MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

MARIA, WANITA EKARISTI

 

 

MARIA, WANITA EKARISTI

  

Rm. Gregorius Pasi, SMM

 

 

 

Pengantar

Kita sering menjumpai fenomena umat beriman berdevosi kepada Bunda Maria sebelum maupun sesudah perayaan Ekaristi. Ada umat yang datang lebih awal ke gereja dengan maksud untuk berdoa Rosario sebelum perayaan Ekaristi dimulai. Demikian pula sesudah perayaan Ekaristi, ada umat yang mampir di depan patung Bunda Maria, baik yang berada di dalam maupun di luar gereja untuk berdoa sejenak. Lantas, apa sebetulnya hubungan antara Ekaristi dan Bunda Maria?

Kami merangkum jawaban atas petanyaan itu dalam kalimat yang menjadi judul tulisan sederhana ini: Maria, Wanita Ekaristi. Kalimat ini diambil dari Surat Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, nomor 53. Dalam seluruh hidupnya, Maria merupakan wanita Ekaristi dan karena itu kaum beriman dipanggil untuk meniru dia dalam hubungan mereka dengan Ekaristi dan terbuka pada peran keibuannya saat mereka merayakan misteri yang mahakudus ini.

Tulisan ini dibagi menjadi empat bagian:

  1. Ekaristi
  2. Santa Perawan Maria
  3. Maria, Wanita Ekaristi
  4. Maria dan Umat Beriman Yang Merayakan Ekaristi

             Ada beberapa singkatan yang muncul dalam tulisan ini:

EE         :  Ecclesia de Eucharistia (Surat Ensiklik Paus Yohanes

                Paulus II tentang Ekaristi  dan hubungannya dengan

                Gereja)

KGK     :  Katekismus Gereja Katolik

LG        :  Lumen Gentium (Dokumen Konsili Vatikan II tentang

                Gereja)

PO        :  Presbyterorum Ordinis (Dokumen Konsili Vatikan II

                tentang Kehidupan Imam)

RM       :  Redemtoris Mater (Surat Ensikli Paus Yohanes Paulus

                II tentang Perawan Maria dalam hidup Gereja yang

                berziarah)

RVM     :  Rosarium Virginis Mariae (Surat Apostolik Paus

                Yohanes Paulus II).

SC         :  Sacrosanctum Concilium (Dokumen Konsili Vatikan II

                tetang Liturgi)

  1. Ekaristi  

 1.1 Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani

Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani (LG 11). Dikatakan demikian karena segala perayaan ibadat lainnya, juga pekerjaan dan karya pelayanan sehari-hari dalam kehidupan kristiani, sangat berkaitan erat dengan Perayaan Ekaristi, bersumber pada Ekaristi dan tertuju kepada Ekaristi. Puncak karya Allah untuk menguduskan dunia, dan sekaligus puncak karya manusia untuk memuliakan Bapa lewat Kristus, Putera Allah, dalam Roh Kudus terwujud dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi tercakuplah seluruh kekayaan Gereja yakni Kristus sendiri (PO 5).

 

1.2 Ekaristi Merupakan Ucapan Syukur dan Kenangan

       Kurban Kristus

1.2.1  Eucharistein (syukur)

Ekaristi berasal dari kata bahasa Yunani eucharistein, artinya “syukur”. Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa. Pujian dan syukur merupakan pengakuan terhadap kebesaran dan kebaikan Tuhan. Sudah sejak awal, gagasan syukur dihubungkan dengan kurban. Pujian dalam Perjanjian Lama disertai kurban (Mzm 56:13, 116:17; Yer 17:26; 33:11). Hal senada juga ditemukan dalam Perjanjian Baru sehingga muncullah istilah “kurban-syukur” (Ibr 13:15).

Katekismus Gereja Katolik pun merumuskan Ekaristi sebagai berikut:

Ekaristi adalah kurban syukur kepada Bapa. Ia adalah pujian, yang olehnya Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah atas segala kebaikanNya: untuk segala sesuatu, yang Ia laksanakan dalam penciptaan, penebusan dan pengudusan. Jadi Ekaristi pertama-tama merupakan ucapan syukur. (1360).

Kurban syukur ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. Gereja melakukannya “atas nama seluruh ciptaan” (KGK 1359-1361).

1.2.2 Anamnesis (kenangan)

Dalam pengertian biblis, “mengenang” (anamnesis) berarti mengingat, menghadirkan kembali dan menjadikan hidup kembali peristiwa-peristiwa di masa lampau. Mengenang tidak sama dengan mengulang atau melakukan peristiwa itu lagi. Mengenang berarti membuat peristiwa yang sama dari masa lalu hadir pada masa kini secara riil. Dalam Ekaristi Gereja menghadirkan kembali Paskah Kristus, yaitu misteri sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Dengan kata lain, dalam Ekaristi, apa yang terjadi di kalvari diaktualkan di altar.

1.2.3  Sacrificium, Immolatio, Oblatio (kurban)

   A. Ekaristi Menghadirkan Kurban Salib

Hidup Kristus yang diserahkan dan dikurbankan demi keselamatan kita dalam kurban Salib (Jumat Agung) sama dengan yang diserahkan dan dikurbankan pada Perjamuan Terakhir. Ekaristi menghadirkan kembali (tidak sama dengan mengulang atau memperbaharui) kurban salib Kristus. Kurban Kristus dan kurban Ekaristi hanyalah satu kurban, yang dilakukan Kristus sekali untuk selamanya. Konstitusi tentang Liturgi Suci Konsili Vatikan II meringkas hal itu dengan sangat baik:

Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darahNya. Dengan demikian Ia mengabadikan kurban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja, mempelaiNya yang terkasih, kenangan wafat dan kebangkitanNya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paska. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang. (SC 47).

   B. Gereja Ambil Bagian dalam Kurban Kristus

Dalam perayaan Ekaristi, Gereja atau seluruh umat, diundang untuk ikut serta dalam kurban Kristus, yaitu dengan mempersembahkan kurban rohani (LG 34). Oleh Karena itu, Ekaristi adalah juga kurban Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus Kepalanya (KGK 1330, 1368). Gereja mempersembahkan doa-doa, pujian, ucapan syukur, karya dan penderitaannya kepada Tuhan dan karenanya mempersatukan persembahannya dengan persembahan Kristus. Dengan mempersatukan diri dengan kurban Kristus maka Gereja disucikan sebagai TubuhNya.

 

1.3 Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi

1.3.1  Konsekrasi

Dalam Sakramen Ekaristi, Roti dan anggur yang dikonsekrasikan oleh imam berubah menjadi Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an Kristus. Imam mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dengan kata-kata penetapan yang diambil dari Kitab Suci: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! (1Kor 11:23-25).

1.3.2  Transubstansi

Dengan kuasa Allah, roti maupun anggur berubah sepenuhnya menjadi Yesus Kristus secara keseluruhan, baik Tubuh, Darah, Jiwa, dan KeallahanNya. Dengan demikian seseorang yang menyambut komuni, baik dalam rupa roti maupun dalam rupa anggur, menyambut seluruh Kristus. Perubahan ini adalah perubahan yang benar-benar terjadi secara aktual. Roti dan anggur sudah tidak ada lagi, meskipun wujudnya dan sifatnya tetap roti dan anggur. Perubahan yang amat penting ini oleh Gereja Katolik dinamakan perubahan hakiki atau transsubstansiasi – perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi Tubuh Kristus, dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi DarahNya. Transubstansi harus dibedakan dari kosubstansi, di mana tubuh dan darah Kristus ada bersama dengan roti dan anggur. Transubstansi juga harus dibedakan dari “simbol” di mana hosti hanyalah simbol atau pralambang kehadiran Kristus saja dan bukan kehadiran Kristus yang aktual.

1.3.3  Kehadiran Nyata

Sebagai Pencipta serta Penyelenggara segala sesuatu, Tuhan itu ada di mana-mana. Ia hadir melalui rahmat pengudusan dalam semua jiwa yang berada dalam keadaan rahmat. Akan tetapi kehadiranNya tersebut adalah kehadiran rohani. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi – Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allah-anNya – adalah sepenuhnya unik, kehadiran nyata (Real Presence) yang unik dan khusus.  Kehadiran Kristus dalam Sakramen Ekaristi tetap ada sepanjang bentuk roti dan anggur masih tetap ada. Ketika hosti yang telah dikonsekrasi ditelan ataupun larut dalam air, sehingga tidak berupa roti lagi, maka itu bukan lagi Tubuh dan Darah Kristus.

 

 2. Santa Perawan Maria

2.1 Santa Perawan Maria dalam Misteri Hidup Yesus

Inti pewartaan Kitab Suci Perjanjian Baru adalah pribadi, hidup dan karya Yesus Kristus. Maka kalau Maria ditampilkan, maka hal itu dilakukan selalu dalam kaitannya dengan Yesus Kristus. Maria tidak pernah ditampilkan secara terisolasi dari pribadi dan karya Yesus Kristus. Alasan kita berbicara tentang Maria saat ini adalah Yesus Kristus itu. Yesus Kristus itu diimani sebagai Putera Allah. Dalam diriNya Allah mendatangi umat manusia. Keselamatan terjadi sepenuh-penuhnya lewat perantaraan Yesus Kristus. Lantas apa sebetulnya hubungan khusus antara Yesus dan Maria?

2.1.1  Inkarnasi: Putera Allah Menjadi Manusia dalam Rahim

          Maria

Hubungan khusus antara Yesus dan Maria terjadi dalam peristiwa Inkarnasi: Allah Putera manjadi manusia. Dalam peristiwa penjelmaan itu, Maria berperan sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Yesus. Karena itu Maria disebut sebagai Bunda Allah. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja kita membaca:

Allah yang maharahim dan mahabijaksana, ingin melaksanakan penebusan dunia. ‘Ketika tiba kepenuhan waktu, Ia mengutus PuteraNya, Yang dilihirkan dari seorang wanita, …. agar kita diangkat sebagai putera-puteri’ (Gal 4:4-5); ‘Yang turun dari surga, karena kita manusia dan karena keselamatan kita, lalu menjadi daging oleh kekuatan Roh Kudus dari Perawan Maria’ (LG 52).

Penjelmaan Yesus pertama-tama merupakan prakarsa dan tindakan Allah Tritunggal sendiri. Allah Tritunggal ini dengan bebas menghendaki keterlibatan Maria dan membutuhkan jawaban bebas Maria. Jawaban bebas itu terungkap dalam FIAT-nya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dengan demikian, “ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan” dan “menyerahkan diri seluruhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Puteranya. Di bawah Dia dan bersama Dia, dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan” (LG 56). Karena itu dikatakan bahwa “Maria bukan digunakan Allah secara pasif melulu, tetapi bahwa ia dengan iman dan ketaatan yang bebas, bekerja sama untuk keselamatan manusia” (LG 56).

2.1.2 Maria dan Masa Kanak-kanak Yesus

Berikut ini beberapa pristiwa – yang dikisahkan Injil­—yang menggambarkan peran Maria dalam masa kenak-kanak Yesus. Pertama, setelah menerima Kristus dalam rahimnya, Maria berangkat mengunjungi Elisabet. Elisabet menyebutnya berbahagia karena Maria percaya akan keselamatan yang dijanjikan. Anak (Yohanes) yang di dalam rahim Elisabet pun melonjak kegirangan (Luk 1:41-45). Kedua, pada hari kelahiran Yesus, Bunda Allah penuh kegembiraan menunjukkan kepada para Gembala dan para Majus Puteranya yang sulung (Luk 2:8-20; Mat 2:1-12). Ketiga,ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Musa” Maria dan Yusuf membawa Yesus ke “Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan.” Bunda Maria mendengarkan Simeon menyatakan bahwa Puteranya akan menjadi “tanda yang menimbulkan perbantahan” dan bahwa “suatu pedang akan menembus jiwa” BundaNya, “supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (lih. Luk 2:34-35). Keempat, ketika Yesus yang berumur dua belas tahun tinggal di Bait Allah di Yerusalem tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya. Maria dan Yusuf mencarinya dan mereka tidak mengerti apa yang dikatakannya tetapi Maria “menyimpan semua perkara di dalam hatinya” (Luk 2:41-51).

2.1.3 Maria dan Kehidupan Yesus di Muka Umum

Dalam hidup Yesus di muka umum, Maria tampil dalam moment-moment berikut ini. Pertama, pada pesta pernikahan di Kana. Maria tergerak oleh belaskasihan, dan dengan perantaraannya mendorong Yesus untuk mengerjakan tandaNya yang pertama (Yoh 2:1-11). Kedua, Dalam pewartaan Yesus, ia (Maria) menerima sabdaNya, ketika Puteranya mengagungkan Kerajaan di atas pemikiran dan ikatan daging serta darah, dan menyatakan berbahagialah mereka yang mendengar dan melakukan sabda Allah (Mrk 3:35 dan paralelnya; Luk 11:27-28), seperti yang dilakukannya sendiri dengan setia (Luk 2:19, 51). Ketiga, Maria “mempertahankan dengan setia kesatuannya dengan Putera sampai di salib” (Yoh 19:25). “Ia turut menderita dengan dahsyat bersama Puteranya dengan hati seorang ibu, sambil menyetujui dengan penuh kasih sayang, dipersembahkannya kurban yang ia lahirkan” (LG 58). Keempat, Yesus Kristus menjelang wafatNya di kayu salib, menyerahkan Maria kepada murid menjadi Bundanya. Ia berkata kepada Maria: “Ibu, inilah anakmu!”  Lalu berkata kepada murid-muridNya: “Inilah ibumu” (Yoh 19:26-27).

2.1.4 Maria sesudah Kenaikan Yesus ke Surga

Sesudah kenaikan Yesus ke Surga, Maria bersama para Rasul memohon anugerah Roh (Kis 1:14), “Roh yang sudah menaunginya di saat ia menerima warta” (LG 59). Kemudian, “sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan tak bercela, yang senantiasa kebal terhadap semua noda dosa asal, diangkat ke kejayaan surgawi dengan badan dan jiwanya” (LG 59).

 

2.2 Maria dalam Misteri Gereja

2.2.1 Anggota Gereja yang Unggul

Di satu pihak Maria adalah anggota Gereja, tetapi di lain pihak ia anggota Gereja yang unik dan unggul (LG 53). Maria merupakan anggota Gereja, sebab ia pun diselamatkan, termasuk ke dalam kalangan mereka yang ditebus oleh karya penyelamatan Allah. Sebagai orang beriman Maria termasuk ke dalam persekutuan orang beriman. Akan tetapi Maria turut serta secara istimewa dalam misteri dan karya Yesus. “Dia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur” (LG 56).

Berdasarkan anugerah rahmat yang luar biasa, ia jauh melebihi semua makhluk baik di surga maupun di dunia” (LG 53). Ia “dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewah sejak saat pertama ia dikandung, dan mendapat salam penuh rahmat dari Malaekat pembawa kabar, atas perintah Allah” (LG 56). Para Bapa Gereja biasa “menyebut Bunda Allah seluruhnya suci dan bersih dari segala noda dosa” (LG 56). Dia “diangkat melampaui semua orang suci dan para malaikat di dalam surga” (LG 69). “Dia telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwa” (LG 68)

2.2.2 Teladan bagi Orang Beriman

Bunda Maria merupakan teladan Gereja dalam hal iman cinta kasih dan kesatuan sempurna dengan Kristus (LG 63). Sebagaimana Maria, Gereja juga merupakan Bunda sebab dengan pewartaan dan permandian, ia melahirkan putera-puteri, yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan dari Allah, untuk hidup yang kekal. Sebagaimana Maria, Gereja juga merupakan perawan yang menjaga secara utuh dan murni kesetiaan yang diberikan kepada mempelai dan sambil mengikuti Bunda Tuhan, dengan kekuatan Roh Kudus, Gereja memelihara secara lestari iman yang utuh, harapan yang kukuh dan cinta kasih yang jujur (LG 64).

2.2.3 Typhos (exemplar) Gereja

Maria merupakan citra dan awal penyempurnaan Gereja di masa datang (LG 58). Sampai tiba hari Tuhan, ia bersinar gemilang sebagai tanda harapan yang pasti dan tanda hiburan, bagi Umat Allah, yang sedang berziarah (LG 68). Pada Maria karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus sepenuh-penuhnya terlaksana dan berhasil.

2.2.4 Pengantara

Yesus Kristus merupakan satu satunya perantara antara Allah dan manusia. Namun, hal ini “tidak menutup kemungkinan melainkan menimbulkan pada makhluk berbagai ragam kerja sama partisipatif dari satu-satunya sumber” (LG 62). Sehubungan dengan itu, Vatikan II mengajarkan:

Namun tugas Maria sebagai Bunda terhadap manusia, sama sekali tidak mengaburkan dan mengurangi satu-satunya tugas perantara Kristus ini, melainkan menunjukkan keampuhannya. Karena semua pengaruh Perawan Suci terhadap manusia yang membawa keselamatan, bukan bersumber pada sesuatu keharusan, melainkan pada perkenan ilahi dan pada kelimpahmewahan jasa Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada perantaraanNya dan bergantung sama sekali kepadaNya, serta menimba seluruh kekuatannya daripadaNya. Ia sema sekali tidak menghalangi kesatuan langsung antara umat beriman dan Kristus, melaikan memupuknya. (LG 60).

2.2.5 Maria, Bunda Gereja

Pada tanggal 21 November 1964 (pada sesi ketiga Konsili Vatikan II) Paus  Paulus VI menyatakan Maria sebagai “Bunda Gereja, yaitu Bunda dari semua umat Kristen, umat beriman dan gembala-gembala mereka, yang menyebut dia Bunda mereka yang penuh kasih.” Maria adalah Bunda Gereja, ibu semua orang beriman oleh karena Maria menjadi ibu Kristus, Juru selamat. Dengan melahirkan Juru Selamat, Maria secara tak langsung melahirkan mereka semua yang mau diselamatkan Kristus.

Keibuan ini “berlangsung tanpa putus, mulai dari persetujuan yang ia berikan saat pemberitaan, dan yang ia pertahankan tanpa ragu di bawah salib, sampai kepada penyempurnaan abadi semua orang terpilih (LG 62). Maria tidak hanya secara fisik-biologik menjadi ibu Yesus, tetapi juga secara personal dan sebulat-bulatnya melibatkan diri dalam keibuannya. Karena itu keterlibatan bulat dan personal dengan Yesus sebagai juru selamat berarti juga keterlibatan personal dan bulat dengan mereka semua yang (mau) diselamatkan. Sebagai ibu Yesus, Maria dengan kasih keibuan mencintai dan memperhatikan semua anaknya, semua kaum beriman. Maria tetap berarti dan bermakna bagi semua orang, sama seperti dalam eksistensi keduniaannya berarti dan bermakna bagi semua. Arti dan makna itu memang unggul oleh karena kedudukan dan peranan Maria dalam eksistensi keduniaannya unggul, melebihi semua orang lain. 

 

2.3 Tugas Kewajiban Kaum Beriman Terhadap Bunda

       Allah

2.3.1  Menghormati Maria Secara Khusus

Karena diangkat melampaui semua malaekat dan manusia menjadi Bunda Allah yang tersuci, yang turut serta secara istimewa dalam misteri dan karya Yesus, maka Maria patut dihormati secara khusus oleh Gereja, lebih dari segala malaikat dan orang kudus yang lain. Meskipun penghormatan kepada Maria itu bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud yang diberikan kepada Yesus, sama seperti Bapa dan Roh Kudus (LG 66). Dalam teologi, kebaktian yang hanya boleh disampaikan kepada Allah disebut latreia (Latin: adoratio); sedangkan kebaktian kepada seorang manusia disebut douleia. Jadi yang menjadi sasaran douleia adalah seorang lain yang diabdi demi untuk Allah. Karena Maria menjadi yang paling kudus di antara semua orang kudus maka penghormatan khusus kepada Maria disebut hyper-douleia (adi-kebaktian).

2.3.2  Penghormatan Kepada Maria yang Benar

Terdapat berbagai bentuk penghormatan kepada Maria, seperti doa rosario, doa novena, ziarah marial, ibadat marial, dst. Penghormatan kepada Maria yang sejati selalu menghantar orang untuk lebih mengenal, mencintai dan memuliakan Yesus Kristus (LG 66).  Semakin seseorang menghormati Maria, maka ia pun semakin bersatu dan serupa dengan Yesus Kristus. Maria tidak pernah terpisah dari Yesus Kristus. Tugas dan privilese Maria selalu menyangkut Yesus Kristus, sumber segala kebenaran, kekudusan dan kesalehan (LG 67). “Karena itu apabila ia (Maria) diwartakan dan dihormati, ia mengarahkan orang beriman kepada Puteranya dan kepada kurbanNya serta kepada cinta akan Bapa. Sebaliknya Gereja, yang mengejar kemuliaan Kristus, menjadi lebih serupa dengan citra unggulnya, karena ia senantiasa maju dalam iman, harapan dan cinta kasih, dan mencari serta taat dalam segala hal kepada kehendak ilahi” (LG 65).

2.3.3  Dua Hal Ekstrem yang Harus Dihindari

Ada dua sikap ekstrem yang harus dihindari dalam penghormatan kepada Maria. Pertama, minimalisme marial atau mariophobia. Sikap ini muncul karena orang mengabaikan sama sekali kerja sama manusia dalam karya keselamatan Allah. Karena manusia dianggap tidak mempunyai peran apa-apa dalam penyelamatan, maka tidak ada manusia (termasuk Maria) yang pantas dihormati, karena penghormatan seperti itu dinilai mengurangi kemuliaan yang harus diberikan kepada Allah. Kedua, maksimalisme marial atau mariocentrisme. Sikap ini muncul karena orang melebih-lebihkan peran manusia dalam penyelamatan sehingga mengabaikan peran ilahi dan kurang menekankan kemanjuran karya pengantaraan Kristus. Yesus tidak dilihat sebagai pengantara antara Allah dan manusia tetapi lebih sebagai Allah yang berada jauh dari manusia berdosa. Karena itu manusia membutuhkan pertolongan dari Maria. Di sini orang melebih-lebihkan kausalitas instrumental dari Maria dan mengurai kausalitas instrumental dari kemanusiaan Kristus.

 

 3. Maria Wanita Ekaristi

3.1 Maria Hadir dalam Perayaan Ekaristi Komunitas

        Perdana

Melihat secara sepintas lalu, ada kesan bahwa Kitab Suci tidak berbicara apa-apa tentang Maria dalam hubungannya dengan Ekaristi. Kisah pendasaran Ekaristi pada Perjamuan Terakhir tidak menyebut nama Maria. Meski demikian, kita tahu bahwa Maria hadir di antara para Rasul yang “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kis 1:14), pada komunitas perdana yang berkumpul sesudah Kenaikan Yesus sambil menantikan Pentekosta. Dapat kita pastikan bahwa Maria telah hadir dalam Perayaan Ekaristi pada generasi pertama Kristiani, “yang selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Sebetulnya, gambaran tidak langsung dari hubungan antara Maria dan Ekaristi – sebelum ia mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi pada generasi pertama Kristiani – dapat kita temukan dalam Injil. Hubungan itu dimulai dengan pesiapan batinnya (disposisi interior) Maria sendiri. Ia “adalah ‘wanita Ekaristi’, dalam seluruh hidupnya” (EE 53).

3.2 Hubungan Istimewa Antara Maria dan Ekaristi

Hubungan antara Maria dengan Ekaristi mengalir dari dua aspek fundamental ini: Pertama, kontinuitas (kesinambungan) dari misteri Inkarnasi. Kedua, Ekaristi sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus. Mari kita melihat kedua hal ini satu per satu.

3.2.1 Kontinuitas dari Misteri Inkarnasi

          (misteri Allah menjadi manusia)

Yang dimaksudkan dengan kontinuitas dari misteri Inkarnasi di sini adalah hubungan tak terceraikan antara “Firman yang telah menjadi manusia” (Yoh 1:14) dan “daging” yang Yesus berikan “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Karena Misteri inkarnasi berhubungan erat dengan Maria maka terdapatlah kaitan erat pula antara Ekaristi dan Maria. Kita sudah lihat dalam uraian sebelumnya bahwa peran Maria dalam Inkarnasi adalah sebagai Bunda Allah. Dalam peristiwa inkarnasi Maria berperan sebagai ibu yang melahirkan Putra Allah. Dari Marialah Allah Putera menerima tubuhNya. Tubuh yang sama ini kemudian kita santap dalam Ekaristi.

Dalam komposisinya mengenai Ekaristi Mozart menyampaikan: “Ave Verum Corpus, ex Virgine Marie” (Salam Tubuh yang Benar, dilahirkan dari Perawan Maria). Mengawali kesimpulan dari surat ensiklik Ecclesia de Eucharistia, Paus Yohanes Paulus II menulis: “Ave verum corpus natum de Maria! Salam tubuh sejati yang lahir dari Maria!” (EE 56). Tubuh Yesus Kristus berasal dari Maria. Dalam perayaan Ekaristi, roti diubah menjadi Tubuh Kristus, yang sekaligus mengandung DarahNya. Maka setiap orang yang menerima Tubuh Kristus dengan pantas, menerima tubuh dan darah yang berasal dari tubuh dan darah Bunda Maria sendiri. Santo Albertus Agung pun berkata: “Maria ada seluruhnya dalam Yesus.”

3.2.2 Ekaristi Sebagai Kenangan Wafat dan Kebangkitan

          Kristus

Seperti sudah disinggung sebelumnya, Ekaristi menghadirkan kembali Paskah Kristus, yaitu misteri salib, wafat dan kebangkitanNya. Dengan demikian dalam setiap Ekaristi peristiwa kalvari dihadirkan kembali. Kesatuan antara Maria dan Puteranya mencapi kelimaksnya di Kalvari, ketika Yesus Kristus “mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat” (Ibr 9:14) dan Maria hadir di sana (Yoh 19:25). Maria menderita secara sangat berat bersama Puteranya dan dengan penuh kasih menyetujui dan menyatukan diri dengan persembahan diri Kristus kepada Bapa. Kalau dalam Ekaristi peristiwa Kalvari dihadirkan kembali, maka Maria – yang berdiri di bawah kaki salib Yesus mewakili semua manusia – hadir pula dalam setiap perayaan Ekaristi. Dalam setiap Ekaristi Maria berdiri di altar sama seperti ketika ia berdiri di kaki salib di Kalvari. Karena itu, kesadaran dan kepekaan akan kehadirannya dalam setiap Ekaristi harus dibina dan dikembangkan.

3.3 Hubungan Tidak Langsung

3.3.1 Iman Ekaristi

Ketika menerima Kabar Gembira dari Malaikat Tuhan, “Maria mengandung Putra Allah dalam kenyataan fisik tubuh dan darahnya.” Dengan demikian, pada tingkat tertentu Maria “mendahului dalam dirinya, yang terjadi secara sakramental dalam diri setiap umat beriman, yang menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, dalam tanda roti dan anggur” (EE 55).

Maria mengandung Yesus dalam rahimnya setelah terlebih dahulu ia menyatakan persetujuannya kepada Malaikat yang menyampaikan Kabar Gembira Allah. Dengan persetujuan itu Maria percaya bahwa Anak yang dia kandung “oleh Roh Kudus” adalah “Putera Allah”. Karena itu Elisabet menyalami dia begini: “Berbahagialah dia yang percaya” (Luk 1:45). Dengan kata lain, ada kemiripan yang mendalam antara Fiat Maria waktu menerima Kabar Gembira dari Malaekat dan “Amen” sebagai jawaban umat beriman waktu menyambut Tubuh Tuhan.” Maka dapat dikatakan, “Maria juga telah memulai, dalam misteri penjelmaan, iman Ekaristi Gereja” (EE 55).

3.3.2 Kurban Ekaristi

Dimensi kurban dari Ekaristi menjadi nyata dalam hidup Maria bukan saja di Kalvari. Ketika dia bersama Yusuf membawa anak-anak Yesus ke Bait Allah di Yerusalem untuk “mempersembahkanNya kepada Tuhan” (Luk 2:22), “dia mendengar nubuat Simon bahwa anak itu akan menjadi ‘tanda pertentangan’ dan bahwa sebuah pedang akan menusuk jantungnya (lih Luk 2;34-35)” (EE 55). Dengan demikian peristiwa penyaliban Puteranya dinubuatkan di situ. Sehingga hari-hari selanjutnya merupakan bagian dari persiapan menuju Kalvari dan dalam persiapan itu “Maria mengalami sejenis ‘antisipasi Ekaristi’ – mungkin dapat dikatakan ‘komuni rohani’ – kerinduan persembahan yang akan memuncak dalam kesatuannya dengan PuteraNya dalam sengsara, dan kemudian mendapat ungkapan sesudah Paskah, dalam partisipasinya dalam Ekaristi, yang dirayakan oleh para Rasul sebagai peringatan akan sengsara” (EE 56)

 3.3.3 Sikap Ekaristi

Seperti sudah disinggung di depan, Ekaristi merupakan kurban pujian dan syukur, atas segala kebaikan Allah dalam penciptaan, penebusan dan pengudusan. Kurban pujian dan syukur ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus. Dimensi pujian dan syukur ini ditemukan juga dalam Madah Maria, Magnificat (Jiwaku Memuliakan Tuhan). “Tatkala Maria melambungkan: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan dan rohku bersukacita dalam Tuhan Juruselematku’, dia telah mengandung Yesus dalam rahimnya. Dia memuliakan Tuhan ‘lewat’ Yesus, dan ia juga memuji Tuhan ‘dalam’ dan ‘bersama’ Yesus. Inilah sebenarnya sikap ‘Ekaristi sejati’” (EE 56).

3.3.4 Tabernakel Perdana dalam Gereja

Setelah menerima Kabar Gembira, Maria yang dalam rahimnya mengandung Sabda yang menjadi daging, mengunjungi Elisabet. Dalam konsteks ini Maria menjadi ‘tabernakel’, tabernakel perdana dalam Gereja. Putra Allah, yang masih belum terlihat oleh mata manusia, membiarkan diriNya disembah oleh Elisabeth, memancarkan terangNya lewat mata dan suara Maria. (EE 55).

 

 4. Maria dan Umat Beriman yang Merayakan Ekaristi

4.1 Maria sebagai Model

4.1.1 Fiat Maria sebagai Model untuk Amen Kita

Gereja yang memandang Maria sebagai model, juga dipanggil untuk mengimitasi Bunda Maria dalam relasinya dengan Ekaristi. Maria merupakan teladan bagi Gereja dalam hal cinta kasih dan iman. Paus Paulus VI menulis:

Untuk mengabadikan kurban salib, Juruselamat menetapkan kurban Ekaristi, kenangan akan wafat dan kebangkitanNya, dan mempercayakannya kepada mempelaiNya, Gereja, yang secara khusus, pada hari Minggu menghimpun umat beriman untuk merayakan paskah Tuhan sampai Ia datang kembali. Gereja melakukan ini dalam kesatuan dengan orang-orang kudus di surga dan secara khusus dengan Bunda Maria, yang ditiru oleh Gereja dalam hal cinta kasihnya yang berkobar-kobar dan imannya yang tak tergoyahkan.” [Paus Paulus VI, Apostolic exhortation Marialis Cultus, 1974, hlm. 20].

Seperti sudah disinggung, terdapat kemiripan antara FIAT Maria dan AMEN yang kita ucapkan waktu menyambut Tubuh Tuhan. Kata “Amin” dalam bahasa Ibrani berarti, “sungguh-sungguh,” “benar” atau “memang benar demikian”. Dalam Kitab Suci, “Amen” merupakan suatu penegasan yang khidmat dan suatu seruan pembenaran. “Amen” merupakan bukan hanya suatu pernyataan tegas dan serius, melainkan juga suatu pernyataan otoritas dari dia yang membuat pernyataan tersebut. Mengikuti teladan Maria, kita diundang untuk percaya, bahwa Yesus Kristus yang sama, Putra Allah dan Putra Maria, hadir dalam kepenuhan kemanusiaan dan keilahianNya dalam tanda roti dan anggur. 

4.1.2 Membawa Kristus dalam Kehidupan

Sebagaimana Maria menjadi Tabernakel perdana dalam Gereja: “ketika, mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang ada dalam rahim Elisabet” (Luk 1:41), kita hendaknya membawa Kristus yang kita sambut dalam Ekaristi ke dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga orang-orang yang berada di sekitar kita pun mengalami kehadiranNya. Komuni memperdalam persatuan kita dengan Yesus, hal ini berdasarkan atas perkataan Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia” (KGK 1391). Persatuan kita dengan Kristus tidak hanya berlangsung selama Perayaan Ekaristi. Setelah Perayaan Ekaristi kita diutus untuk membawa Kristus dalam kehidupan kita, dalam perjumpaan kita dengan sesama. Dalam hal ini Maria menjadi model bagi kita, karena dia merupakan tabernakel perdana dalam Gereja.

4.1.3 Memandang Tubuh Kristus dengan Kagum seperti

         Maria Memandang Bayi Yesus

“Pandangan terpukau dari Maria, tatkala merenungkan wajah Kristus yang baru lahir dan yang mengasuhnya dalam ayunan tangannya” merupakan “model kasih yang tiada tara, pantas mengilhami setiap kali menyambut komuni Ekaristi” (EE 56).  Dalam Rosarium Virginis Mariae, Yohanes Paulus II menulis:

Dalam diri Maria, kontemplasi wajah Kristus mendapat model yang tak tertandingi. Dengan cara unik, wajah Sang Putra tercipta dalam diri Maria. Dalam rahim Maria Yesus dibentuk, secara manusiawi memiliki kemiripan dengan dia; dan ini menunjukkan kedekatan rohani yang bahkan lebih besar. Tak seorang pun pernah memusatkan kontemplasinya pada wajah Kristus setulus Maria. Mata hati Maria sudah tertuju pada Yesus sejak ia menerima kabar malaikat, sejak ia mengandungnya berkat kuasa Roh Kudus. Dalam bulan-bulan berikutnya ia mulai merasakan kehadiranNya dan merajut organ-organ tubuhNya. Ketika melahirkan Dia di Betlehem, matanya menatap mesra wajah Sang Putra, saat ia “membungkusnya dengan lampin dan membaringkannya di dalam palungan” (bdk. Luk 2:7). (RVM 10)

4.1.4  Magnificat

Semangat atau sikap Maria yang terungkap dalam Magnifikat (Madah Maria) hendaknya menjadi model bagi kita dalam mengalami Ekaristi. Seperti sudah disinggung sebelumnya, magnifikat merupakan sikap Ekaristi. Magnifikat mengungkapkan spiritualitas Maria, dan inilah yang paling agung dari segala spiritualitas untuk membantu kita mengalami misteri Ekaristi. Ekaristi telah diberikan kepada kita agar hidup kita, seperti Maria, semakin sempurna menjadi Magnifikat (EE 58).

4.1.5 “Pertukaran” yang Terjadi pada Maria Akan Terjadi

         Juga pada Umat Beriman dan Hal itu Dialami Secara

         Antisipatif dalam Ekaristi

Yesus memperkenalkan diri sebagai “roti hidup”, yakni makanan yang dapat memberikan hidup secara mendalam. Dia mengatakan: “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Tubuh Yesus, kemanusiaanNya yang konkret berasal dari Perawan Maria. Allah mengambil dari Maria suatu tubuh manusiawi untuk masuk ke dalam kondisi kemanusiaan kita. Dan pada gilirannya, setelah Maria menyelesaikan jalan hidupnya di dunia, tubuh Maria diangkat ke dalam kemuliaan surgawi oleh Allah. Pertukaran ini merupakan hasil inisiatif Allah. Kendati demikian, dalam pertukaran ini, dalam arti tertentu, Yesus juga membutuhkan Maria, membutuhkan jawaban “ya”-nya, membutuhkan dagingnya, membutuhkan eksistensi konkretnya yang akan menyediakan apa yang menjadi kurbanNya: tubuh dan darah yang dipersembahkan di salib sebagai sarana hidup abadi dan yang dipersembahkan dalam Ekaristi sebagai makanan dan minuman rohani. (Pesan Angelus Paus Benediktus XVI, pada 16 Agustus 2009).

Apa yang terjadi pada Maria juga berlaku, meskipun dengan cara yang berbeda, bagi setiap orang, karena Allah meminta kita untuk menyambutNya, untuk menyatukan diri dengan Dia dalam Sakramen Ekaristi. Dan jika kita menjawab “ya” seperti Maria, maka  pertukaran mengagumkan ini akan juga terjadi bagi kita dan dalam kita: kita akan di angkat ke dalam martabat Dia yang telah mengambil kemanusiaan kita. (Pesan Angelus Paus Benediktus XVI, pada 16 Agustus 2009).

Ekaristi merupakan sarana transformasi timbal balik ini. Siapa saja yang makan roti ini dan hidup dalam persekutuan dengan Yesus membiarkan dirinya ditransformasi oleh Dia dan dalam Dia, diselamatkan dari kematian kekal: tentu saja orang seperti ini akan mati sebagaimana yang lainnya juga, mengambil bagian dalam misteri penderitaan dan salib Kristus, namun dia tidak lagi menjadi hamba dari kematian, dan dia akan dibangkitkan pada akhir zaman untuk menikmati pesta abadi bersama Maria dan semua orang kudus. Misteri dari pesta ini sudah mulai di sini, mulai dicicipi dalam Ekaristi. Itu merupakan misteri iman, harapan dan kasih yang dirayakan dalam liturgi, khususnya dalam Ekaristi dan diungkapkan dalam pesekutuan persaudaraan dan pelayanan terhadap sesama (Pesan Angelus Paus Benediktus XVI, pada 16 Agustus 2009).

 

  4.2 Maria sebagai Ibu

4.2.1 Kebundawian Maria Dialami Umat Beriman dalam

Ekaristi

Kasih keibuan Maria terhadap orang beriman dialami dalam perayaan Ekaristi. Paus Yohanes Paulus II, secara mendetail menguraikan bagaimana Bunda Maria dengan cara yang sangat istimewa mengambil bagian dalam Ekaristi:

Kebundawiannya disadari dan dialami secara khusus oleh umat beriman dalam perjamuan suci – perayaan liturgis dari misteri penebusan – dalam mana Kristus, tubuhNya yang lahir dari Perawan Maria menjadi sungguh-sungguh hadir. Kesalehan orang-orang kristen sangat tepat merasakan suatu ikatan yang mendalam antara devosi kepada Bunda Maria dan liturgi Ekaristi: ini adalah fakta yang dapat dilihat liturgi barat dan timur, dalam tradisi-tradisi keluarga religius, dalam gerakan-gerakan spiritualitas modern, termasuk bagi kaum mudah dan dalam praksis pastoral tempat-tempat ziarah Marial. Maria menghantar umat beriman kepada Ekaristi. (RM 44).

4.2.2 Maria Membantu dan Membimbing Kita Mencapai

         Disposisi Iman

Ekaristi merupakan “misteri iman yang begitu hebat mengatasi pengertian kita… tak seorang pun setara dengan Maria dalam membantu dan membimbing kita untuk mencapai disposisi ini” (EE 54). Pada Perjamuan Terakhir Yesus memberikan perintah: “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Daku!” (Luk 22:19). Dalam menjalankan perintah ini, kaum beriman juga menerima undangan Maria untuk menaati perintah Puteranya itu tanpa ragu: “Lakukanlah apa yang dikatakanNya kepadamu” (Yoh 2:5).

Dengan keprihatinan keibuan yang sama, yang ditunjukkannya pada pesta pernikahan di Kana, Maria seolah berkata kepada kita: ‘Jangan takut, percayalah akan kata-kata Anakku. Bila Ia telah sanggup mengubah air menjadi anggur, Dia juga akan sanggup mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, dan lewat misteri ini Ia memberikan kepada umat beriman peringatan paskah yang hidup, sehingga menjadi ‘roti hidup’” (EE 54).

4.2.3 Dalam Ekaristi Kita Juga Menyambut Maria sebagai

         Ibu

Dalam Ekaristi, peristiwa Kalvari dihadirkan kembali. Maka “segala sesuatu yang dilakukan oleh Kristus dalam sengsara dan wafatNya hadir” dalam Ekaristi. Maka “segala sesuatu yang dilakukan oleh Kristus kepada BundaNya demi kita” dihadirkan.  Itu berarti Maria juga hadir dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi dihadirkan juga peristiwa Yesus “menyerahkan murid kesayanganNya dan, dalam murid ini, setiap orang dari kita: ‘Inilah anakmu.’ Kepada setiap orang dari kita, Dia juga berkata: ‘Inilah ibumu!’ (Yoh 19:26-27)” (EE 57).

Merayakan wafat Kristus dalam Ekaristi berarti juga menyambut – seperti Yohanes – Maria sebagai Bunda yang diberikan kepada kita. “Itu juga berarti bahwa kita mengenakan komitmen menjadi serupa dengan Kristus, memasukkan diri kita ke dalam sekolah BundaNya, sambil mempersilahkan Maria menyertai kita. Maria selalu hadir, bersama Gereja dan sebagai Bunda dari Gereja, pada setiap perayaan Ekaristi kita. Bila Gereja dan Ekaristi bersatu tak terpisahkan, hal yang sama pantas dikatakan juga mengenai Maria dan Ekaristi. Inilah salah satu alasan, mengapa sejak awal mula, peringatan akan Maria selalu menjadi bagian dari perayaan Ekaristi Gereja Timur dan Barat” (EE 57).

 

Penutup

Terdapat hubungan erat antara Maria dan Perayaan Ekaristi, antara Maria dan kaum beriman yang merayakan Ekaristi. Hubungan antara Maria dan Ekaristi itu dapat dipadatkan dalam kalimat ini: Maria Adalah Wanita Ekaristi. Maria memiliki sikap Ekaristi karena itu ia menjadi model bagi kita dalam merayakan Ekaristi. Lebih dari sekadar sebagai Model, Maria sungguh hadir dalam Perayaan Ekaristi. Dengan kasih keibuannya ia membantu kita untuk dapat merayakan Ekaristi dengan baik dan menyambut Kristus dengan hati yang pantas. Semakin kita menghormati Maria, semakin pula sikap kita menjadi sikap Ekaristi. Maria dan Ekaristi tak terpisahkan.

 

      DAFTAR BACAAN

 

Dokumen Gereja:

  1. Ecclesia de Eucharistia (Surat Ensiklik Paus Yohanes

    Paulus II tentang Ekaristi dan hubungannya dengan

    Gereja)

  1. Katekismus Gereja Katolik
  2. Lumen Gentium (Dokumen Konsili Vatikan II tentang

    Gereja)

  1. Presbyterorum Ordinis (Dokumen Konsili Vatikan II

    tentang Kehidupan Imam)

  1. Redemtoris Mater (Surat Ensikli Paus Yohanes Paulus II

    tentang Perawan Maria dalam hidup Gereja yang

    berziarah)

  1. Rosarium Virginis Mariae (Surat Apostolik Paus

    Yohanes Paulus II tentang Rosario Perawan Maria)

  1. Sacrosanctum Concilium (Dokumen Konsili Vatikan II

    tetang Liturgi)

 

Buku Pendukung:

DE FIORES, Stefano, sulla lungezza d‘onda di Maria, Roma:

             Edizioni Montfortane, 1983.

————-,  Maria nel mistero di Cristo e della chiesa, Roma:

             Edizioni Montfortane, 1995.

————-, Maria Madre di Gesù. Sintesi storico-savifica,

             Bologna: Edizioni Dehoniane, 1992.

De MONTFORT, Louis Marie Grignion, Bakti Sejati kepada

             Maria, Penterj. R. Isak Doera, Bandung: Serikat Maria

             Montfortan, 2000.

GARRIGOU-LAGRANGE, R., O.P., Mother of Savior and Our

             Interior Life, Charlotte: Tan Books, 1993.

HAFNER, Paul, The Mystery of Mary, Chicago, Liturgi Training

             Publication Arhdiocese of Chicago, 2004.

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme