MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Paroki Siut dalam Beberapa Event

Paroki Siut dalam Beberapa Event

Konfrater terkasih sukacita Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus menjadi dasar dan penggerak utama sukacita umat beriman dalam merayakan dan memaknai hidup keseharian. Sukacita yang diterima, dirayakan dan dihayati dari peristiwa Paskah pada gilirannya menjadi tonggak dan penggerak utama dalam merayakan sukacita dalam suasana kebersamaan dan persaudaraan. Maka jamak ditemukan di beberapa tempat, umat beriman memeriahkan momentum sukacita paskah dengan berbagai kegiatan-kegiatan baik perlombaan-perlombaan

P. gis, P. Diaz dan Frater Njo sedang Diarak

yang berhubungan dengan peristiwa paskah seperti paskah bersama, lomba Paduan Suara, kuis Kitab Suci, Drama Kitab Suci, dan aneka perlombaan lainnya. Meski tidak semeriah Natal Gabungan yang melibatkan seluruh umat paroki dari hulu sampai hilir, setidaknya ada beberapa kegiatan yang kami (kelompok-kelompok kategorial) lakukan di Paroki Penampakan Tuhan dalam rangka memeriahkan dan memaknai sukacita paskah dalam kebersamaan. Sukacita Paskah pertama dirayakan dalam kegiatan Paskah Bersama anak-anak SEKAMI Paroki Penampakan Tuhan yang dilaksanakan pada Senin, 17 April 2017 yang lalu di Stasi St. Lukas Ingko Tambe. Kegiatan Paskah Bersama SEKAMI ini rutin dilakukan setiap tahun untuk mempererat rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara anak-anak SEKAMI juga memperdalam nilai iman mereka terutama akan misteri paskah yang baru dirayakan. Paskah Bersama ini diawali dan dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Penampakan Tuhan, P. Egidius Sumarno, SMM. Setelah perayaan Ekaristi, Tim Pastoral bersama guru-guru Agama mengarahkan anak-anak untuk memaknai misteri paskah dengan berbagai kegiatan seperti mewarnai telur dan hiasan paskah, bergambar dan bercerita tentang peristiwa Paskah, dan berburu telur paskah. Setelah jeda makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan dinamika kelompok. Meski anak-anak hanyut dalam suasana dinamika kelompok namun tidak demikian dengan sang waktu yang terus mengikis jarak dari kebersamaan itu dengan sang surya yang pergi meninggalkan peraduaannya di atas langit Hulu Kapuas.

Sepertinya kegembiraan, sukacita dan kebersamaan tidak hanya dirayakan apalagi hanya menjadi milik anak-anak SEKAMI. Seminggu kemudian tepatnya pada 28-30 April 2017, Ibu-ibu Wanita Katolik Paroki Penampakan Tuhan juga ingin merayakan dan memaknai sukacita paskah dengan  mengadakan perlombaan volley ball di pusat Paroki, Sayut. Meski hanya dihadiri dan diikuti oleh ibu-ibu Wanita Katolik dari 7 stasi dan hanya melangsungkan pertandingan untuk satu cabang olahraga namun kegiatan ini menarik perhatian dan antusias dari banyak pihak. Kegiatan dihadiri dan dikuti oleh ratusan ibu-ibu Wanita Katolik dan turut disaksikan oleh ribuan pasang mata yang datang dari berbagai stasi untuk mendukung kontingen Wanita Katolik stasi masing-masing. Walau haruss bertanding di bawah panas terik matahari namun tidak sedikitpun membuat semangat gentar, luntur  apalagi goyah dari para ibu-ibu WK. Stasi Nanga Enap, Lunsa dan Melapi berturut-turut keluar sebagai pemenang pertama, kedua dan ketiga. Menarik bahwa kontingan WK yang belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemenang justru lebih optimis untuk menatap laga serupa di tahun depan dan yakin meraih juara.

Selain mengadakan perlombaan volly dalam rangka memeriahkan Paskah, para ibu-ibu WK juga rupanya memiliki satu agenda lain terutama menyonsong dan merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan yakni perlombaan paduan suara. Selain untuk memeriahkan Hari Raua Kenaikan Tuhan lomba paduan suara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan mars Wanita Katolik kepada ibu-ibu WK Paroki Penampakan Tuhan dan untuk mengasah vokal dan mental para ibu-ibu WK sehingga dapat mengambil bagian secara aktif dalam pelayanan liturgi mingguan di stasi masing-masing. Maksud baik ini rupanya disambut positif dan penuh antusias oleh ibu-ibu WK, maka sejak teks dibagikan ke masing-masing stasi, para ibu-ibu WK langsung menyusun jadwal latihan bahkan ada yang langsung mencuri start latihan sejak teks dibagikan. Namun mereka menyadari bahwa untuk dapat meraih keberhasilan atau setidaknya dapat menyanyikan lagu yang diminta oleh panitia dengan baik maka perlu kerendahan hati untuk meminta dan menunjuk orang yang memiliki kemampuan dalam hal itu. Berhubung kurangnya tenaga awam yang memiliki kemampuan dalam hal mengolah vokal dan membidik not dengan baik maka kedua pastor, Pst. Egis dan Pst. Diaz harus turun tangan untuk membantu mereka dalam melatih vokal dan mempersiapkan mental untuk perlombaan tersebut. Kemauan baik kedua pastor ini semata untuk membantu para ibu agar dapat memiliki kemampuan untuk membidik not dan menyanyi dengan baik karena tentu mereka berada di tempat netral tidak mendukung siapa-siapa. Hari yang dinantikan pun tiba. Pusat paroki sebagai tempat penyelenggara segera dipadati oleh para peserta dan penonton (pendukung) yang datang dari berbagai stasi. Untuk menghindari konflik kepentingan maka para juri didatangkan dari paroki tetangga yakni dari Putussibau. Ketiganya dipilih karena tentu saja berkompeten dalam hal itu. Satu per satu kelompok ibu-ibu WK tampil dan menunjukkan kemampuan dan usaha mereka selama kurang lebih sebulan. Namun sebagaimana lazimnya dalam sebuah perlombaan, meskipun semuanya tampil baik dan memuaskan harus ada yang keluar sebagai pemenang. Tentu saja yang belum dikatakan pemenang bukan berarti mereka kurang dari yang lain. Maka stasi Melapi, Ingko Tambe dan Suai berturut-turut keluar sebagai juara I, II dan III. Meski banyak yang kurang puas dan kecewa dengan penampilan sendiri dan keputusan juri namun mereka pada akhirnya tetap menerima keputusan juri dan membangun sikap optimis tahun depan pasti menang. Karena dalam setiap perlombaan terkadang hasil tidak memenuhi harapan dan keinginan namun menerima keputusan dan mengakui kelebihan orang lain adalah sikap sejati dari seorang pemenang.

 Pesta Syukur Panen

            Salah satu moment besar yang besar dan paling dinantikan oleh umat di Paroki Penampakan Tuhan ialah Pesta Syukur Panen. Seperti yang diagendakan dalam pertemuan Dewan Pastoral Paroki, Pesta Syukur Panen tahun ini dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2017 dan Desa Melapi (stasi Suai dan Melapi) bertindak sebagai panitia perayaan. Pesta Syukur Panen merupakan sebuah perayaan liturgis (dan adat) untuk mempersembahkan syukur atas penyelenggaraan dan berkat Tuhan dalam hidup umat terutama melalui panen yang telah mereka tuai. Pesta Syukur Panen (gawai) yang sedianya adalah salah satu ritual adat masyarakat dayak diberi corak liturgis yang khas di tanah kalimantan secara khusus di Paroki Penampakan Tuhan. Mengingat besarnya acara ini maka segala persiapan dimatangkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu kami tim pastoral mematangkan persiapan dalam hal liturgi, mulai dari teks misa, perlengkapan liturgis hingga dengan koor. Karena itu, Rm. Egis dan Rm. Diaz harus turun tangan dalam mempersiapkan dan mematangkan koor yang dipersiapkan oleh OMK.

Segala persiapan terlihat matang sehingga acara berlangsung lancar dan aman dari awal hingga selesai. Dalam renungannya P. Egis selaku Pastor paroki mengajak dan meneguhkan umat untuk selalu mengucap syukur setiap hari bahkan setiap saat. Dalam berbagai kesempatan kita disadarkan untuk bersyukur, mulai dari peristiwa-peristiwa sederhana yang kita alami hingga yang paling kompleks sekalipun kita merasakan dan menyadari campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Mulai dari bangun pagi, anugerah hari baru, rahmat kesehatan, rahmat kelahiran, ulang tahun, kesuksesan, dan lain sebagainya mengantar kita pada kesadaran dan pengakuan akan  begitu besar kasih Allah dalam hidup kita. Pengalaman demi pengalaman yang kita alami mengantar kita pada undangan untuk bersyukur kepada Tuhan. Kita bersyukur bukan karena segala sesuatu baik untuk kita melainkan bagaimana kita mampu melihat yang baik dalam segala sesuatu. Kesadaran ini harus berakar kuat dan mengalir dari insan-insan beriman. Kemampuan dan kemauan untuk bersyukur adalah ciri khas dan dasar dari umat beriman yang senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam setiap derap langkah hidupnya.

Penutupan Bulan Maria      

            Sebagaimana lazimnya pada tanggal 31 Mei, Gereja umat Allah menutup rangkaian bulan Maria dalam suatu perayaan Ekaristi Kudus. Demikian pula halnya dengan kami yang berada di Paroki Penampakan Tuhan, kami selalu membuka dan menutup bulan Maria dan bulan Rosario dengan perayaan Ekaristi di gua Maria Ratu Segala Hati Paroki Penampakan Tuhan. Namun perayaan penutupan bulan Maria kali ini terasa spesial karena dihadiri oleh puluhan imam, bruder dan frater. Ya. Terasa istimewa karena untuk yang kali pertama umat di paroki Penampakan Tuhan menyaksikan puluhan imam di depan altar, bruder dan para frater bersama mereka. Umat Paroki Penampakan Tuhan memang merasa gembira dan bersyukur melihat begitu banyak rombongan imam, bruder dan frater yang ada di tengah mereka. Kami sendiri merasa bersyukur karena para romo, frater dan bruder mau bergabung bersama umat paroki Penampakan Tuhan untuk menutup rangkaian bulan Maria. Kebersamaan ini tidak hanya berrahmat untuk kita sebagai konfrater namun juga mendatangkan rahmat sukacita dan iman yang diteguhkan bagi umat yang menyaksikan kebersamaan dan persaudaraan ini.

 

Updated: 27/06/2017 — 02:49

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme