MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Hadiahku: “Kisah di Tempat Kursus Keperawatan Lansia”

Br. Ero Kuntara, SMM

Setelah menikmati liburan, saya datang ke Seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan (Ponsa) Malang. Tiba di Seminari saya langsung di telepon oleh Propinsial Indonesia, Rm. Antonius Tensi, SMM. Beliau memberitahukan bahwa saya diutus untuk pergi mengikuti kursus kesehatan, sebagai persiapan menjadi perawat lansia para Romo Serikat Maria Montfortan. Mendengar hal itu saya merasa takut, cemas. Muncul pertanyaan “apakah saya bisa menjalankan kursus kesehatan tersebut?” Tetapi karena ini permintaan Romo Provinsial, saya siap untuk menjalani tugas ini. Saya pun pergi menemui Rm. Goris, SMM untuk meminta lembaran formulir yang harus diisi untuk keperluan kursus tersebut. Semua keperluan yang tertera di formulir sudah saya penuhi semua. Saya pun mempersiapkan diri untuk pergi ke tempat kursus kesehatan sebagai perawat lansia.

Pukul 21.00 saya dijemput travel menuju Semarang. Tiba di tempat kursus pada pukul 05.45. Tempat ini bernama Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik-Semarang. Wisma Lansia Harapan Asri ini adalah sebuah tempat pelayanan yang berada dibawah naungan Bruder CSA. Di sana ada tujuh Bruder, ada yang berasal dari Jawa, Flores, dan Timor-Timur. Tiga bulan saya berada bersama mereka di Wisma Lansia Harapan Asri. Selain para bruder CSA, ada juga para karyawan/i dan kaum lansia. Ini adalah moment pertama kalinya saya merawat para oma opa, belum pernah sebelumnya. Apalagi pendidikan saya hanya sebatas Paket C jurusan IPS. Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan selalu menghantui saya. Apakah saya bisa menjalankan tugas ini? Karena ini adalah sebuah perutusan yang sudah dipercayakan kepada saya, saya hanya berusaha meyakinkan diri bahwa saya bisa menjalankannya selama tiga bulan ke depan.

Kursus kesehatan (caretaker) VI kali ini beranggotakan enam orang, antara lain Br. Ero, SMM dari Malang, Mas Heru dari Sleman, Sr. M. Rahel, SFD dan Sr. M. Isodora, SFD dari Medan, Mba Dian dan Mba Ayu dari Semarang. Kursus ini dibimbing oleh Br. Heri, CSA, berlangsung selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2019). Selama bulan Agustus-September kami belajar teori dan cara pelayanan yang diberikan oleh para dosen. Bulan Oktober diadakan praktek lapangan bersama para pasien di dua tempat: Wisma Lansia Harapan Asri dan Panti Wredha Rindang Asih.

Adapun jadwal kegiatan harian kami: bangun pagi pkl. 04.00, kemudian mengikuti misa di paroki dengan berjalan kaki; pkl. 06.00-06.30 ibadat pagi bersama para suster; pkl. 7.00 sarapan bersama dengan para peserta; pkl. 08.00-13.00 praktek melayani para lansia; pkl. 13.00 makan siang; pkl. 13.30 tidur siang; pkl. 14.30-18.30 teori di berikan oleh dosen; pkl. 19.00 makan malam; pkl. 19.30-selesai: mengerjakan tugas yang diberikan oleh para dosen. 

Selama bulan Agustus ada banyak kesulitan yang saya alami.  Pertama, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh para dosen. Semuanya membutuhkan internet dan saya tidak memiliki laptop. Maka saya mencari bantuan lewat para perawat yang memiliki laptop demi mengerjakan tugas, sekalipun menggunakan secara bergantian. Kedua, di Wisma terdapat 67 kaum lansia dengan berbagai macam kasus, misalnya dipaksa anaknya untuk masuk Wisma Lansia Harapan Asri, ada juga yang jarang sekali bahkan tidak pernah dijenguk oleh anak kandungnya, penyakit yang diderita oleh para lansia, status janda, dan ada yang ingin hidup tenang tidak mau mengganggu anaknya yang sedang sibuk dengan bisnisnya. Disitulah seorang calon perawat ditantang untuk memahami betul situasinya. Misalnya, bagaimana membujuk untuk makan, mandi, minum obat, tidur, memberi semangat. Ketika lansia dapat bernyanyi dengan bagus perlu memberi dukungan supaya merasa terhibur. Hal lain adalah mengajak berkomunikasi, mensharingkan pengalaman hidupnya atau kesenangannya sehingga mereka bisa tersenyum. Kita belajar untuk mendengarkan setiap cerita yang dikisahkannya sehingga lansia tidak merasa kesepian dan banyak melamun. Hal lain juga adalah merawat para lansia seperti menggunting kuku, memotong rambut, kumis, dan sebagainya. Ketiga, belajar membagi waktu dengan baik, menjaga keseimbangan tubuh, berjuang dan terus belajar.

Selama bulan September saya tidak merasa kesulitan lagi melaksanakan tugas yang diberikan oleh para dosen. Juga dalam pelayanan para lansia. Setelah dua bulan belajar teori dan cara pelayanan, kami harus mengikuti ujian tertulis dituntun oleh dosen. Kemudian selama bulan Oktober pelayanan saya terbagi dua bagian: dua minggu di Wisma Lansia Harapan Asri dan dua minggu berikutnya di Panti Wredha Rindang Asih. Saya dan para caretaker menjalankan praktek merawat para lansia yang dibagi dalam dua shif dari pagi-siang dan siang-malam. Dalam merawat mereka tugas kami ialah memandikan, membantu untuk gosok gigi, memakaikan pakaiannya, menyuapi, membereskan tempat tidurnya, senam dan terapi. Di samping itu kami menemani beberapa kegiatan untuk mengisi waktu luang, seperti melatih keterampilan tangan, bernyanyi, sharing, permainan, berdoa dan rekreasi secara bersama-sama. Dalam praktek selama satu bulan juga tetap ada tugas yang diberikan oleh dosen  untuk kami kerjakan.

Selama tiga bulan saya dan para suster SFD tinggal di asrama bersama perawat lainnya yang berbeda agama. Kami tidak tinggal di biara Bruderan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya, apakah saya bisa menjaga identitas saya sebagai Religius. Karena keseharian saya dan aktivitas pribadi di asrama diketahui juga oleh yang lain. Di saat makan bersama, saya dan perawat lainnya yang berbeda agama selalu mengawalinya dengan doa bersama secara bergantian. Tidak ada doa masing-masing, begitu juga memasak, mengambil makanan dan mencuci peralatan makanan, semuanya dilakukan secara bersama-sama. Mengerjakan tugas selalu bersama-sama, berbagi pengalaman, bercanda, saling memperhatikan satu sama lain. Saya sangat bersyukur bisa berkenalan dengan para perawat dan para peserta yang mengikuti kursus kesehatan. Saya yakin, Tuhan tidak penah menginggalkan hambaNya untuk menjalankan suatu perutusan. Selama saya tinggal di asrama, hidup rohani saya tidak kendor. Justru sebaliknya hidup rohani saya bertumbuh. Biasanya setelah mengikuti perayaan ekaristi di paroki saya kemudian mengambil brevir untuk ibadat pagi bersama dengan para suster SFD. Begitu juga setelah menyelesaikan tugas dan pelayanan, saya mempersiapkan diri untuk berdoa Rosario dan duduk tenang di depan patung Bunda Maria. Disitu saya merasakan ketenangan, kenyamanan, bahagia dan rasa sukacita, melepas setiap beban.

“Hadiahku…,“ Saya menuliskan kata ini sebagai judul sharing saya, karena apa yang saya dapatkan mendorong saya untuk terus belajar, mendengarkan, sabar, setia dan bersyukur. Sebagaimana kata Santo Montfort: “Jadilah seperti awan yang pergi kemanapun angin berhembus”. Belajar dari hal-hal kecil sangatlah berarti dan bermanfaat bagi saya. Belajar bukan berarti harus menghafalkan setiap kata-kata dalam buku terus menerus melainkan juga dalam tindakan dan pelayanan. Karena hal itu membangkitkan komunikasi yang baik dengan para pasien. Kemudian hal lain yang saya pelajari ialah tentang mendengarkan, bagi saya mendengarkan sangat penting karena disitulah saya dapat menangkap apa yang perlu diperbaiki bila itu sesuatu yang kurang dan perlu dipertahankan bila ada suatu yang baik. Belajar sabar menghadapi segala sesuatu dan tidak mengambil keputusan seturut keinginan pribadi. Saya juga belajar setia dalam setiap tugas yang sudah dipercayakan entah itu sedikit, banyak, ringan, berat, dan bertanggung jawab dalam segala sesuatu, terutama dalam panggilan menjadi seorang religius. Saya selalu mengucapkan syukur dalam doa-doa pribadi setiap hari, karena Tuhan telah memberikan kekuatan bagi saya untuk terus belajar, mendengarkan, sabar, setia.

Setelah merenungkan semuanya saya teringat perjalanan Santo Montfort ketika melayani dan mengurus orang-orang terlantar, orang miskin, orang cacat dan orang sakit di wisma tunaharta. Saya sangat termotivasi oleh teladan Montfort. Memang semuanya sangat sulit dan susah untuk dijalani, tetapi kesulitan dan kesusahan itu saya bawakan dalam doa. Saya  menyerahkan diri seluruhnya kepada Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria. Ini menguatkan saya untuk siap melayani siapa pun dengan penuh keiklasan. Keikhlasan itu tidak hanya sebatas pelajaran dalam kursus di suatu tempat. Keikhlasan ini akan saya bawa dimana pun saya berada dalam setiap perutusan yang sudah dipercayakan kepada saya.

Updated: 11/02/2020 — 12:04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN INDONESIA 2020 Frontier Theme
Chat us