MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Kami Pun Bernyanyi Dan Menari Bersama

 

Kami Pun Bernyanyi Dan Menari Bersama

 

Responding to the call of God adalah alasan kami berada di Seminari Ponsa. Seperti biasanya Ponsa selalu mempunyai cerita baru. Cerita tentang hidup kataku, kerena kisah itu seperti hujan yang membasahi tanah dan tanah menumbuhkan benih sehingga menghasilkan buah. Buah itu matang dalam perjalanan waktu, dalam pergulatan dan kesiapsediaan. Tak disangka ada perubahan yang besar dan menggemparkan di Seminari Ponsa. Ada yang takut, ragu, kecewa bahkan marah. Seperti riak di riam yang curam begitulah ketika perubahan mulai muncul, namun akan tenag kembali seperti angin sepoi-sepoi basah dimana setiap orang akan mendengarkan sapaan Tuhan di Gunung Elia.

Musim baru telah tiba, wajah dan semangat baru akan muncul, tunas-tunas baru montfortan akan mekar di tengah perubahan yang begitu cepat dan menyeluruh. Tahun ini Seminari Montfort mendapat 14 anggota baru semuanya tampil dengan wajah yang penuh semangat namun menyimpan ketidakpastian dan ketakuatan akan tantangan yang tak terduga. Tak hanya itu pergeseran posisi dan perubahan model formasi yang mencolok dalam membimbing dan menuntun montfortan muda untuk meraih cita-cita mulia pasti membawa dampak tersendiri bagi para frater. Ada pergantian rektor baru dengan gaya dan kepemimpinan yang berbeda, juga dalam misi untuk mencetak montfortan-montfortan muda.

Barisan formator pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Semuanya punya idealisme dan cita-cita yang berbeda-beda namun satu tujuan yang sama yaitu membentuk montfortan yang tangguh, tanggap dan bertanggung jawab.  Proses pematangan pun sedang berlangsung dalam setiap keputusan dan kebijakn yang diambil. Ada yang sempat pusing karena jadwal MOK (masa orientasi komunitas) dipercepat, entah pertimbangan apa Plt rektor baru Rm. Lukas mengeluarkan keputusan demikian, bahkan semangat untuk membentuk montfortan muda yang tangguh pun begitu terasa ketika rektor baru mengeluarkan kebijkan bahwa koneksi internet di S2 mengikuti timer yang kadangkala waktunya tidak menentu.

Cita-cita mulia itu tidak hanya berhenti di sana kecepatan internet pun dikurangi hingga media sosial yang biasa dipakai oleh para frater muda untuk berkomunikasi dengan sahabat lama sebagai satu-satunya hiburan di waktu sengang tidak dapat dibuka karena lola. Demikian pun gmail yang biasa digunakan untuk keperluan kampus hanya dapat dibuka ketika waktu sepi, artinya ketika tidak ada yang menggunakan web yang sama.

Ada yang bertindak sebagai polisi ynag mengontrol keluar masuknya para konfrater muda. Pintu gerbang utama pun ditutup lebih awal. Kebiasaan belanja malam-malam dihentikan. Rokok yang menjadi hiburan di waktu penat dilarang. Kebiasaan canda dan ngobrol bareng sebagai salah satu sarana merajut kebersamaan dan menimba serta berbagi pengalaman dinggap kurang produktif. Para konfrater muda tidak kalah semangatnya, ruangan musik dikunci rapat takut perlatannya rusak, karena ada konfrater dinggap kurang bertanggungjawab dalam pemakaiannya. Semuanya menunjukkan ambisi dan semangat yang tinggi untuk menunjukkan trik dan model pembinaan yang tepat dan ideal sebagaimana yang cita-citakan St. Montfort.

Fasilitas Ponsa pun perlahan diperbaiki guna menunjuang formasi yang ideal. Perpustakaan Ponsa diperbaharui secara berkala tetapi tetap berharap agar fasilitas transportasi terus diperbaharui. Namun ditengah antusiasme yang begitu tinggi ada yang ragu mungkin juga pesimis karena merasa tidak diterima dan dihargai oleh konfrternya mungkin karena perubahan dan pristiwa yang begitu cepat yang menyentuh setiap aspek kehidupan sehingga apa yang tidak berubah menjadi usang.

 Itulah sedikit untaian kisah perubahan Seminari Ponsa dalam mengolah dan menciptakan sejarah baru, berharap bahtera Ponsa sampai pada tanjung harapan Montfort. Meski demikian perubahan dan gaya baru dalam pembinaan tidak menutup kegembiraan dan keceriaan Ponsa. Ponsa masih seperti yang kemarin menghadirkan warna dan memberi aksen yang ketat pada setiap momen yang indah. Kisah frater TOP tahun pertama dan kedua memberi semamgat dan harapan baru akan arti panggilan menjadi montfortan yang sejati. Tentang sinkronisasi apa yang dipelajari, apa yang dipersiapakan dengan apa yang diwujudkan di medan pastoral, tentang apa yang dicita-citakan dengan apa yang dapat diaplikasikan. Inilah tujuan dari proses formasi yang panjang.

Karena itu bagi saya kisah Ponsa seperti untaian nada dalam sebuah lagu yang memiliki tempo yang penuh dinamika, kadang audente, moderato, allegro hingga presto. Melodinya pun kadang mayor yang menunjukkan sukacita dan kegembiraan, namun tidak menutup kemungkinan ada minornya yang meperlihatkan hidup yang tidak selalu penuh tawa. Begitulah atmosfer seminari Ponsa. Kami seperti menyanyikan dan menarikan hidup ini seperti lagu. Susah senang ditanggung bersama.

 Terlepas dari itu semua ada satu kebenaran yang tidak dapat diabaikan bahwa seminari Ponsa adalah kumpulan montfortan muda yang penuh dengan idealisme. Didengarkan, dipahami dimengerti dan diterima apa adanya adalah kebutuhan terbesar mansuia. Saya menyadari kebutuhan itu terutama sebagai anak muda. Tetapi, batin saya bertanya, bisakah kebutuhan itu terpenuhi kalau model pembinaan hanya diukur dari benar dan salahnya suatu persoalan tanpa mempertimbangkan alasan dibaliknya?

Di sinilah saya sadar arti panggilan menjadi formator dan formandi yakni keberanian untuk menceritakan dan berbagi pengalaman hidup. Seperti sebuah syair lagu, “God is forgiveness. Dare to forgive and God will be with you. God is forgiveness. Love and do not fear”. Disni saya percaya ternyata cinta, penerimaan dan peneguhan dapat mengatasi rasa asing dan takut dari dalam diri.

Saya yakin cinta, penerimaan dan peneguhan itu dapat menyadarkan kita bahwa kita tidak pernah sendirian dalam menarikan dan menyanyikan panggilan hidup ini. Melalui sesama konfrater Tuhan pun hadir bernyanyi dan menari bersama dengan kita. Keraguan, kecemasan dan ketakutan adalah simbol yang mengingatkan kita untuk senantiasa membuka diri kepada Tuhan dalam perjalanan panggilan. Oleh karena itu, sinergi yang baik dalam proses formasi adalah modal yang baik bagi pembentukan montfotan yang handal. Salam Ponsa 

Updated: 19/10/2018 — 20:57

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme