MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

SALAM dari negerinya DUTERTE…..

 

 

SALAM DARI NEGERI DUTERTE

 

(P. Ordi, SMM)

 

Akhirnya akan selesai juga. Kalimat ini kiranya “pas” untuk mengawali kisah sederhana ini. Waktu berjalan sangat cepat. Akhir Desember 2017 saya meninggalkan Putussibau menuju Bandung. 5 Januari 2018, meski sempat ada masalah di bagian Imigrasi, lantaran tidak bisa menunjukkan tiket pulang ke Indonesia (karena memang belum dibeli), dini hari sekali, seorang diri, saya meninggalkan Indonesia menuju Filipina. Kadang-kadang saya heran sendiri, kenapa saya kog tidak takut atau tidak cemas sedikit pun. Saya pergi saja dengan gembira dan apapun yang terjadi berikutnya, biarkan itu terjadi. Pkl 06.00 pagi waktu Filipina, saya tiba. Antrian panjang di bagian Imigrasi membuat saya harus menunggu cukup lama sampai akhirnya bisa keluar dari bandara Pkl. 07.00. Di luar Bandara, P. Ariel, SMM dengan dua orang novis (Fr. Glen dan Fr. Jomar) sudah menunggu saya dengan tulisan besar di sebuah kertas folio “Fr. Ordy, SMM”. Perkenalan sangat cepat, saya didaulat untuk duduk di samping sopir (fr. Glen), “supaya engkau dapat melihat kota Manila”. Demikian kata P. Ariel saat itu.  Langsung kuambil handphone untuk mengabadikan gedung-gedung tinggi yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Untung, saya ada modal sedikit dalam Bahasa Inggris, maka saya langsung cas cis cus dalam Bahasa Inggris, meskipun saya sangat sadar dan tahu, perlu perjuangan keras untuk memahami apa yang saya katakan saat itu. Pkl. 08.00 saya tiba di komunitas SMM, langsung sarapan dan minum kopi. Setelahnya itu menuju kamar yang akan saya tinggali selama 3 bulan. Saya tinggal bersama P. Ariel dan P. Nelson (P. Nelson sekarang sudah bertugas di Inggris). Awal-awalnya saya bergabung dengan kegiatan para novis (doa dan makan) tetapi kemudian, berdasarkan hasil pertemuan antara para formator, mereka berpandangan bahwa lebih baik saya bersama para skolastik). Maka, setelah 1 minggu bersama para novis, saya pindah dan bergabung dengan para frater skolastik. Saya tidak perlu pindah rumah, karena dalam satu kompleks besar, terdapat 4 rumah komunitas yaitu rumah delegasi (sekarang tidak ada penghuni karena P. Richard tinggal di paroki), Rumah misi (saya, P. Nelson dan P. Ariel), Rumah  skolastik (8 frater dan 2 imam) dan Rumah novisiat (4 frater dan 1 imam). 

Saya tidak ingin menganggur terlalu lama, maka tgl 6 januari 2018 saya langsung dihantar ke tempat kursus oleh Ibu Flor, sekretaris delegasi Filipina (seperti P. Edy-nya Filipina), dan langsung memulai kursus Bahasa Inggris tgl. 08 januari. Satu minggu pertama, saya membuat evaluasi untuk diri saya sendiri, menemukan kelemahan dan apakah kelemahanku bisa diperbaiki oleh model kursus yang diberikan. Minggu kedua saya putuskan untuk mengambil kursus di dua tempat sekaligus sebagai pembanding. Minggu ketiga saya putuskan untuk hanya mengambil satu kursus dan saya menghentikan kursus di tempat pertama kali saya daftar. Selain mahal, saya merasa dua minggu sudah cukup untuk menimba ilmu dari sekolah tersebut. Di tempat yang baru, saya dibimbing oleh dua guru sekaligus, senin sampai rabu oleh seorang guru lalu kamis dan Jumat oleh guru yang lain. Saya bertahan di tempat kursus ini hingga akhir masa kursus saya di Filipina.

Saya kursus dari hari senin hingga hari Jumat, mulai pkl. 09.10-12.10. Normalnya, saya harus naik angkot dua kali, tapi saya putuskan untuk jalan kaki setengah perjalanan lalu naik angkot. Sehingga saya hanya satu kali naik angkot waktu berangkat dan satu kali naik angkot waktu pulang. Hal ini, tentu saja menghemat transport saya dua kali lipat. Saya dibekali 3000 peso oleh Rm. Rofin dari Indonesia dan sampai sekarang saya masih tersisa juga. P. Fred, SMM, ekonom delegasi Philipina heran juga karena saya tidak pernah meminta uang lagi setelah saat pertama kali datang ia memberi 5000 peso untuk pegangan.

Rutinitas harian saya mengikuti aturan yang ada di skolastik. Misa dan Ibadat Pagi pkl. 05.45 lalu meditasi, kemudian sarapan, lalu berangkat ke tempat kursus. Sore hari, kadang-kadnag olahraga bersama dan pada saat yang lain kami kerja membersihkan rumah. Setelah itu mandi, ibadat sore, Rosario, makan malam. Setelah makan, sesekali kami mengadakan rekreasi bersama, selebihnya waktu pribadi.

Saya berusaha menikmati semua pertualanganku di sini dengan gembira. Saya tidak menemukan kesulitan dalam beradaptasi di sini. Konfrater di sini menerima kehadiranku dengan penuh persaudaraan. Tentu saja ada tantangan terutama di komunitas skolastik yang hampir 80% mereka menggunakan Bahasa Tagalog atau Inggris tetapi selalu bercampur dengan Tagalog. Meskipun demikian, saya tetap berusaha untuk terlibat dalam perbincangan-perbincangan kecil. Saya baru akan berbicara secara intensif ketika berdua saja dengan frater atau dengan Pastor. Sehingga agak kesulitan sebetulnya untuk mengembangkan Bahasa Inggris dalam komunitas yang tidak menjadikan Bahasa Inggris menjadi Bahasa utamanya. Tetapi saya menikmatinya. Tentu saja, komunitas tidak harus mengubah segala sesuatunya hanya untuk saya seorang diri, maka sayalah yang harus menyesuaikan diri. Maka, saya menulis catatan harian setiap hari dalam Bahasa Inggris, mendengarkan lagu Bahasa Inggris, menonton berita dalam Bahasa Inggris. Walaupun kadang-kadang lelah juga. Karena melakukan kegiatan-kegiatan ini selalu dalam rangka belajar yang membuat otak lelah juga memikirkan arti setiap kali mendengarkan kata-kata baru. Maka, kadang-kadang saya beristirahat saja atau saling mengirim berita dan menelpon untuk sekedar melepas kerinduan dengan orang-orang di Indonesia. Beberapa kali komunitas meminta saya untuk memimpin ekaristi dan membuat renungan singkat.

Misi utama saya di sini adalah untuk belajar Bahasa Inggris. Namun saya sadar bahwa saya tidak akan pulang sebagai orang yang sudah sangat mahir dalam Bahasa Inggris. Saya harus belajar terus menerus. Masih banyak kata-kata Bahasa Inggris yang saya tidak tahu artinya, masih sering saya lupa untuk berbicara dengan tata Bahasa yang benar atau “pronounce” yang benar. Saya berusaha maksimal sesuai kemampuanku, selebihnya biar DIA yang mengutus yang mengatur. Saya juga belajar hidup dalam sebuah komunitas Internasional menerima perbedaan sebagai kekayaan sekaligus berusaha memberi warna menurut keunikan pribadi.

Kursus saya selesai 23 Maret 2018. Saya akan menghabiskan pecan suci di Filipina, lalu masih ada kesempatan satu minggu untuk menikmati keindahan Filipina dan akan kembali ke Indonesia 11 April 2018. Terima kasih untuk kesempatan ini. Sampai bertemu di Indonesia.

Updated: 25/09/2018 — 09:06

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme