MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Live-in di Paroki Curahjati

Live-in di Paroki Curahjati

(Ino Christino, SMM)

Tepatnya hari kamis, 14 juni 2017 saya dan kelima teman saya: fr. Iren, fr. Damas, fr. Venan, fr. Is, dan fr. Temi berangkat ke Paroki Curahjati untuk menjalankan masa live-in. Live-in tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana angkatan kami (2016) dibagi dalam dua tempat, enam orang di Paroki Curahjati sedangkan yang lainnya di paroki tetangga yaitu Paroki Jajag. Kedua paroki ini terletak di Kabupaten Banyuwangi. Pastor Paroki Curahjati adalah Rm. Utus, O. Carm. Ia adalah seorang biarawan yang sangat ramah dan berasal dari Manggarai Barat. Dua hari sebelum dibagi ke stasi-stasi kami bermalam di pastoran dan menikmati keindahan alam dan situasi umat di sana. Dan malam jumat kami pergi berdoa di lingkungan di sekitar paroki Curahjati untuk berdoa bersama umat.

KETUA STASI PURWOHARJO

Keesokan harinya kami bergegas ke stasi-stasi untuk menjalankan live-in. Saya sendiri bertempat di Stasi Purwoharjo. Di stasi ini jumlah warga Katolik adalah 23 kk (kepala keluarga). Ketua stasi di stasi ini adalah seorang ibu. Sedangkan suaminya adalah ketua dewan paroki. Kebanyakan orang di stasi ini beragama Islam. Namun demikian kehidupan bermasyarakatnya sangat rukun dan tentram.

Di tempat ini toleransinya sangat tinggi dan setiap orang diperlakukan secara hormat tanpa memandang agama, suku, ras, warna kulit dan perbedaan lainnya yang seringkali menimbulkan masalah bagi banyak orang. Bahkan di beberapa rumah yang saya kunjung terdapat tiga pemeluk agama sekaligus di dalamnya. Maksudnya dalam satu rumah ada yang beragama Katolik, Islam, dan juga Hindu. Terkadang suami Katolik, istri Islam, anak-anak Hindu atau Budha. Mengejutkan bukan?!! Awalnya saya tidak percaya tapi setelah cukup lama tinggal di sana, saya kemudian mengetahui bahwa ternyata itu terjadi sejak lama.

Walaupun situasinya demikian kehidupan rumah tangga tetap berjalan aman. Bagi orang-orang di sana agama bukanlah penghalang untuk menyatukan cinta dan kebahagiaan. Menarik bukan? Bagi saya dan mungkin bagi anda hal ini memang sulit tetapi kenyataan di sana, kisah menceritakan sebaliknya. Yang terpenting bagi mereka adalah cinta dan kebahagiaan bersama bukan soal agama atau kepercayaan. Mungkin anda bertanya,  bagaimanakah mereka berdoa atau menjalankan ibadah? Tenang. Kalau soal itu, saya akan menjawabnya. Bagi mereka setiap orang memiliki kebebasan dalam menjalankan kegiatan agamanya termasuk berdoa.

Oleh karena itu, setiap anggota keluarga patut menghargai siapa saja dalam rumahnya yang sedang menjalankan ibadah. Bahkan lebih menarik lagi mereka kadang berdoa bersama meski dalam cara yang berbeda. Hal ini nampak jelas ketika saya beberapa kali mengunjungi rumah-rumah umat di mana ketika saya diminta untuk berdoa semua anggota keluarga dalam rumah tersebut (meski beda agama) turut mengikuti doa tersebut walaupun tidak melakukan tanda salib. Ini adalah sesuatu yang sangat menarik bagi saya. Selain ketentraman dalam hidup berumah tangga hidup pasangan suami istri juga berlangsung baik dan jarang terjadi perceraian.  Hal itu memang nampak dalam hidup mereka di mana mereka begitu bahagia dan setia pada pasangan sampai akhir hidup.

Di stasi Purwoharjo ini saya ditempatkan di tiga rumah yang berbeda. Ini dimaksudkan untuk dapat mengenal kehidupan umat secara lebih dekat dan lebih baik. Pada minggu pertama dan kedua saya ditempatkan di rumah ketua stasi. Di rumah pertama ini pekerjaan saya adalah membuat kue, maklum pekerjaan harian ibu dari rumah ini adalah membuat kue. Sehingga ketika saya ditempatkan di rumah itu saya harus membantu mereka untuk membuat kue. Durasi waktu kerja dari pagi hingga malam. Biasanya saya bangun pukul 05.30, kemudian ibadat dan meditasi. Setelah itu saya biasanya membersihkan rumah dan sekitar serta mandi. Tepat pukul 07.00 saya mulai membuat kue dan sarapan pukul 08.00. Setelahnya lanjut bekerja tanpa istirahat siang dan bekerja sampai malam, kadang sampai pukul 21.30 dan kadang sampai pukul 22.00. Setelah itu ada doa bersama sebelum istirahat malam. Begitulah kegiatan harian saya selama di rumah ketua stasi.

Di rumah pertama ini saya belajar banyak hal terutama untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang baru sama sekali bagi saya. Misalnya; makan sendiri-sendiri, menahan rasa ngantuk dan lelah serta belajar untuk taat kepada pemilik rumah dan yang penting adalah bekerja dengan serius tanpa banyak bertanya. Secara umum kehidupan saya di rumah yang pertama ini berlangsung baik dan aman meskipun merasa lelah karena bekerja sampai malam.

Selain kegiatan di atas saya juga mengikuti doa Rosario bersama seluruh umat stasi Purwoharjo di kapela Purwoharjo dan kadang saya memberikan renungan kepada umat ketika diminta oleh ketua stasi. Suatu ketika saya juga mengikuti acara halal-bihalal di rumah dinas bupati Banyuwangi bersama pastor paroki dan ketua dewan. Bupati banyuwangi adalah seorang sangat ramah dan kenal baik tentang para imam dan calon imam. Sehingga ketika kami ke sana ia memberikan respek yang tulus kepada kami.

Bersama Rm. Utus, O. Carm & Bupati Banyuwangi

Pada minggu berikutnya saya pindah ke rumah umat yang lain. Namun sayangnya di tempat itu tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Setiap hari saya hanya membersihkan rumah dan mengunjungi umat sekitar baik yang Katolik maupun agama lainnya. Intinya di rumah yang kedua itu waktu lebih banyak dihabiskan untuk ngobrol dan saling men-sharingkan pengalaman. Sharing bersama umat ini mengajarkan banyak hal kepada saya terutama tentang pahit manisnya hidup berkeluarga dan bermasyarakat. Namun yang lebih penting dari itu adalah tentang pentingnya membangun persaudaraan dengan sesama terutama bagi mereka yang hidup dalam agama yang berbeda.

Pada minggu berikutnya saya pindah ke rumah seorang janda. Menurut cerita dari ibu itu, ia dahulu adalah seorang suster dan pernah bekerja di Erkaset, salah satu rumah sakit di Malang. Namun dua puluh tahun kemudian ia mengundurkan diri dan membangun rumah tangga tepatnya di Purwoharjo. Akan tetapi sayang sekali tak lama berselang suami tercinta meninggal dunia sehingga ibu itu harus hidup sendiri dan memenuhi nafkahnya sendiri.

Selama di rumah ini pekerjaan saya adalah membantu ibu itu yaitu mengecat rumahnya dan membersihkan semua rumahnya termasuk gudang-gudang yang dipenuhi sampah-sampah. Selain itu saya juga belajar menggunakan alat terapi karena kebetulan ibu mempunyai alat terapi untuk menyegarkan otot-otot baik bagi orang sakit maupun orang sehat dan penghasilan ibu itu juga dari penggunaan alat terapi tersebut. setelah beberapa hari bermalam, waktu live-in saya pun berakhir. Dan sebelum pulang ibu itu sempat memberikan saya uang saku tetapi saya menolak uang tersebut. saya sengaja menolaknya bukan karena alasan lain tapi karena saya kasihan dengan ibu itu. saya merasa adalah lebih baik kalau uang itu digunakan untuk keperluan ibu saja. Lagi pula usia ibu itu sudah renta dan tak dapat menghasilkan banyak uang bagi kehidupan selanjutnya.

Keesokan harinya saya diantar ke pastoran karena sore hari harus kembali Malang. Namun sebelum kembali ke Malang saya dan kelima teman saya mengikuti perayaan Ekaristi di gereja paroki bersama umat yang lain. Misa itu sekaligus untuk menutup masa live-in kami selama satu bulan di sana.

Dari semua pengalaman live-in di atas saya diajarkan tentang banyak hal yaitu tentang bagaimana hidup bersama umat yang beragama lain dan membangun sikap toleransi dengan sesama. Saya juga belajar tentang bagaimana menempatkan diri di tengah umat terutama di tengah masyarakat yang menganut lebih dari satu agama. Dan yang lebih penting dari itu adalah soal pengendalian diri dan selalu ingat akan status saya sebagai calon imam dan biarawan Montfortan sehingga tidak mudah terlena atau terbuai oleh situasi dunia yang saya hadapi.

Saya ingat sungguh akan pesan seorang beato dari Perancis, “kamu harus masuk dalam dunia namun kamu tidak boleh dikuasai oleh dunia”. Perkataan ini membuat saya berani untuk berbaur bersama umat dengan segala macam situasinya tetapi saya tetap menjaga diri agar tidak dikuasai oleh situasi-situasi tersebut.

 

Updated: 25/10/2017 — 03:30

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme