MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Visi Misi SMM Indonesia

Berternak Bebek, Ayam Kampung & Ayam Pedaging

Berternak Bebek, Ayam Kampung & Ayam Pedaging

(Bernilai Ekonomis sekaligus Pedagogis)

By Fr. Rino Jeraman*

Pagi sekali. Jauh sebelum bias cahaya fajar menjilat tuntas sisa embun titipan udara malam. Hening , sepi. Hanya terdengar riuh  dari arah belakang. Sontak menjerit, berteriak tak karuan entah apa dan siapa. Se

mentara  itu satu ayam jago berkokok, dan kumpulan angsa satu kandang  mengerang. Itulah tanda alarm pertama berbunyi. Tampak berbeda sekaligus asli walau tanpa harmoni seperti alarm toko. Tiba-tiba tiga puluh lima Monfortan muda terbujur ‘lemas’ di atas tempat tidur spontan mengeliat, karena teriakan, kokokan dan erangan angsa memang benar-benar menganggu. Ada  yang lansung

foto ternak ayam

bangun, ada juga yang duduk sebentar mengingintip jam dinding, dan ternyata masih Pkl. 04. 30.  Ah belum waktunya bangun. Tarik selimut lalu tidur lagi. Alarm keduapun tak kalah riuh, untuk kedua kalinya jago berkokok tepat seperempat sebelum jam lima. Hanya Frater Ekhing yang berusaha bangun dari selimut di pagi sedingin itu. Ia teringat akan kebutuhan deretan  pot sayur di depan kamarnya. Lantas, ia bergegas untuk menimba air.

Pintu kamar lainnya belum ada tanda-tanda buka. Mungkin ingin terus melanjutkan kisah mimpi yang belum rampung. Entalah…Putaran ketigapun berbunyi, rupanya beberapa jago berkokok untuk ketiga kalinya sekaligus membangkitkan semua jenis ayam dari deretan sepuluh kandang. Tampak gegap gempita membangkitkan lelap tidur malam kami. Tak satupun mampu menyela suara itu.  Erangan begitu panjang  membuat semua warga komunitas terbangun. Frater Tomi sontak bergegas memberi makan kepada sahabatnya: ayam. Sementara Frater  Karsan sibuk mengumpul hasil telur angsa semalaman.  Lain lagi Frater Kardi. Dia bergerak menuju gudang untuk mengambil dedak  sebagai pakan untuk ayam kecilnya.   “Ker…kikikiki…” – demikian Fr. Kardi memberi kode kepada ayam-ayam itu dan mereka bermunculan dari bilik kadang mengerumuni Frater Kardi. Begitupula Frater Kusno: setiap pagi bagun lebih awal sekedar memeriksa jumlah ayam pedaging yang pantas dijual hari itu.   Sementara Frater Etris giat berkonsultasi kepada pastor ekonom seputar pakan ayam. Lantas, Pastor  Anar pun turun tangan melihat kinerja dari para anak buahnya.

Itulah situasi komunitas novisiat Monfortan Ruteng sekarang ini. Kelihatan tampak berbeda. Kami tidak lagi menggeluarkan uang hanya untuk membeli jam weker di toko. Alarm kami benar-benar asli dan gratis – kata para “aktor  telat walau waktu telah lewat”. Hal ini hanya sekedar dampak laten dari keberadaan kandang ayam di Novisiat. Lebih dari itu, berternak ayam merupakan kreativitas yang berdampak langsung untuk kebutuhan harian warga komunitas.

Menjadi Monfortan Muda yang Kreatif

                Sekedar info, di Novisiat, para frater novis-postulan menggemari banyak jenis kreativitas. Para frater dianjurkan untuk memilih salah satu jenis kreativitas dari banyak opsi yang ditawarkan biara. Ada kreativitas berternak, berkebun, tata taman, dekorasi, pembuatan rosario, musik, menulis dan lain sebagainya.  Para frater diharapkan untuk berkonstribusi secara aktif di setiap pilihannya. Paling tidak, dari kreativitas  yang dikembangkan mendapatkan hasil praktis bagi kelangsungan hidup bersama. Sekarang ini tampilan novisiat sangat unik sekaligus terlihat penuh warna -warni. Di depan kamar para frater berdiri deretan pot bunga yang indah sekaligus tampak sayur bayam tumbuh begitu menghijau. Kesemuanya adalah sebuah harmoni membentuk kesatuan seni dan irama kehidupan yang indah.

Salah satu model kreativitas yang sangat menojol sekarang ini adalah berternak.  Kreativitas ini diprakarsai oleh Pastor Anar sejak  menjadi ekonom dua tahun lalu. Jenis ternak berupa; ayam kampung, ayam pedaging, dan angsa. Beberapa Frater dipercayakan untuk mengurus ternak. Mereka bekerja pagi dan sore diluar jadwal resmi komonitas atau saat waktu-waktu luang. Tugas utama mereka adalah memberi makan kepada ternak, membuat sekaligus memperhatikan kelayakan kadang , melaporkan kebutuhan pakan kepada Pastor ekonom dan melayani para pembeli. Tugas ini sekarang ditanggungkan kepada keenam Frater Postulan. Mereka adalah; Fr. Etris, Fr. Tomi, Fr. Kusno, Fr. Karno, Fr. Karsan, dan Fr. Kardi.

Apa Kata Mereka?

Sebuah pandangan sosiologis mengatakan “kebenaran dari sebuah laporan bukanlah berasal dari dunia ide tetapi melalui indra atas observasi sosial nyata”. Penulis pun lantas bergegas ke arah kandang ayam untuk sekedar melakukan observasi kecil sekaligus menyusun beberapa pertanyaan kecil untuk mewawancarai para konfrater yang sedang  mengeluti bidang ternak. Sejenak menjadi peneliti sosiologis berjenis random sampling.

Hari itu tepatnya hari selasa 22 November 2016, jam 11.00; jam kreativitas, penulis mewawancarai salah seorang  orang frater seksi ternak terkait dengan  perkembangan usaha mereka.

Penulis                 :  Siang Frater Karsan

Fr Karsan             :  Siang   juga, sahutnya.

Penulis                 : Maaf frater menggangu, hari ini izinkan saya mewawancarai frater

seputar usaha ayam yang sedang frater tangani.

Fr . Karsan           : Ok. Never mind.

Penulis                 : Apakah frater benar-benar mencintai kreativitas ini?

Fr. Karsan           : Ya,…. Saya benar-benar mencintai tugas ini tanpa paksaan atau karena aturan. Saya menyambut dengan antusiasme tinggi ketika Pastor Anar memilih saya menjadi anggota seksi peternak. Saya merasa berternak menjadi ruang kreativitas untuk mengisi waktu luang diluar  jadwal resmi  biara. Lebih dari itu, saya sendiri telah lama bergelut dalam bidang ternak. Sejak SMA saya hidup di pastoran dan mengembangkan usaha yang sama bersama Pastor Borgias, SMM di Paroki Mbeling.

Penulis                 : Apakah frater mendapat hasil yang mememuaskan dari pekerjaan ini? Bisakah frater menginformasikan perkembangannya?

 Fr. Karsan          : Ya…., Saya memang tidak memastikan bahwa usaha kami  suskses besar. Tetapi patut saya informasikan, saat ini jumlah bebek 53 ekor yang terdiri dari 14 induk  dan 39 ekor anak.  Jumlah ayam kampung 61 ekor: 35 ekor betina, 15 ekor ayam jantan, dan 11 ekor bibit ayam yang berumur seminggu. Sementara ayam pedaging berjumlah 278 ekor. 78 ekor diantaranya siap untuk dijual, sementara 200 ekor lainnya masih dalam  proses pemeliharaan.

Penulis                 : Apakah banyak pelangan yang membeli ayam-ayam ini?

Fr. Karsan           : Untuk pembelian ayam kampung  tidak begitu banyak seturut populasinya juga sedikit. Kami hanya menjual ayam jantan seharga  Rp 180.000 per ekor. Sementara ayam betina dipertahankan untuk produksi telur.  Ayam pedaging dijual sedikit murah dari harga pasar sebesar Rp 50.000 per ekor. Kami sangat terbantu atas usaha Pastor Frumen yang gencar mempromosikan ayam  pedaging milik kita kepada seluruh kenalan dan umat di sekitar kota Ruteng.

Penulis                 : Seberapa besar kontiribusi usaha ayam bagi kelangsungan hidup di komunitas kita?

Fr. Karsan           : Hemat saya, usaha ayam memiliki manfaat praktis bagi pemenuhan kebutuhan kita. Kita dapat mengurangi pembelian telur di toko, tidak sering membeli ayam di pasaran saat jadwal makan daging ayam, dll. Kita hanya mengeluarkan uang sebesar 395.000 per minggu untuk membeli pakan. Sehingga pengeluaran kita sebulan Cuma sebesar  Rp 1.580.000. Sementara rata-rata pendapatan per bulan sebesar Rp 2.000.0000 . Saat ini keuntungan memang tidak terbilang besar bahkan impas jika dilihat dari sudut bisnis. Tetapi kebutuhan pokok kita akan daging terpenuhi dan menguarangi pembelian di pasar. Sehingga usaha ayam terlihat berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup kita. Inilah tujuan utama krativitas ini,  bukan menilai dari sudut  ekonomis semata, melainkan  sebuah bentuk kecintaan kita terhadap biara melalui model kreativitas yang produktif.

Penulis                 : Terima kasih frater atas informasinya…

Melalui dialog di atas, kita bisa melihat dinamika kreativitas para konfrater muda di Novisiat supaya  bisa mandiri dan ekonomis dalam hal pengeluaran.  Berharap berita ini menginspirasi kita semua untuk terus berjuang menjadi pribadi yang kreatif tanpa kehilangan identitas kereligiusan kita.

Menimba Nilai Formasi dari  Aneka Model kreativitas

                Berbagai model kreativitas di novisiat membutuhkan antusiasme yang besar dari para frater. Kreativitas merupakan ruang menemukan jati diri dirinya. Siapa dirinya dalam sebuah lingkungan komunitas. Apa sumbangsih penting bagi kelanjutan hidup berkomunitas? Semua pertanyaan ini terlihat terlampau besar dan terlampau rumit untuk di runut-urai oleh sebuah jawaban tuntas. Penulispun merasa hal serupa masih mencari di setip tapak jejak yang tertinggal dari Santo Monfort. Inikah jawaban atas doanya? Bahwa kami “bagai seekor rusa yang gesit di tenggah sekian banyak kura-kura (DM. No. 16)”. Selau gesit menciptakan kreativitas demi tujuan produktif  dengan tetap melihat eksistensi vital sebagai religius Monfortan.

Kami terbentuk dalam hidup penuh tanggung jawab.  Sejak muda menaruh cinta yang dalam terhadap Serikat.  Akhirnya, terpenuhilah tujuan formasi itu sendiri: membentuk pribadi yang dewasa dan tanggung jawab. Lewat beternak kami belajar mengetahui arti ketekunan di setiap proses kehidupan seekor ayam, lewat berkebun kami belajar mengetahui arti kerja keras untuk sesuap nasi putih, lewat melukis kami belajar mengetahui cita rasa seni di setiap pewarnaan atas realitas kehidupan penuh lika-liku, dan lewat bertaman kami belajar mencintai kelangsungan alam. Kesemuanya bermula dari kecil dengan aktivitas mencoba untuk sebuah tanggung jawab besar di satu hari kelak.

*Fr. Rino Jeraman, adalah Postulan Montfortan di Ruteng

 

Updated: 24/01/2017 — 06:59

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN-INDONESIA 2018 Frontier Theme