MONTFORTAN INDONESIA

Kawanan Kecil yang Berziarah dalam semangat Santo Montfort, untuk Membaharui Iman Kristiani dan Menjadi Berkat bagi Dunia

Misi Ekuador

Ekuador, Internos – Hampir setahun tidak ada kisah dari Ekuador, bukan berarti kami tidak ingat konfrater sekalian dan tidak mempunyai kisah. Secara pribadi mengapa saya tidak mengirim berita di Internos, karena kesibukan di paroki yang lumayan banyak. Memasuki tahun kedua di paroki di mana saya bekerja sekarang, menyita banyak waktu dan tenaga untuk merealisasikan segala program paroki. foto jfrrTahun pertama di paroki adalah tahun orientasi bagi saya di mana saya harus melihat, mendengar, belajar dan mencerna lalu mengambil langkah konkret. Persis, di tahun kedua ini, segala apa yang sudah dilihat, sudah didengar, sudah dicerna, harus dieksekusi. Dan di paruh tahun kedua ini, saya meluangkan waktu untuk berbagi kisah tentang apa yang sudah dan sedang kami lakukan. Mari kita membaca kisah sederhana ini: kisah dari tana misi Ekuador.

 

Sederetan Kisah

Kursus Kitab Suci – Kursus Kitab Suci (KKS) diberikan hanya kepada anak-anak yang sudah menerima komuni pertama. Ada dua alasan mendasar. Pertama: tidak ada pembelajaran agama lanjutan. Anak-anak yang sudah komuni pertama tidak ada pendampingan lanjutan. Mereka menunggu untuk tahap berikutnya yaitu persiapan krisma. Untuk bergabung dalam kelompok persiapan krisma mereka harus menunggu dua sampai tiga tahun. Nah, dalam waktu tiga tahun itu, otomatis mereka tidak menerima pelajaran agama. Dan yang paling menyedihkan ialah mereka tidak akan datang lagi ke Gereja walaupun tidak semua. Sebagi pembanding, yang datang misa setiap kali ada misa hanya 5 orang, dari 50 orang yang komuni pertama. Situasi ini diperparah dengan kehidupan keluarga. Keluarga tidak membiasakan anak-anak untuk datang ke Gereja. Yang paling parah ialah selama dua tahun masa persiapan komuni pertama, anak-anak ini tidak datang ke Gereja. Maka saya sering mengatakan kepada katekis dan orangtua, kalau selama masa persiapan kalian tidak mengajak anak-anak untuk datang ke Gereja, setelah komuni pertama mereka tidak akan datang ke Gereja, dan memang benar. Maka dari itulah: saya berbicara dengan pastor paroki untuk membentuk kelompok belajar Kitab Suci. Dan kelompok ini sudah berjalan 3 bulan. Kami membentuk dan memberikan kursus di empat Gereja. Semuanya berjumlah 50 anak. Semua sekolah non-katolik di Ekuador tidak ada pembelajaran agama (tidak ada guru agama).

Alasan kedua ialah: menumbuhkan benih panggilan. Benih panggilan tumbuh kalau anak-anak dekat dengan Gereja dan para pastor. Untuk merealisasikan tujuan ini, saya bukan saja memberikan kursus Kitab Suci kepada mereka, tetapi saya juga mengajarkan mereka untuk menjadi ajuda atau misdinar. Sekarang mereka sudah bisa menjadi misdinar. Dan saya meminta mereka untuk datang misa dengan catatan: ketika teman-temanmu sedang bertugas menjadi misdinar, kalian harus melihat apakah mereka melaksanakan tugas dengan baik atau tidak, kalau ada yang salah nanti waktu pertemuan dikoreksi. Dan saya mencoba menjadi abang mereka bukan menjadi PASTOR untuk mereka. Saya berbicara dengan mereka seperti saya berbicara kepada adik-adik saya. Saya berusaha membuat mereka dekat dengan pastor dan terutama dekat dengan Gereja. Saya juga berkomunikasi dengan orangtua mereka untuk bertanya bagaimana tingkah mereka di rumah.

                Dalam memberikan khursus ini, saya juga mengajak anak-anak muda untuk membantu saya. Saya mengajak mereka untuk belajar bersama dengan anak-anak. Tujuannya ialah untuk kaderisasi. Perlahan-lahan saya mempercayai mereka untuk menjelaskan beberapa materi Kitab Suci kepada anak-anak. Dan kalau saya tidak ada di tempat, mereka yang membawakan materi untuk anak-anak. Saya menaruh kepercayaan kepada mereka. Kalau ada yang salah saya akan berbicara kepada mereka seperti teman bukan sebagai ´PASTOR¨, dan ini yang membuat mereka merasa dekat dan nyaman.

Pembekalan Para Katekis – Mungkin saya pernah menceritakan tentang katekis di paroki kami. Baiklah kalau saya menceritakannya kembali. Untuk menjadi kateksis di paroki kami ialah: siapa yang mau bukan siapa yang mempunyai kemampuan seperti guru agama di Indonesia. Jadi, bisa dibayangkan pengetahuan mereka tentang agama. Saya pribadi merasa prihatin karena mereka tidak mengerti dengan baik ajaran dasar iman Katolik. Maka dari itu, saya menawarkan diri untuk mengajar agama atau pembekalan mengenai dasar-dasar iman terutama mengenai sakramen. Mereka menyambut dengan gembira dan mulailah saya mengajar satu setengah jam setiap hari Sabtu. Setelah itu mereka melanjutkan kepada anak-anak dan orangtua anak-anak. Cara ini sedikit membantu mereka untuk memahami ajaran iman Katolik.

                Selain pembekalan para katekis, di paroki kami ada juga yang namanya ¨sekolah formasi¨ (escuela de formación). Program ini berlaku untuk semua umat, siapa yang mau. Saya juga berpartisipasi dalam sekolah ini yang dilaksanakan sebulan sekali dengan tema-tema yang aktual. Saya membawakan tema-tema seputar liturgi dan tema moral lainnya. Tujuan kami ialah supaya umat mengenal dan memahami bukan saja kehidupan Gereja tetapi juga masalah sosial (formación integral).

Pendampingan Infancia misionera (SEKAMI) – Sejak tahun ini, pastor paroki mempercayakan saya untuk mendampingi secara khusus sekolah minggu. Ini bukan berarti saya yang mendampingi sekolah minggu. Saya hanya menjadi koordinator sedangkan pendampingnya ialah anak-anak muda. Kami mengajak anak-anak muda untuk menjadi pendamping dan juga ada beberapa orangtua. Lagi-lagi saya menempatkan diri dengan para pendamping sebagai teman, saudara. Saya mengatakan kepada mereka: anggaplah saya sebagai temanmu, saudaramu, abangmu bukan sebagai PASTOR, ada saatnya kamu menganggap saya sebagai pastor dan ada saatnya kamu menganggap saya sebagai teman, abang dan saudara. Untuk menjalin relasi dengan para pendamping, kami mengadakan pertemuan umum sebulan sekali dan untuk mengenal anak-anak saya mengunjungi mereka berdasarkan tempat pertemuan mereka. Dan juga mendampingi mereka kalau ada penggalangan dana di Gereja, saya bernyanyi dengan mereka (seperti ngamen di gereja), saya bermain gitar dan biasanya kalau ada pastor yang nyanyi, pasti umat akan kasih uang banyak..hehehe…bukan karena suaranya tetapi kasihan pastornya…hehee. Harus menjemput bola dengan menggunakan segala teknik yang ada. Biarkanlah anak-anak datang pada-Ku: bukankah ini kata sang pastor agung kita? Rangkulah mereka dengan kasih Yesus.

“EFATA BAND” – EFATA BAND adalah nama grup musik yang saya bentuk setahun yang lalu. Nama awalnya ialah SIMFONI GUADALUPANA. Tetapi saya merubahnya dengan nama yang mudah diingat. Grup musik ini beranggotakan 6 orang. Alat musik yang kami gunakan ialah keyboard, gitar akustik, gitar bas, Charango (alat musik khas Amerika Latin), dan alat musik tradisional lainnya. Kami membuat lagu sendiri. Kami sudah bernyanyi bukan saja di paroki tetapi diundang dari paroki lain. Satu kebanggan yang luar biasa bagi EFATA BAND ialah ketika kami dipercayakan oleh keuskupan untuk berpartisipasi dalam kunjungan Paus Fransiskus di Ekuador. Kami mewakili keusukupan untuk bernyanyi di hadapan ratusan ribu umat yang menunggu kehadiran Paus (konser mini). Kami membuat tiga lagu baru khusus untuk Paus. Tujuan dari band ini ialah menampung bakat dan menyalurkan bakat umat. EFATA BAND sudah mulai terkenal di keuskupan kami, sudah mulai diminta dari mana-mana untuk bernyanyi. Kami mengkombinasikan musik tradisional dengan musik modern. Karena band inilah, maka saya dipanggil orang sebagai pastor artis…heheheheh…’gaya cekoen e lawa (Manggarai: sekadar canda teman-teman).

Pekan Mudika Tingkat Propinsi dan Tingkat Nasional – Bulan April 2015, di keuskupan kami ada kegitan pekan mudika tingkat propinsi. Kami juga berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ada beberapa kegiatan yang harus kami ikuti, misalnya malam kesenian untuk mencari yang terbaik untuk dipentaskan di tingkat nasional. Dari kegiatan malam kesenian ini, OMK dari paroki kami keluar sebagai pemenang. Karena sebagai pemenang, maka kami akan mempresentasikannya di tingkat nasional untuk mewakili kesukupan. Utusan dari paroki kami untuk pekan mudika tingkat nasional berjumlah 41 orang (termasuk saya). Pekan mudika ini berlangsung selama 3 hari.

                Tanggal 31 Juli hingga 2 Agustus 2015, di Ekuador ada kegiatan pekan mudika tingkat nasional. Semua keuskupan yang ada di Ekuador berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kegiatan diadakan di sebuah propinsi yang bernama: Porto Viejo dan berlangsung selama tiga hari. Anak muda yang ikut dalam kegiatan ini berjumlah sebelas ribu lebih. Pembukaan acara dibuka di stadion dan untuk menutup acara dilaksanakan di pinggir pantai: malam tuguran dan misa penutup. Anak muda yang partisipasi dari keuskupan kami berjumlah lebih dari 400 orang dan ada empat pastor muda yang mendampingi (P. Jeffry, P. Vinicio, P. Stalin dan P. Javier). Kegiatan pekan mudika ini dilakanakan dua tahun sekali. Untuk pekan mudika tahun 2017 akan dilaksanakan di ibukota negara Ekuador bernama: Quito. Yang menyenangkan ialah Pater Eman Ngatam juga dipercaya oleh keuskupannya untuk mendampingi anak muda dari keuskupanya. Dua misionaris Montfortan Indonesia bertemu dalam misi yang sama.

 ‘PJS’ – Pertengan bulan Juli, pastor paroki berangkat ke Spanyol untuk berlibur. Sebelum berlibur dia menyerahkan semua yang berkaitan dengan kehidupan paroki kepada saya mulai dari dapur sampai altar. Maka jadilah saya sebagai Pejabat Sementara (PJS) alias pastor paroki sementara. Walaupun sementara tetapi rasanya seperti pastor paroki. Segala urusan harus dibereskan sesuai perintah. Ini juga menjadi kesempatan belajar untuk saya. Pastor paroki yang lagi berlibur selalu bertanya keadaan paroki. Dan saya selalu memberi laporan apa saja yang dibuat di paroki. Sedikit demi sedikit belajar menjadi pelayan bukan menjadi pemimpin. Siapa yang menjadi pemimpin, hendaklah menjadi pelayan.

Menutup Kisah

Sekian kisah kami dari tanah misi Ekuador. Semoga kisah kami menjadi salah satu kisah inspiratif buat pembaca budiman. Kisah kami adalah kisah keseharian hidup kami di tanah misi. Melalui kisah ini, kami mengenal keagungan dan kebijaksanaan Tuhan. Maka dari itu, kisah kami adalah kisah di mana Tuhan mengajarkan kami arti hidup sederhana dan bijaksana di tengah umat di tanah misi.

*P. M. Jefrry Kellen, SMM, Montfortan Indonesia yang Bermisi di Ekuador.

Anggota EFATA BAND. waktu kunjungan Paus.

foto misa penutupan pekan omk bersama dua uskup dari brazil dan Italia.

bersama anak omk setelah misa

misionaris indonesia hahhahahaa

bersama anak-anak sekami

Updated: 27/04/2018 — 14:37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SERIKAT MARIA MONTFORTAN INDONESIA 2019 Frontier Theme
Chat us