulis oleh H. Hechtermans smm, kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Serikat maria Montfortan, Bandung 2005 dengan judul asli Alles of Niets)

[18] Bdk. Totus Tuus A Marian Way to Christ-Wisdom, Claude Sigouin & Mario Beloti, Motfort Missionaries, Philippines, 2003.

[19]  Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi, loc.cit., hlm. 13

[20]  Battista Cortinovis smm, Montfort Pilgrim in the Church, Missionari Montfortani, Roma, 1997, Hlm. 66

[21]  Kata rahasia yang dipakai Montfort mempunyai tiga makna: 1) sebuah revelasi (revelation) yaitu membuka selubung, membiarkan sesuatu di lihat dan dipahami orang lain. 2) Sesuatu yang bersifat rahasia (confidensial). Ia berkata, ‘ saya percayakan rahasia ini untuk anda’. Menunjuk pada kata  mysterium dalam tulisan sato Paulus yang berate suatu kurnia Allah yang mengatasi pemikiran manusiawi dan hanya dapat dipahami dengan ilham Roh Kudus. 3) sebagai metodologi, seperti rahasia racikan bumbu makanan tertentu. Montfort hendak mengatakan, agar menjadi serupa dengan Kristus, inilah rahasianya.

[22]  Rahasia Maria, Louis Marie Grignion de Montfort, Serikat Maria Montfortan (terj), Bandung, 1993). Hlm. 1

[23]  Bakti sejati Kepada Maria, Loc.cit., Hlm. 44

[24]  Kata Bakti dalam pengertian Montfort lebih dari sekedar suatu kegiatan doa/devosi atau kebaktian, melainkan bakti sebagai penyerahan diri yang dinyatakan dan ditujukan kepada Yesus Kristus.

[25]  Bakti sejati Kepada Maria, Loc. Cit., Hlm. 107

[26]  Ibid., Hlm. 110-111

[27]  Ibid., Hlm. 108

[28]  Montfort membedakan tiga jenis perhambaan, yaitu perhambaan kodrati, perhambaan terpaksa, dan perhambaan sukarela. Perhambaan ketiga menurut Montfort adalah yang paling luhur karena memberi kemulian paling luhur kepada Allah (Lihat Bakti Sejati 70)

[29] Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi, Op.Cit., Hlm. 250-251. Bdk. BS 115-118, RM 25.

[30]  Lihat penjelasan detail tentang kedua jenis bakti ini dalam Bakti sejati No. 92-110

[31] Bakti Sejati kepada Maria, Loc. Cit., Hlm., 97

[32]  Bila Montort berbicara tentang Allah yang tergantung pada Maria atau Allah yang tunduk pada Maria, yang ia maksudkan adalah Allah berkenan memberikan kuasa yang begitu besar kepada Maria sehingga kelihatannya seakan-akan Maria memiliki kekuasaan yang sama seperti Allah (BS 27).

[33] Ibid., Hlm. 136

[34] Ibid., hlm. 40

[35]  Ibid., Hlm. 58

[36]  Ibid., Hlm. 61

[37]  Bdk. Rahasia Maria 21, CKA 190: “Janganlah kamu menyangka Maria dapat menjadi penghalang kita bersatu dengan Sang pencipta sebab bukan lagi Maria yang hidup , melainkan hanya Kristus, hanya Allah saja yang hidup dalam dia.”

[38]  Lihat juga BS 208, CKA 190.

[39]  Bakti Sejati, Op.Cit., Hlm. 80

[40]  Dikutip Montfort dalam Rahasia Rosario No.21 dari Raymundus Jordanus, Piae Lectiones, Poemium in J. Bourasse, Summa Aurea 4,851

[41] Lihat Surat Paus Yohanes Paulus II kepada  Para AnggotaTarekat Hidup Bakti dari Keluarga besar Montfortan dalam rangka memperingati 160 tahun Bakti Sejati, dikeluarkan pada 8 Desember 2003, no. 3, hlm. 4

[42] Lukas 1:38

[43]  Dikutip Montfort dalam bukunya Rahasia Maria No. 54

[44]  Rahasia Maria, Op.Cit., Hlm.40

[45]  Op. Cit. Bakti Sejati Kepda Maria, Hlm. 46

[46]  Pater Georges Madore, seorang imam Montfortan Canada menulis buku tentang Rosario dengan judu Menatap untuk menjadi serupa. Dalam buku ini  Ia dengan gemilang merumuskan ide Montfort mengenai kekuatan doa Rosario yang terletak dalam kontemplasi yang dalam akan peristiwa peristiwa hidup Yesus.  Peristiwa hidup Yesus dilihat Montfort sebagai event/peristiwa suci, sebagai ruang dan waktu yang suci. Dengan mengkontemplasikan peristiwa tersebut berati masuk dalam peristiwa itu dan membiarkan diri diresapi oleh peristiwa Ilahi tersebut (contempalasi dari bahasa Latin: cum=bersama dengan, templum = ruang, artinya hadir dalam satu ruangan bersama dengan).

[47] Ibid., Hlm. 53

[48] Ibid., Hlm. 104

[49]   John Paul II,  Crossing the Treshold of Hope, ed. Vittorio Messori, Jonatan Cape, London, 1994, p. 213, Bdk. Terj. Yohanes Paulus II, Melintasi Ambang Pintu harapan, Jakarta: Obor, 1995, hlm. 266

[50]  Walking together in the Footsteps of the Poor Apostles, Loc.Cit., Hlm. 107

[51]  Dikutip Montfort dalam tulisanya Rahasia Maria no. 27 dan Bakti Sejati no. 219

[52] Lihat konsep manusia  ‘liberos’ ala  Montfort dalam prinsip dasar formasi montfortan pada bagian awal tulisan ini.

[53]  Bakti Sejati Kepada Maria, Loc.Cit., Hlm 165

[54]  Evangelii Gaudium 2, Pope Francis, Vatican Press, Rome, 24 November 2013, p. 3

[55]  Sebagai Bendahari Rahmat Allah, Maria membagikan rahmat Allah kepada siapa ia kehendaki dan seberapa ia mau (bdk. CKA 207)

[56]  Walking together in the Footstepsof the Poor Apostles, Loc.Cit., Hlm. 107-110

[57]  Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi, Loc. Cit., Hlm. 219-240

[58]  Education and the Soul, Toward A Spiritual Curriculum, John P. Miller, State University of New York, United States of America. Hlm. 29.

[59]  Pater Georges Madore, seorang imam Montfortan Canada menulis buku tentang Rosario dengan judul: “Menatap untuk menjadi serupa”. Dalam buku ini  Ia dengan gemilang mengemas kembali  ide Montfort tentang kekuatan doa Rosario yang terletak dalam kontemplasi yang dalam akan peristiwa-peristiwa hidup Yesus.  Peristiwa hidup Yesus dilihat Montfort sebagai event/peristiwa suci, sebagai ruang dan waktu yang suci. Dengan mengkontemplasikan peristiwa tersebut berarti masuk dalam peristiwa itu dan membiarkan diri diresapi , dipenuhi, dan diubah oleh peristiwa Ilahi tersebut (contemplasi dari bahasa Latin: cum=bersama dengan, templum = ruang, artinya hadir dalam satu ruangan bersama dengan).

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme