MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Kabar dari Belanda

Kabar dari Belanda

(P. Charles Leta, SMM)

            Halo para konfrater, apa kabar? Salam hangat dari Stefan dan saya. Kami berdua sehat dan sedang menikmati musim dingin di Belanda (hehehe). Sejak awal kedatangan hingga tiga bulan keberadaan di Belanda, kami tinggal di komunitas Vroenhof. Pater Piet Derckx adalah superior komunitasnya. Selain beliau, ada pula para pater dan bruder serta seorang suster Puteri Kebijaksanaan. Semuanya berasal dari Belanda. Mereka adalah para Montfortan yang kini pensiun namun sebelumnya lama bekerja baik di Belanda, maupun di berbagai daerah misi Propinsi Belanda seperti Brazil, Islandia, Kongo, Malawi dan Indonesia. Usia mereka rata-rata sudah di atas 60-an tahun, tetapi masih kuat. Pengaruh pengalaman misioner mereka kental saya rasakan dalam cara mereka bersikap kepada kami berdua. Mereka antusias menyambut kedatangan kami dan menyemangati kami, sabar meladeni pertanyaan dan pembicaraan bahasa Belanda kami yang masih jatuh-bangun, ada yang berinisiatif mengundang kami belajar bahasa Belanda di kamarnya, ada yang menyediakan waktu untuk latihan membaca tulisan Belanda, ada pula yang mewariskan pakaian dan buku-bukunya. Perhatian dan komunikasi penuh persaudaraan di komunitas ini sangat membantu kami menjalani masa-masa adaptasi dan orientasi.

Urusan Administratif

            Selama bulan pertama di Belanda, kami fokus menyelesaikan urusan administratif terkait legalitas keberadaan kami. Kami melaporkan diri ke Balai Kota Valkenburg sambil membawa dokumen identitas yang perlu untuk kemudian mendaftarkan diri menjadi penduduk setempat. Pemerintah Kota kemudian menerbitkan BSN Nummer atau nomor sosial untuk masing-masing kami. Nomor sosial ini menunjukkan bahwa seseorang telah terdaftar secara legal sebagai penduduk setempat. Selanjutnya, kami mengurus izin tinggal di Kantor Imigrasi dan Naturalisasi di kota Eindhoven. Setelah hampir 2 minggu menunggu, Imigrasi menerbitkan Kartu Identitas (Identiteit Bewijs) kami. ID Kaart ini wajib diperbarui setiap 3 tahun. Selain itu, kami mengikuti check up penyakit TBC di salah satu laboratorium yang direkomendasikan. Hasil tesnya akan dikirim ke pihak Imigrasi Belanda. Bila positif mengidap TBC, maka kami berdua akan dipulangkan ke negara asal (hehehe, semoga tidak!). Puji Tuhan bahwa semua urusan administratif yang penting ini bisa berjalan cepat dan mudah. Termasuk pula dokumen kontrak misi selama 6 tahun yang sebelumnya telah disepakati oleh Propinsi Indonesia, Propinsi Belanda dan Superior Jenderal SMM, sudah kami tanda tangani. Kami sangat dibantu oleh Pater Peter Denneman (Propinsial Belanda), para konfrater dan Servè Kengen. Nama terakhir adalah pegawai khusus administrasi SMM Propinsi Belanda. Beliaulah yang sebelumnya aktif mengurus berkas-berkas terkait kedatangan kami ke Belanda. Masih ada urusan administratif lain yang sudah dan masih akan kami urus seperti asuransi kesehatan, kartu transportasi publik dan surat izin mengemudi (tentu setelah ikut kursus nyetir hehehe). Beresnya berbagai urusan administratif ini membuat kami tenang dan bisa fokus pada urusan berikut ini.

Belajar Bahasa

            Stefan dan saya sedang belajar bahasa Belanda. Pada beberapa minggu awal, kami berdua belajar secara pribadi. Kami gunakan beberapa buku yang kebetulan saya bawa dari Indonesia dan sumber-sumber lain yang kami temukan di internet. Di samping itu, kami diajari sedikit-sedikit oleh para konfrater di sini. Di bulan pertama, kami lebih banyak diam dan tersenyum saja. Ketika orang bicara, kami dengarkan walau tidak sepenuhnya mengerti. Ketika orang tertawa, kamipun ikut tertawa meski sering tidak tahu persis apa yang ditertawakan. Mau ngomong bahasa Inggris, tidak semua konfrater di sini bisa berbahasa Inggris. Karena itu, mau tidak mau kami habok saja ngomong Belanda. Kata Pater Willi Selman, habok  itu salah satu jurus misionaris (hehehe).

            Kesempatan kursus bahasa Belanda baru datang di bulan Desember (17-21 Desember 2018) dan Januari (7-11 Januari 2019). Propinsi Belanda mengirim kami untuk kursus bahasa di Language Institut “Regina Coeli”. Metode kursusnya personal dan sangat intensif. Dalam sehari kami mengikuti les pribadi dengan 4 orang dosen berbeda untuk 4 materi berbeda pula seperti vocabulary, gramatika, komunikasi dan studi grup. Setiap les diselingi dengan sesi multimedia. Di sesi ini, kami melakukan latihan berbicara dan mendengarkan secara pribadi dengan menggunakan media komputer. Kursus dimulai pagi hari pkl. 08.20 dan baru berakhir pada pkl. 19.15. Break cuma buat minum kopi dan makan siang. Pusat kursus ini bagus sekali, dosen-dosennya berkompeten, metode kursusnya efektif dan sangat menjamin hasilnya. Kami berdua sangat dibantu oleh kursus ini.

            Institut Bahasa ini terbuka untuk umum dan menyediakan tidak hanya kursus bahasa Belanda, tetapi juga bahasa-bahasa lain seperti Inggris, Jerman, Prancis, Portugis, dan Spanyol. Itu sebabnya peserta kursusnya banyak dan mereka datang dari berbagai negara berbeda. Tidak hanya dari negara-negara Eropa, tapi juga Asia dan Amerika. Pada umumnya mereka adalah pebisnis, karyawan perusahaan, dosen atau mahasiswa yang belajar bahasa demi kepentingan kerja dan studinya. Namun tidak sedikit pula orang-orang tua yang ikut kursus ini. Ada yang saya tanyai mengapa masih mau belajar bahasa asing dan mereka menjawab katanya karena hobi atau minat saja. Luar biasa orang-orang tua ini!

 Nah di sela-sela kursus, terutama pada kesempatan minum dan makan, semua peserta kursus duduk membaur dan saling berkomunikasi. Dalam setiap kesempatan ngobrol, setiap orang bebas menggunakan bahasa yang sedang dipelajari atau minimal bahasa Inggris. Kalau Pater Stefan, beliau sesekali berbicara Prancis dengan orang-orang yang tahu atau sedang belajar bahasa Prancis. Saya sendiri cukup kerepotan dalam situasi itu; mau omong Belanda masih merayap. Lalu kalau bicara Inggris: wah gila!, para peserta kursus itu malah berbahasa Inggris dengan sangat lancar dan fasih. Saya jadi sadar diri bahwa bahasa Inggris saya tidak seberapa rupanya. Saya sadar pula bahwa memang di zaman ini keterampilan berbahasa asing, minimal bahasa Inggris, sudah bukan sesuatu yang ekslusif atau luar biasa lagi. Hampir setiap orang belajar berbahasa asing. Cerita ini sengaja saya bagikan supaya mudah-mudahan dapat menyemangati adik-adik aspiran, postulan, novis dan skolastik agar sejak sekarang menumbuhkan minat, antusiasme dan keuletan mempelajari bahasa asing. Alangkah baiknya bila tidak menunggu nanti.

Kegiatan Saat Ini

            Saat ini belum banyak hal yang bisa kami lakukan. Kami masih diberi kesempatan untuk memperdalam keterampilan berbahasa, mengenal sedikit demi sedikit budaya hidup masyarakat Belanda, dan tentu mulai berpikir tentang karya apa yang dapat kami lakukan untuk konteks pastoral di sini. Pater Propinsial berencana mengutus kami bekerja di Paroki Schimmert yang kini masih dilayani Montfortan, tetapi sepertinya belum untuk bekerja full time di sana. Barangkali nanti kami juga diarahkan untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan para montfortan muda di Belgia dan Jerman dalam rangka mempersiapkan “Tahun Montfortan Eropa 2020”; sebuah program yang disepakati dalam pertemuan di tingkat Jenderalat di Roma pada 26 Oktober 2018 lalu. Kegiatan ini akan menjadi kesempatan untuk: 1) mengevaluasi kehadiran Montfortan di Eropa, 2) memperkuat persatuan dan kebersamaan dan 3) memikirkan bersama masa depan Montfortan di Eropa. Nah selebihnya kami berdua menjalani keseharian di komunitas seperti biasa. Kami belum pernah memimpin Ekaristi dalam bahasa Belanda karena masih latihan melenturkan bibir dan lidah (hehehe). Pelan-pelan kami mulai memimpin doa, menjadi lektor dan ambil bagian dalam tugas-tugas komunitas lainnya. Sesekali kami keluar komunitas untuk mengunjungi konfrater kita di komunitas Schimmert, membesuk karyawan yang sakit, bertamu ke tetangga dan kenalan, merayakan ekaristi sekali sebulan bersama komunitas KKI (Keluarga Katolik Indonesia) atau sekedar jalan-jalan sambil minum kopi dan menikmati suasana Natal tempo hari.

            Para konfrater, demikian saja cerita dari Belanda kali ini. Salam sehat dan semangat buat semua.***

Updated: 22/08/2019 — 23:02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN INDONESIA 2019 Frontier Theme
Chat us