TAHBISAN IMAM BARU MONTFORTAN

Sehari sebelum Perayaan tahbisan, tepatnya senin, 7 September 2020, pada pukul 18.00 diadakan ibadat pemberkatan seluruh perlengkapan imam baru (stola, kasula, sibori, piala, dll.) di Kapel Rumah Misi Deo Soli. Ibadat ini dipimpin oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap. Semua konfrater SMM, para imam tamu, beberapa biarawan/i dan beberapa umat termasuk keluarga dari kedua yubilaris mengikuti ibadat ini. Meskipun ibadat ini tergolong singkat, namun terasa begitu khidmat dan agung.

Perayaan tahbisan diselenggarakan pada 8 September, pukul 09.00 WIB bertempat di pendopo Rumah Misi Deo Soli.  Perayaan ini dipimpin oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap, Uskup keuskupan Sintang. Jumlah para imam yang turut hadir mengikuti perayaan tahbisan 38 orang. Umat yang turut hadir rupanya tidak sesuai dengan target sebelumnya. Perkiraan umat yang hadir 250 orang, ternyata yang hadir kira-kira hanya 75% dari yang diperkirakan. Hal ini bisa dimaklumi, di luar alasan personal, mungkin bisa terjadi karena umat masih begitu mawas diri, “takut” dengan Covid-19. Sebab tingkat kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kapuas Hulu, beberapa hari sebelum perayaan tahbisan, cukup meningkat. Dari tamu undangan yang hadir, hadir juga Bapak Wakil Bupati Kapuas Hulu dan beberapa Kepala Dinas.

Tahbisan Imam Niko dan Vian

Pada umumnya perayaan tahbisan yang sederhana namun meriah ini berjalan dengan baik, lancar, kudus, dan penuh khidmat. Peran serta para petugas liturgi yang begitu apik menjalankan tugasnya masing-masing turut memberi warna dalam seluruh perayaan tahbisan. Paduan suara para anggota kor yang begitu meriah turut menghadirkan suasana agung dan khusyuk dalam perayaan ini serta membawa seluruh umat masuk pada misteri yang dirayakan.

Suatu hal yang menarik dan tidak biasanya terjadi, bahwa keluarga besar dari kedua yubilaris tidak hadir saat perayaan ini mengingat wabah Covid-19 yang kian merebak. Kehadiran keluarga besar dan khususnya kedua orang tua saat perayaan diwakili oleh keluarga dan kenalan kedua yubilaris. Meskipun demikian, tetap tidak mengurangi nilai perayaan, khususnya saat upacara pentahbisan.

Bapa Uskup sendiri memimpin perayaan dengan penuh khidmat. Dalam homilinya, Bapa Uskup dengan amat menarik dan tegas mengingatkan bahwa, panggilan menjadi seorang gembala atau imam sangat sulit pada zaman dewasa ini. Tidak semua orang tergiur hatinya untuk memilih jalan panggilan khusus sebagai imam. Kebanyakan orang lebih tergiur pada perkembangan yang ditawarkan dunia dewasa ini. Lebih dari itu, Bapa Uskup sendiri juga menegaskan, bahwa banyak tantangan dan kesulitan dalam menghayati panggilan imamat dewasa ini. Untuk itu perlu berdoa untuk para imam. Selanjutnya Bapa Uskup menjelaskan motto-motto tahbisan dari masing-masing kedua yubilaris. Adapun motto tahbisan Rm. Nikodemus Hermiawan, SMM “ Tenanglah! Aku ini, jangan takut” (Mat. 14:27) dan motto Rm. Oktavianus Klido Wekin, SMM “Ini aku, utuslah Aku” (Yes. 6:8). Dari kedua motto ini, Bapa Uskup menekankan bahwa semua orang dipanggil oleh Allah. Terhadap panggilan Allah ini, hendaknya setiap orang menanggapinya dengan dengan mengatakan, “ini aku, utuslah aku”. Menghayati panggilan Allah ini juga bukan tanpa kesulitan dan tantangan. Meskipun demikian, kita tidak perlu takut, sebab Allah selalu menyertai kita, dan selalu mengatakan, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”. Sebagaimana yang telah dirancang sebelumnya, perayaan tahbisan ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Beberapa umat Katolik yang berkecimpung di bidang kesehatan menjadi panitia khusus yang bertanggung jawab supaya perayaan ini tetap berjalan sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini sangat perlu untuk menghindar munculnya klaster baru Covid-19. Perayaan Ekaristi Pentahbisan yang selesai pada pukul 11.30 ini dilanjutkan dengan resepsi bersama secara sederhana.