BERKAT DI TENGAH PANDEMI

Dampak Covid-19 memang sangat terasa pengaruhnya untuk kita semua. Mobilitas kita pun sudah dibatasi dan kita tidak bisa berbuat banyak. Segala planning yang sudahada tidak bisa terealisasi dengan baik bahkan tidak bisa dijalankan sama sekali. Sudah beberapa bulan kita berada dalam situasi seperti ini, dan tentu saja ada rasa jenuh karena kita harus taat dengan aturan pemerintah untuk tetap menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Segala sesuatu dilakukan dari rumah dan kita diminta untuk tetap di rumah saja. Wabah Covid-19 tidak sedang bergurau atau main main dengan kita. Maka kita hadapi dengan serius dan penuh waspada.

   Kepastian kapan berakhirnya wabah ini tetap menjadi tanda tanya. Dalam hati mungkin kita berguman kalau wabah ini terus berkepanjangan, kita makan apa sebab kita tidak punya pemasukan yang tetap. Bagaimana nasib kita di hari esok? Pertanyaan yang sangat manusiawi yang terlontar dari sahabat dan umat yang mensharingkan pengalamannya di tengah pandemik ini, tentu menggugah nurani kita untuk berbuat sesuatu, sejauh membantu. Membantu bukan karena kita memiliki kelebihan, tetapi terdorong oleh sikap belarasa kita akan nasib sesama yang terdampak langsung Covid-19 ini. Banyak di antara mereka yang kehilangan pekerjaan, dirumahkan. Tentu saja sebagai insan yang beriman, situasi sulit ini tidak membuat kita patah semangat, takut dan cemas. Sebab dalam situasi ini kesatuan hati untuk berdoa bersama sangat luar biasa. Ada juga aksi nyata berbagi masker, APD, sembako dari umat yang bergerak dalam kelompok-kelompok awam. Bersama dengan kelompok Kerabat Santo Montfort (KSM) Putussibau, kami mencoba menggalang dana untuk mengumpulkan sembako. Sembako itu titik sasarnya untuk komunitas-komunitas biara dan pastoran di Putussibau. 

Kami di Rumah Misi Deo Soli tetap bersyukur di tengah wabah Virus Corona ini. Betapa tidak, selama 3 bulan terakhir ini umat sangat peduli dengan kami. Bantuan demi bantuan yang kami terima berupa sembako dari umat, Credit Union, Anggota KSM Putussibau dan donatur adalah jawaban dari doa. Tanpa bantuan umat ini tentu saja pengeluaran kami sangat besar sementara andalan utama pemasukan dari kegiatan kategorial selama ini sudah tidak bisa diharapkan lagi.

   Tuhan sudah punya cara yang luar biasa di saat sulit seperti ini. Apa yang diperoleh dari umat dan donatur itu juga merupakan bentuk jawaban atas ketulusan kita di dalam setiap pelayanan kepada umat dengan tulus dan penuh cinta. Cinta umat juga luar biasa dalam wujud pemberian dengan tulus.

KSM Putussibau Berbagi Sembako dan Masker

Kerabat Santo Montfort (KSM) cabang Putussibau mengadakan kegiatan bagi-bagi sembako. Aksi ini merupakan ide dari beberapa anggota KSM setelah melakukan konsultasi dan meminta usul saran dari Romo Delegatus KSM Putussibau. Ide ini ditawarkan kepada semua anggota KSM baik yang sudah pembaktian diri maupun calon dan simpatisan.

Semua anggota KSM menyetujuinya dan mereka mulai menggalang dana secara sukarela di antara mereka sendiri. Titik sasar dari penyerahan bantuan sembako ini adalah biara-biara di Putussibau dan Pastoran Putussibau. Alasan utama sembako ini hanya diberikan kepada pastoran dan biara adalah kemampuan dari dana yang terkumpul yang hanya bisa menjangkau biara-biara dan Pastoran saja. Sangat realistis dan masuk akal.

Selain itu ada beberapa anggota KSM Bersama dengan kelompok ibu-ibu WKRI membuat masker dari kain. Masker-masker ini sudah didistribusikan ke kampung-kampung atau stasi-stasi di luar paroki Putussibau. Kesan mereka setelah kembali sangat senang karena orang-orang di kampung masih banyak yang belum mendapatkan masker.@@@            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *