MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Artikel

                                  “BUKALAH PINTU BAGI YESUS KRISTUS”

                       SPIRITUALITAS SANTO MONTFORT DAN LEGIO MARIA

Wim Peeters, SMM

 “Pada suatu malam, ketika Pater Montfort berjalan‑jalan di kota Dinan, ditemukannya di pinggir jalan seorang miskin berpenyakit kusta yang badannya penuh borok. Ia tidak menung­gu sampai orang malang itu meminta bantuannya, ia langsung menyapa dia. Kemudian Montfort mengangkat dia di atas bahu­nya, dan memikul dia begitu sampai ke depan pintu tempat para misionaris tinggal. Pintu sudah terkunci sebab harinya sudah malam. Montfort mengetuk‑ngetuk pada pintu itu, sambil beru­lang‑ulang berseru: Bukalah pintu bagi Yesus Kristus, bukalah pintu bagi Yesus Kristus …!”

Di seluruh dunia Santo Louis‑Marie Grignion de Montfort dikenal sebagai “Bentara Bunda Allah”. Bagi banyak orang ajaran rohani Montfort atau spiritualitas­nya terbatas pada devosi kepada Maria yang  kelihatan kokoh, malahan kerap kali dinilai berlebihan. Memang, jarang sekali seorang pengarang rohani berbicara demikian berdetil dan mesra tentang rahasia Maria. Namun, Santo Montfort selalu menjaga untuk berbi­cara tentang Maria dalam garis besar pewartaan Kabar Gembira tentang Yesus Kristus.

Spiritualitas Montfort

Menurut Patrick Gaffney smm, inti spiritualitas ditemukan dalam kenyataan bahwa kita digabungkan dengan Yesus Kristus melalui sakramen Pembaptisan. Montfort melihat titik tolak ini  sebagai gagasan begitu fundamental, sehingga dengan tegas ia dapat menyatakan bahwa isi pewartaannya “tidak dapat ditolak tanpa menjungkirbalikkan dasar-dasar iman kristiani” (Bakti Sejati, no. 163). Paus Yohanes-Paulus II mengangkat gagasan ini kembali ketika menyatakan: “Grignion de Montfort mengantar kita ke dalam inti misteri-misteri yang menjadi landasan supaya iman kita hidup, berkembang dan berbuah.”

Namun, pembaptisan kita dalam Kristus, Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia, bukanlah dipahami secara abstrak  oleh pengkotbah populer dan praktis ini. Karena kita bersatu dalam Kristus, kita mesti percaya penuh akan Penyelenggaraan Ilahi; kita mesti meniru teladan Tuhan Yesus yang “mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba” (Fil 2:7). Ajaran Montfort terus-menerus menekankan semangat kemiskinan, pengha­yatan sungguh-sungguh dari ucapan bahagia pertama: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah” (Mat 5:3). Maka tulisan-tulisannya merupakan undangan kepada kita untuk sungguh-sungguh dalam semangat cinta mau menerima siapa diri kita sebenarnya, yaitu hamba-hamba Yesus Kristus. Istilah ‘hamba’ bagi Montfort senantiasa mengandung arti injili bahwa kita adalah milik Tuhan, bahwa kita dicintai, bahwa kita diselamatkan oleh Kebijaksanaan Kekal yang menjelma menjadi manusia dan yang mengorbankan diri bagi kita sampai sehabis-habisnya. Sesuatu yang khas bagi Montfort bila ia menekankan pentingnya pembaharuan janji-janji baptis ialah segi “total”, “seluruhnya”. Sesuai dengan anjuran yang diberi oleh Paus Klemens XI, misiona­ris pengembara ini mewartakan pembaharuan janji-janji baptis, dan ini memberi semangat baru kepada Gereja di tempat mana pun ia berkotbah.

Di dalam pembaharuan janji-janji baptis sebagaimana diwartakan Santo Montfort terdapat suatu dimensi yang sangat vital. Melalui pembaptisan kita mengambil bagian dalam hidup Yesus Kristus,  Sabda Allah yang menjelma. Namun Sabda Allah ini mencari suatu kediaman di tengah-tengah kita melalui kesanggupan seorang wanita dari antara umat manu­sia, ialah Maria yang Tak Bernoda. Sesuai dengan rencana Allah yang sungguh mengherank­an, namun bodoh di mata dunia, persetujuan Maria penuh iman membuka gerbang dunia orang berdosa bagi Raja Kemuliaan. Jawaban ‘ya’ yang diberikan Maria atas nama umat manusia terhadap penjelmaan yang membawa keselamatan merupakan bagi Montfort suatu unsur hakiki dalam sejarah keselamatan sebagaimana secara konkret direncanakan oleh Allah. Jawaban Maria tidak hanya menjadi bagian dari “awal”, yaitu inkarnasi, tetapi merupa­kan bagian rencana Allah Tritunggal dalam segala karya-Nya. Karl Rahner rupanya mengge­makan gagasan Montfort ini ketika ia menulis, “Fiat persetujuan Maria yang samasekali unik dan yang ikut menentukan sejarah dunia, bukanlah semata-mata suatu peristiwa yang menghi­lang dalam kabut masa lampau … Maria masih terus mengucapkan Amen-nya yang langgeng, Fiat-nya yang abadi …”  Bakti kepada Maria, kata Paus Paulus VI dalam Marialis Cultus, harus berdasar pada ajaran iman yang kokoh. Montfort memperjuangkan bakti yang teguh kepada Maria karena, berdasarkan ajaran injil, Allah sendiri menghendaki Maria berperan mewakili umat manusia yang percaya akan penjelmaan yang menyelamatkan, dan akan segala-galanya yang mengalir dari penjelmaan itu. Penggabungan pada Yesus Kristus, Kebij­aksanaan Abadi yang menjelma, dalam pembaptisan harus mempunyai suatu dimensi marial. Yesus selalu dan di mana-mana adalah Putra Maria, wanita yang menjadi jurubicara seluruh umat manusia ketika ia secara aktif dan penuh tanggung jawab menampung kerinduan Sang Kebijaksanaan untuk masuk ke dalam kebodohan kita agar kita dapat mengambil bagian dalam Kebijaksanaan.

Bakti kepada Maria yang pada diri Montfort begitu mendalam, jelas sekali kristosentris. Demikian kuat hal ini ditekankan oleh santo ini, sehingga dengan tegas ia mengajar: andaika­ta bakti kepada Maria menjauhkan kita dari Yesus, kita harus membuangnya sebagai tipuan setan (BS 62). Bersama Maria kita masuk ke dalam persatuan yang lebih mendalam dan lebih langsung dengan Sang Kebijaksanaan yang menjelma. Menyingkirkan Maria dari sejarah keselamatan, dan dengan  demikian juga dari hidup kristiani, berarti bagi Montfort: menolak rencana keselamatan sebagaimana ditetapkan oleh Allah Bapa sendiri.

Mengimani kenyataan ini secara utuh serta menghayatinya oleh Montfort disebut “Pembaktian diri kepada Kebijaksanaan Abadi yang menjelma”. Penyerahan diri yang penuh cinta dan bebas kepada rencana Allah akan memperbaharui kita dalam Roh Kudus, sehingga kita “dapat melaksanakan dan menyelesaikan hal-hal yang besar demi Tuhan dan demi keselamatan jiwa-jiwa” (BS 214). Spiritualitas montfortan yang bertitik tolak dari peristiwa Inkarnasi yang terlaksana demi keselamatan manusia dan dari kenyataan bahwa kita dilibat­kan di dalamnya melalui Pembaptisan, sungguh bersifat rasuli dan pada intinya misioner. Sebagaimana Sang Kebijaksanaan memasuki kemiskinan kita melalui iman Maria, demikian juga harus kita menghayati kemiskinan di hadapan Allah dengan melayani mereka yang hidup di pinggir masyarakat. Dan segala-galanya harus dilaksanakan dalam “lingkungan” pengaruh Bunda Maria, sehingga kita dapat menjadi bait-bait Roh Kudus seperti Maria dan dengan demikian membaharui muka bumi. [1]

Dengan sangat sederhana dan jelas dapat kita katakan, “Oleh karena Maria seluruh­nya milik Yesus, keberadaan Maria juga seluruhnya untuk kita.” Bila kita seperti Maria menyerahkan diri sendiri seluruhnya kepada Kristus, kita harus tahu bahwa dengan demikian kita juga diberikan kepada sesama manusia. Dan dari segi lain: barangsiapa menyerahkan diri kepada Maria, dengan sendiri akan mengarahkan diri kepada Kristus dan karya-Nya. Montfort mengajar pertama-tama kepada kita untuk mengalami Kristus melalui Maria. Montfort  sungguh seorang misionaris Yesus Kristus, secara total!

Menjalankan “Pembaktian diri” atau “Bakti Sejati” kelihatan sangat sederhana. Kesan ini mungkin terjadi karena Montfort pandai berbicara dari luapan hati. Namun sudah cepat kita akan mengalami bahwa sebenarnya tidak begitu mudah untuk menjalankan bakti sejati ini. Sebab intinya ialah:  mengalami Kristus dalam kepenuhan-Nya melalui Maria dan karena kekuatan Roh Kudus. Yesus Kristus harus menjadi tujuan akhir segala devosi kita, kalau tidak demikian, semua devosi itu palsu dan menyesatkan. Andaikata salah satu devosi menjauhkan kita dari Kristus, kita harus membuangnya sebagai suatu tipuan setan, kata Montfort. Dalam dua karya yang paling dikenal, Rahasia Maria dan Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria, Montfort menguraikan secara ringkas bahwa bakti yang ia ajarkan, memperkenalkan Maria kepada kita sebagai seorang yang karena suatu rahmat khusus sangat erat berhubungan dengan Yesus dan dengan kita, dalam perspektif triniter yang sangat istimewa.

Menurut Montfort Maria adalah seorang yang mempunyai relasi sangat intim dengan ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Ia Puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan Mempelai Allah Roh Kudus. Dalam perspektif ini peristiwa Penjelmaan atau Inkarnasi  menjadi misteri yang sungguh sentral dalam ajarannya. Dalam misteri ini Maria mendapat suatu tugas perutusan, baik terhadap Putera Allah, maupun terhadap terhadap semua anak rohaninya. Penjelmaan terjadi untuk memulihkan relasi kita dengan Allah dalam bentuk semula; untuk mengangkat kita kembali menjadi anak-anak Allah; untuk mempersatukan kita kembali dengan Allah dan dengan sesama oleh Kristus dan karena kekuatan Roh Kudus. Dengan demikian Maria, Bunda Allah, juga menjadi ibu rohani kita semua.

Perutusan Maria

Kristus merupakan satu-satunya sumber keselamatan bagi umat yang ditebus, namun Maria dilibatkan secara erat dalam perutusan-Nya. Relasi yang sejati dengan Maria berarti juga suatu relasi dengan perutusan yang diterima Maria. Perutusan apa? Membuat Tubuh Kristus bertumbuh; bekerja sama untuk membuat Tubuh ini berkembang di dalam seluruh umat manusia. Bakti “sejati” kepada Maria mewajibkan kita untuk merasul sungguh-sungguh, dengan cara apapun juga, bukan hanya dengan berdoa tetapi juga dengan karya. Di sini kita teringat akan relasi erat antara Maria dan Roh Kudus. Sebab bagaimana kita bisa giat dalam kerasulan, kalau kerasulan ini tidak dihayati di bawah dorongan Roh Kudus dan karena kekuatan-Nya. Bukankah Legio Maria menjadi bukti yang cukup berbicara? Frank Duff, Bapak pendiri Legio Maria, justru dalam pembacaan “Bakti Sejati” menemukan pedoman penting untuk kerasulannya.

Legio Maria dan Montfort

Dalam seminar ini kita ingin menyoroti apa hubungan antara Legio Maria dan Santo Louis-Marie de Montfort? Memang nama orang kudus ini setiap hari disebutkan dalam Tessera.  Namun seorang yang kurang mengenal sistem Legio mungkin akan mengatakan  bahwa Santo Montfort hanyalah salahsatu santo pelindung Legio seperti Santo Yosef atau Santo Yohanes. Padahal dengan jelas sekali ditulis dalam buku pegangan Legio, “Dengan aman dapat dipastikan bahwa tak ada orang kudus yang memegang peranan lebih besar dalam perkembangan Legio selain Santo Louis-Marie de Montfort. Buku pegangan penuh dengan semangat jiwanya.  Doa-doa Legio merupakan gema kata-katanya, dia sungguh-sungguh guru Legio. Maka Legio sepantasnya meminta perantaraannya dan ini merupakan  suatu kewajiban moral dari Legio.”[2] Tersebar dalam BP kita menemukan 20 referensi tentang Montfort. [3]

Untuk menggarisbawahi hubungan Legio dengan spiritualitas Montfort, saya kira tidak ada cara yang lebih baik daripada dengan mengutip apa yang dikatakan pendiri Legio Maria, Frank Duff. Ketika Frank Duff pernah memberi ceramah untuk sekelompok Montfortan dan Legioner di Biara Ratu segala Hati di New York pada 6 Desember 1956, beliau menunjukkan hal ini dengan jelas ketika ia mengatakan: “Legio Maria boleh dikatakan berhutang budi besar kepada devosi yang diajarkan Santo Montfort.”[4] Kata-kata ini jelas menggemakan dengan setia apa yang ditulis dalam  Buku Pegangan Legio yang tadi dikutip.

Jadi jelas bila dengan cermat kita menyelidiki asal, tujuan dan spiritualitas Legio, kita akan menemukan bahwa ajaran Santo Montfort mengenai Bakti Sejati kepada Santa Perawan Maria merupakan sumber penuh inspirasi kaya bagi Legio.[5] “Diharapkan agar para legioner memelihara kebaktian yang istimewa kepada Maria. Bentuk pengabdian ini seharusnya seperti yang dikatakan oleh St. Louis Marie de Montfort sebagai “bakti sejati atau juga sebagai “perhambaan kepada Maria”, dan yang sekarang termuat dalam kedua bukunya yang berjudul Bakti Sejati kepada Perawan yang terberkati dan Rahasia Maria.[6]  Bakti Sejati ditulis oleh Montfort sekitar 1700, kemudian selama satu setengah abad buku ini hilang, dan baru ditemukan kembali dalam sebuah peti pada 1842. Setelah dicetak, Bakti Sejati ini langsung menjadi populer sehingga diterjemahkan dalam puluhan bahasa, juga dalam bahasa Inggris (1862). Pada tahun 1921 seorang pemuda bernama Frank Duff beberapa kali mencoba membacanya. Namun ia merasa enggan untuk membaca buku itu terus sampai habis. Ketika akhirnya ia berhasil mengatasi keengganannya, dan membuka hatinya untuk isi pesan karya ini, malahan penuh antusiasme ia igin membagikan penemuannya dengan orang-orang lain. Inilah awal penulisan “The Montfort Way”, suatu komentar yang sungguh mendalam atas Bakti Sejati yang sendiri pun menjadi sebuah buku yang disebut suatu mutiara dalam spiritua­litas marial. Juga dalam buku ini Frank Duff menulis, “Diharapkan bahwa setiap legioner, bukan hanya anggota aktif, tetapi juga setiap orang dari rombongan besar para anggota auksilier, memiliki sebuah copy buku  Bakti Sejati, karya Santo Montfort yang hebat itu. Mereka harus membacanya berulang-ulang, memahaminya dan membuatnya dengan sepenuh hati berperan di dalam hidup rohani mereka. Hanya dengan cara itu mereka akan mampu  meresapi semangat Legio Maria. Sebab sebagaimana diterangkan oleh Legio sendiri, Grigni­on de Montfort sungguh merupakan gurunya.”[7]

Bagaimana dipraktekkan?

Kalau kita konsekuen, kita harus menerima akibat-akibat tempat, peranan, perutusan yang diberikan Tuhan kepada Maria. Maria harus membantu kita mencapai tujuan akhir. Montfort mengatakan dalam Rahasia Maria nr. 3: “Kamu, gambaran hidup dari Allah, dan ditebus dengan darah mulia Yesus Kristus, Allah menghendaki kamu menjadi suci seper­ti Dia dalam hidup sekarang ini, dan mulia seperti Dia sesudah hidup ini. Memperoleh kesucian ini adalah panggilanmu yang pasti: ke sanalah kamu harus mengarahkan segala pikiran, perkataan dan perbuatan, penderitaan dan gerakan hidup; jikalau tidak, kamu melawan Allah, karena kamu menolak maksud dan  tujuan Allah men­ciptakan kamu dan meme­lihara hidupmu sampai hari ini.”

Pandangan Montfort ini jelas terserap dalam tujuan Legio Maria yang dalam BP dirumuskan sbb: “Tujuan Legio Maria ialah permuliaan Tuhan melalui pengudusan para anggotanya, dengan doa dan kerja sama yang aktif; di bawah pimpinan Gereja, dalam tugas Maria dan Gereja untuk menghancurkan kepala ular dan meluaskan Kerajaan Kristus. [8]

Pengudusan

Jadi, kita harus menjadi “kudus” seperti tertulis dalam Kitab Suci, “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu, sama seperti Dia yang kudus” (1Petr 1:15). Akibatnya bahwa kita pun akan dimuliakan sebagaimana Yesus telah dimuliakan.

Maka memperoleh kekudusan Allah merupakan panggilan kita sebenarnya dan pikiran dan perkataan kita, penderitaan dan kehidupan kita harus terarah kepada sasaran ini, “jikalau tidak, kamu melawan Allah, dan kamu menolak maksud dan tujuan Allah menciptakan kamu.” Kekudusan Allah tak lain adalah cinta kasih. Menjadi milik Allah berarti: hidup hanya bagi Dia; berarti: menjadikan Kristus sebagai pusat hidup kita, sementara Roh Kudus mengilhamkan kita untuk melakukan segala kegiatan batin dan perbuatan lahiriah. Kita harus berani mengatakan, “Tuhan, di sinilah aku; aku ingin menjadi milik-Mu seluruhnya.” Maria yang menyatakan hal ini kepada Allah dan mempraktekkannya, diberi tugas untuk membantu kita. Montfort menulis dalam baris pertama bukunya Bakti Sejati, “Melalui Santa Perawan Maria, Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia; melalui Maria pula haruslah Dia berkuasa di dunia.” Oleh misteri Penjelmaan Maria sedemikian dipersatukan dengan Kristus, sehingga semuanya yang kita berikan kepada Maria, akan langsung menuju Kristus, dan inilah suatu sarana yang jauh lebih aman dari pada andaikata kita berusaha melakukannya sendiri.

Hidup batin para Legioner

Sesuatu yang menarik dalam Buku Pegangan yang baru (terbit dalam bahasa Inggris th. 1993 dan sampai sekarang belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) ialah bahwa beberapa paragraf dalam bab mengenai Kewajiban Pokok para Legioner dirombak sama sekali. Setelah paragraf “Legioner harus berdoa dan bekerja” ada paragraf baru berjudul “Hidup batin para Legioner”[9], yang mulai dengan kutipan santo Paulus, “Bukan lagi aku sendiri  yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). “Hidup batin berarti bahwa pikiran, kerinduan dan afeksi kita terfokus pada Tuhan Yesus. Model untuk mencapai ini adalah Bunda Maria. … Semua orang beriman kristiani diajak dan memang wajib mengejar kesucian dan kesempurnaan status hidup mereka.” (LG 42) Kesucian merupa­kan hasil tindakan yang konkrit. Setiap kesucian ditemukan dalam cinta kasih Allah, dan cinta kasih Allah sepenuhnya ditemukan dalam melakukan kehendak-Nya.” (ST. ALPHONSUS LIGUORI). … Pembinaan rohani para legioner pada tingkat presidium sangat membantu dalam mengembangkan kesucian mereka. Inilah sarana-sarana yang diperlukan untuk hidup kristia­ni: doa, matiraga dan sakramen-sakramen.” Dalam pembahasan tentang sakramen-sakramen BP menyatakan: “Persatuan dengan Kristus  bersumber dalam Pembaptisan, berkembang lebih lanjut dalam Penguatan dan diwujudkan dan dipelihara dalam Ekaristi.” Sakramen Tobat juga disinggung. Kemudian dikatakan, “Sebagai ringkasan, keselamatan jiwa dan pengudusannya, maupun transformasi dunia secara kristiani hanya terjadi sebagai konsekuen­si kehadiran hidup Kristus dalam jiwa-jiwa. Sebetulnya inilah yang sungguh-sungguh meru­pakan perkara pokok.” Setelah itu BP mengutip nr. 48 dari Ensklik Ibunda sang Penebus, “Spiritualitas marial,  sebagaimana devosi marial yang bergandengan dengannya, menemukan sumber yang sangat kaya dalam pengalaman pribadi-pribadi tertentu dalam sejarah dan dalam pengalaman berbagai komunitas kristiani di antara berbagai bangsa dan negara di dunia. Dalam hubungan dengan ini, di antara banyak saksi-saksi dan guru-guru spiritualitas tersebut, kami hendak mengingatkan kembali tokoh Santo Louis-Marie Grignion de Montfort, yang mengusulkan pembaktian diri kepada Kristus melalui tangan Maria sebagai sarana yang berdayaguna bagi umat kristiani untuk menghayati janji-janji baptisnya dengan setia”.

Janji Legioner dan Pembaktian diri dalam Acies merupakan pembaharuan Janji Baptis

Jadi, bila kita mengucapkan Janji Legio dan menyatakan diri kita hamba dan milik Maria, “sehingga dapatlah kiranya pula Kristus Tuhan hamba tumbuh dalam diri hamba” dengan perantaraan Maria,  sebetulnya kita membaharui janji baptis kita. Kita mengaku iman kita dan menolak setan. Begitu pula pada waktu Acies bila dengan menggunakan rumus Montfort kita mengatakan “Aku milikmu semata-mata, ya Ratuku dan Ibuku, dan segala milikku milikmu juga”,[10] kita menyerahkan diri kita melalui tangan Maria seluruhnya kepada Yesus Kristus. Sebab Maria merupakan sarana sempurna yang dipilih Yesus sendiri untuk memper­satukan Diri-Nya dengan kita dan kita dengan Diri-Nya. Melalui Maria kita membaktian diri kita kepada tujuan akhir, kepada Penebus dan Tuhan kita. Apa saja yang saya berikan kepada Maria akan seluruhnya sampai kepada Yesus. Sebab Maria dan Yesus tidak dapat dipisahkan. Karena itu, menurut rencana Allah sendiri, pembaktian diri yang paling sempurna kepada Maria sekaligus merupakan pembaktian diri yang paling sempurna kepada Yesus.

 

Legio Maria, Laskar Maria

Ketika Legio Maria didirikan pada 7 September 1921 di Dublin, Irlandia, sebagai “perkumpulan orang katolik yang dengan restu Gereja dan di bawah pimpinan kuat Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, Pengantara segala rah­mat … tergabung dalam satu laskar untuk mengabdi di medan pertempuran yang senantiasa berlangsung antara Gereja melawan dunia dengan segala kekuatan jahatnya.”[11]

Maka Legio merupakan sebuah laskar, – laskar Perawan yang amat berkuasa -, yang mempunyai sebagai tujuan akhir pendirian Kerajaan Yesus melalui Maria, sesuai dengan kata-kata profetis Santo Montfort ini, “Melalui Santa Perawan Maria, Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia. Melalui Maria haruslah Ia berkuasa di dunia.”[12] Montfort pernah mendapat suatu visiun, [13]: “Aku mempunyai penglihatan tentang … suatu laskar yang kuat terdiri dari tentara Yesus dan Maria yang gagah berani dan pantang mundur, baik pria maupun wanita yang akan memerangi dunia, setan dan kodrat yang sudah rusak dalam zaman yang akan menjadi semakin berbahaya.” Frank Duff menjadi pria yang akan mewujudkan ramalan Montfort ini dalam zaman yang bagi Gereja semakin berbahaya. Pada awal abad ini ateisme dan komunisme semakin menjadi ancaman dan menimbulkan penganiayaan terhadap Gereja di Eropa, Asia dan Amerika-Selatan.

Tersusun menurut pola Laskar atau Legio Romawi yang tersohor itu – dari situ Legio juga meminjam namanya sendiri dan segala istilah – Legio Maria menawarkan suatu sistem teratur sebagai kerangka bagi pertempuran rohani, seperti disiplin, taktik dan moral. Jiwa Legio adalah “jiwa Maria sendiri”.[14] Sebagai tujuan Legio “beru­saha membawa Maria kepada dunia sebagai sarana yang ampuh untuk merebut dunia bagi Yesus”[15] dan melawan kekuasaan setan: “Aku akan mengadakan permusuhan… (Kej 3:15).[16] Siap maju berperang dengan salib di tangan kanan mereka dan rosario di tangan kiri, dan nama kudus Yesus dan Maria di dalam hati.” [17] Sebab setan takut sama Bunda Maria, “dalam arti tententu lebih takut akan Maria dari pada akan Allah sendiri”. [18]

Supaya dapat menjalankan tugas luhur ini seorang legioner pertama-tama harus membawa Maria di dalam hatinya, sebagaimana dijelaskan oleh Buku Pegangan, “Jelaslah bahwa legioner yang hatinya jauh dari Maria tidak dapat memenuhi amanat itu. Ia terpisah dan tidak ikut serta dalam usaha Legio. Ia bagaikan tentara yang tak bersenjata.” [19] Sebagaimana untuk setiap prajurit perhatian utama seorang legioner harus menjadi pelaksanaan perintah dan rencana pemimpinnya, Maria, Bunda Allah. Sebab tanpa Maria, “demikianlah menurut keputusan Allah, jiwa manusia tidak dapat menghadap dan mengerjakan karya Allah.” Sebaliknya, “hubungan erat dengan Maria akan menyebabkan tercapainya pengudusan secara  mengagumkan … dan merupakan sumber  pengaruh yang dahsyat atas jiwa orang-orang lain.”[20]

Kesimpulan

Jikalau kita mengikuti jalan yang ditunjuk oleh Santo Montfort, pembaktian diri kita sebagai legioner kepada Yesus melalui tangan Maria, akan melancarkan tujuan besar hidup kita di bawah pengaruh Roh Kudus: menjadi kudus dan membantu orang lain menjadi kudus juga, sebagaimana Yesus adalah kudus, dan untuk dapat akhirnya , seperti Dia, mengambil bagian dalam kemuliaan kekal.

Seperti dikatakan dalam Buku Pegangan terbaru, “Legio menawarkan suatu cara hidup lebih dari pada sekadar pelaksananaan suatu karya. Tujuan Legio ialah membantu para anggotanya dan semua yang berhubungan dengan mereka, untuk sepenuhnya menghayati panggilan mereka sebagai orang kristen. Panggilan ini bersumber pada Pembaptisan. Oleh Pembaptisan seorang dijadikan seorang Kristus yang lain. “Kita tidak hanya menjadi Kristus-Kristus yang lain, tetapi Kristus sendiri.” (St. AGUSTINUS). Tergabung pada Kristus pada saat Pembaptisan, setiap anggota Gereja mengambil bagian dalam perananan-Nya sebagai Imam, Nabi dan Raja.” [21]

Semoga dengan bantuan ajaran, doa dan perlindungan Santo Louis-Marie Montfort kita menjadi legioner yang baik,  atau seperti setiap kali dibaca dalam Instruksi Tetap: “Pengabdi­an Legio mengharapkan dari setiap Legioner : … Agar ia melakukan sejumlah kegiatan pekerjaan Legio dalam semangat iman dan dalam persatuan dengan Maria, dan sedemikian rupa hingga Maria dalam mereka yang tersangkut dalam pekerjaan dan dalam para Legioner sendiri, dapat melihat kepribadian Kristus lagi sebagai yang diabdi.”[22]  Bukalah pintu bagi Yesus Kristus!

 

Akhir Kata

Saya ingin menutup dengan membacakan penutup surat Paus yang ditulisnya pada kesempatan   Tahun Montfort ini:

Saudara-saudari terkasih dalam Keluarga Besar Montfortan, dalam tahun ini yang ditandai oleh doa dan refleksi tentang warisan berharga dari Santo Louis-Marie, saya membe­ranikan hati anda: berusahalah agar harta ini berbuah; jangan membiarkannya tersembunyi. Ajaran pendiri dan guru anda bertepatan dengan tema-tema yang menjadi bahan meditasi bagi seluruh Gereja menjelang Yubileum Agung. Ajarannya menunjukkan kepada kita arah yang ditempuh Kebijaksanaan sejati yang harus dibuka bagi begitu banyak orang muda yang mencari arti dalam hidupnya serta suatu seni hidup.

Saya menyambut baik prakarsa-prakarsa anda untuk menyebarluaskan spirituali­tas Montfortan dalam bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda, berkat kerja sama antara para anggota ketiga tarekat anda. Jadilah juga pendu­kung dan titik referensi bagi gerakan-gerakan yang menggali inspirasinya dalam ajaran Grignion de Montfort, sehingga bakti kepada Maria menjadi semakin terjamin otentik. Perbaharuilah kehadiran anda di tengah kaum miskin, keterlibatan anda dalam kegiatan pastoral Gereja, kesiap-sediaan anda bagi evangelisasi.

Semoga perayaan Tahun Montfort menjadi kesempatan bagi semua pengikut Santo Louis-Marie de Montfort, untuk bersama-sama menemukan bagaimana pesan injili Montfort bermakna bagi Gereja masa kini dan untuk dinyalakan oleh semangat untuk menye­barkannya di sekitar mereka kepada semua sahabatnya, rekan-rekan  sekerja dan  seja­batan.

Bandung, Pesta Santo Montfort, 28 April 1998.

 

Wim Peeters, SMM

Lampiran

    Pada tahun 1966, kumpulan lengkap tulisan Santo Montfort diter­bitkan dalam bahasa Perancis (Oeuvres Complètes de Saint‑Louis Grignion De Montfort, Ed. Du Seuil, Paris), disusul oleh terjemahan Inggris pada tahun 1987 (God Alone. The Collected Writings of St. Louis Marie de Montfort. Montfort Publications, Bay Shore, New York). Buku‑buku itu menyediakan suatu pandangan menyeluruh tentang karangan‑karangan rohani Santo Montfort dan memperkenalkan spiri­tualitas montfortan secara lebih luas kepada mereka yang hanya mengenal Santo Montfort melalui buku “Bakti Sejati” dan “Rahasia Maria”, yang menjadi bahan utama untuk meramu Buku Pegangan Legio (BP). Buku-buku ini memang dengan panjang lebar membahas kebaktian kepada Bunda Maria. Namun bila kita membacanya dengan baik, dengan acuan tulisan-tulisan Montfort yang lain, teristimewa Cinta dari Kebij­aksanaan Abadi, dengan mudah sekali kita menemukan di dalamnya bahwa focusnya Yesus Kris­tus, Kebijaksanaan Allah yang menjelma menjadi manusia dan yang disalibkan. Yesus memang selalu tujuan dan jantung spiritualitas montfortan. Marialah jalan, dipilih oleh Allah sendiri, dan sarana yang pasti akan membawa kita kepada tujuan ini. Kata Montfort: “Jadi bila kita menyebarluaskan ibadat yang bermutu kepada Santa Maria, maka itu hanya dilaku­kan untuk menyediakan suatu sarana yang mudah dan pasti untuk menemukan Yesus Kris­tus.” [23]

[1] Patrick Gaffney, An Overview of the Spirituality of Saint Louis de Montfort, dalam :God Alone. The collected writings of St. Louis Mary de Montfort. Montfort Publications, Bay Shore, NY 11706, 1987, hlm xiv-xv.

[2] Buku Pegangan Resmi Legio Maria (selanjutnya BP ), hlm. 57-58

[3] Lih BP 16, 57, 58, 67, 72, 123, 128, 130, 134, 142, 152, 168, 202, 205, 208, 245, 347, 349, 352 (2x).

[4] Queen of all Hearts,   Maret-April 1957, hlm. 7

[5]BP, hlm. 16

[6]BP,hlm. 142.

[7] The Montfort Way, hlm. 35.

[8] BP, 3

[9] The Official Handbook of the Legion of Mary, Dublin 1993, hlm.203-207.

[10] “Milikmu semata-mata”, dalam bhs. Latin “Totus Tuus”. Kita tahu bahwa Paus meminjam semboyan kepausannya “Totus tuus” dari Santo Montfort. Dalam bukunya yang belum terlalu lama terbit berjudul “Melintasi ambang pintu harapan” (Obor, Jakarta 1995) Paus menejelaskan: “Totus tuus. Kalimat ini bukan hanya suatu ungkapan kesalehan, atau semata-mata ungkapan devosi. Lebih dari itu… Berkat Santo Louis dari Montfort saya dapat mengerti bahwa devosi sejati kepada Bunda Allah sesungguhnya bersifat Kristosentris, secara sangat mendalam devosi tadi sangat berakar dalam misteri Allah Tritunggal, dan misteri Inkarnasi dan Penebusan. Demikianlah saya menemukan kembali kesalehan marial, kali ini dengan suatu pengertian yang lebih mendalam” (hlm. 265-266).

[11] BP , hlm 1.

[12]Bakti Sejati kepada Perawan Tersuci, no. 1

[13] Lih. Bakti Sejati, nr. 114, dikutip dalam BP, hlm. 58: “Saya punya penglihatan jelas…”

[14] BS, no.1

[15] BP, hlm. 129.

[16] BP, 71-73.

[17] BP, 72.

[18] Lih BS, 51-52.

[19]BP, hlm. 129.

[20]BP, hlm. 130.

[21] The Official Handbook of the Legion of Mary, Dublin 1993, hlm. 207.

[22]BP hlm. 228-229

[23]BS, 62

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme