TAHBISAN IMAM SMM DI MATALOKO

(Rm. Us, SMM; Rm. Roin, SMM; Rm. Njo, SMM)

Selamat dan salam sehat untuk kita semua. Kami bertiga (saya, Us dan Njo) merasa bersyukur atas doa dan dukungan dari konfrater dan umat untuk kami. Dari masa persiapan menjelang tahbisan sampai tahbisan, kami tidak mengalami hambatan. Itu semua atas bantuan Roh Kudus dan juga atas doa-doa dari kita semua.

Kami menerima berita bahwa tahbisan kami akan dilaksanakan di Paroki Roh Kudus Mataloko, keuskupan Agung Ende. Sempat kami merasa kaget karena waktunya lebih cepat dari biasanya pelaksanaan Tahbisan imam dalam SMM. Namun hal itu tetap membuat kami bersyukur karena diperkenankan untuk menerima rahmat imamat. Kami berangkat dari tempat tugas kami masing-masing persis setelah Natal 2020, sehingga kami tidak dapat menikmati perayaan malam Tahun Baru di tempat tugas kami.

Retret Persiapan Tahbisan

Selama seminggu kami saling berkomunikasi mengenai tempat dan siapa yang akan memberikan retret untuk kami bertiga. Setelah mempertimbangkan semuanya, kami memberikan kesempatan kepada Diakon Us Dopo untuk mencarikan tempat dan pemateri retret yang ada di Bajawa, dengan alasan supaya kami setelah retret langsung diantar ke paroki tempat kami akan ditahbiskan.

Kami bersyukur karena Diakon Us Dopo mendapatkan tempat dan pemateri untuk retret kami bertiga. Kami retret di Biara Novisiat OCD, Bogenga dan yang memberikan kami retret adalah P. Christian, OCD. Tempatnya sangat bagus dan indah, karena di situ bukan hanya biara novisiat tetapi sekalian dengan rumah retret. Kami memulai kegiatan retret dari tanggal 3-7 Januari 2021. Hari pertama kami tiba di tempat retret, suhu udara sangat dingin apalagi musim hujan semakin lengkap rasa dingin tersebut. Diakon Njo tak kuasa menahan dinginnya, makanya dia memakai jacket tebal dan kaus kaki yang tebal pula, seperti berada di musim salju (hehe..). Namun, kami bersyukur karena ada fasilitas air panas di kamar mandi kami masing-masing.

Materi yang diberikan selama kami retret sangat menyentuh dengan pengalaman hidup harian para religius. Pater Christian mengantar kami untuk mendalami makna dan peran seorang imam. Beliau juga menafsirkan Kitab Suci dengan begitu indah dan mudah diresapi. Pelayanan terhadap kami selama retret sangat memuaskan, hingga kami tak merasakan lagi dinginnya kota Bajawa.

Kami bersyukur selama retret, banyak pengalaman yang kami olah dan dijadikan bekal untuk perjalanan imamat kami. Pater Chris, OCD sangat membantu kami dalam menemukan spirit-spirit yang ada dalam diri seorang Gembala. Hal yang menarik juga dalam retret yakni kami diberi kesempatan untuk mengadakan misa kayu dan juga Latihan prefasi meriah bersama. Dengan suara khas kami bertiga, tentu kesinambungan nada kadang-kadang tidak bertemu, sehingga lebih banyak diakhiri dengan tertawa dan diulang lagi.

Kini kami berada di penghujung retret dan akan siap berangkat menuju ke Paroki Roh Kudus, Mataloko. Kami menutup rangkaian retret dengan misa bersama yang dipimpin oleh Pater Chris sendiri. Sempat dia meminta kami bertiga untuk menyanyikan prefasi yang sudah kami latih saat Perayaan Ekaristi tersebut. Dengan kompak, kami menjawab, “Biar tunggu tanggal mainnya saja Pater”. Ekaristi berjalan dengan indah dan khusyuk. Setelah misa, kami disuguhkan dengan makanan yang ternikmat dari hari-hari sebelumnya di tempat retret itu. Dengan lahap tapi sopan, kami menyantap hidangan tersebut. Kemudian kami beranjak menuju Mataloko.

Tahbisan

Kami berangkat ke Mataloko pada pukul 14.30 wita. Jarak tempuh kota Bajawa ke Mataloko kurang lebih 1 jam. Kami berangkat dijemput oleh kakaknya Diakon Us Dopo. Hujan pun mengiringi perjalanan kami menuju Mataloko. Setibanya di Mataloko, hujan pun reda dan kami disambut oleh Pastor Paroki dan Diakon yang bertugas di Paroki tersebut. Kamudian kami diantar ke kamar kami dan setelah meletakkan tas dan ransel, kami diajak ke kamar makan untuk minum. Kami bertiga disuguhkan dengan kopi asli Bajawa yang begitu nikmat.

Pada malam hari, kami semua yang akan ditahbiskan sudah berkumpul di Paroki. Pastor Paroki dan Ketua Panitia Tahbisan mengumumkan bahwa kami tidak boleh mengunjungi keluarga sampai pada hari tahbisan. Kami pun mengindahkan himbauan tersebut. Kemudian pada keesokan harinya, kami memulai Latihan tahbisan imam yang dipimpin oleh ketua komisi Liturgi Keuskupan Agung Ende. Latihannya berjalan lancar dan megah. Kami menghabiskan waktu Latihan selama 2 jam. Namun Latihan tersebut tidak terasa karena begitu rapih dan indah pengaturannya. Kami menutup Latihan dengan makan siang bersama di aula paroki. setelah makan bersama, kami diberi waktu pribadi sampai besok, karena ada latihan bersama lagi. kami menghabiskan waktu dengan latihan prefasi, dialog dalam buku perayaan ekaristi dan berbagi pengalaman bersama para diakon yang berasal dari Projo keuskupan Agung Ende dan juga Diakon OCD.

Sekedar informasi bahwa imam yang akan ditahbiskan di keuskupan Agung Ende berjumlah 14 Diakon; 3 diakon SMM, 4 Diakon OCD, dan 7 Diakon Projo Ende. Namun kami dibagi di tiga kevikepan dengan tanggal yang berbeda, yakni tanggal 11 Januari di kevikepan Bajawa, tanggal 13 januari di kevikepan Nagekeo dan tanggal 15 januari di kevikepan Ende. Kami bertiga mendapat jadwal tahbisan di kevikepan Bajawa bersama 2 diakon OCD dan 2 Diakon Projo Ende. Jadi kami bertujuh yang ditahbiskan pada tanggal 11 januari di Paroki Roh Kudus Mataloko.

Pada hari Sabtu, 9 Januari 2021 pukul 08.00 wita, kami memulai lagi latihan bersama. Tetapi, kali ini yang ikut Latihan adalah kami yang ditahbiskan tanggal 11 januari. Sedangkan, ketujuh diakon lainnya hanya menyimak Latihan kami. Latihannya berjalan lancar dan megah dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Pada hari yang sama juga, keluarga saya dan Diakon Njo dari Manggarai sudah tiba di rumah keluarga di Mataloko. Meskipun mereka sudah datang, namun kami tidak diizinkan untuk menemui mereka.

Pada hari Minggu, 10 Januari 2021 setelah misa, kami bersama keluarga mengadakan Latihan bersama di Gereja Paroki. Di saat itulah kami baru bisa bertemu dengan keluarga dan bercerita bersama mereka sembari meminum kopi Bajawa dan kue yang disajikan oleh panitia. Pada saat Latihan, semua patugas liturgi hadir, dan petugas misdinar adalah para frater dari Ritapiret. Proses Latihan bersama keluarga berjalan lancar dan indah. Kemudian kami menutupnya dengan santap siang bersama sambil tetap mengindahkan protokol Kesehatan. Setelah santap siang bersama, keluarga kami kembali ke rumah dan kami tetap saja tidak diizinkan untuk ikut bersama mereka.

Pada hari Senin, 11 Januari 2021, perayaan pentahbisan pun dilaksanakan yang dipimpin oleh Uskup Agung Ende Mgr. Vinsentius Sensi Potokota. Para panitia sangat sibuk dalam mengurus segala hal yang berkaitan dengan perayaan tersebut dan mereka bekerja dengan sepenuh hati dan kerjasama yang baik pula. Perayaan tahbisan pun berjalan lancar dan banyak yang memuji keberhasilan panitia dalam menjaga dan menyukseskan acara tersebut. Saya menyadari betapa Tuhan bekerja dalam seluruh rangkaian acara ini. Sebelum perayaan pentahbisan, yakni pada hari Jumat, 8 Januari hujan begitu lebat mengguyur Mataloko. Kami berpikir bahwa perayaan tahbisan kita akan diguyur hujan. Namun, kuasa Tuhan sungguh nyata, yakni mulai hari Minggu sampai hari perayaan pentahbisan tidak ada hujan dan udara begitu sejuk. Saat itu alam sangat bersahabat dan rangkaian acara pentahbisan berjalan dengan begitu damai dan indah.

Setelah pentahbisan, kami para imam baru bersama keluarga diundang makan siang bersama di aula Paroki. Ternyata panitia sudah menyiapkan makan siang yang begitu nikmat. Setelah makan siang bersama, kami dan keluarga diantar menuju rumah tempat keluarga kami menginap. Disana sudah disiapkan acara untuk syukuran tahbisan. Ketika tiba di sana, saya dan keluarga merasa kaget dan gembira karena umat KBG sudah menunggu dan siap menyambut saya secara adat Bajawa di depan pintu tenda. Setelah diterima secara adat, saya pun diantar dengan tarian Ja’I oleh anak-anak dan ibu-ibu. Saya sangat bahagia akan penyambutan tersebut. Keluarga saya juga tidak menyangka ada acara penyambutan imam baru. Banyak rangkaian acara yang kami jalankan dan musik Ja’i mengiringi kebahagiaan kami hari itu.

Setelah selesai acara bersama mereka, kami pun mengucapkan terimakasih kepada mereka dengan upacara adat Manggarai. Mereka sangat bergembira menerima upacara tersebut dan kemudian kami pun pamit pulang ke Manggarai. Totalitas pelayanan dari umat di Paroki Mataloko sungguh luar biasa. Saya sangat bangga dengan pelayanan mereka yang tanpa pamrih. Senyum dan tertawa gembira selalu terlintas di wajah mereka ketika mengerjakan sesuatu.

Akhirnya, kami pun pulang dan mereka mengantar kami hingga kami masuk kendaraan dan berangkat menuju Manggarai. Terimakasih untuk semua kebaikannya. Sampai jumpa kembali. Tuhan memberkati. (Rm. Roin, SMM).