SHARING DARI PAPUA NEW GUINEA

RP. Laurensius Ola, SMM

Salam jumpa kembali untuk semua konfrater dalam edisi internos kali ini. Semoga konfrater sekalian sehat walafiat dan tetap bersemangat dalam perutusan. Sharing saya kali ini berkisar pada misi baru yang dipercayakan oleh keuskupan dan serikat kepada saya, yaitu sebagai pastor paroki St. Yosep, Balimo.

Menerima Perutusan Baru

Awal tahun 2020 tepatnya tanggal 23 Januari 2020, saya meninggalkan paroki St. Gerard Kiunga menuju Balimo. Berhubung adanya kendala transportasi dari Kiunga menuju Balimo, maka saya harus melewati Daru untuk kemudian menuju Balimo. Di Daru saya disambut oleh P. Masjon. Beliau untuk sementara menggantikan pastor paroki yang sedang berlibur kala itu. Saya kemudian dijemput oleh P. Aloy Banggur yang saat itu adalah pastor Paroki di Balimo. Perjalanan dari Daru ke Balimo menggunakan dinghy. Perjalanan memakan waktu beberapa jam dan harus melewati Bamu dimana pastor Mateus berkarya. Kami singgah di beberapa kampung untuk meresmikan bangunan sekolah dan rumah guru yang dibangun oleh Gereja (keuskupan) dengan menggunakan para pekerja lokal. Pastor Aloy adalah pimpinan proyek dan dia juga yang meresmikan bangunan tersebut. Dari Bamu kami menuju Balimo. Sampai di Balimo kami dijemput dengan acara penyambutan dari umat paroki yang sempat hadir saat itu. Dua hari setelah kedatangan saya diadakan upacara serah terima jabatan dari pastor Aloy kepada saya dalam perayaan ekaristi sekaligus sebagai perpisahan. Hari berikutnya Pastor Aloy berangkat ke Kiunga untuk tugas perutusannya yang baru. Dalam dua hari saya harus belajar mengoperasikan traktor, mesin penggiling padi dan beberapa hal baru lainnya. Semuanya serba cepat dan harus benar.

Pertama Dalam Hidup

Berada di paroki St. Yosef Balimo menjadi awal kehidupan baru bagi saya. Pertama, saya harus belajar untuk mengenal situasi dan kehidupan umat di tempat baru ini. Berbagai cerita mengenai situasi dan umat setempat dari beberpa konfrater sangat membantu untuk mengenal situasi dan umat. Ada kesamaan antara paroki-paroki tempat saya bertugas sebelumnya dengan paroki baru ini, seperti kemiskinan dimana mereka tidak hanya mengalami kesulitan secara ekonomis tetapi juga dalam pendidikan dan kesehatan yang merupakan kebutuhan-kebutuhan pokok. Tentunya ada berbagai alasan yang menyebabkan situasi demikian. Di sini kehadiran gereja menjadi berkat, setidaknya membantu mengurangi beban yang mereka pikul secara fisik maupun spiritual. Sebagai seorang Montfortan, situasi ini menjadi sebuah medan pelayanan yang relevan dengan spiritualitas hidup Montfortan. Dengan latarbelakang situasi yang demikian maka perutusan baru ini saya pandang sebagai penyelenggaraan Ilahi dimana saya bisa mengaktualisasikan spiritualitas yang dihidupi dan ditawarkan oleh St. Montfort dalam konteks karya saya sekarang.

Kedua, selain situasi yang baru sama sekali, saya harus menjalani tugas baru ini sendirian, dalam arti tidak lagi hidup berkomunitas bersama konfrater lain seperti pangalaman sebelumnya. Saya harus mengurus segala sesuatu sendiri. Tidak ada konfrater untuk bisa berbagi cerita, makan bersama, tertawa bersama untuk sekedar menghilangkan rasa penat, capek. Kadangkala kita bisa tertawa dan berbagai cerita lewat telpon tetapi kehadiran secara fisik dari seorang konfrater sangat perlu untuk sebuah kehidupan berkomunitas. Saya ingat ketika menelpon P. Wim saat beliau berulang tahun, Ia sempat bertanya soal situasi dan keadaan saya di tempat tugas. Ketika saya memberitahu bahwa saya hanya tinggal seorang diri, beliau mengatakan itu tidak baik. Saya mengerti dengan baik pernyataan pastor Wim karena pada hakekatnya hidup seorang Montfortan adalah berkomunitas. Hidup komunitas menjadi salah satu pilar penting dalam spiritualitas Montfortan. Akan tetapi situasi kami menjadikan hal ini seperti normal adanya oleh karena kekurangan tenaga. 

Beberapa Kegiatan Selama di Paroki St. Yosep Balimo

Sebagai orang baru saya bersyukur karena sudah ada perencanaan dan program yang dibuat. Kegiatan pertama yang dijalankan adalah perayaan Pesta Pelindung paroki St. Yosep pada tanggal 19 Maret. Kendati jatuh pada masa prapaskah, kami tetap merayakannya secara sederhana. Semua umat paroki hadir bersama dalam perayaan tersebut. Perayaan Ekaristi diiringi lagu-lagu dan tarian daerah yang membuat perayaan begitu hidup. Setelah perayaan ekaristi semua umat berkumpul untuk makan bersama sambil diiringi tarian-tarian dari setiap basis. Perayaan ini menjadi yang pertama bagi saya dan sekaligus terakhir, sebab beberapa hari setelah perayaan ini semua wilayah di PNG di-lockdown selama dua minggu. Situasi setelah adanya Covid-19 menjadi serba sulit. Segala aktivitas gereja diperketat sesuai dengan protokol Covid-19, sampai bulan Juni 2020. Baru pada akhir Juni ada sedikit kelonggaran dimana gereja juga dibolehkan untuk kembali beraktivitas dengan jumlah umat terbatas. Perayaan misa harian dan mingguan kembali dijalankan bersama umat. Kami kembali menjalankan program-program yang telah disepakati bersama seperti pelayanan Sakramen Baptis, Komuni pertama, Perkawinan. Selain sakramen, ada pula pembinaan kaum muda, kelompok para ibu dan bapak kembali berjalan sesuai jadwal. Kegiatan komunitas basis, kunjungan ke rumah umat serta kunjungan ke stasi berlaku sesuai jadwal yang telah disepakati.

Hal terakhir yang saya lakukan bersama umat yakni misa pembukaan bulan Rosario. Saya mengajak umat untuk berdoa Rosario dan memperkenalkan juga cara berdoa Rosario ala Montfort. Kami akan menutup bulan Rosario dengan melakukan safari Rosario.

Akhir Kata Harus diakui perutusan seringkali menempatkan kita pada posisi yang tidak ideal sebagaimana saya alami saat ini. Akan tetapi, jika semuanya dijalani dengan kedewasaan dan kesetiaan maka selalu ada kebahagiaan. Tentu tidak terlepas dari adanya kesulitan atau kelemahan sebagai manusia. Dibalik situasi yang sulit, dibalik kenyataan bahwa saya tinggal sendirian itu semua tidak mampu melawan berkat yang dicurahkan oleh Tuhan untuk bertumbuh dan berkembang secara jasmani dan rohani. Saya percaya Tuhan ada dibalik semua kelemahan dan kesulitan yang dihadapi untuk terus melayani. Sampai saat ini saya masih menikmati kesendirian dengan berbagai kesibukan. Entah berapa lama akan bertahan, hanya doa yang bisa saya panjatkan agar diberikan kekuatan dan kesehatan untuk bisa melewati setiap waktu yang telah diberikan Tuhan.@@@

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *