MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

DOA ROSARIO: SARANA MENUJU KEKUDUSAN

 

DOA ROSARIO: SARANA MENUJU KEKUDUSAN[1]

 

(Fidel Wotan, SMM)

 

 

PENGANTAR

Jikalau kita memperhatikan cara beriman dalam hidup sehari-hari, memang betul kalau Rosario adalah suatu doa sederhana yang banyak digemari oleh siapa saja (mulai dari anak-anak sampai orang dewasa). Doa Rosario adalah sebuah doa yang bisa digolongkan dalam jenis devosi kepada Bunda Maria yang begitu sederhana dan memampukan setiap orang masuk ke dalam permenungan akan misteri-misteri hidup Kristus.

Pada bulan Oktober dan juga Mei, hampir di setiap kesempatan dan di mana saja, umat Katolik begitu antusias mendoakan atau mendaraskan doa Rosario sebagai suatu ungkapan cinta dan devosinya kepada Bunda Maria, sebuah doa sederhana yang dapat dipakai untuk merenungkan wajah Kristus, misteri-misteri-Nya. Itulah sebabnya, menurut hemat saya, dengan adanya surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (2002), kaum beriman terbantu untuk memahami makna penting dan esensial dari Rosario Suci seperti yang direfleksikan oleh Paus Yohanes Paulus II (1978-2005).

Dengan mendoakan doa Rosario berarti seseorang memiliki kesempatan untuk “menceburkan diri” ke dalam suatu seni kontemplasi terhadap misteri-misteri Kristus, tepatnya mengkontemplasikan keindahan wajah Kristus dan sekaligus mengalami kedalaman Cinta-Nya di dalam hidup sehari-hari. Melalui devosi ini, kaum Kristiani belajar mengenal dan memahami Kristus dari Maria, disatukan dengan Kristus bersama Maria, berdoa kepada Kristus bersama Maria dan mewartakan Kristus bersama Maria.

 1. ARTI DAN MAKNA KATA ”ROSARIO”

            Menurut asal katanya, kata ”Rosario” berasal dari bahasa Latin, rosa yang berarti bunga mawar dan rosarium yang berarti kebun mawar, pohon mawar[2]. Dalam bahasa Inggris, kata yang muncul ialah the Rosary, dalam bahasa Perancis kata yang dipakai ialah Rosaire dan dalam bahasa Italia dipakai istilah il Rosario. Dalam bahasa Indonesia, kata ini dipakai untuk menunjukkan salah satu sarana doa, berupa manik-manik yang digunakan oleh orang Katolik. Berkenaan dengan ini, dapat dilihat bahwa dari pemahaman atas makna kata ”Rosario”, muncullah istilah ”berdoa Rosario” yang dalam bahasa Santo Louis Marie Grignion de Montfort (1673-1716) [selanjutnya disebut Montfort] disebut sebagai ”mahkota mawar[3]”. Ia menamainya demikian bahwa Rosario tidak lain adalah mahkota mawar atau dalam bahasa Groenen disebut sebagai ”karangan bunga mawar” di mana karangan itu boleh putih atau merah, kuning[4].

            Montfort membuat pengandaian bahwa setiap kali orang berdoa Rosario, yang dilakukan ialah meletakkan secara tulus 150 mahkota mawar di mana orang akan membawa rangkaian mawar-mawar tersebut kepada Yesus dan Maria. Di sana mereka memberi sekuntum mawar yang indah dan masing-masing Rosario yang utuh membentuk mahkota mawar[5].

            Montfort menerangkan pula bahwa doa Rosario itu terdiri dari dua macam, yakni doa batin dan doa vokal, yaitu doa yang diucapkan atau didaraskan. Baginya, doa batin yang dimaksud ialah renungan mengenai misteri-misteri pokok kehidupan, kematian, dan kemuliaan Yesus Kristus dan Maria, IbuNya yang terberkati. Selanjutnya, doa vokal yang dimaksudkannya ialah pendarasan lima belas peristiwa Salam Maria, yang masing-masingnya diawali dengan satu Bapa Kami, pada waktu yag sama orang merenungkan lima belas keutamaan pokok yang dikerjakan oleh Yesus dan Bunda-Nya. Montfort menulis:

 

”Dalam lima peristiwa pertama, kita dengan khidmat merenungkan Misteri-misteri Gembira; dalam lima peristiwa kedua, kita merenungkan Misteri-misteri Sengsara; dan dalam lima peristiwa ketiga, kita merenungkan Misteri-misteri Kemuliaan. Dengan demikian Rosario Suci merupakan paduan serasi antara doa batin dan doa vokal ….[6]

 

Montfort kemudian menambahkan bahwa melalui doa Rosario seseorang dapat belajar menghormati dan meniru misteri dan keutamaan kehidupan, kesengsaraan, kematian dan kemuliaan Yesus Kristus dan Maria, Ibu-Nya[7].

Jikalau memandang pemahaman Rosario sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat dikatakan pula bahwa memang ”Rosario” itu pada dasarnya merupakan sebuah ”doa”. Dalam konteks ini tepatlah bila kamus teologi menerangkan Rosario sebagai doa kebaktian populer kepada Bunda Maria[8]. Doa ini – seperti yang sudah disinggung sebelumnya – terdiri dari lima belas sepuluhan. Itu berarti dari kelimabelas peristiwa itu masing-masing terdapat sepuluh salam Maria. Lima belas misteri itu dibagi tiga bagian, di mana lima misteri yang pertama dipakai untuk merenungkan misteri gembira Yesus dan Maria. Lima misteri yang kedua dipakai untuk merenungkan misteri sengsara Yesus dan lima misteri yang ketiga disiapkan untuk merenungkan misteri mulia Yesus dan Maria ibu-Nya. Selanjutnya, Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (2002) menambahkan misteri baru, yakni misteri cahaya (i misteri della luce)[9].

 2.  SEJARAH SINGKAT MUNCULNYA ”DOA ROSARIO”

Berbicara tentang ’sejarah Rosario’ itu berarti mengandaikan adanya data-data historis tentang kemunculan doa Rosario itu sendiri, asal-usul dan perkembangannya dari abad ke abad. Hanya saja untuk mengetahui sejarahnya secara lengkap mungkin di sini bukan tempatnya dibahas secara detail dan lengkap, apalagi sering dikatakan bahwa Rosario memiliki sejarahnya yang sulit dan panjang. Hanya saja penulis berusaha menyajikan gambaran secara umum apa yang menjadi historisitas munculnya doa Rosario[10] secara ringkas.

Berkenaan dengan ini, seorang imam montfortan, Pater George Madore, SMM dalam salah satu tulisannya mengatakan demikian:

 

”Sejarah Rosario sangat rumit dan senantiasa  akan cukup sulit untuk meringkaskannya dalam beberapa baris. Sama halnya seandainya saya meminta kepada Anda menjelaskan riwayat misa tengah alam dalam paroki Anda! Anda akan terpaksa mengantar saya ke cara orang merayakan pesta pada zaman kekaisaran Roma, kemudian Anda akan menerangkan pengaruh negara-negara germanik, sumbangan kidung-kidung dari berbagai daerah Perancis, untuk akhirnya membawa saya kepada penemuan-penemuan terbaru dalam majalah ilmiah liturgi! Hal semacam itu juga terjadi dengan Rosario, yang bukan seakan-akan dimulai oleh seorang yang tiba-tiba pada suatu hari mendapat ilham untuk menciptakannya[11].”

 

            Dikatakan pula oleh imam tersebut bahwa doa Rosario merupakan hasil suatu proses panjang yang diakibatkan oleh aneka macam bentuk devosi marial pada Abad Pertengahan. Berikut ia memetakan garis besar terjadinya bentuk Rosario sebagaimana kita mengenalnya dewasa ini.

            Ia mengatakan bahwa pada abad ke-9[12] muncul kaum awam yang ”bertobat’ ke model hidup religius (para pentobat/converse) menjadi anggota komunitas monastik. Namun oleh karena mereka itu buta huruf, maka partisipasi dalam ibadat harian tidak bisa diikuti. Dalam ibadat harian itu didaraskan (baca: didoakan, dinyanyikan) 150 Mazmur. Dikatakan bahwa mereka dianjurkan mendaraskan 150 Bapa Kami sebagai gantinya, sambil menghitung jumlahnya dengan batu-batu kecil dalam sebuah kantong, atau dengan menggunakan simpul-simpul pada sebuah tali. Madore menulis:

 

”Sampai sekarang, di berbagai daerah Eropa, tali Rosario masih dinamakan ’paternoster’ (artinya ’bapa-kami), dan mereka ’berdoa paternoster’ walaupun bukan lagi hanya mendaraskan doa Bapa Kami[13]”.

 

            Selanjutnya pada abad ke-11, muncul sosok yang bernama Santo Petrus Damianus (+ 1072) memprakarsai kebiasaan mendaraskan 150 Salam Maria sebagai ganti Bapa Kami. Saat itu, mereka mempunyai kebiasaan membuat gerakan tertentu yang menandai ciri dalam berdoa rosario, yakni membungkuk atau berlutut setiap Salam Maria.

            Kemudian pada abad ke-12, muncul aneka rumusan doa atau pengulangan Salam Maria yang dihubungkan dengan perayaan berbagai ”peristiwa” (misteri): ”15 Salam Maria untuk 15 kegembiraan Maria, 7 Salam Maria untuk ketujuh kedukaan atau ketujuh kegembiraan Maria; 33 Salam Maria untuk ke-33 tahun kehidupan Yesus; 63 Salam Maria untuk ke-63 tahun kehidupan Maria, dst[14]”.

            Kemudian pada abad ke-13, sekelompok teolog menyusun ”Kitab Mazmur Tuhan Kita Yesus Kristus”, suatu seri 150 pujian untuk menghormati Yesus Kristus, berdasarkan penafsiran Kitab Mazmur. Madore mengatakan pula bahwa tak lama kemudian muncul ”Kitab Mazmur Perawan Maria” disusun menurut pola yang sama. Dari sebab itu, dikatakan bahwa selama beberapa tahun umat Kristiani bisa memilih antara berbagai jenis ”Rosario” antara lain: 150 Bapa Kami, 150 Salam Maria, 150 pujian kepada Kristus dan 150 pujian kepada Maria[15].

            Dalam abad ke-14, muncul seorang biarawan asal wilayah sungai Rhein, Hendrik dari Kalkar, ”meluncurkan gagasan untuk membagikan 150 Salam Maria dalam puluhan yang dipisahkan oleh sebuah Bapa Kami[16]”.

            Kemudian pada abad ke-15, menjelang tahun 1410, Dominicus Prutenus, seorang biarawan Kartusia (Jerman) menyusun seri 50 seruan pendek untuk disisip dalam setiap Salam Maria[17] untuk menyokong permenungan peristiwa-peristiwa. Dalam abad ini juga, dikatakan oleh Madore bahwa dari wilayah Bretanye, muncul seorang Dominikan namanya Alan de la Roche[18] mendirikan Perserikatan Rosario pertama[19]. Berkenaan dengan hal ini, Madore menulis:

 

”Gerakan ini akan menyebar ke seluruh Eropa dan memberikan sumbangan besar dalam menyebarluaskan kebiasaan berdoa Rosario. Pater yang sama menyusun seri 150 ayat kecil untuk dibaca sebelum setiap Salam Maria. Ia menamakan cara baru ini ’Kitab Mazmur Baru Santa Perawan’[20]”.

 

            Perkembangan tersebut kemudian tampak juga di abad sesudahnya, yakni abad ke-16. Dalam abad ini, dimungkinkan menyertakan gambar di setiap 10 peristiwa Kitab Mazmur Santa Perawan. Selanjutnya dikatakan pula bahwa demi menghemat tempat, maka yang dibuat kemudian ialah menyertakan gambar pada gagasan ke-15 Bapa Kami. Nah dari situlah lahirlah ke-15 peristiwa yang masih dipakai hingga hari ini. Madore menambahkan bahwa di sekitar zaman yang sama bagian kedua Salam Maria mulai tersebar di tengah masyarakat. Itulah sebabnya, menjadi hal yang jelas bahwa Rosario bisa didoakan atau didaraskan di luar kepala dan dalam kelompok yang bersahut-sahutan[21].

            Setelah melihat lintasan sejarah munculnya Doa Rosario dalam praktik devosi di sepanjang abad, masih bisa ditambahkan hal lain tentang praksis dari umat beriman dalam mendaraskan atau mendoakan doa tersebut.

Kita tahu bahwa ada beberapa bentuk doa-doa kepada Bunda Maria. Bentuk-bentuknya dapat berupa doa kepada Maria, ikonografi, ziarah dan  lain-lain. Dalam doa kepada Maria, setiap kaum Kristiani (Katolik) dapat berdoa dengan memakai rumusan yang umum dan sudah dikenal, misalnya doa Salam Maria, Litani Maria dan Malaikat Tuhan. Sehubungan dengan itu, bisa dilihat bahwa ”doa Rosario” merupakan doa yang sederhana, singkat dan bisa dimengerti. Para penulis lainnya memperlihatkan bahwa oleh karena ini sesuatu yang menarik, lantas doa ini kemudian semakin disukai oleh banyak orang, selain karena rumusannya singkat, sederhana dan mudah dipahami ini mungkin menjadi alasan mengapa doa Rosario menjadi ”doa favorit[22]”.

 

3. MEMAHAMI ROSARIO DALAM TERANG ROSARIUM VERGINIS MARIAE (2002)

            Stefano De Fiores, teolog dan mariolog montfortan (+ 2012) mencatat bahwa Paus Yohanes Paulus II, pada bulan Oktober 2002 memproklamasikan tahun Rosario Suci (Oktober 2002 – Oktober 2003). Berkenaan dengan ini, dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (RVM), Paus ini mempresentasikan petunjuk-petunjuk bagi pembaharuan Rosario dan mendedikasikannya bagi perdamaian dunia[23]. Melalui Surat Apostolik ini – sebagaimana yang dijelaskan oleh mariolog montfortan – Paus memperkenalkan unsur-unsur baru dan menawarkan usulan-usulan yang tepat, misalnya ia memperkenalkan misteri baru dalam Doa Rosario yakni “Misteri Terang” (i misteri della luce[24]).

Menurut Paus, Rosario merupakan suatu ringkasan Injil dan ini sekaligus merupakan sebuah doa yang mengandung sebuah orientasi kristologis (il Rosario è, dunque, preghiera di orientamento nettamente cristologico[25]).

            Dokumen ini terdiri dari beberapa bagian. Struktur pembagiannya diatur ke dalam tiga bagian penting yang diawali dengan sebuah pendahuluan. Bab pertama, “Contemplare Cristo con Maria” (Bersama Maria, Merenungkan Kristus) [RVM 9-17]. Bab kedua, “Misteri di Cristo – misteri della madre” (Misteri Kristus-Misteri Bundanya) [RVM 18-25]. Bab ketiga, “Per me vivere è Cristo” (Bagiku, hidup adalah Kristus) [RVM 26-38] dan kemudian ditutup dengan sebuah kesimpulan [RVM 39-43][26].

            Menurut Perrella, Rosarium Verginis Mariae merupakan pelengkap Surat Apostolik Novo millennio ineunte (Di awal milenium yang baru[27]) dari Paus yang sama. Surat Apostolik ini dikeluarkan dalam rangka mendorong (baca: mendesak) kaum Kristiani di era post-modernisme supaya mampu merenungkan wajah Kristus[28]. Melalui dokumen ini (RVM), Paus mengajak kaum beriman untuk melihat Rosario sebagai sebuah doa di mana setiap orang dapat mengenang (baca: mengkontemplasikan) wajah Kristus bersama Maria. Doa ini bermanfaat bagi kehidupan Kristiani oleh karena dengan mengkontemplasikan wajah Kristus, kaum beriman tidak hanya masuk ke jantung kehidupan mereka sebagai orang-orang Kristiani, tetapi juga menawarkan kesempatan spiritual dan pendidikan yang akrab namun bermanfaat untuk kontemplasi pribadi. Paus menulis:

 

“Affido questa indicazione pastorale all’iniziativa delle singole comunità ecclesiali. Con essa non intendo intralciare, ma piuttosto integrare e consolidare i piani pastorali delle Chiese particolari. Ho fiducia che essa venga accolta con generosità e prontezza. Il Rosario, se riscoperto nel suo pieno significato, porta al cuore stesso della vita cristiana ed offre un’ordinaria quanto feconda opportunità spirituale e pedagogica per la contemplazione personale, la formazione del Popolo di Dio e la nuova evangelizzazione[29]” (Saya serahkan usul pastoral ini kepada inisiatif masing-masing komunitas gerejani. Saya tidak bermaksud mendikte, tetapi mau melengkapi dan memadukan program-program pastoral Gereja particular. Saya yakin usulan ini akan diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Doa Rosario, setelah dipulihkan artinya, akan langsung menyentuh intisari kehidupan kristiani; doa Rosario, setelah dipulihkan artinya, akan langsung menyentuh tapi mujarab untuk mengembangkan hidup rohani dan meningkatkan renungan pribadi, pembinaan umat Allah, dan evangelisasi baru).

 

Sebagai doa yang berbuah bagi kehidupan Kristen, melalui Rosario Kudus, Paus ingin mendorong kaum beriman untuk memiliki komitmen untuk merenungkan misteri Kristiani saat ia mengajukannya dalam surat Apostolik Novo millennio ineunte sebagai sebuah “pelatihan (baca: training) dalam kekudusan[30]”.

Maria – dalam dokumen ini – dilukiskan sebagai figur yang menolong kaum beriman untuk merenungkan keindahan Tuhan dan dalam konteks ini ia membantu mereka mengkontemplasikan wajah putranya melalui pelayanan keibuan mesianisnya. Berkenaan dengan ini, Perrella menulis:

 

“…nella meditazione dei misteri di Cristo e della salvezza enunciati dal Rosario (misteri della gioia, della luce, del dolore, della gloria), in un certo modo viene evocate la mirabile e teologale polisemia dello sguardo della Madre-Serva del Signore. (cf. RVM, 18-23[31])” (Dalam renungan misteri-misteri Kristus dan keselamatan yang diungkapkan melalui Rosario (misteri sukacita, cahaya, sedih, kemuliaan), dengan cara tertentu, maka muncullah hal yang mengagumkan dan polisemi teologis pandangan mengenai Ibunda-Hamba Tuhan).

 

Berkenaan dengan meditasi atas Rosario Suci sebagaimana yang diusulkan oleh Paus, teolog yang sama mengamati bahwa dalam cara tertentu Paus sesungguhnya mengajak seluruh komponen di dalam Gereja supaya belajar dari Maria sebagai seorang “penyembah Allah Tritunggal” yang paling unggul, seorang model yang handal bagi kaum beriman dalam upaya mempelajari seni kontemplasi Kristiani[32].

Jikalau kita memperhatikan pengalaman sehari-hari, memang betul kalau Rosario adalah suatu doa sederhana yang banyak digemari oleh siapa saja (mulai dari anak-anak sampai orang dewasa). Pada bulan Oktober dan juga Mei, hampir di setiap kesempatan dan di mana saja, umat begitu antusias mendaraskannya sebagai suatu ungkapan cinta dan devosinya kepada Bunda Maria, sebuah doa sederhana yang dapat dipakai untuk merenungkan wajah Kristus, misteri-misteri-Nya. Itulah sebabnya, menurut hemat penulis, dengan adanya surat Apostolik RVM, kaum beriman terbantu untuk memahami makna penting dan esensial dari Rosario Suci seperti yang direfleksikan oleh Paus Yohanes Paulus II. Paus menulis:

 

“Il Rosario, infatti, pur caratterizzato dalla sua fisionomia mariana, è preghiera dal cuore cristologico. Nella sobrietà dei suoi elementi, concentra in sé la profondità dell’intero messaggio evangelico, di cui è quasi un compendio. In esso riecheggia la preghiera di Maria, il suo perenne Magnificat per l’opera dell’Incarnazione redentrice iniziata nel suo grembo verginale. Con esso il popolo cristiano si mette alla scuola di Maria, per lasciarsi introdurre alla contemplazione della bellezza del volto di Cristo e all’esperienza della profondità del suo amore. Mediante il Rosario il credente attinge abbondanza di grazia, quasi ricevendola dalle mani stesse della Madre del Redentore[33]” (Memang jelas, doa Rosario berciri khas Maria. Akan tetapi pada intinya Rosario adalah doa yang kristosentris. Dalam unsur-unsurnya yang sederhana, doa Rosario menampilkan saripati amanat Injil secara utuh; dengan demikian doa Rosario dapat dikatakan sebagai ringkasan seluruh Injil. Rosario adalah gema dari doa Maria, Rosario adalah Magnificat abadi untuk memuji karya inkarnasi yang menyelamatkan, yang dimulai dalam Rahim Maria yang tetap perawan. Dengan doa Rosario orang Kristiani berguru di sekolah Maria, mereka dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya. Berkat doa Rosario kaum beriman menerima rahmat berlimpah lewat tangan Bunda Penebus sendiri).

 

Dengan demikian, mendoakan doa Rosario berarti memiliki kesempatan untuk menceburkan diri ke dalam suatu seni kontemplasi atas misteri-misteri Kristus, tepatnya merenungkan keindahan wajah Kristus dan sekaligus mengalami kedalaman Cinta-Nya di dalam hidup sehari-hari. Melalui devosi ini, kaum Kristiani belajar mengenal dan memahami Kristus dari Maria, disatukan dengan Kristus bersama Maria, berdoa kepada Kristus bersama Maria dan mewartakan Kristus bersama Maria[34].

4. DOA ROSARIO: SARANA MENJADI KUDUS

4.1. Menjadi Kudus Sebagai Sebuah Panggilan Kristiani

Panggilan untuk menjadi kudus adalah sebuah panggilan universal. Pada hakekatya, Gereja tidak dapat kehilangan kekudusannya. Dikatakan demikian karena Kristus, Putera Allah, yang bersama Bapa dan Roh Kudus dipuji bahwa “hanya Dialah Kudus”, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya, dengan menyerahkan diri baginya untuk menguduskannya (lih. Ef 5,25-26). Ia menyatukannya dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya sendiri dan menyempurnakannya dengan kurnia Roh Kudus, demi kemuliaan Allah. Oleh karena itu, dalam Gereja semua anggota, entah termasuk Hierarki entah digembalakan olehnya, dipanggil untuk kekudusan, yang menurut amanat Rasul: “Sebab inilah kehendak Allah: pengudusanmu” (1Tes 4:3; lih. Ef 1,4).

Seluruh umat Allah diwajibkan untuk menjadi kudus di hadapan-Nya. Dalam kenyataan yang bisa diamati, ternyata di sepanjang  abad ke-20, Gereja Katolik diberi kelimpahan dengan hadirnya para teolog dan orang-orang kudus yang senantiasa mengingatkan kembali umat beriman akan ketaatan mereka terhadap panggilan menjadi kudus. Hal itu bisa dilihat kembali di dalam ajaran dan pengaruh para teolog dan orang-orang kudus seperti St. Therese de Lisieux, Beata Elizabeth dari Tritunggal Maha Kudus, St. Maximilian Kolbe, Dom Columba Marmion, Reginald Garrigou-Lagrange, John Arintero,  Thomas Merton dan Joseph de Guibert, dll. Menurut J. Aumann, para kudus dan teolog dan sejumlah nama lainnya telah menyiapkan jalan bagi pembaharuan Gereja yang begitu dinanti-nantikan tatkala Paus Yohanes XXIII memanggil para uskup sedunia untuk mengikuti Konsili Vatikan II. Salah satu ajaran fundamental yang digemakan kembali sejak penutupan Konsili Vatikan II ialah ajaran Kristus sendiri: ”Hendaklah kamu menjadi kudus, samaseperti Bapamu di surga kudus adanya.” (Mat 5,48). Santo Paulus juga dalam suratnya kepada Jemaat di Tessalonika berkata: ”Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu ….” (1 Tes 4,3).[35] Ketika kita mengacuh kepada teks Kitab Suci, sebetulnya di situ kita menjumpai sejumlah referensi tentang ”kekudusan”. Hal pertama yang harus kita pahami di sini ialah bahwa kita memuji dan menyembah kekudusan Allah. Mengapa demikian, karena pada dasarnya, Allah mengatasi kekudusan setiap manusia dan malaikat manapun dalam suatu derajat ketakterbatasan (infinite). Ketika kita berbicara tentang Allah, maka hal yang bisa dipikirkan tentang diri-Nya ialah soal esensi atau hakekat keberadaan-Nya. Dalam Kitab Keluaran 3,14 Allah disebut sebagai Yahwe ”Aku adalah Aku” (Ego Eimi). Para ahli filsafat menafsir esensi Allah dengan mengatakan bahwa Ia adalah Pure Act dan mengandung di dalam diri-Nya sendiri segala kemungkinan tentang kekudusan atau kesempurnaan. Lebih dari itu, Allah sesungguhnya dipandang sebagai the source of all perfections, sumber dari segala kesempurnaan. Hal ini bisa dipahami ketika kesempurnaan Allah ditempatkan dalam seluruh ciptaan-Nya. Di hadapan semua yang ada (ciptaan-Nya), para teolog kemudian menyebut-Nya sebagai the First Cause uncaused, Penyebab Pertama (utama) dari yang tidak dapat disebabkan lagi.[36]

Dari tekanan yang diberikan oleh Konsili Vatikan II dan rujukan biblis tentang kekudusan tersebut, apakah yang bisa dipahami ketika kita berbicara tentang ”kekudusan Kristiani”? Kekudusan Kristiani  tidak pernah terlepas dari relasinya dengan Allah, sejauh mana ia bersentuhan, bergaul, berjumpa dan mengalami Allah dalam hidupnya. Hidup yang tak bercela, suci, murni dalam pikiran, perkataan, perbuatan merupakan tanda adanya kesucian dalam diri orang tersebut. Untuk memahami hal ini dengan lebih jelas lagi bagaimana kekudusan Kristiani bisa dimengerti, maka baiklah kita memahami beberapa hal berikut ini. Setiap pribadi Kristiani juga dipanggil untuk menghayati dan mengalami kekudusan itu dalam reksa hidup hariannya. Oleh karena itu, terminologi ’menjadi kudus’ bukan semata-mata dialami dan dihayati di akhirat nanti, melainkan justru sudah harus mulai diusahakan saat masih mengembara di muka bumi (hiec et nunc). Menyadari akan pentingnya dimensi ini, maka salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan ialah dengan berdoa Rosario. Bagi umat Katolik, doa ini bukanlah sesuatu yang samasekali asing bagi mereka. Doa ini sebetulnya sudah menyejarah dan menjadi tradisi rohani berabad-abad lamanya di dalam Gereja Katolik Roma. Doa ini masih dipraktekkan sampai hari ini. Bulan Oktober, oleh Gereja ditetapkan sebagai bulan Rosario, yang dipersembahkan secara khusus kepada Bunda Maria sebagai Ratu Rosario (diperingati setiap tanggal 7 Oktober). Sebagai bulan yang penuh rahmat, maka tidak mengherankan kalau di rumah-rumah, di lingkungan-lingkungan atau di dalam Komunitas-komunitas Basis Gerejani diadakan kegiatan doa Rosario.

 

4.2. Berdoa Rosario: Menciptakan Ruang Dalam Batin Untuk Berjumpa Dengan Allah

Apa artinya kalau Anda berdoa Rosario? Berdoa Rosario pertama-tama berarti menciptakan ruang dalam batin, di mana budi dan hati berhenti, mencari, mendengarkan, siap menyambut Sang Ilahi, yakni Allah sendiri. Berdoa Rosario yang selalu didaraskan oleh orang Katolik sebetulnya merupakan sebuah habitus spiritual yang di dalamnya mengandung arti menciptakan ruang lahiriah. Ruang lahiriah yang tercipta di dalam pendarasan doa Salam Maria tampak dalam mata yang menatap, bibir yang mengucapkan doa Salam Maria, dan jari-jari yang digerakkan untuk menghitung biji-biji Rosario. Dengan demikian, dalam doa ini, seseorang dapat mengerahkan seluruh jiwa-raganya untuk siap menyambut dan menerima Dia yang hadir dalam doa tersebut. Berdoa Rosario juga berarti merembes ke dalam doa Maria, manusia pertama dari mereka yang percaya, wanita yang dari semula “menyimpan segala perkara di dalam hatinya”. Berdoa Rosario juga berarti kontemplasi, menatap Kristus dan hadir pada-Nya di dalam peristiwa-peristiwa hidup-Nya, maksudnya di dalam tindakan dan perkataan-Nya yang merupakan ‘jendela-jendela ke arah Allah[37]’.

Setiap bulan Oktober, seluruh umat Katolik mendaraskan doa Rosario baik secara pribadi maupun komunal. Persis di sepanjang bulan ini, umat Katolik berkenan membenamkan diri sejenak dalam lautan untaian mawar-mawar indah dengan mendaraskan doa Rosario, sebuah doa yang sederhana (meski oleh sebagian orang dikatakan sebagai doa yang membosankan karena mengulang-ulang kata-kata yang sama; ‘Salam Maria….’ dan sebuah doa yang membuat orang lekas ‘ngantuk’ karena tidak variatif, kaku dlsb.,). Dengan semakin menghayati doa Rosario, seseorang semakin mendekati diri dengan Tuhan Yesus dan Bunda-Nya. Dengan cara itu pula, dia semakin menunjukkan dalamnya penghayatan iman yang otentik dan semakin menenggelamkan dirinya pula dalam Roh Kekudusan Allah, sebagaimana yang sudah dihayati oleh Bunda Maria. Bunda Maria adalah pribadi yang dirahmati dan diberkati Allah (bdk. Luk 1,26-38). Oleh karena itu, ia seringkali dikontemplasikan sebagai “Wanita Pilihan Allah” dan “Mempelai Tersuci Allah Roh Kudus”. Dalam hal ini, Maria telah menjadi pribadi yang selalu terarah kepada Yesus Kristus. Dari sebab itu, hubungan rohani seseorang dengan Maria dalam iman akan Yesus di bawah bimbingan Roh Kudus selalu bermaksud dan bertujuan untuk semakin memperkuat atau memperteguh persatuan dengan Yesus Kristus. Dengan demikian, doa Rosario yang didaraskan seluruh umat Katolik di setiap hari, persisnya di bulan Oktober ini, menjadi sebuah sarana yang baik untuk semakin membawa masing-masing pribadi kepada pengenalan akan Kristus dan Bunda-Nya dan semakin menyucikan serta menguduskan mereka.

 

PENUTUP

Menarik sekali bahwa “Rosario” itu bukan sekedar seutas biji-biji atau manik-manik yang digenggam dan dibawa ke mana-mana, atau dipakai sebagai sebuah asesoris rohani yang dikalungkan di leher seperti kebanyakan orang menyukainya, melainkan sesuatu yang inherent dan tak terpisahkan dalam hidup devosional umat Katolik. Rosario itu sebetulnya juga lebih dari sekedar doa sederhana dan praktis yang mana di dalamnya terkandung begitu tinggi nilai luhur dan daya kuasa ilahi yang bisa mengubah hidup manusia. Berkenaan dengan ini, penulis ingin mengutip kata-kata Santo Montfort, salah seorang ‘Rasul Rosario Suci’ dalam Gereja Katolik. Ia berkata:  

 

“…kita harus bersemangat memahkotai diri kita dengan mawar-mawar surgawi ini dan mendaraskan seluruh untaian Rosario Suci setiap hari, yaitu Tiga Misteri Rosario yang masing-masingnya terdiri dari lima peristiwa bagaikan tiga karangan bunga kacil atau tiga mahkota bunga kecil… Jika Anda dengan setia mendaraskan Rosario Suci sampai mati, saya dapat memastikan kepada Anda bahwa betapa pun beratnya dosa-dosa Anda, ‘Anda akan menerima suatu mahkota kemuliaan yang tak akan pernah pudar dan hilang, (I Ptr 5:4)… kalau saja  – camkanlah apa yang saya katakan  ini – Anda mendaraskan Rosario Suci dengan khidmat setiap hari hingga kematian menjemput demi tujuan mengetahui kebenaran dan mendapatkan penyesalan dan pengampunan atas dosa-dosa Anda[38].” (Mawar Merah: untuk orang berdosa).

 

            Berdoa Rosario tidak hanya sekedar merenungkan misteri-misteri hidup Yesus dan Bunda-Nya, tetapi juga seperti yang ditegaskan sendiri oleh Montfort bahwa ternyata Rosario mempunyai kuasa untuk membawa orang yang berdosa kembali ke jalan, cara hidup yang benar. Ia berkata bahwa Rosario memiliki kuasa untuk mempertobatkan orang-orang berdosa, sekalipun mereka berhati batu. Dalam kaitan dengan kuasa Rosario inilah, Montfort dengan sangat lantang memberi janji kepada setiap orang Katolik bila menjalankan devosi ini (doa Rosario) dan membantu menyebarluaskannya, maka sesungguhnya ia akan belajar lebih banyak dari Rosario daripada buku-buku rohani manapun. Ia pun menambahkan bahwa dengan cara ini, seseorang akan merasa bahagia memeroleh pahala-pahala dari Bunda Maria, serta dituntun kepada doa batin dan mengikuti jejak Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Dengan demikian, Montfort meyakinkan sekali lagi bagi kita semua bahwa Rosario Suci mengajari kita juga agar sesering mungkin merayakan sakramen-sakramen, untuk berusaha semaksimal mungkin menghasilkan keutamaan-keutamaan Kristiani dan melaksanakan segala macam pekerjaan yang baik.

            Berdoa Rosario sebetulnya juga mampu membawa seseorang senantiasa bersatu dengan Kristus dan Bunda-Nya sebab di sana ia akan mengalami begitu tinggi kuasa ilahi seperti yang diajarkan oleh Montfort, di mana “orang berdosa diampuni; jiwa-jiwa yang dahaga disegarkan, mereka yang terbelenggu akan dilepaskan ikatannya, mereka yang menangis menemukan kebahagiaan, mereka yang dicobai menemukan kedamaian, mereka yang miskin mendapatkan bantuan, hidup keagamaan diperbarui, mereka yang bodoh diajar, manusia belajar mengatasi keangkuhannya, orang mati (jiwa-jiwa yang kudus) dihapus penderitaannya (Mawar keempat puluh; hasil yang mengagumkan[39]).”

            Doa Rosario itu amat kaya dengan ajaran biblis. Setiap pendarasan atas biji-biji Rosario adalah moment di mana seseorang dihantar masuk ke dalam suatu permenungan mendalam akan misteri-misteri hidup Kristus dan Bunda-Nya. Semua peristiwa yang direnungkan bersifat biblis, begitu pula dengan setiap doa yang didaraskan setiap kali berdoa Rosario seperti Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan memiliki nada yang sama.

            Apabila merenungkan perjalanan doa Rosario dalam lintasan sejarah hingga praksis yang dihayati setiap orang Katolik sampai saat ini, maka dapat dikatakan bahwa doa Rosario itu telah teruji di setiap zamannya dan umat sungguh merasakan daya kuasa dan sentuhan ilahi di dalamnya. Sebagaimana doa Rosario itu sudah membudaya dan mengakar dalam praksis devosional umat Katolik, siapapun yang menghayati doa ini tentu akan merasakan dan mengalami daya kuasa ilahi dalam hari-hari hidupnya. Dalam poin ini, haruslah dikatakan bahwa memang doa Rosario telah turut membantu perkembangan kehidupan iman Gereja dan umatnya. Dari sebab itu, seorang Kristiani perlu meletakkan jantung hidup rohaninya pada apa yang direnungkan dalam doa tersebut.

            Dengan berdevosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario, setiap kaum Kristiani dihantar masuk ke dalam sebuah intimitas relasi yang mendalam dengan Kristus dan Bunda-Nya. Dari sebab itu, tepatlah bila para Paus melihat betapa pentingnya devosi kepada Maria, yakni belajar mendekatkan diri pada Kristus, menjadi serupa dengan-Nya dalam perkataan dan perbuatan. Dalam konteks ini, harus dipahami pula bahwa bakti atau devosi orang Katolik melalui doa Rosario sebetulnya memiliki keteguhan yang valid dalam ajaran iman Gereja Katolik sebagaimana yang ditegaskan dalam Konstitusi Dogmatis Lumen gentium art. 65 dan 67[40]. Di sana dijelaskan bahwa dengan mengenangkan Maria dan merenungkan Sabda yang menjelma, umat semakin hari semkain menyerupai Mempelainya (Kristus). Jadi, menurut dokumen ini, apabila Bunda Maria semakin dihormati, maka ia sendiri mengundang umat beriman mendekati Puteranya. Untuk itulah, para Bapa Konsili mengundang umat beriman agar mendukung kebaktian kepada Maria terutama yang bersifat liturgis dan agar mereka bisa menghargai praktik-praktik dan pengalaman bakti kepadanya.

            Ini berarti, devosi kepada Bunda Maria adalah ‘harga mati’ apabila seorang Katolik sejati ingin mencapai kepenuhan dalam Kristus. Itulah sebabnya, Konstitusi Dogmatis Lumen gentium mengingatkan orang Kristiani agar menempatkan Bunda Maria sebagai salah satu jalan terbaik di antara sekian banyak jalan menuju Kristus.

 

 

 

 

DAFTAR BACAAN

 

 

Magisterium Gereja:

Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana, Obor, Jakarta 2004.

Second Vatican Council, Dogmatic Constitution on the Church Lumen gentium (November 21, 1964), in The Documents of Vatican II: With Notes and Index. Vatican Translation, St. Pauls Publication, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2009.

Giovanni Paolo II, Lettera apostolica sul santo Rosario, Rosarium Virginis Mariae 18 (16 ottobre 2002), in Insegnamenti di Giovanni Paolo II, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2003, vol. XXV, 2 522-551.

 

Kamus:

De Fiores, S., Maria. Nuovissimo Dizionario 2, EDB, Bologna 2006.

O’Collins G., – Farrugia, E. G., Kamus Teologi, Kanisius, Yogyakarta 1996.

Purwadaminta, W.J.S. dkk., Kamus Latin-Indonesia, Kanisius, Semarang 1969.

 

Buku-buku:

De Montfort, Louis-Marie Grignion, Rahasia Rosario, terj. M. Benyamin Mali, Obor, Jakarta 1993.

Groenen, C., Mariologi. Teologi dan Devosi, Kanisius, Jakarta 1988.

Madore, G. Doa Rosario Menatap untuk menjadi Serupa, (Contempler pour devenir; Le Rosaire), terj. W. Peeters, Obor, Jakarta 2002.

Manek, G. Rosario. Nafas Anak-anak Maria, Ledalero, Maumere 2007.

Perrella, S. M., La madre di Gesù nella coscienza ecclesiale contemporanea, Saggi di teologia, Saggi di teologia, PAMI, Città del Vaticano 2005.

William, F. M., L’histoire du Rosarie, ed. Salvator, Mulhouse 1949.

 

 

Artikel:

Aumann, J., “Path of Perfection” dalam Stefano de Fiores (ed.), Jesus Living In Mary, Handbook of the Spirituality of St. Louis Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, New York 1994.

 

Tesis:

Ludok Kelore, Robertus, Doa Rosario Menurut Ajaran Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (Tesis), STFT Widya Sasana, Malang 2009.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“…. Tentu saja kita harus bersemangat memahkotai diri kita dengan mawar-mawar surgawi ini, dan mendaraskan seluruh untaian Rosario suci setiap hari, yaitu Tiga Misteri Rosario yang masing-masingnya terdiri dari lima peristiwa bagaikan tiga karangan bunga kecil atau tiga mahkota bunga kecil… Jika Anda setia mendaraskan Rosario suci sampai mati, saya dapat memastikan kepada Anda bahwa betapapun beratnya dosa-dosa Anda, “Anda akan menerima suatu mahkota kemuliaan yang tak akan pernah pudah dan hilang”. (1 Ptr 5,4) [Santo Montfort, Mawar Merah: untuk Orang Berdosa].

[1] Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Pos Kupang edisi Minggu, 18 Oktober 2015, hlm. 15, namun apa saja yang dipaparkan di dalamnya sudah mengalami sedikit revisi dari penulis.

[2] Bdk. W.J.S Purwadaminta, dkk., Kamus Latin-Indonesia, Kanisius, Semarang 1969, hlm. 752.

[3] Montfort lebih suka memakai istilah tersebut (mahkota mawar). Ia menulis: “Kata Rosario berarti mahkota mawar. Katakanlah setiap kali umat mendaraskan doa Rosario, mereka dengan tulus ikhlas meletakkan seratus lima puluh mahkota mawar – tiga mawar merah dan enam belas mawar putih – di atas kepala Yesus dan Maria. Karena mawar-mawar itu merupakan kembang-kembang dari surga maka tidak pernah akan pudar dan layu atau hilang keindahannya. … Begitulah Rosario yang lengkap merupakan mahkota mawar yang besar, dan Rosario dengan lima peristiwa merupakan serangkaian kembang atau mahkota mawar surgawi kecil yang kita letakkan di atas kepala Yesus dan Maria. Mawar adalah ratu kembang-kembang. Karena Rosario merupakan induk semua devosi, maka Rosario merupakan devosi yang paling penting. Louis-Marie Grignion De Montfort, Rahasia Rosario, terj. M. Benyamin Mali, Obor, Jakarta 1993, hlm. 28.

[4] Groenen mengatakan bahwa warna – entah putih atau merah dan kuning – mempunyai arti simbolik yang terkenal ialah “serangkaian 150 Salam Maria terbagi atas 15 sepuluhan yang masing-masing didahului Bapa Kami dan ditutup “Kemuliaan kepada Bapa …”. Ia mengatakan pula bahwa keseluruhan doa itu dibuka dengan mendaraskan syahadat 12 Rasul dan tiga kali “Salam Maria”. Ini dimaksudkan untuk membangkitkan ketiga keutamaan ilahi (iman, harapan, dan kasih). Ia menulis: “Sementara “rosario” didaras 15 peristiwa penyelamatan, kehidupan Yesus, (mau) direnungkan, yang juga berturut-turut diberitahukan. Dalam prakteknya kerap kali hanya 5 sepuluhan didaras pada satu hari. Kadang-kadang doa Rosario dimeriahkan dengan menyanyikannya dan diselingi khotbah-khotbah pendek mengenai peristiwa-peristiwa penyelamatan. Jumlah 150 “Salam Maria …” sesuai dengan jumlah 150 mazmur yang tercantum dalam Kitab Mazmur. Oleh karena itu, Rosario kadang-kadang disebut sebagai “Psalterium/Kitab Mazmur Maria”. Bapa Kami berperan sebagai Antifon dan “Kemuliaan kepada Bapa …” sebagai doa tanggapan. Jadi Rosario meniru Doa Harian Resmi”. C. Groenen, Mariologi. Teologi dan Devosi, Kanisius, Jakarta 1988, hlm. 175.

[5] Bdk. Louis-Marie Grignion De Montfort, Rahasia Rosario, hlm. 24-25.

[6] Louis-Marie Grignion De Montfort, Rahasia Rosario, hlm. 13.

[7] Ibidem.

[8] Bdk. G. O’Collins – E. G. Farrugia, Kamus Teologi, Kanisius, Yogyakarta 1996, hlm. 336.

[9] Berkenaan dengan ini, dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (RVM), Paus Yohanes Paulus II mempresentasikan petunjuk-petunjuk bagi pembaharuan Rosario dan mendedikasikannya bagi perdamaian dunia. Melalui surat Apostolik ini – sebagaimana yang dijelaskan oleh mariolog montfortan Stefano de Fiores – Paus memperkenalkan unsur-unsur baru dan menawarkan usulan-usulan yang tepat, misalnya ia memperkenalkan misteri baru dalam Doa Rosario yakni “Misteri Terang” (i misteri della luce). Menurut Paus, Rosario merupakan suatu ringkasan Injil dan ini sekaligus merupakan sebuah doa yang mengandung sebuah orientasi kristologis (il Rosario è, dunque, preghiera di orientamento nettamente cristologico). Bdk. Giovanni Paolo II, Lettera apostolica sul santo Rosario, Rosarium Virginis Mariae 18 (16 ottobre 2002), in Insegnamenti di Giovanni Paolo II, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2003, vol. XXV,2, hlm. 533.

[10] Menurut C. Groenen, “doa Rosario berdekatan dengan “Malaikat Tuhan …” tersebut sejauh juga dimaksudkan sebagai doa rakyat yang sejalan dengan dan pengganti “Doa Harian Resmi.” Ia mengatakan bahwa Doa yang berbentuk ‘Rosario’ (bukan nama itu) merupakan gejala devosi rakyat yang terdapat di hampir semua agama, yakni apa yang disebut dengan “butir-butir berangkai”. Itu dipakai untuk menghitung sejumlah tertentu rumus doa, pujian, seruan, yang mesti didaras. Groenen menulis: “Serentak rangkaian itu menjadi saran konsentrasi. Tidak jarang rumus-rumus yang sama diulang-ulang dan jumlah tertentu itu dianggap “sakti” dan berdaya guna. Pada umat Islam misalnya (khususnya di kalangan para tarekat) terkenal “tasbih”, seuntai 99 butir untuk menghitung 99 nama Allah yang diucapkan serangkaian (zikir). Tasbih serupa (monologistos) ada pada umat Kristen di Kawasan Timur yang sekian kali mengulang doa pendek tertentu, nama Allah, nama Yesus dan sebagainya. Pada umat Kristen di Kawasan Barat pun alat dan sarana itu tersebar luas dalam macam-macam bentuk. Biasanya tidak disebutkan “Rosario”, tetapi “karangan” (coronoa; misalnya corona lima luka Yesus; corona tujuh dukacita Maria, corona tujuh sukacita Maria, dsb.) ….“ C. Groenen, Mariologi. Teologi dan Devosi, hlm. 174-175.

[11] G. Madore, Doa Rosario Menatap untuk menjadi Serupa, (Contempler pour devenir; Le Rosaire), terj. W. Peeters, Obor, Jakarta 2002, hlm. 10.

[12] Berkenaan dengan praktik devosi kepada Maria, sebetulnya (sebagaimana yang tidak dilukiskan perkembangan sebelumnya), sudah muncul pada abad IV M yakni, munculnya suatu seruan atau doa singkat yang diarahkan kepada Maria oleh orang Kristen purba. Rumusan [doa] tersebut ialah Sub Tuum Praesidium (Di bawah Perlindunganmu). Rumusannya demikian: “Kami mengungsi di bawah naunganmu, hai Bunda Allah, yang suci, janganlah memandang hina doa permohonan kami, tetapi bebaskanlah kami selalu dari segala marabahaya, hai perawan yang mulia dan terpuji”. C. Groenen, Mariologi. Teologi dan Devosi, hlm. 171.

[13] G. Madore, Doa Rosario Menatap untuk menjadi Serupa, hlm. 11.

[14] Ibidem.

[15] Bdk. Ibidem.

[16] Ibidem.

[17] Rumusan “Salam Maria penuh rahmat …” sebetulnya sudah ada dan menjadi pelengkap sejak tahun 1500-an. Dua bagian dalam rumusan Salam Maria sebagaimana yang dikenal dan diketahui umum, masing-masing mengandung background yang tidak sama. Dikatakan bahwa bagian pertama disusun dengan menggabungkan dua ayat Injil Lukas, yakni Salam Malaikat (Luk 1,28) dan pujian dari Elisabet (Luk 1,45), sedangkan tambahan di luar Injil merupakan bagian kedua dari rumusan Salam Maria itu. Groenen berkata bahwa sesungguhnya, jauh sebelum abad XIV, penggabungan 2 ayat Injil tersebut sudah ada sejak abad VI. Bagian kedua merupakan doa permohonan kepada Maria, agar ia mendoakan si pendoa. Bdk. C. Groenen, Mariologi. Teologi dan Devosi, hlm. 169.

[18] Menurut Montfort, Beato Alan adalah seorang imam Dominikan, tinggal di Biara Dinan, Inggris. Ia menulis: “Ia seorang teolog kenamaan dan terkenal karena khotbah-khotbahnya. Bunda Maria memilih dia, karena Serikat Rosario Suci ini berawal di propinsi ini. Tepatlah bila salah seorang imam Dominikan di propinsi ini mendapat kehormatan untuk membangun kembali tarekat tersebut”. Louis-Marie Grignion De Montfort, Rahasia Rosario, hlm. 22.

[19] Sebetulnya Serikat Rosario ini sudah dirintis lebih dahulu oleh Santo Dominikus namun oleh karena memudarnya semangat mendoakan doa Rosario selama kurang lebih satu abad – seperti yang ditulis Montfort: “oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila Serikat Rosario itu hanya dapat mempertahankan semangat awal selama satu abad setelah dilembagaan oleh Santo Dominikus. Setelah itu, semangat itu seolah terkubur dan terlupakan” – lantas Beato Alan atas restu Bunda Maria yang menyampaikan pesan kepadanya untuk menghidupkan lagi Persekutuan (Serikat) itu. Karya ini dimulainya pada tahun 1460. Bdk. Ibidem, hlm. 16-22.

[20] Ibidem, hlm. 12

[21] Bdk. Ibidem, hlm. 12-13. Menurut F. M. William pada awalnya Rosario merupakan suatu doa hitungan di mana orang mendaraskan 150 Bapa Kami atau Salam Maria yang semuanya dihitung. Ia menulis: “Kemudian Rosario menjadi, seperti dikatakan oleh para cendekiawan Inggris “a corporal prayer (doa fisik/badani), maksudnya sebuah doa yang disertai gerakan-gerakan badan. Pada setiap Bapa Kami atau Salam Maria, orang berlutut atau membungkuk atau juga merentangkan tangan selama pendasarannya. Dengan munculnya deretan panjang peristiwa-peristiwa, Rosario menjadi “doa yang dibaca”: orang “membaca” peristiwa-peristiwa dari sebuah daftar yang ditulis dengan tangan atau yang dicetak. Dari doa yang dibaca, Rosario berkembang menjadi “doa dengan gambar”: untuk mempermudah semuanya bagi para beriman yang buta huruf atau yang kurang lancar membaca, setiap peristiwa disertai dengan sebuah gambar. Baru setelah jumlah peristiwa dibatasi menjadi 15 peristiwa Rosario, akhirnya dapat menjadi sebuah doa lisan bersama”. F. M. William, L’histoire du Rosarie, ed. Salvator, Mulhouse 1949, hlm. 103. Lih. Pula G. Madore, Doa Rosario Menatap untuk menjadi Serupa, hlm. 14.

[22] Bdk. Robertus Ludok Kelore, Doa Rosario Menurut Ajaran Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (Tesis), STFT Widya Sasana, Malang 2009, hlm. 17.

[23] Bdk. S. De Fiores, Maria. Nuovissimo Dizionario 2, EDB, Bologna 2006, hlm. 1402.

[24] Melalui Anjuran Apostolik ini, De Fiores menjelaskan bahwa Kristus adalah Misteri Terang itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa Paus menamakannya “i misteri della luce” (Misteri Terang) sebagaimana yang dinyatakan dalam RVM n. 21 tidak lain merupakan misteri-misteri Kristus yang diawali dengan masa kanak-kanak dan ketersembunyiannya di Nazareth hingga kehidupan publiknya. Bdk. Ibidem, hlm. 1404.

[25] Bdk. Giovanni Paolo II, Lettera apostolica sul santo Rosario, Rosarium Virginis Mariae 18, hlm. 533.

[26] Bdk. Ibidem, hlm. 522-551.

[27] Novo millennio ineunte (6 Januari 2001) merupakan sebuah surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II yang ditujukan kepada para uskup, pelayan Gereja dan rohaniwan lainnya, “di akhir masa Yubileum Agung tahun 2000”. Dikatakan bahwa surat ini menyusun prioritas Gereja Katolik Roma bagi millennium ketiga, dll. Konsentrasinya ialah Yesus Kristus sebagai pusat dan tujuan dari semua prioritas Gereja.

[28] Bdk. S. M. Perrella, La madre di Gesù nella coscienza ecclesiale contemporanea, Saggi di teologia, Saggi di teologia, PAMI, Città del Vaticano 2005, hlm. 231.

[29] Giovanni Paolo II, Esortazione apostolica Rosarium Virginis Mariae cit., 3, hlm. 524.

[30] Bdk. Ibidem. Bdk. S. M. Perrella, La madre di Gesù nella coscienza ecclesiale contemporanea, Saggi di teologia, hlm. 231.

[31] Ibidem, hlm. 232-233.

[32] Bdk. Ibidem., hlm. 234.

[33] Giovanni Paolo II, Esortazione apostolica Rosarium Virginis Mariae cit., 1, hlm. 522.

[34] Bdk. G. Manek, Rosario. Nafas Anak-anak Maria, Ledalero, Maumere 2007, hlm. xxxvi. Bdk. Giovanni Paolo II, Lettera apostolica sul santo Rosario, Rosarium Virginis Mariae 18 (16 ottobre 2002), in Insegnamenti di Giovanni Paolo II, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2003, hlm. 528.

 

[35] Secara etimologis (asal kata) kata ”perfection” dan ”perfect” berasal dari kata Latin perficere yang berarti ”membuat jadi lengkap, sempurna” atau ”membawa penyelesaian.” Dengan demikian, kata ”perfect” bisa diartikan demikian: sempurna, lengkap. Gereja itu sendiri adalah kudus adanya. Kekudusannya secara permanen ditampakkan dalam buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh Roh Kudus dalam diri umat beriman. Dengan demikian, hal itu mestinya ditampakkan dalam aneka cara oleh masing-masing individu yang mau memelihara kesempurnaan kasih yang pada gilirannya nanti ikut menguduskan orang lain. Menurut J. Aumman, bagaimana pun juga, setiap pribadi menurut tugas-tugas dan karunianya mesti teguh dalam menghidupi imannya yang kemudian memunculkan harapan dan karya melalui kasih. J. Aumann, “Path of Perfection” dalam Stefano de Fiores (ed.), Jesus Living In Mary, Handbook of the Spirituality of St. Louis Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, New York 1994, hlm. 907-909.

[36]  Ibidem, hlm. 910.

[37] Bdk. G. Madore, Doa Rosario, Menatap untuk Menjadi Serupa (Contempler pour devenir; Le Rosaire), hlm. 6. Sehubungan dengan ini, Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae mengajak umat Kristiani untuk melihat Rosario sebagai sebuah doa di mana setiap orang dapat mengenang (baca: mengkontemplasikan) wajah Kristus bersama Maria. Doa ini bermanfaat bagi kehidupan Kristiani oleh karena dengan mengkontemplasikan wajah Kristus, kaum beriman tidak hanya masuk ke jantung kehidupan mereka sebagai orang-orang Kristiani, tetapi juga menawarkan kesempatan spiritual dan pendidikan yang akrab namun bermanfaat untuk kontemplasi pribadi. Bdk. Giovanni Paolo II, Esortazione apostolica Rosarium Virginis Mariae cit., 3, hlm. 524.

[38] Louis-Marie Grignion De Montfort, Rahasia Rosario, hlm. 5.

 

[40] Second Vatican Council, Dogmatic Constitution on the Church Lumen gentium n. 65,67 (November 21, 1964), in The Documents of Vatican II: With Notes and Index. Vatican Translation, St. Pauls Publication, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2009.

The Author

SMM

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2019 Frontier Theme